Parenting

PROGRAM INI GAGAL MENGURANGI TINGKAT KEHAMILAN USIA REMAJA

Konyol. Itu yang ada dalam pikiran saya ketika membaca berita tentang gagalnya program boneka untuk mencegah kehamilan remaja di US ini.

Ya, gimana nggak konyol. Akarnya yang penting dalam mendidik anak remaja aja ga diberantas.

Mendidik Anak Remaja
Selama para remaja itu terpapar oleh setiap LAGU, ACARA TV, FILM, hingga IKLAN (ow yes, even your tv cables, sodara2) yang mengekspoitasi seksualitas, mau program mendidik anak remaja semahal apapun juga ga mempan. Seksualitas adalah barang dagangan yang laku. Tinggal dipoles cantik lalu dipromosikan dengan cantik kepada anak-anak KEMANAPUN di muka bumi ini, SELAMA ADA MEDIA. Media ini mengajari anak-anak kita harus pakai baju apa, punya apa, sampe social dan relationship goals!

Keren kan? -_-
.
Jadi, masihkah kita (orang tua) dengan pede mengirim anak-anak ke mall, bioskop, acara sekolah, tetangga, dan rumah teman tanpa supervisi?
.
Yuuuhuuu… banyak sudah penelitian yang menunjukkan otak usia remaja ini belum terbentuk sempurna untuk mengambil pilihan yang tepat (apalagi kalau orang tuanya tidak mengajari). Terus, kita tega-teganya menempatkan mereka dalam situasi dimana sulit sekali untuk berkata tidak, gitu?
.
Ah, mari ingatkan diri untuk memproteksi anak-anak kita meski mereka sudah remaja. Mendidik mereka mengambil pilihan sehat. Tidak lepas begitu aja karena pengasuhan tidak seperti Wajib Belajar 9 Tahun.
.
Bukankah Rasulullah terus mendidik anaknya meski sudah menikah bahkan cucunya? Ow yes… karena pengasuhan berlangsung seumur hidup. Kita masih berlabel orang tua.

Since, unfortunately, society has forgotten parents the need to protect teens from themselves.

Homeschooling

Ibu, Mari Didik Anak Untuk Dapat Duduk di Majelis Ilmu

***Mierza ummu Abdillah***

duduk dengan ulama

Linimasa sempat riuh rendah dengan pro dan kontra membawa atau tidak membawa anak ke majelis ilmu. Padahal, bukan tingkah polah si anak yang menjadi masalah. Tapi kita. Ya, kita. Orang tuanya.

Sudahkah kita mendidik anak untuk dapat dapat duduk bermajelis? Sudahkah kita mempelajari  adab penuntut ilmu? Apakah kita telah membekali dengan ilmu pengasuhan yang memadai? Apa kita benar-benar all out dalam menjaga anak kita atau kita bahagia melihatnya berjalan kesana kemari mengganggu yang lain sedang kita asik sendiri? Apa saja yang kita persiapkan untuk bisa duduk bersama anak di majelis ilmu? Berapa lama kita menyiapkannya? Sudahkah dihitung durasi dan apa saja yang kita persiapkan?

Tunggu… Apa kita sudah kita mencoba? Sekali? Dua puluh kali? Apa kita lelah dan memilih untuk menunggu saja anak besar? Jika ya, itu belum mencoba namanya. Itu berhenti berusaha. Mencoba itu artinya saat anda membaca ini, anda masih berjuang untuk datang bersama anak-anak meski hanya dua menit pertama, lalu Anda keluar. Dan akan ada terus episode itu hingga Allah memperkenannya duduk di majelis dengan adab seorang penuntut ilmu.

“Anak saya kinestetik. Gak bisa diem. Apa bisa?”

InsyaAllah. Allah yang menjadikan segalanya mungkin. Saya sudah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun sebagai pendidik dan saya sudah sering melihat anak yang dicap kinestetik mampu duduk memperhatikan dengan lama dan benar. Tapi, tentunya itu bukan sesuatu yang instan. Perlu perjuangan yang insyaAllah bermanfaat bagi keluarga kita.

“Tapi, itu berat. Saya malu dilihat yang lain.”

I’ve been there, felt that, still do. Tapi, tidakkah kita ingin anak-anak kita seperti apa yang mereka lihat? Mencontoh dari para ahli ilmu dan pencari ilmu? Mencontoh manusia-manusia yang mendatangi majelis demi mendapat ilmu? Mendidik seperti salafush shalih dan ulama-ulama setelahnya?

Dari Abi ‘Ashim: “Aku pergi bersama anakku menemui Ibnu Juraij, padahal anakku masih kurang dari 3 tahun. Beliau menyampaikan hadits dan Al Qur’an”. Kemudian Abu Ashim berkata, “Tidak mengapa untuk diajarkan kepada anak ini hadits dan Al Qur’an pada usia demikian dan yang semisalnya.” [Al Kifayal lil Khatib]*

Berkata Imam Malik, “Ibuku kemudian memegang diriku dan memakaikan pakaian yang disingsingkan, lalu beliau meletakkan sesuatu yang tinggi di kepalaku dan memakaikan sorban di atasnya.” Kemudian Ibuku berkata, “Pergilah sekarang dan catatlah.” (Almuhadits Alfashil)*

Mendidik itu memang tidak ringan. Ungkapan ‘It takes a village to raise a child’ itu akan kita dapatkan dalam majelis ilmu, insyaAllah. Coba tengok apa yang dikatakan Zakariya bin Ziyad An Nabawiy di bawah ini.

Adalah guru kami telah berkata: “Duduklah kaliam bersama para ulama, dikarenakan jika kamu benar, mereka akan memujimu. Dan jika kamu salah, mereka akan mengajarimu. Dan jika kamu tidak punya ilmu, maka mereka tidak akan mencercamu. Dan janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang jahil (tidak punya ilmu), karena jika kamu benar, mereka tidak akan memujimu. Dan jika kamu tidak tahu tentang sesuatu, maka mereka akan mencercamu. Dan, apabila mereka bersaksi untukmu, maka (kesaksian) mereka tidak akan bermanfaat bagimu.”(Akbaril Qudhah)*

Mungkin kita mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti mendapat cibiran, pandangan sinis, sampai ucapan yang tidak menyenangkan dari beberapa gelintir penghuni majelis. Tapi ingat, parenting has ups and downs, doesn’t’t it? Selain itu, masih baaanyak penghuni majelis ilmu yang bersedia membantu kita mendidik anak. Ya, mendidik. Jadi yaaaa… nikmati perjalanan mendidik itu. Take it. Don’t leave it. Coz’ it’s well worth the result – insyaAllah.

*Kutipan diambil dari kajian rutin kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan.