Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

25 WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB

Pengasuhan anak dalam Islam menempati porsi yang penting, apalagi bagi yang memilih jalur homeschooling dimana orang tua menjadi perancang, pelaksana, dan evaluator yang utama.

wp-1465448591978.jpegBersyukur sekali saya dimudahkan untuk duduk selama dua bulan dalam kajian kitab parenting Islami, Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan. Tidak ada yang bisa saya berikan sebagai balasan sepadan dari ilmu yang bermanfaat itu selain membagikannya.

Dalam bab 3 ini, dibahas tentang wasiat-wasiat generasi terbaik Islam terdahulu – sahabat, thabi’in, thabiut thabiin – untuk para pendidik adab, yaitu orang tua.

Beberapa nasihat itu memiliki hilir yang sama dan insyaAllah bermanfaat dalam mendidik anak-anak kita. Silahkan klik tautan pada nama masing-masing pemimpin di blog saya, klastulistiwa.com,  untuk mendapatkan kalimatnya secara utuh. Berikut wasiat berharga para pendidik yang patut kita renungkan sebagai pelajaran.

Sepuluh wasiat pertama di bawah adalah  wasiat Utbah bin Abi Sufyan kepada Abdush Shamad, pendidik anak-anaknya. Beliau menginginkan agar sang pendidik dapat:

1. Memperbaiki diri sebelum mendidik adab.

2. Menjadi pendidik yang menyenangkan.

3. Mengajarkan Qur’an dan hadits.

4. Mengajarkan syai’r-sya’ir yang penuh hikmah, namun tidak menjauhkan dari ibadah.

5. Menggunakan kalimat yang dipahami anak.

6. Menyelesaikan pelajaran yang telah dimulai hingga benar-benar paham dan tidak terburu-buru loncat ke bab selanjutnya/ materi lain.

7. Mengajari anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

8. Melatih anak memilih tauladan/ idola yang baik adabnya.

9. Menguatkan anak untuk menjauhi ikhtilat, terutama setelah baligh.

10. Bersemangat dan menghindari bersantai-santai dalam mendidik.

Khusus untuk ikhtilat, Umair bin Habib juga mewanti-wanti akan bahayanya. Beliau menegur Ziyad ketika tahu bahwa ia menceritakan tentang dunia dan wanita saat mengajari anaknya.

Sementara tentang meriwayatkan syair yang penuh hikmah, Harun bin Muhammad dari Bani Abasyah juga sangat mementingkannya karena dalam syair tersebut terkumpul adab yang bernilai tinggi. Beliau juga menambahkan beberapa wasiat agar pendidik dapat:

11. Membacakan Qurán kepada anak dengan bacaan yang bagus.

12. Memberikan berita-berita yang bermanfaat.

13. Meletakkan kalimat pada tempatnya (ilmu komunikasi).

Mengenai syair, ternyata Syuraih Al Qadhi pun sering bersyair. Seperti syair yang ia tuliskan kepada pendidik anaknya yang intinya agar pendidik tersebut dapat:

14. Mendidik anak tepat waktu dalam mendirikan shalat

15. Menasehati dengan nasehat yang mendidik dan cerdas

Nasihat yang mendidik tentunya memiliki cara yang baik dan berterima. Salah satunya diwasiatkan Hisyam bin Abdul Malik yang mengingatkan pendidik adab anaknya untuk TIDAK MENASEHATI DI DEPAN ORANG LAIN, karena akan cenderung mendorong si anak untuk berbuat kesalahan lagi.

Sementara itu, Muawiyah bin Abi Sufyan menyebutkan beberapa hal penting lain yang perlu diajarkan kepada anak. Ilmu dan keahlian tersebut diantaranya:

16. Mempelajari bahasa Arab.

17. Mempelajari nasab.

18. Mengetahui ilmu tentang perbintangan.

19. Bersikap kritis dan mampu melontarkan pertanyaan kritis dan berkualitas.

20. Mendidik hati untuk berusaha memahami.

Lalu, Abdul Malik bin Marwan lebih menekankan kepada 2 hal yaitu:

21. Mengajari kejujuran seperti mengajarkan shalat

22. Membiasakan anak untuk berada dalam lingkungan orang-orang yang beradab baik.

Terakhir, yaitu dari Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khatab. Beliau mewasiatkan beberapa hal, yaitu:

23. Latihan fisik itu sangat baik, selama waktunya tepat.

24. Hindari terlalu banyak tertawa karena mematikan hati.

25. Cerdaslah memilih mainan yang tidak melalaikan dari mengingat Allah, seperti alat musik, karena bisa menumbuhkan penyakit nifaq dalam hati.

Alhamdulillah. Demikian yang bisa saya bagi hari ini. Semoga bermanfaat.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Syuraih Al Qadhi dan Hisyam bin Abdul Malik

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Anak Syuraih waktu itu lari dari tempat belajar dan bermain-main bersama anak-anak bahkan mengganggu anjing-anjing. Maka, tatkala hal ini terdengar oleh beliau, beliau menulis syair kepada pendidik adab anaknya tersebut yang artinya seperti di bawah ini.

“Dia telah meninggalkan shalat untuk berusaha bermain dengan anjing-anjing. Mencari persoalan dengan makhluk yang sangat kotor dan bodoh. Maka, apabila ia mendatangimu, cercalah dengan sebenar-benar cercaan. Dan, nasehatilah dengan nasehat yang mendidik dan cerdas.

Jika kamu ingin memukulnya, pukullah dengan pukulan yang bagus. Jika kamu sudah memukul 3 kali, maka tahanlah. Ketahui.ah bahwasanya apa yang engkau bawa adalah amanah dariku. Maka jiwa dia (anakku) bersama dengan sebaik-baik jiwa yang mengalir padaku.

Syuraih dan HisyamDalam nasihat di atas, Syuraih ingin menekankan pentingnya shalat dan nasihat. Mengenai cercaan yang dimaksud, bukan seperti cercaan yang menghinakan seperti yang dilakukan orang awan. Cercaan yang dimaksud adalah memberikan permisalan dari keumuman  dalil atau adat kebiasaan. Misalkan, dengan mengatakan, “Tahukah kamu nak, siapa yang mengabaikan pelajaran maka dia akan menyesal di hari kemudian.” Sementara tentang memukul, hal ini berkenaan dengan usia anak Syuraih yang disyariatkan untuk dipukul dan tentunya bukan jenis pukulan yang menyakiti.

Sedangkan wasiat  Hisyam bin Abdul Malik adalah yang mengingatkan pendidik adab anaknya untuk TIDAK MENASEHATI DI DEPAN ORANG LAIN, karena akan cenderung mendorong si anak untuk berbuat kesalahan lagi. Hal ini bisa dilihat dari yang ia katakan kepada pendidik adab anaknya,

“Jika kamu mendengar darinya sebuah kalimat yang jelek atau tidak pantas dalam sebuah majelis di tengah orang banyak, maka jangan kamu cela. Karena, boleh jadi yang seperti itu akan semakin mendorong kesalahannya Namun jagalah dia (dari kejelekan). Dan jika ia ingin berkata jelek, maka tahanlah.” (Al Adzkiya)

Makna tahan di atas adalah pencegahan. Seorang pendidik harus bisa menahan anak-anaknya berkata buruk. Ia bisa membuat perjanjian di awal atau segera mengingatkan sebelum keburukan itu terjadi.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khatab

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

wasiat umarDari Abu Ja’far Al Umawi, Umar bin Abdullah berkata,

“Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada pendidik adab anak-anaknya….

Kepada Sahl Maulana,

Sesungguhnya aku telah memilihmu karena pertimbangan ilmuku untuk mendidik anak-anakku. Aku serahkan merek kepadamu, bukan kepada selainmu dari maula-maulaku dan orang-orang khususku. 

Maka latihlah paha-paha mereka karena akan mengokohkan kaki-kaki mereka. Tinggalkanlah berpagi-pagi dalam melatih mereka, karena membiasakannya akan menjadikan lalai. Tinggalkan banyak tertawa karena itu akan mematikan hati. Dan jadikanlah perkara awal yang mesti mereka yakini dari pelajaran adabmu adalah membenci mainan yang munculnya dari syaithan dan akibatnyaadalah kemurkaan Ar Rahman. 

Maka sungguh telah sampai kepadaku dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang berilmu,

“Bahwasanya mendatangi alat-alat musik, mendengar nyanyi-nyanyian, dan bertekun-tekun pada keduanya akan menumbuhkan penyakit nifaq dalam hati sebagaimana air menumbuhkn rumput.“(Ibnu Abiddunya)

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Harun bin Muhammad dari Bani Habasyah

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Harun bin Muhammad dari Bani Abasyah sangat mementingkan syair yang terkandung adab yang bernilai tinggi. Beliau mewasiatkan Al Amin dan Al Ma’mun kepada Al Kisa-iy. Diantara wasiatnya adalah

Riwayatkanlah kepada mereka syair, karena akan mengumpukan adab yang bernilai tinggi.” (Adrotul Aghridh)

“Sungguh aku telah menyerahkan jantung hatinya, maka … dan jadikanlah ketaatan untuk anakku. Jadikanlah dia kepada Amirul Mualimin kepadaku. Bacakanlah Al Qur’an yang bagus. Dan beritahukanlah kabar-kabar yang bermanfaat. Ajarkan perilaku yangbagus. Perlihatkan cara bicara yang bagus (meletakkan kalimat pada tempatnya). Tahanlah anak-anak untuk tertawa karena tertawa ada waktunya.”

wasiat harunDari wasiat di atas, maka secara fitrah, kita sebenarnya memang menyukai bacaan yang bagus, Itulah kenapa pendidik adab sebaiknya membacakan Qur’an kepada anak dengan bacaan yang bagus sebagai ‘idola’ pertama sebelum yang lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan berita-berita bermanfaat. Subhanallah… jaman dulu memang belum ada internet, namun sungguh wasiat ini sangat penting. Betapa tidak semua hal yang kita dengar dan baca itu kita perlukan. Inilah yang perlu kita kabarkan dan ajarkan kepada anak-anak kita.

Kemudian mengenai meletakkan kalimat pada tempatnya. Betapa dakwah akan menjadi hikmah jika seseorang mampu menerapkan ilmu untuk berkomunikasi. Satu hal yang pertama dilakukan adalah memberikan teladan sebelum mendidik anak-anak untuk mempraktekkannya.

Dan yang terakhir adalah tertawa. Sebagaimana kita tahu bahwa terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati. Begitu pun mengetahui tempat dan waktu yang tepat untuk tertawa adalah adab yang penting untuk diajarkan.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Muawiyah bin Abi Sufyan Kepada Pendidik Adab

Masih dalam seri 25 Nasihat Generasi Terdahulu Kepada Para Pendidik Adab, Muawiyah bin Abi Sufyan juga mewasiatkan beberapa hal terkait pendidikan anaknya.

Dari Ibnu Buraidah bahwa Muawiyah mengutus seorang utusan kepada Daghfal bin Handhalah untuk menanyakan bahasa Arab, nasab bangsa Arab (dan keluarga Rasulullah), dan tentang perbintangan (untuk mencari tanda atau alamat). Utusan ini takjub dengan kealiman (kecerdasan) Daghfal dan bertanya,

“Ya Daghfal, dari mana kamu bisa hafal seperti ini?”

Maka Daghfal menjawab,

“Dengan lisan yang rajin bertanya dan hati yang banyak berusaha memahami. Karena penyakit ilmu adalah ilmu.”

Dalam perkataannya, dapat kita lihat bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan menyebutkan beberapa hal penting lain yang perlu diajarkan kepada anak. Ilmu dan keahlian tersebut diantaranya:

1. Mempelajari bahasa Arab.

2. Mempelajari nasab bangsa Arab, terutama nasab Rasulullah.

3. Mengetahui ilmu tentang perbintangan.

4. Bersikap kritis dan mampu melontarkan pertanyaan kritis dan berkualitas.

5. Mendidik hati untuk berusaha memahami.

6. Tawadhu dengan ilmu yang dimiliki

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Homeschooling Parents Pun Perlu Tahu Tahap-Tahap Belajar Ilmu Syar’i

image

“Kalau homeschooling, yang ngajar agama siapa?”

Guru dan homeschooling.

Itu salah satu pertanyaan yang (biasanya) paling sering ditanyakan setelah seseorang tahu bahwa satu keluarga memutuskan untuk gak sekolah.

Kalau dulu, saya mungkin bisa dengan pede mengatakan, “Ya fasilitasi aja. Kan sekarang ada Pakde Google. Belajar bareng. Ilmu agama? Kan ada yufid. Ada aplikasi.  Kajian tematik? Banyak. Kurang apa lagi???” Dan benih ujub dan kesombongan pun perlahan mulai mengakar di hati.

Sampai suatu ketika, dalam sebuah majelis ilmu syar’i yang berjalan di atas manhaj salafush shalih, hati ini pun tertampar. Seorang ibu yang nyata-nyata menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya perlu mengkaji  ilmu-ilmu itu terlebih dulu – idealnya. Karena….

BELAJAR AGAMA ITU ADA TAHAPANNYA.

Baik itu aqidah, tafsir, hadits, fiqih, ilmu bahasa, sirah, semuanya!

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (Al-Qashshash:50)” (Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

Alhamdulillah. Tamparan itu berbekas ilmu. Lalu, apa sajakah tahapan-tahapan itu ?

  1. Cari guru dan kitab yang benar.
  2. Untuk ILMU AQIDAH, agar tahapannya  benar, seorang penuntut ilmu sebaiknya memulai dengan kitab Al Ushul Ats Tsalatsah, lalu Al Qawaid Al Arba’, Kasyfus Syubhat dan Risalah Ushulil Iman. InsyaAllah, pendidikan pokok in akan mengokohkan akidah yang benar. Setelahnya, seorang penuntut ilmu bisa melanjutkan pada Kitab At Tauhid, Al Aqidah Al Washithiyyah milik Imam Mujaddin Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, kemudian Al Hamawiyyah, lalu At Tadmuriyyah, dan  Al Aqidah Ath Thahawiyyah. Setelah mutqin, seorang pembelajar dapat melanjutkan pada pembahasan sunnah yang terkenal diantaranya Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah milik Al Laalikaa-i, Kitab As Sunnah milik Al Khallal, Kitab As Sunnah milik Abdullah bin Ahmad bin Hambal , Al Ibanah milik Ibnu Bathah Al’Akbari, dan Kitab At Tauhid milik Ibnu Khuzaimah dan banyaaaak kitab-kitab lain yang termasuk dalam bidang ini.
  3. Untuk ILMU TAFSIR, yang paling masyhur tentunya kitab Tafsir Ibni Katsir (774H) rahimahullah dan Kitab Tafsir As Sa’di (1376H) rahimahullah. Lebih khusus lagi, Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir milik Muhammad Nasib Ar Rafi’i. Jika mampu menyelesaikan kitab-kitab tadi, maka pelajarilah Tafsir Al Baghawi (516H).
  4. Untuk ILMU HADITS, seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dari Al Arba’in An Nawawiyah untuk dihafal dan dipahami, juga membaca penjelasan yang terkandung di dalamnya. Lalu hendaknya secara bertahap mempelajari Umdatul Ahkam kemudian Bulughul Maram, juga dengan syarah-nya. Kemudian, setelah itu barulah ia mampu untuk mempelajari Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan Kutubus Sittah.
  5. Untuk ILMU FIQIH, tidak cukup hanya membaca hadits-hadits. Perlu sekali mengkaji kitab-kitab fiqih seperti Umdatul Fiqhi yang merinci permasalahan-permasalahan furu’ atau kitab Zaadul Mustaqni. Di antara syarah yang mudah dipelajari adalah kitab As Syarh Al Mumthi’ yang ditulis oleh Syaikh Al Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
  6. Sedangkan dalam Sirah Nabawiyyah, mulailah dengan mempelajari Mukhtashar Sirah Nabawiyyah. Kemudian, bisa mempelajari Sirah Nabawiyyah milik Ibnu Hisyam. No worries karena di zaman ini, alhamdulillah, kitab-kitab sirah sudah banyak yang diringkas. Tapi, tetaplah berhati-hati untuk mengkonsultasikan kitab tersebut kepada para guru yang diakui keilmuannya.

Done, then. Banyak kaaan?

Permasalahan berikutnya adalah… bagaimana kalau guru tersebut tidak ada, atau tempatnya jauh, atau tidak mungkin melakukan perjalanan karena safar tanpa mahram?

Tenang. Ada solusinya, insyaAllah.

Azzamkan dalam hati perkara menemui guru ini. Beli (atau download kalau ada) kitab-kitab tadi atau minimal terjemahannya. Baca lalu catat poin-poin yang penting dan ingin diketahui. Kumpulkan dan bawalah ketika ada kesempatan. Minta terus kemudahan kepada Allah. Bukankah Allah sebaik-baik penolong?

Referensi:

Kajian kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan karangan Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi

Tahapan Dalam Menuntut Ilmu

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

https://almanhaj.or.id/2764-kaidah-kaidah-menuntut -ilmu.html