Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

KENAPA HARUS HOMESCHOOLING?

Posting ini merupakan resume Kuliah WhatsApp Grup Parenting United pada hari Kamis, 10 november 2016. Semoga Bermanfaat. ^_^

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

KENAPA HARUS HOMESCHOOLING?

Mierza Miranti | klastulistiwa.com

Moderator : Bunda Iis
Comoderator : Bunda Tiena
Peresume : Rizki

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Jawabannya ada pada pertanyaan itu sendiri.

Lho, kok? -_-

Lha iya.. pastikan dulu “Kenapa harus Homeschooling (HS)?”

Apakah ini adalah pilihan sadar setelah mencari ilmu dan istikharah, terpaksa, diminta, ikutan, atau melarikan diri dari sesuatu? Siapkah dengan konsekuensinya, termasuk bertemu 24 jam sehari? Sudahkah siap jika ada masalah? Ayahnya ikut nyemplung atau malah ga setuju?

Kalau masalah-masalah basic ‘Kenapa harus HS’ ini telah terjawab, insyaAllah masalah teknis dari metode sampai ijazah akan dapat jawabannya.

* * *

Lalu, kenapa kami pilih Homeschooling?

Jawaban kami… untuk mencapai visi-misi keluarga :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭﺍً
“ Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim ayat 6).

Homeschooling adalah ikhtiar yang kami rasa lebih mudah karena hampir semua kami lakukan sendiri. Dari memilih materi, alat, guru, sampai evaluasi.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

💕 Assalamu’alaikum bu Mierza 😊

💝 Wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh. 😃
Salam kenal bu Iis

💕 Salam kenal juga bu Mierza..
Terima kasih atas kesediaannya mengisi kulwap di group PU ini ya bu Mierza😊

💝Sama-sama. 😊

💕Sebelum masuk ke pertanyaan boleh sedikit bercerita tentang perjalan homeschoolingnya bu Mierza..
Dengan anak 3 semuanya homeschooling kah bu?

💕 Versi pendek ya. 😅
Baik. Saya baru memulai HS setahun ini. Meski impian itu sudah sempat saya tulis di Jakarta Post 8 th yang lalu, tapi baru menyadari tahun lalu. Anak pertama saya sempat sekolah 2 th. Lalu, kami memutuskan HS, karena ingin saja. Dari sisi kami karena kami cukup perfectionist, di sisi anak karena dia ga rela ibunya mengajar orang lain. Tidak ada masalah yang melatar belakangi. HS ini sudah jadi keputusan kami setelah istikharah.  (Note: anak kedua dan ketiga masih ‘main’)
Perjalanannya naik turun tentu saja. Tidak ada yang mudah, tapi tantangan-tantangan itu kami lalui bersama, hingga alhamdulillah kami masih ingin HS setelah melihat hasilnya. 😊
Ketika menyekolahkan, ada beberapa ‘idealisme pengasuhan’ yg harus dikorbankan. Disesesuaikan dengan ekspektasi dan kondisi lembaga, ortu lain, media, dll.

🌱🌱🌱🌱 Tanya jawab 🌱🌱🌱🌱

1 Assalamu’alaikum bu Mierza..
Untuk pendidikan anak-anak saya (6th dan 4th) saya ingin menerapkan HS karena khawatir dengan penyimpangan perilaku anak-anak jaman sekarang. Harapan saya, dengan HS akan bisa meminimalisasi pengaruh negatif dari perilaku menyimpang yang sekarang ini sedang marak di Indonesia..
Cuma…ada beberapa teman saya berpendapat bahwa HS akan membuat anak “steril”.. Dan itu tidak baik untuk perkembangan sosialisasi anak..apakah benar demikian? #lila
☑ Wa’alaikum salaam warahmatullah, mba Lila. Steril? Bisa jadi. Bukankah orang tua diminta memilihkan teman yang baik untuk anak-anaknya? Agar anak-anak terpercik minyak wangi, bukan bau dari pandai besi? Jika pertanyaan klasik seperti ‘tidak ada teman’, mari kita kembalikan makna teman. Di sekolah, anak di’kelas’kan, diberi strata. Apakah mereka dibekali dengan ilmu berteman lintas kelas? Apakah guru selalu ada untuk mendampingi agar anak-ank tahu adab berteman? HS-er bisa berteman tidak hanya dengan teman sekelas, tapi sekelurahan.. yang terpilih. 😄

2 1. Bu, pembuatan kurikulum HS apakah bisa dilakukan sendri berdasarkan visi misi keluarga?
2. Terkait masalah sosialiasi anak yang mengikuti HS, sering dikhawatirkan akan ada efek kurangnya nilai sosial dan sosialiasi pada diri anak, sehingga anak menjadi tidak peka terhadap lingkungan, padahal dia bisa bermain dengan tetangga. Mohon tanggapnnya? #Shabrina_PU Jatim
☑1. Bisa.
2. Sekolah yang dibatasi dinding tinggi, diberi jadwal untuk berada dengan anak ‘1 level’ selama itu… bisakah membuat anak peka? Kalau dari pengalaman pribadi, anak saya sangat pemalu dan dilabel pasif meski jadi kesayangan guru dan ranking 1. Tapi pulang sekolah, semua adab yang saya ajarkan luntur. Tas dilempar, adiknya nangis dibiarkan. Alhamdulillah… setahun ini Allah mudahkan untuk membuka hatinya.. dia jadi lebih peka dengan kondisi sekitar dan terakhir memilih untuk membagikan ilmu bahasa Arab dengan menjadi guru bagi teman2nya.

3
3.السلام عليكم ورحمةالله وبركاته bu mierza ,
Saya mau bertanya , apakah HS yang bu mierza jalankan pakai kurikulum? Kalau boleh apa yang ibu ajarkan ke anak-anak? Apakah ada pelajaran sekolahnya? Atau fokus ke minat dan bakat anak? Trus, untuk nanti ujiannya bagaimana proses ngurusnya? Karena saya dengar sekarang kalau anak anak yang HS, apabila mau ujian UN, harus ada NISNnya. Maaf kalau pertanyaannya banyak. Syukran ibu 😊 Wassalam #ummujihad
☑Wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh. Salam kenal, Ummu Jihad. ‘Kurikulum’ saya berdasarkan visi misi keluarga tadi ‘qu anfusakum wa ahlikum naaro’. Jadi, saya tempatkan tauhid dan ilmu diin pertama kali. Duduk di majelis-majelis ilmu. Memastikan konten-konten pelajaran sesuai Quran dan Sunnah, sambil membantu anak menemukan bakatnya. Saya lebih cenderung menempatkan bakat di urutan berikut setelah ilmu diin. Karena bakat itu harusnya membantu dia terhindar dari api neraka, bukan mendekatinya. Apalagi dengan menganggap ‘bakat’ lebih penting lalu melupakan tujuan awalnya sebagai muslim. Jangan sampai begitu. Contoh, mengejar bakat sampai melupakan shalat, pergi shafar sendirian (kalau perempuan) demi mengejar ‘ilmu’, menyepelekan ilmu wajib yang harusnya diketahuinya lebih dulu. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga keluarga kita semua dijauhkan dari hal-hal ini.

Wa fiik barakallahu. Oh, afwan. 😅 Untuk NISN, bisa didapatkan dengan ikut PKBM yang terdaftar. Bisa dicek di http://bindikmas.kemdikbud.go.id/nilem/ Bun
Ada juga opsi sekolah payung.. tp saya ga berani sarankan karena sama aja artinya anak2 terjejal pelajaran2

4Assalamualaikum bu Mierza..
Ada kah panduan atau rule yang bisa dipegang untuk ber-HS?
Anak saya baru 15 bulan..
Saya mau mempersiapkan sedini mungkin tentang HS jadi nanti kalau sudah saatnya saya tidak bingung lagi..
#rizkina
☑ Masih main bu. Insya Allah masih lama ya. Boleh intip-intip ke sini untuk persiapan.

5 Assalamu’alaikum bu Mierza Miranti, saya mau bertanya:
1. Apa kelebihan & kekurangan dr homeschooling?
2. Bagaimana jika nantinya anak merasa bosan dengan homeschooling?
#debby_PU jatim
☑Wa ‘alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh.
1. Kelebihannya banyak. Salah satunya bisa memilih materi, lingkungan, dan guru. Kekurangannya, orang tua bisa jadi lebih lelah, baik dalam mengeksekusinya, atau menghadapi arus yang berlawanan.

2. Belum tahu karena belum terjadi 😅

6Assalaamu’alaikum…bu sy mau tanya…bagaimana bu Mirza melaksanakan HS tiap harinya? Apakah ada jadwal jam sekian sampai sekian..atau kah tidak terjadwalkan? Jadi selama ada kesempatan ya belajar selama seharian itu ato bgaimana? #habibah
☑Saya tidak ada ‘jadwal mata pelajaran’ – hanya target. Anak-anak memilih 3 ilmu diin, 3 pelajaran, dan 3 pekerjaan rumah setiap harinya. Jika tercapai sebelum jam 2, insyaAllah diberi bintang yang jika tercapai (sejumlah tertentu) mendapatkan reward. Tapi jangan bayangkan yg hebat2 yaa..  reward-nya cukup jajan 1 macam di minimarket. 😄

Biasanya kalau anak2 ingin main cepet dapat waktu bermain, mereka bangun sebelum subuh untuk hafalan/ muraja’ah. Kenapa targetnya sampai jam 2? Karena saya juga harus kerja 😅

Saat ini anak-anak tahfiz dgn guru dua kali seminggu. Hafalan sehari2 di rumah dengan saya di cek kesempurnaannya oleh ustadzahnya. 😊

Saya pakai At Tuqo untuk ilmu diin, untuk materi saya ambil pokoknya saja. Disesuaikan. 😄

7. Saya punya murid dulu SD-nya HS, sekarang sekolah boarding. Saya lihat perkembangannya luar biasa susahnya Bu ketika ia melewati 2 keadaan yang berbeda. Di boarding dia susah penyesuaian dan dia mengaku lebih nyaman HS karena bisa memilih teman yang dia suka saja, tidak suka keramaian, sering cekcok dengan teman yang tidak disuka. Nah pertanyaan saya, prinsip dan pola pikirnya seperti itu masih bisa diubah atau menetap dan bagaimana supaya mengarahkan pikiran dia agar tidak terlalu terpaku dnegan tidak cinta sosial#
Apri

☑Salam, Bu Apri. Tergantung pendampingan, Bu. Jika fasilitator/ guru/ musyrif hingga sistem sekolah mampu menyampaikan dan mendidik mengenai adab berteman, insyaAllah bisa. Bukankah lembaga sebaiknya siap menerima input apapun (karena sudah diterima kan anaknya) dan mengolahnya agar menjadi output sesuai visi misi lembaga? Kesamaan pesantren dan HS adalah minimnya campur tangan orang tua lain, sehingga seharusnya lebih mudah mendidik masalah sosialisasi. Ini berdasarkan pengalaman aja sih waktu mengajar di boarding school. 😊

💕Alhamdulillah. Jazakillahu khairan Ceu Mir atas sharing2 ilmu perHSannya. Sedikit banyak membuka mata sudut pandang lain bagi kami.

Cepat skali ya waktu.pertanyaan msh antri 😂
Semoga ilmu dan informasi-informasi yang Ceumir share dpt bermanfaat buat teman-teman ibu-ibu ketje di grup ini yang ingin dan sedang menerapkan HS bg putra/inya.

💝 Wa jazzakumullaahu khairan katsira semua. Mohon maaf jika ada kata2 yang salah. Terima kasih atas kesempatannya berkenalan dengan ibu-ibu ketje pembelajar hebat. MasyaAllah banget deh pertanyaannya 😅🙏🏻

💕Sebelum kami akhiri, ada yg ingin disampaikan ceumier sbgi penutup ?

💝Homeschooling itu ada loh. 😁 Salah satu pilihan, selain sekolah, yang harus diambil dengan istikharah dan dilalui dengan ilmu. Jadi? HS apa jangan niiih? Hehe.. jawabannya pilih sendiri ya. Selamat memilih. 😘

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Dua Pilihan: Cari Guru atau Berilmu

“Hah??? Anak-anakmu homeschooling? Terus yang ngajar siapaaaaa?”

Karena ini masih jadi pertanyaan favorit, mari kita lanjutkan posting tentang guru dan homeschooling ya.

Baiklah.

Idealnya yang jadi guru pada awal-awal masa pendidikan adalah kita, orang tuanya.

“Lha, kan ga punyaaa ilmunyaaaaa!”

Iyesss…. permisalannya begini… Kalau kita cuma punya beras, penanak nasi, dan tungku berbahan bakar kayu saat lapar (settingnya ga ada uang loh ya), apa yang harus dilakukan?

Terus, kalau ga bisa masak pake tungku kayu itu gimana? Apa iya ga usah makan? *krik krik krik*

Bisa jadi setiap Ibu memiliki cara sendiri. Kalau model saya yang punya kuota, ya browsing atau tanya grup masak-masak. Ibu yang canggih ilmu interpersonalnya bisa mulai tebar pesona ke tetangga. Atau, ada Ibu yang lebih memilih barter sama warung nasi terdekat untuk menukar sekilo beras dengan sebungkus nasi – saking ga mau masak .

Well, sama aja seperti homeschooling. Setiap keluarga punya visi dan misi yang berbeda. Dari sana aja bisa terlihat cara yang berbeda dalam mendidik anak. Ada yang memilih untuk berilmu duluuuu, belajar bareng di satu majelis ilmu, sampai memilihkan guru.

picsart_05-20-05.23.53.jpgGaris bawahi kata MEMILIHKAN GURU loh yaa, bukan memilih sekolah atau meminta lembaga lain untuk menyeleksi guru yang you-don’t-say kayak gimana. KITA a.k.a. ORANG TUA (yang memilih homeschooling) jauh lebih leluasa untuk bisa memilih pendidik adab anak-anak kita. Ya. Pendidik adab adalah kata yang dipakai oleh para salafush shalih saking pentingnya peran guru ini.

Jadi paham yaaaaa….

Next discussion: kualitas apa yang harus kita miliki sebagai pendidik adab? Atau, untuk siapapun yang mendidik dan mengajar anak-anak kita nanti, apa saja kriterianya?

Hmmm…. berhubung kita muslim, tentu kriteria-kriteria ini harus berdasarkan sumber yang shahih lho yaaaa….

Karena saya duluan ikut kajian kitab-kitab* parenting Islam yang keren, saya tuliskan beberapa poin kriteria pendidik adab di bawah ini ya. Semoga bisa menjadi cermin untuk memantaskan diri atau menyeleksi pengajar anak-anak kita. Oh ya.. saya ingatkan dulu. Saya ini cuma lebih dulu ikut kajian loh ya, bukan berarti lebih pinter atau shalihah. (Eh… tapi boleh kok diaminkan.:) )

FOKUS. So, what makes an educator?

1. Dari kalangan ahlus sunah

Maksud dari kalangan ahlus sunnah itu adalah siapapun yang mengikuti ajaran Rasulullah, para sahabat, dan generasi setelahnya yang mengikuti Rasulullah. Untuk ilmu-ilmu syar’i, ini penting sangat sebagai fondasi yang kokoh, terutama di masa-masa awal kehidupan. Daaan… ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang artinya:

“Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]

2. Punya kemampuan dan ilmu

Nah, kan, ilmu lagi. Lha iya, kalau ga ada ilmu, gimana ngajarnya? Syarat-syarat ilmu yang perlu dimiliki seorang pengajar itu salah tiganya dapat dijelaskan dalam hadits berikut ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal sendirian ke Yaman.

Sebagaimana dalam Shohihain dari hadits Ibnu Abas, Rasululloh bersabda (yang artinya) :

“Sungguh kamu akan menjumpai satu kaum dari ahli kitab, apabila kamu mendatangi merkea maka dakwahilah untuk bersaksi syahadatain, bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu setiap harinya. Bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shodaqah (zakat) yang diambil dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Apabila mereka mentaatimu dalam hal ini maka hati-hatilah dari harta-harta kesayangan mereka dan takutlah dari do’a orang mazhlum, karena tidak ada hijab antaranya dengan Allah. (HR Al Bukhori).

Dari hadits di atas, terdapat 3 faedah mengenai ilmu yang perlu dimiliki seorang pendidik:

a. Punya ilmu (syar’i). Muadz dipilih untuk berangkat SENDIRIAN karena ilmu.

b. Mengetahui kondisi yang didakwahi. Dalam mendidik anak-anak pun begitu. Cari tahu bagaimana cara mendidik yang benar sesuai kondisi mereka, dari mulai usia hingga gaya belajar. Semuanya.

c. Mengetahui cara berdakwah. Setelah mendapat diagnosa awal, kita harus tahu mau diapakan itu hasil diagnosanya? Cari ilmunya agar apa yang anak-anak pelajari benar-benar dipahami dan diamalkan. Jangan sibuk ngajar sendiri, tapi anak ga ngerti. Gitu kali ya intinya.

Terus, buat yang memilih mendatangi guru bagaimana? Ya idealnya orang tua duluan yang memenuhi kriteria itu, minimal nomor 2 dan 3, agar bisa memberi wasiat kepada sang pendidik adab.

3. Bisa menjadi contoh yang baik

Ini mah jelas yaaa… GuRu pan singkatan dari diGUgu dan diTIru. Untuk muslim ya jelaslah, siapa yang layak jadi idola. Allah telah mengabarkan dalam Qur’an surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

4. Mengamalkan Ilmunya

Ini sudah seriiing disinggung dalam posting posting sebelumnya. Sungguh ngeri euy, sanksinya bagi pendidik yang ga melakukan apa yang dia ucapka..

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

5. Memiliki Sifat Tawadhu Terhadap Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya.”

Lalu, mengenai ilmu ini, beliau melanjutkan,

“Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya.  “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml : 40).” (Al Fawa’id, hal. 149).

Ah, dengan kemudahan menebarkan ilmu dengar satu klik ini sungguh mengerikan dampaknya. Saat menulis ini pun, ada rasa kuatir akan adanya rasa ujub yang bersemayam di hati. Semoga tidak. Semoga bukan. Doakan jangan. Semoga kita menjadi pendidik adab yang mampu menerima kebenaran, meski dari anak kecil.

Done. Alhamdulillah. Jadi, belajar dulu.. belajar lagi.. belajar teruuuus. Insya Allah. Semangat yaaa para pendidik adab. ^____^

*Kitab-kitab yang dimaksud di atas diantaranya adalah Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan (Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi), serta Nida’ Ila Murobbiyin wal Murobbiyat dan Kayfa Nurabbi Auladana (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahumahullah).

Sumber lain:

http://klikuk.com/kaedah-memahami-islam/

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’