CHOCOMOM [Curhat Homeschooler's Mom], Grup Sahabat Klastulistiwa, Homeschooling Communities, My Reflection

[CHOCOMOM] Mempersiapkan Homeschoolers Memasuki Dunia Pesantren

Bismillah…

CHOCOMOM (Curhat Homeschooler’s Mom) adalah diskusi yang berlangsung pada akademi virtual Sahabat Klastulistiwa menggunakan platform Telegram. Pada tanggal 19 September lalu, kami mengundang mba Maya Dwilestari. Beliau memiliki 2 putri dan 1 putra yang pada tahun ini ketiganya masuk lembaga pendisikan, dimana sebelumnya dididik secara homeschooling.

Anak pertama beliau mondok di Nuraida Islamic Boarding School, sedangkan nak ke dua dan ke tiga sekolah tahfidz usia SD. Mba Maya sendiri juga dulu mdok selama 6 th, mulai lulus SD.

🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑

Mempersiapkan Anak HS Memasuki Dunia Pesantren

Maya Umm Abdillah

Sistem pendidikan pesantren bisa dibilang sebuah sistem pembelajaran hidup yang sebenarnya. Di sanalah kita akan belajar tak ada henti. Di asrama belajar sabar menahan amarah, antri, mempertahankan diri, menahan kantuk, dan sebagainya. Di kelas belajar menghafal berbagai matan, hadits, ayat, hingga ilmu-ilmu umum.
Oleh karena itu, mempersiapkan anak masuk pondok pesantren sebenarnya mempercepat ia untuk bisa mandiri menghadapi kehidupan ini. Semua kemampuan yang harus dimiliki calon santri, adalah kemampuan dasar yang memang harus dimiliki seorang anak.

1. Kemandirian

kemandirian meliputi mandiri dalam menjalani jadwal harian, belajar, mengatur barang-barang pribadi, dsb

2. Ketangguhan

Pondok pesantren merupakan miniatur kehidupan. Di dalamnga terdapat berbagai unsur yang mau tak mau akan menyeret emosi anak2 kita. Maka persiapkanlah anak2 agar mampu bersikap asertif, berkomunikasi dg baik, mengelola emosinya menjadi sesuatu yang posistif.Biasakan anak sejak di rumah untuk mampu menghadapi situasi apapun, terbiasa makan seadanya, berpakaian sederhana.

3. Kebutuhan fisik

Kebutuhan fisik meliputi kebutuhan di asrama maupun sekolah. Biasanya pihak pondok akan memberikan daftar kebutuhan santri sebelum mulai tahun ajaran baru.

4. Selaraskan visi orangtua dengan visi pondok.
 

Bila sudah searah, akan lebih mudah bagi orang tua memahami setiap langkah yang dilakukan pihak pondok.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

SESI TANYA-JAWAB

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

1.   Apa perlu mempersiapkan dari dini utk masuk pesantren?
J: Mempersiapkan anak memasuki pesantren itu sama dengan mempersiapkannya memasuki kehidupan yg sebenarnya. Karena kehidupan di pesantren seperti miniatur hidup bermasyarakat. Banyak keterampulan hidup yg diperlukan. Maka, persiapkan anak2 mjd anak yg tangguh, mandiri, berkahlak mulia adalah tugas org tua manapun. Hanya saja, pesantren akan lbh cepat memperlihatkan kpd kita, buah dr pengasuhan kita selama di rumah.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

2. Haruskah punya ijazah untuk masuk pesantren?
J: Iya, ijazah formal maupun nonformal

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

3.  Utk anak2 perempuan adakah aturan2 atau rambu2 khusus yg wajib diperhatikan utk masuk pesantren? Dari sebelum dan sudah masuk pesantren
J: Kalau bisa, anak perempuan sdh baligh, sdh mengerti konsekuensi dr baligh.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

4. Sejauh mana survei pesantren yg kita butuhkan? Apakah sampai hal detil mengenai karakteristik anak2 yg sdh masuk pesantren, ya kita nih ortu khawatir nya banyak mbak utk hal2 hubungan anak dan teman2 nya, khawatir bully lah atau yg lain2? Lebay gak sih berpikir sampai ke sana, mengingat banyak kejadian traumatis yg kita dengar tjd di sekolah2 asrama diluar pesantren bahkan pesantren pun ada
J: Survey lokasi, cari alumninya, lihat karakteristik alumninya. Cari tahu ttg akhlak pendiri dan ustad2nya. Soal bully, di semua lembaga pendidikan ada. Siapkan anak2 agar mampu bersikap asertif.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

5.  Anak sy sudah mondok tapi belum baligh. Hanya saja usianya memang sudah usia SMP. 11 tahun tapi sudah lulus SD. Sekarang mondok. Gpp ya mba?

J: kl pun blm baligh, pastikan dia sdh punya bekal ttg baligh, sdh mandiri, matang scr mental, tangguh.

T1: Kalau ini sy lihat sudah siap. Tapi ada kekhawatiran ketidak bersamaan dg sya ketika pertama haid itu yg saya masih galau. Perempuan. 12th oktober besok.

 T2: Mba, anak saya sama sekali belum disiplin. Saya takut di pondok menyusahkan orang lain..
J: T2 usia brp skrg anaknya? laki2 atau perempuan?

T2: perempuan, hampir 11 tahun. Sekarang Sd kelas 5
J: semoga ananda sdh siap menghadapi masa dewasanya. krn anak pr yg baru masuk dewasa itu, sangat labil emosinya, mood kacau, pengaruh hormon yg melonjak.

T2 anaknya sdh mondok?


T2. : Belum mondok mba.. tapi niatnya lulus Sd langsung mondok

J: oh begitu. keterampilan paling penting di pondok itu adl kampuan utk bs bersikap asertif.

pastikan ananda bukan anak yg agresif, tidak juga pasif.

anak yg agresif, mudah marah, tak bisa mengendalikan diri, beresiko mjd pelaku bully.
anak yg pasif, penakut, tak bisa mengenali perasaanya,ngga enakan, beresiko menjadi korban bully.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

6. Apakah memang pendidikan di usia baligh tempat yang paling pas adalah pesantren?

J: Saya tdk bisa menyatakan pesantren adl yg terbaik. Banyak cara yg bisa ditempuh agar anak2 mjd anak yg soleh/solehah. namun memang pesantren memiliki keunggulan sistem, dimana kehidupan selama 24 jam adl waktu belajar yg tak terputus, belajar di kelas, juga belajar hidup, mjd manusia yg bermanfaat.
β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
7. Terkait adab safar, perempuan boleh bepergian jauh kalau ada mahrom. Nah bagaiman dgn menuntut ilmu, misalnya di pesantren yg jauh dari luar kota. Apakah terkena adab safar?
Pertimbangan apa dalam memilih pesantren, selain harus se firqoh?


T: Silakan rujuk ke tulisan2 ustadz ya bu. Tetapi, yg pernah saya baca, jika anak tsb mukim utk menuntut ilmu, diperbolehkan. alloohu a’lam

saat safarnya, tentu hrs dg mahram, tetapi stl mukim di sana, boleh tanpa mahram. itu yg pernah saya baca.

 Pertimbangan pertm setelaah melihat manhajnya, lihat akhlak pemilik dan guru2nya.

T2: Ini cara mengetahuinya gimana? Apa kita tanya2 langsung ustadz2/ah disana atau gimana mba?

J: Lihat alumninya. akhlak para alumninya

T: Jadi ortu mesti aktif tanya sana sini ya mb. Brp lama survey atau mengenal pemilik/ustadz2nya?

J: kalau mereka punya medsos, gampang, tinggal stalking.. tanya2 juga ke alumninya

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

8. anak ana umur 6thn rencananya umur 7 thn mau diikutkan program rumah belajar Alquran dan hadits seperti di pesantren tapi boleh pulang, kabarnya di rumah belajar tersebut sistem belajarnya konvensional, harus tenang, berisik gak boleh, klo diperingatkan tidak bisa maka ustadz akan kasih hukuman sabet penggaris..bagaimana ya mempersiapkan mental anak untuk sistem yg seperti itu?


T: sama persis dg sekolah anak saya. bacakan kisah2 ulama jaman dahulu, bagaimana akhlak mereka kpd gurujelaskan keutamaan penuntut ilmu syar’i. lebih baik anak2 menangis krn mereka berpayah2 menuntut ilmu, drp menangis menyesal menyia2kan masa mudanya.

kalau adab si anak baik, insyaa allah dia ga akan dihukum. pengasuhan bukan tentang membahagian anak, membuatnya nyaman selalu. Tetapi soal pemenuhan tanggung jawab kita kpd Sang Pemilik anak kita.
pengalaman di sekolah tahfizh anak saya, anak2 yg dihukum itu tdk ada dendam, mereka tetap hormat, bahkan akhlaknya tambah baik. krn sang ustadz melakukannya dg cinta, kasih sayang yg bs dirasakan anak2, dan mereka juga memberi teladan.

T: Iya mba Maya, si anak Gpp kah diceritakan kondisi tempat dia belajar?

J: bukan diceritakan scr khusus mba maksudnya. Tetapi diajarkan adab2 menuntut ilmu, dan cerita para ulama saat waktu kecil dlm menuntut ilmu. Tak perlu diceritakan scr spesifik akan dihukum jika bla…bla…bla

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
9. Anak pertama saya usia 5y 7m. Kalo mengerjakan sesuatu selalu berlama2, misal mau mandi, pakai baju dsb. Mau berwudhu saja bisa 30 menit, duduk dulu, rebahan dlu, main air dlu dsb. Harus terus dimotivasi, baru agak lama kemudian dilakukan. Apakah dalam usia ini masih normal untuk ukuran kemandiriannya?

J:  Perhatikan, apakah ananda lambat krn tdk ada motivasi, atau krn sangat teliti, atau tipe pengamat?

di usia segitu sebaiknya dilatih memanfaatkan waktu dg baik. ceritakan kisah2 ttg waktu, keutamaan menyegerakan kebaikan.

T: Anak lambat pengamatan saya karena banyak teralihkan dengan hal2 lain, fokusnya masih bermain. Kecuali kalau dimotifasi, misalnya setelah sholat nanti diajak kemana gitu. Baru mau bersegera, dlu sebelum sekolah, di rumah, ketika saya bekerja biasanya memang full servis oleh mbaknya.. 😰

Mbak yang mengasuh..

J: kl sekarang msh ada mbak nya?

T: Masih, tpi alhamdulillah anaknya sudah mulai sekolah di semacam hsg. jdi interaksi dgn mbaknya agak terkurangi. Pgi sebelum berangkat, sy yg handle. Hanya saja, masih sering servis karena alasan bersegera berangkat.ll

J: ketika kita mengasuh, sebenarnya kita juga sedang mengasuh otak anak. Apabila anak kurang stimulasi, krn banyak pekerjaan yg dibantu, sel2 saraf otak pun tdk tersambung/sedikit sambungannya. Saat seorang anak diberi tugas, diberi tantangan, ia mengerjakannya, saat itu sambungan2 baru di sel otaknya terbentuk.

pengasuhnya mgkin hrs bersabar thd proses yg dilakukan sang anak, sabar menunggu ia menyelesaikan. memasang kancing, kaos kai, meletakkan piring, baju kotor, dll.
T2: Nah , kesabaran itu yang biasanya kurang dimiliki pengasuh selain ibu, termasuk neneknya

T2: Bagaimana jika anak terlsnjur sensng dimanaj dan malah menolak melakukan sendiri?
Misal makan inginnya disuapi saja
#terlanjur senang dimanja

T: mulai dr nol lagi. mulai dr ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri

inget ngga, od dasarnya seorang anak yg baru pertama makan, ia senang makan sendiri? siapa yg tsk sabar lalu mengambil alih, memutus fitrahnya utk mandiri?
T: Pengasuhnya πŸ™ˆ

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

10. Mohon tips2nya, memilih pondok yg sesuai, apakah perlu minta pertimbangan anaknya ataukah dominan arahan orang tua dengan komunikasi intensif?

Anak blm bs memilih. Org tua yg membuat short list, lalu sodorkan short list itu kpd anak, lakukan dialog, libatkan cita2 dan harapannya.
β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

11. Bagaimana cara melatih anak menyalurkan emosinya. Sedangkan anak sudah masuk pondok? 
J: Kl anak sdh di pondok, waktunya akan lbh banyak di sana. kerjasama dg pondok agaf pondok bs menampung dan mengasuh emosi ananda. Biasanya lewat musyrifah. Musyrifah ini biasanya karakternya lembut, penyayang, keibuan. Jalin hubungan yg baik dg beliau, jangan banyak menuntut

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

12. Bagaimana mempersiapkan cara meyalurkan emosi bagi anak yg hendak mondok?
J: Emosi diasuh, idealnya, sejak dlm kandungan. Berkembang pesat di 3 tahun pertama usia anak.
Membiasakan anak mengenali emosinya di saat kita melihat ada sesuatu di wajahnya. apakah kamu sedih?marah?takut? Lalu salurkan emosinya itu mjd bentuk positif, afahkan agar ia menemukan solusi.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

13. Kalau kita ingin anak tahfidz quran, apakah bisa dimasukkan ke pondok yang ada muatan umumnya? Apakah tidak malah lebih membebani anak karena banyak muatan materi yg harus dia kuasai? Karena ada kekhawatiran saya sebagai ibu untuk mempersiapkan dunianya juga.

J: Saya pribadi cenderung memilih utk yakin pd satu keinginan. Anak pertama saya menonjol di pelajaran umum, maka saya pilihkan dia pondok yv seimbang pelajaran umum dan agamanya.
anak ke 2 dan ke 3, saya pilihkan ekolah tahfisz dg sedikit pelajaran umum, krn berkaca pd anak pertama, pelajaran umum itu mudah,
Mierza Klastulistiwa:

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

14. Bagaimana membangun komunikasi dengan anak yg sudah masuk pesantren (kelas 8), sedangkan waktu komunikasinya sebentar sebentar?

T: Mendoakannya selalu. Sisanya, kita hanya bisa menurut kpd aturan pondok.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

15. Keputusan masuk pesantren harus permintaan si anak (dengan tujuan memang untuk menuntut ilmu) atau memang hanya keputusan ortunya saja?


Dan bagaimana jika keputusan itu bertentangan dengan orang tua kita atau mertua sebagai nenek/kakek anak2?

T: Pada akhirnya, anak hrs rela, ikhlas mondok, walapun awalnya adl keginan ortu. Jangan sesekali memalsa anak yg sama sekali tdk mau masuk pondok, sebesar apapun keinginan kita.

saya sdh bbrp kali melihat, anak2 yg terpaksa dan dipaksa mondok, seringkali mjd sumber masalah.
β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”


16. Bagaimana agar anak memiliki keinginan dan kesadaran sendiri untuk masuk pesantren?

J :Anak belajar dr apa yg dilakukan orang tuanya. Jika kita adl org tua yg senang belajar, menghadiri kajian, hafal nama2 ustadz, senang menghafal quran, berteman dg org2 soleh, insyaa allah tak sulit mendorongnya mondok. Pastikan ananda berteman juga dg org2 solih, berada di lingkungan yg baik.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

17. Jika anak masuk pesantren di usia SMP , bagaimana cara mengembangkan bakatnya? Mengingat pengarahan bakat juga penting untuk peran hidupnya agar bermanfaat bagi manusia

J: Ikut kegiatan ekstra di pondok
kalau memungkinkan, bawakan benda2 yg mendukung bakatnya, dg seizin pondok.
Ω‹

komunitas homeschooling, komunitas homeschoolig tangerang, komunitas homeschoolig jakarta
Homeschooling, Homeschooling Communities

AHA! in the GarDEEN Insya Allah Ada di Villa Dago Tangsel Lho

AHA! in the GarDEEN Insya Allah Ada di Villa Dago Tangsel Lho

πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚

Di sini kita akan belajar bareng bu Mierza dengan:

🍭 Sesi seru art & craft

🍭 Menjalin persahabatan

🍭 Beragam keterampilan sehari-hari

🍭 Pengenalan Bahasa Arab untuk Anak (bareng ka Jenna)

🍭 Mendengarkan kisah-kisah penuh hikmah umat terdahulu

 

⏰4X Sabtu/Tema

Mulai 14 Oktober 2017

Kelompok laki-laki 09.30-11.30

Kelompok perempuan 12.30-14.30

 

🏑 Rumah Teh Ulfah

Villa Dago Serua Pamulang Tangerang Selatan

 

INVESTASI

Biaya modul tematik, flash cards, poster, atau media belajar lain dengan konten pilihan Rp100,000/4x pertemuan (boleh dicicil per pertemuan/ subsidi bagi yang memerlukan)

>>>> Pendaftaran Rp100,000 bagi yang belum bergabung dengan kegiatan offline Sahabat Klastulistiwa (AHA dan SIDDIQ). Biaya ini digunakan untuk subsidi teman2 yang kesulitan membayar dan uang kas kegiatan.

 

 

==========

NARAHUBUNG

Teh Ulfah 081313120391 (WA)

Ceu Mierza t.me/klastulistiwa

facebook.com/klastulistiwa

https://klastulistiwa.com/2017/08/13/jadisahabat/

πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚

AHA! (Aqeela Home Academy)

IkhtiarMenujuGenerasiMudaBeradab dan BerakhlakMulia

My Reflection

[CHOCOMOM] β€œManfaat Memilih Pendidikan Berbasis Keluarga (Homeschooling) Bagi Keluarga Muslim”

CHOCOMOM (CURHAT HOMESCHOOLER MOM)

Diskusi Sahabat Klastulistiwa –Β 15 OKTOBER 2017

==================

 

Bismillah. Berikut adalah berikut adalah kesimpulan Diskusi CHOCOMOM pertama. Diskusi ini sebenarnya masih uji coba metode yang yang diterapkan SK (Sahabat Klastulistiwa). Sehari sebelumnya, peserta diberikan materi mengenai *10 MANFAAT MEMILIH PENDIDIKAN BERBASIS KELUARGA (PBK/ HOMESCHOOLING)*Β yang kemudian dibahas satu per satu sebagai berikut:

*1. Β Dengan homeschooling, anak Muslim bisa fokus lebih banyak dalam mengejar ilmu persiapan akhirat mencapai Jannah daripada ilmu persiapan dunia (yang sudah jelas dipandang hina oleh penciptanya – Allah Azza wa Jalla).*

Ini jelas yaaa… visi tiap muslim. Hati2 mengejar dunia.. karena penciptanya pun menganggapnya Hina. Kembalikan semua tujuan, kegiatan anak2 dan kita ke satu pertanyaan:

*APAKAH INI BERGUNA UNTUK BEKAL AKHIRATKU?*

*2.Β Anak bisa belajar dan berkompetisi dengan dirinya sendiri dalam kenyamanan dan keamanan rumah mereka sendiri.*Β 

Intinya? Ada yang tahu? Kembali ke visi sebagai keluarga muslim?

Apakah belajar mengalahkan ego? Β Benar. Dalam hal ini, anak muslim yang mengambil homeschooling bisa melakukan muhasabah untuk menjadi lebih baik dari saat ini dan sebelumnya dalam lingkungan yang nyaman.

 

*3. Β “Anak-anak bisa belajar secara holistik sesuai gaya belajarnya.*

Holistik atau menyeluruh (bagi Muslim) maksudnya adalah mempelajariΒ hal yang bisa jadi tidak dipelajari di sekolah umum, terutama dalam ilmu diin. Pembelajaran ini juga mengatur aplikasi keseharian sebagaimana diatur dalam agama islam. Contohnya,Β AQIDAH yang lurus, akhlaq yang baik, Qur’an dan sunnah yang bukan hanya di baca dan dihafal tapi di tadaburi dan diamalkan. Begitu pula dengan ilmu dunia. Kesemuanya ini dipelajari sesuai dengan gaya belajar anak, apakah visual, auditory, atau kinestetik. Melalui homeschooling, orang tua bisa memiliki pengalaman pertama sebagai pengamat dan ‘penemu’ gaya belajar anak.

 

 

 

*4. Perhatian secara personal memberikan umpan balik instan dan penilaian yang cepat serta peka akan kekuatan dan kelemahan anak.*

Sebagai fasilitator, jumlah peserta sangat menentukan respon, kualitas, dan tentunya kuantitasnya. Mari kita bayangkan, apakah seorang guru bisa membersamai ke dua puluh anak didiknya pada waktu bersamaan? Β Apkah bisa dengan sebua perhatian yang terbagi itu, dengan semua target dan pekerjaan administrasi, seorang guru bisa secara langsung menyentuh pada saat anak menunjukkan kelemahan dan kekurangannya ? Orang tua yang membersamai anaknya memiliki kelebihan ini. AHA! Moment yang ditemukan anak bisa secara langsung dikenali, biidznillah. Tentunya, orang tua bisa langsung memberikan umpan balik tanpa harus menunggu lebih lama dan kesempatan untuk Β membersamai memberikan untuk mencari tahu kelemahan dan kelebihannya

 

*POIN NO 5-9:*

  • Homeschooling memungkinkan waktu yang lebih banyak untuk kreativitas dan hands-on learning (mmm semacam praktik) yang membuat pendidikan menjadi menyenangkan dan berkesan.
  • Anak-anak memiliki kebebasan dan fleksibilitas dalam mengejar topik dan bidang minat yang benar-benar penting bagi mereka
  • Anak-anak yang belajar di rumah memiliki motivasi diri, percaya diri, mandiri, dan bersemangat untuk terus belajar.
  • Homeschooling mengarah pada keterampilan sosial yang tepat, tingkat kematangan tinggi, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari segala umur.Β 
  • Anak-anak yang belajar di rumah mendapatkan manfaat dari pengalaman belajar di “dunia nyata”, mempersiapkan mereka untuk hidup dan dunia di luar sekolah.Β 

Semuanya poin 5-9 ini harus dikebambalikan lagi ke satu pertanyaan. Apakah itu?

Sebelum mengambil keputusan, sebelum melaksanakan, seraya melakukan, ketika evaluasi, selalu tanyakan kepada diri dan keluarga pertanyaan ini:

*APA MANFAATNYA UNTUK AKHIRATKU?*Β Garis bawah, highlight, tebalkan, italics.

 

 

*10.Β Homeschooling menguatkan keluarga – jauuuh lebih dekat lagi, menciptakan waktu spesial dan kenangan berharga yang bertahan seumur hidup.*

*11. Homeschooling bisa memberi dampak positif bagi keuda belah pihak untuk belajar Β bersama.

*12. Mengenai kurikulum, kita harus mengembalikan dulu ke pembahasan mengenai VISI DAN MISI Β yang sudah diberikan dalam Al Qur’an (dan Sunnah dalam pemahaman salafush shalih atau 3 generasi terbaik Islam terdekat dengan Rasulullah).

Untuk visi, clue-nya adalah 666.

VISI pendidikan keluarga muslim tercantum dalam QS At Tahrim: 66, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”.

Bagaimana dengan MISI?

 

*MISI Pendidikan tercantum dalam QS Luqman ayat 12-18.*

Silahkan kunjungiΒ https://klastulistiwa.com/2013/09/12/luqman-wisdom/Β atau Β https://klastulistiwa.com/2017/01/03/seri-landasan-homeschooling-islami/Β yang memuat landasan atau misi pendidikan berbasis keluarga.

==========

Ahamdulillah. Uji coba sistem grup CHOCOMOM sudah selesai. Insya Allah pada Selasa pagi, Β SK akan mendatangkan narsum Ibu yang maasyaa Allah… berhasil mengantarkan anaknya masuk pesantren. Artinya? Anak siap pada usia 12 tahun. Siapa dia? Ada deh… hehehe.Β Yang pasti metode diskusi sama. πŸ™‚

Cuma waktunya lebih terbatas untuk memberi pertanyaan dan tanggapan. Untuk pertanyaan dan tanggapan yang masuk kemarin, disertakan dalamΒ resume bagian 2Β nanti, insyaAllah.

Mari kita tutup dengan doa kafaratul majlis. ^^

 

Homeschooling, Homeschooling Communities

AHA! in the GarDEEN

ENGLISH-AHA! INTHEGARDEEN

Bismillah…

[AHA!]Aqeela Home Academy presents

*AHA!in the GarDEEN*

Tempat kamu yang berusia 6-12th belajar:
  • Bahasa Ingris tematik
  • Kisah-kisah penuh hikmah umat terdahulu
  • Kecakapan hidup bagi Muslim
  • Keterampilan
  • Mengikat ilmu
  • Adab dan akhlak Islam
Dalam sesi seru di Aisha Homeschool, taman, dan lokasi belajar lainnya — terpisah laki-laki dan perempuan yaa (kecuali saat family field trip).
SEMINGGU SEKALI
  • 2x pertemuan offline
  • 1X belajar online
  • 1x field trip di akhir tema
INVESTASI
  • Pendaftaran 50,000
  • Fee/bulan 100,000
  • Bayar 3 bulan free pendaftaran
FASILITAS
  • Ilmu yang bermanfaat.
  • Modul, flash cards, poster, dan media belajar dengan konten yang aman.
  • Online & offline sharing session with homeschool parents
  • Sertifikat di akhir tema ketiga.
Yuks, kuota terbatas lhooo.
Sesi dimulai hari Selasa, 19 September 2017
=================
CP Bu Mierza
WA 081369372335
Telegram:Β t.me/klastulistiwa
komunitas homeschooling islam sunnah salaf
Homeschooling, Homeschooling Communities

Mau Jadi Sahabat Klastulistiwa dan Berkegiatan Bareng Aisha Homeschool?

Bismillah.

Aisha Homeschool ingin mengajak keluarga Muslim berkegiatan bersama melalui sebuah wadah yang kami namai SAHABAT KLASTULISTIWA. Harapan kami, Sahabat Klastulistiwa dapat menjadi sebuah komunitas bagi keluarga Muslim yang mendidik di rumah berdasarkan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Sahabat, Thabi’in, dan Thabi’ut Thabi’in atau generasi shalih terdahulu yang hidup dekat jaman Rasulullah.

Insya Allah, beberapa hal yang sedang kami persiapkan adalah:

  • Kegiatan rutin tematik Islami offline untuk keluarga, diawali kegiatan bersama keluarga secara online dan diakhiri kegiatanΒ field trip yang disesuaikan tema dan kelompok usia (thamyiz, mumayyiz dan pra-baligh).
  • Kegiatan berkala untuk mengasah potensi namun tetap syar’i.
  • Kajian Islam online dan offline mengenai pengasuhan dalam Islam sesuai Qur’an dan Sunnah dalam pemahaman 3 generasi shalih terdahulu, terutama untuk keluarga yang memilih sekolah rumah.
  • Grup diskusi yang terpisah antara ayah dan ibu agar tidak terjadi ikhtilat, menggunakan platform Facebook Group dan Telegram (untuk penggunaan WhatsApp sedang kami pikirkan).

Disini kami mengutamakan kualitas, bukan kuantitas jumlah anggota. Kenapa? Karena ada transfer ilmu dan efektifitas kegiatan yang harus kami pertanggung jawabkan. Jadi, yakinkan diri bahwa Bapak/ Ibu siap berlelah-lelah menjadi pendidik rumah peradaban Islam sebelum bergabung dengan kami.

Jika sudah siap, silahkan mengisi formulir dengan klik tautan di bawah ini .Kegiatan belajar bersama terdekat insya Allah akan dimulai paling lambat 1 bulan dari sekarang. Kami tunggu yaaaa.

Jazzakumullahu khairan katsira.

Klik tautan ini untuk mengisi form:

Formulir Pendaftaran Sahabat Klastulistiwa

 

Atau, jika sulit mengisi link di atas, silahkan meninggalkan komentar dengan format berikut. Komentar tidak akan ditayangkan dan akan dijamin kerahasiaannya:

  • Peran Anda: Suami / Istri (hapus salah satu)
  • Nama Anda:
  • Nama Pasangan Anda (Tulis Suami/Istri):
  • Alamat AndaNomor Telfon (WhatsApp) Anda
  • Nomor Telfon (WhatsApp) Pasangan
  • Nama Anak-Anak dan tahun lahir (Tuliskan 1-2-3 sesuai urutan anak)Β 
  • Hobi/ Pekerjaan/ Kegiatan/ Passion Anda
  • Hobi/ Pekerjaan/ Kegiatan/ Passion Pasangan
  • Passion/ Hobi Anak-Anak Anda
  • Apa Nama Akun Facebook Anda?
  • Apa Nama Akun Facebook Pasangan Anda?
  • (Jika Ada) Tuliskan email Anda dan pasangan
  • Apakah Anda melaksanakan Homeschooling?
  • Apakah kontribusi Anda jika bergabung?Β 
Homeschooling, Homeschooling Communities

Sosialisasi Untuk Homeschooler Gimana?

Pertanyaan yang sering ditujukan kepada keluarga yang memilih jalur nggak sekolah adalah: “Bagaimana dengan sosialisasi anak homeschooling kalau bukan di sekolah?”

Pertama, kita perlu mengubah mindset kita dulu soal sosialisasi. Kalau menurut KBBI, sosialisasi adalah ‘proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya” . Sebagai muslim, tentu kita harus menyesuaikannya dengan syariat, seperti tanpa ikhtilat dan sesuai dengan adab serta akhlak seorang Muslim.

Mari garis bawahi kata ‘mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya’. Bukankah di luar sekolah, kita bisa melakukannya secara real? Tidak hanya mengenal melalui buku? Atau, apakah sosialisasi dibatasiΒ tembok sekolah dan hanya dengan teman Β rentang usia yang sama?

 

Sosialisasi Bagi Homeschooler Muslim

Mierza Ummu Abdillah

Setelah menjalani homeschooling, saya merasa ‘sosialisasi’ ini jauh lebih terjaga insya Allah – tapi sekaligus lebih luas dan tertata.

TerjagaΒ – karena kita tahu dan bisa memilihkan teman, menjaga mereka dari ikhtilat, efek buruk pergaulan, menjaga agar percikan minyak wangi saja yang ada di sekitar mereka, dan terjaga dengan pendampingan kita hingga mereka siap menghadapi dunia sebagai Muslim yang utuh. Bayangkan rasio HS-ibu dan murid-guru.. kira-kira, rasio yang mana yang lebih terjaga?


Lebih luas
Β – karena sosialisasi anak homeschooling tidak terbatas di lingkungan sekolah saja, tapi lintas usia, profesi, keinginan – tentunya dengan penjagaan kita. Sosialisasi tidak hanya satu kelas dengan rentang usia tertentu saja. Bukankah kita sering membaca riwayat Rasulullah dengan anak-anak kecil yg belajar di sekitarnya? Atau para sahabat, thabi’in, thabi’ut thabi’in yang meminta jawaban dari orang yg lebih muda karena diakui kecerdasan dan keilmuannya – seperti Umar bin Khattab yang memasukkan Ibnu Abbas yang berusia 17 tahun dalam anggota dewan bersama para sahabat peserta perang Badar? Inilah sosialisasi.

 

Tertata – Β karena kita bisa mendesain ‘lingkaran sosialisasi anak-anak’ sesuai tujuan pembelajaran kita. ^^ Bisa dengan bergabung dengan komunitas homeschooling atau komunitas pembelajar yang sesuai dengan visi dan misi kita sebagai muslim. Bisa dengan orang yang sesuai dengan kecakapan hidup yang ingin kita tanamkan, misalkan pedagang di pasar, pembuat kue, saudara atau teman yang bisa menjaga rumah tetap bersih meski punya seabrek kegiatan, dan banyak lagi. Bisa dengan sering-sering mengunjungi saudara untuk meraih pahala dan membelajarkan adab, misalkan menjenguk orang sakit, takziyah, menolong sesama muslim – tanpa bingung mengatur waktu hanya di akhir pekan saja. Bisa juga dengan membuat acara anak-anak di rumah, jika memang kita ingin anak-anak bergaul dengan teman sebaya.

Jadi, tidak sekolah bukan berarti tidak bisa bersosialisasi bukan?

 

Aisha Portfolio, Homeschooling Communities

[PRINTABLES ADAB MAKAN] Kelas Adab dan Pizza: Tidak Sekedar ‘Outing’

Kegiatan memasak atau membuat pizza hari Rabu, 5 April 2017, lalu Β diawali dengan kelas adab, yaitu adab makan. Seruuuu, masya Allah. Kenapa belajar adab dulu sebelumnya? Karena setiap detiknya, seorang Muslim akan ditanya apa guna waktunya. Insya Allah kegiatan komunitas HS Muslim yang ini tidak hanya belajar ilmu dunia ketika berkumpul bersama. Oiyaaa.. ada sesi bagi2 lerak juga lhooo.

Untuk printables saya unggah dua versi yaaa. Yang diunduh enaknya yang langsung berbentuk buklet. Tinggal kasih staples ditengah.

Ini buklet Adab Makannya:

 

Yang diunduh enaknya ini aja. Tinggal di-staple tengahnya:

 

Semoga bermanfaat.

Homeschooling, Homeschooling Communities

[PRINTABLES] Belajar Adab dan Menghias Tas Bersama Komunitas Homeschooling Muslim

Mundur! Hentikan pelajaran dulu jika adab belum berterima. Dan ini yang kami lakukan sebagai orang tua muslim para homeschoolers. Membangun tradisi yang mementingkan adab dalam menuntut ilmu seperti yang dilakukan Rasulullah, sahabat, thabi’in, dan thabi’ut thabi’in.

.

.

Karena itu, dibuatlah majelis nasehat sebagai pembuka kegiatan dalam pertemuan Mosqueschooling Komunitas Homeschooling Muslim ini. Daaan… karena yang ikut kebanyakan adalah krucils, maka saya harus berstrategi agar ilmu adab ini sampai dan diamalkan (aamiin).

whispering-games
Bisik Berantai – Image Courtesy: Kaka Jouce

Akhirnya, saya siapkan printables seperti di bawah ini (bisa diunduh di klastulistiwa.comΒ yaaa) yang bersinggungan dengan pelajaran mengenai alat indera, permainan rantai berbisik di awal majelis, Β dan beberapa strategi berbicara dengan anak-anak.

Nah, apakah adab ini hanya bisa diajarkan secara klasikal oleh guru sekolah/ TPA? Apakah orang tua hanya bisa memberi teadan saja? Tentu saja, tidak. Namun tentunya, dalam menyampaikannya, orang tua sebaiknya memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi kepada anak ketika menanamkan ilmu kepada anak di rumah.

home-printable

Ini ikhtiar yang bisa kita lakukan sebagai orang tua:

  1. Berdoa memohon kemudaha kepada Allah. Ya karena yang memiliki hati anak-anak kita ya Allah kan yaaa, karena itu mintalah kepada sang pembolak-balik hati.
  2. Untuk anak usia di bawah 7 tahun, gunakan kalimat yang isinya kata-kata pendek, tidak lebih dari 5 kalimat.
  3. Eye-to-eye level jika berduaan saja. Bisa dengan cara kita duduk atau berlutut.
  4. Memanfaatkan gelombang alpha – saat anak bahagia. ^^ Jadi, jangan saat kita marah atau kesel baru ada kejadian huru-hara memberi nasihatnya. Itu sebabnya kalau transfer, ada baiknya level bahagia disamakan dengan fasilitatornya, bisa melalui cerita sirah, permainan, atau diskusi.
  5. Ulang poin sebelumnya sebelum pindah ke poin berikutnya (di bawah ada 6 poin yang diberikan).
  6. Cek pemahaman anak melalui pertanyaan. Hal ini juga bisa menjadi cara mengetahui apakah sudah sampai ilmu yang kita berikan.
  7. Ketika ingin mengingatkan tentang adab, kurangi bicara yang tidak perlu. Fokus pada apa yang ingin disampaikan. Misalkan, ketika anak tampak tidak mendengar, cukup beri isyarat, atau elus pundaknya lalu tanya “Ayo, tadi Umi bilang apa?”, atau mengulangi apa yang kita katakan. Jangan menambah kata, ‘Jangan bandel.” atau kata-kata tambahan yang tidak perlu.
Printable Untuk Diwarnai Di Rumah
Printable Untuk Diwarnai Di Rumah

Setelah majelis ilmu, anak-anak berkegiatan seruuu dengan tante Ayu, mamanya Aliya. Apa kegiatannyaaaa? MEWARNAI TAAAS Yaaaaaay Dari bayi-bayi sampai kakak-kakak semua larut dengan cat air dan tasnya. Makasiii tante Ayuuuuu.

Oh iya, pada saat pertemuan Mosqueschooling tersebut, hal yang paling saya dan anak-anak sukaaaa adalah bagian makan bersamaa hahaha. Terasa guyub, menyenangkan, daaan kenyang. ^___^

Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimush shalihaat. Seruuu yaaaa… Tapi, inga.. inga… keseruan kumpul-kumpul tentu harus memiliki tujuan yaaa. Karena nanti kita akan ditanyakan mengenai waktu yang kita gunakan. Insya Allah, dengan majelis nasihat ini, kita akan menjawab pertanyaan itu dengan indah, insya Allah.

Homeschooling

Rencana Mosqueschooling Bareng Komunitas Homeschooling

Sejak memulai homeschooling, sebenarnya saya yang ketar ketir soal sosialisasi anak. Karena itu, saya mulai deh pencarian komunitas homeschooling di Tangerang Selatan ini sesegera saya pindah ke sini. Ketika saya heboh mencari dengan perasaan saya yang kebat kebit, meskipun menc0ba menolak ketika ada prasangka bahwa homeschoolers aneh dan gak gahul, eh anak saya malah sudah berteman dengan tetangga sekampung dengan bahagianya. Dan itu saya sadari ketika saya sudah bergabung dengan beberapaΒ KOMUNITAS HOMESCHOOLING.

Semoga saja ini menjadi jalan kebaikan yang membuat saya beneran punya rumah di Tangerang. Aamiin.

Nah, salah satu komunitas yang saya ikuti sampai saa ini adalah HSKM Tangerang.Β Awalnya, saya jadi admin bareng rekan Admin yang baik hati, yaitu Uni Lia. Beliau memegang area Tangerang dan saya di Tangsel karena lokasi rumah kami. Saya seneng banget bisa obok-obok grup ini bareng beliau, hehe, karena bisa buat dari awal. Konsep yang ingin kami usung setelah setelah homeschooling adalah mosqueschooling. Yup, co-op untuk memakmurkan masjid. Pertemuannya pun berkurikulum yang terinsiprasi dari IB, tapi sebenarnya basisnya saya ambil dari buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam karangan DR. Abdullah Nashih Úlwan. Ahasil, inilah rancangan mosqueschooling yang akan kami lakukan, insyaAllah. Oh iya, sebelum mosqueschooling, biasanya kami mengambil tema kajian Whattsup yang berkaitan. Hal ini supaya kami sebagai orang tua juga belajar sebelum ‘mengajari’dan menjadi sumber ilmu anak kami. Nah, ini dia… Bismillah.

HSKM Coop Ideas - Klastulistiwa

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Merancang Kurikulum (HS) PAUD Berdasarkan Tumbuh Kembang

Jpeg

Berikut ini adalah Standar Tumbuh Kembang Anak Bayi – 6 Tahun untuk para Ibu yang ingin memberikan yang terbaik untuk permata yang diamanahkan. Bukan buatan saya tentunya. Sila klik untuk langsung ke sumbernya.

Dalam berkas-berkas yang pasti dimulai dengan pendahuluan itu, ada bagian yang saya sukai, yaitu PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI:

  1. Berorientasi pada Perkembangan Anak
  2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak (fisik dan psikis)
  3. Bermain sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
  4. Berpusat pada anak
  5. Lingkungan yang kondusif
  6. Menggunakan pembelajaran terpadu
  7. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
  8. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
  9. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang–ulang
  10. Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan
  11. PemanfaatanTeknologiInformasi

Nah, ini dia.. silahkan.

Standar Perkembangan Anak Usia 1-6 Tahun

Catatan saya: standar di atas merupakan acuan, bukan goal yang kudu dan wajib dikejar. Hal ini karena setiap anak itu unik dan memiliki kecepatannya sendiri. Yang bisa dilakukan orang tua adalah berdoa dan memberikan exposure yang sesuai usianya.

Oh, iya saya juga cantumkan ceklis tumbuh kembang dari negara tetangga beda RT, Australia sebagai perbandingan. Yang ini sampai usia 13 tahun. Silahkaan…

Development Checklist NSW

Terus??? Mana kurikulumnyaaaa? Hehe.. sekali lagi.. berhubung saya penganut better late than early, jadi begini saja langkah-langkahnya ya:

  1. Fokus pada tabel usia anak
  2. Buatlah ceklis
  3. Silahkan googling aktifitas atau mainan yang sesuai dengan ekspektasi tumbuh kembangnya. Ada banyaaak sekali inspirasi dari internet yang bisa diterapkan.

Bagi yang memerlukan Acuan Kurikulum Nasional terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini serta Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, silahkan mengunduh di bawah ini

Lectures of Life, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Sebelum Memulai Homeschooling

Ilmu sebelum amal. Yak, dalam memulai sekolah rumah pun sama. Jangan mentang-mentang homeschooling atau flexi-schooling terus kita tinggal liat kurikulum, beli buku, terus belajar sendiri atau sewa guru. Udah. Hayyaaaah, itu mah sama aja kayak pindah sekolah tapi fisiknya doang.

Sebelum mulai, sebaiknya memang kita konsultasi dulu dengan yang sudah memulai. Mereka yang sudah merasakan pahit getir homeschooling. #Cieeee *kibas jilbab*

Homeschooling is such a solution, kalau kata saya mah. Kita bisa fokus dengan ngaji, hobi, dan apapun. Plus, belajar pun lebih dalam lagi by the help of the world wide web sama guru atau narasumber yang bisa kita pilih sendiri. Kalau sekolah? Hyaaaaa… mana bisaaaaaa! Yang ada kita telan aja tuh segala kualitas guru, konten, sistem, pengajaran, manajemen, yang bisa jadi di bawah standar harapan kita.

Terus, karena tidak dipahamkan pelajaran, setelah sekolah full day, anak disiksa lagi dengan bimbel? Kali ikut kursus, wajar lah ya… Tapi, BIMBEL??? Hmm, terus, fungsi guru, sistem sekolah, dan prosedur sekolah untuk mencerdaskan dimana yaaa? Well, it’s illogical, isn’t it? *gagal paham*

image

Ah sudahlah… gak selesai-selesai ngomongin sekolah mah. Now, for a start , saya rangkumkan nih blog dan situs yang dibuat emak bapak para homeschooler, komunitas sekolah rumah, atau malah muridnya sendiri. Here we go, para mastah dan guru yang sudah berkecimpung lebih dulu (dan kemungkinan lebih tua dari saya, yes!) di dunia keren inih. Happy blogwalking. πŸ™‚

1. Kumpulan blog ibu-ibu homeschooler muslim dari Pinterest
2. Middle Way Mom: Islam, Homeschooling, Parenting
3. TJ Homeschooling: Islamic Studies
4. Rahmah Muslim Homeschool
5. Islamic Studies on Pinterest
6. Happy Muslim Mama
7. Homeschool for Muslims
8. Iman Homeschool
9. A Muslim Homeschool
10. A Muslim Homeschool Journey
11. The Wired Homeschool
12. Eva Varga
13. Homeschool Scientists
14. Tea Cups in the Garden
15. This Reading Mama
16. The Home Scholar
17. Education Possible
18. Tyna’s Dynamic Homeschool Plus
19. Harrington Harmonies
20. Unschool Rules
21. Confession of a Homeschooler
22. Raising Lifelong Learners
23. Homeschool Creations
24. Living Montessori Now
25. Our Journey Westward
26. Blogs, She Wrote
27. Rumah Inspirasi
28. Blessed Learners
29. Komunitas2 Homeschooling Lainnya
30. Homeschooling Jakarta

Fiuuh… Masya Allah… Banyak ya? Padahal itu belum semua loooh… Harus semangat nih ngelmunya .

Bismillah.