Homeschooling, Parenting

Mempersiapkan Anak Usia Dini Memasuki Jenjang Pendidikan Dasar

Siap bersekolah atau menjadi pembelajar usia pendidikan dasar bukan sekedar bisa calistung, namun kita perlu mempertimbangkan kematangan dan kesiapan masuk sekolah atau adab pembelajar.  

Kematangan biologis perlu dicapai sebelum anak masuk sekolah, termasuk kematangan otak untuk memahami konsep membaca, menulis, menghitung, dan memahami sudut pandang orang lain.

Kesiapan yang matang akan meminimalisasi masalah/hambatan yang muncul di kemudian hari.

Banyak masalah yang akan dihadapi anak yang tidak matang, seperti motorik halus yang tidak  siap, mudah putus asa, daya tahan rendah, daya konsentrasi lemah, tiba-tiba mogok sekolah, sulit menyesuaikan diri, dan lemah dalam kemandirian.

Kesiapan apa saja yang harus dimatangkan sebelum anak masuk sekolah dasar?

1.Kematangan Fisik (Motorik kasar dan motorik halus)

Mampu mengontrol otot-ototnya sehingga dapat menulis, menggambar, mengerjakan keterampilan tangan seperti menempel, menggunting, menguntai, dsb. Ia pun mampu duduk diam dan tertib dalam waktu yang cukup lama.

2.Kematangan Kognitif

Mampu memahami penjelasan guru, dapat menjawab pertanyaan guru dengan kata-kata yang dapat dimengerti.

3. Kematangan Emosi

Tidak ketergantungana dengan keberadaan ibu, bersedia menerima otoritas lain (seperti ibu/bapak guru), mampu mematuhi aturan sekolah, adaptif dengan suasana sekolah, dapat mengendalikan emosinya, mampu mengatasi masalah-masalah dalam pergaulan, misalnya, kesedihan saat diejek teman/ tidak mudah menangis, serta siap menghadapi karakter orang dewasa (guru) yang berbeda- beda

4. Kematangan Sosial

Mandiri, mampu memilih kegiatan yang ingin dilakukannya, tidak ragu-ragu/takut dalam menentukan kegiatan,

memiliki kesadaran akan tugas yang dihadapinya, mampu menyelesaikan tugas yang dipilihnya, mampu memenuhi kebutuhan pribadinya (contoh tahu kapan harus minum, mau dan mampu  membasuh diri setelah buang air kecil, mampu mandi sendiri, dan mampu mengambil makannya sendiri, tahu kapan ia mesti berganti baju).

Tugas dan Kegiatan Persiapan Kesiapan Sekolah

ASPEKSTIMULASI
INTERAKSI SOSIALWaktu bermain: Ciptakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan anak lain pada usia yang sama melalui waktu bermain dan kelompok bermain (komunitas).
Game Board (Papan Permainan) : Mainkan permainan papan dengan anak untuk mengajarkan cara mengambil giliran, berbagi, menunggu dan kemampuan untuk mengatasi ketika seseorang tidak menang. Kelompok kecil: Dorong kelompok kecil anak-anak untuk bermain bersama dalam permainan.
Visual: Gunakan visualisasi untuk membantu anak-anak memahami tentang giliran.
Salam: Dorong anak-anak mengatakan salam dan menanggapi pertanyaan
BERMAINGaya bermain: Berikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi gaya permainan yang berbeda (misalnya permainan imajinatif, permainan konstruktif, permainan simbolik). Permainan peran: Luangkan 20-30 menit setiap hari untuk berinteraksi dan bermain dengan anak lain. Dalam kesempatan ini, modelkan bahasa yang akan cocok digunakan dalam situasi kehidupan nyata tertentu (misalnya jika bermain dengan dapur mainan, bicarakan tentang apa yang Anda lakukan saat menyiapkan makanan).
Stasiun bermain: Siapkan stasiun bermain yang mengajarkan gaya permainan yang berbeda (misalnya yang membangun: kereta api, balok, jigsaw, istana pasir, adonan mainan; imajinatif: dapur, pakaian, jalan).
BAHASABuku: Bacakan kepada anak setiap hari untuk memaparkan mereka pada konsep bahasa yang berbeda.
Kosa kata: Saat membaca buku, mintalah anak untuk menunjuk / menyebutkan gambar yang berbeda untuk memperluas kosa kata mereka. Jalan-jalan: Saat pergi jalan-jalan, tunjuk barang-barang dan sebut  namanya.
Kegiatan sehari-hari: Saat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti menyiapkan mandi, mengatur meja, menyiapkan makan malam, atau memilih model pakaian, bahasa yang dapat digunakan / dipahami anak dalam situasi ini (mis. Menyiapkan kamar mandi: Nyalakan keran. Siapkan sabun. Buka pakaian. Masuk ke kamar mandi.).
Mengikuti instruksi: Selama aktivitas sehari-hari dorong anak untuk mengikuti instruksi 2-3 langkah (misalnya ambil topimu dan masuk ke mobil). Cuaca:  Bicarakan tentang cuaca. Menghitung: Dorong anak untuk menghitung. Mengobrol saat makan bersama: Di meja makan, bicarakan secara bergiliran tentang apa yang telah dilakukan sepanjang hari.
Warna & bentuk: Berbicara tentang warna dan bentuk yang berbeda.
Konsep: Bicarakan tentang berbagai konsep seperti besar / kecil; di / dalam / di bawah; di depan / belakang / di samping; panjang / pendek; pendek / tinggi.
Buku konsep: Bacalah buku-buku yang berbicara tentang berbagai konsep (mis. Di mana domba hijau? Binatang apa yang memakan daun?). Model: Ketika anak menggunakan tata bahasa atau struktur kalimat yang tidak akurat, berikan contoh kembali kepada mereka cara yang benar untuk mengatakannya (misalnya anak berkata: “Itu jatuh!” Orang tua: “Oh, gelasnya jatuh qadarullah.”).
Waktu cerita: Cari waktu membacakan cerita dan ajukan pertanyaan tentang cerita tersebut. Murottal: setel murottal, bacakan surat-surat pendek
Scavenger hunt (berburu): Lakukan perburuan untuk mengikuti instruksi, perluas kosakata, dan bekerja sebagai tim.
Halang rintang: Lakukan kegiatan halang rintang untuk mengajarkan konsep yang berbeda.
Jadwal visual: Gunakan jadwal visual untuk menguraikan ekspektasi / aktivitas hari itu. Menghitung: Dorong anak untuk menghitung. Jurnal: Buat jurnal untuk anak-anak dengan menggunakan gambar agar mereka dapat menyampaikan kepada orang tua mereka apa yang telah mereka lakukan seharian.
Mengikuti instruksi: Latih anak 2-3 instruksi (misalnya angkat topi dan antre di depan pintu). Konsep: Ajarkan konsep warna dengan memberi label pada kelompok aktivitas berbeda dengan warna berbeda. Kalender: Setiap hari bicarakan tentang hari dalam seminggu, bulan dalam setahun, cuaca, hari apa kemarin dan hari apa besok. Buku bekas : Buatlah buku bekas untuk mengerjakan kategorisasi (mis.
Menyortir gambar ke dalam kategori yang berbeda seperti hewan, makanan, transportasi, pakaian).
PERKEMBANGAN EMOSIONALPerasaan: Bicarakan tentang perasaan dengan anak.
Identifikasi emosi: verbalkan ketika Anda melihat emosi tertentu pada orang yang berbeda, misalkan “Kamu sedang marah ya?”
Ekspresi Wajah: Komentari ekspresi wajah saat membaca buku dan bicarakan tentang perasaan orang tersebut dan mengapa.
Jelaskan Emosi: Bicarakan tentang cara untuk mengekspresikan emosi yang berbeda (misalnya ibu tertawa karena ibu bahagia; dia menangis karena sedih).
Kuasai beberapa hadits dan ayat sederhana untuk mengingatkan adab, “Dik, jangan marah agar dapat surga.” Atau “Dik, rendahkan suara biar tidak seperti keledai”
Peran Mainkan  emosi yang berbeda.
Jelaskan emosi: Ketika seorang anak merasakan hal tertentu, bicarakan dengan mereka tentang emosi mereka (misalnya jika seorang anak menangis model kepada mereka: “Kamu sedih karena kamu melukai lututmu” ATAU “Kamu menangis karena kamu sedih”) .
Buku: Diskusikan emosi karakter dalam buku.
LITERASIBacakan untuk anak itu setiap hari.
Tunjuklah kata-kata dalam buku tersebut saat Anda membacanya.
Tunjuklah gambar-gambar dalam buku tersebut saat Anda membaca ceritanya.
Waktu membalik halaman halaman: Imbaulah anak untuk membalik halaman-halaman buku, tetapi hanya setelah mereka selesai memperhatikan detail pada halaman.
Contohkan untuk anak membaca buku dari depan ke belakang. Seleksi mandiri: Dorong anak untuk memilih buku untuk dibaca pada waktu cerita.
Alfabet: Bermainlah dengan huruf-huruf Buku berima : Bacalah buku yang memiliki kata-kata berima
Game: Mainkan game seperti “I spy” untuk membantu anak-anak berpikir tentang hal-hal yang dimulai dengan suara tertentu (misalnya, “Saya melihat dengan mata kecil saya sesuatu yang dimulai dengan t”). Waktu cerita: Miliki waktu cerita setiap hari.
MOTOR BAGUSMemotong dan menempel: Gunakan karton (lebih mudah dipegang) untuk memotong bentuk geometris dan membuat gambar.
Menggambar: Sediakan model untuk menyalin atau menggambar satu bentuk pada satu waktu untuk disalin oleh anak.
Mewarnai: Warnai bentuk-bentuk kecil untuk mendorong kontrol pensil dan meningkatkan daya tahan untuk keterampilan pensil.
Maze/ Labirin: cari lembar kerja labirin yang menyenangkan untuk melatih  keterampilan menggunakan pensil serta mengembangkan persepsi visual.
Kerajinan: Dorong untuk memotong dan menempelkan berbagai potongan bahan bersama-sama untuk membuat sesuatu.
Penyimpanan: Gunakan tas ziplock atau wadah sekrup atas untuk menyimpan mainan, untuk memastikan anak-anak berlatih menggunakan keterampilan motorik halus mereka saat mencoba mengakses mainan.
Mainkan doh: Menggulung, meremas, mencubit dan membuat sesuatu dengan adonan mainan untuk meningkatkan kekuatan jari.
KETERAMPILAN FISIKBalapan berjalan dengan gerobak dorong untuk kekuatan tubuh bagian atas.
Berenang adalah aktivitas seluruh tubuh yang akan membantu membangun kekuatan dan daya tahan karena anak terus-menerus bekerja melawan sejumlah kecil hambatan di dalam air.
Jalan-jalan hewan: Berpura-pura menjadi berbagai binatang seperti kepiting, katak, beruang, atau cacing. Semua ini akan menggunakan berat badan anak sebagai daya tahan.
Lempar bola atau bean bag: Berat tambahan bean bag akan membantu mengembangkan kekuatan dan daya tahan.
Hopscotch untuk melompat, atau permainan lain yang mendorong latihan tugas / keterampilan secara langsung. #
Rintangan: Penyelesaian rintangan yang sesuai dengan usia akan membantu mengembangkan daya tahan.
Keterampilan bola: Tingkatkan pengalaman dan kepercayaan diri anak untuk mencoba keterampilan bola.

Referensi:

Andia Kusuma Damayanti, Rachmawati. 2016. Kesiapan Anak Masuk Sekolah Ditinjau dari Dukungan Orang Tua dan Motivasi Belajar. Psikovidya Vol. 20 No.1 April 2016.

Endang Supartini. 2006. Pengukuran Kesiapan Sekolah. Jurnal Pendidikan Khusus Vol. 2 No. 2, Nop 2006.

Mierza Miranti. 2018. AHA! Pelatihan Kurikulum Homeschooling Usia Dini

CHOCOMOM [Curhat Homeschooler's Mom], Grup Sahabat Klastulistiwa, Homeschooling Communities, My Reflection

[CHOCOMOM] Mempersiapkan Homeschoolers Memasuki Dunia Pesantren

Bismillah…

CHOCOMOM (Curhat Homeschooler’s Mom) adalah diskusi yang berlangsung pada akademi virtual Sahabat Klastulistiwa menggunakan platform Telegram. Pada tanggal 19 September lalu, kami mengundang mba Maya Dwilestari. Beliau memiliki 2 putri dan 1 putra yang pada tahun ini ketiganya masuk lembaga pendisikan, dimana sebelumnya dididik secara homeschooling.

Anak pertama beliau mondok di Nuraida Islamic Boarding School, sedangkan nak ke dua dan ke tiga sekolah tahfidz usia SD. Mba Maya sendiri juga dulu mdok selama 6 th, mulai lulus SD.

🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡

Mempersiapkan Anak HS Memasuki Dunia Pesantren

Maya Umm Abdillah

Sistem pendidikan pesantren bisa dibilang sebuah sistem pembelajaran hidup yang sebenarnya. Di sanalah kita akan belajar tak ada henti. Di asrama belajar sabar menahan amarah, antri, mempertahankan diri, menahan kantuk, dan sebagainya. Di kelas belajar menghafal berbagai matan, hadits, ayat, hingga ilmu-ilmu umum.
Oleh karena itu, mempersiapkan anak masuk pondok pesantren sebenarnya mempercepat ia untuk bisa mandiri menghadapi kehidupan ini. Semua kemampuan yang harus dimiliki calon santri, adalah kemampuan dasar yang memang harus dimiliki seorang anak.

1. Kemandirian

kemandirian meliputi mandiri dalam menjalani jadwal harian, belajar, mengatur barang-barang pribadi, dsb

2. Ketangguhan

Pondok pesantren merupakan miniatur kehidupan. Di dalamnga terdapat berbagai unsur yang mau tak mau akan menyeret emosi anak2 kita. Maka persiapkanlah anak2 agar mampu bersikap asertif, berkomunikasi dg baik, mengelola emosinya menjadi sesuatu yang posistif.Biasakan anak sejak di rumah untuk mampu menghadapi situasi apapun, terbiasa makan seadanya, berpakaian sederhana.

3. Kebutuhan fisik

Kebutuhan fisik meliputi kebutuhan di asrama maupun sekolah. Biasanya pihak pondok akan memberikan daftar kebutuhan santri sebelum mulai tahun ajaran baru.

4. Selaraskan visi orangtua dengan visi pondok.
 

Bila sudah searah, akan lebih mudah bagi orang tua memahami setiap langkah yang dilakukan pihak pondok.

————————————————

SESI TANYA-JAWAB

————————————————

1.   Apa perlu mempersiapkan dari dini utk masuk pesantren?
J: Mempersiapkan anak memasuki pesantren itu sama dengan mempersiapkannya memasuki kehidupan yg sebenarnya. Karena kehidupan di pesantren seperti miniatur hidup bermasyarakat. Banyak keterampulan hidup yg diperlukan. Maka, persiapkan anak2 mjd anak yg tangguh, mandiri, berkahlak mulia adalah tugas org tua manapun. Hanya saja, pesantren akan lbh cepat memperlihatkan kpd kita, buah dr pengasuhan kita selama di rumah.

————————————————

2. Haruskah punya ijazah untuk masuk pesantren?
J: Iya, ijazah formal maupun nonformal

————————————————

3.  Utk anak2 perempuan adakah aturan2 atau rambu2 khusus yg wajib diperhatikan utk masuk pesantren? Dari sebelum dan sudah masuk pesantren
J: Kalau bisa, anak perempuan sdh baligh, sdh mengerti konsekuensi dr baligh.

————————————————

4. Sejauh mana survei pesantren yg kita butuhkan? Apakah sampai hal detil mengenai karakteristik anak2 yg sdh masuk pesantren, ya kita nih ortu khawatir nya banyak mbak utk hal2 hubungan anak dan teman2 nya, khawatir bully lah atau yg lain2? Lebay gak sih berpikir sampai ke sana, mengingat banyak kejadian traumatis yg kita dengar tjd di sekolah2 asrama diluar pesantren bahkan pesantren pun ada
J: Survey lokasi, cari alumninya, lihat karakteristik alumninya. Cari tahu ttg akhlak pendiri dan ustad2nya. Soal bully, di semua lembaga pendidikan ada. Siapkan anak2 agar mampu bersikap asertif.

————————————————

5.  Anak sy sudah mondok tapi belum baligh. Hanya saja usianya memang sudah usia SMP. 11 tahun tapi sudah lulus SD. Sekarang mondok. Gpp ya mba?

J: kl pun blm baligh, pastikan dia sdh punya bekal ttg baligh, sdh mandiri, matang scr mental, tangguh.

T1: Kalau ini sy lihat sudah siap. Tapi ada kekhawatiran ketidak bersamaan dg sya ketika pertama haid itu yg saya masih galau. Perempuan. 12th oktober besok.

 T2: Mba, anak saya sama sekali belum disiplin. Saya takut di pondok menyusahkan orang lain..
J: T2 usia brp skrg anaknya? laki2 atau perempuan?

T2: perempuan, hampir 11 tahun. Sekarang Sd kelas 5
J: semoga ananda sdh siap menghadapi masa dewasanya. krn anak pr yg baru masuk dewasa itu, sangat labil emosinya, mood kacau, pengaruh hormon yg melonjak.

T2 anaknya sdh mondok?


T2. : Belum mondok mba.. tapi niatnya lulus Sd langsung mondok

J: oh begitu. keterampilan paling penting di pondok itu adl kampuan utk bs bersikap asertif.

pastikan ananda bukan anak yg agresif, tidak juga pasif.

anak yg agresif, mudah marah, tak bisa mengendalikan diri, beresiko mjd pelaku bully.
anak yg pasif, penakut, tak bisa mengenali perasaanya,ngga enakan, beresiko menjadi korban bully.

————————————————

6. Apakah memang pendidikan di usia baligh tempat yang paling pas adalah pesantren?

J: Saya tdk bisa menyatakan pesantren adl yg terbaik. Banyak cara yg bisa ditempuh agar anak2 mjd anak yg soleh/solehah. namun memang pesantren memiliki keunggulan sistem, dimana kehidupan selama 24 jam adl waktu belajar yg tak terputus, belajar di kelas, juga belajar hidup, mjd manusia yg bermanfaat.
————————————————
7. Terkait adab safar, perempuan boleh bepergian jauh kalau ada mahrom. Nah bagaiman dgn menuntut ilmu, misalnya di pesantren yg jauh dari luar kota. Apakah terkena adab safar?
Pertimbangan apa dalam memilih pesantren, selain harus se firqoh?


T: Silakan rujuk ke tulisan2 ustadz ya bu. Tetapi, yg pernah saya baca, jika anak tsb mukim utk menuntut ilmu, diperbolehkan. alloohu a’lam

saat safarnya, tentu hrs dg mahram, tetapi stl mukim di sana, boleh tanpa mahram. itu yg pernah saya baca.

 Pertimbangan pertm setelaah melihat manhajnya, lihat akhlak pemilik dan guru2nya.

T2: Ini cara mengetahuinya gimana? Apa kita tanya2 langsung ustadz2/ah disana atau gimana mba?

J: Lihat alumninya. akhlak para alumninya

T: Jadi ortu mesti aktif tanya sana sini ya mb. Brp lama survey atau mengenal pemilik/ustadz2nya?

J: kalau mereka punya medsos, gampang, tinggal stalking.. tanya2 juga ke alumninya

————————————————

8. anak ana umur 6thn rencananya umur 7 thn mau diikutkan program rumah belajar Alquran dan hadits seperti di pesantren tapi boleh pulang, kabarnya di rumah belajar tersebut sistem belajarnya konvensional, harus tenang, berisik gak boleh, klo diperingatkan tidak bisa maka ustadz akan kasih hukuman sabet penggaris..bagaimana ya mempersiapkan mental anak untuk sistem yg seperti itu?


T: sama persis dg sekolah anak saya. bacakan kisah2 ulama jaman dahulu, bagaimana akhlak mereka kpd gurujelaskan keutamaan penuntut ilmu syar’i. lebih baik anak2 menangis krn mereka berpayah2 menuntut ilmu, drp menangis menyesal menyia2kan masa mudanya.

kalau adab si anak baik, insyaa allah dia ga akan dihukum. pengasuhan bukan tentang membahagian anak, membuatnya nyaman selalu. Tetapi soal pemenuhan tanggung jawab kita kpd Sang Pemilik anak kita.
pengalaman di sekolah tahfizh anak saya, anak2 yg dihukum itu tdk ada dendam, mereka tetap hormat, bahkan akhlaknya tambah baik. krn sang ustadz melakukannya dg cinta, kasih sayang yg bs dirasakan anak2, dan mereka juga memberi teladan.

T: Iya mba Maya, si anak Gpp kah diceritakan kondisi tempat dia belajar?

J: bukan diceritakan scr khusus mba maksudnya. Tetapi diajarkan adab2 menuntut ilmu, dan cerita para ulama saat waktu kecil dlm menuntut ilmu. Tak perlu diceritakan scr spesifik akan dihukum jika bla…bla…bla

————————————————
9. Anak pertama saya usia 5y 7m. Kalo mengerjakan sesuatu selalu berlama2, misal mau mandi, pakai baju dsb. Mau berwudhu saja bisa 30 menit, duduk dulu, rebahan dlu, main air dlu dsb. Harus terus dimotivasi, baru agak lama kemudian dilakukan. Apakah dalam usia ini masih normal untuk ukuran kemandiriannya?

J:  Perhatikan, apakah ananda lambat krn tdk ada motivasi, atau krn sangat teliti, atau tipe pengamat?

di usia segitu sebaiknya dilatih memanfaatkan waktu dg baik. ceritakan kisah2 ttg waktu, keutamaan menyegerakan kebaikan.

T: Anak lambat pengamatan saya karena banyak teralihkan dengan hal2 lain, fokusnya masih bermain. Kecuali kalau dimotifasi, misalnya setelah sholat nanti diajak kemana gitu. Baru mau bersegera, dlu sebelum sekolah, di rumah, ketika saya bekerja biasanya memang full servis oleh mbaknya.. 😰

Mbak yang mengasuh..

J: kl sekarang msh ada mbak nya?

T: Masih, tpi alhamdulillah anaknya sudah mulai sekolah di semacam hsg. jdi interaksi dgn mbaknya agak terkurangi. Pgi sebelum berangkat, sy yg handle. Hanya saja, masih sering servis karena alasan bersegera berangkat.ll

J: ketika kita mengasuh, sebenarnya kita juga sedang mengasuh otak anak. Apabila anak kurang stimulasi, krn banyak pekerjaan yg dibantu, sel2 saraf otak pun tdk tersambung/sedikit sambungannya. Saat seorang anak diberi tugas, diberi tantangan, ia mengerjakannya, saat itu sambungan2 baru di sel otaknya terbentuk.

pengasuhnya mgkin hrs bersabar thd proses yg dilakukan sang anak, sabar menunggu ia menyelesaikan. memasang kancing, kaos kai, meletakkan piring, baju kotor, dll.
T2: Nah , kesabaran itu yang biasanya kurang dimiliki pengasuh selain ibu, termasuk neneknya

T2: Bagaimana jika anak terlsnjur sensng dimanaj dan malah menolak melakukan sendiri?
Misal makan inginnya disuapi saja
#terlanjur senang dimanja

T: mulai dr nol lagi. mulai dr ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri

inget ngga, od dasarnya seorang anak yg baru pertama makan, ia senang makan sendiri? siapa yg tsk sabar lalu mengambil alih, memutus fitrahnya utk mandiri?
T: Pengasuhnya 🙈

————————————————

10. Mohon tips2nya, memilih pondok yg sesuai, apakah perlu minta pertimbangan anaknya ataukah dominan arahan orang tua dengan komunikasi intensif?

Anak blm bs memilih. Org tua yg membuat short list, lalu sodorkan short list itu kpd anak, lakukan dialog, libatkan cita2 dan harapannya.
————————————————

11. Bagaimana cara melatih anak menyalurkan emosinya. Sedangkan anak sudah masuk pondok? 
J: Kl anak sdh di pondok, waktunya akan lbh banyak di sana. kerjasama dg pondok agaf pondok bs menampung dan mengasuh emosi ananda. Biasanya lewat musyrifah. Musyrifah ini biasanya karakternya lembut, penyayang, keibuan. Jalin hubungan yg baik dg beliau, jangan banyak menuntut

————————————————

12. Bagaimana mempersiapkan cara meyalurkan emosi bagi anak yg hendak mondok?
J: Emosi diasuh, idealnya, sejak dlm kandungan. Berkembang pesat di 3 tahun pertama usia anak.
Membiasakan anak mengenali emosinya di saat kita melihat ada sesuatu di wajahnya. apakah kamu sedih?marah?takut? Lalu salurkan emosinya itu mjd bentuk positif, afahkan agar ia menemukan solusi.

—————————————————

13. Kalau kita ingin anak tahfidz quran, apakah bisa dimasukkan ke pondok yang ada muatan umumnya? Apakah tidak malah lebih membebani anak karena banyak muatan materi yg harus dia kuasai? Karena ada kekhawatiran saya sebagai ibu untuk mempersiapkan dunianya juga.

J: Saya pribadi cenderung memilih utk yakin pd satu keinginan. Anak pertama saya menonjol di pelajaran umum, maka saya pilihkan dia pondok yv seimbang pelajaran umum dan agamanya.
anak ke 2 dan ke 3, saya pilihkan ekolah tahfisz dg sedikit pelajaran umum, krn berkaca pd anak pertama, pelajaran umum itu mudah,
Mierza Klastulistiwa:

————————————————

14. Bagaimana membangun komunikasi dengan anak yg sudah masuk pesantren (kelas 8), sedangkan waktu komunikasinya sebentar sebentar?

T: Mendoakannya selalu. Sisanya, kita hanya bisa menurut kpd aturan pondok.

————————————————

15. Keputusan masuk pesantren harus permintaan si anak (dengan tujuan memang untuk menuntut ilmu) atau memang hanya keputusan ortunya saja?


Dan bagaimana jika keputusan itu bertentangan dengan orang tua kita atau mertua sebagai nenek/kakek anak2?

T: Pada akhirnya, anak hrs rela, ikhlas mondok, walapun awalnya adl keginan ortu. Jangan sesekali memalsa anak yg sama sekali tdk mau masuk pondok, sebesar apapun keinginan kita.

saya sdh bbrp kali melihat, anak2 yg terpaksa dan dipaksa mondok, seringkali mjd sumber masalah.
————————————————


16. Bagaimana agar anak memiliki keinginan dan kesadaran sendiri untuk masuk pesantren?

J :Anak belajar dr apa yg dilakukan orang tuanya. Jika kita adl org tua yg senang belajar, menghadiri kajian, hafal nama2 ustadz, senang menghafal quran, berteman dg org2 soleh, insyaa allah tak sulit mendorongnya mondok. Pastikan ananda berteman juga dg org2 solih, berada di lingkungan yg baik.

————————————————

17. Jika anak masuk pesantren di usia SMP , bagaimana cara mengembangkan bakatnya? Mengingat pengarahan bakat juga penting untuk peran hidupnya agar bermanfaat bagi manusia

J: Ikut kegiatan ekstra di pondok
kalau memungkinkan, bawakan benda2 yg mendukung bakatnya, dg seizin pondok.
ً

cara memulai homeschooling
Homeschooling

Cara Memulai Homeschooling Untuk Keluarga Muslim

Bismillah….

Laman ini semoga bisa membantu keluarga muslim yang ingin memulai homeschooling sesuai Qur’an dan Sunnah, berdasarkan pemahaman orang-orang shalih terdahulu (sahabat, thabiin, dan thabiut thabi’in).

Jangan sungkan untuk meninggalkan pertanyaan di kolom komentar atau jika terdapat tema yang belum saya tuliskan. SILAHKAN KLIK PADA TAUTAN DI BAWAH INI  dan selamat berpetualang di klastulistiwa.  ^_^

 

Homeschooling, Homeschooling Communities

Sosialisasi Untuk Homeschooler Gimana?

Pertanyaan yang sering ditujukan kepada keluarga yang memilih jalur nggak sekolah adalah: “Bagaimana dengan sosialisasi anak homeschooling kalau bukan di sekolah?”

Pertama, kita perlu mengubah mindset kita dulu soal sosialisasi. Kalau menurut KBBI, sosialisasi adalah ‘proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya” . Sebagai muslim, tentu kita harus menyesuaikannya dengan syariat, seperti tanpa ikhtilat dan sesuai dengan adab serta akhlak seorang Muslim.

Mari garis bawahi kata ‘mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya’. Bukankah di luar sekolah, kita bisa melakukannya secara real? Tidak hanya mengenal melalui buku? Atau, apakah sosialisasi dibatasi tembok sekolah dan hanya dengan teman  rentang usia yang sama?

 

Sosialisasi Bagi Homeschooler Muslim

Mierza Ummu Abdillah

Setelah menjalani homeschooling, saya merasa ‘sosialisasi’ ini jauh lebih terjaga insya Allah – tapi sekaligus lebih luas dan tertata.

Terjaga – karena kita tahu dan bisa memilihkan teman, menjaga mereka dari ikhtilat, efek buruk pergaulan, menjaga agar percikan minyak wangi saja yang ada di sekitar mereka, dan terjaga dengan pendampingan kita hingga mereka siap menghadapi dunia sebagai Muslim yang utuh. Bayangkan rasio HS-ibu dan murid-guru.. kira-kira, rasio yang mana yang lebih terjaga?


Lebih luas
 – karena sosialisasi anak homeschooling tidak terbatas di lingkungan sekolah saja, tapi lintas usia, profesi, keinginan – tentunya dengan penjagaan kita. Sosialisasi tidak hanya satu kelas dengan rentang usia tertentu saja. Bukankah kita sering membaca riwayat Rasulullah dengan anak-anak kecil yg belajar di sekitarnya? Atau para sahabat, thabi’in, thabi’ut thabi’in yang meminta jawaban dari orang yg lebih muda karena diakui kecerdasan dan keilmuannya – seperti Umar bin Khattab yang memasukkan Ibnu Abbas yang berusia 17 tahun dalam anggota dewan bersama para sahabat peserta perang Badar? Inilah sosialisasi.

 

Tertata –  karena kita bisa mendesain ‘lingkaran sosialisasi anak-anak’ sesuai tujuan pembelajaran kita. ^^ Bisa dengan bergabung dengan komunitas homeschooling atau komunitas pembelajar yang sesuai dengan visi dan misi kita sebagai muslim. Bisa dengan orang yang sesuai dengan kecakapan hidup yang ingin kita tanamkan, misalkan pedagang di pasar, pembuat kue, saudara atau teman yang bisa menjaga rumah tetap bersih meski punya seabrek kegiatan, dan banyak lagi. Bisa dengan sering-sering mengunjungi saudara untuk meraih pahala dan membelajarkan adab, misalkan menjenguk orang sakit, takziyah, menolong sesama muslim – tanpa bingung mengatur waktu hanya di akhir pekan saja. Bisa juga dengan membuat acara anak-anak di rumah, jika memang kita ingin anak-anak bergaul dengan teman sebaya.

Jadi, tidak sekolah bukan berarti tidak bisa bersosialisasi bukan?

 

memilih homeschooling
Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Landasan Homeschooling Islam

Maka Jelaslah Mengapa (Kami) Memilih Homeschooling

 [Catatan: Resume ini diambil dari potongan tanya-jawab kajian yang, masya Allah, seakan menjelaskan kenapa memilih Homeschooling. Video Youtube (credit to Bali Mengaji) bisa dilihat di bawah posting ini. Namun, klastulistiwa.com telah mengunduh untuk memudahkan jika ada yang ingin menyimpan. Sila klik tautan ini untuk mengarahan ke Google Drive]


Wanita Tiang Penyangga Umat

Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey

 

Demi Allah, Allah subhanahu wata’ala jadikan kalian TIANG PENYANGGA UMAT. Terbayang apa yang terjadi dengan bangunan umat ketika tiangnya pergi?

Apa yang terjadi? ROBOH!

Wanita dengan tugas-tugasnya yang ada dalam syariat adalah tiang penyangga. Yaitu apa? Melayani suami, mendidik anak. Mendidik anak yang benar.

Ini yang akan menguntungkannya di akherat, demi Allah. Bukan karirnya di luar rumah, bukan berapa rupiah penghasilannya. ‘La!’ Itu malah melalaikan wanita. Membuat dia melakukan banyak pelanggaran: berikhtilat dengan yang bukan mahram di kantor. Sampai rumah udah capek. Yang ada, akhirnya kewajiban inti melayani suami dan mengasuh anak jadi hanya tinggal sisa tenaga.

,

Wanita Jihadnya Adalah Kembali Ke Tugasnya

Sebagai  apa? Sebagai seorang wanita yang, demi Allah, tidak ada mahluk lain yang sanggup untuk menanggung tugas itu kecuali wanita. Enggak ada. Mau Hercules? Mau Samson yang kuat? Coba suruh bawa drum sembilan bulan kemana-mana dibawa. Kagak kuat dia.

Wanita, justru yang lemah lembut, punya kekuatan itu. Kelembutan dan rahmatnya ini adalah senjatanya. Jihadnya wanita: mendidik anaknya di rumah. Kalau bisa jangan disekolahkan. Istri ini pendidikannya tinggi. Kenapa anak-anak kita diserahkan?

.

Kalau mau ajari anaknya di rumah. HOMESCHOOLING!

Dari dulu umat Islam: Anas Ibnu Malik, siapa yang didik? Ummu Sulaym. Imam Syafii, siapa yang ngarahin? Emaknya. Sufyan ats Tsauri?

mengapa memilih homeshooling
Sumber: fb.me/geraiuma

Bacalah buku tulisan akhuna Sufyan Baswedan, judulnya “Ibunda Para Ulama”. Buku ini akan memperbaiki mindset kita tentang bagaimana menempatkan wanita. Maka itulah jihad wanita yang inti. Yaitu apa? Berjuang melakukan tugasnya. Mempersiapkan generasi-generasi penerus umat.

Ketika wanita meninggalkan barisannya, maka jatuhlah umat Islam. Itulah dimulainya. Sebagaimana ketika para pemanah meninggalkan barisannya di hari Uhud. Itulah ketika para wanita meninggalkan tugasnya sebagai ibu dan lebih memilih untuk menyibukan diri di luar rumah  yang bukan tugas seorang ibu.

Resume oleh Mierza Ummu Abdillah
klastulistiwa.com.
Video credit to Bali Mengaji

Aisha Portfolio

[VLOG WITH PRINTABLES] Hafalan Hadits 1-10

Bismillah.

Video hafalan hadits 1-10 ini menyertai worksheet yang dibuat Jenna (10th) untuk membantu hafalan teman-teman pembelajar visual. ^_^  Masih on progress untuk printables-nya yang saat ini baru terdiri dari 5 lembar kegiatan mewarnai dan gunting tempel. Jadi, silahkan subscribe aja blognya untuk mendapatkan update printables-nya yaaaa.

Hafalan hadits ini sebenarnya rekaman Jenna (10th) untuk mengikuti sesi menghafal hadits online. Tapi ternyata Jenna lebih antusias untuk membuat media visual untuk membantu adiknya menghafal, sekaligus sebagai amal jariyah.

Barakallahu fiik.

Selamat mengunduh worksheetnya. Insya Allah 6 hadits berikutnya akan di-update pada posting ini juga, insyaa Allaah. Semoga bermanfaat ya.

 

 

Homeschooling, My Reflection, Parenting

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

*Mierza ummu Abdillah*

“Cieee yang homeschooler…. masa orang tuanya perlu kurikulum?”

 Baiklah, kita bahas tentang kurikulum dulu ya. Karena kita di Indonesia, kita pakai acuan nasional, yaitu Diknas.

Kurikulum menurut UU No. 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19 adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Garis bawahi kata TUJUAN PENDIDIKAN. Sebagai muslim, sebagai orang tua, apa tujuan kita?

Pasti udah sering mendengar ayat yang artinya iniii kaaan:

 “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

love isnot enoughBagaimanakah cara melindungi ‘kita dan keluarga kita’? Cukupkah dengan cinta dan ketulusan?

Nope. Love is not enough.

Bukankah kita sudah banyak melihat contoh orang tua yang mencintai anaknya dengan tulus dan melakukan apapun yang anaknya minta atas nama cinta? Lalu bagaimana kelanjutannya? Teman-teman disini pasti tahulaah jawabannya: Iyesss… kita butuh ilmu.

Banyaaak sekali yang harus kita pelajari, dari mulai ilmu agama hingga ilmu berkomunikasi. Islam memberikan kurikulum yang ajiiib dalam soal mendidik anak  ini, terutama soal akidah sebagai ilmu pertama yang layak dikenalkan pertama kali. Singkatnya, begini ‘kurikulum dasar’ bagi orang tua sang pendidik adab yang sebenarnya bisa bertambah berlipat-lipat sesuai karakteristik keluarga:

  1. AQIDAH

Inilah modal dasar dalam mendidik, agar anak hanya menyandarkan diri kepada Allah. Memberikan hadiah tak mengapa, asal ajarkan anak meminta kepada Allah saat menjanjikannya. Disinilah kita bisa menancapkan aqidah di hati mereka.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberi contoh dalam pondasi dalam jiwa anak. Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, yang artinya “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. (HR. Tirmidzi – Hasan sahih).  Dengan terus mencamkan ini, insyaAllah ketika mereka tak bisa mendapatkan apa yang mereka mau, itulah yang terbaik dari Allah.

Lihatlah wasiat Nabi Yaqub pada surat Al Baqarah ayat 133 ketika hendak meninggal dunia. Yang ditanyakan bukan berapa nilai di ijazah atau penghasilan anak-anaknya, tapi siapa yang disembah? Bukankah kita juga tidak tahu apakah besok kita masih bisa bangun dan ‘menjaga’ anak-anak dengan semua ilmu parenting kita? Siapa lagi yang akan menjaga mereka selain yang menciptakannya?

  1. ILMU TENTANG TATA CARA IBADAH

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka untuk dipaksa shalat, ketika mereka berusia 10 tahun.”(HR. Abu Daud 495 dan dishahihkan al-Albani)

Hadits ini juga pasti sudah sangat dikenal. Tapi, sudahkah kita memiliki ilmu tentang bagaimana tata caranya? Atau yang penting pukul aja kalau mereka ga mau nurut shalat? Kita punya banyak waktu sebelum ‘memerintahkan mereka’, bukan? Bukankah semua setiap perkataan, perbuatan, hingga yang kita pikirkan akan dimintai pertanggungjawaban? Jadi, mari gunakan masa-masa mumayyiz mereka (di bawah 7 tahun) untuk mulai mencari ilmu yang shahih tentang cara beribadah.

  1. ILMU TENTANG AKHLAK

Oh, yaaa.. banyak sudah kita lihat di linimasa ketika selfie yang ‘tidak beradab’ bocah menjadi kekinian. L Karena itu, kita perlu sekali mempersiapkan amunisi ilmu adab bagi anak, baik itu terhadap Allah, orangtua, teman, tetangga,  dan adab sehari-hari. Sebelum mengajari mereka tentang bagaimana cara berbicara kepada orang tua, makan, minum, bertamu, berbicara, tidur, masuk kamar mandi, belajar dan banyaaak lagi… mari kita cari tahu praktek Rasulullah dan menerapkannya terlebih dulu.

  1. ILMU TENTANG DOA

Doa ini senjata orang beriman dan tentunya orangtua generasi rabbani. Sungguh hanya karena Allah segala sesuatu itu terjadi, bukan semata-mata karena kecanggihan kita mendidik anak. Ada banyak doa shahih yang bisa kita amalkan untuk kebaikan keluarga. Selain yang dicontohkan Rasulullah, beberapa doa juga terdapat di Qur’an seperti dalam doa nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 28, doa dalam surat Al-Furqan ayat 74, dan doa nabi Ibrahim untuk anak-anaknya menjadi orang yang menegakkan shalat dalam QS. Ibrahim ayat 40.

  1. ILMU DLL, DST, DSB, DKI, DLLAJ (ABAIKAN 2 SINGKATAN TERAKHIR)

Iyesss… ada banyak ilmu yang kita butuhkan dalam mendidik generasi masa depan. You name it. Dari mulai seni  berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak, strategi menghadapi anak berdasarkan sifat dan karakternya, cara membangun PD anak, cara menumbuhkan potensi dan bakat anak, cara memotivasi, dan baaanyaaak lagi. Alhamdulillah, kita diberikan banyak kemudahan mengakses buku-buku bergizi, kajian-kajian yang mengisi hati, grup-grup pengasuhan yang memompa semangat, seminar dan workshop pengasuhan yang mencerahkan,  pengalaman-pengalaman pengasuhan yang terlihat berhasil dalam prosesnya, dan segala sumber belajar dari yang bersertifikat seperti guru beneran seperti iou.com sampai yang gratis dan menyenangkan macam coursera.

Memangnya boleh? InsyaAllah, selama tidak bertentangan dengan syariat.   Bagaimana tahunya?  Belajar media literacy – karena gak semua yang dikatakan internet itu benar.

Daaan… untuk ilmu syar’i, mari belajar dengan tahapan yang benar karena ilmu syar’i itu bertingkat-tingkat dan membutuhkan ulama yang benar-benar utuh memahaminya. Boleh intip https://klastulistiwa.com/2016/05/20/homeschoolers-pun-perlu-tahu-tahap-tahap-belajar-ilmu-syari/ untuk beberapa tahapannya.

LALU, KAPAN KURIKULUM INI BERAKHIR???

Tentunya tidak setamat SMA, S1, S2, S3, atau saat SK kerja berakhir yaaa. Ibaratnya ‘homeschooling’ itu tidak pernah berakhir. Dan kita, orang tua, adalah homeschoolers seumur hidup meski nanti anak-anak yang kita didik bukan lagi ‘homeschoolers’ di rumah kita. Mereka akan menjadi homeschoolers di rumah mereka selanjutnya.

Karena rumah adalah sekolah.

 

 

 

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

[VLOG] How to Homeschool Ala Klastulistiwa

Yaaay.. Alhamdulillah… selesai sudah video tutorial cara  homeschooling ala keluarga kami! Iyesss.. itu video pertama kami di Youtube tanpa movie maker apps yang sudah terhapus di lappie karena mempertahankan OS jaman lawas tapi ORI (uhuk!).

Etapi.. etapiiii…. thanks to Smartfren yang dikenalkan oleh Blog Emak Gaoel,  gak ada program pun gak masalah tuuu. Edit-edit bahagia via onlie tetep bisa gratisan (makanya ga bisa ngilangin watermark hehe). Hasilnya ga malu-maluin lah sebagai nubi di peryutuban.

Kalau ada yang tanya, “Lha, how to homeschool lagiiiii? Kan dulu pernah posting ituuuuu?” Ehem… yang ini beda. Ini apdet ya know… kekinian…

Poin-poin penting seperti di bawah ini akan terus ada sebagai pengingat, bahwa:

  1. Homeschooling itu unik, berdasarkan ciri, how-to-homeschool-ala-klastulistiwa.jpgvisi, dan misi keluarga masing-masing. Jadi model HS perjalanan klastulistiwa yang kami jalani belum tentu sesuai dengan model HS keluarga lainnya. Makanya, kenali dan terus cari tahu agar puzzle-puzzle itu pun membentuk jadi visi-misi kamu (tsaaah).
  2. Ketika sudah siap dengan pilihan untuk homeschooling, mulai dan teruslah bangun chemistry dengan seluruh anggota keluarga, terutama si buah hati kesayangan.
  3. Gali potensi diri, anak, hingga komunitas yang bersentuhan dengan keseharian.
  4. Eksplorasi semua sumber dan cara belajar agar proses berilmu lebih holistik.
  5. Mengingatkan diri sendiri agar pembelajaran itu berlaku buat seluruh keluarga, tidak hanya anak yang diajari saja.
  6. Menghargai proses dan tidak terpaku pada hasil melulu. Kenapa? Karena dalam proses belajar terkandung banyak nilai dan keahlian yang penting dalam proses persiapan anak menghadapi kehidupan.
  7. Membekali anak untuk masa depan dunia akhirat, bukan cuma ‘biar lulus dan dapat nilai bagus’. Jadi, coret-coret di seragam pas kelulusan? Hadeeeuh… masih musim ya? -_-
  8. Berjejaring dengan banyak komunitas pembelajar, dari mulai yang isinya homeschoolers, anak satu kelurahan, anak-anak masjid,  perkumpulan berbasis hobi, kemasyarakatan, sampai ROHIS Berkemajuan yang lagi viral sekarang (ciee cieee). Kalau kami lebih memilih komunitas ketimbang kursus-kursusan. Karena ya itu tadi, anak-anak juga ikut proses berlembaga bukan dilembagakan. Ga cuma bayar terus marah-marah karena hasil gak sesuai harapan (ini cuma contoh lhooo – jangan baper).

Nah… adakah yang membedakan posting yang ini dengan posting sebelumnya? Tentu saja ada. Apa ituuu?

Tadaaa! Yang sekarang ada videonya.  *krik krik krik*

Baiklah… Selamat menikmati dan abaikan watermarknya ya.

Salam,
Mierza Ummu Abdillah

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Dua Pilihan: Cari Guru atau Berilmu

“Hah??? Anak-anakmu homeschooling? Terus yang ngajar siapaaaaa?”

Karena ini masih jadi pertanyaan favorit, mari kita lanjutkan posting tentang guru dan homeschooling ya.

Baiklah.

Idealnya yang jadi guru pada awal-awal masa pendidikan adalah kita, orang tuanya.

“Lha, kan ga punyaaa ilmunyaaaaa!”

Iyesss…. permisalannya begini… Kalau kita cuma punya beras, penanak nasi, dan tungku berbahan bakar kayu saat lapar (settingnya ga ada uang loh ya), apa yang harus dilakukan?

Terus, kalau ga bisa masak pake tungku kayu itu gimana? Apa iya ga usah makan? *krik krik krik*

Bisa jadi setiap Ibu memiliki cara sendiri. Kalau model saya yang punya kuota, ya browsing atau tanya grup masak-masak. Ibu yang canggih ilmu interpersonalnya bisa mulai tebar pesona ke tetangga. Atau, ada Ibu yang lebih memilih barter sama warung nasi terdekat untuk menukar sekilo beras dengan sebungkus nasi – saking ga mau masak .

Well, sama aja seperti homeschooling. Setiap keluarga punya visi dan misi yang berbeda. Dari sana aja bisa terlihat cara yang berbeda dalam mendidik anak. Ada yang memilih untuk berilmu duluuuu, belajar bareng di satu majelis ilmu, sampai memilihkan guru.

picsart_05-20-05.23.53.jpgGaris bawahi kata MEMILIHKAN GURU loh yaa, bukan memilih sekolah atau meminta lembaga lain untuk menyeleksi guru yang you-don’t-say kayak gimana. KITA a.k.a. ORANG TUA (yang memilih homeschooling) jauh lebih leluasa untuk bisa memilih pendidik adab anak-anak kita. Ya. Pendidik adab adalah kata yang dipakai oleh para salafush shalih saking pentingnya peran guru ini.

Jadi paham yaaaaa….

Next discussion: kualitas apa yang harus kita miliki sebagai pendidik adab? Atau, untuk siapapun yang mendidik dan mengajar anak-anak kita nanti, apa saja kriterianya?

Hmmm…. berhubung kita muslim, tentu kriteria-kriteria ini harus berdasarkan sumber yang shahih lho yaaaa….

Karena saya duluan ikut kajian kitab-kitab* parenting Islam yang keren, saya tuliskan beberapa poin kriteria pendidik adab di bawah ini ya. Semoga bisa menjadi cermin untuk memantaskan diri atau menyeleksi pengajar anak-anak kita. Oh ya.. saya ingatkan dulu. Saya ini cuma lebih dulu ikut kajian loh ya, bukan berarti lebih pinter atau shalihah. (Eh… tapi boleh kok diaminkan.:) )

FOKUS. So, what makes an educator?

1. Dari kalangan ahlus sunah

Maksud dari kalangan ahlus sunnah itu adalah siapapun yang mengikuti ajaran Rasulullah, para sahabat, dan generasi setelahnya yang mengikuti Rasulullah. Untuk ilmu-ilmu syar’i, ini penting sangat sebagai fondasi yang kokoh, terutama di masa-masa awal kehidupan. Daaan… ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang artinya:

“Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]

2. Punya kemampuan dan ilmu

Nah, kan, ilmu lagi. Lha iya, kalau ga ada ilmu, gimana ngajarnya? Syarat-syarat ilmu yang perlu dimiliki seorang pengajar itu salah tiganya dapat dijelaskan dalam hadits berikut ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal sendirian ke Yaman.

Sebagaimana dalam Shohihain dari hadits Ibnu Abas, Rasululloh bersabda (yang artinya) :

“Sungguh kamu akan menjumpai satu kaum dari ahli kitab, apabila kamu mendatangi merkea maka dakwahilah untuk bersaksi syahadatain, bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu setiap harinya. Bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shodaqah (zakat) yang diambil dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Apabila mereka mentaatimu dalam hal ini maka hati-hatilah dari harta-harta kesayangan mereka dan takutlah dari do’a orang mazhlum, karena tidak ada hijab antaranya dengan Allah. (HR Al Bukhori).

Dari hadits di atas, terdapat 3 faedah mengenai ilmu yang perlu dimiliki seorang pendidik:

a. Punya ilmu (syar’i). Muadz dipilih untuk berangkat SENDIRIAN karena ilmu.

b. Mengetahui kondisi yang didakwahi. Dalam mendidik anak-anak pun begitu. Cari tahu bagaimana cara mendidik yang benar sesuai kondisi mereka, dari mulai usia hingga gaya belajar. Semuanya.

c. Mengetahui cara berdakwah. Setelah mendapat diagnosa awal, kita harus tahu mau diapakan itu hasil diagnosanya? Cari ilmunya agar apa yang anak-anak pelajari benar-benar dipahami dan diamalkan. Jangan sibuk ngajar sendiri, tapi anak ga ngerti. Gitu kali ya intinya.

Terus, buat yang memilih mendatangi guru bagaimana? Ya idealnya orang tua duluan yang memenuhi kriteria itu, minimal nomor 2 dan 3, agar bisa memberi wasiat kepada sang pendidik adab.

3. Bisa menjadi contoh yang baik

Ini mah jelas yaaa… GuRu pan singkatan dari diGUgu dan diTIru. Untuk muslim ya jelaslah, siapa yang layak jadi idola. Allah telah mengabarkan dalam Qur’an surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

4. Mengamalkan Ilmunya

Ini sudah seriiing disinggung dalam posting posting sebelumnya. Sungguh ngeri euy, sanksinya bagi pendidik yang ga melakukan apa yang dia ucapka..

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

5. Memiliki Sifat Tawadhu Terhadap Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya.”

Lalu, mengenai ilmu ini, beliau melanjutkan,

“Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya.  “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml : 40).” (Al Fawa’id, hal. 149).

Ah, dengan kemudahan menebarkan ilmu dengar satu klik ini sungguh mengerikan dampaknya. Saat menulis ini pun, ada rasa kuatir akan adanya rasa ujub yang bersemayam di hati. Semoga tidak. Semoga bukan. Doakan jangan. Semoga kita menjadi pendidik adab yang mampu menerima kebenaran, meski dari anak kecil.

Done. Alhamdulillah. Jadi, belajar dulu.. belajar lagi.. belajar teruuuus. Insya Allah. Semangat yaaa para pendidik adab. ^____^

*Kitab-kitab yang dimaksud di atas diantaranya adalah Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan (Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi), serta Nida’ Ila Murobbiyin wal Murobbiyat dan Kayfa Nurabbi Auladana (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahumahullah).

Sumber lain:

http://klikuk.com/kaedah-memahami-islam/

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Homeschooling Parents Pun Perlu Tahu Tahap-Tahap Belajar Ilmu Syar’i

image

“Kalau homeschooling, yang ngajar agama siapa?”

Guru dan homeschooling.

Itu salah satu pertanyaan yang (biasanya) paling sering ditanyakan setelah seseorang tahu bahwa satu keluarga memutuskan untuk gak sekolah.

Kalau dulu, saya mungkin bisa dengan pede mengatakan, “Ya fasilitasi aja. Kan sekarang ada Pakde Google. Belajar bareng. Ilmu agama? Kan ada yufid. Ada aplikasi.  Kajian tematik? Banyak. Kurang apa lagi???” Dan benih ujub dan kesombongan pun perlahan mulai mengakar di hati.

Sampai suatu ketika, dalam sebuah majelis ilmu syar’i yang berjalan di atas manhaj salafush shalih, hati ini pun tertampar. Seorang ibu yang nyata-nyata menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya perlu mengkaji  ilmu-ilmu itu terlebih dulu – idealnya. Karena….

BELAJAR AGAMA ITU ADA TAHAPANNYA.

Baik itu aqidah, tafsir, hadits, fiqih, ilmu bahasa, sirah, semuanya!

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (Al-Qashshash:50)” (Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

Alhamdulillah. Tamparan itu berbekas ilmu. Lalu, apa sajakah tahapan-tahapan itu ?

  1. Cari guru dan kitab yang benar.
  2. Untuk ILMU AQIDAH, agar tahapannya  benar, seorang penuntut ilmu sebaiknya memulai dengan kitab Al Ushul Ats Tsalatsah, lalu Al Qawaid Al Arba’, Kasyfus Syubhat dan Risalah Ushulil Iman. InsyaAllah, pendidikan pokok in akan mengokohkan akidah yang benar. Setelahnya, seorang penuntut ilmu bisa melanjutkan pada Kitab At Tauhid, Al Aqidah Al Washithiyyah milik Imam Mujaddin Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, kemudian Al Hamawiyyah, lalu At Tadmuriyyah, dan  Al Aqidah Ath Thahawiyyah. Setelah mutqin, seorang pembelajar dapat melanjutkan pada pembahasan sunnah yang terkenal diantaranya Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah milik Al Laalikaa-i, Kitab As Sunnah milik Al Khallal, Kitab As Sunnah milik Abdullah bin Ahmad bin Hambal , Al Ibanah milik Ibnu Bathah Al’Akbari, dan Kitab At Tauhid milik Ibnu Khuzaimah dan banyaaaak kitab-kitab lain yang termasuk dalam bidang ini.
  3. Untuk ILMU TAFSIR, yang paling masyhur tentunya kitab Tafsir Ibni Katsir (774H) rahimahullah dan Kitab Tafsir As Sa’di (1376H) rahimahullah. Lebih khusus lagi, Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir milik Muhammad Nasib Ar Rafi’i. Jika mampu menyelesaikan kitab-kitab tadi, maka pelajarilah Tafsir Al Baghawi (516H).
  4. Untuk ILMU HADITS, seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dari Al Arba’in An Nawawiyah untuk dihafal dan dipahami, juga membaca penjelasan yang terkandung di dalamnya. Lalu hendaknya secara bertahap mempelajari Umdatul Ahkam kemudian Bulughul Maram, juga dengan syarah-nya. Kemudian, setelah itu barulah ia mampu untuk mempelajari Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan Kutubus Sittah.
  5. Untuk ILMU FIQIH, tidak cukup hanya membaca hadits-hadits. Perlu sekali mengkaji kitab-kitab fiqih seperti Umdatul Fiqhi yang merinci permasalahan-permasalahan furu’ atau kitab Zaadul Mustaqni. Di antara syarah yang mudah dipelajari adalah kitab As Syarh Al Mumthi’ yang ditulis oleh Syaikh Al Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
  6. Sedangkan dalam Sirah Nabawiyyah, mulailah dengan mempelajari Mukhtashar Sirah Nabawiyyah. Kemudian, bisa mempelajari Sirah Nabawiyyah milik Ibnu Hisyam. No worries karena di zaman ini, alhamdulillah, kitab-kitab sirah sudah banyak yang diringkas. Tapi, tetaplah berhati-hati untuk mengkonsultasikan kitab tersebut kepada para guru yang diakui keilmuannya.

Done, then. Banyak kaaan?

Permasalahan berikutnya adalah… bagaimana kalau guru tersebut tidak ada, atau tempatnya jauh, atau tidak mungkin melakukan perjalanan karena safar tanpa mahram?

Tenang. Ada solusinya, insyaAllah.

Azzamkan dalam hati perkara menemui guru ini. Beli (atau download kalau ada) kitab-kitab tadi atau minimal terjemahannya. Baca lalu catat poin-poin yang penting dan ingin diketahui. Kumpulkan dan bawalah ketika ada kesempatan. Minta terus kemudahan kepada Allah. Bukankah Allah sebaik-baik penolong?

Referensi:

Kajian kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan karangan Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi

Tahapan Dalam Menuntut Ilmu

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

https://almanhaj.or.id/2764-kaidah-kaidah-menuntut -ilmu.html

Homeschooling

Ibu, Mari Didik Anak Untuk Dapat Duduk di Majelis Ilmu

***Mierza ummu Abdillah***

duduk dengan ulama

Linimasa sempat riuh rendah dengan pro dan kontra membawa atau tidak membawa anak ke majelis ilmu. Padahal, bukan tingkah polah si anak yang menjadi masalah. Tapi kita. Ya, kita. Orang tuanya.

Sudahkah kita mendidik anak untuk dapat dapat duduk bermajelis? Sudahkah kita mempelajari  adab penuntut ilmu? Apakah kita telah membekali dengan ilmu pengasuhan yang memadai? Apa kita benar-benar all out dalam menjaga anak kita atau kita bahagia melihatnya berjalan kesana kemari mengganggu yang lain sedang kita asik sendiri? Apa saja yang kita persiapkan untuk bisa duduk bersama anak di majelis ilmu? Berapa lama kita menyiapkannya? Sudahkah dihitung durasi dan apa saja yang kita persiapkan?

Tunggu… Apa kita sudah kita mencoba? Sekali? Dua puluh kali? Apa kita lelah dan memilih untuk menunggu saja anak besar? Jika ya, itu belum mencoba namanya. Itu berhenti berusaha. Mencoba itu artinya saat anda membaca ini, anda masih berjuang untuk datang bersama anak-anak meski hanya dua menit pertama, lalu Anda keluar. Dan akan ada terus episode itu hingga Allah memperkenannya duduk di majelis dengan adab seorang penuntut ilmu.

“Anak saya kinestetik. Gak bisa diem. Apa bisa?”

InsyaAllah. Allah yang menjadikan segalanya mungkin. Saya sudah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun sebagai pendidik dan saya sudah sering melihat anak yang dicap kinestetik mampu duduk memperhatikan dengan lama dan benar. Tapi, tentunya itu bukan sesuatu yang instan. Perlu perjuangan yang insyaAllah bermanfaat bagi keluarga kita.

“Tapi, itu berat. Saya malu dilihat yang lain.”

I’ve been there, felt that, still do. Tapi, tidakkah kita ingin anak-anak kita seperti apa yang mereka lihat? Mencontoh dari para ahli ilmu dan pencari ilmu? Mencontoh manusia-manusia yang mendatangi majelis demi mendapat ilmu? Mendidik seperti salafush shalih dan ulama-ulama setelahnya?

Dari Abi ‘Ashim: “Aku pergi bersama anakku menemui Ibnu Juraij, padahal anakku masih kurang dari 3 tahun. Beliau menyampaikan hadits dan Al Qur’an”. Kemudian Abu Ashim berkata, “Tidak mengapa untuk diajarkan kepada anak ini hadits dan Al Qur’an pada usia demikian dan yang semisalnya.” [Al Kifayal lil Khatib]*

Berkata Imam Malik, “Ibuku kemudian memegang diriku dan memakaikan pakaian yang disingsingkan, lalu beliau meletakkan sesuatu yang tinggi di kepalaku dan memakaikan sorban di atasnya.” Kemudian Ibuku berkata, “Pergilah sekarang dan catatlah.” (Almuhadits Alfashil)*

Mendidik itu memang tidak ringan. Ungkapan ‘It takes a village to raise a child’ itu akan kita dapatkan dalam majelis ilmu, insyaAllah. Coba tengok apa yang dikatakan Zakariya bin Ziyad An Nabawiy di bawah ini.

Adalah guru kami telah berkata: “Duduklah kaliam bersama para ulama, dikarenakan jika kamu benar, mereka akan memujimu. Dan jika kamu salah, mereka akan mengajarimu. Dan jika kamu tidak punya ilmu, maka mereka tidak akan mencercamu. Dan janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang jahil (tidak punya ilmu), karena jika kamu benar, mereka tidak akan memujimu. Dan jika kamu tidak tahu tentang sesuatu, maka mereka akan mencercamu. Dan, apabila mereka bersaksi untukmu, maka (kesaksian) mereka tidak akan bermanfaat bagimu.”(Akbaril Qudhah)*

Mungkin kita mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti mendapat cibiran, pandangan sinis, sampai ucapan yang tidak menyenangkan dari beberapa gelintir penghuni majelis. Tapi ingat, parenting has ups and downs, doesn’t’t it? Selain itu, masih baaanyak penghuni majelis ilmu yang bersedia membantu kita mendidik anak. Ya, mendidik. Jadi yaaaa… nikmati perjalanan mendidik itu. Take it. Don’t leave it. Coz’ it’s well worth the result – insyaAllah.

*Kutipan diambil dari kajian rutin kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan.

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Hak Anak Mencontoh Orang Tua Penuntut Ilmu (Agama)

*Mierza ummu Abdillah*
image

Homeschooling itu memang bukan cerita yang selalu indah. Terlibat banyak guru kesabaran di dalamnya.

Saya yang seorang ibu, seorang muslim, seorang pengajar (atau memilihkan pengajar) anak-anaknya sendiri , tidak hanya menyampaikan ilmu. Tapi juga mendidik adab, ilmu, dan menerapkannya.

Beuh… berat yaaa? Terutama pas bagian ‘menerapkannya’.

Begini mungkin ilustrasi, eh, kenyataannya….

PAS JAMAN NYEKOLAHIN: Gampang… titip aja di sekolah Islam, di TPA. Anak pinter agama dan jadi hafidz(ah). Kita cari uang… atau paling nggak, kita ngajar aja (saya guru Bahasa Inggris dulu) di tempat anak belajar. Kita? Hafalan? Ke majelis ilmu? Belajar? Halah… mana sempet. Cari uang, Bro!

PAS JAMAN HOMSKULINGIN: Bahasa Arab? Gampaaang, ada aplikasi. Tahfiz, tuuuh deket rumah ada rumah tahfiz. Ane? Hafalan? Bentar… ng.. ini cucian belum kelar. (Dan blass sampai keesokan harinya) Kajian ke madjid? Temanya apa? Tar browsing aja.

,

Ng… iya. Itu saya dulu. Masih ada residunya sih.. semoga istiqomah menghilangkannya.

Nah, dalam sebuah majelis rutin yang membahas salah satu kitab parenting Islam dari jaami’ul ahkam fii adab al shibyan, saya ditampar dengan ayat ini (tafsir lengkap dari Ibnu Katsir dan para sahabat bisa dilihat di sini):

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Q.S. Al Baqoroh: 44)

Saya kopikan beberapa penafsirannya ya….

Maksud dari ayat pertama di atas dari Ibnu Jurairj yang mengatakan sehubungan dengan firman-Nya, “Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan,” bahwa orangorang ahli kitab dan orang-orang munafik selalu memerintahkan orang lain untuk melakukan puasa dan salat, tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka perintahkan kepada orang-orang untuk melakukannya. Maka Allah mengecam perbuatan mereka itu, karena orang yang memerintahkan kepada suatu kebaikan, seharusnya dia adalah orang yang paling getol dalam mengerjakan kebaikan itu dan berada paling depan daripada yang lainnya.

Atau Ad-Dahhak yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu apakah kalian memerintahkan orang lain untuk masuk ke dalam agama Nabi Muhammad Saw. dan lain-lainnya yang diperintahkan kepada kalian untuk melakukannya —seperti mendirikan salat— sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri?’

Iya, saya tertohok sangat di kajian ituuu (emot nangis mana emot nangis?). أستغفر الله . Anak-anak BERHAK mendapat contoh yang baik dari saya. Bukan hanya perilaku baik, tapi juga kebiasaan menuntut ilmu (diin). Betapa sombongnya saya, dengan secuil yang saya miliki (titipan Allah pula!), petantang-petenteng bilang “Saya cari uang aja, ilmu mah belakangan.” Iya kalau dapat waktunya. Lha, kalau pas ‘cari uang’ udah diketok duluan sama malaikat maut, piye? Terzolimi lah hak anak-anak, meski gak sampe KOMNAS HAM, sih.

Jadi, semua mindset yang saya bangun sejak awal tentang mendidik saya bongkar total. SAYA HARUS BELAJAR. MEMBUANG RASA MALU berada di satu majelis: yang bocah udah juz 28 akhir, Ibunya masih terseok2 menghafal juz 30. Pas tanya jawab tentang ilmu Diin, anaknya yang tau duluan. Pas kajian tetiba inget kalau pulang-pulang harus lipet2 (saya anti neriska hehe).

Beraaat memaaang… Tapi ingatlah selalu:  Ilmu tidak akan bisa diraih dengan banyak mengistirahatkan badan.” (Yahya bin Abi Katsir rahimahullah)

 

http://www.klastulistiwa.com

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, My Reflection

Ketika Tekad itu Menebal

WHY I HOMESCHOOL

Saat ini saya sedang diklat PAUD selama 2 bulan di Jogja. Ilmu mengajar disini diambil dari beberapa sumber, diantaranya kitab para ulama seperti Kaifa Nurobbi Auladana, Nida, dan Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Dan… masya Allah…
Semua perjalanan kami sebagai Homeschooling family terjawab disini…

Ada dua dalil yang disebut2 terus di semua kitab. Dan masyaAllah, sangat menguatkan saya dan keluarga untuk melanjutkan homeschooling:

Yang Pertama
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَاللَّهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاًوَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada seseorang melalui tanganmu lebih baik bagimu dari pada memperoleh unta merah (Hadits shahih, riwayat Bukhari & Muslim)

Yang Kedua
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Kemarin ustadz mengkonfirmasi seorang HSer parent insyaAllah bisa mendapat keempatnya… dengan ijin Allah. 😍😍😍

image

Mierza Miranti
Kisah Klastulistiwa
di gerimis sore Jogja
5 Maret 2016