Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, My Reflection

Ketika Tekad itu Menebal

WHY I HOMESCHOOL

Saat ini saya sedang diklat PAUD selama 2 bulan di Jogja. Ilmu mengajar disini diambil dari beberapa sumber, diantaranya kitab para ulama seperti Kaifa Nurobbi Auladana, Nida, dan Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Dan… masya Allah…
Semua perjalanan kami sebagai Homeschooling family terjawab disini…

Ada dua dalil yang disebut2 terus di semua kitab. Dan masyaAllah, sangat menguatkan saya dan keluarga untuk melanjutkan homeschooling:

Yang Pertama
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَاللَّهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاًوَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada seseorang melalui tanganmu lebih baik bagimu dari pada memperoleh unta merah (Hadits shahih, riwayat Bukhari & Muslim)

Yang Kedua
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Kemarin ustadz mengkonfirmasi seorang HSer parent insyaAllah bisa mendapat keempatnya… dengan ijin Allah. 😍😍😍

image

Mierza Miranti
Kisah Klastulistiwa
di gerimis sore Jogja
5 Maret 2016

My Reflection, My Thoughts, Parenting

HELICOPTER PARENTING

***Orangtua Helikopter***

Nulis konten buat website parenting kemarin itu ternyata lebih lama dari biasanya. Kaget dengan data2 yang diberikan. Takut karena, bisa jadi, saya adalah salah satunya.

image

Fenomena Budaya
Data-data yang didapat dari sedikit penelitian, salah satunya dari Shiffrin et al yang berjudul  “Helping or Hovering? The Effects of Helicopter Parenting on College Students’ Well-Being“, tersebut menyebutkan bahwa orang tua jaman sekarang lebih banyak yang paranoid atau over-protektif. Fenomena ini disebut orang tua helikopter.

Cirinya?
Sang orang tua selalu ada di sebelah anaknya 24/7 laksana bayangan. Dari kecil, hingga besar. Iyap. Riset tersebut menyebutkan bahwa sekarang orang tua sangat ingin anaknya sukses menurut standar yang diterima. Bahkan banyak yang ikut heboh mendaftarkan anak-anaknya ke perguruan tinggi hingga melamar pekerjaan! Sesuatu yang jarang saya temui di masa lalu saya.

Misinya? Mereka ingin melindungi dan memastikan semuanya sempurna. Kalau kurang, sini tak ambil alih!

Lalu, apa penyebabnya?
Ternyata ya orang tua sendiri. Derasnya informasi tidak dibarengi dengan literasi, semua dilahap, dihayati, dibagi, dipercayai, dan ditakuti diri sendiri. Padahal berada di sekitar anak sebagai CCTV sudah cukup membuat anak aman dan nyaman,  karena dilepas juga sama berbahayanya.

Lha ini, semua dicurigai. Dari virus kuku mulut rambut, sampai tukang tahu yang lewat.

Menurut Saya
Jika kita merujuk ke nash-nash shahih, dan menerapkannya, InsyaAllah hati ini tenang. Percaya Allah menjaga melalui perintah dan larangan. Coba lihat semua precautions atau peringatan ( kalau  memang kata nasihat dianggap oldschool ) yang diberikan, semua mengandung kebaikan. Tentu yang utama berdoa meminta perlindungan kepada penguasa segala mahluk, Allah Azza wa Jalla.

Jadi…

Sebentar…

Saya ngajak diri sendiri dulu aja, ya. Kuatir tidak cukup ilmu mengajak yang lain untuk bercermin.

Apa saya over protektif dengan tidak percaya bahwa ada Allah yang  maha menjaga ciptaan? Apa saya kepedean mengabaikan aturan dan larangan Allah? Jika iya, maka sudah saatnya ngelmu lagi. Belajar menjaga amanah sebagai orangtua. Hayu ah.

Homeschooling

Praktek Penanaman Adab dan Akhlak Dalam Pendidikan Rumah

💐💐💐💐💐💐💐💐
Kulwapp Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) TANGERANG
23 oktober 2015 pukul 13.00
💐💐💐💐💐💐💐💐

image

Tema kita dua jam ini adalah
💛💙💜💚❤💛💙💜💚
“Praktek Penanaman Adab dan Akhlak Dalam Pendidikan Rumah”
💛💙💜💚❤💛💙💜💜

💖 MATERI 💖

Praktek Penanaman Akhlaq& Adab Dalam Pendidikkan Rumah
🌱🌱🌼🌼🌱🌼🌼🌱🌱

Bunda kumpulkan duo mujahid malam itu ba’da isya seperti biasanya. Bunda membuka iftitah halqah dengan salam, hamdalah, dan shalawat kepada baginda Muhammad. Kemudian Bunda buka materi halqah malam itu dengan sebuah pertanyaan….

“Duhai mujahid- mujahid bunda, Tahukah nanda, apa itu adab bagi seorang muslim?”

Bunda tunggu sejenak. Big A mujahid terlihat berpikir untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaan bunda, jujur bunda sangat-sangat deg-degan  menanti jawaban jawaban mujahid yang besar yang baru memasuki gerbang usia pra baligh. Bunda ingin menakar hasil madrasah rumah kami selama ini. Bunda ingin menakar efektivitas keberpengaruhan kami selaku orang tua dalam hal keteladananan menghiasi diri dengan akhlak karimah pada diri mujahid. Bunda juga ingin meluruskan jikalau saja jawaban mujahid keliru. Ummahat shaalihat  tahu apa jawaban mujahid?

Sang mujahid kemudian berusaha menjawab, “Hukum Allah”, “Perintah Allah”. Alhamdulilllah, walaupun tidak tepat 100% jawaban yang diinginkan kepada mujahid telah menunjukkan pemahamannya yang lurus. Bahwa ahlaq bukan sekedar sifat moral.
Mujahid bunda , memang begitulah adanya bahwasannya ahlaq bukan sekedar sifat moral melainkan bagian dari syariat, juga merupakan bagian dari perintah  dan larangan Allah.Dan setiap muslim termasuk anak-anak  wajib bersunguh-sungguh menghiasi dirinya dengan akhlaq-akhlaq yg baik yang berkesesuaian dengan syariat.

Selanjutnya bunda  menjabarkan ta’rif (definisi) akhlaq adalah sebuah kenisyaan agar ananda mampu memahami konsep akhlaq dengan tepat.
❓Lalu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia (baik) atau husn al-khulq  ?
▶ Di dalam tafsirnya, Abdullah ibn al-Mubarak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi,menyebut husn al-khulq sebagai: selalu bermuka manis; biasa melakukan kebajikan, diantaranya dengan biasa memberikan nasihat kepada orang lain dengan kata-kata yang
baik, ringan tangan (mudah membantu orang lain), jujur, dll; serta sanggup menahan diri dari
sikap menyakiti orang lain baik lewat ucapan maupun tindakan.
Dan yang perlu digarisbawahi oleh para orang tua bahwa Akhlaq harus dibangun diatas landasan aqidah.

Begitupun realitasnya dengan adab,bunda menjelaskan pada mujahid dengan  mengutip apa yang disampaikan oleh Abu Zakaria al-Anbari berkata: Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad (Imam as-Sam’ani, Adab al-Imla’ wa al-Istimla’; al-Khathib al-Baghdadi, Kitab al-Jami’, juz I, hal 17).Maka, ilmu dan adab harus menyatu dalam diri muslim, dan semestinya semakin berilmu, harus semakin beradab.
Mujahid – mujahid bunda

▶Apa itu adab?
Dalam Islam adab merupakan bagian dari akhlak.
“Bunda bagian dari akhlak islam maksudnya…” mujahid bertanya
Mujahid bunda ^^ Islam adalah Diin yang sempurna, yang tidak sekedar mengatur ibadah ritual semata, namun islam juga mengatur aspek akhlak. Sebagai bagian yang tak bisa dilepaskan dari bangunan islam, pengaturan akhlak dalam islam memiliki nilai untuk memberikan keunggulan atau keluhuran bagi yang melaksanakannya. syariah islam telah memerintahkan kaum muslim untuk menghiasi setiap perilakunya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum muslim dari akhlak tercela. Abdullah bin Amr ra. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).
Fahimtum?
Begitu rona lingkaran dalam majelis halqoh malam itu.
Ummahat fillah berikut sekedar tips-tips sederhana dari kami tentang …

▶Cara Menanamkan Adab pada anak
Menanamkan adab  harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah.

▶Step by step penanaman adab.

🍒Pertama: tanamkan aqidah yang kuat. aqidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan dan melahirkan kesadaran bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak yang didalamnya menjelaskan konsepsi tentang adab dalam segala hal. Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan adab-adab tersebut semata-mata karena Allah .Aqidah dulu sembari penanaman adab secara simultan.

🍒Kedua: Jadikan Rosulullah sebagai qudwah wa mitsal(keteladanan dan contoh dari segala aspek)

🍒Ketiga: jadikan ortu sebagai prototype terdekat dalam hal keteladanan dan contoh terhadap Rosulullah.

🍒Keempat: Jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Karena saat ini kita tidak hidup dalam habitat kehidupan yang islami, sehingga memang memaksa keluarga muslim untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan  yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan yang buruk. Berikanlah penjelasan dengan  bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.

🍒Kelima: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga Adab. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan  buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antartetangga. Inilah yang dimaksud kontrol sosial yang harus ada untuk menjaga pelaksanaan syariatNya.

Bukankah menghiasi diri dengan ahlak dan adab adalah prestasi luar biasa saat kita tahu anak-anak kita telah menampakkan tanda-tanda memasuki kehidupan yang baik (hayyatan thoyibah)? Dengan mengikatkan diri mereka terhadap aturan Allah , Kehidupan yang membuat mereka merasakan betapa luhurnya budi pekerti manusia. Kehidupan yang menjanjikan imbalan terbaik di akhirat sebagaimana janji Allah Ta’ala👍

WalLahu a’lam bi ash-shawab.

💐💐💐💐💐💐💐💐💐

💖 PERTANYAAN 💖

⭐ TERMIN I ⭐

🌸 Pertama 🌸

“Umm, sampai ufsia berapakah anak harus ditemani jika bermain di luar. Terutama jika lingkungannya tidak begitu mencerminkan nilai akidah yang baik?”
🍂Ummu Abdullah, Tangerang🍂

🍄 Jawaban 🍄

“Bismillah
ummu dalam islam pendidikan itu berkesinambungan dari usia paud, pra baligh hingga baligh, adapun pendampingan pada ananda untuk perhatian ekstranya pada usia paud bentang umur daro 0 hingga 6 tahun karena usia ini adalah peletakan dasar pondasi aqidah, melatih pembiasaan konsep diri positif serta menguatkan pengaruh orang tua dalam transfer attitude ( nilai2 termasuk didalambya ahlak dan adab) karena karakter dasar pada usia paud adalah para peniru ulung sehingga sangat2 efektif mendidik dgn keteladanan, dan juga harus ada upaya pencerdasan masif berupa edukasi bagi lingkungan sekitar agar tetangga tidak meninggalkan jejak kebiasaan yg tdk ahsan bagi ananda.tentu dengan cara yg ahsan”
🌿🌿🌿🌿🌿

🌸 Kedua 🌸

“Bagaimana seharusnya adab qt sebagai orang tua dalam menanggapi fenomena hidup sederhana seperti yg dicontohkan Rasululloh … Disisi lain hidupnya berkecukupan bahkan lebih”
” Dulu saya 6 bersaudara biasa hidup sederhana … Telor ceplok 1 buat Ber 2 bahkan Ber 4 … Sehingga lebih menghargai makanan ….Tp anak jaman skrg?? Makanan pilih2 ya memang karena ada …. Bagaimana ya bisa bersederhana tanpa juga terlihat tidak mensyukuri apa yg ada”
🍂Lulik, HSKM Tangerang🍂

🍄 Jawaban 🍄

“Bunda lulik shalihah meneladani rosulullah dalam hal keteladan dalam ruang kesederhanaan adalah sebuah perkara yang mubah ( boleh) namun yang perlu diperhatikan yaitu makna sederhana adalah bagaimana menggunakan harta tidak di jalan kesia sia2an , bila kita dianugrahi hidup yang berkecukupan tentu kita wajib menghiasi diri kita dengan rasa syukur ( Tahadduts bin ni’mah ) dengan membelanjakan harta dijalan Allah sebagaimana Rosulullah mencontohkan”
“kesadaran akan makna hidup sederhana dalam konteks rasa syukur bisa terpatri dalam jiwaseseorang karena adanya sebuah pemahaman, pemahaman yang dibangun dari pemikiran yang paling mendasari kehidupannya yaitu mapping life seseorang ( aqidah) , dari aqidah terpancar aturan salah satunya seruan Allah dalamfirmannya وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَٮِٕنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ‌ وَلَٮِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِىْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.”
[QS. Ibrahim: Ayat 7], sehingga menyematkan rasa syukur atas nikmat2 dari Allah adalah sebuah keniscayaan karena itu adalah kewajiban maka dengan dorongan aqidah yang kokoh secara rela kita akan menghiasi kehidupan kita dalam kesederhanaan berbalut rasa syukur yg mendalam”
🌿🌿🌿🌿🌿

🌸 Ketiga 🌸

“Adab apa dulu yg harus ditanamkan untuk anak usia 4,5 tahun? Bagaimana cara menanamkannya? Karena dg dinasihati saja pasti nggak mempan”
” Sebenarnya bukan lebih unggul, tapi yg dibiasakan duluan hehhe…karena sudah 4,5 tahun dan ibunya dulu agak teledor, jd apakah kita fokus mengubah yg jelek atau menambah yg dia belum tahu? Eh…sama ajah y?”
🍂Ephy, Tangerang🍂

🍄 Jawaban 🍄
“Bunda Ephy nan shaaliha adab adalah bagian dari aklak, yang merupakan salah satu syariat Allah, semua adab harus kita biasakan dari usia dini secara simultan dalam lingkaran aktifitas dari bangun tidur hingga kita tidur lagi wajib bagi kita menghiasi diri dengan akhlak karimah maupun adab .termasuk usia anak paud. Jadi tidak ada satu adab lebih unggul dari adab yang lain karena nilai amal yang kita raih adalah qima khuluqiyah ( nilai akhlaq)”
” Thayyib melanjutkan jawaban bunda Ephy, bunda tidak ada yg lebih unggul bermakna bahwa semua adab harus dibiasakan bisa kita mulai dari adab bangun tidur dilanjut amaliyah/aktifitas keseharian ananda tentu disetiap amal harus dihiasi dgn akhlaq dan adab :), yang pertama harus ditanamkan pengokohan aqidah bunda , karena aqidah pondasi ( iman ) baru adab ( karena salah satu hukum Allah)”
🌿🌿🌿🌿🌿

🌸 Keempat 🌸

“Bagaimana menyikapi anak tetangga yang kurang baik akhlaknya sdgkan orang tuanya mendiamkan (maklum anak2) tanpa menyulut konflik dgn orang tuanya?”
🍂Sukma, pamulang🍂

🍄 Jawaban 🍄

“Secara umum tentu kita memanggil anak tetangga tadi menanyakan perihal kenapa melakukan amal yg tdk terpuji.sembari kita nasehati dengan bijak sesuai level usianya, kemudian kita komunikasikan dgn ortunya tentang perihal anaknya, bahwa ortu tdk bisa diam saja bila sikap tdk terpuji td meninggalkan jejak yg tidak baik bagi jiwa anak kita maupun anak tetangga dalam pembentukkan pola jiwa anak2 tersebut. Apalagi usianya usia paud, harus terus ada pembiasaan”
🌿🌿🌿🌿🌿

🌸 Kelima 🌸

” 🌻🌺🌹🌸🌷🌻
Adakah cth teknik menasehati anak tetangga atau lingkungan yg kurang mendukung itu. Biar gak menyulut konflik. Mungkin soal berkata2 kasar atau kotor”
🍂 Yuli, HSKM Tangerang 🍂

🍄 Jawaban 🍄
” Contoh nasihat dengan entry point. Sains berbasis aqidah nanda sholih/ah Mulut adalah ciptaan  Allah”. Mulut merupakan salah satu panca indera yang diciptakan Allah dan wajib kita syukuri. Mulut digunakan untuk berbicara yang baik, berdzikir, mengaji, bahkan dengan mulut kita bisa bershodaqoh melalui senyum kita. Tentu anak sholih/ah yang mencintai Allah dan RosulNya bila disampaikan nasehat maka akan berkata samina wa tho’na ( kami dengar dan kami taat)”
🌿🌿🌿🌿🌿

⭐ TERMIN II ⭐

🌸 Pertama 🌸

“Ummi, ketika kontrol sosial banyak ikut campur (maksudnya intervensi secara langsung ke anak), contoh : nenek, kakek, uwak, oom, tante dan tetangga sekitar bagaimana orangtuanya bisa memilah dan menjelaskan ke anak?”
🍂 Ayu di Bandung 🍂

🍄 Jawaban 🍄
” Bunda ayu nan shalihah satu-satunya jalan adalah dengan menguatkan pengaruh orang tua ke ananda sembari mengkomunikasikan serta mensosialisasikan dengan pihak kerabat kita tentang visi misi pendidikkan kita pada anak2 kita spt apa. Bila ada perbedaan harapannya dengan adanya komunikasi bisa menjadi jembatan dalam mendukung visi misi kita dlm mendidik anak”
🌿🌿🌿🌿🌿

🌸 Kedua 🌸
“Mau minta contoh bentuk penanaman aqidah dlm membimbing adab anak2 sehari2 di rumah. Contoh konkritnya. Jazaakillah khayran”
🍂 saya Furi usia 35th anak: Dzitha 6thn dan Alisya 16bulan.🍂

🍄 Jawaban 🍄
“Pembahasan aqidah satu sesi tersendiri ☺, thayyib coba di ringkas
Contoh kenapa aklaq harus dibangun diatas aqidah dalam perkara jujur misalnya
Kenapa harus landasan Aqidah?
Karena setiap muslim termasuk anak-anak kita wajib mensifati dirinya dengan akhlaq yang baik hanya atas pertimbangan bahwa Akhlaq tersebut merupakan bagian dari perintah dan larangan Allah bukan lainnya. Dengan demikian anak akan berbuat jujur, karena Allah memerintahkan untuk jujur bukan dilakukan untuk mewujudkan kemanfaatan materi seperti agar dapat banyak teman dll.
Perkara inilah yang bisa membedakan kejujuran seorang anak muslim dengan yang lainnya. Karena kejujuran seorang anak muslim semata2 karena Perintah Allah, kejujuran yang lainnya bisa jadi karena untuk memperoleh materi. Sungguh berbeda jauh antara kedua jenis kejujuran tersebut
Akhlaq akan muncul dalam diri anak2 kita bila anak memiliki kesadaran hubungan  dengan Allah”
🌿🌿🌿🌿🌿

🌸 Ketiga 🌸

“bgmn membangun adab pd anak, bila ia cenderung sering melawan. usianya 6 th, tp bila disampaikan nasehat malah suka main” anaknya. mukanya dimiring”in, ngoceh” sendiri…
jazakillah mba…
🍂 Irene, Bogor 🍂

🍄 Jawaban 🍄
” Bunda Irene shalihah harus dituntaskan dulu konsep penanaman  bilur walidain pada ananda dengan memberikan pemahaman keteladanan bahwa berbuat baiklah kepada kedua orang tua mu adalah perintah Allah , termasuk dalam hal perkara mendengarkan kebaikan yg disampaikan oleh orang tua, bilur walidain adalah salah satu syariat Allah , agar nasehat membekas tanamkan aqidah yang kokoh tentang mamping life gambaran kehidupan secara tuntas. Sehingga ananda paham misi ia diciptakan setelah iman menghujam insyaAllah adab akan mudah melekat dalam jiwa.sembari bunda berdoa meminta kepada Allah agar ananda menjadi qurota a’yun. Yang hatinya mudah menerima kebaikan dari siapapun ia tumbuh  tawadhu dan senantiasa merasakan maiyyatullah ( bersama Allah) Beramal dengan ikhsan”
🌿🌿🌿🌿🌿

💞 Kata Penutup 💞

MasyaAlloh Jazzakillah khairan katsira , Umm. Sayangnya masuk ashar untuk WIB. Masih ada 2,5 termin pertanyaan lagi

InsyaAllaah akan dijawab narasumber di waktu senggang

Untuk kajian hari ini  kita tutup dulu yaa 🙂

Mari kita tutup diskusi kita dengan doa kafaaratul majelis
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ، ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ، ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ،
ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu. Mohon maaf atas segala khilaf. Dan saya akhiri Wassalamu’alaikum warah matullahi wa barakaatuh

💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐

BIODATA NARASUMBER
Ummu Ammar

Ibu Rumah Tangga
Pengemban Dakwah
Founder Rumah Belajar Pemrograman untuk anak CodingBunay Praktisi Islamic HomeSchooling pengisi islamic parenting berbasis aqidah islam

💐💐💐💐💐💐💐💐 💐💐💐

Moderator : Mierza Miranti
Notulen : Muliani Rozana

Homeschooling

Rencana Mosqueschooling Bareng Komunitas Homeschooling

Sejak memulai homeschooling, sebenarnya saya yang ketar ketir soal sosialisasi anak. Karena itu, saya mulai deh pencarian komunitas homeschooling di Tangerang Selatan ini sesegera saya pindah ke sini. Ketika saya heboh mencari dengan perasaan saya yang kebat kebit, meskipun menc0ba menolak ketika ada prasangka bahwa homeschoolers aneh dan gak gahul, eh anak saya malah sudah berteman dengan tetangga sekampung dengan bahagianya. Dan itu saya sadari ketika saya sudah bergabung dengan beberapa KOMUNITAS HOMESCHOOLING.

Semoga saja ini menjadi jalan kebaikan yang membuat saya beneran punya rumah di Tangerang. Aamiin.

Nah, salah satu komunitas yang saya ikuti sampai saa ini adalah HSKM Tangerang. Awalnya, saya jadi admin bareng rekan Admin yang baik hati, yaitu Uni Lia. Beliau memegang area Tangerang dan saya di Tangsel karena lokasi rumah kami. Saya seneng banget bisa obok-obok grup ini bareng beliau, hehe, karena bisa buat dari awal. Konsep yang ingin kami usung setelah setelah homeschooling adalah mosqueschooling. Yup, co-op untuk memakmurkan masjid. Pertemuannya pun berkurikulum yang terinsiprasi dari IB, tapi sebenarnya basisnya saya ambil dari buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam karangan DR. Abdullah Nashih Úlwan. Ahasil, inilah rancangan mosqueschooling yang akan kami lakukan, insyaAllah. Oh iya, sebelum mosqueschooling, biasanya kami mengambil tema kajian Whattsup yang berkaitan. Hal ini supaya kami sebagai orang tua juga belajar sebelum ‘mengajari’dan menjadi sumber ilmu anak kami. Nah, ini dia… Bismillah.

HSKM Coop Ideas - Klastulistiwa

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Merancang Kurikulum (HS) PAUD Berdasarkan Tumbuh Kembang

Jpeg

Berikut ini adalah Standar Tumbuh Kembang Anak Bayi – 6 Tahun untuk para Ibu yang ingin memberikan yang terbaik untuk permata yang diamanahkan. Bukan buatan saya tentunya. Sila klik untuk langsung ke sumbernya.

Dalam berkas-berkas yang pasti dimulai dengan pendahuluan itu, ada bagian yang saya sukai, yaitu PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI:

  1. Berorientasi pada Perkembangan Anak
  2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak (fisik dan psikis)
  3. Bermain sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
  4. Berpusat pada anak
  5. Lingkungan yang kondusif
  6. Menggunakan pembelajaran terpadu
  7. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
  8. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
  9. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang–ulang
  10. Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan
  11. PemanfaatanTeknologiInformasi

Nah, ini dia.. silahkan.

Standar Perkembangan Anak Usia 1-6 Tahun

Catatan saya: standar di atas merupakan acuan, bukan goal yang kudu dan wajib dikejar. Hal ini karena setiap anak itu unik dan memiliki kecepatannya sendiri. Yang bisa dilakukan orang tua adalah berdoa dan memberikan exposure yang sesuai usianya.

Oh, iya saya juga cantumkan ceklis tumbuh kembang dari negara tetangga beda RT, Australia sebagai perbandingan. Yang ini sampai usia 13 tahun. Silahkaan…

Development Checklist NSW

Terus??? Mana kurikulumnyaaaa? Hehe.. sekali lagi.. berhubung saya penganut better late than early, jadi begini saja langkah-langkahnya ya:

  1. Fokus pada tabel usia anak
  2. Buatlah ceklis
  3. Silahkan googling aktifitas atau mainan yang sesuai dengan ekspektasi tumbuh kembangnya. Ada banyaaak sekali inspirasi dari internet yang bisa diterapkan.

Bagi yang memerlukan Acuan Kurikulum Nasional terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini serta Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, silahkan mengunduh di bawah ini

Homeschooling, Parenting

Belajar dari Para Ilmuwan yang Menjadi Ulama

Sekarang ini, ‘ilmuwan-ilmuwan’ jaman renaisans hingga modern banyak yang dimunculkan . Mereka terkadang menjadi standar ‘cita-cita’ para penuntut ilmu.

Sayangnya, para idola itu sangat banyak yang mengajarkan hedonisme untuk dijadikan tujuan utama. Bahkan tidak jarang yang memisahkan kehidupan akhirat karena dianggap sebagai beban.

 

Adalah Allah satu-satunya tempat meminta, termasuk didalamnya memohon agar mendapatkan anak shalih dan shalihah. Salah satu yang bisa dilakukan orang tua adalah mengenalkan ilmuwan- ilmuwan yang menjadi ulama. Mereka yang memilih kekekalan daripada kefanaaan. Bukankah hidup ini adalah penjara bagi orang Mukmin?

image

🔬Berikut ini adalah tautan dari situs yang bergizi: rumaysho.com yang dikelola oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Silahkan klik masing-masing nama untuk belajar dari  kisah-kisah ahli ilmu Diin.. yang qadarullah awal mulanya adalah seorang ilmuwan.

Siapa saja mereka?

1. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim penulis Kitab Shahih Fiqh Sunnah yang terkenal, dulunya kuliah di Teknik di salah satu universitas di Mesir.

2. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, dulunya kuliah di Teknik Manajemen Industri di Saudi dan berguru pada Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

3. Syaikh Musthafa Al-Adawi, lulusan Teknik Mesin di Mesir lalu belajar pada pakar hadits Syaikh Muqbil di Yaman.

4. Syaikh Amru bin Abdul Mun’im Alu Salim, lulusan Ilmu Komputer di Mesir dan menjadi pakar hadits saat ini.

5. Syaikh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam, lulusan kedokteran dari Universitas Iskandariyah dan juga mengambil kuliah Syariah di Universitas Al-Azhar Mesir.

 

Semoga Allah memudahkan kita mengamalkan ilmu yang didapat serta melindungi anak-anak kita dari fitnah akhir jaman dan dikuatkan menjadi Al Ghuraba.

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Kurikulum Homeschooling Nasional SD-SMA

Laman ini didedikasikan khusus untuk para orang tua yang kebingungan mencari kurikulum untuk homeschooling yang dikelola berbasis keluarga. Yang dimaksudkan adalah kurikulum nasional ya.

DISCLAIMER: Meski saat saya mengetik ini (2024) sudah memakai kurikulum merdeka, tapi cara ini masih relevan dan efektif bagi kami melaksanakan homeschooling selama 9 tahun++

Berikut saya unggah link SK-KD untuk Ayah Bunda kelola di HS anaknya. Caranya gampang kok. Ini yang saya lakukan di Aishahomeschool:

  1. Ketahui level anak anda, misalkan 1 SD
  2. Unduh unit pendidikan yang sesuai pendidikan anak, misal SD. Oh iya, saya mengunggah SK-KD dan Paket. Kedua folder isinya sama yaaa… Jadi, cukup pilih salah satu saja.
  3. Buka folder unit (misal SD). Oh iya, isi dari Kejar Paket dan SD/MI itu sama yaaa… hanya ingin mengunggah untuk alasan pentingL biar Ayah Bunda tahu.
  4. Pilih mata pelajaran yang ingin anda ajarkan. Anda boleh mengajarkan semua mata pelajaran yang terdapat ddalam folder, tapi kalau kami hanya yang diujikan saja (PKN, BI, IPA, IPS, Matematika + agama Islam)
  5. Lihat Kompetensi Dasar.. KD adalah apa yang harus Ayah Bunda capai dalam pembelajaran buah hati. Carilah pembelajaran/ kegiatan yang menyenangkan dengan KD tersebut – yang kalau bisa berdasarkan Bloom Taxonomy yang intinya adalah mengajarkan anak dengan  6 tahap pembelajaran. Dari mudah ke gampang. Dari nyata ke abstrak akan lebih baik.

 

Contoh ya.

Kita ambil pelajaran Bahasa Indonesia. Jika Kompetensi Dasarnya adalah menyebutkan tokoh dalam kisah thabi’in, maka kegiatannya dapat melihat dari kata kerja setiap level Taksonomi Bloom (lihat gambar di atas) adalah:

Remembering (level mengingat): Recall (menyebutkan kembali nama tokoh)

Understanding (level memahami) : Describe (menyebutkan ciri-ciri tokoh)

Applying (level aplikasi) : Choosing (memilih karakter yang sesuai dengan tokoh)

Nah, jika masih kelas awal, biasanya hanya akan sampai level Understanding . Tapi kalau anak anda tingkat ingin tahunya tinggi, jangan takut untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Oh iya, kita juga bisa cari kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di internet loooh. Tinggal ketik kata kunci dari KD atau lebih bagus lagi kata kerja dari Taksonomi Bloom.

Aaaaaa… pusiiing!

Tenang..  ada life hack-nya kok. Tinggal unduh aja buku-buku gratis dari BSE. Tinggal kunjungi Pertal Buku Sekolah Elektronik Kemdikbud di bse.kemdikbud.go.id.     Tapi, saaran saya, silahkan lihat materi dan perkaya dengan hands-on experience yang beredar luas di dunia maya.

Baiklah, silahkan unduh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang Ayah Bunda perlukan dari tautan di bawah ini:

  1.  SK-KD SD atau Paket A
  2. SK-KD SMP atau Paket B
  3. SK-KD SMA atau Paket C

Bagi yang penasaran tentang kurikulum merdeka, sila klik capaian pembelajarannya di sini ya. 

Demikian. Selamat belajar. 🙂

 

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Belajar Adab di MOS Aishahomeschool

Meski hanya mengajarkan satu atau dua anak, MOS atau Masa Orientasi Siswa itu penting lho di homeschooling Islami. Di Aishahomeschool, kami menghabiskan satu bulan penuh mempelajari Adab-Adab Penuntut Ilmu.

Bagaimana caranya?
Karena Aisha Jenna masih 8 tahun, Aqeela Isma 4 tahun, tentu bahasanya disesuaikan dengan usia. Cara menyampaikannya dengan beragam cara, dari mulai diskusi, berkisah ( bersumber dari cerita nabi, rasul, shahabat, thabiin, thabiut thabiin), main, cut-paste activity, menonton klip yutub, sampai membuat display ( yang akhirnya dipajang di pintu depan.

image
Kami memutuskan untuk menempelkan di pintu. Hehe.

Apa saja adab-adab itu?

Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu. Memang tidak persis seperti yang kami bahas di masa orientasi, sih, tapi berhubung file saya hilang (curhat) inilah inti yang bisa saya bagikan.

1⃣ Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah.

Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

2⃣ Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.

Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat.

3⃣ Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4⃣ Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala

Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.

5⃣ Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

6⃣ Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru

Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

7⃣ Diam ketika pelajaran disampaikan

Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

8⃣ Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalaman. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

9⃣ Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

10⃣ Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan

Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran dan poin-poin penting agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

11⃣ Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari

Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

Sumber kajian Adab: Tematik BISA

Referensi:
Disarikan dari berbagai sumber..

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Libur Idul Adha, Ngapain Ya?

***Catatan: posting ini mengandung printables 😀 ***

Aisha Homeschool libur! Eit, tapi bukan sembarang libur lho. Ini satu dari dua hari raya yang dirayakan muslim seluruh dunia. Namanya libur apa, saudara-saudara? Ya, betul: IDUL ADHA!

Libur lama, Aisha Homeschool ngapain aja? Selain shalat Ied dan jalan-jalan, insya Allah ini rencana kami:

1. Mengajarkan shaum Arafah dan keutamaan biasa di hari Arafah.

image

2. Membuat miniatur kabah.

Buat sendirikah? Oh, tentu saja.. tidak. Hehe.. saya unduh dari sini . Supata mudah, saya unggahkan ya. Klik saja gambar di bawah ini untuk mengunduh. Saya cetak menggunakan kertas A4 lalu ditempel di kotak susu bekas. Awalnya terpikir menggunakan kertas foto, tapi ah sudahlah… biar hemat. Ohya, biar Ka’bahnya gak mleyot (apa ya bahasa Indonesianya?), saya isi kertas sampai penuh. Silahkan berkreasi.

image

Jadi ada 3 bagian, yaitu:

  1. Halaman cara membuatnya. Boleh print atau tidak. Saya sih, nggak. Biar hemat. *teuteup*

Cara membuat miniatur

 

 

2. Halaman yang digunting, lipat, lem, tempel.

MIniatur untuk digunting tempel

 

 

 

 

 

3. Alas Miniaturnya

Alas Miniatur Kabah

3.  Mewarnai peta haji untuk anak balitaku

Buat sendiri, Bu? Nggak. Saya download dari sini. Silahkan klik gambarnya ya.

Hajj Map

4. Lihat gambar di Google Image sambil bercerita. Duh, ini jadi andelan deh kalo di perjalanan atau tempat umum. Lumayan bikin anteng.

5. Bercerita tentang nabi Ibrahim dan Ismail. Tapi ingat ya… harus berdasarkan sumber yang shahih seperti dari sini . Sambil bercerita, bisa membuat craft seperti ini loooh….

Eid Al-Adha toppers dari HafsaCreates di etsy.com. Dapetnya dari themuslimahmommy.com (panjang yah sumbernya)

Silahkan terinspirasi…

Dari http://colorislam.wifeo.com/aid-el-adha.php

And finally.. Ied Mubarak saudara-saudara muslimkuuuuu….

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Metode Homeschooling

metode homeschoolingSebagai orang tua kita bebas berkreasi dalam menjalankan homeschooling. Mau menggunakan metode tertentu, menggabungkan metode – metode yang dirasa cocok untuk anak, atau mengembangkan metode yang ada.

Kalau Aisha Homeschool, bagaimana? Kami menggunakan metode pendidikan yang diajarkan Rasulullah dengan pemahaman para salafush shalih. Sedikit dipadukan dengan metode inkuirinya IB dan Montessori juga – untuk saat ini. Bisa jadi kami disebut sebagai pengguna metode eklektik yang menitik beratkan pendidikan Tauhid dan ilmu Diin, disamping pelajaran-pelajaran lainnya. Nanti kami buat dalam posting terpisah ya.

Nah, sekarang kita bahas mengenai adalah model – model homeschooling yang populer digunakan.

Sekolah Rumah

Sekolah rumah dapat digambarkan sebagai sekolah yang dipindahkan ke rumah. Metode ini mengambil model dari sekolah formal, dimana ada jadwal belajar, mata pelajaran, kurikulum, dan lain – lain. Beberapa pelaku homeschooling menggunakan metode ini akan tetapi membuat sendiri perencanaan belajarnya dan mencari sendiri materi pelajaran. Keuntungan metode ini dimana keluarga mengetahui dengan pasti apa yang akan diajarkan dan kapan akan diajarkan. Kerugian metode ini adalah membutuhkan lebih banyak usaha orang tua / pengajar karena berhubungan dengan kesesuaian formalitas.

Unit Studies

Metode ini memanfaatkan minat anak anda dan kemudian menggabungkannya ke dalam subjek pelajaran seperti matematika, membaca, mengeja, ilmu pengetahuan, seni, sejarah, dan lain – lain. Sebagai contoh, jika anak menyukai negara Mesir, anda dapat mengajarkannya sejarah Mesir, membaca buku tentang Mesir, menulis kisah tentang Mesir, melakukan proyek yang berhubungan dengan pyramid, dan mempelajari mengenai artifak – artifak mesir.

Keuntungan metode ini adalah anak – anak dapat belajar dengan menyenangkan sehingga tujuan pendidikan mencapai hasil yang maksimal. Sementara kekurangannya adalah terkadang orang tua terlalu bersemangat membuat materi pelajaran dari segala hal yang disukai anak, sehingga anak menjadi ‘takut’ untuk mengatakan hal – hal baru yang mereka sukai.

Relaxed/Eclectic homeschooling

Metode ini paling sering digunakan oleh pelaku homeschooling. Pada dasarnya eclectic homeschooling adalah menggabungkan metode – metode yang dirasa cocok untuk anak. Ambil sedikit dari sini, ambil sedikit dari sana kemudian digabungkan. Orang tua bebas memilih buku, kegiatan ekskursi, dan memberikan materi sesuai kebutuhan dan ketertarikan anak. Menggunakan metode ini memerlukan usaha lebih orang tua untuk menemukan materi – materi yang sesuai dengan ketertarikan anak dan sesuai dengan gaya belajar anak.

Deschooling

Unschooling jangan diartikan tidak sekolah ya.. Ini adalah metode homeschooling yang paling natural. Sebagaimana anak belajar berbicara dan berjalan, seperti itulah metode ini diterapkan untuk mempelajari matematika, ilmu pengetahuan, membaca, dan lain – lain. Anak pelaku unschooling belajar dari pegalaman sehari – hari. Tidak ada jadwal belajar dan tidak ada pelajaran formal. Semua pengalaman kehidupan yang mereka jalani adalah pembelajaran. Karena metode belajar secara natural, anak – anak mungkin membutuhkan waktu lebih dalam memepelajari suatu subjek dibandingkan menggunakan metode sekolah formal. Akan tetapi bila anak telah siap untuk belajar dan penuh motivasi maka dia bisa menungguli teman – temannya yang bersekolah formal karena anak ini lebih menikmati dan termotivasi dalam belajar.

Keuntungan metode ini adalah anak – anak memiliki waktu dan kemampuan untuk menjadi ahli/pakar di bidang yang mereka minati. Sementara kerugiannya adalah karena pelaku unschooling tidak mengikuti jadwal belajar ‘biasa’, mereka akan mengalami kesulitan dalam ujian – ujian pendidikan formal dan akan sulit bagi mereka jika mereka kembali masuk ke sistem sekolah formal.

Classical Homeschooling

Metode classical homeschooling mengacu pada pendidikan yang menjadi akar peradaban modern Eropa yaitu abad pertengahan Yunani. Tujuan dari classical homeschooling adalah untuk mengajar orang – orang bagaimana belajar untuk diri mereka sendiri. Dalam model pendidikan ini, anak-anak belajar dalam tiga tahap yakni mempelajari struktur bahasa (grammar), belajar logika (logic), dan belajar menyampaikan dan mempertahankan gagasan (retoric). Tahap pertama ketika anak mempelajari bagaimana cara belajar dan memiliki kemampuan untuk mengingat banyak fakta. Kemudian tahap kedua ketika anak belajar untuk menghubungkan fakta – fakta yang diketahui menjadi satu kesimpulan.. Dan tahap ketiga dimana anak belajar untuk menggunakan hubungan fakta – fakta tersebut dan menformulasikan pendapatnya sendiri.

CharlotteMason

 Banyak metode homeschooling yang dibangun dari pemikiran tokoh tertentu. Salah satunya Charlotte Mason. Beberapa gagasan Charlotte Mason yang menjadi inspirasi untuk proses homeschooling antara lain :

Belajar melalui Living books (yaitu buku – buku yang ditulis oleh orang – orang yang memiliki hasrat tinggi terhadap suatu bidang sehingga menginspirasi pembacanya).

Narasi (proses anak menceritakan ulang mengenai isi materi bacaan yang dibacanya dengan bahasanya sendiri)

Habit training (melatih kebiasaan-kebiasaan baik pada anak)

Waldorf

Metode ini berdasarkan hasil kerja Rudolf Steiner dan menekankan pentingnya pendidikan menyeluruh pada tubuh, pikiran, dan jiwa anak. Pada level awal, pembelajaran ditekankan pada seni dan kerajinan tangan, musik, gerakan, dan alam. Untuk siswa yang lebih tua diajari untuk mengembangkan kesadaran diri dan bagaimana memikirkan hal – hal di luar diri mereka. Anak – anak yang menggunakan metode ini tidak menggunakan textbook standar, malahan mereka membuat sendiri buku mereka. Metode ini juga menjauhkan penggunaan televisi dan komputer karena mereka percaya komputer tidak baik untuk kesehatan dan kreativitas anak.

Montessori

Montessori merupakan salah seorang tokoh homeschooling. Adapun gagasan Montessori yang juga menginspirasi proses homeschooling adalah :

  • Fokus pendidikan terletak pada anak. Orang tua hanya bertugas menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk proses belajar anak.
  • Lingkungan belajar yang terkendali
  • Proses belajar dimulai dengan menggunakan alat peraga (nyata), baru setelahnya dikenalkan hal-hal yang abstrak
  • Anak-anak belajar bersama di satu tempat tanpa dibatasi usia

Metode ini juga meminimalkan penggunaan televisi dan komputer, khususnya untuk anak yang lebih muda. Meskipun materi montessari tersedia untuk anak sekolah menengah, kebanyakan pelaku homeschooling menggunakan metode montessori untuk anak – anak yang lebih muda. Buku dan kurikulum metode montessori tersedia di American Montessori Consulting.

Multiple Intelligences

Metode ini adalah ide yang dikembangkan oleh Howard Gardner dan Harvard University’s “project zero”. Metode ini percaya bahwa setiap orang itu cerdas sesuai dengan cara mereka sendiri, dan pembelajaran sendiri paling mudah dan efektif ketika mengandalkan kelebihan orang dari pada kelemahannya. Sebagai contoh, kebanyakan sekolah menggunakan metode bahasa dan logika matematika ketika mengajar, tetapi tidak semua orang belajar dengan metode seperti itu. Kebanyakan pelaku homeschooling yang sukses secara alami menekankan pada kekuatan anak mereka dan mencocokan cara mengajar dengan gaya belajar anak. Jadi tugas orang tua untuk mengetahui bagaimana, kapan, dan apa yang paling disukai dan dibakati anak dan kemudian mencocokan gaya mengajarnya dengan gaya anak.

Video Schooling

Metode ini dapat digunakan dengan semua jenis metode homeschooling. Metode ini menggunakan video – video berkualitas untuk membantu anak memahami pelajaran. Metode ini bukan hanya sebatas menonton televisi. Video yang berkualitas dapat menginspirasi atau membantu anak mengembangkan pemahaman yang kuat dalam mempelajari subjek – subjek yang rumit.

Internet Homeschooling

Memanfaatkan kekuatan internet untuk mengakses tutor virtual, sekolah virtual, kurikulum online, dan website berkualitas. Anda tidak perlu khawatir kesulitan mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan untuk homeschooling anak. Di internet tersedia banyak materi – materi berkualitas.

Pilih yang mana?

 Jadi bingung…pilih yang mana ya? Jangan bingung Ayah Bunda, setiap anak unik dan tugas orang tua membantu memilihkan metode homeschooling yang paling cocok untuk anak. Beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan bagi orang tua dalam memilih metode homeschooling :

  • bagaimana anda memandang pendidikan
  • bagaimana anda ingin terlibat dalam proses pembelajaran
  • apa yang anda inginkan untuk dipelajari anak
  • bagaimana anda mengevaluasi kemajuan anak

Tunggu apa lagi? Ayo Belajar 🙂

Sumber :

homeschool.com

http://www.home-school-curriculum-advisor.com

maftuhajalal.blogspot.co.id

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Persiapan Homeschooling

Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memulai Homeschooling?

wpid-6a013485f24774970c016762f3434c970b-pi.jpegSetelah orang tua mantap dengan keputusan untuk melaksanakan homeschooling, langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan diri sebelum memulai homeschooling. Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum memulai homeschooling?

Percaya Diri

Eit.. jangan tertawa. Ini hal yang pualing penting untuk dimiliki. Karena, kalau percaya diri runtuh, maka runtuhlah pondasi-pondasi sekolah rumah yang akan dibangun. Ingatlah bahwa kita hidup di dalam gaya hidup schooling sejak revolusi industri, lho. Siapkan diri sendiri dulu sebelum yang lainnya.

Memeriksa legalitas homescholling di negara anda tinggal

Di Indonesia sendiri homeschooling itu legal sebagaimana diatur dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Disebutkan bahwa homeschooling termasuk ke dalam jalur pendidikan informal. Siswa homeschooling dapat memilikli ijazah dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sebagaimana siswa sekolah formal. Bagaimanapun juga, setiap negara mempunyai aturan sendiri mengenai homeschooling, jadi sebelum anda menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan uang, akan sangat baik memeriksa terlebih dahulu aturan – aturan homeschooling di negara anda tinggal.

Memantapkan tekad : Apa tujuan homeschooling anda?

Ketika anda memutuskan homeschooling, anda tentu memiliki banyak alasan, mulai dari untuk menghindari ‘bullying’, melindungi anak dari tekanan yang ditimbulkan sekolah, memilih metode pendidikan yang paling tepat untuk anak, mendekatkan hubungan keluarga, dan masih banyak lagi.

Dengan mengingat alasan – alasan ini, akan sangat membantu memantapkan tekad ketika anda menemui kesulitan dan tantangan dalam menjalankan homeschooling.

Kenali siapa yang mendukung anda menjalani homeschooling.

Sangat penting untuk mengetahui siapa saja yang mendukung langkah anda untuk homeschooling. Apakah orang tua anda, tetangga di seberang jalan, atau mungkin teman pengajian. Bergabung dalam komunitas homeschooling akan sangat membantu anda untuk berbagi pengalaman dan menemukan solusi ketika anda menemui kesulitan.

Sama pentingnya juga untuk mengetahui siapa saja yang tidak mendukung anda. Sehingga anda dapat menguatkan niat dan tekad dalam menjalankan homeschooling menghadapi orang – orang yang tidak setuju dengan homeschooling bahkan mempengaruhi mereka untuk memilih homeschooling.

Merencanakan jadwal: Kapan anda akan melaksanakan homescooling

Salah satu keuntungan homeschooling adalah kebebasan untuk mengatur waktu dan tahapan pendidikan anak. Itu semua diserahkan pada Anda orang tua. Memiliki tujuan yang jelas dalam pelaksanaan homeschooling akan sangat membantu anda menentukan jadwal homeschooling anak. Anda sebagai orang tua memiliki banyak pilihan. Apakah jadwalnya harus seperti sekolah? Itu terserah Anda. (Contekan: kalau saya jadwal ini saya ubah jadi ekspektasi yang harus diraih setiap minggunya)

Pelajari mengenai metode – metode homeschooling dan tentukan pendekatan mana yang akan diambil

Sebelum memulai homeschooling, orang tua harus memahami seluk beluk homeschooling dan metode – metodenya. Sehingga orang tua dapat menentukan metode homeschooling apa yang paling tepat diterapkan untuk anaknya.

Memilih kurikulum dan materi : Apa yang akan anda ajarkan?

Kurikulum pada dasarnya adalah panduan dalam melaksanakan pendidikan, sementara dalam pelaksanaan homeschooling sendiri orang tua tetap bebas berkreasi. Ada banyak pilihan kurikulum yang bisa digunakan. Ada kurikulum nasional, Kurikulum Cambridge IGCSE yang digunakan oleh sekolah-sekolah internasional di Indonesia, atau jenis kurikulum lain yang dibuat oleh pembuat kurikulum yang diakui di negara pembuatnya. Atau

Persiapkan diri Anda untuk sukses

Ketika semua persiapan sudah diatur dengan baik, kini tibalah saatnya bagi Anda untuk melaksanakan homeschooling. Hari – hari ke depan yang akan dilalui bukanlah tanpa hambatan. Yang Anda perlukan hanyalah terus memperbaiki persiapan dan pelaksaannya. Semangat!!!

Demikianlah beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai homeschooling. Tunggu apa lagi Ayah Bunda?? Let’s do it!!

Sumber (diadaptasi dari) : http://www.gracewithintherace.com

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Peraturan Dan Legalitas Homeschooling di Indonesia

Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Sebagaimana diatur dalam Undang – Undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat (1) dan (2) yang berbunyi :

Ayat (1) : Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Ayat (2) : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Bagi yang memilih homeschooling tidak perlu khawatir mengenai legalitas homeschooling di Indonesia. Karena sesuai dengan Undang-undang No 20 tahun 2003. Disebutkan bahwa ada tiga jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal (sekolah), nonformal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan).

Selengkapnya mengenai pendidikan informal, terdapat dalam pasal 27 undang – undang No 20 tahun 2003 sebagai berikut :

(1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

(2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

(3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Berdasarkan undang – undang ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan homeschooling legal di Indonesia. Selain itu siswa homeschooling memiliki kesempatan untuk mengikuti ujian dan memperoleh ijazah kesetaraan yang dikeluarkan oleh Depdiknas, yaitu :

  • paket A setara SD
  • paket B setara SMP
  • paket C setara SMU

Pelaku homeschooling juga memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

‘Peraturan homeschooling’

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah soal nama. Indonesia mengalih bahasakan homeschooling menjadi SEKOLAH RUMAH

Peraturan homescholling ini terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 129 Tahun 2014 tentang “Sekolah Rumah”.

Pada Pasal 1 Ayat (4) disebutkan : yang dimaksud sekolah rumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain.

Bagi keluarga yang ingin secara mandiri melaksanakan homeschooling, maka bisa mengambil bentuk SEKOLAH RUMAH TUNGGAL

Jika ingin membuat lembaga, SANGAT DISARANKAN UNTUK TIDAK MENGGUNAKAN NAMA HOMESCHOOLING, karena homeschooling itu bukan sekolah. Hal ini juga tidak mendidik literasi peserta didik karena kata homeschooling tidak digunakan semestinya.

Ada 2 jenis sekolah rumah yang bisa dibuat:

1.. Sekolah rumah Majemuk, yaitu layanan pendidikan berbasis lingkungan yang diselenggarakan oleh orang tua dari 2 (dua) atau lebih keluarga lain dengan melakukan 1 (satu) atau lebih kegiatan pembelajaran bersama dan kegiatan pembelajaran inti tetap dilaksanakan dalam keluarga.

2. Sekolah rumah Komunitas, yaitu kelompok belajar berbasis gabungan
sekolah rumah majemuk yang menyelenggarakan pembelajaran bersama
berdasarkan silabus, fasilitas belajar, waktu pembelajaran, dan bahan ajar yang disusun bersama.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan mengunduh aturan berikut:

PERMENDIKBUD NO 129 TAHUN 2014 TENTAMG SEKOLAH RUMAH.

Sumber :

https://jdih.kemdikbud.go.id

Lectures of Life, Muslimah Session

Homeschooling : Pro dan Kontra

Source: http://www.doliferight.com | http://www.inflatablestudios.com

Sekarang semakin banyak orang tua (saya salah satunya, uhuk) yang lebih memilih homeschooling dibandingkan sekolah formal. Sepertinya metode ini semakin diterima di Indonesia.

‘Anak – anak homeschooling’ mulai terlihat (berkat sosmed) dapat bersaing dengan teman – teman mereka yang bersekolah formal dalam hal standarisasi pendidikan. Bahkan Universitas tidak lagi khawatir menerima anak – anak homeschooling karena mereka sudah terlatih untuk belajar mandiri sejak dini.

Artinya? Yup,  anak – anak ini bisa diandalkan untuk menghadapi tantangan.

Tetapi sebagaimana semua hal di dunia ini, homeschooling tentu memiliki pro dan kontra. Orang tua yang sangat peduli mengenai pendidikan anak, tentu akan menimbang dampak baik dan buruk homeschooling sebelum mengambil keputusan apakah akan menyekolahkan anak secara formal atau homeschooling.
Untuk itu mari kita lihat pro dan kontra penerapan homeschooling.

Pro Homeschooling
Dengan homeschooling, orang tua dapat menentukan beragam metode untuk mendidik anak mereka dan bisa tidak terlalu fokus pada bidang yang ‘mubazir’. Orang tua dapat mengintegrasikan pengetahuan yang akan diberikan sesuai dengan kemampuan, ketertarikan, dan kesiapan anak, termasuk mengintegrasikan nilai agama kedalamnya.

Sel in hal yang disebutkan tadi, berikut beberapa alasan lain yang menjadi alasan sebagian orang (termasuk kami) yang pro homeschooling :

Kebebasan mengajarkan ilmu agama – Banyak orang tua merasa bahwa dengan homeschooling memberikan mereka kesempatan untuk menggabungkan dan memberi pemahaman nilai – nilai agama dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan sehari – hari.

Mendekatkan hubungan keluarga – Banyak keluarga homeschooling mengatakan bahwa homeschooling memiliki peran penting dalam mendekatkan hubungan keluarga. Waktu belajar bersama dapat membantu mendekatkan hubungan dalam keluarga.

Kondisi emosi yang stabil – Anak – anak homeschooling tidak perlu khawatir mereka akan ‘dibully’, mendapatkan tekanan akibat kompetisi di sekolah, sehingga mereka tidak harus tertekan baik fisik maupun mental menghadapi itu semua. Orang tua yang anaknya menjadi korban ‘bullying’ memilih homeschooling untuk melindungi anaknya dari dampak buruk.

Jadwal yang ramah anak – Salah satu hal yang menyenangkan dari homeschooling adalah anak dan orang tua dapat menyusun jadwal belajar sendiri sesuai kebutuhan. Anak tidak lagi stres dengan jadwal sekolah yang rutin dan ketat. Selain itu juga tidak ada pekerjaan rumah yang memberatkan anak.

Waktu istirahat yang cukup bagi anak – Dengan jadwal yang fleksibel maka anak dapat memiliki waktu istirahat yang cukup. Waktu tidur dan istirahat merupakan kebutuhan vital bagi anak yang dapat mempengaruhi fisik dan mental anak, khususnya anak – anak menjelang remaja dan remaja.

Kontra homeschooling

Banyaknya waktu yang dibutuhkan – Orang tua yang memilih homeschooling menghabiskan waktu lebih banyak untuk merencanakan, mengarahkan anak mereka dalam beraktivitas, serta turut berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Idealnya ibu harus berada di rumah untuk secara penuh bertanggung jawab dalam pendidikan anak sementara ayah bekerja. Namun, bukan tidak mungkin jika keduanya bekerja. Hal ini akan menjadi tantangan bagi orang tua dalam membagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak (saya salah satunya)

Keterbatasan keuangan Untuk melaksanakan homeschooling, salah satu orang tua harus mengorbankan pekerjaan penuh waktu mereka dan ini dapat menyebabkan masalah keuangan bagi sebagian keluarga. Tetapi bagaimanapun, kebanyakan orang tua mengatakan bahwa hal itu setimpal demi melihat anak mereka tumbuh dengan baik. Selain itu pada zaman sekarang sudah banyak pekerjaan non full time atu remote yang dapat memberikan penghasilan tambahan.

Kritikan dari orang lain – Ketika homeschooling semakin berkembang, tetap saja masih banyak orang yang memandang negatif homeschooling dan ini adalah hal biasa. Bahkan pandangan negatif ini berasal dari teman – teman dan keluarga dekat. Jika anda memilih homeschooling maka anda harus siap dengan kritikan dan pandangan negatif orang lain.

Setelah melihat pro dan kontra penerapan homeschooling, orang tua tentu lebih mudah mengambil keputusan apakah akan tetap bersekolah formal atau memilih homeschooling. Yang menjadi tujuan tentunya agar tercapai tujuan pendidikan dan demi tumbuh kembang anak yang baik. Selamat memilih Ayah dan Ibu.

Sumber (diadaptasi dari): http://www.publicschools.org/homeschooling-pros-cons/
http://school.familyeducation.com/home-schooling/parenting/29861.html

My Reflection

Pikirkan Ini Sebelum Memutuskan Homeschooling

image

Beralih dari sekolah formal ke homeschooling (atau memulai homeschooling ditengah budaya schooling) merupakan suatu langkah besar. Untuk itu orang tua perlu mempertimbangkannya dengan baik.

Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memilih homeschooling?

Beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan orang tua  sebelum memutuskan menerapkan homeschooling.

Komitmen terhadap waktu
Kegiatan homeschooling cenderung menghabiskan waktu yang lebih banyak. Kegiatan homeschooling tidak hanya duduk mempelajari buku – buku selama berjam – jam. Ada banyak kegiatan lain seperti eksperimen dan proyek – proyek yang harus dilakukan, pekerjaan anak yang harus diperiksa, belajar di lingkungan luar seperti taman, pelajaran tahsin, tahfiz, dan masih banyak lagi. Orang tua dan anak harus mempunyai komitmen dan disiplin kuat dalam menjalani homeschooling.

Mengorbankan kehidupan pribadi
Agak lebay sih bahasanya, tapi saya belum menemukan padanannya. Alasannya karena ya… orang tua homeschooling memiliki sangat sedikit waktu untuk diri mereka sendiri (atau ini cuma saya aja yah?). Dapat dikatakan bahwa orang tua dan anak selalu bersama – sama hampir 24 jam dalam seminggu. Sehingga orang tua harus siap mengorbankan kehidupan pribadinya.

Kondisi keuangan keluarga
Homeschooling mungkin tidak menghabiskan biaya sebesar sekolah formal, akan tetapi membutuhkan peran orang tua yang sangat besar sehingga salah satu orang tua harus mengorbankan pekerjaan full time mereka. Hal ini tentu berdampak besar bagi keluarga yang mengandalkan dua pemasukan. Eh, tapi bukan tidak mungkin loh jika keduanya bekerja. Kalau saya ingat, nanti, saya akan posting tentang hal ini.

Sosialisasi
Orang tua harus memberi perhatian lebih dalam hal sosialisasi anak dengan orang lain. Karena anak tidak bersekolah formal seperti anak – anak pada umumnya, sosialisasi anak harus benar – benar diperhatikan. Kebaikan homeschooling adalah orang tua memiliki kontrol lebih dalam hal kontak sosial anak dengan orang lain. Sehingga anak lebih terjaga dari tindakan buruk lingkungan. Komunitas homeschooling dapat menjadi salah satu pilihan anak untuk bersosialisasi. Atau bagi Muslim, ini saatnya memperbanyak silaturahmi.

Pengaturan rumah tangga
Orang tua homeschooling harus mampu mengatur pekerjaan rumah tangga dan kegiatan homeschooling berjalan dengan baik. Ini bukan curhat, tapi pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan dengan baik, sementara   kegiatan homeschooling juga harus berjalan baik. Kegiatan homeschooling tentu berpengaruh pada kondisi rumah yang bisa jadi lebih berantakan sehingga membutuhkan tugas ekstra.

Kesepakatan kedua orang tua
Sangat penting untuk kedua orang tua sepakat dalam menerapkan homeschooling. Akan sangat sulit menerapkan homeschooling jika salah satu pasangan ada yang menolak. Jika pasangan anda menolak cobalah untuk meneliti dan berbicara dengan orang lain untuk mencari solusinya.

Apakah anak bersedia/tertarik?
Ketertarikan anak akan sangat menentukan karena anak yang akan menjalaninya. Yang utama tentu keputusan orang tua, tetapi jika anak menolak tentu akan sulit untuk menerapkan homeschooling.

Satu tahun untuk satu masa pendidikan
Homeschooling bukanlah komitmen seumur hidup, banyak keluarga yang menerapkannya per tahun kemudian dievaluasi kembali apakah tetap menjalankan homeschooling atau tidak. Bisa saja orang tua dan anak merasa sudah saatnya untuk bersekolah formal.

Apakah orang tua merasa tertekan untuk mengajar?
Jika anda dapat membaca dan menulis, maka anda mampu untuk mengajar anak anda. Kurikulum dan materi – materi pembelajaran akan membantu anda dalam merencanakan dan menjalankan pendidikan. Anda dapat meminta bantuan orang lain jika mendapat kesulitan atau mencari tutor untuk beberapa subjek pelajaran yang sulit.

Pengalaman orang lain
Akan sangat membantu jika anda mendengarkan alasan orang lain memilih homeschooling. Anda dapat belajar dari pengalaman orang lain dan menjadi pertimbangan sebelum memilih homeschooling.

Itulah hal – hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih homeschooling. Semoga bermanfaat ya…

Sumber : http://homeschooling.about.com/od/gettingstarted/a/homeschool4you.htm

Homeschooling Starter Kit

Apa Itu Homeschooling?

Pengertian Homeschooling

image

Homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. 

Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah/ kursus melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah, di mana penentu kebijakannya adalah keluarga.

HOMESCHOOLING ADALAH GAYA HIDUP

Ayah dan ibunya merupakan CEO yang menddesain, melaksanakan, dan menevaluasi praktik homeschooling. Beberapa keluarga memilih struktur yang sangat akademis, ada yang menggunakan metode – metode tertentu, ada yang memakai metode eklektik atau mengambil beberapa metode. Ada yang menggunakan guru, interaksi satu banding satu, sampai mengikut sertakan ke kelas-kelas khusus, ada yang menggunakan penyedia kurikulum online namun tetap diajari orang tuanya sendiri.

Apapun keputusannya, itu semua menyesuaikan dengan kebutuhan anak yang ditentukan oleh keluarga. Walaupun disebut homeschooling, bukan berarti proses belajar melulu diadakan di rumah. Proses belajar bisa dilaksanakan di taman, pasar, kolam, peternakan, dan dimana saja.

Sekarang di Indonesia juga mulai banyak bermunculan flexi school yang dinamai homeschooling

Flexi school adalah metode pendidikan yang memadukan antara orang tua dan sekolah, di mana anak terdaftar di  lembaga tetapi memiliki jadwal yang fleksibel. Anak bisa memilih mau sekolah hari apa saja, sisanya anak belajar ‘sendiri’ di luar sekolah. Basis kurikulumnya mengikuti kurikulum nasional dengan modifikasi.

Beberapa alasan orang tua lebih memilih flexy school adalah karena kondisi kesehatan anak yang tidak stabil, lebih memilih metode pendidikan di rumah akan tetapi masih membutuhkan sekolah formal untuk menyajikan beberapa subjek yang belum bisa dilaksanakan orang tua, masih takut atau menolak untuk sekolah (biasanya anak – anak yang baru mulai sekolah), dan lain – lain.

Homeschooling vs Flexi School

Pilih yang mana? Itu semua tergantung kebutuhan dan kondisi orang tua dan anak saya rasa, apakah orang tua merasa sudah mampu menjalankan homeschooling atau masih membutuhkan peran sekolah dalam pendidikan anak. Dan yang paling penting mana yang paling diinginkan dan tepat untuk si anak.

Jika orang tua sudah mampu menyelenggarakan pendidikan seutuhnya serta mendedikasikan waktu (yang saya rasa cukup banyak) untuk anak maka saya rasa homeschooling merupakan pilihan tepat. Lain hal jika orang tua merasa belum mampu menyediakan pendidikan seutuhnya serta memiliki waktu yang terbatas, tentu saja flexi school bisa menjadi pilihan.Pada akhirnya semua dikembalikan pada anak, mana yang lebih cocok dan diminati anak.

Tapi ingat yaaa… HOMESCHOOLING ITU BUKAN LEMBAGA

Homeschooling

Mengapa Memilih Homeschooling: Itu Mimpi Saya 8 Tahun yang Lalu

Ya, memulai homeschooling atau sekolah berbasis keluarga rasanya seperti mimpi. Mimpi yang pernah saya tuliskan ketika saya masih mengajar 8 tahun lalu di sekolah swasta. Saat itu saya terheran-heran dengan keputusan beberapa orang tua yang mengambil langkah untuk memulai homeschooling yang saat itu masih asing. Saya juga sempat termakan prasangka akan si anak dan orang tua mengenai keputusan mereka. Mengapa memilih homeschooling menjadi pemicu rasa penasaran saya.

Sadar mulai melabel manusia, saya mulai melakukan riset kecil-kecilan. Hasil riset ini iseng-iseng saya kirimkan ke surat kabar. Dan, alhamdulillah, ini menjadi tulisan pertama saya yang dimuat Jakarta Post:

Why Opt for HSInti dari tulisan saya adalah beberapa alasan yang dipilih orang tua emngapa memilih homeschooling untuk anaknya. Dan tahukah anda, sebenarnya kesemuanya itu juga menjadi alasan saya. Berikut daftarnya:

  1. Homeschooling adalah tempat yang tepat untuk menanamkan nilai agama dan tauhid. Didalamnya tentu terdapat etika, norma, moral, dan karakter sesuai ajaran agama saya: Islam yang semoga dalam prakteknya sesuai dengan manhaj yang lurus.
  2. Merekatkan keluarga. Betapa tidak? Kami akan bersama 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
  3. Bebas memilih dan mendesain kurikulum yang kami mau. Ini tentunya tidak bisa dengan bebas kita pilih di sekolah manapun karena keinginan setiap orang tua berbeda. Saya ingin integrasi Islam dalam pembelajaran anak-anak saya.
  4. Homeschooling memberikan kesempatan untuk melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi pembelajaran yang tepat untuk anak sendiri.
  5. Memberikan lingkungan yang yang sesuai untuk dicontoh, terutama hingga masa SD selesai. Tapi ini bukan berarti tidak bergaul. Hanya, orang tua selalu dapat mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya akan adab yang sesuai.
  6. Waktu pembelajaran yang lebih fleksibel.
  7. Memanfaatkan segala sumber belajar yang sangat dekat hubungannya dengan anak.

Itu keinginan saya 8 tahun lalu. Saat ini, keinginan itu telah berkembang setelah mengalami perjalanan hidup sebagai pengajar di beberapa sekolah. Bersentuhan dengan beragam sistem sekolah membuat saya takut bahwa sistem yang saya pilih tidak menjadikan anak saya menjadi pribadi yang utuh.

Bagaimanakah akhir bentuk perkembangan itu? Tunggu tulisan saya berikutnya ya, insyaAllah.

My Reflection, My Thoughts, Parenting

KERJA DARI RUMAH

Oke, karena banyak yang nanya “Ngapain aja jadi kalau nggak mengajar?” jadi saya share aja yah.

image

Jadi, setelah 12 tahun jadi wanita karir, sudah 3 bulan ini saya merubah pola pikir untuk lebih mengutamakan keluarga. So I decided to homeschool my children sambil kerja dari rumah. Bukan MLM loh yaaa. Pengen sih jualan, tapi kayaknya gak bakat dan gak tegaan. Nanti habis lagi barang dagangan, hehe.

Eh, dan alhamdulillah, ternyata, banyaaaak  sekali peluang bagi lulusan sastra Inggris dan manajemen seperti saya ini (kamana wae atuh?). Thanks to the WWW, informasi seperti ini sangat mudah sekali didapatkan.

Nah, ini dia…  Saya paparkan di bawah beberapa peluangnya ya:

1. Guru privat – Sudah jelas ya, gak perlu dijelaskan apa dan bagaimananya. Tapi ini mah jelas saya gak bisa, saat ini, kecuali online. Nunggu Debay gede. Hehe.

2. GHOST WRITER – Nah, kalau yang ini katanya harus sanggup kejar deadline dan (katanya juga) harus mampu menulis untuk pencitraan hehe.. not me also (coret)

3. CONTENT WRITER – Nah ini yang saya  lakukan. Saya menawarkan jasa kepada perusahaan dan institusi untuk jadi pekerja lepas waktu. Berhubung sekarang jamannya Marketing in Venus dimana konsumen dilibatkan, jadi bisa banget dapet pemasukan dengan cara ini. All we have to do is only updating their website to be shared to socmed. Done. Asyik kan.

4. SEARCH ENGINE RATER. Nah, saya juga secara resmi tergabung dengan salah satu rating company Google. Maap, tidak bisa menyebutkan namanya karena terikat Non-Disclosure Agreement. Modalnya ya kudu bisa Bahasa Inggris karena bahan bacaan banyak dan kudu selesai dalam waktu seminggu, terus koneksi internet n gadget terkini. Kalo dah punya modal ini, ikut tes, lulus, udah deh ke terima. Tergantung jobnya, biasanya satu jamnya dapat $18 untuk newbie kayak saya. Di kali 40 jam udah berapa tuh hehehe… Bebas pilih waktu tapi ya harus nurut deadline.

5. TRANSLATOR – udah jelas lah ya kerjaannya .. tapi not me at the moment. Takut gak kekejar soalnya.

6. WRITER – yaaay.. ini memang nggak instan, tapi justru letak kepuasannya disitu. Setelah buku selesai baru dapat royalti.

7. EDUCATION CONSULTANT – ini kerjanya online juga saat ini. Jadi kalau ada yang perlu bantuan pengelolaan sekolah secara mikro, hanya saat terjadi yang stuck aja, I’m available. Tapi gak bisa ketemu offline juga karena masih ada debay.

8. TEACHER’S TRAINER – Yup, ini kesempatan seru untuk memperluas jaringan dan belajar dari guru-guru hebat lainnya. Tapiiii, karena ada debay… pastinya not at the moment.

Nah, kaaan … banyak  peluangnya meski kita kerjaannya dari rumah. Kalau di Jepang lagi musim ibu yang giving up career for family, kenapa kita takut? InsyaAlloh, kemiskinan hanya di pikiran kita aja. Alloh yang menjamin kecukupan rizki.

Tapiii… if my next dream happen : ngajar di pesantren sambil homeschooling-in bocah (aamiin) I’d love to reconsider. Kapan lagi berkumpul dengan ahli ilmu jika tidak begitu.

My Reflection

Duka dan Embun Pagi

image

Bagi yang dirundung duka,
lihat embun pagi yang Alloh ciptakan.
Ia sabar datang membasahi bumi
memberi maslahat hingga datang matahari.
Ia tidak meminta penangguhan waktu,
tidak jua bersungut dan berseru.
Hentikan harap manusia melihat
kesedihan, rasa sakit, dan air matamu.
Mereka hanya mampu melihat kesalahanmu.
Hanya Alloh tempat berpaling,
yang tahu segala tentang makhluknya.
Maka, segera singkirkan air mata
seakan tiada di hadapan manusia.

Lectures of Life, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Sebelum Memulai Homeschooling

Ilmu sebelum amal. Yak, dalam memulai sekolah rumah pun sama. Jangan mentang-mentang homeschooling atau flexi-schooling terus kita tinggal liat kurikulum, beli buku, terus belajar sendiri atau sewa guru. Udah. Hayyaaaah, itu mah sama aja kayak pindah sekolah tapi fisiknya doang.

Sebelum mulai, sebaiknya memang kita konsultasi dulu dengan yang sudah memulai. Mereka yang sudah merasakan pahit getir homeschooling. #Cieeee *kibas jilbab*

Homeschooling is such a solution, kalau kata saya mah. Kita bisa fokus dengan ngaji, hobi, dan apapun. Plus, belajar pun lebih dalam lagi by the help of the world wide web sama guru atau narasumber yang bisa kita pilih sendiri. Kalau sekolah? Hyaaaaa… mana bisaaaaaa! Yang ada kita telan aja tuh segala kualitas guru, konten, sistem, pengajaran, manajemen, yang bisa jadi di bawah standar harapan kita.

Terus, karena tidak dipahamkan pelajaran, setelah sekolah full day, anak disiksa lagi dengan bimbel? Kali ikut kursus, wajar lah ya… Tapi, BIMBEL??? Hmm, terus, fungsi guru, sistem sekolah, dan prosedur sekolah untuk mencerdaskan dimana yaaa? Well, it’s illogical, isn’t it? *gagal paham*

image

Ah sudahlah… gak selesai-selesai ngomongin sekolah mah. Now, for a start , saya rangkumkan nih blog dan situs yang dibuat emak bapak para homeschooler, komunitas sekolah rumah, atau malah muridnya sendiri. Here we go, para mastah dan guru yang sudah berkecimpung lebih dulu (dan kemungkinan lebih tua dari saya, yes!) di dunia keren inih. Happy blogwalking. 🙂

1. Kumpulan blog ibu-ibu homeschooler muslim dari Pinterest
2. Middle Way Mom: Islam, Homeschooling, Parenting
3. TJ Homeschooling: Islamic Studies
4. Rahmah Muslim Homeschool
5. Islamic Studies on Pinterest
6. Happy Muslim Mama
7. Homeschool for Muslims
8. Iman Homeschool
9. A Muslim Homeschool
10. A Muslim Homeschool Journey
11. The Wired Homeschool
12. Eva Varga
13. Homeschool Scientists
14. Tea Cups in the Garden
15. This Reading Mama
16. The Home Scholar
17. Education Possible
18. Tyna’s Dynamic Homeschool Plus
19. Harrington Harmonies
20. Unschool Rules
21. Confession of a Homeschooler
22. Raising Lifelong Learners
23. Homeschool Creations
24. Living Montessori Now
25. Our Journey Westward
26. Blogs, She Wrote
27. Rumah Inspirasi
28. Blessed Learners
29. Komunitas2 Homeschooling Lainnya
30. Homeschooling Jakarta

Fiuuh… Masya Allah… Banyak ya? Padahal itu belum semua loooh… Harus semangat nih ngelmunya .

Bismillah.

My Reflection, My Thoughts

Fenomena Sekolah Ruko

***Pengantar artikel yang ditulis Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999, di bawah ini. ***

Saatnya cari sekolah sudah tiba. Bagi yang memilih sekolah swasta, perburuan lebih menantang lagi karena banyaknya pilihan. Dari sekolah nasional, ada plusnya, internasional, sampai sekolah abal-abal.

Yup. Sekolah abal-abal. Sekolah- sekolah ini memanfaatkan keawaman ilmu orangtua atau malah mampu menangkap idealisme untuk dijual tapi tak bisa mengejawantahkan secara teknis. Karena mau tidak mau, tata kelola sekolah ya memang teknis pelaksanaan. Ngerinya, sekolah semacam ini menjamur dimana-mana. Agar dibuat mentereng dan bertingkat, disewalah ruko agar mempesona.

Cuma ilustrasi
image[cuma ilustrasi]

Di jabodetabek ini memang lagi menjamur sekolah2 ruko. Mereka bukan lembaga pendidikan yang secara terhormat menyatakan diri sebagi kursus, pendidikan alternatif, PKBM, flexi-school, namun benar-benar mendeklarasikan diri sebagai sekolah umum. Ya, sekolah umum tanpa izin.

Memang tidak bisa digeneralisir karena beberapa sekolah bertahan berkat kualitas tata kelola dan SDM. Mereka yang melek aturan juga mengalihkan kepemilikan ruko menjadi milik sendiri. Akhirnya, sekolah pun bertransformasi dan layak disebut sekolah berkualitas.

Tapi, sayangnya, ada juga sekolah- sekolah yang sama sekali tidak layak disebut sekolah… amburadul… no system at all. Pastinya ini yang membuat tingkat turnover sangat tinggi. Dan korbannya… ya siswa lagi. 😦

Akhir dari suksesnya sang marketing menjual program adalah pindahnya para orang tua setelah tertipu. Bayar uang pangkal lagi di sekolah lain, tentunya setelah mereka melek informasi. Bagi orang tua yang sudah ‘all out’ bayar semua, pilihannya cuma satu : pasrah…

Duh… bagaimana cara menertibkan sekolah seperti ini ya? Dan yang terpenting, bagaimana mengedukasi orang tua dan anak sebelum jadi korban mereka?

Pertanyaan ini semakin banyak setelah ibu Dhitta membagikan artikel di bawah ini di milis Ikatan Guru Indonesia. Semakin galau karena sekolah-sekolah ini kok ya ‘dibiarkan’ saja. 😦

============================
SEINDAH KEHIDUPAN

Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999

KOMPAS, 10 Juni 2015

http://budisansblog.blogspot.com/2015/06/sekolah-kehidupan.html

Jelang pertengahan November 1998, di tengah hiruk-pikuk semboyan”Reformasi Total” di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, saya dipanggil Presiden Abdurrahman Wahid di suatu kediaman di Jalan Irian, Jakarta Pusat.

Kami membahas lingkup dan materi kurikulum sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Karena kami yakin materi dan cara pengajaran cepat atau lambat harus diubah, Gus Dur-sapaan akrab Abdurrahman Wahid-mengingatkan agar reformasi pendidikan di telaah secara cermat karena perubahan sistem pendidikan perlu waktu. Minimal 1-2 tahun untuk menyusun konsep, 2-3 tahun memasyarakatkan, dan setelah lima tahun mulai dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan. Saya paham tentang hal ini meski merasakan betapa sulit memasyarakatkan reformasi yang didorong para tokoh politik yang mendesak agar reformasi dimulai “sekarang juga”.

Apalagi reformasi yang mendesak merombak kurikulum, mulai dari perubahan “Bahasa Orde Baru” ke arah “Bahasa Orde Reformasi”. Saya teringat pada pemeo “ganti menteri” dan “ganti kurikulum” pada tahun 1960-an dan 1970-an. Dari zaman Menteri Pendidikan dan Pengajaran Priyono sampai Mendikbud Nugroho Notosusanto,

Saya pikir sekarang saya bakal kena batunya. Setelah belajar di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia Bagian Publisistik (sekarang Departemen Ilmu Komunikasi Massa FISIP), saya mulai berhadapan dengan orang pintar, para ahli dari berbagai institut keguruan dan ilmu pendidikan seluruh Indonesia yang ingin menyumbang pikiran tentang apa lingkup dan isi kurikulum yang “baik dan benar”.

Beruntung saya dibantu Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro (Direktur Pembinaan Sarana Akademik) dan Dr Anhar Gonggong (Direktur Nilai Sejarah dan Tradisional) di Depdikbud. Saya dikawal Letnan Jenderal Sofian Effendi, Sekjen Depdikbud yang kebetulan bos saya di Lemhannas 1996-1998. Saya pikir, karena saya dibantu teknolog asal Jawa (yang ayahnya, Prof Soemantri Brodjonegoro, pernah menjadi Rektor UI), oleh sejarawan Bugis-Makassar, dan oleh prajurit Kopassus asal Bireuen, Aceh. Agak lengkaplah, saya dibantu orang yang melambangkan rakyat yang mewakili sebagian besar Indonesia barat dan timur.

Gus Dur berseloroh, “Mas Ju jadi apanya ‘Mafia Berkeley’?” Julukan Mafia Berkeley disandangkan kepada sebagian tokoh ekonomi dan administrasi publik yang langsung atau tidak langsung membantu Prof Widjojo Nitisastro selama 20 tahun lebih (1966-2000).
“Saya hanya kroco bidang politik internasional, Gus, pernah belajar dengan beberapa teman dosen asal Aceh sampai ujung timur di Manado dan Kupang.”

“Wah, politik. Kalau begitu Mas Ju jadi tukang tembak (hit-man),” kata Gus Dur, mengingatkan saya pada film The Untouchables yang diperankan Kevin Costner, Sean Connery, dan Robert De Niro sebagai Al Capone, tokoh mafia Chicago tahun 1929-1930.

“Begini,” kata Dur, “Saya ini ditanyain tentang itu lho, sekolah ruko yang menjamur di mana-mana, termasuk di daerah saya di Ciganjur. Itu namanya sekolah-sekolahan, enggak jelas alamatnya, enggak jelas izinnya. Itu namanya sekolah enggak keruan.”

“Saya ingat kata-kata Satryo Soemantri Brodjonegoro, kira-kira ada 747 perguruan tinggi swasta di daerah Jabotabek,” kata saya ke Gus Dur. Ia yang langsung berseloroh: “747? Angka dari mana tuh, kok mirip banget dengan pesawat Boeing 747?”

“Tahu enggak Mas,” sambung Gus Dur, “saya ini sudah lama mimpin UCLA, University Ciganjur Lenteng Agung, enggak kalah terkenal dengan sekolah UC Berkeley atau UC Los Angeles. Saya drop out dari Universitas Baghdad dan cuma mahasiswa pendengar di Al-Azhar, Kairo. Tetapi, saya mahasiswa Sekolah Kehidupan, saya melihat-lihat mengalami kehidupan nyata di lapangan.”

Saya mengangguk diam dan berkata dalam hati, Gus Dur memang sarjana yangsujana, simple dan rendah hati. Orang Jawa bilang dia itu tidak gumunan, tidak mudah kagetan, tidak mentang-mentang. Gelar apa pun, akademik, adat, gelar keagamaan, tidak ada artinya kalau dia tidak menghargai dirinya sendiri dengan berkaca pada pahit getirnya tantangan hidup sehari-hari.

Saya teringat ucapan Bung Karno pada awal 1960-an ketika membuka Hari Sarjana UI di Kampus Salemba 4, Jakarta Pusat.

Mengutip pidato Bung Karno ketika memperkenalkan pemimpin Vietnam Ho Chi Minh, saya berkata dalam hati, “Paman Ho tak tamat sekolah tinggi, tetapi berhasil mengocar-ngacirkan pemerintah kolonial Perancis sehingga tahun 1954 Perancis takluk di Dien Bien Phu dan mundur dari Indo-China.”

Gus Dur adalah sosok genius yang tak perlu mengejar gelar akademik, apalagi dari sekolahan pojok jalan atau ruko murahan yang bertebaran di mana-mana. Tetapi, Gur Dur seperti juga Ho Chi Minh yang pernah magang sebagai koki di hotel di Place Vendome, Paris, adalah orang yang percaya diri pada garis tangan. Siapa tahu yang mengelola ruko sekolah-sekolahan itu berhasil karena ada tangan Tuhan yang membantunya keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Siapa tahu ijazah palsu yang dipersoalkan itu kelak membantu orang menjadi otodidak, yang karena rasa percaya dirinya besar sehingga tak memerlukan gelar: sah atau tidak! Atau, seperti kata Gus Dur, “Enggak usah repot-repot nertibkan (sekolah di) ruko-ruko itu. Lama-lama capai juga mereka ngurusin ijazah dengan segala tetek bengek cap, laminating dan figura.”

Benar juga. Butuh tenaga dan biaya sangat banyak untuk menertibkan sekolah tak keruan itu. Biarkan sekolah tadi layu tak berkembang. Biarkan orang mencari rezeki atau rugi sendiri kalau tidak ada peminat yang memercayai iklan yang dipasang di mana-mana dengan biaya semurah atau semahal apa pun. Biarkan ijazah palsu diedarkan sampai orang kapok.

Sekolah Kehidupan hanya perlu pelita hidup dalam hati kita masing-masing. Itulah ijazah yang sebenarnya kita selalu mencari, dari pengalaman hidup Ho Chi Minh, Gus Dur, dan ratusan tokoh tak bergelar akademik di seluruh pelosok Indonesia.