Kajian Tauhid

Kajian Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga & 3 Landasan Utama (5 Agustus)

BUKU 1: MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA

Adab Terhadap Tetangga dan Masyarakat

4. Membimbing dengan lemah lembut

Bin Baz: Masa sekarang ini adalah masa lemah lembut

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Referensi)

Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan“. [HR Bukhari no: 6024, Muslim no: 2165].

a. Ajarkan secara bertahap.

Karena semua ada tahapan nya.

b. Ajarkan baca Alquran

Dalam Shahih al-Bukhari, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻪُ » [ أخرجه البخاري ]

“Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an.”[HR. Al-Bukhari 4739, at-Tirmidzi 2908, Abu Daud 1452, Ibnu Majah 211, Ahmad 1/69, dan ad-Darimi 3338]

c. Ajarkan tauhid

Mengingatkan tauhid dan mengingatkan tentang syirik

d. Ajarkan wudhu

5. Tidak mengganggu mereka

a. Tidak berbuat atau berkata jahat

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

b. Jangan menggunjing

Hasan Basri digunjingklau mengirimkan makanan kepada penggunjing nampanesr makanan lalu mengucapkan terimakasih sudah memberi pahala.

c. Tidak mencari-cari kejelekan mereka dan menutupi aib mereka

Nabi secara khusus melarang untuk mencari-cari dan membuka aib orang lain sebagaimana disebutkan dalam hadis,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian berbuat ghibah kepada kaum muslimin dan janganlah mencari-cari aurat (aib) mereka! Karena siapa saja yang suka mencari-cari aib kaum muslimin, maka Allah pun akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, hasan shahih)

Beliau juga bersabda,

ِالمُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ، لا يَظْلِمُهُ ولا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ

“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Muslim, no. 2564).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat nanti.” (HR. Muslim)

d. Jangan kepo agar ghibah kita sedikit

6. Sabar atas kejahilan manusia

Karena manusia itu jahil atau bodoh,  kecuali jika memiliki ilmu. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ ويَصْبِرُ عَلَى أذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar terhadap kejahatan mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap kejahatan mereka.”(HR. At-Tirmidzi no. 2507; Ibnu Majah no. 4032)

Ketika Nabi berdakwah, pamannya menyebut gila, tapi nabi tidak menjawab. Nabi terus berdoa,  hingga Allah jadikan anak cucu Abu LAhab masuk Islam.

Di antara cercaan Abu Jahal dan kebodohannya bahwa tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut pohon Zaqqum, Abu Jahal berdiri seraya berkata, “Wahai kaum Quraisy, tahukah kalian apakah pohon Zaqqum yang dijadikan oleh Muhammad sebagai gertakan kepada kalian?”

Mereka menjawab: “Tidak.”

Abu Jahal berkata, “Kurma kering Madinah dengan mentega, demi Allah seandainya memungkinkan, niscaya kami akan melahapnya dengan cepat –menelannya begitu saja-.” Kemudian, dia mendatangkan mentega dan kurma seraya berkata kepada teman-temannya: “Lahaplah dengan cepat!” Sebagai cemoohan dan ejekan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

“Sesungguhnya pohon Zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas.” (QS. Ad-Dukhan: 43-46)

Pohon yang jelek ini –Zaqqum- tumbuh besar di dasar Neraka, ia makanan Abu Jahal dan setiap orang yang berdosa serta musyrik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menamakannya pohon terlaknat. Apabila datang penghuni Neraka memakannya, lantas mendidih perut mereka sebagaimana air yang mendidih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa kesudahannya adalah tengah-tengah Neraka, makanannya Zaqqum dan minumannya nanah (al-Muhl). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjawab dengan metode pencibiran, penghinaan dan ejekan.

Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49)

Ini merupakan puncak dalam penghinaan dan pelecehan kepada Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman padanya, “Sesungguhnya engkaulah yang hina dina.”

7. Membalas keburukan dengan kebaikan

Dalam tauhid ada nusyroh: membalas sihir dengan sihir

Surat Fussilat Ayat 34
وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Imam Ath-Thabari pernah berkata, “Di antara contoh perbuatan baik adalah bersilaturahmi kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan kita, memberi kepada orang yang tak mau memberi, dan memaafkan orang yang telah menzalimi kita.”

Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah.

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ  ( الشورى: ٤٠ ) Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (QS. [42] Asy-Syura : 40)

Hasan Basri menampung air seni yang menetes dari tetangganya yang nasrani selama 20 tahun. Lalu ketika tetangganya menjenguk Hasan Basri yang sakit, ia bertanya air apa ini? Setelah tahu kebenarannya, ia pun memutuskan salibnya dan masuk Islam.

ADAB TERHADAP GURU

1. Sebelum memilih guru, istikharah

Berdoa dan istikharah: jika guru ini tidak baik untuk hamba, palingkan dari majelisnya. Guru itu tidak hanya diambil ilmu, tapi juga adab dan akhlaknya. Belajar dari yang mumpuni keahliannya, pendidikan, siapa gurunya, jelas keilmuannya, nampak kharisma/ kehormatannya, telah formal hafalannya.  sahabat mengobservasi dulu selama 2 bulan.  Lihat shalatnya. Note: also when you choose your future son in-law. ^^

BUKU 2: 3 LANDASAN UTAMA

Akan berbicara pada tahun-tahunmu itu ruwaibidah.

Nabi dikenal sebagai orang yang amanah. Rumah Nabi dan Khadijah itu penuh barang orang Quraisy yang dititipkan ke Rasul. Saat kabah sedikit berhalanya, Nabi suka shalat 2 rakaat. Setelah berhala semakin banyak, Nabi resah dan menyepi ke gua hiro. Lalu turunlah ayat: IQRO

IQRO. Kita ini umat baca. Aneh kalau umat baca tapi ga suka baca, terutama Alquran.

My Reflection

DAUROH MUSLIMAH 2

GOLONGAN WANITA YANG SEDIKIT

Ustadz Abu Usamah

Wanita perlu tauladan, terutama kita yang hidup di akhir zaman.
عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

“Dari al Miqdad bin al Aswad Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya”.

Wanita yang istimewa adalah sahabiyah yang semua kebaikan terkumpul kada mereka. Cukup mereka yang menjadi khudwah, role-model, teladan. Tidakkah kita ingin dikumpulkan dengan mereka di surga?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (H.R. Bukari)

Aisyah binti Abu Bakar

Jadikan Aisyah menjadi teladan. Ibunda kita, anak dari Ummu Rumman ini, tidak ingin menjadi fitnah kaum laki-laki.

‘Aisyah berkata,

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)

Wanita yang dinikahinya Musa adalah yang pertama ditemui, yang menampakkan rasa malu.

Surat Al-Qashash Ayat 25
فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِى يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيْهِ ٱلْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Aratib-Latin: Fa jā`at-hu iḥdāhumā tamsyī ‘alastiḥyā`ing qālat o nginqaitaa abī yad’ụka liyajziyaka ajra mā saqaita lanā, fa lammā jā`ahụ wa qaṣṣa ‘alaihil-qaṣaṣa qāla lā takhaf, najauta mnbaohaqiinal-qaumiẓ-ẓālimīn

Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

Imam Baihaqi: pembantu Aisyah bercerita kepada Aisyah tentang ia mencium Hajar aswad beberapa kali. Aisyah menghardik dan bertanya kenapa kau bercampur baur padahal itu adalah sunnah?

Ibunda Aisyah mendidik kita dengan rasa malu. Maka kita harus jaga fitrah rasa malu dan jaga hijab syari.

Durrah binti Abi Lahab

Ia tidak terpengaruh oleh lingkungan yang rusak. Ia adalah ammah Abu  Lahab dan Ummu Jamil. Abu Lahab membuntuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berdakwah, ia terus mengatakan ia gilaaa. Tapi Nabi tidak membalas.

Ummu Jamil gemar mencela Nabi, “Hai anak pemungut kayu.” Saat Ummu Jamil melihat Nabi bicara dengan Abu Bakar, ia mengatakan mencela Nabi yang ditutupi malaikat.

Durrah tidak terpengaruh dengan orang tuanya. Ini teladan bagi kita yang merasa tidak bisa melaksanakan kebenaran karena lingkungan.

Dari Abu Hurairah dan Ammar bin Yasir semoga Allah meridhai keduanya, keduanya berkata, “Saat Durrah binti Abu Lahan tiba di Maidnah, ia tinggal di rumah Rafi’ bin al-Ma’la az-Zarqa. Para wanita dari Bani Zarqa ini berkata, ‘Kamu putrinya Abu Lahab yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentanganya,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ، مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Quran Al-Masad: 1-2].

Tidak bermanfaat hijrahmu ini’. Ketus mereka.

Durrah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ia mengadukan pada beliau tentang apa yang mereka katakana. Nabi berkata, “Duduklah.” Kemudian beliau mengimami orang-orang mengerjakan shalat zuhur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membelanya di hadapan kaum muslimin. Meninggikan kedudukannya dari orang yang berbuat buruk padanya. Membuatnya tenang dari hal-hal yang menggelisahkannya. Semoga Allah meridhainya dan meridhai semua ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau duduk di mimbar, marah,  dan berkata,

أَيُّهَا النَّاسُ، مَالِي أُوذَى فِي أَهْلِي؟ فَوَاللَّهِ إِنَّ شَفَاعَتِي لَتُنَالُ بِقَرَابَتِي …

“Khalayak sekalian. Mengapa aku disakiti dengan diganggunya keluargaku? Demi Allah, sesungguhnya syafaatku akan sampai pada kerabatku…” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir 20681).

Kenapa Inilah salah seorang sepupu, ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau dan kepada semua anggota keluarganya.

Durrah menikah dengan Dihyah al Kalbi, pria tertampan di Madinah.

Nasibah binti Kaab (Nusaibah/ Ummu Umarah)

Diriwayatkan dari Tirmidzi dari Ummu ‘Umarah Al anshariyah bahwa beliau mendatangi Nabi dan mengatakan: Aku tidak melihat sesuatu kecuali itu diperuntukkan untuk para laki-laki, dan aku tidak melihat para perempuan disebut sedikitpun. Sehingga turunlah ayat : Sesungguhnya para muslim laki-laki maupun perempuan (QS Al Ahzab 35)

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Al Wajiz:Sesungguhnya para pembangkang hukum dan perintah Allah, entah dari golongan laki-laki maupun perempuan. Beserta orang-orang yang meyakini rukun iman, baik beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat. Beserta orang-orang yang senantiasa melakukan ketaatan, jujur dalam perkataan dan perbuatan, sabar dalam ketaatan dan meninggalkan maksiat, merendahkan diri di hadapan Allah baik hati maupun anggota badan. Senantiasa bersedekah baik sedekah wajib maupun sunnah. Berpuasa wajib baik puasa Ramadan, puasa nadhar, kafarat atas sumpah, pembunuhan maupun dosa. Menjaga kemaluan dari yang diharamkan. Senantiasa mengingat asma Allah baik dengan hati maupun lisan, sirri maupun tampak. Dengan keutamaan Alquran, Allah telah menyediakan curahan ampunan atas dosa-dosa mereka, juga pahala yang besar atas ketaatan mereka, yaitu kenikmatan akhirat. Qanit adalah hamba yang senantiasa taat. Khasyi’ adalah yang senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah karena takut dengan-Nya.

Jadilah wanita-wanita yang sedikit, seperti sahabiyah yang sudah disebutkan.

Bagaimana peran perempuan dalm perang? Untuk memberi minum dan mengobati.

Tapi ada masa saat panggilan jihad diserukan menuju Uhud, Nusaibah bersama suaminya, Ghaziyah bin Amr, dan dua orang putranya keluar di awal siang. Mereka berangkat untuk merawat para pejuang yang terluka di hari itu. Di sana Nusaibah juga turut berperang. Ia juga terluka dengan dua belas luka. Terkena hantaman panah dan sabetan pedang.

Ummu Said bin Saad bin Rabi’ berkata, “Aku menemui Nusaibah. Kukatakan padanya, ‘Tolong ceritakan kondisimu di Perang Uhud’. Ia bercerita, ‘Di pagi hari, aku keluar menuju Uhud. Aku melihat apa yang diperbuat oleh pasukan. Saat itu, aku membawa wadah yang berisi air minum. Hingga aku berjumpa dengan Rasulullah yang berada di tengah para sahabat. Kondisi saat itu berpihak pada kaum muslimin.

Tatkala kaum muslimin dipukul mundur, aku masuk ke pertempuran dan bersegera menuju Rasulullah. Aku menjadi rela terkena sabetan pedang, hujaman anak panah dan tombak demi melindungi Rasulullah. Aku pun banyak terluka’.

Ummu Said mengatakan, ‘Kulihat ada cekungan bekas luka di ketiaknya. Kutanyakan padanya, ‘Ummu Ammarah, siapa yang melukaimu di sini’? Ia jawab, ‘Aqbil bin Qamiah. Ia berkata pada orang-orang, ‘Beri tahu aku dimana posisi Muhammad. Aku tak selamat kalau dia selamat’. Lalu Mush’ab bin Umair menghadapinya. Sementara Aqbil bersama sejumlah pasukan. Lalu Aqbil menyerangku dengan satu hujaman. Inilah lukanya. Lalu aku serang dia dengan beberapa pukulan, namun dia memakai baju besi’.

Dhamrah bin Said al-Mazini bercerita tentang neneknya. Neneknya turut hadir di Perang Uhud bertugas menyediakan minuman untuk pasukan. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kedudukan Nusaibah binti Kaab pada hari ini lebih baik dari Fulan dan Fulan.” Pada hari itu, beliau melihat Nusaibah berperang dengan luar biasa. Ia menderita luka. Ia kencangkan pakaiannya dan iapun mengalami tiga belas luka.

Dhamrah melanjutkan, ‘Sungguh aku lihat Ibnu Qamiah menghatamkan senjatanya di ketiak Nusaibah. Itulah luka terparah yang ia alami. Ia sampai mengobatinya selama satu tahun. Sehari setelah Perang Uhud, ternyata utusan Rasulullah berseru mengajak menghadang musuh di Hamraul Asad. Ia sumbat lukanya itu dengan pakaiannya. Namun upayanya itu tak mampu menghalau darah yang keluar. Berlalulah satu malam dengan kondisi kami menahan sakit luka-luka yang kami alami. Sekembalinya dari Hamraul Asad, Rasulullah tidak memasuki rumahnya hingga sampai beliau mengutus Abdullah bin Kaab al-Mazini menemui Nusaibah. Ia bertanya tentang kondisinya. Nusaibah mengatakan ia dalam kondisi baik-baik saja. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah pun senang’.”

Muhammad bin Umar mengabarkan dari Abdurrahman bin Ammarah dari Ammarh bin Ghaziyah, ia berkata: Ummu Ammarah mengatakan, “Aku teringat saat Rasulullah dalam posisi terbuka. Di sisi beliau hanya ada beberapa orang saja. Tidak lebih dari sepuluh orang. Hanya ada aku, dua orang putraku, suamiku, dan beberapa orang di hadapanku. Sementara musuh-musuh berada di hadapanku.

Saat itu aku ingat, aku tak memiliki perisai. Kulihat seseorang yang tersandar namun ia memiliki perisai. Ada yang mengatakan, ‘Lemparkan perisaimu pada orang yang berperang’. Iapun melemparkan perisainya. Lalu kuambil dan kujadikan perisai untuk melindungi diriku dan Rasulullah. Para penunggang kuda itu hanya berhasil melakukan beberapa hal pada kami, kalau mereka infantri seperti kami, pastilah kami berhasil menghajar mereka insyaallah.

Seorang pasukan berkuda datang lalu menyabetku. Aku tangkis dengan perisai. Ia tak berhasil berbuat apa-apa dengan sabetan pedangnya. Saat ia berbalik, aku berhasil menyabet betis kudanya. Ia pun jatuh terlentang. Lalu Nabi berteriak, ‘Hai putra Ummu Ammarah, ibumu! Ibumu! Anakku membantuku mengatasi musuh tersebut.

Abdullah bin Zaid berkata, “Pada Hari Uhud aku mengalami luka di lengan kiriku. Seseorang melintas begitu cepat namun tak sampai menggulingkanku. Ia lalu pergi. Dan darah pun mengalir tak berhenti. Rasulullah mengatakan, ‘Sumbat lukamu’. Kemudian ibuku menemuiku. Ia membawa penyumbat luka yang memang ia persiapkan untuk merawat pasukan yang terluka. Lalu kuikat lukaku. Dan Rasulullah berdiri memandangiku.

Ibuku berkata, ‘Berdirilah, Nak. Serang mereka’! Nabi mengatakan, ‘Tidak ada yang mampu melakukan seperti yang kau lakukan, Ummu Ammarah’.

Ummu Ammarah berkata, “Seorang yang melukai putraku datang. Rasulullah berkata, ‘Ini dia orang yang melukai putramu’. Lalu aku cegat dia dan kutebas betisnya. Ia pun tersungkur’. Kata Ummu Ammarah, “Kulihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum sampai kulihat gigi grahamnya. Beliau berkata, ‘Lanjutkan Ummu Ammarah!’ Lalu kami serang orang itu. kami bunuh dia dengan senjatanya sendiri. Nabi mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang memberimu kemenangan dan membuatmu bahagia karena telah menuntaskannya. Kulihat kebahagiaan di matamu’.”

Karena kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ringan semua musibah temasuk kematian anak dan suaminya, yang penting Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selamat.

Setelah perng berakhir, keesokan harinya, Rasulullah shallallahu shallallahu wassalam berangkat lagi berperang. Ummu Umarah ingin ikut lagi.

Seperti pada Perang Uhud, beliau berada di garis depan untuk melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan panah dan pedang musuh menggunakan tubuh dan senjatanya sendiri saat perang Hunain.

Seperti pada Perang Uhud, beliau berada di garis depan untuk melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan panah dan pedang musuh menggunakan tubuh dan senjatanya sendiri.

KISAH PARENTING NUSAIBAH

Anak Nusaibah binti Ka’ab yang bernama Hubaib bin Zaid al-Anshari dibunuh secara kejam oleh Musailamah al-Kadzdzab karena menolak mengakuinya sebagai nabi. Rasulullah ﷺ mengutus Hubaib untuk mengantarkan surat dakwah kepada Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah. Musailamah menangkapnya, menginterogasinya, dan memotong anggota tubuh Hubaib satu demi satu setiap kali Hubaib berpura-pura tuli saat ditanya tentang kenabian Musailamah. Hubaib wafat sebagai syuhada yang sangat kokoh imannya.

Mendengar kabar kematian Hubaib yang tragis, Nusaibah bersumpah untuk ikut berperang demi membalas perbuatan Musailamah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Nusaibah bersama anak laki-lakinya yang lain, Abdullah bin Zaid, bergabung dalam pasukan Muslim untuk menyerbu Musailamah di Perang Yamamah. Dalam perang tersebut, Abdullah bin Zaid berhasil menusuk Musailamah menggunakan pedangnya (bersama dengan Wahsyi bin Harb yang melempar tombaknya), hingga nabi palsu tersebut akhirnya tewas.

SIFAT-SIFAT LANGKA WANITA

Ustadz Firanda Andirja

1. Taat kepada suami, masuk surga lewat pintu mana saja.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bertutur,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau.” (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)

Jika tidak shalat sunnah, puasa Ramadhan, menjaga kemaluan, tida semarang Berbicara kepada laki-laki/ memandang yang tidak-tidak, ikut shalat 5 waktu saja.

Kenapa ini penting? Karena dalam membina keluarga, perlu seseorang yang ditaati yaitu suami. Bahkan lebih taat suami daripada orang tuanya. Suami perlu memegang kendali agar rumah tangga bisa berjalan dengan baik.

Istri yang tidak menganggap suami sebagai tempat sandaran, tempat curhat, maka ia akan mencari di luar. Orang yang suka jalan ke luar, bukan berarti mereka bahagia. Bisa jadi mereka mencari di luar, karena tidak menemukan di rumah.

2. Mudah memaafkan, membantu suami

Sifat istri shalihah adalah seperti hadits yang diriwayatkan di dalam Kitab Sunan Al-Baihaqi dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ نِسائِكُمُ الوَدُودُ الوَلودُ ، المُوَاتِيَةُ ، المُوَاسِيَةُ ، إذا اتَّقَيْنَ اللهَ ، و شَرُّ نِسائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِلاتُ ، وهُنَّ المُنافِقَاتُ ، لا يدخلُ الجنةَ مِنْهُنَّ إلَّا مثلُ الغُرَابِ الأَعْصَمِ

“Istri kalian yang paling baik adalah al-wadud, al-walud, al-muwatiyah, al-muwasiyah, jika para istri tersebut bertakwa kepada Allah, dan istri yang paling buruk bagi kalian adalah istri-istri yang berdandan di hadapan laki-laki yang bukan makhramnya, al-mutakhayilat, dan wanita-wanita seperti ini adalah wanita-wanita yang munafik, tidak masuk ke dalam surga dari wanita-wanita seperti ini melainkan seperti burung gagak yang pada paruh dan kakinya berwarna merah (sedikit).” (HR. Al-Baihaqi)

  • Al-Wadud (الوَدُودُ)
    Ini merupakan sifat yang mulia dan tabiat yang terpuji pada seorang wanita dan istri yang salihah. Al-Wadud adalah yang disifati dengan penyayang dan memerlihatkan rasa sayangnya itu. Dan orang yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah suaminya.
  • Al-Walud (الوَلُودُ)
    Yaitu banyak keturunan. Ini merupakan sifat yang baik pada seorang wanita yang baik.

    Jika seorangwanita diuji dengan suatu penyakit (mandul), maka perkara ini tidak memudhorotkannya, karena hal ini tidak hanya terjadi pada dirinya saja. Oleh karena itu janganlah ia menyalahkan Allah karena penyakit ini, dan hal seperti ini tidaklah menafikan kebaikannya.
  • Al-Muwatiyah (المُوَاتِيَةُ)
    Yaitu yang tidak kasar dan keras. Bahkan ia penurut, mau mendengarkan, menaatinya, memenuhi permintaannya, dan tidak bersikap sombong dan merasa tinggi terhadap suami, serta tidak bersikap durhaka kepada suami. Ingin masalah cepat selesai,  segera minta maaf dan mengalah meski suaminya yang salah
  • Al-Muwasiyah (المُوَاسِيَةُ)
    Yaitu yang suka membantu suaminya dan berdiri di sisinya, mendukung suaminya untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allah, Dan mendukungnya dalam apa-apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh untuk mencari wanita salihah.

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda:

أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ

“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat.

Nabi ﷺ bersabda, “Empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan: 1. Istri yang shalihah; 2. Rumah yang luas.; 3. Tetangga yang shalih. ;4. Kendaraan yang cepat.

Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (282) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.3

3. Kerja sama dalam ketaatan

Kerjasama sangat suami-istri dalam ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

رحِمَ اللَّهُ رجلًا قامَ منَ اللَّيلِ فصلَّى وأيقظَ امرأتَهُ فصلَّت فإن أبَت نضحَ في وجهِها الماءَ رحِمَ اللَّهُ امرأةً قامَت منَ اللَّيلِ فَصلَّت وأيقَظَت زَوجَها فإن أبَى نضَحَت في وجهِهِ الماءَ
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu salat, dan membangunkan istrinya, lalu ia pun salat. Jika istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu salat, dan membangunkan suaminya, lalu ia pun salat. Jika suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”

(HR. Abu Dawud – hadis Hasan Shahih, dinilai oleh al-Albani)

Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun pada suatu malam lalu beliau berkata:

سُبْحَانَ اللهِ، مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ، مَنْ يُوْقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُـرَاتِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Subhanallaah, ujian apa yang Allah turunkan malam ini dan simpanan apa yang Dia turunkan untuk orang yang membangunkan istri-istrinya.Wahai kaum, banyak wanita-wanita yang berpakaian di dunia tapi telanjang pada hari Kiamat kelak.”

Bentuk kerjasama lain adalah membantu suami menundukkan pandangan dengan berhias diri saat berhasrat.

Pahala didapatkan wanita ketika bersegera melayani untuk kerjasama taat,  menundukkan pandangan. Bahkan ketika sedang mengerjakan sesuatu,  itu pahala

4. Dianjurkan: membantu keluarga suami

Suatu ketika, shahabat Jabir bin Abdillah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Saat pulang dari perang, beliau tertinggal dari rombongan disebabkan onta beliau yang kelelahan. Nabi pun mendatangi beliau dan bertanya, “Ini Jabir?” Jabir menjawab, “Iya Rasulullah.” “Ada masalah apa Jabir?” Nabi kembali bertanya. Jabir menjawab, “Ontaku lambat dan kelelahan sehingga aku tertinggal.”

Kemudian Nabi pun menusuk onta Jabir dengan tongkatnya seraya berkata, “Naiklah!” Jabir pun naik, dan tatkala ontanya melaju kencang, ia pun menahannya agar tak mendahului Rasulullah. “Engkau sudah menikah Jabir?” Tanya Rasulullah. “Iya.” Jawab Jabir. “Perawan ataukah janda?” Rasulullah kembali bertanya. “Janda”. Jawab Jabir kemudian.

Nabi bertanya, “Kenapa tidak menikahi perawan saja? Engkau bisa bermain dengannya dan ia bisa bermain pula denganmu”. Jabir menjawab, “Aku ini memiliki saudari perempuan yang banyak. Aku menikahi janda agar ada wanita yang merawat, mengurusi dan menyisiri rambut mereka”. Nabi pun menasehati, “Adapun jika engkau telah sampai di rumah, maka kumpulilah istrimu, kumpulilah istrimu” (HR. Al-Bukhari no. 2097 dan Muslim no. 1089).

Hadits ini juga dalil bolehnya bujang menikahi janda. Bahkan di sebagian kondisi, menikahi janda lebih utama daripada gadis perawan. Di sini Jabir ingin agar adik-adiknya ada yang merawat dan mengurusi tatkala ia menikahi janda. Sehingga ia merasa terbantu dengan kehadiran istrinya. Boleh jadi ketika ia menikahi gadis perawan, maka bebannya akan bertambah, di samping mengurusi adik-adiknya, ia harus mengurusi gadis yang semisal dengan adik-adiknya.


Menikahi janda tidaklah selalu melihat sisi mashlahat untuk si janda, boleh jadi mashlahat untuk suami. Jabir akan merasa terbantu merawat dan mengurusi adik-adiknya jika ia menikahi seorang janda.

5. Menghibur saat suami kesulitan

Kita bisa belajar dari Khadijah. Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ kembali ke rumah menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi istrinya lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat:

فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا

“Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.”

Beliau ceritakan semua yang ia lihat dan alami. Melihat Jibril dan diseru menjadi seorang utusan Allah (rasulullah). Dari peristiwa ini setidaknya dapat kita petik dua pelajaran tentang menjalani kehidupan berumah tangga. Peranan istri dan juga keterbukaan suami. Dua hal yang menjadi penyebab langgengnya rumah tangga.

Kisah lain dari Ummu Sulaim.  Lihat kisah ini dan gali pelajaran menarik di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putra Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu putranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh putraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya putranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”

Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

6. Ketika istri berharta ia bantu suaminya

Zainab, istri ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, kembali ke rumahnya setelah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menasehati kaum Hawa,

يا معشرَ النِّساءِ تصدَّقنَ ولو من حُليِّكُنَّ

“Sedekahlah wahai kaum wanita, meskipun dengan gelang perhiasan kalian.”

Tatkala Zainab tiba di rumahnya, dia menemui suaminya yang sedang duduk, lalu berkata kepadanya,
“Kamu adalah laki-laki miskin dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kami (para wanita) untuk bersedekah. Datangilah beliau dan tanyakanlah, Apakah ada pahala bagiku jika aku bersedekah kepadamu. Jika tidak, akan aku salurkan kepada orang lain”.

Ibnu Mas’ud merasa malu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan permintaan istrinya.
“Kamu saja yang kesana!” jawabnya kepada istrinya.
Pergilah Zainab menuju rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia berpapasan dengan seorang wanita Anshar yang ingin menanyakan pertanyaan yang serupa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, Zainab meminta tolong Bilal untuk menanyakan masalah mereka.
Bilal pun segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan titipan pertanyaan kedua wanita tersebut.

“Siapa keduanya?” tanya Rasulullah.
“Seorang wanita Anshar dan Zainab.” jawab Bilal.
“Zainab yang mana?” tanya Rasulullah lagi.
“Istri ‘Abdullah bin Mas’ud.” timpal Bilal.
“Mereka berdua mendapat dua pahala, pahala kekerabatan dan pahala sedekah”. (HR. Bukhari no.1466, Muslim no.80).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab pertanyaan kedua wanita tersebut. Zainab pulang ke rumahnya dengan perasaan bahagia.

Bukan hanya itu yang dilakukan Zainab untuk menambah ilmunya, dia pun banyak meriwayatkan hadits dari suaminya, ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Dia pun dikenal sebagai salah seorang wanita faqihah (paham agama).




7. Tidak pernah membandingkan dengan lelaki lain

Pada tahun 2 H, Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk mencegat kafilah Abu Sufyan. Tanpa disangka, kemudian peristiwa inilah menjadi sebab Perang Badar. Abu Salamah turut serta dalam rombongan yang mencegat kafilah. Dan tentu saja ia juga terlibat dalam Perang Badr. Dalam perang itu ia menderita luka. Luka itu sempat sembuh, tapi kemudian kambuh kembali. Hingga menyebabkannya wafat pada Jumadil Akhir tahun 3 H (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah, 3/190).

Ummu Salamah menceritakan, “Suatu hari, Abu Salamah menemuiku. Ia baru saja menemui Rasulullah. Ia berkata, ‘Aku mendengar dari Rasulullah sebuah perkataan yang membuatku bahagia. Beliau bersabda,

لا يُصِيبُ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مُصِيبَةٌ فَيَسْتَرْجِعَ عِنْدَ مُصِيبَتِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ فُعِلَ ذَلِكَ بِهِ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah. Kemudian ia beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un) saat musibah tersebut terjadi. Setelah itu berdoa, ‘Ya Allah berilah aku pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’. Kecuali Allah akan mengabulkannya.”

Kata Ummu Salamah, “Aku pun menghafalkannya.”

Ketika Abu Salamah wafat, aku beristirja. Dan berdoa, “Ya Allah berilah pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya.” Setelah itu, aku renungkan ucapanku dan bertanya pada diriku, “Adakah untukku yang lebih baik dari Abu Salamah?” Setelah iddahku selesai, Rasulullah meminta izin padaku. Saat itu aku sedang menyamak kulit. Kucuci tanganku dan kuizinkan beliau masuk. Aku pun membentangkan alas duduk dari kulit yang berisi serat. Beliau pun duduk di atasnya dan meminangku untuk dirinya. Setelah beliau selesai berbicara, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapa aku ini untuk tidak menerimamu. Tapi aku adalah seorang wanita yang sangat pencemburu. Aku khawatir Anda melihat pada diriku sesuatu yang menyebabkan aku diadzab oleh Allah. Dan aku adalah wanita yang sudah berusia dan memiliki anak-anak.”

Rasulullah menanggapi,

أَمَّا مَا ذَكَرْتِ مِنَ الْغَيْرَةِ فَسَوْفَ يُذْهِبُهَا اللَّهُ مِنْكِ، وَأَمَّا مَا ذَكَرْتِ مِنَ السِّنِّ فَقَدْ أَصَابَنِي مِثْلُ الَّذِي أَصَابَكِ، وَأَمَّا مَا ذَكَرْتِ مِنَ الْعِيَالِ فَإِنَّمَا عِيَالُكِ عِيَالِي

“Yang engkau sebut berupa kecemburuan, Allah akan menghilangkan hal itu darimu. Tentang umurmu, aku pun telah berumur sebagaimana engkau. Dan tentang anak-anakmu, anak-anakmu juga anak-anakku.”

Ummu Salamah menjawab, “Aku terima lamaran Anda, Rasulullah.”

Kemudian ia mengatakan, “Sungguh Allah telah menggantikan untuk diriku seseorang yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah.” (Ibnu Katsir” as-Sirah an-Nabawiyah, 3/175).

8. Orientasinya bukan dunia

Mari belajar dari Ummu Sulaim,  ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???


Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan

tawaran mahar yang tinggi. Beliau kaya raya. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau usaberkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

9. Memiliki sifat pemalu

Jangan saling putra-putri kita menonton hal yang merusak rasa malu, baik di layar maupun di dunia nyata (misalnya kalau ke luar negeri)

Belajarlah dari kisah istri nabi Musa dalam kisah Al Qashash 26-27

قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ


Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

قَالَ إِنِّىٓ أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ٱبْنَتَىَّ هَٰتَيْنِ عَلَىٰٓ أَن تَأْجُرَنِى ثَمَٰنِىَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Arab-Latin: Qāla innī urīdu an ungkiḥaka iḥdabnatayya hātaini ‘alā an ta`juranī ṡamāniya ḥijaj, fa in atmamta ‘asyran fa min ‘indik, wa mā urīdu an asyuqqa ‘alaīk, satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣāliḥīn

Artinya: Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.


Pilih sirkel yang benar untuk menjaga rasa malu kita.

Ustadz Firanda
Kajian tematik, Lectures of Life

Overthinking, Otak Capek,  Hati Lupa Allah (Kajian Ustadz Subhan)

Tetaplah menyampaikan ilmu di mana saja,  berdakwah.

Abdullah bin Hambal bertanya kepada ayahnya, “Sampai kapan aku belajar? Sampai liang lahat.”

Syaikh Shalih, “Belajar agar otak terisi dengan pikiran yang baik.”

Jangan banyak bicara tanpa dzikir karena isinya membuat hati ini keras. Manusia yang hatinya keras paling jauh tempatnya dari Allah.

Seharusnya manusia paling berilmu menjadi manusia paling low profile.

Perlu menuntut ilmu untuk menjadikan hati punya perasaan, otak memiliki pikiran

Jadikan otak wadah pikiran,  karena itu perlu belajar. Pikiran dan perasaan itu terjaga dengan ilmu, seperti kisah nabi Adam yang memohon ampun kepada Allah. 

KENAPA PERLU BELAJAR:

  1. Karena manusia lahir tanpa ilmu.  Seperti bahasa, tidak ada orang yang lahir memiliki bahasa.
  2. Agar fokus, tidak mudah terdistraksi
  3. Membentuk kesadaran diri dan idealisme, karena GA AKAN SUKSES KALAU GA IDEALIS. Samakan orang yang berilmu dengan yang tidak. Kaya jiwa lebih baik dari kaya harta, karena ia akan beradaptasi. Agar istiqomah. Makanya dalam Quran itu iqro bukan khatam.  Lakukan berulang.
  4. Agar layak dan bermanfaat di tengah masyarakat. Ilmu lebih baik daripada harta. Ketika dia tidak punya harta, dengan ilmunya dia tahu apanyangbharus dilakukan dengan segala kalangan
  5. Dengan ilmu, jadi tahu kewajiban dan mudah memberi maklum akan kekurangan orang lain. Tanpa ilmu, kita sulit berumahtangga, yang ilmunya salah satunya terdapat dalam ArRum 21.
  6. Pendidikan akan membuat pemilik ilmu berbeda dengan yang lain yang tidak belajar, tidak mudah takut dengan dunia (Aisyah tidak memohon punya anak, tidak berburuk sangka, tapi memanfaatkan waktu.

BAGAIMANA CARA AGAR OTAK TIDAK CAPEK:

  • Berniat beribadah sungguh-sungguh
  • Kesungguhan buat beribadah
  • Kuatkan ibadah dengan ilmu
  • Jangan memaksakan diri di luar kemampuan
Kajian Buku "Waktumu Dihabiskan Untuk Apa"

Cara Mengefesienkan Waktu (Kajian Waktumu Dihabiskan untuk Apa?) Ustadzah Abu Usamah – Masjid Babussalam

(Hal 25) Bab 1: Macam-macam Kekosongan

As Syams 9-10

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Digabungkan antara zikir, shalat, dan jiwa. Cara kita mengingat Allah adalah dengan shalat. Ibnu Taimiyah menyebut ada orang yang secara fisik tidak tampan,  tapi karena menjaga shalat, tapi kita nyaman berada di samping dia.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Al Ala 14-15

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.
Referensi: https://tafsirweb.com/12561-surat-al-ala-ayat-15.html

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,

وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان

“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)

Para ulama, ahli ilmu,  du’at adalah para dokter hati.  Bukankah Al Quran itu syifa untuk membuat hati jadi sehat.

Dokter kata Imam Syafii ada 2: dokter hati dan dokter fisik.

D majelis ilmu, bersama-sama dengan jamaah.

Urutan 1 dokter spesialis hati adalah para rasul, maka ikuti cara Rasul dan para anbiya.

Tazkiyatun nufus, berlaku pada 2 hal:

  1. Terkait hak Allah: menegakkan ketaatan dan menjauhkan yang Allah larang dengan hati yang lapang
  2. Terkait hak sesama manusia: bermuamalah kepada manusia dengan cara yang kita senang diperlakukan dengan cara yang sama

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim, no. 1844)

Cek hati kita, apakah kita senang saat saudara kita senang? Jika tidak, maka cek hati dan keimanan kita.

Orang yang hasad, sebenarnya sedang ‘kurang ajar’ kepada Allah. Ketika mengapresiasi, jangan pakai ‘tapi’, agar tidak tumbuh hasad karena seakan memenggal leher saudaranya.

Bab 2: Cara Mengefesienkan Waktu

  1. Lakukan Kegiatan yang Bermanfaat
    • Dunia dan akhirat.  Yang paling bermanfaat adalah ibadah, karena itu tujuan kita diciptakan. 
    • Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

      الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

      “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

      (HR. Muslim)

      [Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]
    • QS Adz Dzariyat:56
      • وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
      • Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
    • Ibnu Abbas: setiap perintah ibadah , didalamnya terdapat perintah tauhid
    • QS Hud 128-119
      • وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
      • إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ
      • Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,
      • Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya
    • Ketetapan Allah:
      • Irodah kauniyah: Allah ciptakan hal yang belum tentu Allah cintai (iblis). Hikmahnya adalah itu akan jadi ujian bagi manusia.
      • Irodah syariyah: terikat dengan kecintaan Allah. Kalau Allah takdirkan, maka itu pasti Allah cintai/ senangi

Catatan kajian ini dapat memiliki kesalahan (Mierza)

AHA Membaca, My Reflection

Kolase dan Resume Buku AHA! Membaca Ramadhan 1447 Hijriyah (Maret 2026)

Program AHA! Membaca adalah sebuah klub literasi dari A+ Home Academy yang telah berdiri sejak dua tahun lalu. Awalnya, AHA! Membacahanya beranggotakan peserta homeschooling.

Kini, program ini telah membuka pintu bagi siapa saja yang siap mengikuti syarat dan ketentuan untuk menumbuhkan rasa cinta serta kebutuhan membaca melalui kegiatan terstruktur, seperti pengumpulan kolase buku setiap Selasa pekan pertama dan ketiga serta pembuatan resume visual untuk diskusi rutin di Zoom setiap Selasa pekan kedua. Untuk pekan keempat, AHA! MEmbaca merancang kegiatan Literacy Trip.

Seluruh kegiatan dikelola bersama orang tua yang siap (lelah untuk) berkolaborasi dan mendampingi anak-anak yang menjadi panitia kegiatan-kegiatan daring maupun luring.

Melalui pendekatan yang mengutamakan pemilihan bacaan aman sesuai syariat, program ini bertujuan mengolah kecakapan hidup peserta dalam mengelola waktu, menyerap isi bacaan, hingga bersosialisasi melalui literacy trip dan diskusi interaktif dengan dukungan penuh pendampingan orang tua

Berikut kegiatan perdana AHA! Membaca yang dilaksanakan pada bulan Maret 2026.

KOLASE BUKU DARI ANGGOTA AHA! MEMBACA

RESUME BUKU AHA! MEMBACA

My Reflection

INFO UNTUK ANGGOTA KLUB AHA! MEMBACA

Apa yang dilakukan di AHA! Membaca?

  1. Menumbuhkan rasa dan kebutuhan untuk membaca
  2. Mengatur jadwal dan prioritas, misalnya memasang alarm dan tulis di agenda untuk:
    • Pengumpulan kolase buku yang dibaca pada Selasa pekan ketiga
    • Membuat resume untuk H-1 pertemuan Selasa pekan kedua
  3. Mengolah kecakapan hidup untuk mengelola manusia, kegiatan, membumikan bacaan, dan bersosialisasi melalui literacy trip

Selasa pekan 3: MENGUMPULKAN KOLASE BUKU

  1. Untuk Ramadhan ini, hanya buku agama Islam (tauhid, fiqih, muamalah, tazkiyatun nafs)
  2. Setelah Ramadhan, akan ada informasi buku wajib.
  3. Selain buku wajib, pastikan buku lainnya aman secara syariat (tidak mengandung sihir kurafat, tahayul, dan membahayakan tauhid), atau membuai syahwat
  4. (Setelah Ramadhan) oleh buku fiksi selama aman dari yang disebutkan pada nomor 1)
  5. Dari buku yang sudah dibaca, PILIH MINIMAL 4 BUKU rekomendasi dan difotokan dengan DATA DIRI + caption #AHAmembaca

Contoh:

Bisa difotokan seperti ini. Tambahkan nama dan #AHA!membaca di fotonya.
Atau seperti ini, atau pakai Canva, bebas.
Pastikan izin orang tua sebelum mengakses internet

Saran bu Mierza, sediakan book hive, atau tempat menaruh buku yang akan dilaporkan, agar tidak lupa. Apalagi kalau frekuensi membaca kalian banyak. ✨

Kalau baca pinjaman buku perpustakaan/ selainnya, jangan lupa kumpulkan fotonya.

Atau kembalikan setelah difoto hehe. 👌
Boleh lebih dari 4? Boleh. awal-awal baru 1 juga boleh.

Selasa pekan 2 : PERTEMUAN UNTUK DISKUSI BUKU

YANG HARUS DIBUAT ADALAH RESUME BUKU

Pertemuan rutin klub di ZOOM jam 13.30 untuk berbagi resume dan diskusi buku. Ruangan ZOOM laki-laki dan perempuan dipisahkan.

  1. AHA! Literacy Trip to Library/ Excursion (atau klub buku ZOOM dipandu 2 peserta + orang tua, bagi yang tidak mengadakan Lit Trip). Bisa juga dialihkan jadi Rabu siang.
  2. Orang tua WAJIB menggali, mengajari, mendampingi, mengarahkan ananda di luar sesi—karena ini klub, bukan kelas.
  3. Bagi peserta yang tinggal di luar Jabodetabek, disarankan mengajak minimal 2 orang agar bisa membuka AHA! Lit Trip. Untuk pendampingan kepanitiaan lokal insyaallah akan dibantu – dengan titik lelah di orang tua.
  4. AI Detector akan digunakan untuk memindai resume. Bagi yang menggunakan, akan dikenakan sanksi.
  5. Resume dikumpulkan H-1
  6. Berikutnya: Zoom pekan 2 atau 4 (salah satunya literacy trip).
  7. Jika peserta tidak ikut/ selenggarakan trip, kemungkinan ZOOM Rabu 13.30 ya, biidznillah – kecuali udzur seperti sakit atau pekan ulangan tatap muka.
  8. Bentuk pengumpulan resume berbentuk visual, boleh manual atau pakai komputer, direkomendasikan ukuran 3×4, minimal 1 lembar.

Contoh resume:

Jangan lupa taruh nama di resume ya.
Untuk font, atau besar huruf, pastikan terbaca di layar. Biasanya minimal 16.
Jika kalian ingin membuat secara manual, bisa gunakan/tebalkan dengan spidol.
  • Pada saat ZOOM, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang dipandu panitia di grup diskusi.
  • Peserta yang menyimak WAJIB bertanya. Insya Allah nanti Ibu berikan contoh pertanyaan-pertanyaan, ya. Ini juga untuk membantu pembaca resume menyiapkan jawabannya.

CONTOH PERTANYAAN

Tentang Keagungan Allah (Tauhid)

  1. Setelah membaca buku ini, kekuasaan Allah yang mana yang paling kamu kagumi?
  2. Bagian mana yang membuatmu makin bersyukur atas ciptaan Allah?
  3. Apakah buku ini mengingatkanmu pada satu ayat Al-Qur’an atau Hadis?
  4. Bagaimana cara kita menjaga alam/ilmu ini sebagai amanah dari Allah?
  5. Hal apa yang membuatmu merasa Allah Maha Pintar mengatur segalanya?

Tentang Ilmu & Adab (Edukasi)

  1. Apa pelajaran paling berharga yang kamu dapat?
  2. Adakah informasi yang baru pertama kali kamu tahu?
  3. Bagian mana yang paling sulit? Bagaimana kamu mengatasinya?
  4. Ilmu di buku ini bisa dipakai untuk menolong orang lain tidak?
  5. Apakah penulisnya jujur dalam memberikan fakta?

Tentang Perasaan & Pikiran (Refleksi)

  1. Apa kamu jadi makin semangat belajar setelah baca buku ini?
  2. Hal apa yang ingin kamu ceritakan kepada orang tuamu?
  3. Apakah buku ini mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu?
  4. Apa pertanyaan yang belum terjawab di buku ini?
  5. Gambar mana yang paling membantumu memahami ilmu di dalamnya?

Tentang Manfaat & Amal (Penerapan)

  1. Setelah membaca ini, apa hal baik yang ingin kamu lakukan?
  2. Mengapa buku ini bermanfaat untuk dibaca oleh teman-teman kita?
  3. Bagaimana buku ini membantumu menjadi anak yang lebih baik?
  4. Jika kamu jadi penulisnya, apa lagi yang ingin kamu tambahkan?
  5. Kenapa waktu yang dipakai untuk membaca buku ini tidak sia-sia?

Tentang Analisis Isi (Berpikir Kritis)

  1. Tujuan Penulis: Menurutmu, apa alasan utama penulis membagikan ilmu dalam buku ini?
  2. Kesesuaian Judul: Apakah judul buku ini sudah mencerminkan isi informasi di dalamnya?
  3. Bagian Tersulit: Adakah bagian yang sulit dipahami? Bagaimana cara kamu mengatasi kesulitan tersebut?
  4. Keakuratan Data: Apakah fakta dalam buku ini didukung oleh data atau contoh yang kuat?
  5. Hal Paling Bermakna: Dari seluruh isi buku, mana informasi yang menurutmu paling berharga untuk kita ketahui?

Tentang Refleksi & Wawasan (Edukasi)

  1. Perubahan Sudut Pandang: Apakah ada pemikiranmu yang berubah setelah mempelajari fakta-fakta dalam buku ini?
  2. Kaitan Realita: Bagaimana informasi dari buku ini berkaitan dengan apa yang kita pelajari?
  3. Nilai Karakter: Nilai positif apa yang bisa kita teladani dari cara penulis menyampaikan informasinya?
  4. Manfaat Jangka Panjang: Mengapa ilmu dari buku ini penting untuk masa depan kita?
  5. Minat Belajar: Setelah membaca ini, topik apa lagi yang ingin kamu pelajari lebih dalam?

Tentang Evaluasi Penyajian (Literasi)

  1. Gaya Bahasa: Apakah bahasa yang digunakan penulis mudah diikuti oleh pembaca seusia kita?
  2. Saran perbaikan: Jika kamu menjadi editor, bagian mana yang ingin kamu lengkapi agar informasi buku ini lebih jelas?
  3. Efektivitas Gambar: Bagaimana peran ilustrasi dalam membantumu memahami teori atau konsep yang rumit?
  4. Perbandingan Sumber: Apakah informasi di buku ini sama dengan yang pernah kamu dengar sebelumnya, atau ada perbedaan?
  5. Kesan Mendalam: Apa hal yang paling menyentuh rasa ingin tahumu saat membaca bab demi bab?

Diskusi Lanjutan (Sosialisasi)

  1. Rekomendasi Spesifik: Untuk siapa buku ini paling bermanfaat jika dibaca di lingkungan kita?
  2. Aplikasi Pengetahuan: Bagaimana cara kita mempraktikkan ilmu dari buku ini dalam kehidupan sehari-hari?
  3. Pertanyaan untuk Penulis: Jika berkesempatan berdiskusi dengan penulisnya, pertanyaan ilmiah apa yang ingin kamu ajukan?
  4. Metode Membaca: Strategi apa yang kamu gunakan agar bisa memahami buku non-fiksi ini dengan baik?
  5. Kesimpulan Utama: Apa pesan penutup yang paling ingin kamu sampaikan kepada kami tentang buku ini?

Syarat Pendaftaran AHA! Membaca

  1. Orang tua bisa mendampingi
  2. Pengumpulan tepat waktu
  3. Ikut dengan kemauan ananda sendiri dan mengirimkan surat kesediaan yang ditulis tangan
  4. Membayar biaya Rp39.000 per bulan
  5. Bisa menggunakan kamera yang mengarah ke buku

CATATAN:
Secara tentatif akan diberikan juga soal-soal/kegiatan penalaran buku sejenis/menuju TKA (tapi ini diadopsi dari IB Language & Literature) yang dirancang sesuai usia. Pembahasan dilakukan oleh panitia. Bu Mierza hanya memberi game/kunci jawaban.

Kajian Buku "Waktumu Dihabiskan Untuk Apa"

Beratnya Mensucikan Jiwa (kajian Buku “Waktumu Dihabiskan untuk Apa?” Ust Abu Usamah – Babussalam – 24 Feb 2026)

Ramadan adalan musim pengampunan dosa. Para sahabat banyak menghabiskan waktu, karena lebih aman ( tidak bergunjing) .

Banyak keterkaitan antara Ramadan dan tazkiyatun nafs.

Hal 23

Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah : “Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya : “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab : “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati”

Salamah pernah menasihat khalifa “Wahai imam, kenapa kami benci mati?” Beliau berkata, ” Yang menyebabkan adalah terlanjur membangun dunia, lalu akhirat dia hancurkan.” Beberapa ulama mengibaratkan dunia dan akhirat itu laksana memiliki 2 istri, pasti ada kecondongan.

Diantara penyakit hati: centa dunia. Allah akan mencampakkan  penyakit kehinaan (wahn): Cinta dunia dan takat mati

Barangsiapa sampai gersang jiwanya

Surat Nur : 50

أَفِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرْتَابُوٓا۟ أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُۥ ۚ بَلْ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Allah membahas orang munafiq sampai belasan ayat, tapi kafir hanya ayat karena mereka lebih berbahaya. Ayat diatas membahas tentang orang munafik yang tidak jihad. Dalam surat jihad, ada bahasan tentang menuntut ilmu. Maka orang yang Jauh dari majelis Ilmu memiliki nifaq, meski yang menuntut ilmu pun masih merasa tidak aman.

Surat An-Nur Ayat 48
وَإِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ

Artinya: Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

Orang munafik diliputi keragu-raguan untuk mengambil hukum Allah dan disebut dzalim. Adapun orang salih menghiasi hatinya dengan Iman. Mereka tidak sibuk mencari pandangan manusia, melainkan ridho Allah. Mereka sibuk dengan memperbaiki amal, menambah iman di majelis ilmu. Masjid adalah benteng iman terbaik.

Hasan Basri: ” Lihat selalu amalmu: apakah di atas amal baik, atau amal buruk? “

Allah Ta’ala melarang Adam ‘alaihissalam dan Hawa untuk tidak sekali-kali mendekati pohon terlarang, terlebih lagi memakan buahnya. Namun akibat godaan dari Iblis, Adam ‘alaihissalam dan Hawa memakan buah dari pohon tersebut sehingga Allah Ta’ala marah dan mengusir mereka dari surga dan menurunkan mereka ke bumi. Namun setelah Nabi Adam ‘alaihissalam dan Istrinya, Hawa, melakukan kesalahan tersebut, mereka menyesal dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala dengan lafadz doa yang Allah Ta’ala wahyukan kepada Adam ini.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الأعراف 23]

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Minta kepada Allah untuk Istiqamah

Surat Al-Isra Ayat 74
وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيلًا

Arab-Latin: Walau lā an ṡabbatnāka laqad kitta tarkanu ilaihim syai`ang qalīlā

Artinya: Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

-mu di sini adalah Nabi ﷺ –

Surat Hud Ayat 112
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Arab-Latin: Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahụ bimā ta’malụna baṣīr

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Cari jalan istiqomah ( tetaplah kamu pada jalan yang benar ) sesuai syariat sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ sesuai kehendak Allah.

Sekelas Nabi Yusuf pun mendapat ujian istiqomah:

Surat Yusuf Ayat 53
۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2 ayat ini adalah penghiburan bagi yang terjerumus hawa nafsu, ingat kisah 99 orang yang dibunuh yang ditunjukan kepada orang alim. Jangan putus asa

Bantu diri dengan doa, terlebih bulan ini yang merupakan bulan doa. Salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orang yang berpuasa.


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.

Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Surat Asy-Syams Ayat 9
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا


Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Surat Ali ‘Imran Ayat 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Arab-Latin: Kullu nafsin żā`iqatul maụt, wa innamā tuwaffauna ujụrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuḥziḥa ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Surat Thaha Ayat 75 – 76
وَمَن يَأْتِهِۦ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلْعُلَىٰ

جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ


Artinya: Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).

catatan Atika

Kajian Tafsir, Lectures of Life

Kajian Tafsir Alfajr 16-30 Ust Dzajuli – Babussalam – 10 Feb 2026

وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابۡتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهٗ ۙ فَيَقُوۡلُ رَبِّىۡۤ اَهَانَنِۚ‏ ١٦ كَلَّا بَلۡ لَّا تُكۡرِمُوۡنَ الۡيَتِيۡمَۙ‏ ١٧ وَلَا تَحٰٓضُّوۡنَ عَلٰى طَعَامِ الۡمِسۡكِيۡنِۙ‏ ١٨ وَتَاۡكُلُوۡنَ التُّرَاثَ اَكۡلًا لَّـمًّا ۙ‏ ١٩ وَّتُحِبُّوۡنَ الۡمَالَ حُبًّا جَمًّا ؕ‏ ٢٠

16.Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”1 17.Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,1 18.dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, 19.sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), 20.dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Seharusnya: diberi nikmat bersyukurlah, diberi ujian bersabar. Manusia cenderung bangga terhadap pencapaianya, lalu menyalahkan Allah jika tidak sesuai. Pikiran itu menjauh dari amal salih karena hatinya bermasalah. Kalaupun ada itu hanya kemunafikan atau kepura-puraan. Orang seperti ini tidak akan pernah puas.

كَلَّاۤ اِذَا دُكَّتِ الۡاَرۡضُ دَكًّا دَكًّا ۙ‏ ٢١ وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالۡمَلَكُ صَفًّا صَفًّا ۚ‏ ٢٢ وَجِاىْٓءَ يَوۡمَٮِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَ  ۙ يَوۡمَٮِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الۡاِنۡسَانُ وَاَنّٰى لَـهُ الذِّكۡرٰىؕ‏ ٢٣ يَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ قَدَّمۡتُ لِحَـيَاتِىۚ‏ ٢٤ فَيَوۡمَٮِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗۤ اَحَدٌ ۙ‏ ٢٥ وَّلَا يُوۡثِقُ وَثَاقَهٗۤ اَحَدٌ ؕ‏ ٢٦ يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ  ۖ‏ ٢٧ ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ۚ‏ ٢٨ فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ‏ ٢٩ وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى‏ ٣٠

21.Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), 22.dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, 23.dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. 24.Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” 25.Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), 26.dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. 27.Wahai jiwa yang tenang! 28.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. 29.Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, 30.dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Ujian dunia hanya berlaku hanya bagi yang beriman, jika tidak: itu azab atau istidraj. Ujian adalah untuk:

(1) hati yang salim

Proses sakaratul maut yang sulit untuk membersihkan hati dan mencuci dosa

(2) amal

Jangan asal beramal. Amal harusnya mensucikan hati

Kita hadapi 3 ujian: kenikmatan, kesalahan, musibah

Ketika kita diberi MUSIBAH DUNIA, itu artinya kita sedang dicintai Allah karena:

  • Itu ujian termudah
  • Itu ujian yang membuka mata. Jangan hadapi ujian sebagai manusia  karena tidak akan mampu karena dzalim dan bodoh. Hadapi dengan perkuat iman, kembali pada Allah. Contohnya: ucapkan qadarullah, minta kepada Allah, cari solusi. Seperti Asiyah istri Firaun yang meminta surga saat ia di-KDRT.

Allah tidak sayang ketika kita mendapatkan MUSIBAH AKHIRAT.

Contoh tentang bersabah dalam musibah terdapat dalam kisah Ummu Salamah yang suaminya meninggal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh ucapkan istirja lalu melamarnya dan kemudian memperlakukan banyak anaknya (Salamah) seperti anak sendiri. Contohnya hadits ‘ Ya Gulam, makan dg tangan kananmu’ itu bicara kepada Salamah.

Iman yang tidak berfungsi dengan baik akan membuat seseorang merasa paling dizolimi, bersikap tidak ideal sebagai muslim. Orang yang beriman akan ikhlas dan tawakal. Selalu hadiri majelis ilmu.

Tobat, sabar, syukur adalah ibadah.

Ketika hati kita rindu kepada Allah,

Di dunia ada surga : mengenal Allah, cinta, rindu, dan taat kepada Allah. (Ibnul Qayyim)

Di Qanthara, amal shalih diambil orang terzalimi, KECUALI PAHALA PUASA.

Semua lelah, upaya, milik kita di dunia tujukan kepada Allah.

My Reflection

Daurah  “Menjadi Wanita Terbaik di Bulan Ramadhan – Ustazah Arfah – 7Feb 2026 – Masjid Soleh Hawa

Insight: Ustazah membuka dengan khutbahtul hajjah dan artinya.

1. PUASA MELATIH TAKWA

  • Puasa untuk meraih takwa dan menghapuskan dosa. Al Baqarah 143
  • وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
  • Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Referensi: https://tafsirweb.com/598-surat-al-baqarah-ayat-143.html)
  • Takwa: menjadikan penghalang antar kamu dan azab Allah. Bagaimana membangun penghalang!? Taat kepada Allah menjauhkan dari larangan Allah.
  • Manusia umumnya melakukan apa yang ia inginkan. Tapi saat puasa, kita diperintahkan untuk minum – padahal botol minum ada di genggaman
  • Kita melatih takwa, sabar, muroqobatullah saat kita berpuasa. Saat berpuasa, kita tidak hanya maan dan minum. Puasa afakh untuk raih takwa.

2. PUASA MENGHAPUSKAN DOSA

  • Puasa dilakukan atas dasar keimanan, berharap pahala dari Allah. Apa balasan Allah? Akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu (dosa kecil)

3 LANGKAH  PERJALANAN MENUJU TAMBAHAN

  1. Persiapan diri
  2. Berbekal dengan ilmu
  3. Mengisi ramadan dengan ketaatan

1. PERSIAPAN DIRI

  1. Segera Bertaubat
    • At tahrim 8 : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
      Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
      Referensi: https://tafsirweb.com/11012-surat-at-tahrim-ayat-8.html
    • Introspeksi dosa-dosa yang telah dilakukan:
      • Dosa lisan: namimah, gibah, istihza
      • Dosa mata: aurat, memandang lawan jenis,  menonton film
      • Dosa telinga: biasa saja mendengar musik
      • Dosa tangan: menyakiti/ mengambil hak orang lain
      • Dosa melalaikan perintah Allah
      • Dosa karena melakukan larangan Allah
      • Syarat taubat nasuha
        • Bersegeralah meninggalkan dosa karena penyesalan
        • Menyesal
        • Bertekad untuk tidak mengulangi kembali
        • Jika berkaitan dengan hal manusia,  maka harus mengembalikan hak tersebut dan meminta maaf
      • Janji Allah bagi orang yang bertaubat (Hadits qudsi)  Wahai anak Adam ! Jika kamu datang dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian kamu bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang dengan memberikan pengampunan sepenuh bumi.”  [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].
        Referensi : https://almanhaj.or.id/12438-keluasan-ampunan-allah-subhanahu-wa-taala-yang-maha-luas-2.html
  2. Membayar hutang puasa
    • Al. Baqarah 184أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
      yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
      Referensi: https://tafsirweb.com/689-surat-al-baqarah-ayat-184.html
    • Dari Abu Salamah, ia mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

      كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

      “Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no. 1950; Muslim, no. 1146)
      • Ibnu Hajar: boleh mundurkan ke bulan Syaban
      • Akan tetapi dianjurkan segera berdasarkan Surat Al-Mu’minun Ayat 61
        أُو۟لَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَٰبِقُونَ

        Arab-Latin: Ulā`ika yusāri’ụna fil-khairāti wa hum lahā sābiqụn

        Artinya: Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
      • Bagi yang sengaja menunda hingga Ramadhan berikutnya: bertaubat,  qodho sesuai jumlah hari,  membayar fidyah
    • Mengisi tambahan dengan kebaikan
    • Ikhlas dalam ibadah
    • Mengikuti petunjuk Rasulullah dalam beribadah
  3. Niat yang Bulat
    • Surat Al-Baqarah Ayat 148
      وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

      Arab-Latin: Wa likulliw wij-hatun huwa muwallīhā fastabiqul-khairāt, aina mā takụnụ ya`ti bikumullāhu jamī’ā, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

      Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
      Referensi: https://tafsirweb.com/610-surat-al-baqarah-ayat-148.html
    • Contoh:
      • Memperbanyak dzikir, doa, istighfar, membaca Quran
      • Meninggalkan hal sia-sia
      • Menjaga shalat, tambah shalat sunnah
      • Memperbanyak salat sunnah
  4. Ikhlas Dalam Ibadah
    • Surat Al-Bayyinah Ayat 4
      وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَةُ

      Arab-Latin: Wa mā tafarraqallażīna ụtul-kitāba illā mim ba’di mā jā`at-humul-bayyinah

      Artinya: Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.
      Referensi: https://tafsirweb.com/12920-surat-al-bayyinah-ayat-4.html
    • Cara menjaga ikhlas:
      • merasa takut tidak diterima amalnya sebelum melakukan amalan, saat melakukan, setelahnya jangan pamer
      • Berdoa kepada Allahاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

        ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA A’LAMU, WA ASTAGH-FIRUKA LIMAA LAA A’LAMU.

        “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”

        (HR. Bukhari)
  5. Mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
    • مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
    • Ibnu Rojab : amalan tidak diterima jika secara zodiak sesuai contoh Nabi dan diniatkan ikhlas karena Allah

2. Berbekal dengan Ilmu

  1. Kapan harus berniat
    • Puasa secara bahasa: imsak/ menahan diri
    • Kapan mulai puasa? Saat azan subuh
    • Puasa secara syariat: beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum,  dan hal-hal lain yang membatalkan pada sejak terbit fajar (cahaya horizontal di langit/ fajar atstsani/ fajar as sodiq) hingga terbenam matahari (terlihat mega merah).
    • Apa itu niat?
      • Maksud/ tekad yang terdapat dalam hati untuk melakukan yang ingin dilakukan
      • Tidak sah puasa tanpa niat

        ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

        Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
      • Kapan harus berniat

2. Pembatal puasa

  • Makan minum dengan sengaja
    • Al-Baqarah Ayat 187
      أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
      Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Referensi)
  • Serupa makan dan minum: transfusi darah, infus nutrisi,  suntik nutrisi/ vitamin
  • Berhubungan suami istri.
    • لقوَل تعاَل: ﴿أٱح ل لُك ليةل الصيام الرفثإاَل نسائُك﴾.
      Dihalalkan bagimu pada malam hari (Ramadhan) bercampur dengan istrimu. (Al-Baqarah: 187.)
  • Mengeluarkan maani dengan sengaja (onani/ masturbasi) 
    • حلديث قديس: »يدع شهوته وٱ «، أُكه وْشبه من أٱجيل
      Dalam hadits qudsi: “(Orang yang berpuasa itu) meninggalkan syahwat, makan dan
      minumnya karena Aku (karena Allah).” (HR. Bukhari no. 7492).
    • Kecuali mimpi, maka mandi besar, lanjutkan puasa
  • Mengeluarkan darah yang banyak
    • حلديث: »أٱفطر احلامج واحملجوم«
      Berdasarkan hadits: “Orang yang membekam & dibekam, puasanya batal.”
    • Seperti: Bekam, Fashdu, Mendonorkan Darah.
  • Muntah dengan sengaja.
  • Keluar haid atau nifas

3.

3. Kapan Puasa Dianggap Batal

  • Jika seseorang melakukan salah satu di antara enam pembatal puasa (Makan & minum dengan sengaja, hal-hal yang semakna dengan makan & minum, berhubungan suami istri, mengeluarkan mani dengan sengaja, mengeluarkan darah yang banyak & muntah dengan sengaja),  maka puasanya batal, jika:

4. Hukum orang yang melakukan pembatal puasa

5. Hal-hal yang tidak membatalkan puasa

6. Wanita hamil dan menyusui: qadha atau fidyah

7. Siapa Saja Yang Boleh Tidak Berpuasa?

3. MENGISI DENGAN KETAATAN

1. Ramadhan Adalah Bulan Puasa
Allah mewajibkan puasa Ramadhan agar muslim dan muslimah terbiasa untuk bersabar  mengendalikan diri dari hawa nafsunya, bersabar menahan lapar dan haus serta syahwatnya.
) ٰيأٱُّيا اَّلين ٱامنوا كتب عليُك الصيام كام كتب عَل اَّلين من قبلُك لعلُك تتقون ( ]البقرة 183[

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.
Sebagian ulama salaf ditanya: Apa (hikmah) disyari’atkannya puasa? Beliau menjawab: Agar orang kaya merasakan rasanya lapar, sehingga dia tidak melupakan orang faqir (miskin).

Puasanya Anggota Badan
Ketahuilah bahwa orang yang berpuasa bukan hanya puasa mulut dari makan & minum, tapi juga puasa anggota badan dari melakukan hal-hal yang haram. Matanya “berpuasa” sehingga tidak melihat hal-hal yang diharamkan, telinganya “berpuasa”  sehingga tidak mendengar musik & nyanyian, Lisannya “berpuasa” sehingga tidak berdusta,  berghibah (membicarakan kejelekan orang lain) & namimah (mengadu domba), tangannya  “berpuasa” sehingga tidak menyakiti & mengambil hak orang lain, kakinya “berpuasa” sehingga
tidak melangkah kepada yang haram, kemaluannya “berpuasa” sehingga tidak melakukan hal yang mesum, karena dia tahu bahwa hal-hal tersebut adalah kemungkaran yang besar di saat puasa.


2. Ramadhan Adalah Bulan Untuk Memperbanyak Shalat
Selain shalat yang wajib, bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dengan adanya shalat  tarawih. Wanita boleh melaksanakan shalat tarawih dengan salah satu di antara cara berikut:
✓ Shalat berjama’ah di masjid bersama imam & kaum muslimin.
✓ Shalat berjama’ah bersama kaum Wanita & imamnya Wanita.
✓ Shalat tarawih sendirian di rumahnya, dan inilah yang terbaik.

لقول النيب صَل هللا عليه وسمل: “َّل متنعوا نساءمك املساجد, وبيوهتن خي لهن ”]رواه أٱمحد وأٱبو داودوحصحه ا أْللباين[
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melarang Wanita-wanita  hamba Allah dari masjid-masjid Allah, akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”  (diriwayatkan oleh Imam Ahmad & Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany).

Diriwayatkan dari Abu Dawud (Hadits 565), dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah (yang wanita) dari
masjid-masjid Allah, namun hendaknya mereka keluar rumah _tafilaat_ (tanpa berhias).“  [Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam kitab _Irwaa Al-Ghaliil_, hadits no. 515].

Dijelaskan dalam kitab _’Aun Al-Ma’buud_ (Syarh Sunan Abi Dawud): Arti dari _”Wa Hunna Tafilaat”_ (Mereka tidak boleh berhias), yaitu: *Mereka tidak boleh
berparfum / memakai wewangian.


Hanya saja mereka diperintahkan tidak berhias (ketika keluar rumah), dan mereka dilarang  memakai wewangian, agar tidak menggerakkan syahwat laki-laki dengan wewangian tersebut*.
Dan dianalogikan dengan semua yang semakna dengan wewangian, yaitu semua hal yang dapat  menggerakkan syahwat laki-laki*, berupa:
  – Pakaian yang indah.
– Memakai hiasan yang kelihatan.
– Perhiasan yang bagus.”
[Selesai nukilan dari kitab _’Aun Al-Ma’buud_].

Maka seharusnya wanita muslimah jika berada di hadapan laki-laki asing yang bukan mahramnya, agar menjauhi pakaian yang diberi pernak-pernik & perhiasan yang mengundang
pandangan laki-laki kepadanya.

    Al Fawaid Al Ilmiyyah (Ustadz Badrussalam)

    Catatan Kajian ‘Nasihat & Bimbingan bagi Muslimah – 26 Jan 2026 – Ar Riyadh – Ustadz Badrussalam

    Tidak ada  kerugian paling besar dari orang yang merugikan diri sendiri dengan mengikuti hawa nafsu.  Az-Zumar 15

    Agar beruntung dunia dan akhirat, taati Allah, meski itu merugikan usahamu.

    Hendaknya kita menghisab diri sebelum dihisab (muhasabah)

    Ibnul Qayyim, muhasabah itu di 2 tempat: (1) Sebelum beramal seperti riya dan (2) setelah beramal (ujub)

    Syaikh Utsaimin: ujub bisa membatalkan amal.

    Jiwa itu menyukai 2: riyadh ( latihan) dan berleha- leha, dan dia punya batasan dalam syariat. Maka perlu melatih jiwa untuk sabar melaksanakan ketaatan.

    Jika kamu selesai melaksanakan ketaatan, lakukan ketaatan selanjutnya. Kenali Allah saat senang, supaya kamu dikenali saat susah. Maka kesehatan itu membantu dunia dan akhirat,  sehat jasmani & rohani.

    Abu Bakar as Shiddiq : mintalah afiyah

    Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu meminta keselamatan di waktu pagi dan petang.

    اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.

    “Ya Allah, selamatkanlah tubuhku. Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku. Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau…”

    Orang bertakwa akan pelit waktu, tidak ingin menyia -nyiakan. orang yang bahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran, bukan dijadikan pelajaran. Kekosongan (waktu) itu akan dicabut hari ini/ besok.

    “Jauhi dari ka lian menunda, mengatakan nanti. Manusia memiliki 3 waku: dulu, kini, nanti.

    Perkataan NANTI itu musuhnya penuntut ilmu.

    “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim]

    Jaman Fitnah:sibukkan dengan ilmu dan amal.

    Hendaklah bersungguh-sungguh sebelum dipalingkan,  terutama hp, dan takutlah Allah palingkan.

    Waktu lebih berharga dari emas dan perak, Dan sedikit sekali orang yang tahu pentingnya waktu.

    Seorang penyair berkata, “Jika kamu pintar, janganlah kamu bersama orang. orang yang lalai.” Jadikan teman orang yang menghargai waktu. Hendaklah kita seperti. ” seserang yang kakinya di bumi. cita-citanya setinggi langit. ” Waktu ini milik Allah, maka jangan lakukan yang bukan seizin Allah. Maka, makmurkan waktu dengan kebaikan sebagai modal hidupmu.

    My Reflection

    Kajian  Waktumu Dihabiskan untuk Apa? Pertemuan 15 – Ust. Abu Usamah – Babussalam – 20 Jan 2026

    Man Yuridillahu yufaqquhhu : ilmu menjadi karakter.

    PR besar: bagaimana ilmu menjadi karakter.

    Imam syafii: Siapa yang ingin dunia, pakai ilmu.

    Ibnu mubarak: slama ia menuntut ilmu, ia pintar.  Ketika berhenti, ia bodoh.

    (Hal 23)

    Imam Nawawi: guru itu orang tua kita dalam agama. Guru in penyambung antara kita dengan Allah.

    Hati ada yang sehat, sakit, atau mati.

    Asy Syuara (88) Dihari tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang slamat.

    Hati yang selamat adalah hati yang mengikuti Allah.

    Hati y,ang sakit (orang munafik) mengandung keraguan / kebingungan .

    Hati yang mati : Az Zumar (22) –

    Al Hajj (53-54) : ayat yang menggabung 3 jenis hati. Hati yang mau tunduk ikuti Quran, itulah hati yang salim.

    Karena itu kita wajib mengisi hati dengan hal bermanfaat. Jika tidak, maka akan diisi dengan hal yang buruk. penyakit ini akan jadi kendala terbesar penyakit di hati.

    Iman itu bisa usang seperti pakaian.

    PENYAKIT HATI:

    DENGKI. Hati yang terjangkit dengki. HR Ahmad – Tirmidzi: penyakit umat sebelum kalian mulai merambah. Apa itu? Kedengkian, kebencian. Penyakit ini pencukur agama.

    DENDAM. Teladan waktu Aisyah bintu Abu Bakar difitnah. An Nur (22). Maka, belajar memaafkan.

    Walimah terburuk: yang dibedakan miskin dan kaya

    Nabi  shalallahu alaihi wassalam tidak pernah memukul pembantu atau seseorang, kecuali jika berjihad di jalan Allah.

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pernah memukul seorang pembantu. Beliau memukul jika berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu sama sekali, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali jika ada sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no, 4786, dan Ibnu Majah no. 1984
    [10] HR Muslim no. 746, dan lainnya )

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah masuk sebuah kebun kurma. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seekor unta. Lalu kemudian unta itu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa pemiliknya suka memukulinya dan memberikan beban-beban yang berat. Maka Rasulullah bertanya: “Siapa pemilik unta ini?” Seorang pemuda berkata: “Aku Wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي مَلَّكَك الله إياها؟ فإنه يَشْكُو إلي أنك تُجِيعه وتُدْئِبه

    “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah yang telah menjadikanmu pemilik unta ini. Sesungguhnya unta ini mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya lapar dan memberikan beban-beban yang berat.” (HR. Muslim)

    MAAFKAN, , LAPANG DADA, karena kiamat PASTI AKAN DATANG, termasuk kiamat kita berupa kematian.

    Al Hijr: 85 :

    وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۗ وَإِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَءَاتِيَةٌ ۖ فَٱصْفَحِ ٱلصَّفْحَ ٱلْجَمِيلَ



    Artinya: Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.

    Rasul: Makan, minum, sedekahlah. Silahkan berpakaian tanpa berlebihan, bukan juga sombong.

    Surat Al-Qashash Ayat 83:
    تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

    Arab-Latin: Tilkad-dārul-ākhiratu naj’aluhā lillażīna lā yurīdụna ‘uluwwan fil-arḍi wa lā fasādā, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn

    Artinya: Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

    Dengar sinyal ketika mau beli branded, apakah ini membuatku sombong?

    Al Fawaid Al Ilmiyyah (Ustadz Badrussalam)

    Kajian Kitab: Nasihat dan Bimbingan Bagi Muslimah (Ust. Badru) 24 Nov 2025 – Masjid Ariyadan

    Dunia sesuatu yang akan binasa /fana/ bayangan yang akan hilang. Yang tertipu dengan dunia adalah kebinasaan.

    Bagi yang tertipu, menganggap akhirat itu dongeng & kematian  sebagai peristirahatan terakhir. Maka, pandang dunia fana. Allah ← Rasulnya menganggap dunia sebagi sebuah yang hina.

    Pikiran seorang mukmin: masuk surga. Keimanan adalah segalanya. Ulama: Dunia itu seperti perempuaan tua yang berhias. Dunia itu tempatnya lelah. Ada orang yang diberikan kesenangan,  malah lupa.  Maka kebahagiaan di dunia itu tidak akan sempurna.

    Surat Al-Balad Ayat 4
    لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ

    Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

    HAKIKAT AKHIRAT ADALAH  KEBAHAGIAAN SESUNGGUHNYA


    Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh n , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya” . [HR. Bukhari dan Muslim]

    Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullahu ta’ala berkata:

    “Bertemanlah kamu kepada siapa saja yang kamu bisa berteman. Dan demi Allah yang beristiwa’ di atas ‘Arsy, tidak akan pernah ada orang yang akan berteman denganmu di dalam kuburanmu, kecuali satu teman saja.
    Ketahuilah, dia adalah amalanmu yang saleh.
    Dan berbuat baiklah dalam berteman dengannya, niscaya dia akan berbuat baik dalam berteman dengan kamu di dalam kuburanmu.” [Lathaiful Ma’arif hal 99]

    MAKA PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN TEMAN KITA DI KUBUR NANTI: AMAL SOLEHMU

    Ibnu Qayyim: kehidupan di dunia penuh tidak dingin karena penuh dengan kesulitan.

    Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah; dihasankan oleh syaikh al-Albâni]

    8 PERKARA YANG MENIMPA MANUSIA:

    • Sururun (Kegembiraan)
    • Hamuun (Kegundahan)
    • Pertemuan
    • Perpisahan
    • Kemudahan
    • Kesusahan
    • Kesakitan
    • Kesehatan

    Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ

    “Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.’” (HR. Thabrani dan dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 831)

    Dunia adalah tempat bercocok tanam

    Sahabat punya cita-cita tinggi: masuk syurga. Maka tanamkan kepada anak.


    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ . قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ ، وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ » . قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا . فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا

    “Dari Abu Hurairah ra bahwa seorang badui mendatangi Nabi Saw, lalu ia berkata, “Tunjukkan kepadaku suatu amal jika aku kerjakan mengantarkanku masuk surga”. Nabi bersabda, “Kamu meyembah Allah tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat fardhu, membayar zakat dan puasa di bulan ramadhan”. Si badui itu berkata, demi jiwaku di tagannya, aku tidak akan menambah ini. Ketika si badui itu sudah pergi Nabi bersabda, ” jika anda ingin melhat ahli surga lihatlah orang ini”. (HR. Bukhari).


    “Rasulullah (pernah) masuk ke rumah kami, yang mana tidak ada orang lain yang di dalam melainkan aku, ibuku (Ummu Sulaim) dan bibiku (Ummu Haram). Beliau bersabda, ‘Berdirilah kalian, aku akan salat bersama kalian.’ Kemudian beliau salat bersama kami pada saat bukan waktu salat wajib.”

    Anas juga bercap bahwasanya Rasulullah sering berkunjung (singgah) apabila Rasulullah hendak pergi ke Quba’. Pada suatu ketika, Rasulullah singgah di kediaman Ummu Haram. Beliau dihidangkan makanan Ummu Haram, lalu kemudian Rasulullah menyandarkan kepalanya dan bablas tertidur.

    Saat terbangun, Ummu Haram mendapati Rasulullah tiba-tiba tertawa. Ummu Haram yang melihatnya pun terheran-heran dan bertanya

    “Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?” tanya Ummu Haram.
    Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku, mereka berperang di jalan Allah dengan berlayar di lautan sebagaimana raja-raja di atas pasukannya atau laksana para raja yang memimpin pasukannya

    Ummu Haram yang mendengarnya terdiam. Mencoba membayangkan pasukan muslimin yang biasanya berperang melewati gurun dan hutan menggunakan unta dan kuda mereka, kelak akan berperang di negeri asing melewati laut. Ummu Haram yang memang mendambakan sekali ikut berjuang di jalan Jihad pun langsung menatap antusias kepada Rasulullah.

    “Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar aku termasuk dalam golongan mereka.” Ujar Ummu Haram mantap.

    Lalu Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallamberdo’a kepada Allah atas permohonan Ummu Haram. Kemudian beliau menyandarkan kepalanya lagi dan memejamkan mata. Beliau kembali tertidur. Tidak lama kemudian beliau terbangun dan tertawa kembali. Ummu Haram yang melihatnya bertanya lagi.

    “Apa yang membuat Anda tertawa wahai Rasulullah?” tanya Ummu Haram lagi.
    Mendengarnya, Rasulullah kembali bersabda Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah laksana raja bagi pasukannya.’

    Ummu Haram kembali berujar mantap,

    “Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar aku termasuk dalam golongan mereka.” Ujar Ummu Haram untuk yang kedua kalinya.
    Kali Ini Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallamtersenyum.

    “Engkau termasuk golongan mereka.”

    PERANG DI LAUTAN LEBIH BESAR PAHALANYA

    “ Dunia itu termasuk empat golongan, yaitu:

    (1) Seseorang yang Allah beri ilmu dan harta lalu dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahim (hubungan dengan kerabat), dan mengetahui hak Allah atas harta tersebut. Orang ini yang paling utama kedudukannya di sisi Allah.

    (2) Seseorang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta, lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat baik itu, dia dan orang pertama sama dalam pahala.

    (3) Seseorang yang Allah beri harta tetapi tidak diberi ilmu, lalu dia menghabiskan harta tersebut tanpa bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturahim, dan tidak mengetahui hak Allah pada harta itu. Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Allah.

    (4) Seseorang yang tidak diberi Allah harta dan ilmu, lalu berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam dosa .’” (HR. Tirmidzi, no. 2325 dan Ahmad, 4:231. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

    Al Fawaid Al Ilmiyyah (Ustadz Badrussalam)

    Nasihat Bimbingan Muslimah – Kajian ust Badru- Ar Riyadh Depok – Senin,  27 Oktober 2025

    Ujub dengan amal shalih itu lebih buruk. Ketika sibuk dengan dunia, meninggalkan agamanya, Allah akan berikan kehinaan dapat kembali ke agama kalian. Umat kafir itu saling memanggil untuk menyantap kalian.  Sahabat: Rasulullah,  apakah karena kita sedikit jumlahnya? Rasulullah: justru kalian banyak. Seperti nih yang dibawa banjir.

    Allah akan cabut ketakutan musuh kepada kalian dan Allah akan berikan penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati).

    Assyuaro 88-89

    Kehilangan agama lebih berat daripada kehilangan dunia di akhirat nanti. Karena apa? Karena maksiat.

    Sesungguhnya orang yang hidup setelahku akan menemukan perpecahan yang banyak. Gigit dengan gigi geraham. Akan datang jaman orang yang memegang agama seperti memegang bara api.

    Pegang agama dengan menuntut ilmu

    Takutlah kalian dengan neraka, meskipun bersedekah  dengan sebutir kurma. 

    Hisab: 1. Ringan Diingatkan dan 2. Berat,  tapi berkilah dan dikunci mulutnya.

    Tidak mungkin Allah ciptakan manusia sia-sia, melainkan ada tujuan besar. Adz Dzariyat 56

    Al Dukhon 38-49

    Tidaklah kami ciptakan langit dan bumi bukan sia-sia.

    Ibadah: nama yang mencakup semua yang Allah sukai dan ridhoi, tampak maupun tersembunyi,  tampak maupun batin. Tau dari mana Allah  cinta/ ridho? Dari wahyu yang disampaikan ketiadaan Rasulullah. Berupa ucapan dan perbuatan.

    Ucapan: hati  dan lisan

    Perbuatan : Hati (ikhlas,  tawakal, cinta),  lisan (dzikir, baca Quran), dan anggota badan (puasa, dhalat),

    Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, ternyata itu baik untuk kamu.

    Agama ini milik Allah

    Ketika Umar menyuruh Rasulullah untuk memberi hijab, tapi Rasulullah belum berani karena belum turun perintah Allah.  (Sahih bukhari Muslim, 126/2170)

    Al Mulk 2

    Allah mengatakan: aku melihat ibadah yang paling benar, ikhlas, bukan yang paling banyak.

    Ibadah secara bahasa= tunduk dan patuh.

    Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Kalau diberikan kelebihan bersyukur, kalau kekurangan bersabar

    Ketahui bahwa kehidupan dunia itu perhiasan, saking berbangga,

    Al Kahfi 65

    Rasulullah mengumpamakan dunia seperti kotoran “Sesungguhnya yang keluar dari perut seseorang, itulah dunia. “

    HR Imam Ahmad “Dunia itu lebih hina dari bangkai anak kambing”

    “Dunia itu seperti sayap nyamuk”

    Said “Ini ada dunia mau merusakku” saat mendapatkan uang. Ia berkata keluarga istrinya, “Apakah ktemu mau bantu ” iya, akhirnya uang itu dibagikan kepada rakyat.

    Ulama: jadikan dunia seperti ludah

    Imam Ahmad ditanya, “Orang yang memiliki 1000 dinar bisa disebut zuhud ketika dia tidak bersedih

    Umat saat mau berwudhu, lalu ada yang bertanya “Air ini buat apa?” Umar bilang

    Kajian Buku Ustadzah Ummu Ihsan

    Manusia Menerima Buku Catatan Amal

    Kajian Kitab ‘Renungilah  Perjalanan Hidupmu ‘ ustadzah Ummu Ihsan – MIAS Depok – Rabu, 22 Oktober 225

    Malaikat tidak pernah durhaka kepada Allah. Wajib mengimani malaikat, baik nama maupun sifatnya. Malaikat mengawasi dan senantiasa mencatat. Kenapa perlu mengimani? Karena iman itu naik-turun.

    Malaikat tidak akan pernah salah dan melaksanakan tugasyang Allah berikan.  Mereka mencatat semua ucapan manusia baik tayang nampak maupun tersembunyi. Barangsiapa mengerjakan kebaikan walau sebesar biji dzarah, ia akan melihat.

    Inti serangan syaithon itu: syubhat atau syahwat.

    Tidak seperti manusia yang perlu data, Allah tidak butuh malaikat.  Hikmah ciptakan malaikat untuk mencatat amal tanpa terluput sedikit pun adalah untuk menampakkan ke-Maha Adilan Allah. Ketika ditampakan kepada manusia, kit tidak bisa mengelak sedikit pun. Pada hari kiamat, manusia akan mengingat semua perbuatan + data didepan mata.

    Allah Ta’ala  berfirman:

    وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)

    “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)



    Allah Ta’ala berfirman:

    وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (28)

    “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).

    Semua berlutut menunggu dipanggil untuk menghadap Rabb semesta alam. Ketika seorang hamba tahu bahwa dirinyalah yang dicari dengan panggilan itu, maka seruan itu akan langsung menggetarkan hatinya. Tubuhnya gemetar dan ketakutan yang besar langsung menyelimutinya. Berubahlah rona wajahnya dan menjadi hampalah pikirannya. Kemudian kitab catatan amalnya dibentangkan dan dibuka di hadapannya. Lalu dikatakan kepadanya:

    اِقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا (14)

    “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al-Isro’: 13-14)

    Seorang mukmin akan diberikan bukunya dari arah depan Orang yang menerima catatan dengan tangan kanannya, ia akan dihisab dengan hisab yang mudah.

    Allah Ta’ala berfirman:

    فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا (9)

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)

    Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa setelah dihisab, ia kembali kepada sesama kaum beriman di Surga dengan hati yang gembira. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa rombongan pertama yang masuk Surga, wajah mereka seperti bulan purnama. Ini menunjukkan kegembiraan hati mereka. Karena apabila hati gembira, maka wajah akan ceria.” (Tafsiir Juz ‘Amma, hal. 114

    Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, mereka akan menerima kitabnya dengan tangan kirinya. Allah Ta’ala berfirman:

    وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)

    “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku.” (QS. Al-Haqqoh: 25-29)

    Kitab catatan amal mereka diberikan dari arah belakang punggung mereka. Allah Ta’ala berfirman:

    وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوْرًا (11)

    “Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” (QS. Al-Insyiqaaq: 10)

    Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka telah dulu di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila menyelisinya. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “…maka dia akan berteriak: “Celakalah aku…” yakni ia berteriak menyesali dirinya. Akan tetapi penyesalan tidaklah berguna lagi pada hari itu, karena habis sudah waktu untuk beramal. Waktu untuk beramal adalah di dunia, sedangkan di akherat tidak ada lagi amal, yang ada hanyalah pembalasan. (Tafsiir Juz ‘Amma, hal. 114)

    MIZAN

    Mizan di hari Kiamat adalah sesuatu yang hakiki dan benar-benar ada. Hanya Allah Ta’ala yang mengetahui seberapa besar ukurannya. Seandainya langit dan bumi diletakkan dalam daun timbangannya, niscaya mizan tersebut akan tetap lapang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ.

    “Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 941).

    Mizan ini memiliki dua daun timbangan sebagaimana diceritakan dalam hadits tentang kartu (bithoqoh) yang akan kami sampaikan haditsnya nanti. Lalu, apakah yang ditimbang pada saat yaumul mizan kelak? Para ulama kita berbeda pendapat tentang apa yang ditimbang pada saat yaumul mizan.

    Ada tiga pendapat dalam masalah ini.

    1. Yang Ditimbang Adalah Amal

    • Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

      كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

      “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).

      Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Hajar al-Ashqolani rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

      “Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad, no. 270 dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shahiih al-Adab al-Mufrad, no. 204)

    2. Yang Ditimbang Adalah Orangnya

    • Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ

      “Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.”  Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..

      فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)

      “Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)

      ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ أُحُدٍ

      “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, I/420-421 dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, IX/75. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 3192).
    • 3.  Yang Ditimbang Adalah Lembaran Catatan Amal
    • Pendapat ketiga terakit apa yang akan ditimbang pada saat yaumul mizan kelak adalah lembaran catatan amalnya.

      Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:

      أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

      Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

      Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al-Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. II/213. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 135)

      Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan, “Yang benar, mizan menimbang berat atau ringannya buku-buku yang berisikan catatan amal…” (At-Tadzkirah, hal. 313)

    Kajian Buku Ustadzah Ummu Ihsan, Lectures of Life

    ‘Manusia Akan Dihisab’ Kajian buku Renungi Perjalanan Hidupmu – Ustadzah Ummu Ihsan  & Ustadz Abu Ihsan – 24 September 2025 [Hal. 192]

    “Sesungguhnya kalian fakir di hadapan Allah, selalu merasa butuh kepada Allah. Tidak ada secuil apapun kebaikan/ Keburukan tanpa pertolongan Allah.

    Hal terpenting: meminta pengampunan Allah.

    Tidak akan bergeser sampai la ditanya pertanyaan: umur. waktu, kesempatan digunakan untuk apa? Jasadnya digunakan untuk apa? Hartanya dari mana di mana dibelanjakan? Ilmunya, seberapa telah la amalkan?

    Kepastian hisab sudah ada banyak dalilnya:


    فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ ﴿٧﴾ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

    Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.[al Insyiqaq/84:7-8].


    وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ﴿١٠﴾فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا

    Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).[al Insyiqaq/84:10-12].

    إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ﴿٢٥﴾ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

    Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.[al Ghasyiyah/88:25-26].

    الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

    Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.[al Mu’min/40:17].


    Semua amal kita akan diperhitungkan. Kita yang akan dihisab harus yakin dengan berita ghaib. Iman itu bertingkat, bisa bertambah dan berkurang. Selain majelis ilmu, tidak ada tempat lain yang bisa menasihati kita dengan durasi sekian lama. Pandai-pandailah kita menasihati diri sendiri

    Jenis hisab:

    • Al Ardh yang sifatnya umum,  (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.

      • Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.
      • Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).
    • Munaqosyah, perhitungan kebaikan dan keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya,
      مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ
      Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu baru al-‘aradh (penampakan amal). Namun barangsiapa yang diteliti hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari, no. 103 dan Muslim, no. 2876)
    • Allah akan mengampuni dan membuka pintu maaf seluas-luasnya.
    • Sibukan diri istighfar, taubat, sedekah
    • Tidak sulit bagi Allah untuk menghisab, tanpa penerjemah
    • Karunia terbesar adalah ketika Allah berikan iman dan Islam
    • Syarat tidak dihisab: tidak meminta ruqiyah
    • Demikian dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata :

      سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

      Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mendekati seorang mukmin, lalu meletakkan padanya sitar dan menutupinya (dari pandangan orang lain), lalu (Allah) berseru : ‘Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?’ Mukmin tersebut menjawab,’Ya, wahai Rabb-ku,’ hingga bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman,’Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,’ lalu ia diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan munafik, maka Allah berfirman : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”.[HR al Bukhari].

    • Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allah, kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

      فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّانِيَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّالِثَ فَيَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ آمَنْتُ بِكَ وَبِكِتَابِكَ وَبِرُسُلِكَ وَصَلَّيْتُ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ وَيُثْنِي بِخَيْرٍ مَا اسْتَطَاعَ فَيَقُولُ هَاهُنَا إِذًا قَالَ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ الْآنَ نَبْعَثُ شَاهِدَنَا عَلَيْكَ وَيَتَفَكَّرُ فِي نَفْسِهِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْهَدُ عَلَيَّ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ وَلَحْمِهِ وَعِظَامِهِ انْطِقِي فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ وَذَلِكَ لِيُعْذِرَ مِنْ نَفْسِهِ وَذَلِكَ الْمُنَافِقُ وَذَلِكَ الَّذِي يَسْخَطُ اللَّهُ عَلَيْهِ

      Lalu Allah menemui hambaNya dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta, serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?” Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman : “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab: “Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu, kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu. Juga aku telah shalat, bershadaqah,” dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab: “Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya),” kemudian dikatakan kepadanya: “Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu,” dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya: “Bicaralah!” Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah nasib munafik dan orang yang Allah murkai.[HR Muslim].

    MENERIMA BUKU CATATAN AMAL

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ (53)

    “Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qomar: 52-53)



    Allah Ta’ala juga berfirman:

    وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)

    “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)



    Kajian tematik, Lectures of Life

    Mensyukuri Nikmat Merdeka – Ustadz Badru – Masjid Darussunnah – 17 Agustus 2025

    Bersyukur hukumnya wajib, bukan sunnah. Tidak boleh kita kufur terhadap nikmat Allah. “Jika kita bersyukur maka akan

    Kufur nikmat mendatangkan adzab kubur.

    Kemerdekaan merupakan karunia dari Alah kemudian perjuangan para pahlawan.

    “Apakah kamu akan menjadikan aku sebagai tanding kamu?” Maka jangan pakai kalimat “Indonesia merdeka karena para pahlawan.”

    Rukun pertama nikmat dari Allah.. mengakui nikmat dari Allah

    Rukun kedua bersyuku.r dengan lisan: Ucapkan semua ini karunia dari Allah

    Imam ibnu Katsir “Bukankah Alah Kayakan kamu”.

    Sesungguhnya Allah ridSafii yng mengetahui banyak hadits o kepada Allah saat kita mensyukuri immature walaupun sedikit ucapkan alhamdulillah setiap saat.

    Rukun ketiga, bersyukur dengan anggota badan.

    Gunakan nikmat anggota badan untuk ketaatan, beramal shalih bukan maksiat

    At Thabari : mengakui semua nikmat itu berasal dari Allah dan mengakui semua degan perbuatan, dengan amal shaih. Adapun, mengakui dengan hati tanpa amal shalih, maka pelakunya tidak bisa disnebut orang yang bersyukur

    Keutamaan bersyukur:

    1. Allah bersyukur kepada hambanya

    yang melakukan amal-amal shaih dengan memberikan pahala. Nama Allah asy syakur, maka kita sebagai hamba Allh harus pandai bersyukur dan pandai berterima  kepada orang yaitu banyak ngasih kita.

    Siapa yang melakukannya kebaikan kepada kalian, balas dengan yang sama. Jika tidak bisa, doakan. Seperti Imam Ahmad yang tidaklah berhenti mendoakan Imam Syafii yang mengajarkan banyak hadits.

    2. Bersyukur itu sifat para nabi

    Sesungguhnya Ibrahim itu makhluk yang senantiasa mensyukuri nikmat Allah

    3. Syukur merupakan perintah Allah

    Firman Allah: “Ingatlah aku maka Akumkan ingatnkamu, dan bersyukurlah dan jangan kufur”

    “Kami kabarkan kepada manusia agar berbakti kepada orang tuanya…”

    Az Zumar 66: “.. jadilah kamu orang yang bersyukur

    4. Syukur sifat orang yang beriman

    Mengagumkan urusannya Mukmin, semua urusan baik. Kalau iberkan kenikmatan, dia bersyukur. Jika diberikan kesulitan,  ia bersabar.

    5. Diridhoi Allah

    AzZumar 6-7. An Nisa 47.

    6. Tidak akan diadzab

    Allah tidak akan mengazab jika kalian bersyukur dan beriman.

    7. Akan ditambah kenikmatannya

    Jika kalian bersyukur,  maka akan kami tambah.

    8. Diberikan pahala yang besar

    ALi Imron 45: diberikan balasan yang besar

    9. Kesehatan dan kenikmatan disertai dengan syukur lebih baik dari bala disertai sabar

    Bagaimana cara menjadi hamba yang bersyukur:

    1. Bertakwa

    ALi Imron 173: bertakwalah agar kalian bersyukur

    2. Qanaah

    adakah kekayaan hati.  Orang yang hatinya miskin tidak akan pernah puas.

    3. Sujud syukur

    4. Doa syukur

    5. Berinfaq

    6. Mengingat-ingat nikmat

    7. Terus melawan syaithon dan hawa nafsu

    8. Jangan berhasil dengan orang yang tidak bersyukur, ahli maksiat

    Akibat tidak bersyukur

    1. Kenikmatan akan berkurang
    2. Nikmatnya diubah menjadi siksa
    3. Tidak mendapat pemimpin amanah

    Catatan kajian ini banyak kesalahan karena dicatat saat membawa 2 anak usia dini. ^^ Silakan merujuk ke rekaman di tautan ini

    Kajian Kitab Ibnu Qayim, Lectures of Life

    CATATAN KAJIAN KITAB: IGHATSATUL LAHFAN “Menganggap Baik Terhadap Diri Sendiri” – Ustadz Yudi Kurnia

    Buku IGHATSATUL LAHFAN karya Ibnul Qayyim

    Tipu daya setan kepada manusia: Membuat manusia menganggap baik pada pendapatnya

    Bisikan-bisikan hatinya, apa yang melintas dalam pikirannya – bahkan ketika belum dicicil dengan Quran dan sunnah

    Menipu orang yang suka menyendiri seperti ahli zuhud, orang yang merasa cendekiawan, untuk merasa benar hanya dari perasaan saja. Mereka tidak melihat keterangan syariat dari zikir dan amal. Mereka merasa maksum, merasa hatinya bersama Allah.

    Lintasan hati:

    1. Rahmaniyah: berasal dari Allah, malaikat Allah
    2. Syaithaniyah: berasal dari setahun, bisikan/ waswas setan
    3. Bawaan diri, seperti mimpi

    Seorang hamba yang ubudiyahnya tinggi tetap saja ada setan yang memusuhinya, seorang manusia yang punya hawa nafsu yang embawapada hal yang tidak baik, pote si tergelincir. Setan berjalan pada tubuhnya pada peredaran darahnya.

    Kemaksuman hanya diberikan kepada Rasul Allah yang menengahi antara hamba dan penciptaan, atau sebagai perantara, bukan perantara agar diibadahi agar ibadahnya sampai kepada Allah.

    Betapa orang berada pada keadaan paling zuhud sekalipun,  ia tidak pernah ditinggalkan setan hingga ia mati. Karena itu, keadaan sebelum mati itu krusial. Setan ingin membuat muslim suul khatimah. Maka kita terus berhati-hati,  terus meminta tolong kepada Allah.

    TIDAK PANTAS bagi seorang pun yang Allah berikan ia ilmu, kemudian ia berkata kepada manusia: Ayolah kalian, jadi hamba-hambaku.

    Jadi, selain rasul, tidak boleh untuk kita untuk ingin menjadi atau menganggap orang maksum.

    Setiap sahabat pasti akan berlepas diri dari pendapat mereka saat melampaui Quran dan sunnah, tidak pernah berhukum pada lintasan perasaan, terutama dalam beramal. Hanya orang yang tertipu yang memilih-milih hadits atau membantahnya berdasarkan perasaannya.

    Kalau dasar kebodohannya itu berasal dari salah info yang dianggap anggap benar, ini dimaafkan. Kalau tidak mau belahar, maka ia terkena beban dosa akan keberpalingannya (syubhat: jangan belajar agama. Nanti makin banyak tahu, makin banyak dosanya).

    Keadaan diri yang menganggap hasil perasaan dan pikirannya itu cukup tanpa pemikiran Rasul, itu sama dengan mendustakan Rasul dengan bahasa yang berbeda. Bagi orang yang menganggap boleh sesekali keluar dari syariat, itu sebesar-besarnya kekufuran.

    Para sahabat sahabat yang mencurigai pendapat mereka karena kuatir tidak sesuai dengan Quran dan sunnah itu adalah orang yang paling baik ma hatinya.

    Bagi yang lahirnya rusak, maka bisa menjadi perkara di hatinya: untuk menjawab “gimana hatinya “

    Siapa yang hanya menimbang batinna degan lahiriyah yang berantakan, maka jangan perhitungkan orang seperti ini.

    Tipu daya setan lainnya: TAHZIBUNNAS/ MENGKOTAK-KOTAKAN MANUSIA

    Membuat kelompok- kelompok dengan sragam,cara bergeak, beribadah yang tidak ada ketentuannya dalam syariat, berguru pada 1 orang aja, menetapi  jalan yang dimodifikasi sebagai tanda kelompok keberagamaan.

    Nabi gunakan apa yang ada untuk beribadah, tidak memaksakan atau mengkhususkan atribut tertentu. Perlu berhati-hati dengan pakaian kebesaran yang menjadikan salah sangka manusia (menjadikan orang sebagai orang besar melihat dari pakaiannya.

    Sibuk denga formalitas seperti ini bukan cara Nabi beragama. Maka, pelajari cara Nabi beribadah yang berubah-ubah pakaiannya, alas shalatnya, alas kakinya — bebas saja jd hamba Allah seutuhnya selama tidak ditentukan syariat.

    Petunjuk Nabi tidak memaksakan  diri dalam beribadah yang tidak ditentukan dalam syariat.

    Buku bisa diberi di sini

    Catatan ini tidak sempurna karena ditulis sambil membawa 2 anak ke masjid. Silakan menyimak di satan langsung berikut ini:

    Kajian Buku Ustadzah Ummu Ihsan

    CATATAN KAJIAN: Tak Ada Gading yang tak Retak – Ustadzah Ummu Ihsan – 26 Juli 2026 – bedah buku “Jangan Katakan Aku Nakal”

    Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Maka apapun yang Allah katakan tentang manusia,  kita harus percaya.

    Nabi tidak akan mengada-adakan berita,  hadits, kecuali sesuai wahyu Allah. Nabi Shallallahualaihi wasallam bersabda, 

    كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

    Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat. [HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah]

    Saat anak berbuat salah/ menunjukkan kekurangan, pahami bahwa ia manusia. Tapi sadari bahwa kita sebagai manusia bahwa ini saatnya kita harus belajar dari kesalahan,  begitu pula saatnya anak belajar. Ini saatnya orang tua mengakui kesalahan dan introspeksi diri, membawa anak agar menyadari kesalahan dan memperbaiki diri.

    Mendidik anak perlu istiqomah, konsisten,  bekal, kesungguhan, keteladanan, kedisiplinan dalam melatohnya, memagari anak dari godaan syaithon dan syubhat globalisasi.

    Dengan istighfar, kita akan yakin bahwa janji Allah itu benar.

    وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ

    Artinya: Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”.

    Bertaubat dan istighfarlah agar Allah buka rezeki, termasuk rezeki anak yang salih.

    Berbaik sangka kepada Allah. Sebesar apapun kesalahan dan penyimpangan anak kita, jika Allah kehendaki ‘kun’ maka ia akan kembali. Banyak berdoa dan yakin dengan doa kita, salah satunya:

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

    “Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan

    [artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya].” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227).

    Maka, mujahadah, bersungguh-sungguh, karena tantangan kita sama. Yakinlah itu tidak akan sia-sia. Jangan marah.. tetap jaga mood, latihan, jangan putus asa.


    إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

    Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. [ar-Ra’d/13:11].


    Surga itu mahal. Barang perdagangan Allah itu mahal dan barang perdagangan Allah itu mahal. Tenagamu, jual kepada Allah. Pikiranmu, hartamu yang kau pertaruhkan, jual kepada Allah.

    Jangan bermimpi menyuburkan tanah yang tadinya dengan hujan sehari, sepekan. Semua perlu proses. Tambahkan shalat, khusyuknya, tumaninah, sabarnya untuk ‘menyuburkan tanah’.


    Dalam dua ayat surat Al Baqarah, Allah memerintahkan bagi hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Allah Ta’ala berfirman,

    وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

    “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).

    Allah Ta’ala juga berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ


    “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 153).

    Sabar adalah kunci pertolongan Allah.

    Bersabarlah dan peganglah janji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

    واعلم أن النصر مع الصبر، وأن الفَرَج مع الكرب، وأنّ مع العسر يسراً

    “Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan” (HR. Ahmad, sahih)

    Jangan saling menyalahkan. Jika sudah terjadi, hadapi dengan ‘qadarullah wa maa syaafaal’, berfikir jernih, tetap santun, dan bersabar. Jangan anggap kiamat. Sebesar apapun kesalahan anak, ambil langkah bijak. Biidznillah kesalahan anak bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.

    Terima anak apa adanya, jangan pernah membenci. Jangan jauhi. Karena mengedepankan emosi karena kemarahan itu dari syaithon.

    TASK: Murajaah buku hal 57-74

    Kajian Buku Ustadzah Ummu Ihsan

    CATATAN KAJIAN: Dahsyatnya Hari Kiamat (Kitab Renungi Perjalanan Hidupmu) Ustadzah Ummu Ihsan – MIAS Bogor, 23 Juli 2025

    Waktu terjadinya kiamat sudah ditetapkan Allah. Tidak ada siapapun yang tahu kapan terjadinya kiamat.

    Kita perlu ilmu untuk hidup,  serta tazkiyatun nufus atau mensucikan jiwa. Keimanan kepada Allah yaumil akhir akan memberikan warna yang begitu jelas dalam kehidupan hamba. Seorang hamba akan tahu betapa singkat dan recent, bahkan hina, kehidupan dunia ini. Hamba akan tau prioritas yang tepat karena tujuan hidupnya adalah kehidupan sebenarnya atau kehidupan akhirat. Maka kita perlu memupuk kuat harapan dan kerinduan kita terhadap mati sebagai kehidupan yang lebih indah,  lebih bahagia, yaitu surgaNya.

    Semoga manusia akan masuk’ruang tunggu’ setelah ujian di dunia

    Sebaik- baik hati Sebaik terbit adalah hari Jumat. Pada hari Jumat itu Afam dimasukkan ke surga dan kiamat tidak akan terjadi pada hari Jumat:

    Dari Aus bin ‘Aus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

    Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud no. 1047, An Nasai no. 1374, Ibnu Majah no. 1085 dan Ahmad 4: 8. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)

    Hasbunalah wa nimal wakil, alallahi tawakalna

    TIUPAN ISRAFIL

    Pendapatnya ada 2 atau 3 kali

    • Pendapat 1 (2x) terkejut dan mati,  lalu dibangkitkan
    • Pendapat 2 3x

    Di antara dua pendapat tersebut, yang lebih tepat adalah pendapat yang ke dua, bahwa sangkakala ditiup sebanyak dua kali pada hari kiamat. Hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang di dalamnya diceritakan,

    … ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ، فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا، قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ، قَالَ: فَيَصْعَقُ، وَيَصْعَقُ النَّاسُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ – أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللهُ – مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوِ الظِّلُّ – نُعْمَانُ الشَّاكُّ – فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى، فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ …

    “ … Kemudian ditiuplah sangkakala. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali dia memasang pendengarannya dan menjulurkan lehernya. Beliau bersabda, ’Maka orang yang pertama kali mendengarnya adalah seseorang yang memperbaiki telaga untuk untanya.’ Beliau berkata, ’Dia pun mati, dan orang-orang pun mati.’ Kemudian Allah mengirim –atau beliau berkata, ’Menurunkan’- hujan gerimis atau naungan –Nu’man (salah seorang perawi) ragu-ragu- yang darinya Allah menumbuhkan (membangkitkan) jasad-jasad manusia. Kemudian ditiuplah sangkakala yang ke dua, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) …” (HR. Muslim no. 2940).

    Maka di dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ketika sangkakala ditiup pertama kali dan didengar manusia, maka mereka pun mati. Kemudian ditiuplah sangkakala ke dua kalinya, maka bangkitlah manusia dari kuburnya dan menunggu putusannya masing-masing. Dua tiupan ini juga ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ، قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ

    “(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab, ”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi, ”Empat buluh bulan?” Abu Hurairah menjawab, ”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi, ”Empat puluh tahun?” Abu Hurairah menjawab, ”Aku enggan.” (HR. Bukhari no. 4935)

    Maksudnya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu enggan untuk menegaskan atau memastikan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun. Akan tetapi yang pasti adalah bahwa jaraknya empat puluh. Dikatakan juga bahwa jarak dua tiupan ini adalah di antara perkara yang tidak diketahui kecuali Allah Ta’ala.

    Tiupan tsur yang pertama dahsyat, bahkan bayi ada yang beruban

    قال الله تعالى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ 

    Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. [Al-Hajj/22: 1-2].

    Setelah tiupan pertama dan kedua

    Yaumul ba’ats: Hari berbangkit

    Peristiwa Padang Mahsyar

    Fokus kita adalah untuk perkara yang lebih besar: Hari akhir

    Ada 7 golongan yang akan dilindungi:

    “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata.
    1. 
    Imam (pemimpin) yang adil.

    2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.

    3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.

    4.  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.

    5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”

    6. Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.

    7.   Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, II/143 – Fat-h, dan Muslim, no. 1031).

    Golongan lain yang mendapatkan naungan Allah Ta’ala adalah orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar hutang kepadanya atau memutihkan hutang darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِي ظِلِّهِ

    “Barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan membayar hutang atau memutihkan hutang orang tersebut, niscaya Allah akan menaunginya dalam naungan Arsy-Nya (pada hari Kiamat).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 3006)

    Mereka semua menunggu KAPAN MULAI PERADILAN, belum lagi proses yang lama

    MANUSIA MEMINTA SYAFAAT KEPADA NABI

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    Saya adalah pemimpin semua orang pada hari kiamat. Tahukah kalian sebabnya apa? AllahSubhanahu wa Ta’ala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang akhir di suatu dataran tinggi. Mereka dapat dilihat oleh orang yang melihat dan dapat mendengar orang yang memanggil. Matahari dekat sekali dari mereka. Semua orang mengalami kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak mampu memikulnya. Lantas orang-orang berkata, ‘Apakah kalian tidak tahu sampai sejauh mana yang kalian alami ini? Apakah kalian tidak memikirkan siapa yang dapat memohonkan syafaat kepada Rabb untuk kalian?’ Lantas sebagian orang berkata kepada sebagian lain, ‘Ayah kalian semua, Nabi Adam ‘alaihissalam’.

    Mereka pun mendatangi beliau, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Adam! Engkau adalah ayah semua manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakanmu dengan kekuasaan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuhmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud, sehingga mereka pun bersujud kepadamu. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempat tinggal kepadamu di surga. Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Bukankah engkau tahu apa yang kami alami dan sampai sejauh apa menimpa kami?’ Nabi Adam‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, Dia melarangku akan suatu pohon, tetapi saya berbuat maksiat. Diriku, diriku, diriku. Pergilah ke selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam’.

    Lantas mereka mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Engkaulah Rasul pertama di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’alatelah menyebut dirimu hamba yang banyak bersyukur. Bukankah engkau mengetahui apa yang sedang kita alami sekarang? Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami?’ Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya mempunyai suatu dosa mustajab yang telah saya gunakan untuk mendoakan kebinasaan pada kaumku. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam’.

    Kemudian mereka pun mendatangi Nabi Ibrahim‘alaihissalam, lalu mereka bertanya, ‘Wahai Ibrahim! Engkau adalah Nabi Allah dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami. Bukankah engkau telah mengetahui keadaan yang sedang kami alami?’ Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sesungguhnya saya pernah berdusta sebanyak tiga kali. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Musa ‘alaihissalam’.

    Selanjutnya mereka mendatangi Nabi Musa‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Musa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi keutamaan kepadamu dengan kerasulan dan kalam-Nya yang melebihi orang lain. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya pernah membunuh seorang manusia padahal saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Isa ‘alaihissalam’.

    Setalah itu, mereka pun mendatangi Nabi Isa‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Isa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’aladan yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Engkau dapat berbicara dengan orang-orang ketika masih dalam buaian. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.’ Nabi Isa tidak menyebutkan dosa yang diperbuatnya. ‘Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’.

    Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penutup para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas saya berangkat hingga saya sampai di bawah Arsy. Kemudian saya bersujud kepada Rabbku. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan padaku pujian-pujian kepada-Nya serta keindahan sanjungan terhadap-Nya yang belum pernah Dia ajarkan kepada selain diriku. Lalu dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Angkatlah kepadamu. Ajukanlah permohonan, niscaya permohonanmu dikabulkan. Mohonlah syafaat, pastilah akan diterima syafaatmu.’ Selanjutnya aku mengangkat kepalaku, lalu saya berkata, ‘Ummatku, wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku, ummatku wahai Rabbku!’ Lantas dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Masukkanlah umatmu yang tidak peru dihisab dari pintu surga ke sebelah kanan. Mereka juga sama dengan orang-orang lain di selain pintu tersebut.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang mengauasai diriku, sesungguhnya jarak anara dua daun pintu dari beberapa daun pintu surga sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar atau antara Mekah dan Bushra’.”
    (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Nama Allah tidak bisa dihitung,  karena ada nama Allah yang disebut nanti (perkara ghaib)

    Maka bersyukurlah, kita sebagai umat Nabi Muhammad shalallaahu alaihi wasallam karena atas syafaat Nabi, peradilan dimulai.