Parenting

[DISKUSI] Balita yang Susah Berteman dan Sibling Rivalry

Di sebuah grup percakapan virtual, terdapat sebuah diskusi yang dimulai dengan pertanyaan sebagai berikut:

“Si sulung yang berusia 4 tahun, perempuan, tidak mudah bersosialisasi di tempat baru, tidak mau masuk PAUD, dan hanya mau menurut dengan ayahnya saja dan jauh dengan saya sebagai ibunya. Ia punya adik berusia 20 bulan. Sepertinya dia merasa iri dengan adiknya. Saya sudah mencoba sabar mendekatinya dan menunjukkan perhatian dan memberikan pengertian padanya. Bahwa ibu sayang, adik juga sayang dengan kakak. tapi dia selalu melawan jika dengan saya. Apa pengalaman bunda dalam mengatasi masalah sanak tersebut?”

(Catatan: pertanyaan ini sudah diijinkan untuk dibagikan oleh penanya)

Ah ya.. Panik. Mungkin itu yang kita alami sebagai ibu-ibu muda yaaa. Kita? Kamu aja kaleee? Iya baiklah.. Cuma saya aja yang ibu muda karena masih muda. #apasih

Tapi pertanyaan ini memang buaaaanyak muncul dari beberapa ibu muda seperti saya (#okecukupmierza!) Terutama, saat lingkungan ‘memvonis’ anak kita yang dibawah 5 tahun itu dianggap balita yang susah bergaul. Rasa baper pun semakin menguat ketika di saat yang sama ada anak yang dibilang ‘berani, mau bergaul’ tepat setelah anak kita disebut balita ngga gahul.

Padahal oh padahal…

Inilah Saat Tepat Memperkuat Ikatan Dengan Orang Tua

Usia emas ini memang saatnya yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai aqidah, moral, dan adab. Dengan bonding yang kuat dengan orang tuanya, insya Allah anak akan kuat dan percaya diri menunjukan nilai yang sesuai dengan apa yang diajarkan orang tuanya dalam pergaulan sosial.

Seperti nasihat Lukman yang tidak lekang digerus zaman, yang pertama dilakukan adalah menghadirkan Allah di waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Dan tentunya, pada saat mengobrol dengan anak. Jadi, ketika anak tidak bersama kita, kita sandarkan kepada Allah untuk menjaga hatinya.

Dia akan PD bilang ‘Kata Umiiiii…’ ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak sesuai visi misi keluarga dan agama. Dan ini bisa terjadi jika Allah sudah membangun chemistry dengan orang tua. Ada skenario, insyaAllah, kenapa Allah membuatnya menjadi ‘pemalu‘ di hadapan teman-temannya pada usia-usia ini. Karena itulah saat kita menjadi temannya.

Jadi, jangan kuatir jika anak kita dicap sebagai balita yang susah berteman. Karena inilah kesempatan untuk membangun masa-masa ‘muraqabah’ di masa depan. Merasa dilihat Allah.

Tapi Dia Juga Kurang Komunikasi Dengan Ibunya, Malah Deketan Sama Ayahnya. Gimana Dong?

Untuk membangun komunikasi dengan orang tua, tidak bisa seperti Tarzan yang berkata, “Kamu duduk. Saya Tarzan” atau seperti radio yang tidak berhenti siaran. Membangun komunikasi dengan anak membutuhkan ilmu agar apa yang kita ucapkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak kita. Agar inti pesan kita sampai.

Agar adil, saya akan memberi contoh dari pengalaman saja. Saya membiasakan diri menggunakan kalimat pendek yang sebisa mungkin tidak lebih dari 5 kata. Berjeda. Sambil berlutut, atau ndeprok di lantai.

Ketika anak enggan atau melawan, saya akan lebih serius mengambil waktu. Menggunakan suara yang lebih datar, dalam, dan tegas. Sebisa mungkin tidak emosi, meski ini syusyah, karena lebih mudah untuk teriak. PR-nya adalah memberikan ‘nasihat’ saat anak moodnya baik.

Mengenai lebih dekat dengan ayah? Oh, itu rejekiiii. Lihatlah betapa banyak bersliweran ibu-ibu galau yang merasa suaminya tidak turut serta dsalam pengasuhan. Sampai ada wacana “Fatherless Country” segala. Maka, mari bersyukur saja, jangan dijauhkan dengan ayahnya. Sambil mempraktikan cara berkomunikasi yang berterima. Jangan lupa peluk dan sampaikan terima kasih kepada sang partner hidup yang bersedia mengambil peran dalam pengasuhan. 😉

Tentang Cemburu Dengan Adik?

Lagi-lagi agar adil, saya akan berbagi pengalaman pribadi. Oh bukaaaan.. saya bukan psikolog apalagi pakaarrr pengasuhan anak. Saya praktisi.. seperti buibu semua.

Baiklah, saya memiliki 3 anak berusia 10, 5, dan 1 tahun. Saya melibatkan sulung dan tengah dalam mengurus si bayi. Mengapresiasi setiap hal kecil yang mereka lakukan. Apresiasi atau pujian menurut saya penting untuk membangun persepsi anak akan hal mana yang baik untuk dilakukan. Di dunia luar nanti, pelukan dan apresiasi Bunda akan selalu dibutuhkan.

Tapi Masa Harus Diingatkan Teruuus?

Ya iyaaa… Ingatkan terus Bun, beribu kali pun tak mengapa… Bukankah Nabi Nuh pun tak lelah mengingatkan anaknya hingga tersapu air bah? Karena anak-anak memang ujian untuk orang tuanya. Semoga Allah memudahkan kita dalam perjalanan pengasuhan ini untuk mendidik generasi muslim masa depan.

Baca Juga:

“Anaknya Anteng, ya.” Tips Membawa Anak ke Tempat Umum

Kenapa Malu Punya Anak Pemalu?

Balita Anda Suka Berteriak? Ini Tipsnya

 
My Reflection, My Thoughts, Parenting

Kenapa Malu Punya Anak Pemalu?

*Mierza Ummu Abdillah*

“Anaknya pemalu ya, Umm?”

Betapa mudahkah seorang anak dilabel ‘pemalu’, hanya karena memilih tidak berebut kue saat istirahat seperti teman-temannya? Tapi kurangnya ilmu membuat ibu itu pun hanya tersenyum malu. Malu punya anak pemalu.

Ah, andai saja dulu Ibu itu tahu bahwa rasa malu adalah akhlak Islam yang terpuji. Malu yang ditunjukkan anaknya bukanlah malu yang tercela, seperti malu menuntut ilmu syar’i, mengaji, amar ma’ruf nahi munkar, melakukan kewajiban seorang Muslim, dan yang semisalnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Andai Ibu itu tahu bahwa buah dari rasa malu adalah iffah atau menjaga kehormatan. Hal yang sangat sulit ditemukan di jaman penuh fitnah ini.Bahwa memiliki malu bukan suatu kesalahan.

malu

Bukankah di dunia yang berisik ini, kita memerlukan manusia yang mampu menjadi pendengar yang penuh perhatian? Tidakkah kita pernah menemukan seorang pribadi yang begitu diterima bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata? 

Ibu… Tidak perlu meminta maaf kepada orang lain hanya karena memiliki ‘anak pemalu’. Jangan pula mengucapkannya di hadapan intanmu yang berharga itu. Tidak ada yang salah dan banyak alasan tepat untuk menjadi pemalu.

Andai Ibu itu tahu bahwa anak yang pemalu tidak selalu berarti menderita citra diri yang buruk. Ah… alangkah tidak adilnya.  Banyak anak-anak pemalu yang memiliki konsep diri yang kuat. Mereka bersinar dari dalam – jika saja para orang tua itu lebih sabar.

Andai dulu Ibu itu tahu bahwa ia tidak perlu khawatir jika anaknya tutup mulut di tengah orang banyak. Bahwa selama anaknya masih bisa melakukan kontak mata, sopan, menurut, dan bahagia – namun hanya diam – itu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa anak-anak ‘pemalu’-nya lebih dalam berpikir, menyeluruh dalam mengamati, dan sangat berhati-hati. Mereka hanya seperti mesin diesel – memerlukan waktu tambahan untuk untuk pemanasan ketika bertemu orang baru.

Bersyukurlah, Ibu, jika anakmu hanya merasa malu – bukan menarik diri. Bukan bersembunyi dari kemarahan dan ketakutan. Bukankah kau tidak pernah mengancam atau menakutinya?  Jika tidak, maka tenanglah. Anakmu hanya memilih menjadi mereka yang bersorak dalam pawai dan dipercaya untuk melambaikan bendera.

Namun, pelajarilah Ibu…. Jangan sampai label pemalu ini digunakan untuk tidak mau berteman dengan anak-anak lainnya. Jangan sampai label ‘pemalu’ ini digunakan  sebagai pertahanan untuk tidak berusaha lebih keras dan tinggal di zona nyaman.

Jika kau menemukan demikian  maka perkuatlah rasa percaya diri mereka. Anak ini hanya  membutuhkan orang tua dapat ia percaya, yang mendisiplinkan dengan cara yang benar dan lembut. Mendidik tanpa menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Ibu, bersyukurlah dengan akhlak anakmu. Ia diberkati dengan sifat yang sensitif, sangat peduli, dan lebih berhati-hati. Peluklah anakmu dan jadikan dunia menjadi tempat yang lebih lembut dan menyenangkan. Ciptakan lingkungan yang nyaman yang memungkinkan kepribadian sosialnya berkembang secara alami.

Tidak Ibu.. jangan ikut mengatainya dengan cap anak “pemalu”. Jika mendengarnya, ia bisa merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dan ini akan membuatnya merasa lebih malu. Memanggilnya “pemalu” bisa membuatnya lebih cemas, seolah-olah ada sesuatu yang mereka harus lakukan untuk “membantu” atau memperbaikinya.

Dukunglah dengan cara memberitahu apa yang harus ia lakukan ketika mengunjungi saudara atau tempat yang baru. Hindari godaan untuk mengatakan, “Jangan diem aja ya, disana.” Karena itu akan menjamin dia bungkam. 

Beritahu ia apa yang diharapkan. Dari ucapan “Salim Pakde, ya.” sampai perilaku sopan lainnya. Tidak mengapa jika ia ingin membawa salah satu mainan favoritnya, seperti lego atau puzzle, yang bisa menjadi jembatan untuk komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, jika anakmu diminta tampil di hadapan umum, mintakan dulu izinnya. Jangan gunakan kekuasaan orang dewasa. Hormati tingkat kenyamanannya. Bukankah ada manusia yang lebih memilih untuk menjadi penonton?

Bantulah anakmu dengan berbicara lebih sedikit. Beri kepercayaan untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Mintalah ia untuk menjawab langsung pertanyaan orang lain, tanpa Ibu menggantikan jadi mesin penjawabnya. Sungguh ini akan sangat membantunya. Lalu, berilah ia pujian ketika berhasil membangun komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, setahun sudah waktu berlalu sejak kau putuskan mendidik anak itu sendiri. Kau memilih untuk selalu bersama 24 jam sehari, belajar bersamanya, melatihnya, berusaha menjadi teladan untuknya. Satu inginmu waktu memilih keputusan melelahkan itu: agar bisa lebih sering memeluknya.

Lihatlah, kini ia tumbuh lebih percaya diri. Dengan kesantunannya, ia tetap bersinar di tengah keramaian. Dengan kehati-hatiannya, ia memberi jeda terhadap semua jawaban yang akan dilontarkan agar bisa berterima. Dalam diamnya, dia menyerap apa yang kau tanamkan setiap harinya. Melalui tenan gnya, dia menunjukan cintanya.

Semua kesabaran ini memang tidak mudah. Cermin ini saksinya.

Jazzakillah khairan telah bersabar dengan Ibumu, yaa bunayya.

 

Mierza's Own, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Balita Anda Suka Berteriak? Ini Tipsnya

Mengingat kembali dua tahun yang lalu, ketika anak kedua saya – Isma – suka berteriak atau bersuara keras kalau berbicara (meskipun jaraknya dekat).

Pertanyaannya, apakah saya panik? Oh, tentu tidak.

Pertanyaan berikutnya, pasti anak pertama seperti itu,  ya? Hehe, nggak. Justru, Jenna, anak pertama saya, lebih seperti observer. Pendiam banget sih, nggak. Tapi berteriak itu kata yang lumayan jauh dari kamus waktu membesarkannya sebagai balita.

Jadi, kemarin ada yang tanya bagaimana menangani anak yang suka berteriak di Facebook. Berhubung ini sempat terjadi pada Isma, dan alhamdulillah beberapa tipsnya berhasil, saya share aja yah sedikit …

Pada masanya Isma, saya punya 3 kamus yang udah buluk di rumah, karena belinya 8 tahun lalu. Dua kamus itu adalah  The Baby Book-nya Dr.Sears dan Nanny 911. Selain itu, saya juga sudah sempat tersentuh dakwah sunnah. Dakwah ini ternyata nyampe di nalar saya karena mungkin scientificya… berdasarkan Qur’an dan sunnah,.

Okay, bismillah… Here we go…

Sebelum menerapkan beragam tips, kita harus cari tau dulu sebabnya.

Biasanya anak usia 2-5 tahun memang masanya belajar bicara dan melampiaskan emosi secara positif. Jadi, terkadang dia lagi mengekspresikan kesetresan dia karena salah dimengerti. Atau, dia lagi belajar dari orang sekitarnya (yang suka teriak juga hehe). Atau, volume media di rumah yang keras, misal TV/ video/ game yang disetel kencang, yang otomatis buat dia ingin lebih didengar. Atau, bisa jadi memang masih belajar membedakan bagaimana berbicara di dalam atau di luar ruanganز

Tapi tips pertama yang harus bin wajib kita terapkan adalah berdoa di waktu mustajab, pas tiap sujud misalnya. Saat-saat mustajab inilah kita meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kemudahan dalam mendidik.

Next tips, kalau berdasarkan masalah, tips-tips ini ini mungkin bisa dicoba:

  1. Ketika anak merasa nggak dimengerti (lagi belajar bicara). Pas lagi teriak, tetep tenang. Ulangi dengan kalimat bervolume normal, “Kamu mau ini, De?” terus minta ia ulangi sampai tenang. Kalo dia tantrum, peluk seperti Khadijah r.a. yang menyelimuti Rasulullah ketika pertama  mendapat wahyu. She (r.a.) didn’t say a word until Rasulullah was ready to talk. Lakukan hal yang sama, peluk sampai tenang. Jangan terpancing. Kalo di psikologi barat, kalau nggak salah,  ini disebutnya Bear Hug. Kalo pas di keramaian, bawa dia ke tempat sepi. Tanggapi dan puji kalau ia bisa bicara tenang/ tanpa teriak.
  2. Matikan/ pelankan suara media. Anak sebenarnya sudah fitrah ingin didengar.
  3. Kalo masalahnya lagi belajar suara indoor/ outdoor, tinggal treatment aja. Kalo pas lagi di rumah teriak2nya (bukan pas marah2 tapinya), gendong dia keluar rumah dan bilang “Nah, kalau di luar sini, kamu boleh bersuara keras. Coba tadi mau bicara apa?” Kalau udah turun volumenya, ulangi lagi ketika masuk rumah, dan puji kalau dia berhasil menurunkan volume suaranya.\
  4. Mengendalikan respon kita. Pokoknya jangan terpancing marah/ bales teriak.
  5. Untuk long-term, kita bisa beri pengertian lewat cerita,  kompromikan dengan orang rumah (kalau ada yang suka teriak) bahwa kita lagi didik anak supaya tidak berteriak (minta mereka turunkan volume kalau bicara), puji setiap kalo anak pakai volume normal, selalu memanggil/ menghampiri anak lalu berlutut untuk berbicara dengan volume normal (untuk memberikan feeling sejajar) – bukan berbicara lintas ruangan misalnya.. Hehe.

Nah, begitulah petualangan saya sewaktu menjinakkan eh mendidik anak untuk berbicara sesuai ruang dan waktu.  Pastinya, tidak ada satu tips yang manjur, karena orang tua harus selalu mencari ilmu untuk mendidik anak-anaknya menjadi khalifah di muka bumi ini.  It takes time, and patience, but it’s all worthy, insya Allah.