6. Hijrah secara bahasa adalah meninggalkan sesuatu. (Hal.143)
Hijrah secara syariat perpindahan dari negeri syirik ke negeri Islam. Hakikat dari hijrah dalam Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Hijrah ini sangat agung. Sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan percontohan untuk niat adalah ibadah hijrah sebagaimana hadits dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Ketika menikah, kita meniatkan diri untuk ibadah dalam setiap kegiatan, sekalipun itu membersihkan rumah. Itu adalah jihad. Surat Al-Baqarah Ayat 218 إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Bagaimana mendapatkan pahala setara jihad? Dengan istiqamah ibadah di tengah fitnah. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda
عن مَعْقِل بن يَسَار – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: العبادة في الهَرْج كهجرة إليَّ
Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah dalam zaman harju seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Beramal dalam masa harju seperti hijrah kepadaku.” (HR Ahmad dan Thabrani)
Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Ibadah di zaman fitnah seperi hijrah kepadaku.” (HR Ahmad dan Thabrani)
7. Kewajiban hijrah tetap ada dan tidak terhapus. (Hal 140)
“Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan tetap diterima hingga matahari terbit dari barat. Jika ia telah terbit (dari barat), maka dikuncilah setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya dan dicukupkan bagi manusia amal yang telah dilakukannya.”[Musnad Imam Ahmad (III/133-134, no. 1671) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.” Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah sanad yang jayyid lagi kuat.” An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/170). Al-Haitsami berkata, “Perawi Ahmad tsiqat.” Majma’uz Zawaa-id (V/251).]
Tidak boleh menetap di negeri kafir di mana dia tidak mampu menampakkan dan menjalankan agamanya, termasuk shalat ied. Teramat banyak sekali penyimpangan dan kerusakan tinggal di negeri kafir. Saking bahayanya tinggal di sana sampai Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan :
“Aku berlepas diri dari setiap orang Islam yang tinggal di negeri kafir.” (HR Abu Dawud : 2645 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).
Boleh tinggal di negeri kafir jika muslim boleh mengerjakan ibadah termasuk shalat ied, jumatan, bahkan berdakwah. Jika tidak, wajib baik dosa untuk hijrah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum bepergian ke negeri kafir? Hukum asalnya haram, kecuali memenuhi 3 syarat:
Memiliki ilmu yang bisa menendang syubhat/ keraguan
Memeluk agama yang baik yang bisa melindungi dari dorongan syahwat
Sangat dibutuhkan untuk pergi, misalnya di negerinya sangat sulit mencari pekerjaan, maka boleh selama kurun waktu tertentu. Jika sudah tercapai, maka harus segera kembali. Jadi misal, di negeri kita masih bisa bekerja atau kuliah, maka tidak perlu berangkat ke negeri kafir.
(Hal 144) Hijrah merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tidak mampu menegakkan syiar-syiar Islam di negara di mana dia menetap, dengan landasan firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu.’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa: 97-99)
Di sini pengecualian lelaki lemah, wanita, dan anak- anak. Tidak boleh mendzalimi 2 orang lemah: anak yatim dan wanita, yang dimaksud di sini istri.
Artinya: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini turun untuk Hubaib bin Dhomroh Al laitsi yang merupakan orang yang tua renta, dia ikut hijrah ke Madinah namun di tengah jalan dia wafat dengan mulia. Maka Allah menurunkan ayat ini.
Dari Ibnu Abbas ia berkata: Dhamrah bin Jundub pergi dari rumahnya untuk berhijrah dan ia berkata kepada kaumnya: bawalah aku dan keluarkanlah aku dari negeri syirik ini menuju Rasulullah, namun ia meninggal diperjalanan sebelum ia sampai kepada Rasulullah; maka turunlah ayat ini.
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)
Bagi ibu yang ada di ruang anak, contohkan adab yang baik. Jika memungkinkan mencatat. Jika tidak bisa, dengarkan. Jangan ngobrol dan jangan main hape. Anak-anak merekam apa yang dilihatnya. Ingatkan terus mereka mengenai adab di masjid.
Adab makan dengan mempraktikkan dan mengingatkan.
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai anakku, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Selanjutnya seperti itu cara makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya setan akan ikut menyantap makanan yang tidak diawali dengan membaca bismillah sebelum makan. Setan datang dengan memanfaatkan anak kecil ini agar bisa ikut menyantap makanan. Lalu aku pun memegang tangannya. Kemudian setan datang lagi dengan memanfaatkan orang badui itu agar bisa ikut menyantap makanan, lalu aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan itu sedang saya pegang bersamaan saya memegang tangan kedua orang ini. (HR. Ahmad 23249 dan Muslim 2017)
“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan, “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa razaqaniihi min ghairi haulim minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberikan rezeki kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Abu Daud no. 4023, hasan).
Jangan mencela (menghina) makanan. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)
Jika makan bertema, dilarang memakan/ mengambil 2 anggur/ kurma/ biji-bijian/ makanan yang kecil. Haditsnya mutafaqun alaih saat wabah thaun, sahabat mendapat kurma Ibnu Umar “Jangan menggandengkan 2 kurma (ambil 2), kecuali minta izin.
Makan dari pinggir. Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Keberkahan tersebut akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir-pinggirnya dan jangan dari tengahnya!” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (IV/260)
Makanlah berjamaah, saling berbagi makanan yang dibawa. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 535) berkata, “Kecukupan itu datang karena keberkahan dari makan secara berjama’ah. Cara jama’ah ini membuat yang menikmati makanan itu banyak sehingga bertambah pula keberkahan.” Ibnu Baththol berkata, “Makan secara bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah ketika makan.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 18: 121). لَّيْسَ عَلَى ٱلْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَن تَأْكُلُوا۟ مِنۢ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَٰنِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَٰمِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَٰلِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا۟ جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.
Bicara saat makan. Ibnul Muflih menyebutkan keteragan Ishaq bin Ibrahim,
تعشيت مرة أنا وأبو عبد الله وقرابة له فجعلنا لا نتكلم وهو يأكل ويقول الحمد لله وبسم الله، ثم قال أكل وحمد خير من أكل وصمت ولم أجد عن أحمد خلاف هذه الرواية صريحا ولم أجدها في كلام أكثر الأصحاب، والظاهر أن أحمد – رحمه الله – اتبع الأثر في ذلك فإن من طريقته وعادته تحري الاتباع
“Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan,
“Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/177).
Masuk rumah ucapkan bismillah dan salam, kaki kanan terlebih dulu. Keluar kaki kiri dulu dan ucapkan doa بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Dengan doa ini insyaallah kita dijaga dan dilindungi. Ada doa lain juga yang menyempurnakan doa keluar rumah sebagaimana dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,
ALLAHUMMA INNI A-’UDZU BIKA AN ADHILLA AW UDHALLA AW AZILLA AW UZALLA AW AZLIMA AW UZLAMA AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari aku tersesat, atau aku menyesatkan, atau aku tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku menzalimi, atau aku dizalimi, atau kebodohanku atau dibodohi.’” (HR. Abu Dawud no. 5094, Nasai no. 5486, Ibnu Majah no. 3884. Dinilai hasan oleh Ibnu Hajar.)
2. MENYAMPAIKAN ILMU YANG BERMANFAAT
Mengajarkan kepada anggota kelurahan perbuatan baik, tata cara ibadah, hal lain yang diwajibkan serta sesuai sunnah dan keutamaan/ pahalanya. Saling menasehati dan mengingatkan.
3. BERUPAYA MENGAJARKAN ANAK-ANAK
Ajarkan mereka perbuatan dan perkataan. Ini adalah metode qudwah, teladan, atau contoh. Jangan malas dalam menjadi teladan dan mengingatkan. Buat lingkungan yang kaya praktik. Misalnya ketika hujan turun, berdoa, buka kaca, dan tadah hujannya dengan tangan. Orang tua harus kerja keras melawan medsos dengan berharap pahala dari ujian yang berat ini
Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu: Kami datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu kami adalah para pemuda yang berusia sebaya. Kami tinggal di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 20 hari 20 malam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat penyayang dan lemah lembut. Tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengira bahwa kami sangat mendambakan keluarga kami atau kami sangat merindukan (keluarga), beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan.
Kami pun mengabarkannya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggalah kalian bersama mereka, dan ajarkanlah mereka serta perintahlah mereka (untuk salat).” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu yang aku pernah mengingatnya, namun aku lupa. ‘Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat. Apabila telah datang waktu salat, kumandangkanlah azan dan pilihlah salah seorang imam dari orang yang lebih tua di antara kalian.’ (HR. Bukhari no. 631 dan Muslim no. 674)
Jangan lupa menumbuhkan dan merawat sifat penyayang dan lemah lembut sebagai pendidik sebagaimana Q.S. Al Kahfi ayat 65 فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
Arab-Latin: Fa wajadā ‘abdam min ‘ibādinā ātaināhu raḥmatam min ‘indinā wa ‘allamnāhu mil ladunnā ‘ilmā
Artinya: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Dalam Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H disebutkan:
Ketika mereka telah sampai di sana “maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami,” yaitu Khidhir. Ia adalah seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, “yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami,” maksudnya berasal dari sisi Kami “ilmu” Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan kepada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul ‘azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya.
Maka..
JADIKAN RAHMAT/ KASIH SAYANG SEBELUM ILMU
Ketika Ibnu Umar menceraikan istrinya saat haid, maka Rasûlullâh Shallallahu alaihi wasallam marah dan menyuruh Umar untuk membuat anaknya rujuk.
Imam Baihaqi berkata “BAB KEWAJIBAN SEORANG AYAH DAN IBU MENGAJARKAN DAN MEMERINTAHKAN ANAK MEREKA MENGERJAKAN SHALAT”
Bagi anak, yang menjadi madrasah pertama adalah ibunya.
Di sini yang diambil lafaznya perintahkan umur 7 tahun, maka dari 3 tahun sudah bisa diajarkan dengan cara yang sesuai usianya. Ada tambahkan riwayat, pisahkan tempat tidurnya dari usia 10 tahun.
4. HIDUPKAN RUMAH DENGAN BACAAN AL QURAN
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai Id, bershalawatlah kepadaku karena shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun engkau berada”
Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2042), Imam Ahmad dalam Musnad-nya (8605), Ath Thabrani dalam Al Ausath (8/81), dan yang lainnya.
Abu Hurairah membuat jadwal siapa saja yang baca Quran sehingga 24 jam, terutama surat Al Baqarah dan Ali Imron. Kedua surat ini akan menjadi pengacara/ pembela di akhirat. Usahakan tiap hari.
Ada laki-laki meludah menghadap kiblat, itu seperti meludahi diri sendiri. Imam Ahmad pernah melihat qahza (potongan kayu kecil) di masjid, maka beliau ambil potongan tersebut. Ini menjadi contoh juga bagi anak didik yang. Imam Bukhari pernah melihat pisang lain membuang benda yang kecil di masjid. Beliau tunggu semua orang keluar dari masjid, lalu mengambil kotoran tersebut. Dianjurkan mengharumkan ruangannya, membersihkan lantai dan karpetnya.
5. Menjaga perabot milik wakaf.
Mushaf ditempatkan di rak/ laci agar tidak rusak.
6. Tidak mengeraskan suara, baik membaca Quran maupun berbincang.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan semacam ini. Hal ini sebagaimana hadits yang diceritakan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para sahabat) mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) mereka. Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang berdialog dengan Rabb kalian. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca Al-Qur’an” atau beliau mengatakan, “atau dalam shalatnya.”” (HR. Abu Dawud no. 1332, shahih)
Dari As Saa’ib bin Yazid ia berkata, “Aku pernah berdiri di masjid, lalu ada yang melempar batu kerikil kepadaku, maka aku melihat, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab ia berkata, “Pergilah, ambillah kedua batu ini.” Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua batu itu. Ia (Umar) bertanya, “Siapa kamu berdua?” atau “Dari mana kamu berdua?” Keduanya menjawab, “Dari penduduk Tha’if.” Ia berkata, “Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu kamu berdua aku sakiti; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)
Ketika masuk masjid, dahulukan kaki kanan, dan berdoa dengan salah satunya:
“BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah kepadaku pintu rahmat-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
“BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWABAA FADHLIK(artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Doa keluar dan masuk masjid ini tidak terikat satu sama lain. Jika lupa salah satu, tetap dapat pahala.
7. Memasuki masjid dengan tenang, melakukan shalat sunnah tahiyatul ma sjid. Jaga kebersihan badan. Bagi laki-laki, gunakan minyak wangi.
3 LANDASAN UTAMA
Hal.141
2. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kerap mendatangi perkemahan tempat berbagai kafilah untuk berbincang dalam rangka berdakwah. Kaum Anshar adalah yang menerima. Itulah hidayah. Surat Ibrahim Ayat 4 وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
3. Dari hasil dakwah tersebut, pada musim haji berikutnya, datang jumlah yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Kaum Anshar membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
4. Setelah peristiwa baiat menyebar, kafir Quraisy kuatir bila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertemu dengan sahabat di Madinah dan menjadi kuat. Mereka berdiskusi dan akhirnya memutuskan satu orang dari semua kafilahuntuk membunuh beliau. Surat Al-Anfal Ayat 30 وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
Tapi nabi sudah tau dari malaikat Jibril. Nabi keluar tanpa disadari menuju rumah Abu Bakar dan menginformasikan bahwa perintah hijrah sudah ada. Beliau mengajak Abu Bakar hijrah dan Abu Bakar mau meski berbahaya. Abu Bakar menangis.
Syaikh Bin Baz, Syaikh Nashirudin al Alban, Syaikh Muhammad al Utsaimin.”
Imam Nawawi dalam Ibn Kathir, “Siapa Mujaddid?” Beliau menjawab, “Mujaddid adalah yang bisa menjelaskan sunnah dan bidah, memperbanyak ilmu untuk umat, membela ahli ilmu dan menghancurkan ahli bid’ah.
Syaikh Binbaz pernah ditanya, “Siapa Mujadid abad ini?” dan dijawab “Albani, dalam sangkaan saya.”
MASA KECIL AL-ALBANI
Beliau lahir tahun 1914 M, di sebuah kota namanya Shkodër, Ibu kota Albanian (beliau meninggal 85 tahun di Yordania). Beliau fakir miskin. Ayah beliau Nuh Bin Adam adalah mufti di masyarakat dalam mazhab hanafi. Beliau hijrah ke Damaskus karena pemimpin Albania saat itu (Ahmad Mukhtar Zogoli atau Zog I atau Zogu) sekuler. Ia meniru langkah Kemal Ataturk dalam me-westernisasi Turki dan menyingkirkan Kerajaan Ottoman pada tahun 1343 H/1924 M.
Damaskus/ Suriah dipilih karena termasuk negeri Syam (negeri yang diberkahi) karena lingkungan tempat lahirnya tidak kondusif untuk belajar agama dan mengajarkan keluarganya. Saat itu Albani berusia 9 tahun dan tidak bisa berbahasa Arab. Tapi dengan semangat dan didikan ayahnya, beliau bisa menguasai. Beliau lulus SD dengan cemerlang, meski paling besar dan tidak bisa bahasa Arab. Gurunya bahkan memintanya meng-i’rab dengan giliran terakhir karena dia orang Ajm.
BERHENTI SEKOLAH, MEMILIH ‘HOMESCHOOLING’ – BELAJAR BERSAMA AYAH LALU GURU-GURU
Ayah Albani kecil melihat kurangnya sekolah formal memberikan pelajaran agama, maka ayahnya mengeluarkan anaknya lalu mengajarkannya dengan kurikulum sendiri (sekarang disebut homeschooling). Ia diajarkan tajwid, nahwu shorof, Quran dengan riwayat hafsh an ashim (? sama seperti kita).
Guru pertama beliau adalah ayahnya, seorang mufti. Selain belajar dengan sang ayah, al-Albani juga belajar dari banyak guru dan ulama yang merupakan kolega ayahnya. Seperti: mengkaji kitab fikih Hanafi, Muraqi al-Falah Syarh Nur al-Idhah bersama Syaikh Muhammad Said al-Burhani. Mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab, terutama bersama Syaikh Izuddin at-Tanukhi.
Guru lain beliau adalah Syaikh Sa’id Al Burhani rahimahullah dalam mempelajari ilmu fikih madzhab Hanafi dan kitab Syudzurudz Dzahab dalam ilmu nahwu, dan beberapa kitab ilmu balaghah.
Ketika Syaikh Muhammad Raghib At Thabbakh rahimahullah mendengar kegigihan Syaikh Al Albani dalam mendakwahkan Al Qur’an dan As Sunnah, dan kegigihan beliau dalam ilmu hadits, beliau pun sangat ingin bertemu dengan Syaikh Al Albani untuk memberikan ijazah periwayatan hadits. Syaikh Muhammad Raghib pun memberikian kitab tsabt beliau yang berjudul Al Anwar Al Jaliyah fii Mukhtashar Al Atsbat Al Halabiyah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Raghib merupakan guru Syaikh Al Albani secara ijazah.
MENGGELUTI LIFESKILLS
Untuk lifeskills, beliau belajar bertukang dari pamannya. Ia belajar. Ia bekerja dengan pamannya selama 2 tahun. Lalu ia bekerja kepada seorang warga Suriah yang dikenal dengan Abu Muhammad. Pekerjaan ini ia geluti juga selama dua tahun. Kemudian karena dirasa melelahkan, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, al-Albani pun meninggalkan pekerjaan ini.
Di musim panas, tukang kayu tidak mendapat pekerjaan. Pada waktu itu, al-Albani lewat di depan toko ayahnya. Sang ayah sedang mereparasi jam. Ayahnya menyarakannya agar ia memanfaatkan waktu dengan mereparasi jam. Ia pun menerima saran sang ayah. Profesi baru itu ia jalani dengan sungguh-sungguh, hingga ia terkenal sebagai tukang reparasi jam yang handal. Ia hanya bekerja 2 jam dan setelah itu belajar lagi.
Profesi baru ini tidak memakan banyak tenaga dan waktu. Sehingga waktu-waktunya bisa ia sibukkan dengan belajar agama (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 48).
Awal mula jatuh cinta dengan ilmu hadits.
Pada usia hampir 20 tahun, al-Albani izin ke masjid Rumawi untuk hadir muhadhoroh. Ketika keluar dari masjid, beliau melihat-lihat buku-buku yang berjejer. Kemudian, ia memegang sebuah majalah al Manaar yang Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah. Kebetulan matanya tertarik dengan bantahan Syaikh Rasyid Ridha untuk buku Ihya Ulumuddin. Di majalah itu disebutkan dalam buku itu ada tahqiq Al Ihraqi. Kemudian, beliau makin penasaran dengan tahqiqnya dan mencari tahqiq. Beliau ‘thowaf’ di perpustakaan dan menemukan 4 jilid. Beliau yang faqir (dan tidak bisa membeli) akhirnya menyewa dari perpustakaan dan mulai MENCATAT ULANG isi kitabnya.
Di jilid 1 beliau tidak menulis komentar berilmu dan mulai menulis di jilid 2. Menyesal, beliau m senulis ulang lagi dari jilid 1. Setelah selesai 4 jilid, baru dikembalikan.
Ilmu hadits pun menjadi kesibukan utama dari Syaikh Al Albani sampai terkadang beliau menutup lapaknya karena pergi ke perpustakaan Azh Zhahiriyyah dan berada di sana selama 12 jam. Selama 12 jam itu beliau tidak bosan menelaah, memberi catatan, men-tahqiq, kecuali di waktu-waktu shalat. Sampai-sampai pengurus perpustakaan memberikan ruangan khusus bagi beliau untuk menelaah kitab-kitab dan melakukan penelitian-penelitian ilmiah, karena mereka melihat betapa gigihnya beliau dalam menelaah dan meneliti.
Bahkan, akhirnya beliau diberi kunci karena beliau masih ada di situ meski pustakawan sudah pulang.
Keluar dari rumah
Berbeda dengan ayahnya, Syaikh al-Albani tidak mau shalat di masjid yang ada kuburan. Kitab pertama yang beliau tulis adalah tentang ini. Puncaknya adalah beliau berpendapat tidak ada shalat jamaah kedua. Rata-rata jamaah ada 2x di Damaskus sesuatu peraturan pemerintah. Suatu saat imam masjid (Syaikh Said al Burhani) udzur, tidak bisa mengimami. Beliau minta tolong ayah Syaikh al-Albani. Sang ayah ada udzur, sehingga minta tolong Syaikh al-Albani dan ia menolak. “Ayah kan tahu prinsip saya.” Ayahnya bilang, “Kamu setuju atau kita pisah rumah” Albani pun meminta 3 hari, menelaah apakah ini kedurhakaan. Akhirnya setelah paham bahwa ini adalah soal syariat dan keluar dari rumah. Ayahnya memberi modal 3 riyal. Dengan kemampuannya, Syaikh al-Albani sukses, bisa beli tanah dan toko. Beliau tetap menjaga silaturahmi, meski sang ayah tidak menghadiri pernikahannya.
Ulama yang berseberangan
Syaikh Siddiq al Ghomari berseberangan dengan Syaikh Albani, tapi beliau objektif karena “Albani datang ke Damaskus dalam kondisi tidak mengerti bahasa Arab, kemudian dia memahami Bahasa Arab dengan sangat mutqin.”
Syaikh Yusuf al Qardhawi juga berseberangan, tapi beliau objektif dengan berkata “Saya mengakui beliau luas muthalaahnya, ilmu haditsnya seluas laut samudera”
Beliau aktif mendakwahkan untuk shalat bersama tanpa melihat/ fanatik madzhab yang banyak ditentang ulama saat itu. Ulama-ulama sufi banyak mengajak masyarakat untuk memusuhi beliau.
Kisah kertas yang hilang
Saat Syaikh Albani diuji dengan kondisi mata yang membuat dokter menyuruh untuk stop reparasi dan membaca hingga sembuh. Kemudian ia meminta orang untuk menyalin sebuah buku dan qadarullah berhenti karena ada lembaran yang hilang. Beliau menyuruh lanjut salin dan ia mencari kertas itu di perpustakaan. Beliau membuka satu persatu buku dan menulis apa yang beliau temukan sampai terkumpul 40 jilid.
Murid- Murid beliau
Murid-murid Syaikh Al Albani sangatlah banyak, yang paling menonjol diantaranya:
Asy Syaikh Hamdi Abdul Majid As Salafy
Asy Syaikh Ali Khasyan
Asy Syaikh Muhammad ‘Id Al Abbasy
Asy Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah
Asy Syaikh Nabil Al Kayyal
Asy Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi Al Atsary
Asy Syaikh Salim bin Id Al Hilaly
Asy Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Asy Syaikh Husain Al ‘Awaisyah
Asy Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr
Asy Syaikh Abul Yasar Ahmad Khasyab
Asy Syaikh Muhammad Jamil Zainu
Asy Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini
Asy Syaikh Ahmad Abul ‘Ainain
Dan murid-murid beliau yang lain yang tersebar di berbagai penjuru negeri.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Referensi)
Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan“. [HR Bukhari no: 6024, Muslim no: 2165].
a. Ajarkan secara bertahap.
Karena semua ada tahapan nya.
b. Ajarkan baca Alquran
Dalam Shahih al-Bukhari, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻪُ » [ أخرجه البخاري ]
“Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an.”[HR. Al-Bukhari 4739, at-Tirmidzi 2908, Abu Daud 1452, Ibnu Majah 211, Ahmad 1/69, dan ad-Darimi 3338]
c. Ajarkan tauhid
Mengingatkan tauhid dan mengingatkan tentang syirik
d. Ajarkan wudhu
5. Tidak mengganggu mereka
a. Tidak berbuat atau berkata jahat
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian berbuat ghibah kepada kaum muslimin dan janganlah mencari-cari aurat (aib) mereka! Karena siapa saja yang suka mencari-cari aib kaum muslimin, maka Allah pun akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, hasan shahih)
Beliau juga bersabda,
ِالمُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ، لا يَظْلِمُهُ ولا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ
“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Muslim, no. 2564).
“Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar terhadap kejahatan mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap kejahatan mereka.”(HR. At-Tirmidzi no. 2507; Ibnu Majah no. 4032)
Ketika Nabi berdakwah, pamannya menyebut gila, tapi nabi tidak menjawab. Nabi terus berdoa, hingga Allah jadikan anak cucu Abu LAhab masuk Islam.
Di antara cercaan Abu Jahal dan kebodohannya bahwa tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut pohon Zaqqum, Abu Jahal berdiri seraya berkata, “Wahai kaum Quraisy, tahukah kalian apakah pohon Zaqqum yang dijadikan oleh Muhammad sebagai gertakan kepada kalian?”
Mereka menjawab: “Tidak.”
Abu Jahal berkata, “Kurma kering Madinah dengan mentega, demi Allah seandainya memungkinkan, niscaya kami akan melahapnya dengan cepat –menelannya begitu saja-.” Kemudian, dia mendatangkan mentega dan kurma seraya berkata kepada teman-temannya: “Lahaplah dengan cepat!” Sebagai cemoohan dan ejekan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:
“Sesungguhnya pohon Zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas.” (QS. Ad-Dukhan: 43-46)
Pohon yang jelek ini –Zaqqum- tumbuh besar di dasar Neraka, ia makanan Abu Jahal dan setiap orang yang berdosa serta musyrik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menamakannya pohon terlaknat. Apabila datang penghuni Neraka memakannya, lantas mendidih perut mereka sebagaimana air yang mendidih.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa kesudahannya adalah tengah-tengah Neraka, makanannya Zaqqum dan minumannya nanah (al-Muhl). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjawab dengan metode pencibiran, penghinaan dan ejekan.
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:
“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49)
Ini merupakan puncak dalam penghinaan dan pelecehan kepada Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman padanya, “Sesungguhnya engkaulah yang hina dina.”
7. Membalas keburukan dengan kebaikan
Dalam tauhid ada nusyroh: membalas sihir dengan sihir
Surat Fussilat Ayat 34 وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Imam Ath-Thabari pernah berkata, “Di antara contoh perbuatan baik adalah bersilaturahmi kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan kita, memberi kepada orang yang tak mau memberi, dan memaafkan orang yang telah menzalimi kita.”
Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah.
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ( الشورى: ٤٠ ) Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (QS. [42] Asy-Syura : 40)
Hasan Basri menampung air seni yang menetes dari tetangganya yang nasrani selama 20 tahun. Lalu ketika tetangganya menjenguk Hasan Basri yang sakit, ia bertanya air apa ini? Setelah tahu kebenarannya, ia pun memutuskan salibnya dan masuk Islam.
ADAB TERHADAP GURU
1. Sebelum memilih guru, istikharah
Berdoa dan istikharah: jika guru ini tidak baik untuk hamba, palingkan dari majelisnya. Guru itu tidak hanya diambil ilmu, tapi juga adab dan akhlaknya. Belajar dari yang mumpuni keahliannya, pendidikan, siapa gurunya, jelas keilmuannya, nampak kharisma/ kehormatannya, telah formal hafalannya. sahabat mengobservasi dulu selama 2 bulan. Lihat shalatnya. Note: also when you choose your future son in-law. ^^
BUKU 2: 3 LANDASAN UTAMA
Akan berbicara pada tahun-tahunmu itu ruwaibidah.
Nabi dikenal sebagai orang yang amanah. Rumah Nabi dan Khadijah itu penuh barang orang Quraisy yang dititipkan ke Rasul. Saat kabah sedikit berhalanya, Nabi suka shalat 2 rakaat. Setelah berhala semakin banyak, Nabi resah dan menyepi ke gua hiro. Lalu turunlah ayat: IQRO
IQRO. Kita ini umat baca. Aneh kalau umat baca tapi ga suka baca, terutama Alquran.
Wanita perlu tauladan, terutama kita yang hidup di akhir zaman. عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
“Dari al Miqdad bin al Aswad Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya”.
Wanita yang istimewa adalah sahabiyah yang semua kebaikan terkumpul kada mereka. Cukup mereka yang menjadi khudwah, role-model, teladan. Tidakkah kita ingin dikumpulkan dengan mereka di surga?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (H.R. Bukari)
Aisyah binti Abu Bakar
Jadikan Aisyah menjadi teladan. Ibunda kita, anak dari Ummu Rumman ini, tidak ingin menjadi fitnah kaum laki-laki.
“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)
Wanita yang dinikahinya Musa adalah yang pertama ditemui, yang menampakkan rasa malu.
Aratib-Latin: Fa jā`at-hu iḥdāhumā tamsyī ‘alastiḥyā`ing qālat o nginqaitaa abī yad’ụka liyajziyaka ajra mā saqaita lanā, fa lammā jā`ahụ wa qaṣṣa ‘alaihil-qaṣaṣa qāla lā takhaf, najauta mnbaohaqiinal-qaumiẓ-ẓālimīn
Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.
Imam Baihaqi: pembantu Aisyah bercerita kepada Aisyah tentang ia mencium Hajar aswad beberapa kali. Aisyah menghardik dan bertanya kenapa kau bercampur baur padahal itu adalah sunnah?
Ibunda Aisyah mendidik kita dengan rasa malu. Maka kita harus jaga fitrah rasa malu dan jaga hijab syari.
Durrah binti Abi Lahab
Ia tidak terpengaruh oleh lingkungan yang rusak. Ia adalah ammah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Abu Lahab membuntuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berdakwah, ia terus mengatakan ia gilaaa. Tapi Nabi tidak membalas.
Ummu Jamil gemar mencela Nabi, “Hai anak pemungut kayu.” Saat Ummu Jamil melihat Nabi bicara dengan Abu Bakar, ia mengatakan mencela Nabi yang ditutupi malaikat.
Durrah tidak terpengaruh dengan orang tuanya. Ini teladan bagi kita yang merasa tidak bisa melaksanakan kebenaran karena lingkungan.
Dari Abu Hurairah dan Ammar bin Yasir semoga Allah meridhai keduanya, keduanya berkata, “Saat Durrah binti Abu Lahan tiba di Maidnah, ia tinggal di rumah Rafi’ bin al-Ma’la az-Zarqa. Para wanita dari Bani Zarqa ini berkata, ‘Kamu putrinya Abu Lahab yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentanganya,
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Quran Al-Masad: 1-2].
Tidak bermanfaat hijrahmu ini’. Ketus mereka.
Durrah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ia mengadukan pada beliau tentang apa yang mereka katakana. Nabi berkata, “Duduklah.” Kemudian beliau mengimami orang-orang mengerjakan shalat zuhur.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membelanya di hadapan kaum muslimin. Meninggikan kedudukannya dari orang yang berbuat buruk padanya. Membuatnya tenang dari hal-hal yang menggelisahkannya. Semoga Allah meridhainya dan meridhai semua ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Khalayak sekalian. Mengapa aku disakiti dengan diganggunya keluargaku? Demi Allah, sesungguhnya syafaatku akan sampai pada kerabatku…” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir 20681).
Kenapa Inilah salah seorang sepupu, ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau dan kepada semua anggota keluarganya.
Durrah menikah dengan Dihyah al Kalbi, pria tertampan di Madinah.
Nasibah binti Kaab (Nusaibah/ Ummu Umarah)
Diriwayatkan dari Tirmidzi dari Ummu ‘Umarah Al anshariyah bahwa beliau mendatangi Nabi dan mengatakan: Aku tidak melihat sesuatu kecuali itu diperuntukkan untuk para laki-laki, dan aku tidak melihat para perempuan disebut sedikitpun. Sehingga turunlah ayat : Sesungguhnya para muslim laki-laki maupun perempuan (QS Al Ahzab 35)
Artinya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Tafsir Al Wajiz:Sesungguhnya para pembangkang hukum dan perintah Allah, entah dari golongan laki-laki maupun perempuan. Beserta orang-orang yang meyakini rukun iman, baik beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat. Beserta orang-orang yang senantiasa melakukan ketaatan, jujur dalam perkataan dan perbuatan, sabar dalam ketaatan dan meninggalkan maksiat, merendahkan diri di hadapan Allah baik hati maupun anggota badan. Senantiasa bersedekah baik sedekah wajib maupun sunnah. Berpuasa wajib baik puasa Ramadan, puasa nadhar, kafarat atas sumpah, pembunuhan maupun dosa. Menjaga kemaluan dari yang diharamkan. Senantiasa mengingat asma Allah baik dengan hati maupun lisan, sirri maupun tampak. Dengan keutamaan Alquran, Allah telah menyediakan curahan ampunan atas dosa-dosa mereka, juga pahala yang besar atas ketaatan mereka, yaitu kenikmatan akhirat. Qanit adalah hamba yang senantiasa taat. Khasyi’ adalah yang senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah karena takut dengan-Nya.
Jadilah wanita-wanita yang sedikit, seperti sahabiyah yang sudah disebutkan.
Bagaimana peran perempuan dalm perang? Untuk memberi minum dan mengobati.
Tapi ada masa saat panggilan jihad diserukan menuju Uhud, Nusaibah bersama suaminya, Ghaziyah bin Amr, dan dua orang putranya keluar di awal siang. Mereka berangkat untuk merawat para pejuang yang terluka di hari itu. Di sana Nusaibah juga turut berperang. Ia juga terluka dengan dua belas luka. Terkena hantaman panah dan sabetan pedang.
Ummu Said bin Saad bin Rabi’ berkata, “Aku menemui Nusaibah. Kukatakan padanya, ‘Tolong ceritakan kondisimu di Perang Uhud’. Ia bercerita, ‘Di pagi hari, aku keluar menuju Uhud. Aku melihat apa yang diperbuat oleh pasukan. Saat itu, aku membawa wadah yang berisi air minum. Hingga aku berjumpa dengan Rasulullah yang berada di tengah para sahabat. Kondisi saat itu berpihak pada kaum muslimin.
Tatkala kaum muslimin dipukul mundur, aku masuk ke pertempuran dan bersegera menuju Rasulullah. Aku menjadi rela terkena sabetan pedang, hujaman anak panah dan tombak demi melindungi Rasulullah. Aku pun banyak terluka’.
Ummu Said mengatakan, ‘Kulihat ada cekungan bekas luka di ketiaknya. Kutanyakan padanya, ‘Ummu Ammarah, siapa yang melukaimu di sini’? Ia jawab, ‘Aqbil bin Qamiah. Ia berkata pada orang-orang, ‘Beri tahu aku dimana posisi Muhammad. Aku tak selamat kalau dia selamat’. Lalu Mush’ab bin Umair menghadapinya. Sementara Aqbil bersama sejumlah pasukan. Lalu Aqbil menyerangku dengan satu hujaman. Inilah lukanya. Lalu aku serang dia dengan beberapa pukulan, namun dia memakai baju besi’.
Dhamrah bin Said al-Mazini bercerita tentang neneknya. Neneknya turut hadir di Perang Uhud bertugas menyediakan minuman untuk pasukan. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kedudukan Nusaibah binti Kaab pada hari ini lebih baik dari Fulan dan Fulan.” Pada hari itu, beliau melihat Nusaibah berperang dengan luar biasa. Ia menderita luka. Ia kencangkan pakaiannya dan iapun mengalami tiga belas luka.
Dhamrah melanjutkan, ‘Sungguh aku lihat Ibnu Qamiah menghatamkan senjatanya di ketiak Nusaibah. Itulah luka terparah yang ia alami. Ia sampai mengobatinya selama satu tahun. Sehari setelah Perang Uhud, ternyata utusan Rasulullah berseru mengajak menghadang musuh di Hamraul Asad. Ia sumbat lukanya itu dengan pakaiannya. Namun upayanya itu tak mampu menghalau darah yang keluar. Berlalulah satu malam dengan kondisi kami menahan sakit luka-luka yang kami alami. Sekembalinya dari Hamraul Asad, Rasulullah tidak memasuki rumahnya hingga sampai beliau mengutus Abdullah bin Kaab al-Mazini menemui Nusaibah. Ia bertanya tentang kondisinya. Nusaibah mengatakan ia dalam kondisi baik-baik saja. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah pun senang’.”
Muhammad bin Umar mengabarkan dari Abdurrahman bin Ammarah dari Ammarh bin Ghaziyah, ia berkata: Ummu Ammarah mengatakan, “Aku teringat saat Rasulullah dalam posisi terbuka. Di sisi beliau hanya ada beberapa orang saja. Tidak lebih dari sepuluh orang. Hanya ada aku, dua orang putraku, suamiku, dan beberapa orang di hadapanku. Sementara musuh-musuh berada di hadapanku.
Saat itu aku ingat, aku tak memiliki perisai. Kulihat seseorang yang tersandar namun ia memiliki perisai. Ada yang mengatakan, ‘Lemparkan perisaimu pada orang yang berperang’. Iapun melemparkan perisainya. Lalu kuambil dan kujadikan perisai untuk melindungi diriku dan Rasulullah. Para penunggang kuda itu hanya berhasil melakukan beberapa hal pada kami, kalau mereka infantri seperti kami, pastilah kami berhasil menghajar mereka insyaallah.
Seorang pasukan berkuda datang lalu menyabetku. Aku tangkis dengan perisai. Ia tak berhasil berbuat apa-apa dengan sabetan pedangnya. Saat ia berbalik, aku berhasil menyabet betis kudanya. Ia pun jatuh terlentang. Lalu Nabi berteriak, ‘Hai putra Ummu Ammarah, ibumu! Ibumu! Anakku membantuku mengatasi musuh tersebut.
Abdullah bin Zaid berkata, “Pada Hari Uhud aku mengalami luka di lengan kiriku. Seseorang melintas begitu cepat namun tak sampai menggulingkanku. Ia lalu pergi. Dan darah pun mengalir tak berhenti. Rasulullah mengatakan, ‘Sumbat lukamu’. Kemudian ibuku menemuiku. Ia membawa penyumbat luka yang memang ia persiapkan untuk merawat pasukan yang terluka. Lalu kuikat lukaku. Dan Rasulullah berdiri memandangiku.
Ibuku berkata, ‘Berdirilah, Nak. Serang mereka’! Nabi mengatakan, ‘Tidak ada yang mampu melakukan seperti yang kau lakukan, Ummu Ammarah’.
Ummu Ammarah berkata, “Seorang yang melukai putraku datang. Rasulullah berkata, ‘Ini dia orang yang melukai putramu’. Lalu aku cegat dia dan kutebas betisnya. Ia pun tersungkur’. Kata Ummu Ammarah, “Kulihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum sampai kulihat gigi grahamnya. Beliau berkata, ‘Lanjutkan Ummu Ammarah!’ Lalu kami serang orang itu. kami bunuh dia dengan senjatanya sendiri. Nabi mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang memberimu kemenangan dan membuatmu bahagia karena telah menuntaskannya. Kulihat kebahagiaan di matamu’.”
Karena kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ringan semua musibah temasuk kematian anak dan suaminya, yang penting Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selamat.
Setelah perng berakhir, keesokan harinya, Rasulullah shallallahu shallallahu wassalam berangkat lagi berperang. Ummu Umarah ingin ikut lagi.
Seperti pada Perang Uhud, beliau berada di garis depan untuk melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan panah dan pedang musuh menggunakan tubuh dan senjatanya sendiri saat perang Hunain.
Seperti pada Perang Uhud, beliau berada di garis depan untuk melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan panah dan pedang musuh menggunakan tubuh dan senjatanya sendiri.
KISAH PARENTING NUSAIBAH
Anak Nusaibah binti Ka’ab yang bernama Hubaib bin Zaid al-Anshari dibunuh secara kejam oleh Musailamah al-Kadzdzab karena menolak mengakuinya sebagai nabi. Rasulullah ﷺ mengutus Hubaib untuk mengantarkan surat dakwah kepada Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah. Musailamah menangkapnya, menginterogasinya, dan memotong anggota tubuh Hubaib satu demi satu setiap kali Hubaib berpura-pura tuli saat ditanya tentang kenabian Musailamah. Hubaib wafat sebagai syuhada yang sangat kokoh imannya.
Mendengar kabar kematian Hubaib yang tragis, Nusaibah bersumpah untuk ikut berperang demi membalas perbuatan Musailamah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Nusaibah bersama anak laki-lakinya yang lain, Abdullah bin Zaid, bergabung dalam pasukan Muslim untuk menyerbu Musailamah di Perang Yamamah. Dalam perang tersebut, Abdullah bin Zaid berhasil menusuk Musailamah menggunakan pedangnya (bersama dengan Wahsyi bin Harb yang melempar tombaknya), hingga nabi palsu tersebut akhirnya tewas.
SIFAT-SIFAT LANGKA WANITA
Ustadz Firanda Andirja
1. Taat kepada suami, masuk surga lewat pintu mana saja.
“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau.” (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)
Jika tidak shalat sunnah, puasa Ramadhan, menjaga kemaluan, tida semarang Berbicara kepada laki-laki/ memandang yang tidak-tidak, ikut shalat 5 waktu saja.
Kenapa ini penting? Karena dalam membina keluarga, perlu seseorang yang ditaati yaitu suami. Bahkan lebih taat suami daripada orang tuanya. Suami perlu memegang kendali agar rumah tangga bisa berjalan dengan baik.
Istri yang tidak menganggap suami sebagai tempat sandaran, tempat curhat, maka ia akan mencari di luar. Orang yang suka jalan ke luar, bukan berarti mereka bahagia. Bisa jadi mereka mencari di luar, karena tidak menemukan di rumah.
2. Mudah memaafkan, membantu suami
Sifat istri shalihah adalah seperti hadits yang diriwayatkan di dalam Kitab Sunan Al-Baihaqi dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
خَيْرُ نِسائِكُمُ الوَدُودُ الوَلودُ ، المُوَاتِيَةُ ، المُوَاسِيَةُ ، إذا اتَّقَيْنَ اللهَ ، و شَرُّ نِسائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِلاتُ ، وهُنَّ المُنافِقَاتُ ، لا يدخلُ الجنةَ مِنْهُنَّ إلَّا مثلُ الغُرَابِ الأَعْصَمِ
“Istri kalian yang paling baik adalah al-wadud, al-walud, al-muwatiyah, al-muwasiyah, jika para istri tersebut bertakwa kepada Allah, dan istri yang paling buruk bagi kalian adalah istri-istri yang berdandan di hadapan laki-laki yang bukan makhramnya, al-mutakhayilat, dan wanita-wanita seperti ini adalah wanita-wanita yang munafik, tidak masuk ke dalam surga dari wanita-wanita seperti ini melainkan seperti burung gagak yang pada paruh dan kakinya berwarna merah (sedikit).” (HR. Al-Baihaqi)
Al-Wadud (الوَدُودُ) Ini merupakan sifat yang mulia dan tabiat yang terpuji pada seorang wanita dan istri yang salihah. Al-Wadud adalah yang disifati dengan penyayang dan memerlihatkan rasa sayangnya itu. Dan orang yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah suaminya.
Al-Walud (الوَلُودُ) Yaitu banyak keturunan. Ini merupakan sifat yang baik pada seorang wanita yang baik.
Jika seorangwanita diuji dengan suatu penyakit (mandul), maka perkara ini tidak memudhorotkannya, karena hal ini tidak hanya terjadi pada dirinya saja. Oleh karena itu janganlah ia menyalahkan Allah karena penyakit ini, dan hal seperti ini tidaklah menafikan kebaikannya.
Al-Muwatiyah (المُوَاتِيَةُ) Yaitu yang tidak kasar dan keras. Bahkan ia penurut, mau mendengarkan, menaatinya, memenuhi permintaannya, dan tidak bersikap sombong dan merasa tinggi terhadap suami, serta tidak bersikap durhaka kepada suami. Ingin masalah cepat selesai, segera minta maaf dan mengalah meski suaminya yang salah
Al-Muwasiyah (المُوَاسِيَةُ) Yaitu yang suka membantu suaminya dan berdiri di sisinya, mendukung suaminya untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allah, Dan mendukungnya dalam apa-apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh untuk mencari wanita salihah.
Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda:
“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat.
Nabi ﷺ bersabda, “Empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan: 1. Istri yang shalihah; 2. Rumah yang luas.; 3. Tetangga yang shalih. ;4. Kendaraan yang cepat.
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (282) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.3
3. Kerja sama dalam ketaatan
Kerjasama sangat suami-istri dalam ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
رحِمَ اللَّهُ رجلًا قامَ منَ اللَّيلِ فصلَّى وأيقظَ امرأتَهُ فصلَّت فإن أبَت نضحَ في وجهِها الماءَ رحِمَ اللَّهُ امرأةً قامَت منَ اللَّيلِ فَصلَّت وأيقَظَت زَوجَها فإن أبَى نضَحَت في وجهِهِ الماءَ “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu salat, dan membangunkan istrinya, lalu ia pun salat. Jika istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu salat, dan membangunkan suaminya, lalu ia pun salat. Jika suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”
(HR. Abu Dawud – hadis Hasan Shahih, dinilai oleh al-Albani)
Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun pada suatu malam lalu beliau berkata:
“Subhanallaah, ujian apa yang Allah turunkan malam ini dan simpanan apa yang Dia turunkan untuk orang yang membangunkan istri-istrinya.Wahai kaum, banyak wanita-wanita yang berpakaian di dunia tapi telanjang pada hari Kiamat kelak.”
Bentuk kerjasama lain adalah membantu suami menundukkan pandangan dengan berhias diri saat berhasrat.
Pahala didapatkan wanita ketika bersegera melayani untuk kerjasama taat, menundukkan pandangan. Bahkan ketika sedang mengerjakan sesuatu, itu pahala
4. Dianjurkan: membantu keluarga suami
Suatu ketika, shahabat Jabir bin Abdillah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Saat pulang dari perang, beliau tertinggal dari rombongan disebabkan onta beliau yang kelelahan. Nabi pun mendatangi beliau dan bertanya, “Ini Jabir?” Jabir menjawab, “Iya Rasulullah.” “Ada masalah apa Jabir?” Nabi kembali bertanya. Jabir menjawab, “Ontaku lambat dan kelelahan sehingga aku tertinggal.”
Kemudian Nabi pun menusuk onta Jabir dengan tongkatnya seraya berkata, “Naiklah!” Jabir pun naik, dan tatkala ontanya melaju kencang, ia pun menahannya agar tak mendahului Rasulullah. “Engkau sudah menikah Jabir?” Tanya Rasulullah. “Iya.” Jawab Jabir. “Perawan ataukah janda?” Rasulullah kembali bertanya. “Janda”. Jawab Jabir kemudian.
Nabi bertanya, “Kenapa tidak menikahi perawan saja? Engkau bisa bermain dengannya dan ia bisa bermain pula denganmu”. Jabir menjawab, “Aku ini memiliki saudari perempuan yang banyak. Aku menikahi janda agar ada wanita yang merawat, mengurusi dan menyisiri rambut mereka”. Nabi pun menasehati, “Adapun jika engkau telah sampai di rumah, maka kumpulilah istrimu, kumpulilah istrimu” (HR. Al-Bukhari no. 2097 dan Muslim no. 1089).
Hadits ini juga dalil bolehnya bujang menikahi janda. Bahkan di sebagian kondisi, menikahi janda lebih utama daripada gadis perawan. Di sini Jabir ingin agar adik-adiknya ada yang merawat dan mengurusi tatkala ia menikahi janda. Sehingga ia merasa terbantu dengan kehadiran istrinya. Boleh jadi ketika ia menikahi gadis perawan, maka bebannya akan bertambah, di samping mengurusi adik-adiknya, ia harus mengurusi gadis yang semisal dengan adik-adiknya.
Menikahi janda tidaklah selalu melihat sisi mashlahat untuk si janda, boleh jadi mashlahat untuk suami. Jabir akan merasa terbantu merawat dan mengurusi adik-adiknya jika ia menikahi seorang janda.
5. Menghibur saat suami kesulitan
Kita bisa belajar dari Khadijah. Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ kembali ke rumah menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi istrinya lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat:
فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا
“Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.”
Beliau ceritakan semua yang ia lihat dan alami. Melihat Jibril dan diseru menjadi seorang utusan Allah (rasulullah). Dari peristiwa ini setidaknya dapat kita petik dua pelajaran tentang menjalani kehidupan berumah tangga. Peranan istri dan juga keterbukaan suami. Dua hal yang menjadi penyebab langgengnya rumah tangga.
Kisah lain dari Ummu Sulaim. Lihat kisah ini dan gali pelajaran menarik di dalamnya.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putra Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu putranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh putraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya putranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”
Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).
6. Ketika istri berharta ia bantu suaminya
Zainab, istri ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, kembali ke rumahnya setelah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menasehati kaum Hawa,
يا معشرَ النِّساءِ تصدَّقنَ ولو من حُليِّكُنَّ
“Sedekahlah wahai kaum wanita, meskipun dengan gelang perhiasan kalian.”
Tatkala Zainab tiba di rumahnya, dia menemui suaminya yang sedang duduk, lalu berkata kepadanya, “Kamu adalah laki-laki miskin dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kami (para wanita) untuk bersedekah. Datangilah beliau dan tanyakanlah, Apakah ada pahala bagiku jika aku bersedekah kepadamu. Jika tidak, akan aku salurkan kepada orang lain”.
Ibnu Mas’ud merasa malu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan permintaan istrinya. “Kamu saja yang kesana!” jawabnya kepada istrinya. Pergilah Zainab menuju rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia berpapasan dengan seorang wanita Anshar yang ingin menanyakan pertanyaan yang serupa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, Zainab meminta tolong Bilal untuk menanyakan masalah mereka. Bilal pun segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan titipan pertanyaan kedua wanita tersebut.
“Siapa keduanya?” tanya Rasulullah. “Seorang wanita Anshar dan Zainab.” jawab Bilal. “Zainab yang mana?” tanya Rasulullah lagi. “Istri ‘Abdullah bin Mas’ud.” timpal Bilal. “Mereka berdua mendapat dua pahala, pahala kekerabatan dan pahala sedekah”. (HR. Bukhari no.1466, Muslim no.80).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab pertanyaan kedua wanita tersebut. Zainab pulang ke rumahnya dengan perasaan bahagia.
Bukan hanya itu yang dilakukan Zainab untuk menambah ilmunya, dia pun banyak meriwayatkan hadits dari suaminya, ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Dia pun dikenal sebagai salah seorang wanita faqihah (paham agama).
7. Tidak pernah membandingkan dengan lelaki lain
Pada tahun 2 H, Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk mencegat kafilah Abu Sufyan. Tanpa disangka, kemudian peristiwa inilah menjadi sebab Perang Badar. Abu Salamah turut serta dalam rombongan yang mencegat kafilah. Dan tentu saja ia juga terlibat dalam Perang Badr. Dalam perang itu ia menderita luka. Luka itu sempat sembuh, tapi kemudian kambuh kembali. Hingga menyebabkannya wafat pada Jumadil Akhir tahun 3 H (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah, 3/190).
Ummu Salamah menceritakan, “Suatu hari, Abu Salamah menemuiku. Ia baru saja menemui Rasulullah. Ia berkata, ‘Aku mendengar dari Rasulullah sebuah perkataan yang membuatku bahagia. Beliau bersabda,
“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah. Kemudian ia beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un) saat musibah tersebut terjadi. Setelah itu berdoa, ‘Ya Allah berilah aku pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’. Kecuali Allah akan mengabulkannya.”
Kata Ummu Salamah, “Aku pun menghafalkannya.”
Ketika Abu Salamah wafat, aku beristirja. Dan berdoa, “Ya Allah berilah pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya.” Setelah itu, aku renungkan ucapanku dan bertanya pada diriku, “Adakah untukku yang lebih baik dari Abu Salamah?” Setelah iddahku selesai, Rasulullah meminta izin padaku. Saat itu aku sedang menyamak kulit. Kucuci tanganku dan kuizinkan beliau masuk. Aku pun membentangkan alas duduk dari kulit yang berisi serat. Beliau pun duduk di atasnya dan meminangku untuk dirinya. Setelah beliau selesai berbicara, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapa aku ini untuk tidak menerimamu. Tapi aku adalah seorang wanita yang sangat pencemburu. Aku khawatir Anda melihat pada diriku sesuatu yang menyebabkan aku diadzab oleh Allah. Dan aku adalah wanita yang sudah berusia dan memiliki anak-anak.”
“Yang engkau sebut berupa kecemburuan, Allah akan menghilangkan hal itu darimu. Tentang umurmu, aku pun telah berumur sebagaimana engkau. Dan tentang anak-anakmu, anak-anakmu juga anak-anakku.”
Kemudian ia mengatakan, “Sungguh Allah telah menggantikan untuk diriku seseorang yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah.” (Ibnu Katsir” as-Sirah an-Nabawiyah, 3/175).
8. Orientasinya bukan dunia
Mari belajar dari Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.
Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???
Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan
tawaran mahar yang tinggi. Beliau kaya raya. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau usaberkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.
9. Memiliki sifat pemalu
Jangan saling putra-putri kita menonton hal yang merusak rasa malu, baik di layar maupun di dunia nyata (misalnya kalau ke luar negeri)
Belajarlah dari kisah istri nabi Musa dalam kisah Al Qashash 26-27
Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.
Arab-Latin: Qāla innī urīdu an ungkiḥaka iḥdabnatayya hātaini ‘alā an ta`juranī ṡamāniya ḥijaj, fa in atmamta ‘asyran fa min ‘indik, wa mā urīdu an asyuqqa ‘alaīk, satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣāliḥīn
Artinya: Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.
Pilih sirkel yang benar untuk menjaga rasa malu kita.
Tetaplah menyampaikan ilmu di mana saja, berdakwah.
Abdullah bin Hambal bertanya kepada ayahnya, “Sampai kapan aku belajar? Sampai liang lahat.”
Syaikh Shalih, “Belajar agar otak terisi dengan pikiran yang baik.”
Jangan banyak bicara tanpa dzikir karena isinya membuat hati ini keras. Manusia yang hatinya keras paling jauh tempatnya dari Allah.
Seharusnya manusia paling berilmu menjadi manusia paling low profile.
Perlu menuntut ilmu untuk menjadikan hati punya perasaan, otak memiliki pikiran
Jadikan otak wadah pikiran, karena itu perlu belajar. Pikiran dan perasaan itu terjaga dengan ilmu, seperti kisah nabi Adam yang memohon ampun kepada Allah.
KENAPA PERLU BELAJAR:
Karena manusia lahir tanpa ilmu. Seperti bahasa, tidak ada orang yang lahir memiliki bahasa.
Agar fokus, tidak mudah terdistraksi
Membentuk kesadaran diri dan idealisme, karena GA AKAN SUKSES KALAU GA IDEALIS. Samakan orang yang berilmu dengan yang tidak. Kaya jiwa lebih baik dari kaya harta, karena ia akan beradaptasi. Agar istiqomah. Makanya dalam Quran itu iqro bukan khatam. Lakukan berulang.
Agar layak dan bermanfaat di tengah masyarakat. Ilmu lebih baik daripada harta. Ketika dia tidak punya harta, dengan ilmunya dia tahu apanyangbharus dilakukan dengan segala kalangan
Dengan ilmu, jadi tahu kewajiban dan mudah memberi maklum akan kekurangan orang lain. Tanpa ilmu, kita sulit berumahtangga, yang ilmunya salah satunya terdapat dalam ArRum 21.
Pendidikan akan membuat pemilik ilmu berbeda dengan yang lain yang tidak belajar, tidak mudah takut dengan dunia (Aisyah tidak memohon punya anak, tidak berburuk sangka, tapi memanfaatkan waktu.
Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Digabungkan antara zikir, shalat, dan jiwa. Cara kita mengingat Allah adalah dengan shalat. Ibnu Taimiyah menyebut ada orang yang secara fisik tidak tampan, tapi karena menjaga shalat, tapi kita nyaman berada di samping dia.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان
“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)
Para ulama, ahli ilmu, du’at adalah para dokter hati. Bukankah Al Quran itu syifa untuk membuat hati jadi sehat.
Dokter kata Imam Syafii ada 2: dokter hati dan dokter fisik.
D majelis ilmu, bersama-sama dengan jamaah.
Urutan 1 dokter spesialis hati adalah para rasul, maka ikuti cara Rasul dan para anbiya.
Tazkiyatun nufus, berlaku pada 2 hal:
Terkait hak Allah: menegakkan ketaatan dan menjauhkan yang Allah larang dengan hati yang lapang
Terkait hak sesama manusia: bermuamalah kepada manusia dengan cara yang kita senang diperlakukan dengan cara yang sama
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim, no. 1844)
Cek hati kita, apakah kita senang saat saudara kita senang? Jika tidak, maka cek hati dan keimanan kita.
Orang yang hasad, sebenarnya sedang ‘kurang ajar’ kepada Allah. Ketika mengapresiasi, jangan pakai ‘tapi’, agar tidak tumbuh hasad karena seakan memenggal leher saudaranya.
Bab 2: Cara Mengefesienkan Waktu
Lakukan Kegiatan yang Bermanfaat
Dunia dan akhirat. Yang paling bermanfaat adalah ibadah, karena itu tujuan kita diciptakan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
(HR. Muslim)
[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya
Ketetapan Allah:
Irodah kauniyah: Allah ciptakan hal yang belum tentu Allah cintai (iblis). Hikmahnya adalah itu akan jadi ujian bagi manusia.
Irodah syariyah: terikat dengan kecintaan Allah. Kalau Allah takdirkan, maka itu pasti Allah cintai/ senangi
Catatan kajian ini dapat memiliki kesalahan (Mierza)
Program AHA! Membaca adalah sebuah klub literasi dari A+ Home Academy yang telah berdiri sejak dua tahun lalu. Awalnya, AHA! Membacahanya beranggotakan peserta homeschooling.
Kini, program ini telah membuka pintu bagi siapa saja yang siap mengikuti syarat dan ketentuan untuk menumbuhkan rasa cinta serta kebutuhan membaca melalui kegiatan terstruktur, seperti pengumpulan kolase buku setiap Selasa pekan pertama dan ketiga serta pembuatan resume visual untuk diskusi rutin di Zoom setiap Selasa pekan kedua. Untuk pekan keempat, AHA! MEmbaca merancang kegiatan Literacy Trip.
Seluruh kegiatan dikelola bersama orang tua yang siap (lelah untuk) berkolaborasi dan mendampingi anak-anak yang menjadi panitia kegiatan-kegiatan daring maupun luring.
Melalui pendekatan yang mengutamakan pemilihan bacaan aman sesuai syariat, program ini bertujuan mengolah kecakapan hidup peserta dalam mengelola waktu, menyerap isi bacaan, hingga bersosialisasi melalui literacy trip dan diskusi interaktif dengan dukungan penuh pendampingan orang tua
Berikut kegiatan perdana AHA! Membaca yang dilaksanakan pada bulan Maret 2026.
Mengatur jadwal dan prioritas, misalnya memasang alarm dan tulis di agenda untuk:
Pengumpulan kolase buku yang dibaca pada Selasa pekan ketiga
Membuat resume untuk H-1 pertemuan Selasa pekan kedua
Mengolah kecakapan hidup untuk mengelola manusia, kegiatan, membumikan bacaan, dan bersosialisasi melalui literacy trip
Selasa pekan 3: MENGUMPULKAN KOLASE BUKU
Untuk Ramadhan ini, hanya buku agama Islam (tauhid, fiqih, muamalah, tazkiyatun nafs)
Setelah Ramadhan, akan ada informasi buku wajib.
Selain buku wajib, pastikan buku lainnya aman secara syariat (tidak mengandung sihir kurafat, tahayul, dan membahayakan tauhid), atau membuai syahwat
(Setelah Ramadhan) oleh buku fiksi selama aman dari yang disebutkan pada nomor 1)
Dari buku yang sudah dibaca, PILIH MINIMAL 4 BUKU rekomendasi dan difotokan dengan DATA DIRI + caption #AHAmembaca
Contoh:
Bisa difotokan seperti ini. Tambahkan nama dan #AHA!membaca di fotonya. Atau seperti ini, atau pakai Canva, bebas. Pastikan izin orang tua sebelum mengakses internet
Saran bu Mierza, sediakan book hive, atau tempat menaruh buku yang akan dilaporkan, agar tidak lupa. Apalagi kalau frekuensi membaca kalian banyak. ✨
Kalau baca pinjaman buku perpustakaan/ selainnya, jangan lupa kumpulkan fotonya.
Atau kembalikan setelah difoto hehe. 👌 Boleh lebih dari 4? Boleh. awal-awal baru 1 juga boleh.
Selasa pekan 2 : PERTEMUAN UNTUK DISKUSI BUKU
YANG HARUS DIBUAT ADALAH RESUME BUKU
Pertemuan rutin klub di ZOOM jam 13.30 untuk berbagi resume dan diskusi buku. Ruangan ZOOM laki-laki dan perempuan dipisahkan.
AHA! Literacy Trip to Library/ Excursion (atau klub buku ZOOM dipandu 2 peserta + orang tua, bagi yang tidak mengadakan Lit Trip). Bisa juga dialihkan jadi Rabu siang.
Orang tua WAJIB menggali, mengajari, mendampingi, mengarahkan ananda di luar sesi—karena ini klub, bukan kelas.
Bagi peserta yang tinggal di luar Jabodetabek, disarankan mengajak minimal 2 orang agar bisa membuka AHA! Lit Trip. Untuk pendampingan kepanitiaan lokal insyaallah akan dibantu – dengan titik lelah di orang tua.
AI Detector akan digunakan untuk memindai resume. Bagi yang menggunakan, akan dikenakan sanksi.
Resume dikumpulkan H-1
Berikutnya: Zoom pekan 2 atau 4 (salah satunya literacy trip).
Jika peserta tidak ikut/ selenggarakan trip, kemungkinan ZOOM Rabu 13.30 ya, biidznillah – kecuali udzur seperti sakit atau pekan ulangan tatap muka.
Bentuk pengumpulan resume berbentuk visual, boleh manual atau pakai komputer, direkomendasikan ukuran 3×4, minimal 1 lembar.
Contoh resume:
Jangan lupa taruh nama di resume ya. Untuk font, atau besar huruf, pastikan terbaca di layar. Biasanya minimal 16. Jika kalian ingin membuat secara manual, bisa gunakan/tebalkan dengan spidol.
Pada saat ZOOM, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang dipandu panitia di grup diskusi.
Peserta yang menyimak WAJIB bertanya. Insya Allah nanti Ibu berikan contoh pertanyaan-pertanyaan, ya. Ini juga untuk membantu pembaca resume menyiapkan jawabannya.
CONTOH PERTANYAAN
Tentang Keagungan Allah (Tauhid)
Setelah membaca buku ini, kekuasaan Allah yang mana yang paling kamu kagumi?
Bagian mana yang membuatmu makin bersyukur atas ciptaan Allah?
Apakah buku ini mengingatkanmu pada satu ayat Al-Qur’an atau Hadis?
Bagaimana cara kita menjaga alam/ilmu ini sebagai amanah dari Allah?
Hal apa yang membuatmu merasa Allah Maha Pintar mengatur segalanya?
Tentang Ilmu & Adab (Edukasi)
Apa pelajaran paling berharga yang kamu dapat?
Adakah informasi yang baru pertama kali kamu tahu?
Bagian mana yang paling sulit? Bagaimana kamu mengatasinya?
Ilmu di buku ini bisa dipakai untuk menolong orang lain tidak?
Apakah penulisnya jujur dalam memberikan fakta?
Tentang Perasaan & Pikiran (Refleksi)
Apa kamu jadi makin semangat belajar setelah baca buku ini?
Hal apa yang ingin kamu ceritakan kepada orang tuamu?
Apakah buku ini mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu?
Apa pertanyaan yang belum terjawab di buku ini?
Gambar mana yang paling membantumu memahami ilmu di dalamnya?
Tentang Manfaat & Amal (Penerapan)
Setelah membaca ini, apa hal baik yang ingin kamu lakukan?
Mengapa buku ini bermanfaat untuk dibaca oleh teman-teman kita?
Bagaimana buku ini membantumu menjadi anak yang lebih baik?
Jika kamu jadi penulisnya, apa lagi yang ingin kamu tambahkan?
Kenapa waktu yang dipakai untuk membaca buku ini tidak sia-sia?
Tentang Analisis Isi (Berpikir Kritis)
Tujuan Penulis: Menurutmu, apa alasan utama penulis membagikan ilmu dalam buku ini?
Kesesuaian Judul: Apakah judul buku ini sudah mencerminkan isi informasi di dalamnya?
Bagian Tersulit: Adakah bagian yang sulit dipahami? Bagaimana cara kamu mengatasi kesulitan tersebut?
Keakuratan Data: Apakah fakta dalam buku ini didukung oleh data atau contoh yang kuat?
Hal Paling Bermakna: Dari seluruh isi buku, mana informasi yang menurutmu paling berharga untuk kita ketahui?
Tentang Refleksi & Wawasan (Edukasi)
Perubahan Sudut Pandang: Apakah ada pemikiranmu yang berubah setelah mempelajari fakta-fakta dalam buku ini?
Kaitan Realita: Bagaimana informasi dari buku ini berkaitan dengan apa yang kita pelajari?
Nilai Karakter: Nilai positif apa yang bisa kita teladani dari cara penulis menyampaikan informasinya?
Manfaat Jangka Panjang: Mengapa ilmu dari buku ini penting untuk masa depan kita?
Minat Belajar: Setelah membaca ini, topik apa lagi yang ingin kamu pelajari lebih dalam?
Tentang Evaluasi Penyajian (Literasi)
Gaya Bahasa: Apakah bahasa yang digunakan penulis mudah diikuti oleh pembaca seusia kita?
Saran perbaikan: Jika kamu menjadi editor, bagian mana yang ingin kamu lengkapi agar informasi buku ini lebih jelas?
Efektivitas Gambar: Bagaimana peran ilustrasi dalam membantumu memahami teori atau konsep yang rumit?
Perbandingan Sumber: Apakah informasi di buku ini sama dengan yang pernah kamu dengar sebelumnya, atau ada perbedaan?
Kesan Mendalam: Apa hal yang paling menyentuh rasa ingin tahumu saat membaca bab demi bab?
Diskusi Lanjutan (Sosialisasi)
Rekomendasi Spesifik: Untuk siapa buku ini paling bermanfaat jika dibaca di lingkungan kita?
Aplikasi Pengetahuan: Bagaimana cara kita mempraktikkan ilmu dari buku ini dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan untuk Penulis: Jika berkesempatan berdiskusi dengan penulisnya, pertanyaan ilmiah apa yang ingin kamu ajukan?
Metode Membaca: Strategi apa yang kamu gunakan agar bisa memahami buku non-fiksi ini dengan baik?
Kesimpulan Utama: Apa pesan penutup yang paling ingin kamu sampaikan kepada kami tentang buku ini?
Syarat Pendaftaran AHA! Membaca
Orang tua bisa mendampingi
Pengumpulan tepat waktu
Ikut dengan kemauan ananda sendiri dan mengirimkan surat kesediaan yang ditulis tangan
Membayar biaya Rp39.000 per bulan
Bisa menggunakan kamera yang mengarah ke buku
CATATAN: Secara tentatif akan diberikan juga soal-soal/kegiatan penalaran buku sejenis/menuju TKA (tapi ini diadopsi dari IB Language & Literature) yang dirancang sesuai usia. Pembahasan dilakukan oleh panitia. Bu Mierza hanya memberi game/kunci jawaban.
“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah : “Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya : “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab : “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati”
Salamah pernah menasihat khalifa “Wahai imam, kenapa kami benci mati?” Beliau berkata, ” Yang menyebabkan adalah terlanjur membangun dunia, lalu akhirat dia hancurkan.” Beberapa ulama mengibaratkan dunia dan akhirat itu laksana memiliki 2 istri, pasti ada kecondongan.
Diantara penyakit hati: centa dunia. Allah akan mencampakkan penyakit kehinaan (wahn): Cinta dunia dan takat mati
Artinya: Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.
Allah membahas orang munafiq sampai belasan ayat, tapi kafir hanya ayat karena mereka lebih berbahaya. Ayat diatas membahas tentang orang munafik yang tidak jihad. Dalam surat jihad, ada bahasan tentang menuntut ilmu. Maka orang yang Jauh dari majelis Ilmu memiliki nifaq, meski yang menuntut ilmu pun masih merasa tidak aman.
Artinya: Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.
Orang munafik diliputi keragu-raguan untuk mengambil hukum Allah dan disebut dzalim. Adapun orang salih menghiasi hatinya dengan Iman. Mereka tidak sibuk mencari pandangan manusia, melainkan ridho Allah. Mereka sibuk dengan memperbaiki amal, menambah iman di majelis ilmu. Masjid adalah benteng iman terbaik.
Hasan Basri: ” Lihat selalu amalmu: apakah di atas amal baik, atau amal buruk? “
Allah Ta’ala melarang Adam ‘alaihissalam dan Hawa untuk tidak sekali-kali mendekati pohon terlarang, terlebih lagi memakan buahnya. Namun akibat godaan dari Iblis, Adam ‘alaihissalam dan Hawa memakan buah dari pohon tersebut sehingga Allah Ta’ala marah dan mengusir mereka dari surga dan menurunkan mereka ke bumi. Namun setelah Nabi Adam ‘alaihissalam dan Istrinya, Hawa, melakukan kesalahan tersebut, mereka menyesal dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala dengan lafadz doa yang Allah Ta’ala wahyukan kepada Adam ini.
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Arab-Latin: Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahụ bimā ta’malụna baṣīr
Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Cari jalan istiqomah ( tetaplah kamu pada jalan yang benar ) sesuai syariat sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ sesuai kehendak Allah.
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
2 ayat ini adalah penghiburan bagi yang terjerumus hawa nafsu, ingat kisah 99 orang yang dibunuh yang ditunjukan kepada orang alim. Jangan putus asa
Bantu diri dengan doa, terlebih bulan ini yang merupakan bulan doa. Salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orang yang berpuasa.
Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.
Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
Arab-Latin: Kullu nafsin żā`iqatul maụt, wa innamā tuwaffauna ujụrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuḥziḥa ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr
Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Artinya: Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).
16.Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”1 17.Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,1 18.dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, 19.sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), 20.dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.
Seharusnya: diberi nikmat bersyukurlah, diberi ujian bersabar. Manusia cenderung bangga terhadap pencapaianya, lalu menyalahkan Allah jika tidak sesuai. Pikiran itu menjauh dari amal salih karena hatinya bermasalah. Kalaupun ada itu hanya kemunafikan atau kepura-puraan. Orang seperti ini tidak akan pernah puas.
21.Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), 22.dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, 23.dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. 24.Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” 25.Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), 26.dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. 27.Wahai jiwa yang tenang! 28.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. 29.Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, 30.dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Ujian dunia hanya berlaku hanya bagi yang beriman, jika tidak: itu azab atau istidraj. Ujian adalah untuk:
(1) hati yang salim
Proses sakaratul maut yang sulit untuk membersihkan hati dan mencuci dosa
(2) amal
Jangan asal beramal. Amal harusnya mensucikan hati
Kita hadapi 3 ujian: kenikmatan, kesalahan, musibah
Ketika kita diberi MUSIBAH DUNIA, itu artinya kita sedang dicintai Allah karena:
Itu ujian termudah
Itu ujian yang membuka mata. Jangan hadapi ujian sebagai manusia karena tidak akan mampu karena dzalim dan bodoh. Hadapi dengan perkuat iman, kembali pada Allah. Contohnya: ucapkan qadarullah, minta kepada Allah, cari solusi. Seperti Asiyah istri Firaun yang meminta surga saat ia di-KDRT.
Allah tidak sayang ketika kita mendapatkan MUSIBAH AKHIRAT.
Contoh tentang bersabah dalam musibah terdapat dalam kisah Ummu Salamah yang suaminya meninggal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh ucapkan istirja lalu melamarnya dan kemudian memperlakukan banyak anaknya (Salamah) seperti anak sendiri. Contohnya hadits ‘ Ya Gulam, makan dg tangan kananmu’ itu bicara kepada Salamah.
Iman yang tidak berfungsi dengan baik akan membuat seseorang merasa paling dizolimi, bersikap tidak ideal sebagai muslim. Orang yang beriman akan ikhlas dan tawakal. Selalu hadiri majelis ilmu.
Tobat, sabar, syukur adalah ibadah.
Ketika hati kita rindu kepada Allah,
Di dunia ada surga : mengenal Allah, cinta, rindu, dan taat kepada Allah. (Ibnul Qayyim)
Di Qanthara, amal shalih diambil orang terzalimi, KECUALI PAHALA PUASA.
Semua lelah, upaya, milik kita di dunia tujukan kepada Allah.
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Referensi: https://tafsirweb.com/598-surat-al-baqarah-ayat-143.html)
Takwa: menjadikan penghalang antar kamu dan azab Allah. Bagaimana membangun penghalang!? Taat kepada Allah menjauhkan dari larangan Allah.
Manusia umumnya melakukan apa yang ia inginkan. Tapi saat puasa, kita diperintahkan untuk minum – padahal botol minum ada di genggaman
Kita melatih takwa, sabar, muroqobatullah saat kita berpuasa. Saat berpuasa, kita tidak hanya maan dan minum. Puasa afakh untuk raih takwa.
2. PUASA MENGHAPUSKAN DOSA
Puasa dilakukan atas dasar keimanan, berharap pahala dari Allah. Apa balasan Allah? Akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu (dosa kecil)
3 LANGKAH PERJALANAN MENUJU TAMBAHAN
Persiapan diri
Berbekal dengan ilmu
Mengisi ramadan dengan ketaatan
1. PERSIAPAN DIRI
Segera Bertaubat
At tahrim 8 : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Referensi: https://tafsirweb.com/11012-surat-at-tahrim-ayat-8.html
Introspeksi dosa-dosa yang telah dilakukan:
Dosa lisan: namimah, gibah, istihza
Dosa mata: aurat, memandang lawan jenis, menonton film
Dosa telinga: biasa saja mendengar musik
Dosa tangan: menyakiti/ mengambil hak orang lain
Dosa melalaikan perintah Allah
Dosa karena melakukan larangan Allah
Syarat taubat nasuha
Bersegeralah meninggalkan dosa karena penyesalan
Menyesal
Bertekad untuk tidak mengulangi kembali
Jika berkaitan dengan hal manusia, maka harus mengembalikan hak tersebut dan meminta maaf
Janji Allah bagi orang yang bertaubat (Hadits qudsi) Wahai anak Adam ! Jika kamu datang dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian kamu bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang dengan memberikan pengampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih]. Referensi : https://almanhaj.or.id/12438-keluasan-ampunan-allah-subhanahu-wa-taala-yang-maha-luas-2.html
Membayar hutang puasa
Al. Baqarah 184أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Referensi: https://tafsirweb.com/689-surat-al-baqarah-ayat-184.html
Dari Abu Salamah, ia mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no. 1950; Muslim, no. 1146)
Ibnu Hajar: boleh mundurkan ke bulan Syaban
Akan tetapi dianjurkan segera berdasarkan Surat Al-Mu’minun Ayat 61 أُو۟لَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَٰبِقُونَ
Arab-Latin: Ulā`ika yusāri’ụna fil-khairāti wa hum lahā sābiqụn
Artinya: Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
Bagi yang sengaja menunda hingga Ramadhan berikutnya: bertaubat, qodho sesuai jumlah hari, membayar fidyah
Arab-Latin: Wa likulliw wij-hatun huwa muwallīhā fastabiqul-khairāt, aina mā takụnụ ya`ti bikumullāhu jamī’ā, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr
Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Referensi: https://tafsirweb.com/610-surat-al-baqarah-ayat-148.html
Contoh:
Memperbanyak dzikir, doa, istighfar, membaca Quran
ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA A’LAMU, WA ASTAGH-FIRUKA LIMAA LAA A’LAMU.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
(HR. Bukhari)
Mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Ibnu Rojab : amalan tidak diterima jika secara zodiak sesuai contoh Nabi dan diniatkan ikhlas karena Allah
2. Berbekal dengan Ilmu
Kapan harus berniat
Puasa secara bahasa: imsak/ menahan diri
Kapan mulai puasa? Saat azan subuh
Puasa secara syariat: beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan pada sejak terbit fajar (cahaya horizontal di langit/ fajar atstsani/ fajar as sodiq) hingga terbenam matahari (terlihat mega merah).
Apa itu niat?
Maksud/ tekad yang terdapat dalam hati untuk melakukan yang ingin dilakukan
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Kapan harus berniat
2. Pembatal puasa
Makan minum dengan sengaja
Al-Baqarah Ayat 187 أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Referensi)
لقوَل تعاَل: ﴿أٱح ل لُك ليةل الصيام الرفثإاَل نسائُك﴾. Dihalalkan bagimu pada malam hari (Ramadhan) bercampur dengan istrimu. (Al-Baqarah: 187.)
Mengeluarkan maani dengan sengaja (onani/ masturbasi)
حلديث قديس: »يدع شهوته وٱ «، أُكه وْشبه من أٱجيل Dalam hadits qudsi: “(Orang yang berpuasa itu) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena Aku (karena Allah).” (HR. Bukhari no. 7492).
Kecuali mimpi, maka mandi besar, lanjutkan puasa
Mengeluarkan darah yang banyak
حلديث: »أٱفطر احلامج واحملجوم« Berdasarkan hadits: “Orang yang membekam & dibekam, puasanya batal.”
Seperti: Bekam, Fashdu, Mendonorkan Darah.
Muntah dengan sengaja.
Keluar haid atau nifas
3.
3. Kapan Puasa Dianggap Batal
Jika seseorang melakukan salah satu di antara enam pembatal puasa (Makan & minum dengan sengaja, hal-hal yang semakna dengan makan & minum, berhubungan suami istri, mengeluarkan mani dengan sengaja, mengeluarkan darah yang banyak & muntah dengan sengaja), maka puasanya batal, jika:
4. Hukum orang yang melakukan pembatal puasa
5. Hal-hal yang tidak membatalkan puasa
6. Wanita hamil dan menyusui: qadha atau fidyah
7. Siapa Saja Yang Boleh Tidak Berpuasa?
3. MENGISI DENGAN KETAATAN
1. Ramadhan Adalah Bulan Puasa Allah mewajibkan puasa Ramadhan agar muslim dan muslimah terbiasa untuk bersabar mengendalikan diri dari hawa nafsunya, bersabar menahan lapar dan haus serta syahwatnya. ) ٰيأٱُّيا اَّلين ٱامنوا كتب عليُك الصيام كام كتب عَل اَّلين من قبلُك لعلُك تتقون ( ]البقرة 183[
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Sebagian ulama salaf ditanya: Apa (hikmah) disyari’atkannya puasa? Beliau menjawab: Agar orang kaya merasakan rasanya lapar, sehingga dia tidak melupakan orang faqir (miskin).
Puasanya Anggota Badan Ketahuilah bahwa orang yang berpuasa bukan hanya puasa mulut dari makan & minum, tapi juga puasa anggota badan dari melakukan hal-hal yang haram. Matanya “berpuasa” sehingga tidak melihat hal-hal yang diharamkan, telinganya “berpuasa” sehingga tidak mendengar musik & nyanyian, Lisannya “berpuasa” sehingga tidak berdusta, berghibah (membicarakan kejelekan orang lain) & namimah (mengadu domba), tangannya “berpuasa” sehingga tidak menyakiti & mengambil hak orang lain, kakinya “berpuasa” sehingga tidak melangkah kepada yang haram, kemaluannya “berpuasa” sehingga tidak melakukan hal yang mesum, karena dia tahu bahwa hal-hal tersebut adalah kemungkaran yang besar di saat puasa.
2. Ramadhan Adalah Bulan Untuk Memperbanyak Shalat Selain shalat yang wajib, bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dengan adanya shalat tarawih. Wanita boleh melaksanakan shalat tarawih dengan salah satu di antara cara berikut: ✓ Shalat berjama’ah di masjid bersama imam & kaum muslimin. ✓ Shalat berjama’ah bersama kaum Wanita & imamnya Wanita. ✓ Shalat tarawih sendirian di rumahnya, dan inilah yang terbaik.
لقول النيب صَل هللا عليه وسمل: “َّل متنعوا نساءمك املساجد, وبيوهتن خي لهن ”]رواه أٱمحد وأٱبو داودوحصحه ا أْللباين[ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melarang Wanita-wanita hamba Allah dari masjid-masjid Allah, akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad & Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany).
Diriwayatkan dari Abu Dawud (Hadits 565), dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah (yang wanita) dari masjid-masjid Allah, namun hendaknya mereka keluar rumah _tafilaat_ (tanpa berhias).“ [Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam kitab _Irwaa Al-Ghaliil_, hadits no. 515].
Dijelaskan dalam kitab _’Aun Al-Ma’buud_ (Syarh Sunan Abi Dawud): Arti dari _”Wa Hunna Tafilaat”_ (Mereka tidak boleh berhias), yaitu: *Mereka tidak boleh berparfum / memakai wewangian.
Hanya saja mereka diperintahkan tidak berhias (ketika keluar rumah), dan mereka dilarang memakai wewangian, agar tidak menggerakkan syahwat laki-laki dengan wewangian tersebut*. Dan dianalogikan dengan semua yang semakna dengan wewangian, yaitu semua hal yang dapat menggerakkan syahwat laki-laki*, berupa: – Pakaian yang indah. – Memakai hiasan yang kelihatan. – Perhiasan yang bagus.” [Selesai nukilan dari kitab _’Aun Al-Ma’buud_].
Maka seharusnya wanita muslimah jika berada di hadapan laki-laki asing yang bukan mahramnya, agar menjauhi pakaian yang diberi pernak-pernik & perhiasan yang mengundang pandangan laki-laki kepadanya.
Tidak ada kerugian paling besar dari orang yang merugikan diri sendiri dengan mengikuti hawa nafsu. Az-Zumar 15
Agar beruntung dunia dan akhirat, taati Allah, meski itu merugikan usahamu.
Hendaknya kita menghisab diri sebelum dihisab (muhasabah)
Ibnul Qayyim, muhasabah itu di 2 tempat: (1) Sebelum beramal seperti riya dan (2) setelah beramal (ujub)
Syaikh Utsaimin: ujub bisa membatalkan amal.
Jiwa itu menyukai 2: riyadh ( latihan) dan berleha- leha, dan dia punya batasan dalam syariat. Maka perlu melatih jiwa untuk sabar melaksanakan ketaatan.
Jika kamu selesai melaksanakan ketaatan, lakukan ketaatan selanjutnya. Kenali Allah saat senang, supaya kamu dikenali saat susah. Maka kesehatan itu membantu dunia dan akhirat, sehat jasmani & rohani.
Abu Bakar as Shiddiq : mintalah afiyah
Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu meminta keselamatan di waktu pagi dan petang.
“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku. Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku. Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau…”
Orang bertakwa akan pelit waktu, tidak ingin menyia -nyiakan. orang yang bahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran, bukan dijadikan pelajaran. Kekosongan (waktu) itu akan dicabut hari ini/ besok.
“Jauhi dari ka lian menunda, mengatakan nanti. Manusia memiliki 3 waku: dulu, kini, nanti.
Perkataan NANTI itu musuhnya penuntut ilmu.
“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim]
Jaman Fitnah:sibukkan dengan ilmu dan amal.
Hendaklah bersungguh-sungguh sebelum dipalingkan, terutama hp, dan takutlah Allah palingkan.
Waktu lebih berharga dari emas dan perak, Dan sedikit sekali orang yang tahu pentingnya waktu.
Seorang penyair berkata, “Jika kamu pintar, janganlah kamu bersama orang. orang yang lalai.” Jadikan teman orang yang menghargai waktu. Hendaklah kita seperti. ” seserang yang kakinya di bumi. cita-citanya setinggi langit. ” Waktu ini milik Allah, maka jangan lakukan yang bukan seizin Allah. Maka, makmurkan waktu dengan kebaikan sebagai modal hidupmu.
Man Yuridillahu yufaqquhhu : ilmu menjadi karakter.
PR besar: bagaimana ilmu menjadi karakter.
Imam syafii: Siapa yang ingin dunia, pakai ilmu.
Ibnu mubarak: slama ia menuntut ilmu, ia pintar. Ketika berhenti, ia bodoh.
(Hal 23)
Imam Nawawi: guru itu orang tua kita dalam agama. Guru in penyambung antara kita dengan Allah.
Hati ada yang sehat, sakit, atau mati.
Asy Syuara (88) Dihari tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang slamat.
Hati yang selamat adalah hati yang mengikuti Allah.
Hati y,ang sakit (orang munafik) mengandung keraguan / kebingungan .
Hati yang mati : Az Zumar (22) –
Al Hajj (53-54) : ayat yang menggabung 3 jenis hati. Hati yang mau tunduk ikuti Quran, itulah hati yang salim.
Karena itu kita wajib mengisi hati dengan hal bermanfaat. Jika tidak, maka akan diisi dengan hal yang buruk. penyakit ini akan jadi kendala terbesar penyakit di hati.
Iman itu bisa usang seperti pakaian.
PENYAKIT HATI:
DENGKI. Hati yang terjangkit dengki. HR Ahmad – Tirmidzi: penyakit umat sebelum kalian mulai merambah. Apa itu? Kedengkian, kebencian. Penyakit ini pencukur agama.
DENDAM. Teladan waktu Aisyah bintu Abu Bakar difitnah. An Nur (22). Maka, belajar memaafkan.
Walimah terburuk: yang dibedakan miskin dan kaya
Nabi shalallahu alaihi wassalam tidak pernah memukul pembantu atau seseorang, kecuali jika berjihad di jalan Allah.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pernah memukul seorang pembantu. Beliau memukul jika berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu sama sekali, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali jika ada sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no, 4786, dan Ibnu Majah no. 1984 [10] HR Muslim no. 746, dan lainnya )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah masuk sebuah kebun kurma. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seekor unta. Lalu kemudian unta itu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa pemiliknya suka memukulinya dan memberikan beban-beban yang berat. Maka Rasulullah bertanya: “Siapa pemilik unta ini?” Seorang pemuda berkata: “Aku Wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي مَلَّكَك الله إياها؟ فإنه يَشْكُو إلي أنك تُجِيعه وتُدْئِبه
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah yang telah menjadikanmu pemilik unta ini. Sesungguhnya unta ini mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya lapar dan memberikan beban-beban yang berat.” (HR. Muslim)
MAAFKAN, , LAPANG DADA, karena kiamat PASTI AKAN DATANG, termasuk kiamat kita berupa kematian.
Artinya: Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.
Rasul: Makan, minum, sedekahlah. Silahkan berpakaian tanpa berlebihan, bukan juga sombong.
Artinya: Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Dengar sinyal ketika mau beli branded, apakah ini membuatku sombong?
Dunia sesuatu yang akan binasa /fana/ bayangan yang akan hilang. Yang tertipu dengan dunia adalah kebinasaan.
Bagi yang tertipu, menganggap akhirat itu dongeng & kematian sebagai peristirahatan terakhir. Maka, pandang dunia fana. Allah ← Rasulnya menganggap dunia sebagi sebuah yang hina.
Pikiran seorang mukmin: masuk surga. Keimanan adalah segalanya. Ulama: Dunia itu seperti perempuaan tua yang berhias. Dunia itu tempatnya lelah. Ada orang yang diberikan kesenangan, malah lupa. Maka kebahagiaan di dunia itu tidak akan sempurna.
Surat Al-Balad Ayat 4 لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
HAKIKAT AKHIRAT ADALAH KEBAHAGIAAN SESUNGGUHNYA
Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh n , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya” . [HR. Bukhari dan Muslim]
“Bertemanlah kamu kepada siapa saja yang kamu bisa berteman. Dan demi Allah yang beristiwa’ di atas ‘Arsy, tidak akan pernah ada orang yang akan berteman denganmu di dalam kuburanmu, kecuali satu teman saja. Ketahuilah, dia adalah amalanmu yang saleh. Dan berbuat baiklah dalam berteman dengannya, niscaya dia akan berbuat baik dalam berteman dengan kamu di dalam kuburanmu.” [Lathaiful Ma’arif hal 99]
MAKA PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN TEMAN KITA DI KUBUR NANTI: AMAL SOLEHMU
Ibnu Qayyim: kehidupan di dunia penuh tidak dingin karena penuh dengan kesulitan.
Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah; dihasankan oleh syaikh al-Albâni]
8 PERKARA YANG MENIMPA MANUSIA:
Sururun (Kegembiraan)
Hamuun (Kegundahan)
Pertemuan
Perpisahan
Kemudahan
Kesusahan
Kesakitan
Kesehatan
Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ
“Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.’” (HR. Thabrani dan dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 831)
Dunia adalah tempat bercocok tanam
Sahabat punya cita-cita tinggi: masuk syurga. Maka tanamkan kepada anak.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ . قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ ، وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ » . قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا . فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا
“Dari Abu Hurairah ra bahwa seorang badui mendatangi Nabi Saw, lalu ia berkata, “Tunjukkan kepadaku suatu amal jika aku kerjakan mengantarkanku masuk surga”. Nabi bersabda, “Kamu meyembah Allah tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat fardhu, membayar zakat dan puasa di bulan ramadhan”. Si badui itu berkata, demi jiwaku di tagannya, aku tidak akan menambah ini. Ketika si badui itu sudah pergi Nabi bersabda, ” jika anda ingin melhat ahli surga lihatlah orang ini”. (HR. Bukhari).
“Rasulullah (pernah) masuk ke rumah kami, yang mana tidak ada orang lain yang di dalam melainkan aku, ibuku (Ummu Sulaim) dan bibiku (Ummu Haram). Beliau bersabda, ‘Berdirilah kalian, aku akan salat bersama kalian.’ Kemudian beliau salat bersama kami pada saat bukan waktu salat wajib.”
Anas juga bercap bahwasanya Rasulullah sering berkunjung (singgah) apabila Rasulullah hendak pergi ke Quba’. Pada suatu ketika, Rasulullah singgah di kediaman Ummu Haram. Beliau dihidangkan makanan Ummu Haram, lalu kemudian Rasulullah menyandarkan kepalanya dan bablas tertidur.
Saat terbangun, Ummu Haram mendapati Rasulullah tiba-tiba tertawa. Ummu Haram yang melihatnya pun terheran-heran dan bertanya
“Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?” tanya Ummu Haram. Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku, mereka berperang di jalan Allah dengan berlayar di lautan sebagaimana raja-raja di atas pasukannya atau laksana para raja yang memimpin pasukannya
Ummu Haram yang mendengarnya terdiam. Mencoba membayangkan pasukan muslimin yang biasanya berperang melewati gurun dan hutan menggunakan unta dan kuda mereka, kelak akan berperang di negeri asing melewati laut. Ummu Haram yang memang mendambakan sekali ikut berjuang di jalan Jihad pun langsung menatap antusias kepada Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar aku termasuk dalam golongan mereka.” Ujar Ummu Haram mantap.
Lalu Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallamberdo’a kepada Allah atas permohonan Ummu Haram. Kemudian beliau menyandarkan kepalanya lagi dan memejamkan mata. Beliau kembali tertidur. Tidak lama kemudian beliau terbangun dan tertawa kembali. Ummu Haram yang melihatnya bertanya lagi.
“Apa yang membuat Anda tertawa wahai Rasulullah?” tanya Ummu Haram lagi. Mendengarnya, Rasulullah kembali bersabda Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah laksana raja bagi pasukannya.’
Ummu Haram kembali berujar mantap,
“Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar aku termasuk dalam golongan mereka.” Ujar Ummu Haram untuk yang kedua kalinya. Kali Ini Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallamtersenyum.
“Engkau termasuk golongan mereka.”
PERANG DI LAUTAN LEBIH BESAR PAHALANYA
“ Dunia itu termasuk empat golongan, yaitu:
(1) Seseorang yang Allah beri ilmu dan harta lalu dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahim (hubungan dengan kerabat), dan mengetahui hak Allah atas harta tersebut. Orang ini yang paling utama kedudukannya di sisi Allah.
(2) Seseorang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta, lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat baik itu, dia dan orang pertama sama dalam pahala.
(3) Seseorang yang Allah beri harta tetapi tidak diberi ilmu, lalu dia menghabiskan harta tersebut tanpa bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturahim, dan tidak mengetahui hak Allah pada harta itu. Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Allah.
(4) Seseorang yang tidak diberi Allah harta dan ilmu, lalu berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam dosa .’” (HR. Tirmidzi, no. 2325 dan Ahmad, 4:231. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Ujub dengan amal shalih itu lebih buruk. Ketika sibuk dengan dunia, meninggalkan agamanya, Allah akan berikan kehinaan dapat kembali ke agama kalian. Umat kafir itu saling memanggil untuk menyantap kalian. Sahabat: Rasulullah, apakah karena kita sedikit jumlahnya? Rasulullah: justru kalian banyak. Seperti nih yang dibawa banjir.
Allah akan cabut ketakutan musuh kepada kalian dan Allah akan berikan penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati).
Assyuaro 88-89
Kehilangan agama lebih berat daripada kehilangan dunia di akhirat nanti. Karena apa? Karena maksiat.
Sesungguhnya orang yang hidup setelahku akan menemukan perpecahan yang banyak. Gigit dengan gigi geraham. Akan datang jaman orang yang memegang agama seperti memegang bara api.
Pegang agama dengan menuntut ilmu
Takutlah kalian dengan neraka, meskipun bersedekah dengan sebutir kurma.
Hisab: 1. Ringan Diingatkan dan 2. Berat, tapi berkilah dan dikunci mulutnya.
Tidak mungkin Allah ciptakan manusia sia-sia, melainkan ada tujuan besar. Adz Dzariyat 56
Al Dukhon 38-49
Tidaklah kami ciptakan langit dan bumi bukan sia-sia.
Ibadah: nama yang mencakup semua yang Allah sukai dan ridhoi, tampak maupun tersembunyi, tampak maupun batin. Tau dari mana Allah cinta/ ridho? Dari wahyu yang disampaikan ketiadaan Rasulullah. Berupa ucapan dan perbuatan.
Ucapan: hati dan lisan
Perbuatan : Hati (ikhlas, tawakal, cinta), lisan (dzikir, baca Quran), dan anggota badan (puasa, dhalat),
Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, ternyata itu baik untuk kamu.
Agama ini milik Allah
Ketika Umar menyuruh Rasulullah untuk memberi hijab, tapi Rasulullah belum berani karena belum turun perintah Allah. (Sahih bukhari Muslim, 126/2170)
Al Mulk 2
Allah mengatakan: aku melihat ibadah yang paling benar, ikhlas, bukan yang paling banyak.
Ibadah secara bahasa= tunduk dan patuh.
Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Kalau diberikan kelebihan bersyukur, kalau kekurangan bersabar
Ketahui bahwa kehidupan dunia itu perhiasan, saking berbangga,
Al Kahfi 65
Rasulullah mengumpamakan dunia seperti kotoran “Sesungguhnya yang keluar dari perut seseorang, itulah dunia. “
HR Imam Ahmad “Dunia itu lebih hina dari bangkai anak kambing”
“Dunia itu seperti sayap nyamuk”
Said “Ini ada dunia mau merusakku” saat mendapatkan uang. Ia berkata keluarga istrinya, “Apakah ktemu mau bantu ” iya, akhirnya uang itu dibagikan kepada rakyat.
Ulama: jadikan dunia seperti ludah
Imam Ahmad ditanya, “Orang yang memiliki 1000 dinar bisa disebut zuhud ketika dia tidak bersedih
Umat saat mau berwudhu, lalu ada yang bertanya “Air ini buat apa?” Umar bilang
Kajian Kitab ‘Renungilah Perjalanan Hidupmu ‘ ustadzah Ummu Ihsan – MIAS Depok – Rabu, 22 Oktober 225
Malaikat tidak pernah durhaka kepada Allah. Wajib mengimani malaikat, baik nama maupun sifatnya. Malaikat mengawasi dan senantiasa mencatat. Kenapa perlu mengimani? Karena iman itu naik-turun.
Malaikat tidak akan pernah salah dan melaksanakan tugasyang Allah berikan. Mereka mencatat semua ucapan manusia baik tayang nampak maupun tersembunyi. Barangsiapa mengerjakan kebaikan walau sebesar biji dzarah, ia akan melihat.
Inti serangan syaithon itu: syubhat atau syahwat.
Tidak seperti manusia yang perlu data, Allah tidak butuh malaikat. Hikmah ciptakan malaikat untuk mencatat amal tanpa terluput sedikit pun adalah untuk menampakkan ke-Maha Adilan Allah. Ketika ditampakan kepada manusia, kit tidak bisa mengelak sedikit pun. Pada hari kiamat, manusia akan mengingat semua perbuatan + data didepan mata.
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).
Semua berlutut menunggu dipanggil untuk menghadap Rabb semesta alam. Ketika seorang hamba tahu bahwa dirinyalah yang dicari dengan panggilan itu, maka seruan itu akan langsung menggetarkan hatinya. Tubuhnya gemetar dan ketakutan yang besar langsung menyelimutinya. Berubahlah rona wajahnya dan menjadi hampalah pikirannya. Kemudian kitab catatan amalnya dibentangkan dan dibuka di hadapannya. Lalu dikatakan kepadanya:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa setelah dihisab, ia kembali kepada sesama kaum beriman di Surga dengan hati yang gembira. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa rombongan pertama yang masuk Surga, wajah mereka seperti bulan purnama. Ini menunjukkan kegembiraan hati mereka. Karena apabila hati gembira, maka wajah akan ceria.” (Tafsiir Juz ‘Amma, hal. 114
Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, mereka akan menerima kitabnya dengan tangan kirinya. Allah Ta’ala berfirman:
“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku.” (QS. Al-Haqqoh: 25-29)
Kitab catatan amal mereka diberikan dari arah belakang punggung mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” (QS. Al-Insyiqaaq: 10)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka telah dulu di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila menyelisinya. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “…maka dia akan berteriak: “Celakalah aku…” yakni ia berteriak menyesali dirinya. Akan tetapi penyesalan tidaklah berguna lagi pada hari itu, karena habis sudah waktu untuk beramal. Waktu untuk beramal adalah di dunia, sedangkan di akherat tidak ada lagi amal, yang ada hanyalah pembalasan. (Tafsiir Juz ‘Amma, hal. 114)
MIZAN
Mizan di hari Kiamat adalah sesuatu yang hakiki dan benar-benar ada. Hanya Allah Ta’ala yang mengetahui seberapa besar ukurannya. Seandainya langit dan bumi diletakkan dalam daun timbangannya, niscaya mizan tersebut akan tetap lapang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 941).
Mizan ini memiliki dua daun timbangan sebagaimana diceritakan dalam hadits tentang kartu (bithoqoh) yang akan kami sampaikan haditsnya nanti. Lalu, apakah yang ditimbang pada saat yaumul mizan kelak? Para ulama kita berbeda pendapat tentang apa yang ditimbang pada saat yaumul mizan.
Ada tiga pendapat dalam masalah ini.
1. Yang Ditimbang Adalah Amal
Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).
Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Hajar al-Ashqolani rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad, no. 270 dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shahiih al-Adab al-Mufrad, no. 204)
2. Yang Ditimbang Adalah Orangnya
Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..
“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)
‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, I/420-421 dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, IX/75. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 3192).
3. Yang Ditimbang Adalah Lembaran Catatan Amal
Pendapat ketiga terakit apa yang akan ditimbang pada saat yaumul mizan kelak adalah lembaran catatan amalnya.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al-Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. II/213. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 135)
Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan, “Yang benar, mizan menimbang berat atau ringannya buku-buku yang berisikan catatan amal…” (At-Tadzkirah, hal. 313)
“Sesungguhnya kalian fakir di hadapan Allah, selalu merasa butuh kepada Allah. Tidak ada secuil apapun kebaikan/ Keburukan tanpa pertolongan Allah.
Hal terpenting: meminta pengampunan Allah.
Tidak akan bergeser sampai la ditanya pertanyaan: umur. waktu, kesempatan digunakan untuk apa? Jasadnya digunakan untuk apa? Hartanya dari mana di mana dibelanjakan? Ilmunya, seberapa telah la amalkan?
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).[al Insyiqaq/84:10-12].
Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.[al Mu’min/40:17].
Semua amal kita akan diperhitungkan. Kita yang akan dihisab harus yakin dengan berita ghaib. Iman itu bertingkat, bisa bertambah dan berkurang. Selain majelis ilmu, tidak ada tempat lain yang bisa menasihati kita dengan durasi sekian lama. Pandai-pandailah kita menasihati diri sendiri
Jenis hisab:
Al Ardh yang sifatnya umum, (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.
Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.
Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).
Munaqosyah, perhitungan kebaikan dan keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya, مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ “Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu baru al-‘aradh (penampakan amal). Namun barangsiapa yang diteliti hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari, no. 103 dan Muslim, no. 2876)
Allah akan mengampuni dan membuka pintu maaf seluas-luasnya.
Sibukan diri istighfar, taubat, sedekah
Tidak sulit bagi Allah untuk menghisab, tanpa penerjemah
Karunia terbesar adalah ketika Allah berikan iman dan Islam
Syarat tidak dihisab: tidak meminta ruqiyah
Demikian dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata :
Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mendekati seorang mukmin, lalu meletakkan padanya sitar dan menutupinya (dari pandangan orang lain), lalu (Allah) berseru : ‘Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?’ Mukmin tersebut menjawab,’Ya, wahai Rabb-ku,’ hingga bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman,’Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,’ lalu ia diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan munafik, maka Allah berfirman : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”.[HR al Bukhari].
Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allah, kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Lalu Allah menemui hambaNya dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta, serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?” Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman : “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab: “Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu, kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu. Juga aku telah shalat, bershadaqah,” dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab: “Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya),” kemudian dikatakan kepadanya: “Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu,” dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya: “Bicaralah!” Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah nasib munafik dan orang yang Allah murkai.[HR Muslim].
“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qomar: 52-53)
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.