Siap bersekolah atau menjadi pembelajar usia pendidikan dasar bukan sekedar bisa calistung, namun kita perlu mempertimbangkan kematangan dan kesiapan masuk sekolah atau adab pembelajar.  

Kematangan biologis perlu dicapai sebelum anak masuk sekolah, termasuk kematangan otak untuk memahami konsep membaca, menulis, menghitung, dan memahami sudut pandang orang lain.

Kesiapan yang matang akan meminimalisasi masalah/hambatan yang muncul di kemudian hari.

Banyak masalah yang akan dihadapi anak yang tidak matang, seperti motorik halus yang tidak  siap, mudah putus asa, daya tahan rendah, daya konsentrasi lemah, tiba-tiba mogok sekolah, sulit menyesuaikan diri, dan lemah dalam kemandirian.

Kesiapan apa saja yang harus dimatangkan sebelum anak masuk sekolah dasar?

1.Kematangan Fisik (Motorik kasar dan motorik halus)

Mampu mengontrol otot-ototnya sehingga dapat menulis, menggambar, mengerjakan keterampilan tangan seperti menempel, menggunting, menguntai, dsb. Ia pun mampu duduk diam dan tertib dalam waktu yang cukup lama.

2.Kematangan Kognitif

Mampu memahami penjelasan guru, dapat menjawab pertanyaan guru dengan kata-kata yang dapat dimengerti.

3. Kematangan Emosi

Tidak ketergantungana dengan keberadaan ibu, bersedia menerima otoritas lain (seperti ibu/bapak guru), mampu mematuhi aturan sekolah, adaptif dengan suasana sekolah, dapat mengendalikan emosinya, mampu mengatasi masalah-masalah dalam pergaulan, misalnya, kesedihan saat diejek teman/ tidak mudah menangis, serta siap menghadapi karakter orang dewasa (guru) yang berbeda- beda

4. Kematangan Sosial

Mandiri, mampu memilih kegiatan yang ingin dilakukannya, tidak ragu-ragu/takut dalam menentukan kegiatan,

memiliki kesadaran akan tugas yang dihadapinya, mampu menyelesaikan tugas yang dipilihnya, mampu memenuhi kebutuhan pribadinya (contoh tahu kapan harus minum, mau dan mampu  membasuh diri setelah buang air kecil, mampu mandi sendiri, dan mampu mengambil makannya sendiri, tahu kapan ia mesti berganti baju).

Tugas dan Kegiatan Persiapan Kesiapan Sekolah

ASPEKSTIMULASI
INTERAKSI SOSIALWaktu bermain: Ciptakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan anak lain pada usia yang sama melalui waktu bermain dan kelompok bermain (komunitas).
Game Board (Papan Permainan) : Mainkan permainan papan dengan anak untuk mengajarkan cara mengambil giliran, berbagi, menunggu dan kemampuan untuk mengatasi ketika seseorang tidak menang. Kelompok kecil: Dorong kelompok kecil anak-anak untuk bermain bersama dalam permainan.
Visual: Gunakan visualisasi untuk membantu anak-anak memahami tentang giliran.
Salam: Dorong anak-anak mengatakan salam dan menanggapi pertanyaan
BERMAINGaya bermain: Berikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi gaya permainan yang berbeda (misalnya permainan imajinatif, permainan konstruktif, permainan simbolik). Permainan peran: Luangkan 20-30 menit setiap hari untuk berinteraksi dan bermain dengan anak lain. Dalam kesempatan ini, modelkan bahasa yang akan cocok digunakan dalam situasi kehidupan nyata tertentu (misalnya jika bermain dengan dapur mainan, bicarakan tentang apa yang Anda lakukan saat menyiapkan makanan).
Stasiun bermain: Siapkan stasiun bermain yang mengajarkan gaya permainan yang berbeda (misalnya yang membangun: kereta api, balok, jigsaw, istana pasir, adonan mainan; imajinatif: dapur, pakaian, jalan).
BAHASABuku: Bacakan kepada anak setiap hari untuk memaparkan mereka pada konsep bahasa yang berbeda.
Kosa kata: Saat membaca buku, mintalah anak untuk menunjuk / menyebutkan gambar yang berbeda untuk memperluas kosa kata mereka. Jalan-jalan: Saat pergi jalan-jalan, tunjuk barang-barang dan sebut  namanya.
Kegiatan sehari-hari: Saat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti menyiapkan mandi, mengatur meja, menyiapkan makan malam, atau memilih model pakaian, bahasa yang dapat digunakan / dipahami anak dalam situasi ini (mis. Menyiapkan kamar mandi: Nyalakan keran. Siapkan sabun. Buka pakaian. Masuk ke kamar mandi.).
Mengikuti instruksi: Selama aktivitas sehari-hari dorong anak untuk mengikuti instruksi 2-3 langkah (misalnya ambil topimu dan masuk ke mobil). Cuaca:  Bicarakan tentang cuaca. Menghitung: Dorong anak untuk menghitung. Mengobrol saat makan bersama: Di meja makan, bicarakan secara bergiliran tentang apa yang telah dilakukan sepanjang hari.
Warna & bentuk: Berbicara tentang warna dan bentuk yang berbeda.
Konsep: Bicarakan tentang berbagai konsep seperti besar / kecil; di / dalam / di bawah; di depan / belakang / di samping; panjang / pendek; pendek / tinggi.
Buku konsep: Bacalah buku-buku yang berbicara tentang berbagai konsep (mis. Di mana domba hijau? Binatang apa yang memakan daun?). Model: Ketika anak menggunakan tata bahasa atau struktur kalimat yang tidak akurat, berikan contoh kembali kepada mereka cara yang benar untuk mengatakannya (misalnya anak berkata: “Itu jatuh!” Orang tua: “Oh, gelasnya jatuh qadarullah.”).
Waktu cerita: Cari waktu membacakan cerita dan ajukan pertanyaan tentang cerita tersebut. Murottal: setel murottal, bacakan surat-surat pendek
Scavenger hunt (berburu): Lakukan perburuan untuk mengikuti instruksi, perluas kosakata, dan bekerja sebagai tim.
Halang rintang: Lakukan kegiatan halang rintang untuk mengajarkan konsep yang berbeda.
Jadwal visual: Gunakan jadwal visual untuk menguraikan ekspektasi / aktivitas hari itu. Menghitung: Dorong anak untuk menghitung. Jurnal: Buat jurnal untuk anak-anak dengan menggunakan gambar agar mereka dapat menyampaikan kepada orang tua mereka apa yang telah mereka lakukan seharian.
Mengikuti instruksi: Latih anak 2-3 instruksi (misalnya angkat topi dan antre di depan pintu). Konsep: Ajarkan konsep warna dengan memberi label pada kelompok aktivitas berbeda dengan warna berbeda. Kalender: Setiap hari bicarakan tentang hari dalam seminggu, bulan dalam setahun, cuaca, hari apa kemarin dan hari apa besok. Buku bekas : Buatlah buku bekas untuk mengerjakan kategorisasi (mis.
Menyortir gambar ke dalam kategori yang berbeda seperti hewan, makanan, transportasi, pakaian).
PERKEMBANGAN EMOSIONALPerasaan: Bicarakan tentang perasaan dengan anak.
Identifikasi emosi: verbalkan ketika Anda melihat emosi tertentu pada orang yang berbeda, misalkan “Kamu sedang marah ya?”
Ekspresi Wajah: Komentari ekspresi wajah saat membaca buku dan bicarakan tentang perasaan orang tersebut dan mengapa.
Jelaskan Emosi: Bicarakan tentang cara untuk mengekspresikan emosi yang berbeda (misalnya ibu tertawa karena ibu bahagia; dia menangis karena sedih).
Kuasai beberapa hadits dan ayat sederhana untuk mengingatkan adab, “Dik, jangan marah agar dapat surga.” Atau “Dik, rendahkan suara biar tidak seperti keledai”
Peran Mainkan  emosi yang berbeda.
Jelaskan emosi: Ketika seorang anak merasakan hal tertentu, bicarakan dengan mereka tentang emosi mereka (misalnya jika seorang anak menangis model kepada mereka: “Kamu sedih karena kamu melukai lututmu” ATAU “Kamu menangis karena kamu sedih”) .
Buku: Diskusikan emosi karakter dalam buku.
LITERASIBacakan untuk anak itu setiap hari.
Tunjuklah kata-kata dalam buku tersebut saat Anda membacanya.
Tunjuklah gambar-gambar dalam buku tersebut saat Anda membaca ceritanya.
Waktu membalik halaman halaman: Imbaulah anak untuk membalik halaman-halaman buku, tetapi hanya setelah mereka selesai memperhatikan detail pada halaman.
Contohkan untuk anak membaca buku dari depan ke belakang. Seleksi mandiri: Dorong anak untuk memilih buku untuk dibaca pada waktu cerita.
Alfabet: Bermainlah dengan huruf-huruf Buku berima : Bacalah buku yang memiliki kata-kata berima
Game: Mainkan game seperti “I spy” untuk membantu anak-anak berpikir tentang hal-hal yang dimulai dengan suara tertentu (misalnya, “Saya melihat dengan mata kecil saya sesuatu yang dimulai dengan t”). Waktu cerita: Miliki waktu cerita setiap hari.
MOTOR BAGUSMemotong dan menempel: Gunakan karton (lebih mudah dipegang) untuk memotong bentuk geometris dan membuat gambar.
Menggambar: Sediakan model untuk menyalin atau menggambar satu bentuk pada satu waktu untuk disalin oleh anak.
Mewarnai: Warnai bentuk-bentuk kecil untuk mendorong kontrol pensil dan meningkatkan daya tahan untuk keterampilan pensil.
Maze/ Labirin: cari lembar kerja labirin yang menyenangkan untuk melatih  keterampilan menggunakan pensil serta mengembangkan persepsi visual.
Kerajinan: Dorong untuk memotong dan menempelkan berbagai potongan bahan bersama-sama untuk membuat sesuatu.
Penyimpanan: Gunakan tas ziplock atau wadah sekrup atas untuk menyimpan mainan, untuk memastikan anak-anak berlatih menggunakan keterampilan motorik halus mereka saat mencoba mengakses mainan.
Mainkan doh: Menggulung, meremas, mencubit dan membuat sesuatu dengan adonan mainan untuk meningkatkan kekuatan jari.
KETERAMPILAN FISIKBalapan berjalan dengan gerobak dorong untuk kekuatan tubuh bagian atas.
Berenang adalah aktivitas seluruh tubuh yang akan membantu membangun kekuatan dan daya tahan karena anak terus-menerus bekerja melawan sejumlah kecil hambatan di dalam air.
Jalan-jalan hewan: Berpura-pura menjadi berbagai binatang seperti kepiting, katak, beruang, atau cacing. Semua ini akan menggunakan berat badan anak sebagai daya tahan.
Lempar bola atau bean bag: Berat tambahan bean bag akan membantu mengembangkan kekuatan dan daya tahan.
Hopscotch untuk melompat, atau permainan lain yang mendorong latihan tugas / keterampilan secara langsung. #
Rintangan: Penyelesaian rintangan yang sesuai dengan usia akan membantu mengembangkan daya tahan.
Keterampilan bola: Tingkatkan pengalaman dan kepercayaan diri anak untuk mencoba keterampilan bola.

Referensi:

Andia Kusuma Damayanti, Rachmawati. 2016. Kesiapan Anak Masuk Sekolah Ditinjau dari Dukungan Orang Tua dan Motivasi Belajar. Psikovidya Vol. 20 No.1 April 2016.

Endang Supartini. 2006. Pengukuran Kesiapan Sekolah. Jurnal Pendidikan Khusus Vol. 2 No. 2, Nop 2006.

Mierza Miranti. 2018. AHA! Pelatihan Kurikulum Homeschooling Usia Dini