Syaikh Bin Baz, Syaikh Nashirudin al Alban, Syaikh Muhammad al Utsaimin.”
Imam Nawawi dalam Ibn Kathir, “Siapa Mujaddid?” Beliau menjawab, “Mujaddid adalah yang bisa menjelaskan sunnah dan bidah, memperbanyak ilmu untuk umat, membela ahli ilmu dan menghancurkan ahli bid’ah.
Syaikh Binbaz pernah ditanya, “Siapa Mujadid abad ini?” dan dijawab “Albani, dalam sangkaan saya.”
MASA KECIL AL-ALBANI
Beliau lahir tahun 1914 M, di sebuah kota namanya Shkodër, Ibu kota Albanian (beliau meninggal 85 tahun di Yordania). Beliau fakir miskin. Ayah beliau Nuh Bin Adam adalah mufti di masyarakat dalam mazhab hanafi. Beliau hijrah ke Damaskus karena pemimpin Albania saat itu (Ahmad Mukhtar Zogoli atau Zog I atau Zogu) sekuler. Ia meniru langkah Kemal Ataturk dalam me-westernisasi Turki dan menyingkirkan Kerajaan Ottoman pada tahun 1343 H/1924 M.
Damaskus/ Suriah dipilih karena termasuk negeri Syam (negeri yang diberkahi) karena lingkungan tempat lahirnya tidak kondusif untuk belajar agama dan mengajarkan keluarganya. Saat itu Albani berusia 9 tahun dan tidak bisa berbahasa Arab. Tapi dengan semangat dan didikan ayahnya, beliau bisa menguasai. Beliau lulus SD dengan cemerlang, meski paling besar dan tidak bisa bahasa Arab. Gurunya bahkan memintanya meng-i’rab dengan giliran terakhir karena dia orang Ajm.
BERHENTI SEKOLAH, MEMILIH ‘HOMESCHOOLING’ – BELAJAR BERSAMA AYAH LALU GURU-GURU
Ayah Albani kecil melihat kurangnya sekolah formal memberikan pelajaran agama, maka ayahnya mengeluarkan anaknya lalu mengajarkannya dengan kurikulum sendiri (sekarang disebut homeschooling). Ia diajarkan tajwid, nahwu shorof, Quran dengan riwayat hafsh an ashim (? sama seperti kita).
Guru pertama beliau adalah ayahnya, seorang mufti. Ia menyarankan untuk tidak mengambil ilmu hadits dengan alasan “nanti akan bangkrut” … padahal nantinya fatwa Syaikh Albani nanti terdiri dari 30 jilid.
Selain belajar dengan sang ayah, al-Albani juga belajar dari banyak guru dan ulama yang merupakan kolega ayahnya. Seperti: mengkaji kitab fikih Hanafi, Muraqi al-Falah Syarh Nur al-Idhah bersama Syaikh Muhammad Said al-Burhani. Mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab, terutama bersama Syaikh Izuddin at-Tanukhi.
Guru lain beliau adalah Syaikh Sa’id Al Burhani rahimahullah dalam mempelajari ilmu fikih madzhab Hanafi dan kitab Syudzurudz Dzahab dalam ilmu nahwu, dan beberapa kitab ilmu balaghah.
Ketika Syaikh Muhammad Raghib At Thabbakh rahimahullah mendengar kegigihan Syaikh Al Albani dalam mendakwahkan Al Qur’an dan As Sunnah, dan kegigihan beliau dalam ilmu hadits, beliau pun sangat ingin bertemu dengan Syaikh Al Albani untuk memberikan ijazah periwayatan hadits. Syaikh Muhammad Raghib pun memberikian kitab tsabt beliau yang berjudul Al Anwar Al Jaliyah fii Mukhtashar Al Atsbat Al Halabiyah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Raghib merupakan guru Syaikh Al Albani secara ijazah.
MENGGELUTI LIFESKILLS
Untuk lifeskills, beliau belajar bertukang dari pamannya. Ia belajar. Ia bekerja dengan pamannya selama 2 tahun. Lalu ia bekerja kepada seorang warga Suriah yang dikenal dengan Abu Muhammad. Pekerjaan ini ia geluti juga selama dua tahun. Kemudian karena dirasa melelahkan, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, al-Albani pun meninggalkan pekerjaan ini.
Di musim panas, tukang kayu tidak mendapat pekerjaan. Pada waktu itu, al-Albani lewat di depan toko ayahnya. Sang ayah sedang mereparasi jam. Ayahnya menyarakannya agar ia memanfaatkan waktu dengan mereparasi jam. Ia pun menerima saran sang ayah. Profesi baru itu ia jalani dengan sungguh-sungguh, hingga ia terkenal sebagai tukang reparasi jam yang handal. Ia hanya bekerja 2 jam dan setelah itu belajar lagi.
Profesi baru ini tidak memakan banyak tenaga dan waktu. Sehingga waktu-waktunya bisa ia sibukkan dengan belajar agama (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 48).
Awal mula jatuh cinta dengan ilmu hadits.
Pada usia hampir 20 tahun, al-Albani izin ke masjid Rumawi untuk hadir muhadhoroh. Ketika keluar dari masjid, beliau melihat-lihat buku-buku yang berjejer. Kemudian, ia memegang sebuah majalah al Manaar yang Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah. Kebetulan matanya tertarik dengan bantahan Syaikh Rasyid Ridha untuk buku Ihya Ulumuddin. Di majalah itu disebutkan dalam buku itu ada tahqiq Al Ihraqi. Kemudian, beliau makin penasaran dengan tahqiqnya dan mencari tahqiq. Beliau ‘thowaf’ di perpustakaan dan menemukan 4 jilid. Beliau yang faqir (dan tidak bisa membeli) akhirnya menyewa dari perpustakaan dan mulai MENCATAT ULANG isi kitabnya.
Di jilid 1 beliau tidak menulis komentar berilmu dan mulai menulis di jilid 2. Menyesal, beliau m senulis ulang lagi dari jilid 1. Setelah selesai 4 jilid, baru dikembalikan.
Ilmu hadits pun menjadi kesibukan utama dari Syaikh Al Albani sampai terkadang beliau menutup lapaknya karena pergi ke perpustakaan Azh Zhahiriyyah dan berada di sana selama 12 jam. Selama 12 jam itu beliau tidak bosan menelaah, memberi catatan, men-tahqiq, kecuali di waktu-waktu shalat. Sampai-sampai pengurus perpustakaan memberikan ruangan khusus bagi beliau untuk menelaah kitab-kitab dan melakukan penelitian-penelitian ilmiah, karena mereka melihat betapa gigihnya beliau dalam menelaah dan meneliti.
Bahkan, akhirnya beliau diberi kunci karena beliau masih ada di situ meski pustakawan sudah pulang.
Keluar dari rumah
Berbeda dengan ayahnya, Syaikh al-Albani tidak mau shalat di masjid yang ada kuburan. Kitab pertama yang beliau tulis adalah tentang ini. Puncaknya adalah beliau berpendapat tidak ada shalat jamaah kedua. Rata-rata jamaah ada 2x di Damaskus sesuatu peraturan pemerintah. Suatu saat imam masjid (Syaikh Said al Burhani) udzur, tidak bisa mengimami. Beliau minta tolong ayah Syaikh al-Albani. Sang ayah ada udzur, sehingga minta tolong Syaikh al-Albani dan ia menolak. “Ayah kan tahu prinsip saya.” Ayahnya bilang, “Kamu setuju atau kita pisah rumah” Albani pun meminta 3 hari, menelaah apakah ini kedurhakaan. Akhirnya setelah paham bahwa ini adalah soal syariat dan keluar dari rumah. Ayahnya memberi modal 3 riyal. Dengan kemampuannya, Syaikh al-Albani sukses, bisa beli tanah dan toko. Beliau tetap menjaga silaturahmi, meski sang ayah tidak menghadiri pernikahannya.
Ulama yang berseberangan
Syaikh Siddiq al Ghomari berseberangan dengan Syaikh Albani, tapi beliau objektif karena “Albani datang ke Damaskus dalam kondisi tidak mengerti bahasa Arab, kemudian dia memahami Bahasa Arab dengan sangat mutqin.”
Syaikh Yusuf al Qardhawi juga berseberangan, tapi beliau objektif dengan berkata “Saya mengakui beliau luas muthalaahnya, ilmu haditsnya seluas laut samudera”
Beliau aktif mendakwahkan untuk shalat bersama tanpa melihat/ fanatik madzhab yang banyak ditentang ulama saat itu. Ulama-ulama sufi banyak mengajak masyarakat untuk memusuhi beliau.
Kisah kertas yang hilang
Saat Syaikh Albani diuji dengan kondisi mata yang membuat dokter menyuruh untuk stop reparasi dan membaca hingga sembuh. Kemudian ia meminta orang untuk menyalin sebuah buku dan qadarullah berhenti karena ada lembaran yang hilang. Beliau menyuruh lanjut salin dan ia mencari kertas itu di perpustakaan. Beliau membuka satu persatu buku dan menulis apa yang beliau temukan sampai terkumpul 40 jilid.
Murid- Murid beliau
Murid-murid Syaikh Al Albani sangatlah banyak, yang paling menonjol diantaranya:
- Asy Syaikh Hamdi Abdul Majid As Salafy
- Asy Syaikh Ali Khasyan
- Asy Syaikh Muhammad ‘Id Al Abbasy
- Asy Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah
- Asy Syaikh Nabil Al Kayyal
- Asy Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi Al Atsary
- Asy Syaikh Salim bin Id Al Hilaly
- Asy Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
- Asy Syaikh Husain Al ‘Awaisyah
- Asy Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr
- Asy Syaikh Abul Yasar Ahmad Khasyab
- Asy Syaikh Muhammad Jamil Zainu
- Asy Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini
- Asy Syaikh Ahmad Abul ‘Ainain
- Dan murid-murid beliau yang lain yang tersebar di berbagai penjuru negeri.
