Education Management

Dalami Karakter Calon Guru Dengan Teknik Wawancara Ini

INETRVIEW“Kok kinerjanya tidak seperti saat wawancara, ya?”

Mungkin kalimat ini pernah anda dengar atau mungkin pernah anda lontarkan jika anda bekerja sebagai manajer sekolah. Atau bahkan, mungkin saat ini anda bertanya-tanya akan keefektifan proses rekrutmen yang anda lakukan. Jika iya, maka anda adalah seorang pemimpin yang reflektif.

Sekarang ini, saya akan berbagi sebuah metode wawancara yang dikenal dengan nama

Behavioral Event Interview atau BEI

Secara sederhana, BEI adalah suatu teknik yang meminta calon karyawan atau guru untuk menceritakan dengan RUNTUT situasi atau pengalaman NYATA SECARA DETIL pada saat mereka mengajar di tempat sebelumnya atau belajar di universitas (untuk yang merekrut fresh graduate). Jadi, memang hasil wawancaranya tersebut adalah kisah sang kandidat dalam menyelesaikan masalah tertentu dalam pekerjaan atau pendidikan sebelumnya.

Mungkin di titik ini anda akan bertanya: “Waduh… Apa saja yang ditanyakan pada saat wawancara? Apa mungkin bisa langsung bercerita begitu saja? Ada tekniknya?”

Yup, tentu saja. BEI menyebutnya dengan teknik STAR.

STAR Technique

Begini langkahnya:

  • PERSIAPAN – Sebelum dimulai, kandidat ‘dipersiapkan’ untuk menjawab dalam beberapa detik setelah diperdengarkan pertanyaan tentang suatu kejadian di masa kerja/ pendidikan yang lalu. Pertanyaannya sebaiknya detil, seperti : “Sebutkan satu proyek yan pernah anda pimpin?” atau sejenisnya.
  • SITUATION (SITUASI) – dimana penanya menggali situasi genting pada event tersebut.
  • TASK (TANTANGAN DAN EKSPEKTASI) – Intinya, apa yang dilakukan, dengan cara apa, siapa yang telibat, dan seterusnya.
  • RESULTS (HASIL) – Apa saja pencapaian, prestasi, bahkan hingga kegagalan yang dialami.

BEI dianggap salah satu metode yang cukup cerdas dalam menggali karakter calon guru karena kandidat tidak bisa memoles jawaban sebelumnya. Jawaban ini juga dapat memprediksi kesesuaian kultur sang kandidat dengan sekolah kita dengan menggali respon yang nyata berdasarkan keahlian, pengetahuan, sikap, karakter, sampai filosofi hidupnya.

Apakah teknik ini selalu berhasil? Sangat tergantung kualitas pertanyaan atau probing yang dilakukan pewawancara. Jadi, ya, memang perlu latihan untuk menjadi pewawancara BEI yang handal. 🙂

Nah, berikut saya lampirkan slide presentasi yang saya bawakan tentang tema ini. Slide ini bisa anda unduh jika ingin tahu dan mempraktekan teknik ini. Dan, jika anda memerlukan trainer, jangan sungkan hubungi saya untuk berkolaborasi.

Selamat mencoba.

Salam,

Mierza Miranti

 

Education Management

Pemimpin Sekolah yang Efektif (Bagian 2)

Posting ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya, yaitu Apakah Anda Pemimpin yang Efektif? (Bagian 1) . Posting tersebut membahas 3 kriteria pertama seorang pemimpin sekolah yang efektif, yaitu:

  1. Menunjukkan kepemimpinan atau leadership
  2. Memiliki kemampuan mendisiplinkan siswa
  3. Memiliki sistem yang berkelanjutan dan holistik untuk mengevaluasi kinerja

Pada posting kali ini, saya akan melanjutkan kriteria pemimpin yang efektif berikutnya.

4.Mengembangkan dan Mengevaluasi Program Sekolah

Bagian ini merupakan peran penting dri seorang pemimpin sekolah. Program yang berhasil adalah program yang dapat mengembangkan kemampuan siswa di sekolah melalui pengalaman yang bernilai. Inilah kurikulum tersembunyi yang sesungguhnya, atau yang ramai disebut dengan ‘pendidikan karakter’. Program yang efektif harus mencakup beragam area untuk memberikan ‘pengalaman’ ini.

Jika sekolah merupakan sekolahyang baru, ada baiknya sebelum dibuka atau pada awal tahun, pemimpin sekolah menginvestigasi program yang diterapkan di sekolah lain. Membuka telinga lebar-lebar untuk masukan sangatlah penting. Jangan tersinggung jika ada beberapa guru atau orang tua yang mengatakan “Di sekolah saya sebelumnya, ada program begini dan begitu.” atau “Kenapa tidak begini atau begitu saja?” atau kalimat yang semisalnya. Karena, siapa tahu program yang disebutkan tersebut bisa efektif diterapkan di sekolah setelah dikembangkan dan dievaluasi.

Selain itu, perlu sekali melakukan evaluasi atas program  yang sedang berjalan setiap tahunnya. Contohnya saja, jika sekolah memiliki program membaca yang tidak memotivasi anak untuk membaca, maka saatnya untuk meninjau ulang keefektifan program dan melakukan penyesuaian untuk meningkatkan kualitas program tersebut.

 

5.Meninjau Ulang Kebijakan dan Prosedur

Seorang pemimpin sekolah, terutama kepala sekolah memiliki tugas untuk membuat, meninjau ulang, menghilangkan, dan mengedit kebijakan dan prosedur setiap tahunnya. Kebijakan dan prosedur sekolah ini sebaiknya tercetak di buku penghubung karena buku penghubung  bukan hanya berfungsi sebagai ‘catatan harian’ tapi juga mampu meningkatkan kualitas pendidikan siswa. Kualitas pendidikan ini bisa tercapai dengan memastikan setiap individu mengikuti kebijakan dan prosedur sebagai budaya sekolah dan ‘kurikulum terselubung’ sekolah tersebut.

Apa sajakah kebijakan dan prosedur minimal yang harus dicantumkan di buku penghubung?

  1. Prosedur kehadiran dan keterlambatan
  2. Prosedur kedisiplinan dan konsekuensinya
  3. Kebijakan penggunaan telepon genggam
  4. Kebijakan seragam
  5. Code of Conduct setiap penghuni kampus

 

 

6. Membuat jadwal

Proses pembuatan jadwal setiap tahun adalah tantangan yang akan selalu ada untuk para pemimpin sekolah. Ada beragam jadwal yang harus dimasukan dalam rutinitas sekolah, termasuk diantaranya jadwal bel sekolah, piket, penggunaan laboratorium, penggunaan perpustakaan, dll. Kroscek masing-masing jadwal sangat penting untuk memastikan beban guru sama satu dengan yang lain – meski tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak.  Seorang pemimpin sekolah juga harus menjadi fleksibel dan selalu siaga untuk mengubah jadwal jika diperluka.

 

7. Mendelegasikan tugas

Banyak pemimpin yang masih sulit mendelegasikan tugas karena kuatir akan kemampuan anak buahnya. Namun, perlu diketahui bahwa, pendelegasian akan banyak membantu anak buah untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan menyingkat waktu pengerjaan. Cobalah mencari tahu pihak-pihak yang dapat dipercaya atau dilatih untuk mengerjakan pekerjaan yang didelegasikan. Selanjutnya, cobalah memberikan rasa trust kepada mereka. Sekolah yang tidak bersifat one-man show akan jauh lebih sehat dalam hal membina hubungan antar pekerjanya.

 

8. Menjalin Hubungan Baik dengan Orang Tua dan Komunitas

Membangun hubungan yang baik dengan orang tua pembelajar dapat memberi banyak kemudahan dalam proses pendidikan. Salah satunya adalah ketika sekolah mengadapi masalah displin, situasi akan sagat mudah diatasi jika orangtua mendukung keputusan sekolah dan turut mendidik anak dengan kultur yang diharapkan.

Selain itu, membangun hubungan dengan komunitas, baik secara individu maupun bisnis, daoat sangat membantu operasional sekolah. Beberapa keuntungan diantaranya adalah kemudahan mendapatkan donasi, waktu pribadi, dan dukungan positif lainnya.

 

9. Merekrut Guru dan Staf yang Berkualitas

Hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah sumber daya insani sekolah. Merekrut orang yang tepat dapat mempermudah pekerjaan semua orang yang terlibat di dalam sistem. Salah satu cara mencari SDM yang berkualitas adalah dengan melakukan wawancara.

Namun, memang terkadang para pemimpin sekolah ini tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan wawancara. UNtuk itu, perlu dilakukan beberapa tahap screening khusus yang bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang didelegasikan. Tahap penyaringan tersebut diantaranya adalah:

  • Mengirimkan surel berisi beberapa pertanyaan untuk melihat antusiasme atau kesesuaian awal. Hal ini berguna untuk menghemat waktu kedua belah pihak.
  • Melakukan serangkaian tes tertulis dan tes mengajar/ unjuk kerja.

Nah, jika proses di atas telah dilakukan, maka pemimpin sekolah dapat memutuskan untuk melakukan wawakcara. Ada baiknya mengundang pihak lainyang dipercaya untuk mendapatkan umpan balik yang berbeda. Terdapat beberapa cara rekrutmen yang sesuai untuk sekolah, diantaranya yaitu dengan Behavioral Event Interview atau STAR. Ini akan dibahas lebih mendalam dalam posting saya selanjutnya.


Memang tidak mudah menjadi seorang pemimpin yang efektif, namun tentunya tidak mungkin selama pemimpin tersebut mau terus belajar untuk menjadikan dirinya efektif. Semoga paparan peran-peran dapat membantu para pengambil keputusan di sekolah. Selamat belajar. 🙂

Education Management

Pemimpin Sekolah yang Efektif? (Bagian 1)

Posting yang ini merupakan operasionalisasi dari posting saya sebelumnya yaitu:

Perangkat Manajemen Sekolah yang Efektif.

Saya beruntung mengenal beberapa pimpinan sekolah, baik itu kepala sekolah, koordinator guru, pengelola sekolah, dan yang siapapun yang bertanggung jawab dalam manajemen sekolah. Dari mereka, saya banyak mengamati dan akhirnya menerapkan ilmu ketika saya mengemban amanah sebagai manajer sekolah.

Tentu tidak mudah ya menjadi seorang pimpinan sekolah. Perlu banyak waktu, tenaga, kelapangan hati, dan kerja cerdas. Para pemimpin tersebut saya pandang mampu mengatasi segala rintangan yang menghadang demi memberikan yang terbaik bagi siapapun pihak yang ada di sekolah.Mereka sangat layak disebut pemimpin sekolah yang efektif.

Di bawah ini, saya ambil beberapa persamaan peran yang membuat mereka dianggap sebagai pemimpin yang efektif. Apa sajakah itu?

1. Menunjukan kepemimpinan atau leadership

Pemimpin yang efektif selalu menjadi contoh anak buahnya. Kepemimpinan ini ditunjukan dengan sikap yang positif (atau mudahnya nggak gampang sakit hati :P), selalu antusias, selalu siap mengatasi kesulitan dalam keseharian operasional sekolah, dan yang paling utama mau mendengar anak buahnya.

Intinya, seorang pemimpin itu selalu available bagi guru, staf, orang tua, siswa, dan komunitas pembelajar sekolah lainnya. Kalau dilihat dari sikap, nih, seorang pemimpin yang baik itu selalu nampak tenang dalam situasi tersulit, berpikir panjang sebelum bertindak, dan mengedepankan kepentingan sekolah di atas kepentingan pribadi. Mereka bahkan siap untuk mengambil peran di luar jobdesc yang diamanahkan.

2. Mampu mendisiplinkan siswa 

Pimpinan sekolah, mau tidak mau, harus mengambil peran sebagai pihak yang mendisiplinkan siswa: terutama kepala sekolah dan wakasek kesiswaan.

Eit, tapi jangan salah… seorang pemimpin sekolah yang bergerak di bidang yang tidak berhubungan langsung dengan siswa pun memeliki peran ini, lho. Setidaknya, mereka memperlakukan siswa dengan standar kedisiplinan yang sama yang diharapkan sekolah.

Siapakah yang membuat standar kedisiplinan ini? Kepala sekolah (dan terkadang bagian kesiswaan) tentunya.

Lalu, bagaimanakah cara membuat standar kedisiplinan ini. Pertama, pastikan semua pihak tahu langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk setiap masalah kedisiplinan serta konsekuensinya. Jadi, hanya kasus-kasus beratlah yang ditangani langsung bagian kesiswaan atau kepala sekolah. Seorang pimpinan yang baik akan mendengarkan dan mengumpulkan sebanyak mungkn bukti sebelum memberikan konsekuensi maupun pinalti. Dan, yang penting tapi sering dianggap remeh adalah selalu mendokumentasikan isu-isu disiplin untuk setiap tindakan yang dilakukan.

3. Mengevaluasi bawahannya

Biasanya, seorang pemimpin yang efektif cenderung memiliki anak buah yang efektif juga. Misalkan, kepala sekolah atau koordinator guru yang efektif biasanya memiliki guru-guru yang efektif. Kepala Tata Usaha biasanya memiliki staf yang efektif.

Lho? Kok bisa?

Tentu saja. Karena pimpinan yang efektif selalu menginformasikan ekspektasi di awal, melakukan induction atau pengawalan tugas di awal, melakukan kunjungan kelas atau meninjau proses pekerjaan secara rutin, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai kualitas kerja anak buah.

Yang terpenting, informasi ini dikomunikasikan secara berkala dengan cara yang positif, terutama jika terdapat ekspektasi yang belum tercapai. Intinya, seorang pemimpin tidak perlu menunggu akhir masa jabatan bawahannya untuk mengevaluasi, terutama jika peningkatan mutu proses dan hasil kerja adalah tujuannya.

Hmm…. Keren, kan? Tapi apa iya ada pemimpin yang demikian? Tentu saja. Merekalah yang menginspirasi saya menerbitkan tulisan ini agar bisa meracuni pimpinan sekolah yang lain. Ini baru bagian satu, lho…. Saya akan teruskan di posting bagian dua untuk racun-racun berikutnya. Biar nggak kepanjangan bacanya. 🙂

Salam,

Mierza Miranti

Education Management, My Reflection

Perangkat Manajemen Sekolah yang Efektif

Source: http://gambarumahminimalis.comManajemen yang efektif. Kata ini pasti sering kita dengar di lingkungan profesional manapun. Namun kali ini, klastulistiwa.com ingin berfokus pada bidang  manajemen sekolah.

Untuk dapat dikatakan efektif, manajemen sekolah perlu memiliki perangkat dasar yang menjadi pilar dalam menopang kualitas sekolah. Ketiadaan salah satu dari perangkat ini dapat membuat visi dan misi yang dijalankan secara strategis hingga operasional menjadi berantakan.

Nah, posting kali ini akan membahas empat perangkat manajemen sekolah yang efektif. Apa sajakah perangkat itu?

1.    Adanya leadership dalam manajemen sekolah

Inilah WAJAH sebuah sekolah. Merekalah para pemimpin dan pengelola sekolah. Mereka dapat disebut sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator, manajer sekolah, atau pihak manapun yang mengembang tugas untuk mengambil keputusan strategis dan operasional.

Well, mengembangkan kemampuan memimpin atau leadership itu gampang-gampang sulit. Salah satunya adalah kemampuan mengelola trust atau rasa percaya antara staf, siswa, orang tua, dan anggota komunitas sekolah lainnya. Seorang pemimpin sekolah perlu mengetahui perannya dan filosofi kepemimpinan sekolah yang mengikutinya. Selain itu, pemimpin sekolah juga harus membangun komunitas pembelajar dan mengambil keputusan strategis dan operasional.

Jadi sebenarnya, stempel leadership dapat diberikan berdasarkan kesepakatan bersama para stakeholder setelah melihat peran sang pemimpin. Jika salah satu dari stakeholeder, misalkan guru atau orang tua, meragukan leadership pengelola sekolah, maka yang harus legowo menjadi pendengar dan pembelajar adalah sang pemegang otoritas tersebut.

2.    Program sekolah yang berkualitas

Inilah NYAWA sebuah sekolah. Pengelola sekolah yang profesional perlu memiliki andil dalam perancangan program sekolah. Yang dimaksud disini adalah, program sekolah tidak bisa digagas oleh satu orang saja untuk kemudian diinstruksikan. Itu ONE MAN SHOW namanya.

JIka memang terdapat visi dan misi yang harus dijaga, program tetap harus dibicarakan antar pengelola strategis sekolah. Bukankah yang direkrut adalah mereka yang dianggap memiliki visi dan misi yang sama? Kekuatan musyawarah  akan membuat sebuah program lebih kaya karena dikembangkan dalam beberapa perspektif. Selain itu, keikutsertaan lebih dari satu pengelola strategis akan membuat evaluasi program menjadi lebih objektif.

3.    Evaluasi guru dan manajemen yang holistik

Inilah yang menjadi JANTUNG sekolah. Semua pihak pasti setuju bahwa guru menentukan kualitas proses dan hasil belajar-mengajar. Lagi-lagi, tantangan pengelola sekolah menghadapi tantangan dalam menentukan cara mengevaluasi guru. Karena, tidak hanya evaluasinya yang penting, namun langkah selanjutnya dari hasil evaluasi tersebut.

Sebagai organisasi pembelajar, sekolah tidak seharusnya berhenti pada fungsi evaluasi sebagai alat pemilihan guru yang efektif dan guru yang tidak berkualitas. Karea itu, evaluasi perlu dilakukan secara berkala untuk melihat keinginan guru untuk belajar. Bukankah guru merupakan role model bagi murid-muridnya? 🙂

Hasil dari evaluasi ini, selain berdampak pada guru, juga seharusnya memiliki dampak perubahan bagi sekolah. Dari hasil analisis, manajemen dapat mengetahui efektifitas yang dimilikinya selama satu tahun ajaran mengelola sekolah. Jika evaluasi ini dilakukan secara holistik, bukan tidak mungkin sekolah akan bertumbuh menjadi sekolah yang lebih baik setiap tahunnya.

4.    Kebijakan dan prosedur yang kuat

Kebijakan dan prosedur sekolah merupakan TULANG PUNGGUNG sebuah sekolah. Setiap sekolah yang efektif memiliki ciri kebijakan dan prosedur yang kuat dan ditaati oleh seluruh komponen sekolah.

Kekuatan ini tidak hanya didapatkan dari tulisan di atas kertas yang dibagikan di awal tahun ajaran atau tercetak di website dan buku penghubung sekolah. Kekuatan ini bisa didapatkan dengan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan dari manajemen sekolah. Menuliskan dan merevisi kebijakan dan prosedur sekolah bukanlah kelemahan, namun kekuatan sekolah yang dinamis dan dapat melihat keuntungan jangka panjang dari proses pembelajaran sebagai manajemen sekolah.

Setiap sekolah pasti ingin dikatakan sebagai sekolah yang efektif sebagaimana pengelola sekolah ingin dikatakan profesional. Namun, stempel itu tentunya tidak melekat dengan sendirinya. Perlu kerja keras dan cerdas dalam mewujudkannya. Visi dan misi akan hanya menjadi tulisan indah di atas kertas tanpa pengejawantahan secara operasional.

Karena itu, posting klastulistiwa.com mengenai manajemen sekolah efektif tidak akan berhenti hingga paparan umum dan idealis saja. Tunggu posting selanjutnya, dimana klastulistiwa.com akan memaparkan secara operasional masing-masing dari empat kategori di atas. Insya Allah.

My Reflection

The Quest for A Safe School

Bullying, embarrassments, harassment, and even crime happened again. They occurred here, in our own schools in Indonesia. Sadly, some of them happened during school hours and make parents wonder what schools have done to protect their children.

Well, I wrote this article on The Jakarta Post in April 2014 to help parents to find their children a so-called safe school. A place to trust to educate and nurture their jewels. A place to be called a second home.


THE QUEST FOR A SAFE SCHOOL

Mierza Miranti for the Jakarta Post

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

If possible, observe the relationship between the principal and faculty. A safe school will ensure a healthy relationship among their staff members and students.

Third, observe for the campus’ cleanliness during school hours. Doing it during and a while after recess can be the best time to find out how successful school instills the habit to their students. Afterward, parents can see firsthand the standard of the school’s cleaning service.

Fourth, ask information about bullying, harassment and other daily management and intervention programs with regards to student behavior. A safe school is not an impulsive school that treats students’ behavior after it occurs. It has a well-planned and structured program that also involves the student to raise awareness.

Fifth, ask for data of students’ leave and staff turnover. Yet, do not rely too much on these statistics. A high level of expulsion may indicate that the school has a high regard for discipline. On the contrary, it can also show their inability to improve the students’ behavior.

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

If possible, observe the relationship between the principal and faculty. A safe school will ensure a healthy relationship among their staff members and students.

Third, observe for the campus’ cleanliness during school hours. Doing it during and a while after recess can be the best time to find out how successful school instills the habit to their students. Afterward, parents can see firsthand the standard of the school’s cleaning service.

Fourth, ask information about bullying, harassment and other daily management and intervention programs with regards to student behavior. A safe school is not an impulsive school that treats students’ behavior after it occurs. It has a well-planned and structured program that also involves the student to raise awareness.

Fifth, ask for data of students’ leave and staff turnover. Yet, do not rely too much on these statistics. A high level of expulsion may indicate that the school has a high regard for discipline. On the contrary, it can also show their inability to improve the students’ behavior.

Yet, a high staff turnover can lead you to other questions to ask on the quality of staff recruitment and development system of the school. Since for the students, a high staff turnover might influence the learners’ sense of security, especially during secondary school years.

Sixth, find out about the school’s policy of students’ use of electronic devices. Does the school ask their students to hand them over? If they require the students to bring a laptop, find out whether the school has a solid Internet filtering system. Remember that cyberbullying is as dangerous as the physical act.

Finally, request for a sit-in session in the classroom, remember that it is the child that will undergo everything at school. Ask for two days to one week, if possible. Otherwise, one day might be fine to seek for the child’s opinion about the school. Take it as part of the consideration.

These checklist items are actually very basic ones that every school must have. A good school might have a long list of policies but a safe school is the one that really applies it. A safe school also requires involvement of the whole school, not merely the security division. Hopefully, the chosen school can be a second home that ensures equal security to that provided at home.

My Reflection

Apa yang tidak anda lihat di media tentang Gaza? – Wawancara dengan Dubes Palestina, Fariz Mehdawi

Silahkan dibaca… bukan berita sepotong-potong yang dipelintir…

avatar TimMarbun tim marbun

Di tengah ramainya pembicaraan dan perhatian dunia pada peristiwa yang terjadi di Gaza, saya berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi di Kedutaan Palestina di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2014 dalam bahasa inggris. Berikut adalah terjemahan lengkap dari wawancara yang berdurasi 24 menit tersebut.
Pertanyaan yang saya ajukan akan diawali dengan huruf T, dan jawaban Duta Besar akan ditandai dengan huruf J.
Semoga berguna.
——————————————-
T:
Duta besar, terima kasih atas waktu anda. Pertama saya ucapkan turut prihatin atas kondisi yang terjadi di Gaza saat ini, yang harapannya akan segera membaik. Pertanyaan saya adalah, media tidak selalu dapat menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi disana. Apa kondisi Gaza yang tidak kita lihat di media?
J:
Yang tidak kita lihat, orang selalu tertarik dengan angka. Kita sudah berhitung berapa angka martir disana. Sudah lebih dari 200 orang, dan bangunan yang hancur juga…

Lihat pos aslinya 2.679 kata lagi

My Reflection

Versi Unyu-Unyu Blooms’ Taxonomy

Pagi-pagi nongkrong di facebook sambil blogwalking memang seru, apalagi kalau nemu yang begini. Hehe…

Blooms Taxonomy emang gak ada matinya. Sejak pertama berkenalan dan mulai pakai formulanya di kelas, saya lebih sering dibuat tercengang sama hasil akhirnya: my students and their masterpieces!

It can dig into their full potential beyond the classroom! Saya ulangi ya… beyond… melewati tembok-tembok ruang kelas, mashaAllah.

So, teachers, enjoy the infographic…  intinya sama namun lebih unyu-unyu pastinya.

image

Gambar & pelajaran keren lainnya bisa dilihat di http://anethicalisland.wordpress.com/

Students' Masterpieces

Al Taqwa Indonesia’s Talents

Salaam!

Al Taqwa Welcome

It’s been almost a year that I jumbled with the classes of Al Taqwa Colege Sentul. Some of their masterpiece have captured our writing journey throughout the days. Some of the works were captured on tdifferent media, however, due to the challenge of our so-called internet connection. Well, that’s the art of living a bit far from civilization.

So, feel free to click on the links and be rejuvenated by the young minds of these talents! 🙂

YEAR 8

1. Ihsan http://m1psch00l.wordpress.com

2. Rizna  http://itsaboutschool.wordpress.com   riznaar.wordpress.com

3. Cut blogdipaksapaksa.wordpress.com

4. Salsa salsabilakh.wordpress.com

5. Nada http://shafiyyaqotunnada.wordpress.comsyafidaqk.wordpress.com

6. Erdy http://erditanaya14.wordpress.com/

7. Ulhaq http://ulhaqthebuluk.wordpress.com

8. Hilmi http://alwanhilmi.wordpress.com

9. Leon http://rikudouleonmahesa.wordpress.com

10. Ganes http://ganesyear8.wordpress.com/
11. Rizza http://rizza29.wordpress.com/

12. Nicky http://nickyputtera.wordpress.com

13. Mujahid http://www.Mujayhid19.wordpress.com

14. Tsabita http://tsabitasafirablog.wordpress.com

15. Ghozi http://ghozifikri.wordpress.com/

16. Farrel farrelyuvialdi.wordpress.com

17. Kautsar alwanalkautsar.wordpress.com

18. Zikri kamupintaryah.wordpress.com

YEAR 7

1. Bulan http://bulanayu495.wordpress.com

2. Nisa http://arigohshafanissa.wordpress.com/

3. Vica  http://yuvicaf.wordpress.com/

4. Idan http://haidarhorsey.blogspot.com 
5. Ocean http://oceannubli.blogspot.com 
6. Odi http://dinanta07.blogspot.com

7. Farah http://farahdina2508.wordpress.com

8. Abil nabilladeh.wordpress.com

9. Nurma http://creepycrackycastle.wordpress.com

10. Shafa http://sosesosesose.wordpress.com/

11. Davina devinasac.wordpress.com

12. Fadel http://fadelf2.wordpress.com

13. Bulan bulanayu495.wordpress.com

14. shalimar10.wordpress.com

YEAR 9

1. Angela dewivangreuningen.blogspot.com

2. Ariq ariqalghifari11.blogspot.com

3. Ataa ataassoseproject.blogspot.com

4. Dika muhammadhandika.blogspot.com

5. Fatimah fullofschool.blogspot.com

6. Huzi hudzaifahsproject.wordpress.com

7. Indah setiapjumat.blogspot.com

8. Kyla kylaaulias.blogspot.com

9. Pristina pristinabahar.blogspot.com

10. Putri iniblogmilikku.blogspot.com

11. Bagas rafi203.blogspot.com

12. Raissa schoolsukamakan.blogspot.com

13. Shoffa oppadilah.blogspot.com

14. Tsamara tsammyxo29.blogspot.com

15. Zahra schoolimagines.blogspot.com

Year 11

1. Via vianoviani.blogspot.com

2. Nadia nadikidalkadal.blogspot.com

 

Year 12

1. Dimas http://dimaswrd.blogspot.com

My Reflection

Saksi Kebohongan Jamaah Tahunan

Apa-apaan ini? Semua akhlak yang kita tanamkan semenjak kecil luntur karena ketidak adilan yang kita (orang dewasa) buat sendiri. Hati saya hancur membaca ini. Bukan… hati saya hancur setiap tahunnya. Tahun dimana kita menutup hati lalu melupakan setelah high-stakes exam ini berlalu.

Alhamdulillah, saya berada di institusi yang menjunjung tinggi kejujuran. Hasil UNAS anak2 punya tinggi disini. Tapi tunggu, sekolah saya sekolah swasta dengan bayaran mahal. Wajarlah jika hasil ujiannya memuaskan. Tapi, alangkah picik jika saya menutup mata. Saya pendidik.. dimanapun.. kapanpun… bagi siapapun.. Alangkah naifnya kalau saya mengharapkan anak-anak di ujung Indonesia dengan kondisi yang jauh berbeda diberikan tes yang sama. Konyol. Sungguh konyol.

Hati saya teriris membaca surat terbuka ini.

Melihat kejujuran berubah menjadi… omong kosong.

INI buktinya!

http://tolakujiannasional.com/2014/04/24/surat-terbuka-untuk-bapak-menteri-pendidikan-dilematika-ujian-nasional/

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK MENTERI PENDIDIKAN: DILEMATIKA UJIAN NASIONAL

Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara.

Sebuah surat terbuka, untuk Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat,
di tempat.

16. Mencontek adalah sebuah perbuatan…

a. terpaksa

b. terpuji

c. tercela

d. terbiasa

Ardi berhenti di soal nomor enam belas itu, salah satu soal ulangan Budi Pekerti semasa dia kelas 2 SD dulu. Ia tertegun, dan hatinya berdenyut perih saat dilihatnya sebuah coretan menyilang pilihan jawaban C. Coretan tebal, panjang, ciri khas si Ardi kecil yang menjawab nomor itu tanpa ragu, melainkan dengan penuh keyakinan…

Handphonenya berdering pelan, sebuah SMS masuk. Ardi membukanya, dan ia menghela nafas dalam-dalam begitu membaca isinya.

Jadi gimana Di, ikutan pakai ‘itu’ nggak?

Barangkali bukan kebetulan Ardi menemukan soal-soal ulangan SD-nya saat ia mau mencari buku-buku lamanya, barangkali bukan kebetulan Ardi membaca soal nomor enam belas dan jawaban polosnya itu, sebab denyut perih di hatinya baru mereda setelah ia mengirim sebaris kalimat yakin…

Nggak, Jo, aku mau jujur aja.

Sebuah balasan pahit mampir selang beberapa detik setelahnya,

Ah, cemen kamu.

Tapi tidak, Ardi tak goyah. Ia mengulum senyum dan batinnya berbisik pelan, salah, Jo.

Jujur itu keren.

UNAS. Sebuah jadwal tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa selama tahun-tahun sebelumnya. Sebuah penentu kelayakan seorang siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah dia jalani atau tidak. UNAS sudah sejak lama ada, meliputi berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampai yang terakhir, yakni SMA. Sudah sejak lama pula UNAS menuai pro dan kontra, yang mana rupanya kontra itu belakangan ini berhasil ‘memaksa’ pemerintah untuk menghapuskan UNAS di tingkatan SD. Sedang untuk tingkat SMP dan SMA, kemungkinan itu masih harus menunggu.

Tiap kali UNAS akan digelar, seluruh elemen masyarakat ikut tertarik ke dalam pusaran perbincangannya. Perdebatan tentang perlu-tidaknya diadakan UNAS tak pernah absen dari obrolan ringan di warung kopi, dan acara-acara yang mengklaim ingin memotivasi para peserta UNAS pun bermunculan di berbagai channel televisi. Di sela-sela program motivasi itu, jikalau ada sesi tanya-jawab, hampir bisa dipastikan akan ada seorang partisipan yang melempar tanya:

“Bagaimana dengan kecurangan UNAS?”

Ah, ya, UNAS memang belum pernah lepas dari ketidakjujuran.

Sekarang, jangan marah jika saya bilang bahwa UNAS identik dengan kecurangan. Sebab jika tidak, pertanyaan itu tidak akan terlalu sering terdengar. Tapi nyatanya, semakin lama pertanyaan itu semakin berdengung di tiap sudut daerah yang punya lembaga pendidikan; dan tahukah apa yang menyedihkan? Yang paling menyedihkan adalah saat lembaga-lembaga pendidikan itu, tempat kita belajar mengeja kalimat ‘kejujuran adalah kunci kesuksesan’ itu, hanya mampu tersenyum tipis dan menahan kata di depan berita-berita ketidakjujuran yang simpang-siur di berbagai media.

UNAS dengan segala problematika dan dilematika yang dibawanya memang tak pernah habis untuk dikupas, dan sayangnya ia tak pernah bosan pula menemui jalan buntu. Dari tahun ke tahun selalu ada laporan tentang kecurangan, tetapi ironisnya setiap tahun itu pula pemerintah tetap tersenyum dan mengabarkan dengan bahagia bahwa ‘UNAS tahun ini mengalami peningkatan, kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, rata-rata tahun ini mengalami kemajuan’, dan hal-hal indah lainnya. Dulu, saat saya belum menginjak kelas tiga, saya berpikir bahwa grafik itu benar adanya dan saya pun terkagum-kagum oleh peningkatan pendidikan yang dialami oleh generasi muda Indonesia.

Tetapi sekarang, sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS… dengan berat hati saya mengaku bahwa saya tidak bisa lagi percaya pada dongeng-dongeng itu. Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya, saya merumuskannya menjadi tiga poin penting…

Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20 soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama, hanya untuk satu indikator ‘menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan dan hewan’?

Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil. Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah bertanya, ‘tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?’ melainkan akan langsung bertanya, ‘nilai UNASmu berapa?’.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali, bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa Indonesia, ‘kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan bersama, ‘kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.

Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata ‘sedikit’ ini). Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya. Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional. Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui soal-soal itu, ‘kan?

Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti… apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di twitter Bapak, ‘tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang baru’. Tapi, Pak, sekali ini saja… sekali ini saja saya mohon, Bapak duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas. Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu seperti apa.

Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal itu selama sepuluh menit. Ya… beliau bilang ada yang salah dengan kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya pertanyaan-pertanyaan heran…

Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?

Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?

Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam?

Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?

Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih ada banyak sekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja sudah sujud syukur?

Etiskah menuntut sebelum memberi?

Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat itu?

Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita, ‘Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan’. Kemudian Bapak akan merasa tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu, itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak ‘UNAS menyenangkan’ itu? Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas…

Jalan pintas itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini. Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa terjadi, yaitu joki.

Mengapa saya tidak paham joki itu bisa terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa “Soal UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!”, tetapi ketika hari H pelaksanaan… voila! Ada saja joki yang jawabannya tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini, berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai detergen mahal.

Iya langsung bersih cling begitu, toh?

Nyatanya tidak.

Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi, entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang. Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada main-main dari pihak dalam.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada kebocoran di atapnya.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan keyakinan dan iman saya.

Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar, untuk berbuat curang? Jika tidak… saya beritahu satu hal, Pak. Ada beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru, dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara airmata mereka… berharap Tuhan membantu.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu. Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah, ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih ‘ah, ini bukan bidang saya’, lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?

Tidak.

Tentu saja Bapak tidak sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika Bapak percaya… mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk mengadakan UNAS.

………

………

………

Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.

Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar, goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang notabene adalah penentu kelulusan kami?

Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.

Sampai sini, masih beranikah Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah, Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk mendapat uang.

Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berlaku curang itu tidak ada?

Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, “Kita lihat saja hasilnya nanti.”

Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali mendengar pepatah ‘don’t judge a book by its cover’, akan lupa untuk melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para ‘ghost writer UNAS’. Bapak akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami. Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran semu?

Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit, karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi…

Berhentilah bersembunyi di balik kata-kata, “Saya percaya masih ada yang jujur di generasi muda kita”. Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya. Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak? Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan yang hanya jujur di atas kertas?

(Ngomong-ngomong, Pak, banyak dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom ‘saya mengerjakan ujian dengan jujur’ dari lembar jawaban UNAS.)

UNAS bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun, sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput disosialisasikan ke siswa.

Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.

Dan saya tahu itu, Pak.

Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?

Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?

Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?

Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.

Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba…

Dari anakmu yang meredam sakit,

Pelajar yang baru saja mengikuti UNAS.

Nurmillaty Abadiah

Sumber: Note Facebook yang dilaporkan ke akun twitter @AyoTolakUN

__._,_.___

My Reflection

Karena Bu Risma

Setelah Teen Edu hari ini yang intinya sama… Ini teruntuk kalian anak-anaku siswa Al Taqwa College Indonesia tercinta.

avatar senyummatahariIslam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.588 kata lagi

Mierza's Own, My Reflection, Teacher's Professional Development

An Awesome Lecture

The slide was used in a training session at the Sugar Group Schools. It was shown after the audience, who was actually invited teachers, watched series of video of their alumnae telling them about the most memorable teacher and the reasons. Afterward, we shared on the ways to make our presentation look stunning and memorable for students guided by the slide below.

Mierza's Own, My Reflection, Teacher's Professional Development

Integrating Business Skills into KTSP-Based ELT

The paper was presented at the National Education Conference organized by Sampoerna School of Education, Mien R. Uno Foundation, and World Bank on December 12, 2012. It was such a remarkable experience since I got to know so many amazing people such as Taufan Garuda Putera, Lendo Novo, and lots of inspiring individuals. I was also interviewed by Kompas after my presentation as the links could be found here . Yet, to my surprised, the content was devastatingly different. Thank God there is the real-time magic of the internet. I sent my concern via Kompas.com comment section, and they finally clarified with another news that could be found  here.

Well, enough said. Hope that the slides and paper I put here will be beneficial to be used.

Mierza's Own, Teacher's Professional Development

Relevant Teaching Technique to Consider

Today seems to be an uploading workshop materials time for me as I have been uploading some, including this one, on one same day. The slide I uploaded was presented in a workshop held at Sugar Group Schools.  I shared this with the teachers who actually have known some of the teaching techniques. So, actually it is more than just a training session but also a sharing session.  Enough said, feel free to download the following slide for your purpose, then. 🙂

My Reflection, Teacher's Professional Development

The Super Easy Way to Create Comment Bank

This slide is dedicated to a webpage that makes report comment writing an ease. Truly, I’d like to thank Ray’s Educational Software  that can make my paperwork as a bliss. They, mashaAllaah, shared the software for free (known as freeware) to all teachers. They even encouraged teachers to share it to others.

Therefore, I held a training session for teachers at Al Taqwa College Indonesia in creating comment bank. Hopefully, the freeware would benefit them as well, inshaAllaah.

Well, I can’t say no more but to invite you to view the slide and enjoy the teachers’ moment of creating report comment for our beloved students.

Lectures of Life, My Reflection, Teacher's Professional Development

Teachnology

This post is to share a professional development session I did in a workshop for the teachers of  Al Taqwa College, Indonesia. It is actually an introduction of how to use technology in the classroom, not merely to help as teaching tools. Following is the slide I used in the training. Feel free to use it.

As seen on the slides, there are some of my favorite techie tools such as hot potatoes and freemind. Yet, the links are unclickable. Well, if you require to have the links or files, you may leave your email on the comment section and inshaAllaah I would send it to you.

SOSE Resources

[SOSE Year 9] Coastal Systems

Assalaamu’alaikum students,

Kindly find the following slides used in the classroom when we learnt about Coastal System. Just follow the steps if you need to download it. You could also, however, read it on my website.

Ow, and those awesome videos that we watched, you can easily find it on the online video stores: YouTUBE! ^__^ Just put the keyword: ‘cliff collapse’, ‘coastal erosion good plenary’, ‘Japan tsunami’, and VOILA: bundled of free valuable resources could be accessed as easy as one-two-three (sometimes more, if the connection is not really good of course :P).

By the way, thanks for those contributing to twitter (optional) homework @klastulistiwa as you deserve more points for your effort.

So, this is it. See you in the next topic and as always…

Thanks for surviving in my classroom.

BarakAllaah feekum.

Bu Mierza

My Reflection

Yuk, ikut Seminar ‘Internet Ethics’ di IHBS

image

**Peserta terbatas, yang lolos seleksi akan dihubungi oleh panitia

Mengupas bagaimana etika berdakwah di media elektronik di.dunia maya

Hari/Tgl Ahad, 26 Januari 2014
Waktu Pukul 08.00 –15.00 WIB
Tempat Kampus Ibnu Hajar Boarding School (IHBS)
Jl. Raya Munjul Gg. Musholah Fathul Ulum No.11 Munjul Cipayung Jakarta Timur 13850

Pembicara
1. Bpk. Sukpandiar, SH. (pengacara) “Sosialisasi undang-unda Internet & Transaksi Eletronik (ITE) dan contoh-contoh pelanggarannya“
2. Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA. (Pembina KP Narasumber Yufid TV, Dosen STDI Imam Syafi’I Jember) “Fiqih dakwah ilallah dan etika berdakwah di dunia maya”

Terbuka untuk ikhwan dan akhawat
Pendaftaran: http://ethics.itdakwah.com/
Gratis, peserta terbatas!

Kontak Panitia:
1. Yulian Purnama (08562967403, 0888 1616 255 / ian.doang@gmail.com )
2. Kurnia Adhiwibowo (08562844478, 0896 0408 2340 / camagenta@gmail.com)

Sponsor:
* Salam Dakwah (salamdakwah.com), situs dan aplikasi untu Smartphone, seperti BlackBerry, Android, iPhone, dan Tablet memungkinkan Anda untuk mendapatkan tayangan video ka audio kajian, forum islami, jadwal kajian dan artikel
* E-Bimbel (ebimbel.co.id), solusi praktis untuk percepatan pembelajaran berbasis ICT di era digital. Insya Allah mampu memberikan efektivitas dan interaktivitas untuk pembelajara baru, berkualitas, mudah serta menyenangkan
* Muslim.Or.Id, situs islami yang berupaya menebarkan sun memurnikan aqidah
* Rumaysho.com, situs islami yang mengenalkan ajaran Islam lebih dekat
* Yufid (yufid.org), tim kreatif di bidang pendidikan dan dakw telah menghasilkan banyak produk dan konten Islami.

Lectures of Life, My Reflection, Teacher's Professional Development

Integrate Poverty Topic in ELT to Promote Character

Mierza's ICCE Pic 2011Well, this is my first presentation in international conference which is not language-related. I was interested with the ‘character improvement’ of my students, so I tried integrating poverty issues in my ELT (English Language Teaching). I was astonished since the lessons even taught me that I knew nothing about poverty. I learnt a lot from my students who have been living around and struggling to get out of it.

So, I tried to share to the world what we had done in the classroom and as a school system since at the moment the school also integrated the pillars of character. Surprisingly, most of the audience had no clue that the characters of the students would be best cultivated if it is part of the school system – more than just daily interventions.

Alhamdulillaah, I was fully supported by the school to present my paper there. Here are the slides and papers that I presented at the International Conference of Character Education held in University of Yogyakarta.

Englicious Resources, My Reflection, Teacher's Professional Development

Incorporating Global Warming Issues in ELT

This is my second presentation slides and presentation which happened to be my first ‘appearance’ at an international conference. The event was organized by TEFLIN and UPI Bandung on November 1-3, 2010. The paper itself was actually a continuation of the research I had made as presented at Ma Chung University.

Surprisingly, at that conference, I won the Alwasilah-Teflin Award as the best paper! Alhamdulillaah, I (who happened to be expecting my second child at that time) could bring home Rp 1.000.000 from the conference. I supposed that it was the gift for my baby. 🙂

The Presentation

The Paper 

Englicious Resources, My Reflection, Teacher's Professional Development

Promoting Environmental Sustainability in EFL Classroom

This is my first presentation and paper written to be presented at Ma Chung University on National Conference of Literature and Language Teaching (NACOLLIT) in 2010. It was also the first time for me presenting and talking in front of different audience, i.e. not my own students. 🙂 But then, alhamdulillaah, Allah gave me the strength and courage to move on. And now, I am addicted to share more.

The Slides

The Paper (ISBN 978-979-17959-6-8)