Berikut ini adalah Standar Tumbuh Kembang Anak Bayi – 6 Tahun untuk para Ibu yang ingin memberikan yang terbaik untuk permata yang diamanahkan. Bukan buatan saya tentunya. Sila klik untuk langsung ke sumbernya.
Dalam berkas-berkas yang pasti dimulai dengan pendahuluan itu, ada bagian yang saya sukai, yaitu PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI:
Berorientasi pada Perkembangan Anak
Berorientasi pada Kebutuhan Anak (fisik dan psikis)
Bermain sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
Berpusat pada anak
Lingkungan yang kondusif
Menggunakan pembelajaran terpadu
Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Dilaksanakan secara bertahap dan berulang–ulang
Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan
Catatan saya: standar di atas merupakan acuan, bukan goal yang kudu dan wajib dikejar. Hal ini karena setiap anak itu unik dan memiliki kecepatannya sendiri. Yang bisa dilakukan orang tua adalah berdoa dan memberikan exposure yang sesuai usianya.
Oh, iya saya juga cantumkan ceklis tumbuh kembang dari negara tetangga beda RT, Australia sebagai perbandingan. Yang ini sampai usia 13 tahun. Silahkaan…
Terus??? Mana kurikulumnyaaaa? Hehe.. sekali lagi.. berhubung saya penganut better late than early, jadi begini saja langkah-langkahnya ya:
Fokus pada tabel usia anak
Buatlah ceklis
Silahkan googling aktifitas atau mainan yang sesuai dengan ekspektasi tumbuh kembangnya. Ada banyaaak sekali inspirasi dari internet yang bisa diterapkan.
Bagi yang memerlukan Acuan Kurikulum Nasional terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini serta Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, silahkan mengunduh di bawah ini
Sekarang ini, ‘ilmuwan-ilmuwan’ jaman renaisans hingga modern banyak yang dimunculkan . Mereka terkadang menjadi standar ‘cita-cita’ para penuntut ilmu.
Sayangnya, para idola itu sangat banyak yang mengajarkan hedonisme untuk dijadikan tujuan utama. Bahkan tidak jarang yang memisahkan kehidupan akhirat karena dianggap sebagai beban.
Adalah Allah satu-satunya tempat meminta, termasuk didalamnya memohon agar mendapatkan anak shalih dan shalihah. Salah satu yang bisa dilakukan orang tua adalah mengenalkan ilmuwan- ilmuwan yang menjadi ulama. Mereka yang memilih kekekalan daripada kefanaaan. Bukankah hidup ini adalah penjara bagi orang Mukmin?
🔬Berikut ini adalah tautan dari situs yang bergizi: rumaysho.com yang dikelola oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Silahkan klik masing-masing nama untuk belajar dari kisah-kisah ahli ilmu Diin.. yang qadarullah awal mulanya adalah seorang ilmuwan.
5. Syaikh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam, lulusan kedokteran dari Universitas Iskandariyah dan juga mengambil kuliah Syariah di Universitas Al-Azhar Mesir.
Semoga Allah memudahkan kita mengamalkan ilmu yang didapat serta melindungi anak-anak kita dari fitnah akhir jaman dan dikuatkan menjadi Al Ghuraba.
Laman ini didedikasikan khusus untuk para orang tua yang kebingungan mencari kurikulum untuk homeschooling yang dikelola berbasis keluarga. Yang dimaksudkan adalah kurikulum nasional ya.
DISCLAIMER: Meski saat saya mengetik ini (2024) sudah memakai kurikulum merdeka, tapi cara ini masih relevan dan efektif bagi kami melaksanakan homeschooling selama 9 tahun++
Berikut saya unggah link SK-KD untuk Ayah Bunda kelola di HS anaknya. Caranya gampang kok. Ini yang saya lakukan di Aishahomeschool:
Ketahui level anak anda, misalkan 1 SD
Unduh unit pendidikan yang sesuai pendidikan anak, misal SD. Oh iya, saya mengunggah SK-KD dan Paket. Kedua folder isinya sama yaaa… Jadi, cukup pilih salah satu saja.
Buka folder unit (misal SD). Oh iya, isi dari Kejar Paket dan SD/MI itu sama yaaa… hanya ingin mengunggah untuk alasan pentingL biar Ayah Bunda tahu.
Pilih mata pelajaran yang ingin anda ajarkan. Anda boleh mengajarkan semua mata pelajaran yang terdapat ddalam folder, tapi kalau kami hanya yang diujikan saja (PKN, BI, IPA, IPS, Matematika + agama Islam)
Lihat Kompetensi Dasar.. KD adalah apa yang harus Ayah Bunda capai dalam pembelajaran buah hati. Carilah pembelajaran/ kegiatan yang menyenangkan dengan KD tersebut – yang kalau bisa berdasarkan Bloom Taxonomy yang intinya adalah mengajarkan anak dengan 6 tahap pembelajaran. Dari mudah ke gampang. Dari nyata ke abstrak akan lebih baik.
Contoh ya.
Kita ambil pelajaran Bahasa Indonesia. Jika Kompetensi Dasarnya adalah menyebutkan tokoh dalam kisah thabi’in, maka kegiatannya dapat melihat dari kata kerja setiap level Taksonomi Bloom (lihat gambar di atas) adalah:
Remembering (level mengingat): Recall (menyebutkan kembali nama tokoh)
Applying (level aplikasi) : Choosing (memilih karakter yang sesuai dengan tokoh)
Nah, jika masih kelas awal, biasanya hanya akan sampai level Understanding . Tapi kalau anak anda tingkat ingin tahunya tinggi, jangan takut untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Oh iya, kita juga bisa cari kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di internet loooh. Tinggal ketik kata kunci dari KD atau lebih bagus lagi kata kerja dari Taksonomi Bloom.
Aaaaaa… pusiiing!
Tenang.. ada life hack-nya kok. Tinggal unduh aja buku-buku gratis dari BSE. Tinggal kunjungi Pertal Buku Sekolah Elektronik Kemdikbud di bse.kemdikbud.go.id. Tapi, saaran saya, silahkan lihat materi dan perkaya dengan hands-on experience yang beredar luas di dunia maya.
Baiklah, silahkan unduh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang Ayah Bunda perlukan dari tautan di bawah ini:
Meski hanya mengajarkan satu atau dua anak, MOS atau Masa Orientasi Siswa itu penting lho di homeschooling Islami. Di Aishahomeschool, kami menghabiskan satu bulan penuh mempelajari Adab-Adab Penuntut Ilmu.
Bagaimana caranya?
Karena Aisha Jenna masih 8 tahun, Aqeela Isma 4 tahun, tentu bahasanya disesuaikan dengan usia. Cara menyampaikannya dengan beragam cara, dari mulai diskusi, berkisah ( bersumber dari cerita nabi, rasul, shahabat, thabiin, thabiut thabiin), main, cut-paste activity, menonton klip yutub, sampai membuat display ( yang akhirnya dipajang di pintu depan.
Kami memutuskan untuk menempelkan di pintu. Hehe.
Apa saja adab-adab itu?
Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu. Memang tidak persis seperti yang kami bahas di masa orientasi, sih, tapi berhubung file saya hilang (curhat) inilah inti yang bisa saya bagikan.
1⃣ Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu
Seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah.
Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)
2⃣ Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat
Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.
Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat.
3⃣ Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu
Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)
4⃣ Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.
5⃣ Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.
“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)
6⃣ Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru
Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)
7⃣ Diam ketika pelajaran disampaikan
Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)
8⃣ Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan
Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalaman. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
9⃣ Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
10⃣ Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan
Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran dan poin-poin penting agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)
11⃣ Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari
Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)
***Catatan: posting ini mengandung printables 😀 ***
Aisha Homeschool libur! Eit, tapi bukan sembarang libur lho. Ini satu dari dua hari raya yang dirayakan muslim seluruh dunia. Namanya libur apa, saudara-saudara? Ya, betul: IDUL ADHA!
Libur lama, Aisha Homeschool ngapain aja? Selain shalat Ied dan jalan-jalan, insya Allah ini rencana kami:
1. Mengajarkan shaum Arafah dan keutamaan biasa di hari Arafah.
2. Membuat miniatur kabah.
Buat sendirikah? Oh, tentu saja.. tidak. Hehe.. saya unduh dari sini . Supata mudah, saya unggahkan ya. Klik saja gambar di bawah ini untuk mengunduh. Saya cetak menggunakan kertas A4 lalu ditempel di kotak susu bekas. Awalnya terpikir menggunakan kertas foto, tapi ah sudahlah… biar hemat. Ohya, biar Ka’bahnya gak mleyot (apa ya bahasa Indonesianya?), saya isi kertas sampai penuh. Silahkan berkreasi.
Jadi ada 3 bagian, yaitu:
Halaman cara membuatnya. Boleh print atau tidak. Saya sih, nggak. Biar hemat. *teuteup*
2. Halaman yang digunting, lipat, lem, tempel.
3. Alas Miniaturnya
3. Mewarnai peta haji untuk anak balitaku
Buat sendiri, Bu? Nggak. Saya download dari sini. Silahkan klik gambarnya ya.
4. Lihat gambar di Google Image sambil bercerita. Duh, ini jadi andelan deh kalo di perjalanan atau tempat umum. Lumayan bikin anteng.
5. Bercerita tentang nabi Ibrahim dan Ismail. Tapi ingat ya… harus berdasarkan sumber yang shahih seperti dari sini . Sambil bercerita, bisa membuat craft seperti ini loooh….
Eid Al-Adha toppers dari HafsaCreates di etsy.com. Dapetnya dari themuslimahmommy.com (panjang yah sumbernya)
Sebagai orang tua kita bebas berkreasi dalam menjalankan homeschooling. Mau menggunakan metode tertentu, menggabungkan metode – metode yang dirasa cocok untuk anak, atau mengembangkan metode yang ada.
Kalau Aisha Homeschool, bagaimana? Kami menggunakan metode pendidikan yang diajarkan Rasulullah dengan pemahaman para salafush shalih. Sedikit dipadukan dengan metode inkuirinya IB dan Montessori juga – untuk saat ini. Bisa jadi kami disebut sebagai pengguna metode eklektik yang menitik beratkan pendidikan Tauhid dan ilmu Diin, disamping pelajaran-pelajaran lainnya. Nanti kami buat dalam posting terpisah ya.
Nah, sekarang kita bahas mengenai adalah model – model homeschooling yang populer digunakan.
Sekolah Rumah
Sekolah rumah dapat digambarkan sebagai sekolah yang dipindahkan ke rumah. Metode ini mengambil model dari sekolah formal, dimana ada jadwal belajar, mata pelajaran, kurikulum, dan lain – lain. Beberapa pelaku homeschooling menggunakan metode ini akan tetapi membuat sendiri perencanaan belajarnya dan mencari sendiri materi pelajaran. Keuntungan metode ini dimana keluarga mengetahui dengan pasti apa yang akan diajarkan dan kapan akan diajarkan. Kerugian metode ini adalah membutuhkan lebih banyak usaha orang tua / pengajar karena berhubungan dengan kesesuaian formalitas.
Unit Studies
Metode ini memanfaatkan minat anak anda dan kemudian menggabungkannya ke dalam subjek pelajaran seperti matematika, membaca, mengeja, ilmu pengetahuan, seni, sejarah, dan lain – lain. Sebagai contoh, jika anak menyukai negara Mesir, anda dapat mengajarkannya sejarah Mesir, membaca buku tentang Mesir, menulis kisah tentang Mesir, melakukan proyek yang berhubungan dengan pyramid, dan mempelajari mengenai artifak – artifak mesir.
Keuntungan metode ini adalah anak – anak dapat belajar dengan menyenangkan sehingga tujuan pendidikan mencapai hasil yang maksimal. Sementara kekurangannya adalah terkadang orang tua terlalu bersemangat membuat materi pelajaran dari segala hal yang disukai anak, sehingga anak menjadi ‘takut’ untuk mengatakan hal – hal baru yang mereka sukai.
Relaxed/Eclectic homeschooling
Metode ini paling sering digunakan oleh pelaku homeschooling. Pada dasarnya eclectic homeschooling adalah menggabungkan metode – metode yang dirasa cocok untuk anak. Ambil sedikit dari sini, ambil sedikit dari sana kemudian digabungkan. Orang tua bebas memilih buku, kegiatan ekskursi, dan memberikan materi sesuai kebutuhan dan ketertarikan anak. Menggunakan metode ini memerlukan usaha lebih orang tua untuk menemukan materi – materi yang sesuai dengan ketertarikan anak dan sesuai dengan gaya belajar anak.
Deschooling
Unschooling jangan diartikan tidak sekolah ya.. Ini adalah metode homeschooling yang paling natural. Sebagaimana anak belajar berbicara dan berjalan, seperti itulah metode ini diterapkan untuk mempelajari matematika, ilmu pengetahuan, membaca, dan lain – lain. Anak pelaku unschooling belajar dari pegalaman sehari – hari. Tidak ada jadwal belajar dan tidak ada pelajaran formal. Semua pengalaman kehidupan yang mereka jalani adalah pembelajaran. Karena metode belajar secara natural, anak – anak mungkin membutuhkan waktu lebih dalam memepelajari suatu subjek dibandingkan menggunakan metode sekolah formal. Akan tetapi bila anak telah siap untuk belajar dan penuh motivasi maka dia bisa menungguli teman – temannya yang bersekolah formal karena anak ini lebih menikmati dan termotivasi dalam belajar.
Keuntungan metode ini adalah anak – anak memiliki waktu dan kemampuan untuk menjadi ahli/pakar di bidang yang mereka minati. Sementara kerugiannya adalah karena pelaku unschooling tidak mengikuti jadwal belajar ‘biasa’, mereka akan mengalami kesulitan dalam ujian – ujian pendidikan formal dan akan sulit bagi mereka jika mereka kembali masuk ke sistem sekolah formal.
Classical Homeschooling
Metode classical homeschooling mengacu pada pendidikan yang menjadi akar peradaban modern Eropa yaitu abad pertengahan Yunani. Tujuan dari classical homeschooling adalah untuk mengajar orang – orang bagaimana belajar untuk diri mereka sendiri. Dalam model pendidikan ini, anak-anak belajar dalam tiga tahap yakni mempelajari struktur bahasa (grammar), belajar logika (logic), dan belajar menyampaikan dan mempertahankan gagasan (retoric). Tahap pertama ketika anak mempelajari bagaimana cara belajar dan memiliki kemampuan untuk mengingat banyak fakta. Kemudian tahap kedua ketika anak belajar untuk menghubungkan fakta – fakta yang diketahui menjadi satu kesimpulan.. Dan tahap ketiga dimana anak belajar untuk menggunakan hubungan fakta – fakta tersebut dan menformulasikan pendapatnya sendiri.
CharlotteMason
Banyak metode homeschooling yang dibangun dari pemikiran tokoh tertentu. Salah satunya Charlotte Mason. Beberapa gagasan Charlotte Mason yang menjadi inspirasi untuk proses homeschooling antara lain :
Belajar melalui Living books (yaitu buku – buku yang ditulis oleh orang – orang yang memiliki hasrat tinggi terhadap suatu bidang sehingga menginspirasi pembacanya).
Narasi (proses anak menceritakan ulang mengenai isi materi bacaan yang dibacanya dengan bahasanya sendiri)
Habit training (melatih kebiasaan-kebiasaan baik pada anak)
Waldorf
Metode ini berdasarkan hasil kerja Rudolf Steiner dan menekankan pentingnya pendidikan menyeluruh pada tubuh, pikiran, dan jiwa anak. Pada level awal, pembelajaran ditekankan pada seni dan kerajinan tangan, musik, gerakan, dan alam. Untuk siswa yang lebih tua diajari untuk mengembangkan kesadaran diri dan bagaimana memikirkan hal – hal di luar diri mereka. Anak – anak yang menggunakan metode ini tidak menggunakan textbook standar, malahan mereka membuat sendiri buku mereka. Metode ini juga menjauhkan penggunaan televisi dan komputer karena mereka percaya komputer tidak baik untuk kesehatan dan kreativitas anak.
Montessori
Montessori merupakan salah seorang tokoh homeschooling. Adapun gagasan Montessori yang juga menginspirasi proses homeschooling adalah :
Fokus pendidikan terletak pada anak. Orang tua hanya bertugas menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk proses belajar anak.
Lingkungan belajar yang terkendali
Proses belajar dimulai dengan menggunakan alat peraga (nyata), baru setelahnya dikenalkan hal-hal yang abstrak
Anak-anak belajar bersama di satu tempat tanpa dibatasi usia
Metode ini juga meminimalkan penggunaan televisi dan komputer, khususnya untuk anak yang lebih muda. Meskipun materi montessari tersedia untuk anak sekolah menengah, kebanyakan pelaku homeschooling menggunakan metode montessori untuk anak – anak yang lebih muda. Buku dan kurikulum metode montessori tersedia di American Montessori Consulting.
Multiple Intelligences
Metode ini adalah ide yang dikembangkan oleh Howard Gardner dan Harvard University’s “project zero”. Metode ini percaya bahwa setiap orang itu cerdas sesuai dengan cara mereka sendiri, dan pembelajaran sendiri paling mudah dan efektif ketika mengandalkan kelebihan orang dari pada kelemahannya. Sebagai contoh, kebanyakan sekolah menggunakan metode bahasa dan logika matematika ketika mengajar, tetapi tidak semua orang belajar dengan metode seperti itu. Kebanyakan pelaku homeschooling yang sukses secara alami menekankan pada kekuatan anak mereka dan mencocokan cara mengajar dengan gaya belajar anak. Jadi tugas orang tua untuk mengetahui bagaimana, kapan, dan apa yang paling disukai dan dibakati anak dan kemudian mencocokan gaya mengajarnya dengan gaya anak.
Video Schooling
Metode ini dapat digunakan dengan semua jenis metode homeschooling. Metode ini menggunakan video – video berkualitas untuk membantu anak memahami pelajaran. Metode ini bukan hanya sebatas menonton televisi. Video yang berkualitas dapat menginspirasi atau membantu anak mengembangkan pemahaman yang kuat dalam mempelajari subjek – subjek yang rumit.
Internet Homeschooling
Memanfaatkan kekuatan internet untuk mengakses tutor virtual, sekolah virtual, kurikulum online, dan website berkualitas. Anda tidak perlu khawatir kesulitan mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan untuk homeschooling anak. Di internet tersedia banyak materi – materi berkualitas.
Pilih yang mana?
Jadi bingung…pilih yang mana ya? Jangan bingung Ayah Bunda, setiap anak unik dan tugas orang tua membantu memilihkan metode homeschooling yang paling cocok untuk anak. Beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan bagi orang tua dalam memilih metode homeschooling :
bagaimana anda memandang pendidikan
bagaimana anda ingin terlibat dalam proses pembelajaran
Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memulai Homeschooling?
Setelah orang tua mantap dengan keputusan untuk melaksanakan homeschooling, langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan diri sebelum memulai homeschooling. Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum memulai homeschooling?
Percaya Diri
Eit.. jangan tertawa. Ini hal yang pualing penting untuk dimiliki. Karena, kalau percaya diri runtuh, maka runtuhlah pondasi-pondasi sekolah rumah yang akan dibangun. Ingatlah bahwa kita hidup di dalam gaya hidup schooling sejak revolusi industri, lho. Siapkan diri sendiri dulu sebelum yang lainnya.
Memeriksa legalitas homescholling di negara anda tinggal
Di Indonesia sendiri homeschooling itu legal sebagaimana diatur dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Disebutkan bahwa homeschooling termasuk ke dalam jalur pendidikan informal. Siswa homeschooling dapat memilikli ijazah dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sebagaimana siswa sekolah formal. Bagaimanapun juga, setiap negara mempunyai aturan sendiri mengenai homeschooling, jadi sebelum anda menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan uang, akan sangat baik memeriksa terlebih dahulu aturan – aturan homeschooling di negara anda tinggal.
Memantapkan tekad : Apa tujuan homeschooling anda?
Ketika anda memutuskan homeschooling, anda tentu memiliki banyak alasan, mulai dari untuk menghindari ‘bullying’, melindungi anak dari tekanan yang ditimbulkan sekolah, memilih metode pendidikan yang paling tepat untuk anak, mendekatkan hubungan keluarga, dan masih banyak lagi.
Dengan mengingat alasan – alasan ini, akan sangat membantu memantapkan tekad ketika anda menemui kesulitan dan tantangan dalam menjalankan homeschooling.
Kenali siapa yang mendukung anda menjalani homeschooling.
Sangat penting untuk mengetahui siapa saja yang mendukung langkah anda untuk homeschooling. Apakah orang tua anda, tetangga di seberang jalan, atau mungkin teman pengajian. Bergabung dalam komunitas homeschooling akan sangat membantu anda untuk berbagi pengalaman dan menemukan solusi ketika anda menemui kesulitan.
Sama pentingnya juga untuk mengetahui siapa saja yang tidak mendukung anda. Sehingga anda dapat menguatkan niat dan tekad dalam menjalankan homeschooling menghadapi orang – orang yang tidak setuju dengan homeschooling bahkan mempengaruhi mereka untuk memilih homeschooling.
Merencanakan jadwal: Kapan anda akan melaksanakan homescooling
Salah satu keuntungan homeschooling adalah kebebasan untuk mengatur waktu dan tahapan pendidikan anak. Itu semua diserahkan pada Anda orang tua. Memiliki tujuan yang jelas dalam pelaksanaan homeschooling akan sangat membantu anda menentukan jadwal homeschooling anak. Anda sebagai orang tua memiliki banyak pilihan. Apakah jadwalnya harus seperti sekolah? Itu terserah Anda. (Contekan: kalau saya jadwal ini saya ubah jadi ekspektasi yang harus diraih setiap minggunya)
Pelajari mengenai metode – metode homeschooling dan tentukan pendekatan mana yang akan diambil
Sebelum memulai homeschooling, orang tua harus memahami seluk beluk homeschooling dan metode – metodenya. Sehingga orang tua dapat menentukan metode homeschooling apa yang paling tepat diterapkan untuk anaknya.
Memilih kurikulum dan materi : Apa yang akan anda ajarkan?
Kurikulum pada dasarnya adalah panduan dalam melaksanakan pendidikan, sementara dalam pelaksanaan homeschooling sendiri orang tua tetap bebas berkreasi. Ada banyak pilihan kurikulum yang bisa digunakan. Ada kurikulum nasional, Kurikulum Cambridge IGCSE yang digunakan oleh sekolah-sekolah internasional di Indonesia, atau jenis kurikulum lain yang dibuat oleh pembuat kurikulum yang diakui di negara pembuatnya. Atau
Persiapkan diri Anda untuk sukses
Ketika semua persiapan sudah diatur dengan baik, kini tibalah saatnya bagi Anda untuk melaksanakan homeschooling. Hari – hari ke depan yang akan dilalui bukanlah tanpa hambatan. Yang Anda perlukan hanyalah terus memperbaiki persiapan dan pelaksaannya. Semangat!!!
Demikianlah beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai homeschooling. Tunggu apa lagi Ayah Bunda?? Let’s do it!!
Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Sebagaimana diatur dalam Undang – Undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat (1) dan (2) yang berbunyi :
Ayat (1) : Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Ayat (2) : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Bagi yang memilih homeschooling tidak perlu khawatir mengenai legalitas homeschooling di Indonesia. Karena sesuai dengan Undang-undang No 20 tahun 2003. Disebutkan bahwa ada tiga jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal (sekolah), nonformal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan).
Selengkapnya mengenai pendidikan informal, terdapat dalam pasal 27 undang – undang No 20 tahun 2003 sebagai berikut :
(1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
(2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
(3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Berdasarkan undang – undang ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan homeschooling legal di Indonesia. Selain itu siswa homeschooling memiliki kesempatan untuk mengikuti ujian dan memperoleh ijazah kesetaraan yang dikeluarkan oleh Depdiknas, yaitu :
paket A setara SD
paket B setara SMP
paket C setara SMU
Pelaku homeschooling juga memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
‘Peraturan homeschooling’
Yang perlu digaris bawahi di sini adalah soal nama. Indonesia mengalih bahasakan homeschooling menjadi SEKOLAH RUMAH
Peraturan homescholling ini terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 129 Tahun 2014 tentang “Sekolah Rumah”.
Pada Pasal 1 Ayat (4) disebutkan : yang dimaksud sekolah rumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain.
Bagi keluarga yang ingin secara mandiri melaksanakan homeschooling, maka bisa mengambil bentuk SEKOLAH RUMAH TUNGGAL
Jika ingin membuat lembaga, SANGAT DISARANKAN UNTUK TIDAK MENGGUNAKAN NAMA HOMESCHOOLING, karena homeschooling itu bukan sekolah. Hal ini juga tidak mendidik literasi peserta didik karena kata homeschooling tidak digunakan semestinya.
Ada 2 jenis sekolah rumah yang bisa dibuat:
1.. Sekolah rumah Majemuk, yaitu layanan pendidikan berbasis lingkungan yang diselenggarakan oleh orang tua dari 2 (dua) atau lebih keluarga lain dengan melakukan 1 (satu) atau lebih kegiatan pembelajaran bersama dan kegiatan pembelajaran inti tetap dilaksanakan dalam keluarga.
2. Sekolah rumah Komunitas, yaitu kelompok belajar berbasis gabungan
sekolah rumah majemuk yang menyelenggarakan pembelajaran bersama
berdasarkan silabus, fasilitas belajar, waktu pembelajaran, dan bahan ajar yang disusun bersama.
Untuk lebih lengkapnya, silahkan mengunduh aturan berikut:
Sekarang semakin banyak orang tua (saya salah satunya, uhuk) yang lebih memilih homeschooling dibandingkan sekolah formal. Sepertinya metode ini semakin diterima di Indonesia.
‘Anak – anak homeschooling’ mulai terlihat (berkat sosmed) dapat bersaing dengan teman – teman mereka yang bersekolah formal dalam hal standarisasi pendidikan. Bahkan Universitas tidak lagi khawatir menerima anak – anak homeschooling karena mereka sudah terlatih untuk belajar mandiri sejak dini.
Artinya? Yup, anak – anak ini bisa diandalkan untuk menghadapi tantangan.
Tetapi sebagaimana semua hal di dunia ini, homeschooling tentu memiliki pro dan kontra. Orang tua yang sangat peduli mengenai pendidikan anak, tentu akan menimbang dampak baik dan buruk homeschooling sebelum mengambil keputusan apakah akan menyekolahkan anak secara formal atau homeschooling.
Untuk itu mari kita lihat pro dan kontra penerapan homeschooling.
Pro Homeschooling
Dengan homeschooling, orang tua dapat menentukan beragam metode untuk mendidik anak mereka dan bisa tidak terlalu fokus pada bidang yang ‘mubazir’. Orang tua dapat mengintegrasikan pengetahuan yang akan diberikan sesuai dengan kemampuan, ketertarikan, dan kesiapan anak, termasuk mengintegrasikan nilai agama kedalamnya.
Sel in hal yang disebutkan tadi, berikut beberapa alasan lain yang menjadi alasan sebagian orang (termasuk kami) yang pro homeschooling :
Kebebasan mengajarkan ilmu agama – Banyak orang tua merasa bahwa dengan homeschooling memberikan mereka kesempatan untuk menggabungkan dan memberi pemahaman nilai – nilai agama dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan sehari – hari.
Mendekatkan hubungan keluarga – Banyak keluarga homeschooling mengatakan bahwa homeschooling memiliki peran penting dalam mendekatkan hubungan keluarga. Waktu belajar bersama dapat membantu mendekatkan hubungan dalam keluarga.
Kondisi emosi yang stabil – Anak – anak homeschooling tidak perlu khawatir mereka akan ‘dibully’, mendapatkan tekanan akibat kompetisi di sekolah, sehingga mereka tidak harus tertekan baik fisik maupun mental menghadapi itu semua. Orang tua yang anaknya menjadi korban ‘bullying’ memilih homeschooling untuk melindungi anaknya dari dampak buruk.
Jadwal yang ramah anak – Salah satu hal yang menyenangkan dari homeschooling adalah anak dan orang tua dapat menyusun jadwal belajar sendiri sesuai kebutuhan. Anak tidak lagi stres dengan jadwal sekolah yang rutin dan ketat. Selain itu juga tidak ada pekerjaan rumah yang memberatkan anak.
Waktu istirahat yang cukup bagi anak – Dengan jadwal yang fleksibel maka anak dapat memiliki waktu istirahat yang cukup. Waktu tidur dan istirahat merupakan kebutuhan vital bagi anak yang dapat mempengaruhi fisik dan mental anak, khususnya anak – anak menjelang remaja dan remaja.
Kontra homeschooling
Banyaknya waktu yang dibutuhkan – Orang tua yang memilih homeschooling menghabiskan waktu lebih banyak untuk merencanakan, mengarahkan anak mereka dalam beraktivitas, serta turut berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Idealnya ibu harus berada di rumah untuk secara penuh bertanggung jawab dalam pendidikan anak sementara ayah bekerja. Namun, bukan tidak mungkin jika keduanya bekerja. Hal ini akan menjadi tantangan bagi orang tua dalam membagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak (saya salah satunya)
Keterbatasan keuangan Untuk melaksanakan homeschooling, salah satu orang tua harus mengorbankan pekerjaan penuh waktu mereka dan ini dapat menyebabkan masalah keuangan bagi sebagian keluarga. Tetapi bagaimanapun, kebanyakan orang tua mengatakan bahwa hal itu setimpal demi melihat anak mereka tumbuh dengan baik. Selain itu pada zaman sekarang sudah banyak pekerjaan non full time atu remote yang dapat memberikan penghasilan tambahan.
Kritikan dari orang lain – Ketika homeschooling semakin berkembang, tetap saja masih banyak orang yang memandang negatif homeschooling dan ini adalah hal biasa. Bahkan pandangan negatif ini berasal dari teman – teman dan keluarga dekat. Jika anda memilih homeschooling maka anda harus siap dengan kritikan dan pandangan negatif orang lain.
Setelah melihat pro dan kontra penerapan homeschooling, orang tua tentu lebih mudah mengambil keputusan apakah akan tetap bersekolah formal atau memilih homeschooling. Yang menjadi tujuan tentunya agar tercapai tujuan pendidikan dan demi tumbuh kembang anak yang baik. Selamat memilih Ayah dan Ibu.
Beralih dari sekolah formal ke homeschooling (atau memulai homeschooling ditengah budaya schooling) merupakan suatu langkah besar. Untuk itu orang tua perlu mempertimbangkannya dengan baik.
Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memilih homeschooling?
Beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan orang tua sebelum memutuskan menerapkan homeschooling.
Komitmen terhadap waktu
Kegiatan homeschooling cenderung menghabiskan waktu yang lebih banyak. Kegiatan homeschooling tidak hanya duduk mempelajari buku – buku selama berjam – jam. Ada banyak kegiatan lain seperti eksperimen dan proyek – proyek yang harus dilakukan, pekerjaan anak yang harus diperiksa, belajar di lingkungan luar seperti taman, pelajaran tahsin, tahfiz, dan masih banyak lagi. Orang tua dan anak harus mempunyai komitmen dan disiplin kuat dalam menjalani homeschooling.
Mengorbankan kehidupan pribadi
Agak lebay sih bahasanya, tapi saya belum menemukan padanannya. Alasannya karena ya… orang tua homeschooling memiliki sangat sedikit waktu untuk diri mereka sendiri (atau ini cuma saya aja yah?). Dapat dikatakan bahwa orang tua dan anak selalu bersama – sama hampir 24 jam dalam seminggu. Sehingga orang tua harus siap mengorbankan kehidupan pribadinya.
Kondisi keuangan keluarga
Homeschooling mungkin tidak menghabiskan biaya sebesar sekolah formal, akan tetapi membutuhkan peran orang tua yang sangat besar sehingga salah satu orang tua harus mengorbankan pekerjaan full time mereka. Hal ini tentu berdampak besar bagi keluarga yang mengandalkan dua pemasukan. Eh, tapi bukan tidak mungkin loh jika keduanya bekerja. Kalau saya ingat, nanti, saya akan posting tentang hal ini.
Sosialisasi
Orang tua harus memberi perhatian lebih dalam hal sosialisasi anak dengan orang lain. Karena anak tidak bersekolah formal seperti anak – anak pada umumnya, sosialisasi anak harus benar – benar diperhatikan. Kebaikan homeschooling adalah orang tua memiliki kontrol lebih dalam hal kontak sosial anak dengan orang lain. Sehingga anak lebih terjaga dari tindakan buruk lingkungan. Komunitas homeschooling dapat menjadi salah satu pilihan anak untuk bersosialisasi. Atau bagi Muslim, ini saatnya memperbanyak silaturahmi.
Pengaturan rumah tangga
Orang tua homeschooling harus mampu mengatur pekerjaan rumah tangga dan kegiatan homeschooling berjalan dengan baik. Ini bukan curhat, tapi pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan dengan baik, sementara kegiatan homeschooling juga harus berjalan baik. Kegiatan homeschooling tentu berpengaruh pada kondisi rumah yang bisa jadi lebih berantakan sehingga membutuhkan tugas ekstra.
Kesepakatan kedua orang tua
Sangat penting untuk kedua orang tua sepakat dalam menerapkan homeschooling. Akan sangat sulit menerapkan homeschooling jika salah satu pasangan ada yang menolak. Jika pasangan anda menolak cobalah untuk meneliti dan berbicara dengan orang lain untuk mencari solusinya.
Apakah anak bersedia/tertarik?
Ketertarikan anak akan sangat menentukan karena anak yang akan menjalaninya. Yang utama tentu keputusan orang tua, tetapi jika anak menolak tentu akan sulit untuk menerapkan homeschooling.
Satu tahun untuk satu masa pendidikan
Homeschooling bukanlah komitmen seumur hidup, banyak keluarga yang menerapkannya per tahun kemudian dievaluasi kembali apakah tetap menjalankan homeschooling atau tidak. Bisa saja orang tua dan anak merasa sudah saatnya untuk bersekolah formal.
Apakah orang tua merasa tertekan untuk mengajar?
Jika anda dapat membaca dan menulis, maka anda mampu untuk mengajar anak anda. Kurikulum dan materi – materi pembelajaran akan membantu anda dalam merencanakan dan menjalankan pendidikan. Anda dapat meminta bantuan orang lain jika mendapat kesulitan atau mencari tutor untuk beberapa subjek pelajaran yang sulit.
Pengalaman orang lain
Akan sangat membantu jika anda mendengarkan alasan orang lain memilih homeschooling. Anda dapat belajar dari pengalaman orang lain dan menjadi pertimbangan sebelum memilih homeschooling.
Itulah hal – hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih homeschooling. Semoga bermanfaat ya…
Homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga.
Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah/ kursus melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah, di mana penentu kebijakannya adalah keluarga.
HOMESCHOOLING ADALAH GAYA HIDUP
Ayah dan ibunya merupakan CEO yang menddesain, melaksanakan, dan menevaluasi praktik homeschooling. Beberapa keluarga memilih struktur yang sangat akademis, ada yang menggunakan metode – metode tertentu, ada yang memakai metode eklektik atau mengambil beberapa metode. Ada yang menggunakan guru, interaksi satu banding satu, sampai mengikut sertakan ke kelas-kelas khusus, ada yang menggunakan penyedia kurikulum online namun tetap diajari orang tuanya sendiri.
Apapun keputusannya, itu semua menyesuaikan dengan kebutuhan anak yang ditentukan oleh keluarga. Walaupun disebut homeschooling, bukan berarti proses belajar melulu diadakan di rumah. Proses belajar bisa dilaksanakan di taman, pasar, kolam, peternakan, dan dimana saja.
Sekarang di Indonesia juga mulai banyak bermunculan flexi school yang dinamai homeschooling
Flexi school adalah metode pendidikan yang memadukan antara orang tua dan sekolah, di mana anak terdaftar di lembaga tetapi memiliki jadwal yang fleksibel. Anak bisa memilih mau sekolah hari apa saja, sisanya anak belajar ‘sendiri’ di luar sekolah. Basis kurikulumnya mengikuti kurikulum nasional dengan modifikasi.
Beberapa alasan orang tua lebih memilih flexy school adalah karena kondisi kesehatan anak yang tidak stabil, lebih memilih metode pendidikan di rumah akan tetapi masih membutuhkan sekolah formal untuk menyajikan beberapa subjek yang belum bisa dilaksanakan orang tua, masih takut atau menolak untuk sekolah (biasanya anak – anak yang baru mulai sekolah), dan lain – lain.
Homeschooling vs Flexi School
Pilih yang mana? Itu semua tergantung kebutuhan dan kondisi orang tua dan anak saya rasa, apakah orang tua merasa sudah mampu menjalankan homeschooling atau masih membutuhkan peran sekolah dalam pendidikan anak. Dan yang paling penting mana yang paling diinginkan dan tepat untuk si anak.
Jika orang tua sudah mampu menyelenggarakan pendidikan seutuhnya serta mendedikasikan waktu (yang saya rasa cukup banyak) untuk anak maka saya rasa homeschooling merupakan pilihan tepat. Lain hal jika orang tua merasa belum mampu menyediakan pendidikan seutuhnya serta memiliki waktu yang terbatas, tentu saja flexi school bisa menjadi pilihan.Pada akhirnya semua dikembalikan pada anak, mana yang lebih cocok dan diminati anak.
Ya, memulai homeschooling atau sekolah berbasis keluarga rasanya seperti mimpi. Mimpi yang pernah saya tuliskan ketika saya masih mengajar 8 tahun lalu di sekolah swasta. Saat itu saya terheran-heran dengan keputusan beberapa orang tua yang mengambil langkah untuk memulai homeschooling yang saat itu masih asing. Saya juga sempat termakan prasangka akan si anak dan orang tua mengenai keputusan mereka. Mengapa memilih homeschooling menjadi pemicu rasa penasaran saya.
Sadar mulai melabel manusia, saya mulai melakukan riset kecil-kecilan. Hasil riset ini iseng-iseng saya kirimkan ke surat kabar. Dan, alhamdulillah, ini menjadi tulisan pertama saya yang dimuat Jakarta Post:
Inti dari tulisan saya adalah beberapa alasan yang dipilih orang tua emngapa memilih homeschooling untuk anaknya. Dan tahukah anda, sebenarnya kesemuanya itu juga menjadi alasan saya. Berikut daftarnya:
Homeschooling adalah tempat yang tepat untuk menanamkan nilai agama dan tauhid. Didalamnya tentu terdapat etika, norma, moral, dan karakter sesuai ajaran agama saya: Islam yang semoga dalam prakteknya sesuai dengan manhaj yang lurus.
Merekatkan keluarga. Betapa tidak? Kami akan bersama 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Bebas memilih dan mendesain kurikulum yang kami mau. Ini tentunya tidak bisa dengan bebas kita pilih di sekolah manapun karena keinginan setiap orang tua berbeda. Saya ingin integrasi Islam dalam pembelajaran anak-anak saya.
Homeschooling memberikan kesempatan untuk melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi pembelajaran yang tepat untuk anak sendiri.
Memberikan lingkungan yang yang sesuai untuk dicontoh, terutama hingga masa SD selesai. Tapi ini bukan berarti tidak bergaul. Hanya, orang tua selalu dapat mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya akan adab yang sesuai.
Waktu pembelajaran yang lebih fleksibel.
Memanfaatkan segala sumber belajar yang sangat dekat hubungannya dengan anak.
Itu keinginan saya 8 tahun lalu. Saat ini, keinginan itu telah berkembang setelah mengalami perjalanan hidup sebagai pengajar di beberapa sekolah. Bersentuhan dengan beragam sistem sekolah membuat saya takut bahwa sistem yang saya pilih tidak menjadikan anak saya menjadi pribadi yang utuh.
Bagaimanakah akhir bentuk perkembangan itu? Tunggu tulisan saya berikutnya ya, insyaAllah.
Oke, karena banyak yang nanya “Ngapain aja jadi kalau nggak mengajar?” jadi saya share aja yah.
Jadi, setelah 12 tahun jadi wanita karir, sudah 3 bulan ini saya merubah pola pikir untuk lebih mengutamakan keluarga. So I decided to homeschool my children sambil kerja dari rumah. Bukan MLM loh yaaa. Pengen sih jualan, tapi kayaknya gak bakat dan gak tegaan. Nanti habis lagi barang dagangan, hehe.
Eh, dan alhamdulillah, ternyata, banyaaaak sekali peluang bagi lulusan sastra Inggris dan manajemen seperti saya ini (kamana wae atuh?). Thanks to the WWW, informasi seperti ini sangat mudah sekali didapatkan.
Nah, ini dia… Saya paparkan di bawah beberapa peluangnya ya:
1. Guru privat – Sudah jelas ya, gak perlu dijelaskan apa dan bagaimananya. Tapi ini mah jelas saya gak bisa, saat ini, kecuali online. Nunggu Debay gede. Hehe.
2. GHOST WRITER – Nah, kalau yang ini katanya harus sanggup kejar deadline dan (katanya juga) harus mampu menulis untuk pencitraan hehe.. not me also (coret)
3. CONTENT WRITER – Nah ini yang saya lakukan. Saya menawarkan jasa kepada perusahaan dan institusi untuk jadi pekerja lepas waktu. Berhubung sekarang jamannya Marketing in Venus dimana konsumen dilibatkan, jadi bisa banget dapet pemasukan dengan cara ini. All we have to do is only updating their website to be shared to socmed. Done. Asyik kan.
4. SEARCH ENGINE RATER. Nah, saya juga secara resmi tergabung dengan salah satu rating company Google. Maap, tidak bisa menyebutkan namanya karena terikat Non-Disclosure Agreement. Modalnya ya kudu bisa Bahasa Inggris karena bahan bacaan banyak dan kudu selesai dalam waktu seminggu, terus koneksi internet n gadget terkini. Kalo dah punya modal ini, ikut tes, lulus, udah deh ke terima. Tergantung jobnya, biasanya satu jamnya dapat $18 untuk newbie kayak saya. Di kali 40 jam udah berapa tuh hehehe… Bebas pilih waktu tapi ya harus nurut deadline.
5. TRANSLATOR – udah jelas lah ya kerjaannya .. tapi not me at the moment. Takut gak kekejar soalnya.
6. WRITER – yaaay.. ini memang nggak instan, tapi justru letak kepuasannya disitu. Setelah buku selesai baru dapat royalti.
7. EDUCATION CONSULTANT – ini kerjanya online juga saat ini. Jadi kalau ada yang perlu bantuan pengelolaan sekolah secara mikro, hanya saat terjadi yang stuck aja, I’m available. Tapi gak bisa ketemu offline juga karena masih ada debay.
8. TEACHER’S TRAINER – Yup, ini kesempatan seru untuk memperluas jaringan dan belajar dari guru-guru hebat lainnya. Tapiiii, karena ada debay… pastinya not at the moment.
Nah, kaaan … banyak peluangnya meski kita kerjaannya dari rumah. Kalau di Jepang lagi musim ibu yang giving up career for family, kenapa kita takut? InsyaAlloh, kemiskinan hanya di pikiran kita aja. Alloh yang menjamin kecukupan rizki.
Tapiii… if my next dream happen : ngajar di pesantren sambil homeschooling-in bocah (aamiin) I’d love to reconsider. Kapan lagi berkumpul dengan ahli ilmu jika tidak begitu.
Bagi yang dirundung duka,
lihat embun pagi yang Alloh ciptakan.
Ia sabar datang membasahi bumi
memberi maslahat hingga datang matahari.
Ia tidak meminta penangguhan waktu,
tidak jua bersungut dan berseru.
Hentikan harap manusia melihat
kesedihan, rasa sakit, dan air matamu.
Mereka hanya mampu melihat kesalahanmu.
Hanya Alloh tempat berpaling,
yang tahu segala tentang makhluknya.
Maka, segera singkirkan air mata
seakan tiada di hadapan manusia.
Ilmu sebelum amal. Yak, dalam memulai sekolah rumah pun sama. Jangan mentang-mentang homeschooling atau flexi-schooling terus kita tinggal liat kurikulum, beli buku, terus belajar sendiri atau sewa guru. Udah. Hayyaaaah, itu mah sama aja kayak pindah sekolah tapi fisiknya doang.
Sebelum mulai, sebaiknya memang kita konsultasi dulu dengan yang sudah memulai. Mereka yang sudah merasakan pahit getir homeschooling. #Cieeee *kibas jilbab*
Homeschooling is such a solution, kalau kata saya mah. Kita bisa fokus dengan ngaji, hobi, dan apapun. Plus, belajar pun lebih dalam lagi by the help of the world wide web sama guru atau narasumber yang bisa kita pilih sendiri. Kalau sekolah? Hyaaaaa… mana bisaaaaaa! Yang ada kita telan aja tuh segala kualitas guru, konten, sistem, pengajaran, manajemen, yang bisa jadi di bawah standar harapan kita.
Terus, karena tidak dipahamkan pelajaran, setelah sekolah full day, anak disiksa lagi dengan bimbel? Kali ikut kursus, wajar lah ya… Tapi, BIMBEL??? Hmm, terus, fungsi guru, sistem sekolah, dan prosedur sekolah untuk mencerdaskan dimana yaaa? Well, it’s illogical, isn’t it? *gagal paham*
Ah sudahlah… gak selesai-selesai ngomongin sekolah mah. Now, for a start , saya rangkumkan nih blog dan situs yang dibuat emak bapak para homeschooler, komunitas sekolah rumah, atau malah muridnya sendiri. Here we go, para mastah dan guru yang sudah berkecimpung lebih dulu (dan kemungkinan lebih tua dari saya, yes!) di dunia keren inih. Happy blogwalking. 🙂
***Pengantar artikel yang ditulis Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999, di bawah ini. ***
Saatnya cari sekolah sudah tiba. Bagi yang memilih sekolah swasta, perburuan lebih menantang lagi karena banyaknya pilihan. Dari sekolah nasional, ada plusnya, internasional, sampai sekolah abal-abal.
Yup. Sekolah abal-abal. Sekolah- sekolah ini memanfaatkan keawaman ilmu orangtua atau malah mampu menangkap idealisme untuk dijual tapi tak bisa mengejawantahkan secara teknis. Karena mau tidak mau, tata kelola sekolah ya memang teknis pelaksanaan. Ngerinya, sekolah semacam ini menjamur dimana-mana. Agar dibuat mentereng dan bertingkat, disewalah ruko agar mempesona.
Cuma ilustrasi [cuma ilustrasi]
Di jabodetabek ini memang lagi menjamur sekolah2 ruko. Mereka bukan lembaga pendidikan yang secara terhormat menyatakan diri sebagi kursus, pendidikan alternatif, PKBM, flexi-school, namun benar-benar mendeklarasikan diri sebagai sekolah umum. Ya, sekolah umum tanpa izin.
Memang tidak bisa digeneralisir karena beberapa sekolah bertahan berkat kualitas tata kelola dan SDM. Mereka yang melek aturan juga mengalihkan kepemilikan ruko menjadi milik sendiri. Akhirnya, sekolah pun bertransformasi dan layak disebut sekolah berkualitas.
Tapi, sayangnya, ada juga sekolah- sekolah yang sama sekali tidak layak disebut sekolah… amburadul… no system at all. Pastinya ini yang membuat tingkat turnover sangat tinggi. Dan korbannya… ya siswa lagi. 😦
Akhir dari suksesnya sang marketing menjual program adalah pindahnya para orang tua setelah tertipu. Bayar uang pangkal lagi di sekolah lain, tentunya setelah mereka melek informasi. Bagi orang tua yang sudah ‘all out’ bayar semua, pilihannya cuma satu : pasrah…
Duh… bagaimana cara menertibkan sekolah seperti ini ya? Dan yang terpenting, bagaimana mengedukasi orang tua dan anak sebelum jadi korban mereka?
Pertanyaan ini semakin banyak setelah ibu Dhitta membagikan artikel di bawah ini di milis Ikatan Guru Indonesia. Semakin galau karena sekolah-sekolah ini kok ya ‘dibiarkan’ saja. 😦
Jelang pertengahan November 1998, di tengah hiruk-pikuk semboyan”Reformasi Total” di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, saya dipanggil Presiden Abdurrahman Wahid di suatu kediaman di Jalan Irian, Jakarta Pusat.
Kami membahas lingkup dan materi kurikulum sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Karena kami yakin materi dan cara pengajaran cepat atau lambat harus diubah, Gus Dur-sapaan akrab Abdurrahman Wahid-mengingatkan agar reformasi pendidikan di telaah secara cermat karena perubahan sistem pendidikan perlu waktu. Minimal 1-2 tahun untuk menyusun konsep, 2-3 tahun memasyarakatkan, dan setelah lima tahun mulai dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan. Saya paham tentang hal ini meski merasakan betapa sulit memasyarakatkan reformasi yang didorong para tokoh politik yang mendesak agar reformasi dimulai “sekarang juga”.
Apalagi reformasi yang mendesak merombak kurikulum, mulai dari perubahan “Bahasa Orde Baru” ke arah “Bahasa Orde Reformasi”. Saya teringat pada pemeo “ganti menteri” dan “ganti kurikulum” pada tahun 1960-an dan 1970-an. Dari zaman Menteri Pendidikan dan Pengajaran Priyono sampai Mendikbud Nugroho Notosusanto,
Saya pikir sekarang saya bakal kena batunya. Setelah belajar di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia Bagian Publisistik (sekarang Departemen Ilmu Komunikasi Massa FISIP), saya mulai berhadapan dengan orang pintar, para ahli dari berbagai institut keguruan dan ilmu pendidikan seluruh Indonesia yang ingin menyumbang pikiran tentang apa lingkup dan isi kurikulum yang “baik dan benar”.
Beruntung saya dibantu Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro (Direktur Pembinaan Sarana Akademik) dan Dr Anhar Gonggong (Direktur Nilai Sejarah dan Tradisional) di Depdikbud. Saya dikawal Letnan Jenderal Sofian Effendi, Sekjen Depdikbud yang kebetulan bos saya di Lemhannas 1996-1998. Saya pikir, karena saya dibantu teknolog asal Jawa (yang ayahnya, Prof Soemantri Brodjonegoro, pernah menjadi Rektor UI), oleh sejarawan Bugis-Makassar, dan oleh prajurit Kopassus asal Bireuen, Aceh. Agak lengkaplah, saya dibantu orang yang melambangkan rakyat yang mewakili sebagian besar Indonesia barat dan timur.
Gus Dur berseloroh, “Mas Ju jadi apanya ‘Mafia Berkeley’?” Julukan Mafia Berkeley disandangkan kepada sebagian tokoh ekonomi dan administrasi publik yang langsung atau tidak langsung membantu Prof Widjojo Nitisastro selama 20 tahun lebih (1966-2000).
“Saya hanya kroco bidang politik internasional, Gus, pernah belajar dengan beberapa teman dosen asal Aceh sampai ujung timur di Manado dan Kupang.”
“Wah, politik. Kalau begitu Mas Ju jadi tukang tembak (hit-man),” kata Gus Dur, mengingatkan saya pada film The Untouchables yang diperankan Kevin Costner, Sean Connery, dan Robert De Niro sebagai Al Capone, tokoh mafia Chicago tahun 1929-1930.
“Begini,” kata Dur, “Saya ini ditanyain tentang itu lho, sekolah ruko yang menjamur di mana-mana, termasuk di daerah saya di Ciganjur. Itu namanya sekolah-sekolahan, enggak jelas alamatnya, enggak jelas izinnya. Itu namanya sekolah enggak keruan.”
“Saya ingat kata-kata Satryo Soemantri Brodjonegoro, kira-kira ada 747 perguruan tinggi swasta di daerah Jabotabek,” kata saya ke Gus Dur. Ia yang langsung berseloroh: “747? Angka dari mana tuh, kok mirip banget dengan pesawat Boeing 747?”
“Tahu enggak Mas,” sambung Gus Dur, “saya ini sudah lama mimpin UCLA, University Ciganjur Lenteng Agung, enggak kalah terkenal dengan sekolah UC Berkeley atau UC Los Angeles. Saya drop out dari Universitas Baghdad dan cuma mahasiswa pendengar di Al-Azhar, Kairo. Tetapi, saya mahasiswa Sekolah Kehidupan, saya melihat-lihat mengalami kehidupan nyata di lapangan.”
Saya mengangguk diam dan berkata dalam hati, Gus Dur memang sarjana yangsujana, simple dan rendah hati. Orang Jawa bilang dia itu tidak gumunan, tidak mudah kagetan, tidak mentang-mentang. Gelar apa pun, akademik, adat, gelar keagamaan, tidak ada artinya kalau dia tidak menghargai dirinya sendiri dengan berkaca pada pahit getirnya tantangan hidup sehari-hari.
Saya teringat ucapan Bung Karno pada awal 1960-an ketika membuka Hari Sarjana UI di Kampus Salemba 4, Jakarta Pusat.
Mengutip pidato Bung Karno ketika memperkenalkan pemimpin Vietnam Ho Chi Minh, saya berkata dalam hati, “Paman Ho tak tamat sekolah tinggi, tetapi berhasil mengocar-ngacirkan pemerintah kolonial Perancis sehingga tahun 1954 Perancis takluk di Dien Bien Phu dan mundur dari Indo-China.”
Gus Dur adalah sosok genius yang tak perlu mengejar gelar akademik, apalagi dari sekolahan pojok jalan atau ruko murahan yang bertebaran di mana-mana. Tetapi, Gur Dur seperti juga Ho Chi Minh yang pernah magang sebagai koki di hotel di Place Vendome, Paris, adalah orang yang percaya diri pada garis tangan. Siapa tahu yang mengelola ruko sekolah-sekolahan itu berhasil karena ada tangan Tuhan yang membantunya keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Siapa tahu ijazah palsu yang dipersoalkan itu kelak membantu orang menjadi otodidak, yang karena rasa percaya dirinya besar sehingga tak memerlukan gelar: sah atau tidak! Atau, seperti kata Gus Dur, “Enggak usah repot-repot nertibkan (sekolah di) ruko-ruko itu. Lama-lama capai juga mereka ngurusin ijazah dengan segala tetek bengek cap, laminating dan figura.”
Benar juga. Butuh tenaga dan biaya sangat banyak untuk menertibkan sekolah tak keruan itu. Biarkan sekolah tadi layu tak berkembang. Biarkan orang mencari rezeki atau rugi sendiri kalau tidak ada peminat yang memercayai iklan yang dipasang di mana-mana dengan biaya semurah atau semahal apa pun. Biarkan ijazah palsu diedarkan sampai orang kapok.
Sekolah Kehidupan hanya perlu pelita hidup dalam hati kita masing-masing. Itulah ijazah yang sebenarnya kita selalu mencari, dari pengalaman hidup Ho Chi Minh, Gus Dur, dan ratusan tokoh tak bergelar akademik di seluruh pelosok Indonesia.
Ternyata benar, untaian doa penuh harap untuk rampungnya sebuah karya yang dikerjakan dengan ikhlas bersama-sama, seakan mampu menggerakkan semesta untuk mewujudkannya. Tidaklah mudah mengerjakannya di tengah tuntutan waktu untuk untuk mempelajari ilmu. Belum lagi, beberapa dari penulis terpaksa mundur dari institusi yang menyatukan raga kami.
Tapi, Allah Azza wa Jalla berkehendak lain. Buku ini selesai meskipun raga kami terpisah. Semoga karya ini mampu merekatkan ukhuwah yang indah ini nantinya. InsyaAllah….
Inilah kisah kami…
Klastulistiwa 2015
Alhamdulillah, atas karunia Allah Azza wa Jalla, buku karya para penulis perempuan muda ini pun akhinya rampung. Perjalanan kreatif yang terjadi di kelas Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Ibu Mierza pada tahun ajaran 2014-2015 ini menjadi lebih dari sekadar portofolio, tapi awal kontribusi mereka yang menembus ruang kelas. Ya… menembus ruang kelas. Karena, selain memiliki ISBN yang berlaku internasional, seluruh royalti pembelian buku ini akan didonasikan kepada Yayasan Umar bin Abdul Azis untuk pembangunan Masjid As-Sunnah BSD, Tangerang. Akhir kata, tulisan mereka yang tepercik oleh pembelajaran yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah semoga menjadi penguat perjalanan dalam akhir zaman sebagai al ghuraba. Namun, karena memang buku ini ditulis oleh para pembelajar, mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun redaksinya. Silakan kunjungi http://www.klastulistiwa.com untuk memberikan saran demi perkembangan kami jika Anda menemukannya.
Klastulistiwa 2015
Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via :
– SMS ke 0819 0422 1928 (LeutikaPrio Publisher)
– Email ke leutikaprio@hotmail.com
Atau klik disini
“Ih, kok anteng ya?” Biasanya, pertanyaan itu yang terlontar ketika saya membawa salah satu atau salah tiga dari anak saya ヾ(*´∀`*)ノ.
Sebenarnya, itu adalah jawaban, rahmat, dan kasih sayang Allah ketika saya galau bertanya “Apakah bisa kesana kemari dengan tiga anak kecuyungun?”. Alhamdulillah, itulah doa yang dikabulkan dan diiringi ikhtiar tentunya.
Sedih memang melihat kenyataan di dunia sekarang ini yang semakin tidak sabar dan tidak ramah dengan anak kecil. Jangankan tempat resmi, bahkan di institusi pendidikan yang kliennya anak – anak pun bisa lebih bengis dan diskriminatif terhadap perempuan yang bawa anak kemana-mana seperti saya. Maka dari itu, saya yang perlu wara wiri pun harus mampu bersiasat.
Alhamdulillah, akhirnya saya dapat formula yang bisa saya terapkan kepada anak sulung (8th), anak tengah (4th), maupun anak bungsu saya (2bln). Mereka sudah bisa dibawa rapat atau pertemuan yang beberapa jam…
Daurah dua hari yang berturut -turut dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore bersama dua bocah (waktu itu si bayi belum ada)
Sampai ikut pelatihan montessori pagi sampai sore selama 4 hari berturut – turut.
Alhasil Debay pun jadi cerewet setelah pelatihan.. hehehe…
Kalau saat memberikan pelatihan atau mengajar, debay kecuyungun masuk babywrap deh…
Nah, sekarang kita masuk ke how-to. Inilah yang kami lakukan setelah meminta bantuan Allah Azza wa Jalla untuk membuat anak-anak kami anteng di tempat umum:
1. Minta ijin yang mengundang. Lha, ini adabnya. Mosok kita mau maksa tuan rumah. Lagipula, dari pengalaman, bayi/ anak bisa merasakan lho orang dewasa yang suka (dan tidak suka) anak kecil.
2. Ajak bicara sebelumnya . Ini juga berlaku untuk bayi lho. Kalau kami sudah sounding dari malam sebelumnya sampai saat turun dari kendaraan. Komunikasikan apa yang mau kita lakukan, apa yang kita harapkan, sampai apa yang bisa terjadi kalau si anak tidak berlaku sesuai harapan (tapi bukan ancaman lho, ya). Kalau saya berbicara seperti ini, “Sayang, besok Ummi akan ajak kamu ke…. . Disana Ummi akan (melakukan apa). Kamu yang anteng ya sayang. Kalau mau bicara bisik-bisik ya. ” Kalau kepada si balita dan anak sulung, saya ajak ngobrol deh. ‘Kelakuan’ anak balita akan kita bahas bersama ceritanya hehe. Misalnya, saya akan bertanya begini, “Kalau kamu jalan-jalan, om tante yang ada disana akan merasa apa ya?” Teruus digali sampai dia mengeluarkan kata yang kita mau, yaitu “terganggu”. Heheh… modus. Bahkan kita pun bisa memberi tahu konsekuensinya (bukan ancaman lho ya) jika mereka tidak berlaku sesuai harapan. Maksudnya, konsekuensi itu juga menimpa orangtuanya *efek dramatisasi*.
3. Know your children. Ini penting karena anak masih pada tahap pemenuhan insting. Jangan harapkan anak berlaku baik ketika keinginan dasar mereka tidak terpenuhi. Contohnya anak sulungku. Dia bisa anteng di tempat asing kalau dibekali (atau dibelikan) buku yang banyak. Anak tengahku doyan ngemil, jadi tahulah apa yang harus dibawa.
Dia juga hobi membawa mainan kemana -mana. Kalau si bungsu ya pastikan si emak dan stok Abinya tersedia, hehe.
4. Beri hadiah jika mereka berhasil sabar . Yup, reward ini diberikan untuk kesabaran mereka berada di tempat yang ‘tidak seharusnya ‘ dalam waktu lama. Ini akan lebih efektif kalau orangtua jarang memberi hadiah. Untuk hal rutin yang berhasil mereka lakukan, saya memberi reward vertikal seperti ucapan barakallahu fiik, masyaAllah, Ummi bangga banget, dan sebagainya. Pemberian hadiah itu akan menjadi spesial ketika mereka melakukan hal yang menyenangkan orangtua. Ini, menurut saya, melatih birrul walidain lho…
5. Konsistensi. Nah, ini yang paling penting dan paling sulit, apalagi untuk orang tua yang tidak tega melihat anak menangis. Ingat lho, setiap yang kita lakukan akan dipelajari anak. Misalkan, ketika kita sudah menyampaikan konsekuensi kalau kita harus meninggalkan acara, yaaa harus kita lakukan. Demikian pula dengan pemberian hadiah.
Anak-anak itu belajar dari pola yang kita lakukan. Memang terkadang things didn’t go the way we wanted . Kalau itu, ingat yang nomor 4: konsistensi , plus stay cool, calm, and confident . Jika kita terus konsisten, mereka akan mempelajari dan melakukan,
sesuai ‘skenario ‘, insyaAllah. Dan lama-lama semuanya akan jadi lebih mudah karena routine dan prosedur yang kita ikuti dari awal.
Jadi, siapa takut tetap menjadi Ibu di saat kita dituntut profesional?
Sebuah organisasi yang baik terbentuk dari kontribusi seluruh pihak, baik dari atasan maupun bawahan. Begitu juga dengan sekolah. Institusi pendidikan dianggap berhasil ketika mampu memprediksi masalah, bukan hanya mengatasi.
Kemampuan memprediksi ini hanya akan muncul di institusi yang sehat. Ada dua karakter yang sebaiknya dimiliki sekolah sehat, yaitu mampu menerima masukan dan kepemimpinan yang kuat. Bagaimana bisa? Oke, kita beberkan di bawah ini:
Yang pertama adalah manajemen keluhan atau complaint management yang baik. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang mampu mengelola semua masukan dan keluhan baik dari dalam maupun dari luar. Dari luar bisa berarti dari orang tua, siswa, dan komunitas. Dari dalam bisa didapatkan dari guru, staf, dan manajemen sekolah.
Mungkin saat ini anda berpikir, “Seharusnya dari dalam itu berupa masukan, bukan keluhan.” Ya, mungkin idealnya demikian. Tapi, ayolah…. keluhan itu berasal dari ketidak mampuan orang yang mengeluh.
Katakanlah yang mengeluh itu adalah guru. Mereka melakukan itu bisa jadi karena area penyelesaiannya terlalu luas seperti sistem yang berantakan atau di luar wewenang, atau ketika sekolah memiliki kepala sekolah, yang abai dan tidak cakap, misalnya. Maka, wajar jika mereka mengeluh. Yang menjadi perhatian seharusnya adalah follow up dari keluhan tersebut, bukan siapa yang mengeluh.
Adalah sebuah kesalahan besar ketika guru atau siapapun yang mengeluh ini dibungkam demi pencitraan. APA YANG HARUS DICITRAKAN??? Setiap keluhan yang dibungkam dan lama atau tidak di follow up akan menumpuk laksana gunung es.
Belum lagi ketika kepala sekolah yang seharusnya menjadi penghubung antara pemilik dan guru memilih diam demi keberlanjutan hajat hidup pribadi dan melupakan amanah sebagai pemimpin.
Nah, berarti kita masuk ke pembahasan kedua yaitu kepemimpinan yang kuat sebagai ciri sekolah sehat. Beruntung saya berada di bawah pengayoman para pimpinan berkualitas di sekolah sebelumnya: Al Izhar, Tunas Muda, Sugar Group, dan Al Taqwa. Dari merekalah saya banyak belajar mengenai ilmu kepemimpinan.
Sungguh saya akan super galau jika berada di bawah kepemimpinan yang represif, yang meminta guru untuk diam demi pencitraan. Ada lho, sekolah seperti itu.. Yang kepala sekolahnya memilih diam dan melupakan amanah, yang penting aman dan keluarga kenyang. Yang gurunya tidak dianggap profesional sehingga tidak perlu diikat dengan kontrak. Yang pemiliknya lebih mementingkan bisnis daripada anak didik dengan merumahkan guru di tengah tahun ajaran tanpa diberi bimbingan lebih dulu. Lha wong perusahaan aja dapet SP sampai 3X kok, masa sekolah yang nyata-nyata merupakan institusi pendidikan tidak mendidik para pendidiknya.
Tapi lagi – lagi saya bersyukur karena keempat sekolah yang saya sebutkan di atas sangat profesional dan bukan jenis sekolah yang ‘khilaf ‘ tadi. Semoga siapapun guru,orang tua, dan siswa yang bertahan di sekolah tersebut dapat membantu sekolah bangkit dari kekhilafan.
Sungguh diam yang demikian membawa konsekuensi yang besar, yaitu hilangnya kepercayaan orang tua sebagai konsumen. Maka, tidak heran jika orang tua akhirnya memindahkan anaknya dan memilih sekolah lain.
Nah, setelah membaca artikel ini, masihkah anda percaya bahwa diam lebih baik di setiap kesempatan? Saya kembalikan jawaban dan konsekuensinya ke tangan anda.
Tulisan ini akan menyoal turnover dalam bidang SDM ya. Sebenarnya ada padanan kata bahasa Indonesia untuk turnover ini, yaitu perpindahan atau pergantian. Tapi, berhubung kata turnover (menurut saya) jauh lebih familiar, jadi saya akan memakainya dalam tulisan ini.
Definisi turnover itu sendiri, yang saya terjemahkan dari businessdictionary , adalah jumlah karyawan yang direkrut untuk menggantikan karyawan yang mengundurkan diri atau diberhentikan dalam jangka waktu tertentu.
Kata karyawan disini akan kita ganti dengan kata guru yang merupakan salah satu komponen terpenting dalam menentukan kualitas sekolah. Kualitas kinerja guru yang baik sering berdampak positif bagi perkembangan anak didik.
Begitu pula dengan masa kerja guru di sekolah tersebut. Sekolah Sekolah yang memiliki kemampuan retensi guru yang baik, atau dengan kata lain tidak sering bongkar pasang guru, terbukti berpengaruh dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pengembangan profesi, jumlah siswa, penjadwalan, perencanaan kurikulum, kenyamanan kerja, dan menghindarkan sekolah tersebut dari potensi ‘chaos’.
Seperti bola es yang terjadi dalam sekolah dengan turnover tinggi, faktor-faktor di atas akan mempengaruhi operasional sekolah secara makro, atmosfir kerja yang tidak menyenangkan, merusak citra sekolah, dan pada akhirnya terjadi hal yang paling tidak diinginkan: mencederai proses belajar mengajar. Seperti hasil riset William Sanders dalam Teachers Magazine (2000), anak-anak didik yang belajar di sekolah yang memiliki kemampuan retensi guru akan merasa nyaman dan mampu meningkatkan prestasi akademik.
Lalu, apa yang menyebabkan tingginya turnover? Apakah hanya gaji dan remunerasi? Guess what?
Ternyata, alasan moneter hanya mendapat porsi 22%. Sisanya yang 78% terbagi menjadi beberapa alasan seperti job security, jenjang karier, gaya manajemen, ketidak cocokan pekerjaan, dan penjadwalan/ fleksibilitas. Kelima hal tersebut disebabkan oleh ketidak cakapan manajemen dalam menganalisis dan mengelola talent yang dimiliki organisasinya.
Dalam cakupan sekolah, siapakah yang disebut manajemen itu?
Manajemen sekolah termasuk dalamnya setiap pengelola yang merupakan pengambil keputusan, baik strategis maupun operasional. Berarti, dalam hal ini, manajemen sekolah itu termasuk ketua dan anggota yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, hingga koordinator.
Semua pengambil keputusan tadi paling bertanggung jawab atas tingginya tingkat turnover . Tidak ada satu pun bagian yang bisa mencuci tangan karena koordinasi yang baik dimulai dari analisis diri dan mengakui kesalahan.
Lalu, bagaimana selanjutnya? Bisakah kita atasi masalah ini?
Tunggu lanjutannya, ya, insyaAllah. 🙂
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.