My Reflection

DAUROH MUSLIMAH 2

GOLONGAN WANITA YANG SEDIKIT

Ustadz Abu Usamah

Wanita perlu tauladan, terutama kita yang hidup di akhir zaman.
عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

“Dari al Miqdad bin al Aswad Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya”.

Wanita yang istimewa adalah sahabiyah yang semua kebaikan terkumpul kada mereka. Cukup mereka yang menjadi khudwah, role-model, teladan. Tidakkah kita ingin dikumpulkan dengan mereka di surga?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (H.R. Bukari)

Aisyah binti Abu Bakar

Jadikan Aisyah menjadi teladan. Ibunda kita, anak dari Ummu Rumman ini, tidak ingin menjadi fitnah kaum laki-laki.

‘Aisyah berkata,

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)

Wanita yang dinikahinya Musa adalah yang pertama ditemui, yang menampakkan rasa malu.

Surat Al-Qashash Ayat 25
فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِى يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيْهِ ٱلْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Aratib-Latin: Fa jā`at-hu iḥdāhumā tamsyī ‘alastiḥyā`ing qālat o nginqaitaa abī yad’ụka liyajziyaka ajra mā saqaita lanā, fa lammā jā`ahụ wa qaṣṣa ‘alaihil-qaṣaṣa qāla lā takhaf, najauta mnbaohaqiinal-qaumiẓ-ẓālimīn

Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

Imam Baihaqi: pembantu Aisyah bercerita kepada Aisyah tentang ia mencium Hajar aswad beberapa kali. Aisyah menghardik dan bertanya kenapa kau bercampur baur padahal itu adalah sunnah?

Ibunda Aisyah mendidik kita dengan rasa malu. Maka kita harus jaga fitrah rasa malu dan jaga hijab syari.

Durrah binti Abi Lahab

Ia tidak terpengaruh oleh lingkungan yang rusak. Ia adalah ammah Abu  Lahab dan Ummu Jamil. Abu Lahab membuntuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berdakwah, ia terus mengatakan ia gilaaa. Tapi Nabi tidak membalas.

Ummu Jamil gemar mencela Nabi, “Hai anak pemungut kayu.” Saat Ummu Jamil melihat Nabi bicara dengan Abu Bakar, ia mengatakan mencela Nabi yang ditutupi malaikat.

Durrah tidak terpengaruh dengan orang tuanya. Ini teladan bagi kita yang merasa tidak bisa melaksanakan kebenaran karena lingkungan.

Dari Abu Hurairah dan Ammar bin Yasir semoga Allah meridhai keduanya, keduanya berkata, “Saat Durrah binti Abu Lahan tiba di Maidnah, ia tinggal di rumah Rafi’ bin al-Ma’la az-Zarqa. Para wanita dari Bani Zarqa ini berkata, ‘Kamu putrinya Abu Lahab yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentanganya,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ، مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Quran Al-Masad: 1-2].

Tidak bermanfaat hijrahmu ini’. Ketus mereka.

Durrah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ia mengadukan pada beliau tentang apa yang mereka katakana. Nabi berkata, “Duduklah.” Kemudian beliau mengimami orang-orang mengerjakan shalat zuhur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membelanya di hadapan kaum muslimin. Meninggikan kedudukannya dari orang yang berbuat buruk padanya. Membuatnya tenang dari hal-hal yang menggelisahkannya. Semoga Allah meridhainya dan meridhai semua ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau duduk di mimbar, marah,  dan berkata,

أَيُّهَا النَّاسُ، مَالِي أُوذَى فِي أَهْلِي؟ فَوَاللَّهِ إِنَّ شَفَاعَتِي لَتُنَالُ بِقَرَابَتِي …

“Khalayak sekalian. Mengapa aku disakiti dengan diganggunya keluargaku? Demi Allah, sesungguhnya syafaatku akan sampai pada kerabatku…” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir 20681).

Kenapa Inilah salah seorang sepupu, ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau dan kepada semua anggota keluarganya.

Durrah menikah dengan Dihyah al Kalbi, pria tertampan di Madinah.

Nasibah binti Kaab (Nusaibah/ Ummu Umarah)

Diriwayatkan dari Tirmidzi dari Ummu ‘Umarah Al anshariyah bahwa beliau mendatangi Nabi dan mengatakan: Aku tidak melihat sesuatu kecuali itu diperuntukkan untuk para laki-laki, dan aku tidak melihat para perempuan disebut sedikitpun. Sehingga turunlah ayat : Sesungguhnya para muslim laki-laki maupun perempuan (QS Al Ahzab 35)

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Al Wajiz:Sesungguhnya para pembangkang hukum dan perintah Allah, entah dari golongan laki-laki maupun perempuan. Beserta orang-orang yang meyakini rukun iman, baik beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat. Beserta orang-orang yang senantiasa melakukan ketaatan, jujur dalam perkataan dan perbuatan, sabar dalam ketaatan dan meninggalkan maksiat, merendahkan diri di hadapan Allah baik hati maupun anggota badan. Senantiasa bersedekah baik sedekah wajib maupun sunnah. Berpuasa wajib baik puasa Ramadan, puasa nadhar, kafarat atas sumpah, pembunuhan maupun dosa. Menjaga kemaluan dari yang diharamkan. Senantiasa mengingat asma Allah baik dengan hati maupun lisan, sirri maupun tampak. Dengan keutamaan Alquran, Allah telah menyediakan curahan ampunan atas dosa-dosa mereka, juga pahala yang besar atas ketaatan mereka, yaitu kenikmatan akhirat. Qanit adalah hamba yang senantiasa taat. Khasyi’ adalah yang senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah karena takut dengan-Nya.

Jadilah wanita-wanita yang sedikit, seperti sahabiyah yang sudah disebutkan.

Bagaimana peran perempuan dalm perang? Untuk memberi minum dan mengobati.

Tapi ada masa saat panggilan jihad diserukan menuju Uhud, Nusaibah bersama suaminya, Ghaziyah bin Amr, dan dua orang putranya keluar di awal siang. Mereka berangkat untuk merawat para pejuang yang terluka di hari itu. Di sana Nusaibah juga turut berperang. Ia juga terluka dengan dua belas luka. Terkena hantaman panah dan sabetan pedang.

Ummu Said bin Saad bin Rabi’ berkata, “Aku menemui Nusaibah. Kukatakan padanya, ‘Tolong ceritakan kondisimu di Perang Uhud’. Ia bercerita, ‘Di pagi hari, aku keluar menuju Uhud. Aku melihat apa yang diperbuat oleh pasukan. Saat itu, aku membawa wadah yang berisi air minum. Hingga aku berjumpa dengan Rasulullah yang berada di tengah para sahabat. Kondisi saat itu berpihak pada kaum muslimin.

Tatkala kaum muslimin dipukul mundur, aku masuk ke pertempuran dan bersegera menuju Rasulullah. Aku menjadi rela terkena sabetan pedang, hujaman anak panah dan tombak demi melindungi Rasulullah. Aku pun banyak terluka’.

Ummu Said mengatakan, ‘Kulihat ada cekungan bekas luka di ketiaknya. Kutanyakan padanya, ‘Ummu Ammarah, siapa yang melukaimu di sini’? Ia jawab, ‘Aqbil bin Qamiah. Ia berkata pada orang-orang, ‘Beri tahu aku dimana posisi Muhammad. Aku tak selamat kalau dia selamat’. Lalu Mush’ab bin Umair menghadapinya. Sementara Aqbil bersama sejumlah pasukan. Lalu Aqbil menyerangku dengan satu hujaman. Inilah lukanya. Lalu aku serang dia dengan beberapa pukulan, namun dia memakai baju besi’.

Dhamrah bin Said al-Mazini bercerita tentang neneknya. Neneknya turut hadir di Perang Uhud bertugas menyediakan minuman untuk pasukan. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kedudukan Nusaibah binti Kaab pada hari ini lebih baik dari Fulan dan Fulan.” Pada hari itu, beliau melihat Nusaibah berperang dengan luar biasa. Ia menderita luka. Ia kencangkan pakaiannya dan iapun mengalami tiga belas luka.

Dhamrah melanjutkan, ‘Sungguh aku lihat Ibnu Qamiah menghatamkan senjatanya di ketiak Nusaibah. Itulah luka terparah yang ia alami. Ia sampai mengobatinya selama satu tahun. Sehari setelah Perang Uhud, ternyata utusan Rasulullah berseru mengajak menghadang musuh di Hamraul Asad. Ia sumbat lukanya itu dengan pakaiannya. Namun upayanya itu tak mampu menghalau darah yang keluar. Berlalulah satu malam dengan kondisi kami menahan sakit luka-luka yang kami alami. Sekembalinya dari Hamraul Asad, Rasulullah tidak memasuki rumahnya hingga sampai beliau mengutus Abdullah bin Kaab al-Mazini menemui Nusaibah. Ia bertanya tentang kondisinya. Nusaibah mengatakan ia dalam kondisi baik-baik saja. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah pun senang’.”

Muhammad bin Umar mengabarkan dari Abdurrahman bin Ammarah dari Ammarh bin Ghaziyah, ia berkata: Ummu Ammarah mengatakan, “Aku teringat saat Rasulullah dalam posisi terbuka. Di sisi beliau hanya ada beberapa orang saja. Tidak lebih dari sepuluh orang. Hanya ada aku, dua orang putraku, suamiku, dan beberapa orang di hadapanku. Sementara musuh-musuh berada di hadapanku.

Saat itu aku ingat, aku tak memiliki perisai. Kulihat seseorang yang tersandar namun ia memiliki perisai. Ada yang mengatakan, ‘Lemparkan perisaimu pada orang yang berperang’. Iapun melemparkan perisainya. Lalu kuambil dan kujadikan perisai untuk melindungi diriku dan Rasulullah. Para penunggang kuda itu hanya berhasil melakukan beberapa hal pada kami, kalau mereka infantri seperti kami, pastilah kami berhasil menghajar mereka insyaallah.

Seorang pasukan berkuda datang lalu menyabetku. Aku tangkis dengan perisai. Ia tak berhasil berbuat apa-apa dengan sabetan pedangnya. Saat ia berbalik, aku berhasil menyabet betis kudanya. Ia pun jatuh terlentang. Lalu Nabi berteriak, ‘Hai putra Ummu Ammarah, ibumu! Ibumu! Anakku membantuku mengatasi musuh tersebut.

Abdullah bin Zaid berkata, “Pada Hari Uhud aku mengalami luka di lengan kiriku. Seseorang melintas begitu cepat namun tak sampai menggulingkanku. Ia lalu pergi. Dan darah pun mengalir tak berhenti. Rasulullah mengatakan, ‘Sumbat lukamu’. Kemudian ibuku menemuiku. Ia membawa penyumbat luka yang memang ia persiapkan untuk merawat pasukan yang terluka. Lalu kuikat lukaku. Dan Rasulullah berdiri memandangiku.

Ibuku berkata, ‘Berdirilah, Nak. Serang mereka’! Nabi mengatakan, ‘Tidak ada yang mampu melakukan seperti yang kau lakukan, Ummu Ammarah’.

Ummu Ammarah berkata, “Seorang yang melukai putraku datang. Rasulullah berkata, ‘Ini dia orang yang melukai putramu’. Lalu aku cegat dia dan kutebas betisnya. Ia pun tersungkur’. Kata Ummu Ammarah, “Kulihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum sampai kulihat gigi grahamnya. Beliau berkata, ‘Lanjutkan Ummu Ammarah!’ Lalu kami serang orang itu. kami bunuh dia dengan senjatanya sendiri. Nabi mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang memberimu kemenangan dan membuatmu bahagia karena telah menuntaskannya. Kulihat kebahagiaan di matamu’.”

Karena kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ringan semua musibah temasuk kematian anak dan suaminya, yang penting Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selamat.

Setelah perng berakhir, keesokan harinya, Rasulullah shallallahu shallallahu wassalam berangkat lagi berperang. Ummu Umarah ingin ikut lagi.

Seperti pada Perang Uhud, beliau berada di garis depan untuk melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan panah dan pedang musuh menggunakan tubuh dan senjatanya sendiri saat perang Hunain.

Seperti pada Perang Uhud, beliau berada di garis depan untuk melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan panah dan pedang musuh menggunakan tubuh dan senjatanya sendiri.

KISAH PARENTING NUSAIBAH

Anak Nusaibah binti Ka’ab yang bernama Hubaib bin Zaid al-Anshari dibunuh secara kejam oleh Musailamah al-Kadzdzab karena menolak mengakuinya sebagai nabi. Rasulullah ﷺ mengutus Hubaib untuk mengantarkan surat dakwah kepada Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah. Musailamah menangkapnya, menginterogasinya, dan memotong anggota tubuh Hubaib satu demi satu setiap kali Hubaib berpura-pura tuli saat ditanya tentang kenabian Musailamah. Hubaib wafat sebagai syuhada yang sangat kokoh imannya.

Mendengar kabar kematian Hubaib yang tragis, Nusaibah bersumpah untuk ikut berperang demi membalas perbuatan Musailamah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Nusaibah bersama anak laki-lakinya yang lain, Abdullah bin Zaid, bergabung dalam pasukan Muslim untuk menyerbu Musailamah di Perang Yamamah. Dalam perang tersebut, Abdullah bin Zaid berhasil menusuk Musailamah menggunakan pedangnya (bersama dengan Wahsyi bin Harb yang melempar tombaknya), hingga nabi palsu tersebut akhirnya tewas.

SIFAT-SIFAT LANGKA WANITA

Ustadz Firanda Andirja

1. Taat kepada suami, masuk surga lewat pintu mana saja.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bertutur,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau.” (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)

Jika tidak shalat sunnah, puasa Ramadhan, menjaga kemaluan, tida semarang Berbicara kepada laki-laki/ memandang yang tidak-tidak, ikut shalat 5 waktu saja.

Kenapa ini penting? Karena dalam membina keluarga, perlu seseorang yang ditaati yaitu suami. Bahkan lebih taat suami daripada orang tuanya. Suami perlu memegang kendali agar rumah tangga bisa berjalan dengan baik.

Istri yang tidak menganggap suami sebagai tempat sandaran, tempat curhat, maka ia akan mencari di luar. Orang yang suka jalan ke luar, bukan berarti mereka bahagia. Bisa jadi mereka mencari di luar, karena tidak menemukan di rumah.

2. Mudah memaafkan, membantu suami

Sifat istri shalihah adalah seperti hadits yang diriwayatkan di dalam Kitab Sunan Al-Baihaqi dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ نِسائِكُمُ الوَدُودُ الوَلودُ ، المُوَاتِيَةُ ، المُوَاسِيَةُ ، إذا اتَّقَيْنَ اللهَ ، و شَرُّ نِسائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِلاتُ ، وهُنَّ المُنافِقَاتُ ، لا يدخلُ الجنةَ مِنْهُنَّ إلَّا مثلُ الغُرَابِ الأَعْصَمِ

“Istri kalian yang paling baik adalah al-wadud, al-walud, al-muwatiyah, al-muwasiyah, jika para istri tersebut bertakwa kepada Allah, dan istri yang paling buruk bagi kalian adalah istri-istri yang berdandan di hadapan laki-laki yang bukan makhramnya, al-mutakhayilat, dan wanita-wanita seperti ini adalah wanita-wanita yang munafik, tidak masuk ke dalam surga dari wanita-wanita seperti ini melainkan seperti burung gagak yang pada paruh dan kakinya berwarna merah (sedikit).” (HR. Al-Baihaqi)

  • Al-Wadud (الوَدُودُ)
    Ini merupakan sifat yang mulia dan tabiat yang terpuji pada seorang wanita dan istri yang salihah. Al-Wadud adalah yang disifati dengan penyayang dan memerlihatkan rasa sayangnya itu. Dan orang yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah suaminya.
  • Al-Walud (الوَلُودُ)
    Yaitu banyak keturunan. Ini merupakan sifat yang baik pada seorang wanita yang baik.

    Jika seorangwanita diuji dengan suatu penyakit (mandul), maka perkara ini tidak memudhorotkannya, karena hal ini tidak hanya terjadi pada dirinya saja. Oleh karena itu janganlah ia menyalahkan Allah karena penyakit ini, dan hal seperti ini tidaklah menafikan kebaikannya.
  • Al-Muwatiyah (المُوَاتِيَةُ)
    Yaitu yang tidak kasar dan keras. Bahkan ia penurut, mau mendengarkan, menaatinya, memenuhi permintaannya, dan tidak bersikap sombong dan merasa tinggi terhadap suami, serta tidak bersikap durhaka kepada suami. Ingin masalah cepat selesai,  segera minta maaf dan mengalah meski suaminya yang salah
  • Al-Muwasiyah (المُوَاسِيَةُ)
    Yaitu yang suka membantu suaminya dan berdiri di sisinya, mendukung suaminya untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allah, Dan mendukungnya dalam apa-apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh untuk mencari wanita salihah.

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda:

أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ

“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat.

Nabi ﷺ bersabda, “Empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan: 1. Istri yang shalihah; 2. Rumah yang luas.; 3. Tetangga yang shalih. ;4. Kendaraan yang cepat.

Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (282) dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.3

3. Kerja sama dalam ketaatan

Kerjasama sangat suami-istri dalam ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

رحِمَ اللَّهُ رجلًا قامَ منَ اللَّيلِ فصلَّى وأيقظَ امرأتَهُ فصلَّت فإن أبَت نضحَ في وجهِها الماءَ رحِمَ اللَّهُ امرأةً قامَت منَ اللَّيلِ فَصلَّت وأيقَظَت زَوجَها فإن أبَى نضَحَت في وجهِهِ الماءَ
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu salat, dan membangunkan istrinya, lalu ia pun salat. Jika istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu salat, dan membangunkan suaminya, lalu ia pun salat. Jika suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”

(HR. Abu Dawud – hadis Hasan Shahih, dinilai oleh al-Albani)

Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun pada suatu malam lalu beliau berkata:

سُبْحَانَ اللهِ، مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ، مَنْ يُوْقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُـرَاتِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Subhanallaah, ujian apa yang Allah turunkan malam ini dan simpanan apa yang Dia turunkan untuk orang yang membangunkan istri-istrinya.Wahai kaum, banyak wanita-wanita yang berpakaian di dunia tapi telanjang pada hari Kiamat kelak.”

Bentuk kerjasama lain adalah membantu suami menundukkan pandangan dengan berhias diri saat berhasrat.

Pahala didapatkan wanita ketika bersegera melayani untuk kerjasama taat,  menundukkan pandangan. Bahkan ketika sedang mengerjakan sesuatu,  itu pahala

4. Dianjurkan: membantu keluarga suami

Suatu ketika, shahabat Jabir bin Abdillah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Saat pulang dari perang, beliau tertinggal dari rombongan disebabkan onta beliau yang kelelahan. Nabi pun mendatangi beliau dan bertanya, “Ini Jabir?” Jabir menjawab, “Iya Rasulullah.” “Ada masalah apa Jabir?” Nabi kembali bertanya. Jabir menjawab, “Ontaku lambat dan kelelahan sehingga aku tertinggal.”

Kemudian Nabi pun menusuk onta Jabir dengan tongkatnya seraya berkata, “Naiklah!” Jabir pun naik, dan tatkala ontanya melaju kencang, ia pun menahannya agar tak mendahului Rasulullah. “Engkau sudah menikah Jabir?” Tanya Rasulullah. “Iya.” Jawab Jabir. “Perawan ataukah janda?” Rasulullah kembali bertanya. “Janda”. Jawab Jabir kemudian.

Nabi bertanya, “Kenapa tidak menikahi perawan saja? Engkau bisa bermain dengannya dan ia bisa bermain pula denganmu”. Jabir menjawab, “Aku ini memiliki saudari perempuan yang banyak. Aku menikahi janda agar ada wanita yang merawat, mengurusi dan menyisiri rambut mereka”. Nabi pun menasehati, “Adapun jika engkau telah sampai di rumah, maka kumpulilah istrimu, kumpulilah istrimu” (HR. Al-Bukhari no. 2097 dan Muslim no. 1089).

Hadits ini juga dalil bolehnya bujang menikahi janda. Bahkan di sebagian kondisi, menikahi janda lebih utama daripada gadis perawan. Di sini Jabir ingin agar adik-adiknya ada yang merawat dan mengurusi tatkala ia menikahi janda. Sehingga ia merasa terbantu dengan kehadiran istrinya. Boleh jadi ketika ia menikahi gadis perawan, maka bebannya akan bertambah, di samping mengurusi adik-adiknya, ia harus mengurusi gadis yang semisal dengan adik-adiknya.


Menikahi janda tidaklah selalu melihat sisi mashlahat untuk si janda, boleh jadi mashlahat untuk suami. Jabir akan merasa terbantu merawat dan mengurusi adik-adiknya jika ia menikahi seorang janda.

5. Menghibur saat suami kesulitan

Kita bisa belajar dari Khadijah. Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ kembali ke rumah menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi istrinya lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat:

فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا

“Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.”

Beliau ceritakan semua yang ia lihat dan alami. Melihat Jibril dan diseru menjadi seorang utusan Allah (rasulullah). Dari peristiwa ini setidaknya dapat kita petik dua pelajaran tentang menjalani kehidupan berumah tangga. Peranan istri dan juga keterbukaan suami. Dua hal yang menjadi penyebab langgengnya rumah tangga.

Kisah lain dari Ummu Sulaim.  Lihat kisah ini dan gali pelajaran menarik di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ يَشْتَكِى ، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبِىُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِى قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ . فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارِ الصَّبِىَّ . فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا » . فَوَلَدَتْ غُلاَمًا قَالَ لِى أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِىَ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَى بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ ، فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَمَعَهُ شَىْءٌ » . قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ . فَأَخَذَهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِى فِى الصَّبِىِّ ، وَحَنَّكَهُ بِهِ ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putra Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu putranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh putraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya putranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”

Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

6. Ketika istri berharta ia bantu suaminya

Zainab, istri ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, kembali ke rumahnya setelah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menasehati kaum Hawa,

يا معشرَ النِّساءِ تصدَّقنَ ولو من حُليِّكُنَّ

“Sedekahlah wahai kaum wanita, meskipun dengan gelang perhiasan kalian.”

Tatkala Zainab tiba di rumahnya, dia menemui suaminya yang sedang duduk, lalu berkata kepadanya,
“Kamu adalah laki-laki miskin dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kami (para wanita) untuk bersedekah. Datangilah beliau dan tanyakanlah, Apakah ada pahala bagiku jika aku bersedekah kepadamu. Jika tidak, akan aku salurkan kepada orang lain”.

Ibnu Mas’ud merasa malu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan permintaan istrinya.
“Kamu saja yang kesana!” jawabnya kepada istrinya.
Pergilah Zainab menuju rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia berpapasan dengan seorang wanita Anshar yang ingin menanyakan pertanyaan yang serupa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, Zainab meminta tolong Bilal untuk menanyakan masalah mereka.
Bilal pun segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan titipan pertanyaan kedua wanita tersebut.

“Siapa keduanya?” tanya Rasulullah.
“Seorang wanita Anshar dan Zainab.” jawab Bilal.
“Zainab yang mana?” tanya Rasulullah lagi.
“Istri ‘Abdullah bin Mas’ud.” timpal Bilal.
“Mereka berdua mendapat dua pahala, pahala kekerabatan dan pahala sedekah”. (HR. Bukhari no.1466, Muslim no.80).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab pertanyaan kedua wanita tersebut. Zainab pulang ke rumahnya dengan perasaan bahagia.

Bukan hanya itu yang dilakukan Zainab untuk menambah ilmunya, dia pun banyak meriwayatkan hadits dari suaminya, ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Dia pun dikenal sebagai salah seorang wanita faqihah (paham agama).




7. Tidak pernah membandingkan dengan lelaki lain

Pada tahun 2 H, Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk mencegat kafilah Abu Sufyan. Tanpa disangka, kemudian peristiwa inilah menjadi sebab Perang Badar. Abu Salamah turut serta dalam rombongan yang mencegat kafilah. Dan tentu saja ia juga terlibat dalam Perang Badr. Dalam perang itu ia menderita luka. Luka itu sempat sembuh, tapi kemudian kambuh kembali. Hingga menyebabkannya wafat pada Jumadil Akhir tahun 3 H (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah, 3/190).

Ummu Salamah menceritakan, “Suatu hari, Abu Salamah menemuiku. Ia baru saja menemui Rasulullah. Ia berkata, ‘Aku mendengar dari Rasulullah sebuah perkataan yang membuatku bahagia. Beliau bersabda,

لا يُصِيبُ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مُصِيبَةٌ فَيَسْتَرْجِعَ عِنْدَ مُصِيبَتِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ فُعِلَ ذَلِكَ بِهِ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah. Kemudian ia beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un) saat musibah tersebut terjadi. Setelah itu berdoa, ‘Ya Allah berilah aku pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’. Kecuali Allah akan mengabulkannya.”

Kata Ummu Salamah, “Aku pun menghafalkannya.”

Ketika Abu Salamah wafat, aku beristirja. Dan berdoa, “Ya Allah berilah pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya.” Setelah itu, aku renungkan ucapanku dan bertanya pada diriku, “Adakah untukku yang lebih baik dari Abu Salamah?” Setelah iddahku selesai, Rasulullah meminta izin padaku. Saat itu aku sedang menyamak kulit. Kucuci tanganku dan kuizinkan beliau masuk. Aku pun membentangkan alas duduk dari kulit yang berisi serat. Beliau pun duduk di atasnya dan meminangku untuk dirinya. Setelah beliau selesai berbicara, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapa aku ini untuk tidak menerimamu. Tapi aku adalah seorang wanita yang sangat pencemburu. Aku khawatir Anda melihat pada diriku sesuatu yang menyebabkan aku diadzab oleh Allah. Dan aku adalah wanita yang sudah berusia dan memiliki anak-anak.”

Rasulullah menanggapi,

أَمَّا مَا ذَكَرْتِ مِنَ الْغَيْرَةِ فَسَوْفَ يُذْهِبُهَا اللَّهُ مِنْكِ، وَأَمَّا مَا ذَكَرْتِ مِنَ السِّنِّ فَقَدْ أَصَابَنِي مِثْلُ الَّذِي أَصَابَكِ، وَأَمَّا مَا ذَكَرْتِ مِنَ الْعِيَالِ فَإِنَّمَا عِيَالُكِ عِيَالِي

“Yang engkau sebut berupa kecemburuan, Allah akan menghilangkan hal itu darimu. Tentang umurmu, aku pun telah berumur sebagaimana engkau. Dan tentang anak-anakmu, anak-anakmu juga anak-anakku.”

Ummu Salamah menjawab, “Aku terima lamaran Anda, Rasulullah.”

Kemudian ia mengatakan, “Sungguh Allah telah menggantikan untuk diriku seseorang yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah.” (Ibnu Katsir” as-Sirah an-Nabawiyah, 3/175).

8. Orientasinya bukan dunia

Mari belajar dari Ummu Sulaim,  ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???


Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan

tawaran mahar yang tinggi. Beliau kaya raya. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau usaberkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

9. Memiliki sifat pemalu

Jangan saling putra-putri kita menonton hal yang merusak rasa malu, baik di layar maupun di dunia nyata (misalnya kalau ke luar negeri)

Belajarlah dari kisah istri nabi Musa dalam kisah Al Qashash 26-27

قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ


Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

قَالَ إِنِّىٓ أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ٱبْنَتَىَّ هَٰتَيْنِ عَلَىٰٓ أَن تَأْجُرَنِى ثَمَٰنِىَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Arab-Latin: Qāla innī urīdu an ungkiḥaka iḥdabnatayya hātaini ‘alā an ta`juranī ṡamāniya ḥijaj, fa in atmamta ‘asyran fa min ‘indik, wa mā urīdu an asyuqqa ‘alaīk, satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣāliḥīn

Artinya: Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.


Pilih sirkel yang benar untuk menjaga rasa malu kita.

Ustadz Firanda

Tinggalkan komentar