Mungkin bapak-Ibu guru yang berkutat dalam bidang pendidikan atau orang tua yang sering melahap buku-buku pengasuhan anak sudah tidak asing dengan istilah  ‘reward and punishment’. Tapi, bagaimana dengan cara pendidikan anak dalam Islam? Apakah ada reward and punishment dalam Islam?

**Mierza Miranti ummu Abdillah – www.klastulistiwa.com**

 

Reward and Punishment Dalam Pendidikan Islam

Mari kita lihat sebuah hadits dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),  “Tatkala Allah menciptakan para makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR. Bukhari no. 6855 dan Muslim no. 2751)

Lihatlah kalimat: “RAHMAT ALLAAH MENGALAHKAN MURKA-NYA”

Jika diperbandingkan teori yang dibuat manusia dengan apa yang diciptakan Allah, sangat terlihat ketimpangannya. Lihatlah kata ‘ganjaran-dan-hukuman’. Sangat satu-lawan-satu, bukan?

Bandingkan dengan frasa RAHMAT-MENGALAHKAN-MURKA’ yang diambil dari hadits di atas. Sungguh berbeda levelnya antara kasih sayang manusia kepada sesamanya, dibandingkan dengan Pencipta terhadap ciptaanNya.

MENGALAHKAN: The Reward GOES BEYOND the Punishment

Sungguh indah ajaran Islam jika benar-benar tercermin dalam adab seorang hamba terhadap Allah dan ciptaanNya. Betapa indahnya jika kita mampu menanamkan ini kepada anak-anak didik kita. Memahamkan bahwa rahmat Allah mendahului murkanya.

Menunjukkan kasih sayang kita lebih besar dari keinginan untuk menghukumnya memang tidak semudah menuliskannya. Sungguh… saya pun masih tertatih melakukannya. Hanya Allahlah sebaik-baiknya pelindung dari hati yang mudah dibolak-balik ini. Mari teruuus meminta hati ini agar dilembutkan. Karena contoh terbaik seharusnya berawal dari rumah.

Lalu bagaimana? Apa konkritnya? Mari mengambil apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan generasi shalih setelahnya dalam menanamkan nilai yang indah ini. Apa sajakah itu?

1. Memberi Pujian

Lihatlah cara Rasulullah memuji Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhu. Dalam riwayat Tirmidzi dalam shahih Al Albani, beliau bersabda bahwa Abu Bakar dan Umar adalah pendengaran dan penglihatannya.

Begitu pula saat Rasulullah bertemu As’ad Abdul Aziz bersama suatu kaum dimana Ia ada bersama mereka . Rasulullah menyebutkan bahwa dalam dirinya terdapat akhlak yang dicintai Allah dan RasulNya, yaitu tidak tergesa-gesa. Lihatlah cara Rasulullah memuji, sangat SPESIFIK, TEPAT WAKTU, DAN APA ADANYA.

Pujian seperti, “Iiiih pinter,” mungkin baik, tapi dengan ucapan “MasyaAllah” atau “Barakallahu fiik” insyaAllah akan mengajarkan anak (dan kita sendiri) untuk menisbatkan setiiiiiiiiap kecerdasan kepada Allah. Every single thing! Akan lebih baik lagi jika spesifik pencapaiannya, misalkan ketika anak kita berhasil membereskan mainan tanpa diminta. Maka TEPAT WAKTUlah memuji dengan bersegera melakukannya. Katakan SPESIFIK dan APA ADANYA, dengan kata-kata seperti, “MasyaAllah, kamu yang bereskan itu semua Nak? Ummi bangga banget deh jadinya.”

Give them the reason. Itulah yang diajarkan Rasulullah melalui sabdanya.

2. Memberi Penghargaan Materi

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah pernah mendapatkan sutera sebagai hadiah. Lalu Rasulullah memberikan sutera tersebut kepada Umar sebagai meski bukan untuk dipakainya. Hadiah… Mari berikan anak-anak hadiah sebagai penghargaan atas pencapaian mereka.

Namun, ingatlah. Pendidikan Islam ini sangat holistik. Ketika kita memberi penghargaan materi, pastikan kita mengiringinya dengan tauhid. Ilmu ini insya Allah akan mengajarkan kita tetap zuhud dan menghindarkan dari hedonisme apalagi materialisme.

Saya di rumah berusaha keras menerapkan ini. Sulit? Jangan ditanya. Reward yang kami terapkan jangan dibayangkan seperti mainan mahal, apalagi gadget. Tapi cukup dengan menonton salah satu pilihan video edukasi (karena kami tidak punya TV) atau memasak dan membuat  sesuatu ketika mereka selesai target harian tepat waktu. Jika dalam satu minggu itu seluruh target bisa dicapai, maka anak-anak dapat memilih jajanan terpilih yang ada di warung (karena biasanya kudapan sangat saya atur) atau pergi bermain di taman kota/ jalan-jalan. Semua tidak mudah, karena shift dari apa yang telah terjadi dalam gaya hidup sebelumnya. Allah. Hanya Allahlah yang memudahkan semuanya.

3. Mendoakan Anak

Rasulullah mengingatkan kita dalam HR Muslim untuk mendoakan kebaikan, bukan kejelekan, kepada anak-anak kita. Namun, mampukah kita (saya) melakukannya di saat marah? Ah ya… ini juga PR terbesar saya pribadi.

Bukankah apa yang kita ucapkan dapat dikabulkan oleh Allah sesuai kehendakNya.? Takutkah kita (saya) ketika kata-kata yang buruk yang pernah diucapkan itu dikabulkan? Ah, semoga kita mampu menahan lisan ini untuk hanya mendoakan hal-hal yang baik untuk anak-anak kita.

4. Mengapresiasi Pertanyaan Anak-Anak

Allah berfirman dalam surat Abasa 1-10 dimana Allah menegur Rasulullah yang berpaling dari Ibnu Ummi Maktum yang ingin belajar saat Rasulullah berada bersama dengan tokoh-tokoh Quraisy. Karena merasa terganggu, Rasulullah memalingkan mukanya dari Ibnu Ummi Maktum.

Bayangkan,  seorang Ibnu Ummi Maktum datang meminta ilmu dan ditolak oleh Rasulullah.

Bayangkan, anak-anak datang ketika kita melakukan sesuatu.

Yes, it sounds familiar. Keingintahuan anak-anak adalah perbuatan baik yang akan mengantarkan pada kecerdasannya. Setiap kesabaran akan menambahkan ilmu, baik bagi anak-anak maupun kita sendiri. Sekali lagi ini tidak mudah. Tapi bukankah menanam bibit membutuhkan waktu hingga kita bisa memetik buahnya?

5. Mencarikan Teman yang Baik

Rasulullah bersabda, “Jika tidak karena hijrah, niscaya aku akan menjadi salah seorang Anshor.” (Muttafaqun Alaih).

Inilah yang menjadi dasar keputusan kami mengambil jalur HS. Bagaimana sosialisasinya? Kita bisa melakukannya dengan mengunjungi rumah teman-teman Muslim atau mencari komunitas yang berisi orang tua yang berjalan di atas ajaran Islam yang haq. Berusaha mencari percikan minyak wangi insyaAllah akan menjaga mereka menjalani masa mudanya, yang nanti akan Allah tanya untuk apa ia habiskan.

6. Memberi Nasihat yang Baik

Apa yang akan kita katakan ketika ada pemuda yang sangat kita kenal, saudara misalnya, datang dan berkata kalau ia ingin berzinah. Itulah yang terjadi dengan Rasulullah. Pertanyaan yang ‘nggak sopan’ dari pemuda itu (yang membuat sahabat di sekitar Nabi menjadi marah) malah berbuah nasihat dan analogi. Begitu pula dengan seorang sahabat yang datang meminta nasihat. Dikatakan kepadanya, “Jangan kamu marah.”

Sungguh wasiat akan dapat membuka jalan kebaikan, terutama kepada penerus masa depan dan pembela agama ini. Setiap kemarahan hanya akan menumbuhkan amarah. Setiap wasiat akan mendatangkan kebajikan.

Betapa indah sifat rahmat Allah ini jika dapat tertanam dalam hati anak-anak kita. Dengan mengenalnya, insya Allah akan ada pengaruh besar pada diri anak-anak tercinta untuk menggapai rahmat-Nya yang sesungguhnya. Allah ta’ala berfirman dalam QS. Al-A’raaf: 56 bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.

Bukankah melihat anak berbuat ihsan atau baik, kepada sesama, dan terutama kepada Rabbnya adalah hal yang kita inginkan? Bismillah. Semoga Allah memudahkan kita melakukannya. SEMANGKAA! SEMANGat Karena Alla Azza wa Jalla. ^_^


Catatan ini adalah murajaah dan refleksi dari seorang Ibu penyelenggara Pendidikan Berbasis Keluarga (PBK/ Homeschooling) yang sebagian besar isinya mengambil dari kajian kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan karangan Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi – tepatnya pada Bab Tambahan 3. Jadi, insyaAllah, isi kitab tersebut tidak dipelajari sendiri secara otodidak, melainkan melalui ahli ilmu, sebagaimana seharusnya ilmu diin itu dipelajari.

 

Iklan