Kajian Buku "Waktumu Dihabiskan Untuk Apa"

Cara Mengefesienkan Waktu (Kajian Waktumu Dihabiskan untuk Apa?) Ustadzah Abu Usamah – Masjid Babussalam

(Hal 25) Bab 1: Macam-macam Kekosongan

As Syams 9-10

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Digabungkan antara zikir, shalat, dan jiwa. Cara kita mengingat Allah adalah dengan shalat. Ibnu Taimiyah menyebut ada orang yang secara fisik tidak tampan,  tapi karena menjaga shalat, tapi kita nyaman berada di samping dia.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Al Ala 14-15

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.
Referensi: https://tafsirweb.com/12561-surat-al-ala-ayat-15.html

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,

وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان

“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)

Para ulama, ahli ilmu,  du’at adalah para dokter hati.  Bukankah Al Quran itu syifa untuk membuat hati jadi sehat.

Dokter kata Imam Syafii ada 2: dokter hati dan dokter fisik.

D majelis ilmu, bersama-sama dengan jamaah.

Urutan 1 dokter spesialis hati adalah para rasul, maka ikuti cara Rasul dan para anbiya.

Tazkiyatun nufus, berlaku pada 2 hal:

  1. Terkait hak Allah: menegakkan ketaatan dan menjauhkan yang Allah larang dengan hati yang lapang
  2. Terkait hak sesama manusia: bermuamalah kepada manusia dengan cara yang kita senang diperlakukan dengan cara yang sama

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim, no. 1844)

Cek hati kita, apakah kita senang saat saudara kita senang? Jika tidak, maka cek hati dan keimanan kita.

Orang yang hasad, sebenarnya sedang ‘kurang ajar’ kepada Allah. Ketika mengapresiasi, jangan pakai ‘tapi’, agar tidak tumbuh hasad karena seakan memenggal leher saudaranya.

Bab 2: Cara Mengefesienkan Waktu

  1. Lakukan Kegiatan yang Bermanfaat
    • Dunia dan akhirat.  Yang paling bermanfaat adalah ibadah, karena itu tujuan kita diciptakan. 
    • Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

      الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

      “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

      (HR. Muslim)

      [Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]
    • QS Adz Dzariyat:56
      • وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
      • Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
    • Ibnu Abbas: setiap perintah ibadah , didalamnya terdapat perintah tauhid
    • QS Hud 128-119
      • وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
      • إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ
      • Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,
      • Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya
    • Ketetapan Allah:
      • Irodah kauniyah: Allah ciptakan hal yang belum tentu Allah cintai (iblis). Hikmahnya adalah itu akan jadi ujian bagi manusia.
      • Irodah syariyah: terikat dengan kecintaan Allah. Kalau Allah takdirkan, maka itu pasti Allah cintai/ senangi

Catatan kajian ini dapat memiliki kesalahan (Mierza)

Kajian Buku "Waktumu Dihabiskan Untuk Apa"

Beratnya Mensucikan Jiwa (kajian Buku “Waktumu Dihabiskan untuk Apa?” Ust Abu Usamah – Babussalam – 24 Feb 2026)

Ramadan adalan musim pengampunan dosa. Para sahabat banyak menghabiskan waktu, karena lebih aman ( tidak bergunjing) .

Banyak keterkaitan antara Ramadan dan tazkiyatun nafs.

Hal 23

Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah : “Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya : “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab : “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati”

Salamah pernah menasihat khalifa “Wahai imam, kenapa kami benci mati?” Beliau berkata, ” Yang menyebabkan adalah terlanjur membangun dunia, lalu akhirat dia hancurkan.” Beberapa ulama mengibaratkan dunia dan akhirat itu laksana memiliki 2 istri, pasti ada kecondongan.

Diantara penyakit hati: centa dunia. Allah akan mencampakkan  penyakit kehinaan (wahn): Cinta dunia dan takat mati

Barangsiapa sampai gersang jiwanya

Surat Nur : 50

أَفِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرْتَابُوٓا۟ أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُۥ ۚ بَلْ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Allah membahas orang munafiq sampai belasan ayat, tapi kafir hanya ayat karena mereka lebih berbahaya. Ayat diatas membahas tentang orang munafik yang tidak jihad. Dalam surat jihad, ada bahasan tentang menuntut ilmu. Maka orang yang Jauh dari majelis Ilmu memiliki nifaq, meski yang menuntut ilmu pun masih merasa tidak aman.

Surat An-Nur Ayat 48
وَإِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ

Artinya: Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

Orang munafik diliputi keragu-raguan untuk mengambil hukum Allah dan disebut dzalim. Adapun orang salih menghiasi hatinya dengan Iman. Mereka tidak sibuk mencari pandangan manusia, melainkan ridho Allah. Mereka sibuk dengan memperbaiki amal, menambah iman di majelis ilmu. Masjid adalah benteng iman terbaik.

Hasan Basri: ” Lihat selalu amalmu: apakah di atas amal baik, atau amal buruk? “

Allah Ta’ala melarang Adam ‘alaihissalam dan Hawa untuk tidak sekali-kali mendekati pohon terlarang, terlebih lagi memakan buahnya. Namun akibat godaan dari Iblis, Adam ‘alaihissalam dan Hawa memakan buah dari pohon tersebut sehingga Allah Ta’ala marah dan mengusir mereka dari surga dan menurunkan mereka ke bumi. Namun setelah Nabi Adam ‘alaihissalam dan Istrinya, Hawa, melakukan kesalahan tersebut, mereka menyesal dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala dengan lafadz doa yang Allah Ta’ala wahyukan kepada Adam ini.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الأعراف 23]

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Minta kepada Allah untuk Istiqamah

Surat Al-Isra Ayat 74
وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيلًا

Arab-Latin: Walau lā an ṡabbatnāka laqad kitta tarkanu ilaihim syai`ang qalīlā

Artinya: Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

-mu di sini adalah Nabi ﷺ –

Surat Hud Ayat 112
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Arab-Latin: Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahụ bimā ta’malụna baṣīr

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Cari jalan istiqomah ( tetaplah kamu pada jalan yang benar ) sesuai syariat sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ sesuai kehendak Allah.

Sekelas Nabi Yusuf pun mendapat ujian istiqomah:

Surat Yusuf Ayat 53
۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2 ayat ini adalah penghiburan bagi yang terjerumus hawa nafsu, ingat kisah 99 orang yang dibunuh yang ditunjukan kepada orang alim. Jangan putus asa

Bantu diri dengan doa, terlebih bulan ini yang merupakan bulan doa. Salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orang yang berpuasa.


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.

Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Surat Asy-Syams Ayat 9
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا


Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Surat Ali ‘Imran Ayat 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Arab-Latin: Kullu nafsin żā`iqatul maụt, wa innamā tuwaffauna ujụrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuḥziḥa ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Surat Thaha Ayat 75 – 76
وَمَن يَأْتِهِۦ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلْعُلَىٰ

جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ


Artinya: Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).

catatan Atika