Mengingat kembali dua tahun yang lalu, ketika anak kedua saya – Isma – suka berteriak atau bersuara keras kalau berbicara (meskipun jaraknya dekat).

Pertanyaannya, apakah saya panik? Oh, tentu tidak.

Pertanyaan berikutnya, pasti anak pertama seperti itu,  ya? Hehe, nggak. Justru, Jenna, anak pertama saya, lebih seperti observer. Pendiam banget sih, nggak. Tapi berteriak itu kata yang lumayan jauh dari kamus waktu membesarkannya sebagai balita.

Jadi, kemarin ada yang tanya bagaimana menangani anak yang suka berteriak di Facebook. Berhubung ini sempat terjadi pada Isma, dan alhamdulillah beberapa tipsnya berhasil, saya share aja yah sedikit …

Pada masanya Isma, saya punya 3 kamus yang udah buluk di rumah, karena belinya 8 tahun lalu. Dua kamus itu adalah  The Baby Book-nya Dr.Sears dan Nanny 911. Selain itu, saya juga sudah sempat tersentuh dakwah sunnah. Dakwah ini ternyata nyampe di nalar saya karena mungkin scientificya… berdasarkan Qur’an dan sunnah,.

Okay, bismillah… Here we go…

Sebelum menerapkan beragam tips, kita harus cari tau dulu sebabnya.

Biasanya anak usia 2-5 tahun memang masanya belajar bicara dan melampiaskan emosi secara positif. Jadi, terkadang dia lagi mengekspresikan kesetresan dia karena salah dimengerti. Atau, dia lagi belajar dari orang sekitarnya (yang suka teriak juga hehe). Atau, volume media di rumah yang keras, misal TV/ video/ game yang disetel kencang, yang otomatis buat dia ingin lebih didengar. Atau, bisa jadi memang masih belajar membedakan bagaimana berbicara di dalam atau di luar ruanganز

Tapi tips pertama yang harus bin wajib kita terapkan adalah berdoa di waktu mustajab, pas tiap sujud misalnya. Saat-saat mustajab inilah kita meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kemudahan dalam mendidik.

Next tips, kalau berdasarkan masalah, tips-tips ini ini mungkin bisa dicoba:

  1. Ketika anak merasa nggak dimengerti (lagi belajar bicara). Pas lagi teriak, tetep tenang. Ulangi dengan kalimat bervolume normal, “Kamu mau ini, De?” terus minta ia ulangi sampai tenang. Kalo dia tantrum, peluk seperti Khadijah r.a. yang menyelimuti Rasulullah ketika pertama  mendapat wahyu. She (r.a.) didn’t say a word until Rasulullah was ready to talk. Lakukan hal yang sama, peluk sampai tenang. Jangan terpancing. Kalo di psikologi barat, kalau nggak salah,  ini disebutnya Bear Hug. Kalo pas di keramaian, bawa dia ke tempat sepi. Tanggapi dan puji kalau ia bisa bicara tenang/ tanpa teriak.
  2. Matikan/ pelankan suara media. Anak sebenarnya sudah fitrah ingin didengar.
  3. Kalo masalahnya lagi belajar suara indoor/ outdoor, tinggal treatment aja. Kalo pas lagi di rumah teriak2nya (bukan pas marah2 tapinya), gendong dia keluar rumah dan bilang “Nah, kalau di luar sini, kamu boleh bersuara keras. Coba tadi mau bicara apa?” Kalau udah turun volumenya, ulangi lagi ketika masuk rumah, dan puji kalau dia berhasil menurunkan volume suaranya.\
  4. Mengendalikan respon kita. Pokoknya jangan terpancing marah/ bales teriak.
  5. Untuk long-term, kita bisa beri pengertian lewat cerita,  kompromikan dengan orang rumah (kalau ada yang suka teriak) bahwa kita lagi didik anak supaya tidak berteriak (minta mereka turunkan volume kalau bicara), puji setiap kalo anak pakai volume normal, selalu memanggil/ menghampiri anak lalu berlutut untuk berbicara dengan volume normal (untuk memberikan feeling sejajar) – bukan berbicara lintas ruangan misalnya.. Hehe.

Nah, begitulah petualangan saya sewaktu menjinakkan eh mendidik anak untuk berbicara sesuai ruang dan waktu.  Pastinya, tidak ada satu tips yang manjur, karena orang tua harus selalu mencari ilmu untuk mendidik anak-anaknya menjadi khalifah di muka bumi ini.  It takes time, and patience, but it’s all worthy, insya Allah.

 

Iklan