Anak sakit saat liburan
Parenting

Tips Agar Liburan Tetep Seru Meski Anak Sakit

Sumber gambar: adalawblog.com
Sumber: adalawblog.com

Baju, lengkap. Mainan, sudah.

Bacaan, siap. Toilettries, oke.

Anak, sakit. Eh… Sebentar…

Apaaaa? Saaakiiiit? Batal liburan dong?

Hmmm… Mungkin kita bisa batalkan liburan kalau anak sakit sebelum berangkat. Tapi, terkadang ada situasi dimana kita tidak mungkin membatalkan atau ternyata anak sakit saat dalam perjalanan. Jadi, bagaimana?

Tenang, Ibu-Ibu.

#Tring! Saya punya tips dan perkakas yang Ibu butuhkan saat anak sakit panas, demam, flu, atau sakit ringan saat berlibur. Salah satunya adalah menyediakan Tempra cepat menurunkan demam. Salah dua dan seterusnya bisa disimak dalam tips tetap bahagia saat liburan meski anak sakit di bawah ini:

1. Menghadapi Kenyataan Bahwa Anak Sakit

Hadeeeeeh…. serius, dong.

Yes, I am serious. #kibasjilbab

Sumber: clipartbest.com
Sumber: clipartbest.com

Maksudnya, saat anak sakit, terima aja dulu. Bersyukur diuji dengan sakit dan JANGAN MENYALAHKAN SIAPAPUN (garis bawahi, tebalkan, dan tulis pake font bunga-bunga kalau perlu). Karena tidak ada manusia yang suka disalahkan, bukan? Dengan begini, insyaAllah, kita akan tenang dalam mengambil langkah selanjutnya.

2. Menganalisa Kondisi Anak

Jika anak kita tidak mengalami kecelakaan atau terjatuh, langkah pertama dalam menentukan pengobatan terbaik adalah mencari tahu apakah kita perlu langsung ke fasilitas kesehatan? Apakah ada di kota yang kita tuju? Atau, apakah anak kita bisa menunggu sampai pulang ke rumah untuk mendapatkan perawatan medis? Atau, apakah cukup dengan pengobatan dengan obat dan perawatan sendiri? Lalu, jika ternyata kita jauh dari puskesmas, klinik, atau rumah sakit, pertolongan pertama apa yang bisa kita berikan? Nah, untuk menjawab pertanyaan terakhir , mari kita lanjutkan ke poin berikutnya.

3. Pertolongan Pertama Saat Anak Sakit

Sumber: play.google.com
Sumber: play.google.com

Sebenarnya, ada benda-benda yang perlu disiapkan sebelum perjalanan agar bisa memberikan pertolongan pertama. Benda-benda standar ini harus ada di kotak P3K yang kita bawa. Cukup bawa versi mini agar portabel. Benda-benda tersebut adalah sarung tangan, masker, cairan antiseptik, kain kasa, perban, paracetamol seperti Tempra cepat menurunkan demam yang cepat bekerja di pusat panas dan aman, Iodin, dan kapas. Berbekal benda-benda tersebut , maka kita bisa melakukan beberapa hal berikut saat anak sakit:

  • Mencari pengkapan medis pribadi yang diperlukan yaitu beberapa obat ringan dan perlengkapan medis dari rumah. Pastikan semua ini mudah dijangkau, karena itu jangan ditaruh di bagasi.
  • Meningkatkan asupan cairan seperti air, jus, dan ASI (air susu ibu). Kalau kita berada di tempat yang banyak menyediakan air kelapa muda, maka kita akan sangat beruntung. Selain enak, kelapa muda sering membantu kami melewati beberapa sakit karena alergi hingga demam tinggi – tanpa obat.
  • Jika anak mengalami kesulitan bernapas di kendaraan, sediakan waslap (atau kalau tidak ada, kaus dalam atau kaus pendek bersih), tuangkan air di atasnya, dan biarkan anak bernapas dengan uap dingin. Atau jika sudah sampai ke penginapan atau rumah tujuan, sediakan air panas di kamar mandi. Lalu, tutup pintu dan duduk di dalam kamar mandi bersama anak.  Biarkan mereka menghirup udara hangat yang lembab.
  • Cari rumah makan yang menyediakan sop, soto, atau makanan berkaldu hangat! Kaldu membantu untuk mengeluarkan ingus dan memiliki banyak khasiat dalam melawan virus.
  • Jika menderita nyeri telinga, biasanya setelah naik pesawat, mintalah anak untuk minum sesuatu secara berkala selama turunnya pesawat untuk membantu meringankan tekanan telinga. Jika sakit telinga terjadi saat terjebak macet atau alergi, sediakan minum dan ingatkan terus.
  • Jika demam, periksa suhunya dan jika perlu berikan penurun panas seperti Tempracepat menurunkan demam paracetamol yang aman dan beerja langsung di pusat panas.

4. Cukup Istirahat dan Alihkan Perhatiannya

Liburan memang menyenangkan, tapi perjalanan menuju tempat liburan itu bisa jadi sangat berat ketika anak sakit. Kita bisa mengingatkan anak-anak tentang betapa menyenangkannya jika sudah sampai dan memintanya tidur selama perjalanan. Tapi, bagaimana jika anak sulit tidur?

Nah, kita bisa ajak dia bermain. Berikut ini beberapa ide permainan yang bisa membantu meringankan ‘deritanya’.

Sumber: boyslifeorg.com
Sumber: boyslifeorg.com
  • Bawa beberapa perlengkapan anti-bosan seperti adalah kertas, papan jalan, alat tulis, origami, slime, atau lilin mainan. Beberapa benda ini cukup berguna mengisi waktu saat perjalanan selain gadget.
  • Scavenger Hunt. Ini apa ya bahasa Indonesianya? Inti permainannya, meminta anak melihat keluar jendela untuk mencari sesuatu berdasarkan Misalkan, “Cari benda Ungu”, atau “Tunjuk anak kecil”, atau “Cari kata Rumah”.
  • Sebut atau Tulis Kata. Permainan ini bisa disesuaikan untuk berbagai level. Bisa hanya menyebutkan huruf yang ditemukan sampai mencari kata yang berawalan huruf tertentu.
  • Menyebutkan merek mobil. Bisa juga menambahkan dengan warna mobil untuk menambah tingkat kesulitan.
  • Cerita berantai. Mulailah dengan kalimat seperti, “Liana ingin makan pizza, lalu….”

Tidak ada satu pun orang tua yang ingin anaknya sakit saat liburan. Tapi, ya… kita tetap harus siap kalau itu terjadi. Semoga tips di atas membantu ya, setidaknya sampai kita mendapatkan bantuan medis profesional.

Selamat berlibur. ^_^


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.
reward dan punishment dalam pendidikan islam
Homeschooling, My Reflection, Parenting

Reward and Punishment Dalam Islam(?)

Mungkin bapak-Ibu guru yang berkutat dalam bidang pendidikan atau orang tua yang sering melahap buku-buku pengasuhan anak sudah tidak asing dengan istilah  ‘reward and punishment’. Tapi, bagaimana dengan cara pendidikan anak dalam Islam? Apakah ada reward and punishment dalam Islam?

**Mierza Miranti ummu Abdillah – www.klastulistiwa.com**

 

Reward and Punishment Dalam Pendidikan Islam

Mari kita lihat sebuah hadits dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),  “Tatkala Allah menciptakan para makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR. Bukhari no. 6855 dan Muslim no. 2751)

Lihatlah kalimat: “RAHMAT ALLAAH MENGALAHKAN MURKA-NYA”

Jika diperbandingkan teori yang dibuat manusia dengan apa yang diciptakan Allah, sangat terlihat ketimpangannya. Lihatlah kata ‘ganjaran-dan-hukuman’. Sangat satu-lawan-satu, bukan?

Bandingkan dengan frasa RAHMAT-MENGALAHKAN-MURKA’ yang diambil dari hadits di atas. Sungguh berbeda levelnya antara kasih sayang manusia kepada sesamanya, dibandingkan dengan Pencipta terhadap ciptaanNya.

MENGALAHKAN: The Reward GOES BEYOND the Punishment

Sungguh indah ajaran Islam jika benar-benar tercermin dalam adab seorang hamba terhadap Allah dan ciptaanNya. Betapa indahnya jika kita mampu menanamkan ini kepada anak-anak didik kita. Memahamkan bahwa rahmat Allah mendahului murkanya.

Menunjukkan kasih sayang kita lebih besar dari keinginan untuk menghukumnya memang tidak semudah menuliskannya. Sungguh… saya pun masih tertatih melakukannya. Hanya Allahlah sebaik-baiknya pelindung dari hati yang mudah dibolak-balik ini. Mari teruuus meminta hati ini agar dilembutkan. Karena contoh terbaik seharusnya berawal dari rumah.

Lalu bagaimana? Apa konkritnya? Mari mengambil apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan generasi shalih setelahnya dalam menanamkan nilai yang indah ini. Apa sajakah itu?

1. Memberi Pujian

Lihatlah cara Rasulullah memuji Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhu. Dalam riwayat Tirmidzi dalam shahih Al Albani, beliau bersabda bahwa Abu Bakar dan Umar adalah pendengaran dan penglihatannya.

Begitu pula saat Rasulullah bertemu As’ad Abdul Aziz bersama suatu kaum dimana Ia ada bersama mereka . Rasulullah menyebutkan bahwa dalam dirinya terdapat akhlak yang dicintai Allah dan RasulNya, yaitu tidak tergesa-gesa. Lihatlah cara Rasulullah memuji, sangat SPESIFIK, TEPAT WAKTU, DAN APA ADANYA.

Pujian seperti, “Iiiih pinter,” mungkin baik, tapi dengan ucapan “MasyaAllah” atau “Barakallahu fiik” insyaAllah akan mengajarkan anak (dan kita sendiri) untuk menisbatkan setiiiiiiiiap kecerdasan kepada Allah. Every single thing! Akan lebih baik lagi jika spesifik pencapaiannya, misalkan ketika anak kita berhasil membereskan mainan tanpa diminta. Maka TEPAT WAKTUlah memuji dengan bersegera melakukannya. Katakan SPESIFIK dan APA ADANYA, dengan kata-kata seperti, “MasyaAllah, kamu yang bereskan itu semua Nak? Ummi bangga banget deh jadinya.”

Give them the reason. Itulah yang diajarkan Rasulullah melalui sabdanya.

2. Memberi Penghargaan Materi

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah pernah mendapatkan sutera sebagai hadiah. Lalu Rasulullah memberikan sutera tersebut kepada Umar sebagai meski bukan untuk dipakainya. Hadiah… Mari berikan anak-anak hadiah sebagai penghargaan atas pencapaian mereka.

Namun, ingatlah. Pendidikan Islam ini sangat holistik. Ketika kita memberi penghargaan materi, pastikan kita mengiringinya dengan tauhid. Ilmu ini insya Allah akan mengajarkan kita tetap zuhud dan menghindarkan dari hedonisme apalagi materialisme.

Saya di rumah berusaha keras menerapkan ini. Sulit? Jangan ditanya. Reward yang kami terapkan jangan dibayangkan seperti mainan mahal, apalagi gadget. Tapi cukup dengan menonton salah satu pilihan video edukasi (karena kami tidak punya TV) atau memasak dan membuat  sesuatu ketika mereka selesai target harian tepat waktu. Jika dalam satu minggu itu seluruh target bisa dicapai, maka anak-anak dapat memilih jajanan terpilih yang ada di warung (karena biasanya kudapan sangat saya atur) atau pergi bermain di taman kota/ jalan-jalan. Semua tidak mudah, karena shift dari apa yang telah terjadi dalam gaya hidup sebelumnya. Allah. Hanya Allahlah yang memudahkan semuanya.

3. Mendoakan Anak

Rasulullah mengingatkan kita dalam HR Muslim untuk mendoakan kebaikan, bukan kejelekan, kepada anak-anak kita. Namun, mampukah kita (saya) melakukannya di saat marah? Ah ya… ini juga PR terbesar saya pribadi.

Bukankah apa yang kita ucapkan dapat dikabulkan oleh Allah sesuai kehendakNya.? Takutkah kita (saya) ketika kata-kata yang buruk yang pernah diucapkan itu dikabulkan? Ah, semoga kita mampu menahan lisan ini untuk hanya mendoakan hal-hal yang baik untuk anak-anak kita.

4. Mengapresiasi Pertanyaan Anak-Anak

Allah berfirman dalam surat Abasa 1-10 dimana Allah menegur Rasulullah yang berpaling dari Ibnu Ummi Maktum yang ingin belajar saat Rasulullah berada bersama dengan tokoh-tokoh Quraisy. Karena merasa terganggu, Rasulullah memalingkan mukanya dari Ibnu Ummi Maktum.

Bayangkan,  seorang Ibnu Ummi Maktum datang meminta ilmu dan ditolak oleh Rasulullah.

Bayangkan, anak-anak datang ketika kita melakukan sesuatu.

Yes, it sounds familiar. Keingintahuan anak-anak adalah perbuatan baik yang akan mengantarkan pada kecerdasannya. Setiap kesabaran akan menambahkan ilmu, baik bagi anak-anak maupun kita sendiri. Sekali lagi ini tidak mudah. Tapi bukankah menanam bibit membutuhkan waktu hingga kita bisa memetik buahnya?

5. Mencarikan Teman yang Baik

Rasulullah bersabda, “Jika tidak karena hijrah, niscaya aku akan menjadi salah seorang Anshor.” (Muttafaqun Alaih).

Inilah yang menjadi dasar keputusan kami mengambil jalur HS. Bagaimana sosialisasinya? Kita bisa melakukannya dengan mengunjungi rumah teman-teman Muslim atau mencari komunitas yang berisi orang tua yang berjalan di atas ajaran Islam yang haq. Berusaha mencari percikan minyak wangi insyaAllah akan menjaga mereka menjalani masa mudanya, yang nanti akan Allah tanya untuk apa ia habiskan.

6. Memberi Nasihat yang Baik

Apa yang akan kita katakan ketika ada pemuda yang sangat kita kenal, saudara misalnya, datang dan berkata kalau ia ingin berzinah. Itulah yang terjadi dengan Rasulullah. Pertanyaan yang ‘nggak sopan’ dari pemuda itu (yang membuat sahabat di sekitar Nabi menjadi marah) malah berbuah nasihat dan analogi. Begitu pula dengan seorang sahabat yang datang meminta nasihat. Dikatakan kepadanya, “Jangan kamu marah.”

Sungguh wasiat akan dapat membuka jalan kebaikan, terutama kepada penerus masa depan dan pembela agama ini. Setiap kemarahan hanya akan menumbuhkan amarah. Setiap wasiat akan mendatangkan kebajikan.

Betapa indah sifat rahmat Allah ini jika dapat tertanam dalam hati anak-anak kita. Dengan mengenalnya, insya Allah akan ada pengaruh besar pada diri anak-anak tercinta untuk menggapai rahmat-Nya yang sesungguhnya. Allah ta’ala berfirman dalam QS. Al-A’raaf: 56 bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.

Bukankah melihat anak berbuat ihsan atau baik, kepada sesama, dan terutama kepada Rabbnya adalah hal yang kita inginkan? Bismillah. Semoga Allah memudahkan kita melakukannya. SEMANGKAA! SEMANGat Karena Alla Azza wa Jalla. ^_^


Catatan ini adalah murajaah dan refleksi dari seorang Ibu penyelenggara Pendidikan Berbasis Keluarga (PBK/ Homeschooling) yang sebagian besar isinya mengambil dari kajian kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan karangan Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi – tepatnya pada Bab Tambahan 3. Jadi, insyaAllah, isi kitab tersebut tidak dipelajari sendiri secara otodidak, melainkan melalui ahli ilmu, sebagaimana seharusnya ilmu diin itu dipelajari.

 

Hajj Activities for Kids, Homeschooling

Kegiatan Homeschooling Menjelang Idul Adha

Kegiatan homeschooling ini didapatkan dari http://themuslimahguide.com yaaa.. bukan buatan sendiri. Alasannya, karena saya emak2 praktis (dan males – uhuk) . Agak mikir dikit aja diterjemahkan jadi bahasa Indonesia. Mari simpen biar nggak terkubur di linimasa. Akhirul kata: smeoga bisa eksekusiiiiii. ^_^

aktifitas homeschooling sebelum idul adha
Sumber: http://pilgrimagetomecca.org

 

Sumber: HUGE List of Hajj Resources for Kids


Hajj lap-books and activity books:

 

Video Tentang Haji:

 

Virtual Hajj:

 

Kosakata Haji:

 

Peta dan Infografis Haji  (Visual)

 

Bacaan Tentang Haji:

 

  •  (An Umrah book) Ammaar in Makkah by Dar-us-Salam Research Division (dikisahkan oleh anak yang berumrah – 8+)

 

 

Mewarnaiii ^____^ Yaaaay:

 

Kuiiiiiis:

 

Bikin-Bikin: 

Apalah-apalaaaah:

  • Bermain peran jadi agen travel (memperkirakan berapa banyak biaya untuk pergi melakukan haji)
  • Bermain peran menjadi pemandu wisata di Mekah (menunjukkan semua tempat yang dikunjungi
  • Main isi2an koper mengenai apa yang harus dipersiapkan kalau pergi haji
  • Membuat buku doa untuk haji
  • Talbiyya
  • Menyalin ayat Qur’an tentang haji
  • Bermain Peran berhaji (apa namanya yaaa? lupa)
  • Berburu harta karun
  • Membakar
  • Finger Painting
  • Jurnal Dzulhijjah
  •  Nature Walk (mengumpulkan kerikil kecil)
  • Mewawancarai teman orang tua/ saudara yang akan berangkat haji
  • Menulis cerita haji / puisi
  • Mendirikan tenda di luar (Mina) dan tidur siang
  • Membuat diorama tempat Haji Muzdalifah, Mina, Gunung Arafa
  • Buat puzzle sendiri
  • Meneliti dan melakukan wawancara dan membuat jurnal haji
  • Menulis artikel surat kabar
  • Membuat brosur Haji
  • Bermain game seperti papan permainan Haji
  • Menghias rumah untuk Idul Adha

Udaaaah ^_^  Jazzakillah khairan The Muslimah Guide ! 

My Reflection

Wasiat Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik bin Marwan berkata kepada pendidik adab anak-anaknya,

“Ajarkan kepada mereka untuk jujur sebagaimana engkau ajarkan mereka Qur’an. Dudukkanlah mereka dengan ulama dan orang-orang mulia. Karena mereka adalah orang-orang yang paling bagus adabnya dan paling jelek keinginannya (pada dunia). Dan jauhkanlah mereka dari orang-orang bodoh, karena mereka adalah orang yang paling rendah keinginannya kepada kebaikan. (Ibnu Abidunnya)

wasiat abdul malik bin marwan

 

 

***kajian terlewat, afwan

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

25 WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB

Pengasuhan anak dalam Islam menempati porsi yang penting, apalagi bagi yang memilih jalur homeschooling dimana orang tua menjadi perancang, pelaksana, dan evaluator yang utama.

wp-1465448591978.jpegBersyukur sekali saya dimudahkan untuk duduk selama dua bulan dalam kajian kitab parenting Islami, Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan. Tidak ada yang bisa saya berikan sebagai balasan sepadan dari ilmu yang bermanfaat itu selain membagikannya.

Dalam bab 3 ini, dibahas tentang wasiat-wasiat generasi terbaik Islam terdahulu – sahabat, thabi’in, thabiut thabiin – untuk para pendidik adab, yaitu orang tua.

Beberapa nasihat itu memiliki hilir yang sama dan insyaAllah bermanfaat dalam mendidik anak-anak kita. Silahkan klik tautan pada nama masing-masing pemimpin di blog saya, klastulistiwa.com,  untuk mendapatkan kalimatnya secara utuh. Berikut wasiat berharga para pendidik yang patut kita renungkan sebagai pelajaran.

Sepuluh wasiat pertama di bawah adalah  wasiat Utbah bin Abi Sufyan kepada Abdush Shamad, pendidik anak-anaknya. Beliau menginginkan agar sang pendidik dapat:

1. Memperbaiki diri sebelum mendidik adab.

2. Menjadi pendidik yang menyenangkan.

3. Mengajarkan Qur’an dan hadits.

4. Mengajarkan syai’r-sya’ir yang penuh hikmah, namun tidak menjauhkan dari ibadah.

5. Menggunakan kalimat yang dipahami anak.

6. Menyelesaikan pelajaran yang telah dimulai hingga benar-benar paham dan tidak terburu-buru loncat ke bab selanjutnya/ materi lain.

7. Mengajari anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

8. Melatih anak memilih tauladan/ idola yang baik adabnya.

9. Menguatkan anak untuk menjauhi ikhtilat, terutama setelah baligh.

10. Bersemangat dan menghindari bersantai-santai dalam mendidik.

Khusus untuk ikhtilat, Umair bin Habib juga mewanti-wanti akan bahayanya. Beliau menegur Ziyad ketika tahu bahwa ia menceritakan tentang dunia dan wanita saat mengajari anaknya.

Sementara tentang meriwayatkan syair yang penuh hikmah, Harun bin Muhammad dari Bani Abasyah juga sangat mementingkannya karena dalam syair tersebut terkumpul adab yang bernilai tinggi. Beliau juga menambahkan beberapa wasiat agar pendidik dapat:

11. Membacakan Qurán kepada anak dengan bacaan yang bagus.

12. Memberikan berita-berita yang bermanfaat.

13. Meletakkan kalimat pada tempatnya (ilmu komunikasi).

Mengenai syair, ternyata Syuraih Al Qadhi pun sering bersyair. Seperti syair yang ia tuliskan kepada pendidik anaknya yang intinya agar pendidik tersebut dapat:

14. Mendidik anak tepat waktu dalam mendirikan shalat

15. Menasehati dengan nasehat yang mendidik dan cerdas

Nasihat yang mendidik tentunya memiliki cara yang baik dan berterima. Salah satunya diwasiatkan Hisyam bin Abdul Malik yang mengingatkan pendidik adab anaknya untuk TIDAK MENASEHATI DI DEPAN ORANG LAIN, karena akan cenderung mendorong si anak untuk berbuat kesalahan lagi.

Sementara itu, Muawiyah bin Abi Sufyan menyebutkan beberapa hal penting lain yang perlu diajarkan kepada anak. Ilmu dan keahlian tersebut diantaranya:

16. Mempelajari bahasa Arab.

17. Mempelajari nasab.

18. Mengetahui ilmu tentang perbintangan.

19. Bersikap kritis dan mampu melontarkan pertanyaan kritis dan berkualitas.

20. Mendidik hati untuk berusaha memahami.

Lalu, Abdul Malik bin Marwan lebih menekankan kepada 2 hal yaitu:

21. Mengajari kejujuran seperti mengajarkan shalat

22. Membiasakan anak untuk berada dalam lingkungan orang-orang yang beradab baik.

Terakhir, yaitu dari Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khatab. Beliau mewasiatkan beberapa hal, yaitu:

23. Latihan fisik itu sangat baik, selama waktunya tepat.

24. Hindari terlalu banyak tertawa karena mematikan hati.

25. Cerdaslah memilih mainan yang tidak melalaikan dari mengingat Allah, seperti alat musik, karena bisa menumbuhkan penyakit nifaq dalam hati.

Alhamdulillah. Demikian yang bisa saya bagi hari ini. Semoga bermanfaat.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Syuraih Al Qadhi dan Hisyam bin Abdul Malik

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Anak Syuraih waktu itu lari dari tempat belajar dan bermain-main bersama anak-anak bahkan mengganggu anjing-anjing. Maka, tatkala hal ini terdengar oleh beliau, beliau menulis syair kepada pendidik adab anaknya tersebut yang artinya seperti di bawah ini.

“Dia telah meninggalkan shalat untuk berusaha bermain dengan anjing-anjing. Mencari persoalan dengan makhluk yang sangat kotor dan bodoh. Maka, apabila ia mendatangimu, cercalah dengan sebenar-benar cercaan. Dan, nasehatilah dengan nasehat yang mendidik dan cerdas.

Jika kamu ingin memukulnya, pukullah dengan pukulan yang bagus. Jika kamu sudah memukul 3 kali, maka tahanlah. Ketahui.ah bahwasanya apa yang engkau bawa adalah amanah dariku. Maka jiwa dia (anakku) bersama dengan sebaik-baik jiwa yang mengalir padaku.

Syuraih dan HisyamDalam nasihat di atas, Syuraih ingin menekankan pentingnya shalat dan nasihat. Mengenai cercaan yang dimaksud, bukan seperti cercaan yang menghinakan seperti yang dilakukan orang awan. Cercaan yang dimaksud adalah memberikan permisalan dari keumuman  dalil atau adat kebiasaan. Misalkan, dengan mengatakan, “Tahukah kamu nak, siapa yang mengabaikan pelajaran maka dia akan menyesal di hari kemudian.” Sementara tentang memukul, hal ini berkenaan dengan usia anak Syuraih yang disyariatkan untuk dipukul dan tentunya bukan jenis pukulan yang menyakiti.

Sedangkan wasiat  Hisyam bin Abdul Malik adalah yang mengingatkan pendidik adab anaknya untuk TIDAK MENASEHATI DI DEPAN ORANG LAIN, karena akan cenderung mendorong si anak untuk berbuat kesalahan lagi. Hal ini bisa dilihat dari yang ia katakan kepada pendidik adab anaknya,

“Jika kamu mendengar darinya sebuah kalimat yang jelek atau tidak pantas dalam sebuah majelis di tengah orang banyak, maka jangan kamu cela. Karena, boleh jadi yang seperti itu akan semakin mendorong kesalahannya Namun jagalah dia (dari kejelekan). Dan jika ia ingin berkata jelek, maka tahanlah.” (Al Adzkiya)

Makna tahan di atas adalah pencegahan. Seorang pendidik harus bisa menahan anak-anaknya berkata buruk. Ia bisa membuat perjanjian di awal atau segera mengingatkan sebelum keburukan itu terjadi.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khatab

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

wasiat umarDari Abu Ja’far Al Umawi, Umar bin Abdullah berkata,

“Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada pendidik adab anak-anaknya….

Kepada Sahl Maulana,

Sesungguhnya aku telah memilihmu karena pertimbangan ilmuku untuk mendidik anak-anakku. Aku serahkan merek kepadamu, bukan kepada selainmu dari maula-maulaku dan orang-orang khususku. 

Maka latihlah paha-paha mereka karena akan mengokohkan kaki-kaki mereka. Tinggalkanlah berpagi-pagi dalam melatih mereka, karena membiasakannya akan menjadikan lalai. Tinggalkan banyak tertawa karena itu akan mematikan hati. Dan jadikanlah perkara awal yang mesti mereka yakini dari pelajaran adabmu adalah membenci mainan yang munculnya dari syaithan dan akibatnyaadalah kemurkaan Ar Rahman. 

Maka sungguh telah sampai kepadaku dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang berilmu,

“Bahwasanya mendatangi alat-alat musik, mendengar nyanyi-nyanyian, dan bertekun-tekun pada keduanya akan menumbuhkan penyakit nifaq dalam hati sebagaimana air menumbuhkn rumput.“(Ibnu Abiddunya)

My Reflection

WASIAT UTBAH BIN ABI SUFYAN DAN UMAIR BIN HABIB UNTUK PENDIDIK ADAB

utbahWasiat ‘Utbah bin Abi Sufyah ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Berikut ini adalah wasiat beliau yang sangat penting untuk mendidik generasi terbaik Islam masa depan.

Dari Sa’ad dia berkata, “Utbah bin Abi Sufyan berwasiat kepada Abduh Shomad, pendidik anak laki-lakinya: “Hendaklah perkara pertama dalam kamu mendidik atau memperbaiki akhlak anak-anakku adalah kamu memperbaiki dirimu sendiri. Karena mata-mata mereka sangat tertarik dengan kekuranganmu. Kebaikan di sisi mereka adalah apa yang kamu lakukan. Dan kejelekan adalah apa yang engkau tinggalkan.

Beliau berkata, “Ajarkan kepada anak-anak Al Qur’an dan jangan kamu membuat bosan, maka mereka meninggalkanmu. Ajarkan mereka hadits dan syair-syair yang membawa hikmah. Jangan kamu keluar bab ilmu sampai mereka benar-benar kokoh, karena kata-kata yang berdesak-desakkan untuk disampaikan bisa membuat bingung pemahaman.

Utbah bin Abi Sufyan berkata, “Takut-takutilah mereka denganku. Didiklah adab mereka kepada selainku. Jadilah kamu untuk mereka seperti dokter yang penuh kasih, yang tidak tergesa-gesa memberikan obat sampai mereka paham penyakitnya. Laranglah mereka dari membahas para wanita. Sibukkanlah mereka dengan kisah-kisah ahli hikmah. Ajarkan mereka akhlak orang-orang yang penuh adab. Mintalah kamu bekal kepadaku dalam mendidik adab kepada mereka, niscaya aku akan menambahkan bekal. Jangan kamu bersantai-santai karena udzur yang datang dariku. Karena sungguh aku telah memberikan tanggung jawab ini kepadamu. (Ibnu Abi Dunya – Kitab Al Qiyal)

Dari wasiat ‘Utbah bin Abi di atas, kita para pendidik adab bisa mengambil hikmah. Inilah beberapa pelajaran yang bisa dipetik untuk diaplikasikan dalam pendidikan anak-anak:

  1. Perbaiki diri sebelum mendidik adab
  2. Jadilah pendidik yang menyenangkan
  3. Ajarkan Qur’an dan hadits
  4. Ajarkan syai’r-sya’ir yang penuh hikmah, namun tidak menjauhkan dari ibadah
  5. Gunakan kalimat yang dipahami anak
  6. Selesaikan pelajaran yang telah dimulai hingga benar-benar paham
  7. Ajari untuk menyelesaikan masalahnya sendiri
  8. Latih anak memilih dan memperhatikan orang lain yang baik adabnya
  9. Kuatkan anak untuk menjauhi ikhtilat, terutama setelah baligh.
  10. Bersemangatlah dan hindari bersantai-santai dalam mendidik.

Masalah ikhtilat ini disoroti pula oleh Umair bin Habib akan bahaya ikhtilat ini  sebagaimana yang disampaikan dari Ibnu Syaibah Abi Ja’far Alkhutami:

Beliau berkata: Umair bin Habib mempunyai budak yang kemudian dimerdekakannya. Dia mengajari anak Umair Al Qurán dan menulis. (Waktu itu) dia menyebut-nyebut wanita dan dunia di hadapan mereka. Maka Umair pun menegur,

“Ya Ziyad, sesungguhnya kamu telah meletakkan kubah syaithan di atas kepala anak-anakku. Maka (sekarang) hilangkanlah.”

Gentingnya masalah ikhtilat yang kini dianggap biasa ini ternyata harus kita telan akibatnya. Padahal para ulama sudah memberikan solusi jika memang kondisi terpaksa menjadikan laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan kelas. Tempatkanlah para anak lelaki itu di depan anak perempuan agar lebih terjaga pandangannya. Bukan, solusi ini bukan untuk ‘merendahkan’ kecerdasan wanita. Justru, dengan tidak dipajangnya wanita di depan laki-laki, maka kehormatannya lebih terjaga. Justru yang terlihat dan ternilai adalh kecerdasannya, bukan fisiknya.

Wallahu ‘alam bi shawab

 

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Harun bin Muhammad dari Bani Habasyah

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Harun bin Muhammad dari Bani Abasyah sangat mementingkan syair yang terkandung adab yang bernilai tinggi. Beliau mewasiatkan Al Amin dan Al Ma’mun kepada Al Kisa-iy. Diantara wasiatnya adalah

Riwayatkanlah kepada mereka syair, karena akan mengumpukan adab yang bernilai tinggi.” (Adrotul Aghridh)

“Sungguh aku telah menyerahkan jantung hatinya, maka … dan jadikanlah ketaatan untuk anakku. Jadikanlah dia kepada Amirul Mualimin kepadaku. Bacakanlah Al Qur’an yang bagus. Dan beritahukanlah kabar-kabar yang bermanfaat. Ajarkan perilaku yangbagus. Perlihatkan cara bicara yang bagus (meletakkan kalimat pada tempatnya). Tahanlah anak-anak untuk tertawa karena tertawa ada waktunya.”

wasiat harunDari wasiat di atas, maka secara fitrah, kita sebenarnya memang menyukai bacaan yang bagus, Itulah kenapa pendidik adab sebaiknya membacakan Qur’an kepada anak dengan bacaan yang bagus sebagai ‘idola’ pertama sebelum yang lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan berita-berita bermanfaat. Subhanallah… jaman dulu memang belum ada internet, namun sungguh wasiat ini sangat penting. Betapa tidak semua hal yang kita dengar dan baca itu kita perlukan. Inilah yang perlu kita kabarkan dan ajarkan kepada anak-anak kita.

Kemudian mengenai meletakkan kalimat pada tempatnya. Betapa dakwah akan menjadi hikmah jika seseorang mampu menerapkan ilmu untuk berkomunikasi. Satu hal yang pertama dilakukan adalah memberikan teladan sebelum mendidik anak-anak untuk mempraktekkannya.

Dan yang terakhir adalah tertawa. Sebagaimana kita tahu bahwa terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati. Begitu pun mengetahui tempat dan waktu yang tepat untuk tertawa adalah adab yang penting untuk diajarkan.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Muawiyah bin Abi Sufyan Kepada Pendidik Adab

Masih dalam seri 25 Nasihat Generasi Terdahulu Kepada Para Pendidik Adab, Muawiyah bin Abi Sufyan juga mewasiatkan beberapa hal terkait pendidikan anaknya.

Dari Ibnu Buraidah bahwa Muawiyah mengutus seorang utusan kepada Daghfal bin Handhalah untuk menanyakan bahasa Arab, nasab bangsa Arab (dan keluarga Rasulullah), dan tentang perbintangan (untuk mencari tanda atau alamat). Utusan ini takjub dengan kealiman (kecerdasan) Daghfal dan bertanya,

“Ya Daghfal, dari mana kamu bisa hafal seperti ini?”

Maka Daghfal menjawab,

“Dengan lisan yang rajin bertanya dan hati yang banyak berusaha memahami. Karena penyakit ilmu adalah ilmu.”

Dalam perkataannya, dapat kita lihat bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan menyebutkan beberapa hal penting lain yang perlu diajarkan kepada anak. Ilmu dan keahlian tersebut diantaranya:

1. Mempelajari bahasa Arab.

2. Mempelajari nasab bangsa Arab, terutama nasab Rasulullah.

3. Mengetahui ilmu tentang perbintangan.

4. Bersikap kritis dan mampu melontarkan pertanyaan kritis dan berkualitas.

5. Mendidik hati untuk berusaha memahami.

6. Tawadhu dengan ilmu yang dimiliki

Product Review

Kenapa Harus Asus 15 Inch, Wahai Telecommuters?

Telecommuters? Apaan tuh?

Itu kerjaan saya. Hehehe. Selain jadi homeschooling mum of 3, saya juga menulis secara telecommute full time 40 jam seminggu.

Jadi apaaa telecommuter itu?

Asal katanya dari telecommute, yaitu kerja dari rumah, pakai teknologi, dari laptop, internet, dan telfon – meski belum mandi dan masih pakai baju tidur *eh. Dalam kasus saya, minimal 8 jam harus bersentuhan dengan laptop lah, kalau pengen 2 hari libur seminggu.

Nah, untuk mendukung pekerjaan yang full techie itu, saya memilih ASUS X540SA. Pertimbangan pertama adalah….. HARGA! Hahahaha.. emak2 banget yaaaa.

Kenapa Harus 15 Inci ?

Ada beberapa hal yang penting banget yang membuat saya memilih laptop 15 inch model yang ini.

  1. Gak sampai 4.000 K bisa bawa pulang laptop berlayar 15.6″.  Hahaha.. emang dasar ya ga jauh-jauh dari harga. Etapi jaman sekarang ini kan memang harus cerdas menyiasati budget dan peluang. *ngeles*
  2. Luaaas dan bisa kerja tanpa sering scrolling layar sana-sini yang penting banget buat telecommuter yang harus bekerja di online organizer boards seperti Trello (klik  tautannya aja ya, ga bakal dibahas disini) . Nah, buat perusahaan  yang punya divisi banyak, boards-nya juga banyak. Alhasil, kalau layarnya sempiiit, itu kartu-kartu proyek yang harus dikerjakan (cek tautan lagi kalau mau tau tentang Trello cards) bakal susah di drag-and-drop sana-sini.  Begini nih tampilannya. Sungguh membutuhkan keluasan layar dan hati melihatnya.
  3. Kenyamanan view laaah. Mata tidak perlu memicing, terutama kalau perlu tampilan multimedia. Ini penting buat anak-anak sih, terutama ketika harus menonton video edukasi bareng-bareng. Yang pasti, berguna banget untuk si kecil menghitung benda-benda kecil waktu mengerjakan maths di ixl.com seperti yang terlihat di bawah ini nih. Kebayang ga sih kalau pakai netbook liatnya?

     

Baiklah. Cukup curhatnya, yes. Sekarang review benerannya tentang si ASUS X540SA. Selain harga, apalagi yang pantas dilirik dan kenapa? Kenapa?

Kenapa Harus ASUS 15 Inci yang Itu?

Ga boleh harga lagi ya alasannya? Muahahaha. Baiklah.

Banyaaaak bangeeeet alasan kenapa emang harus ASUS 15 inci. Nih, ya.. saja jabarkan spesifikasi dan fitur-fitur yang mendukung banget pekerjaan dan gaya hidup saya (Tsaaah… You don’t say ‘gaya hidup’, eh?) Spesifikasinya jelaaas worth the bucks alias lebih dari ada harga ada rupa. Ini mah ada harga dapetnya rupa-rupa.  Here you go:

  1. Dengan memori sebesar  2GB DDR3L, program yang dibuka bersamaan dengan kerjaan lancaaar jayaaa tanpa lagging. Apalagi kalau pas kerjaan banyak plus anak-anak lagi keluar curiosity-nya. Jalan dah tuh, researching the web barengan sama buka proyek, sambil nulis, kadang-kadang nge-Yutub juga. Bagusnyaaa, si IceCool technology bikin laptop yang diseksa 25,5 jam sehari tu anteng-anteng aja.
  2. 500GB HDD, ng… cukuplah. Kan emang banyakan kerja online berbasis cloud. Untuk pembelajaran anak-anak juga pakainya aplikasi online atau website.
  3. DVDRW — Iyesss…. bapak emak pasti tahu kalau abis jalan-jalan anaknya suka minta dibeliin dvd. Jelasss laptop dengan fungsi ini perlu pake bangeet.
  4. VGA Intel HD Graphic.. Huruf ajaib si HD inii
    Kalau Ga Ada Eye Care Technology

    loooh, emang bikin betah mata deh. Ditambah lagi dengan Eye Care Technology. Kumpliiiit banget memanjakan dan menjaga mata, dari mulai melototin Trello, researching material, sampe nonton segala video. Jangan sampe deh kejadian kayak gambar di samping. Oiya, kenikmatan menonton juga nambah ajib dengan Sonic Master yang mantep suaranya.

  5. Fitur penting terakhir yang bener-bener perfect on-the-go itu adalah Polymer Battery yang dukung banget mobilitas. Mobilitas ituuu… buat saya.. seperti bawa-bawa laptop buat kerja di kebun belakang atau beranda sambil ngawasin anak-anak lagi eksperimen. Hahaha. I’m a remotely working homeschooling Mom! What to expect? 🙂
  6. Oiya.. Satu lagi.. Beneran terakhir deh. Fitur Instant on 2 second dari ASUS! Aseli ini bener-bener life-saving. Jadi, selain Trello, telecommuters juga dipantau aktifitasnya secara online looh. Salah satunya dengan aplikasi Time Doctor yang bisa mendeteksi ketika kita ga di depan laptop. Kan, ada kalanya tuh  anak-anak minta tolong sebentaaar. Ga usah khawatir, dengan fitur ini pekerjaan aman, anak juga keurus. Begitulah kira-kira intinya.

Sebenarnya, banyak banget yang mau diulas tentang si ASUS kesayangan ini. Tapi berhubung waktu dan word count tidak mencukupi, saya sudahi dulu yah. Semoga bermanfaat.

Oiya, kalau mau tahu tentang ASUS 15 inch atau telecommuting jobs lebih jauh, boleh tanya-tanya kok. Silahkan tuliskan komentar di bawah. Tenang, saya nggak gigit. ^_^

My Reflection, My Thoughts, Parenting

Kenapa Malu Punya Anak Pemalu?

*Mierza Ummu Abdillah*

“Anaknya pemalu ya, Umm?”

Betapa mudahkah seorang anak dilabel ‘pemalu’, hanya karena memilih tidak berebut kue saat istirahat seperti teman-temannya? Tapi kurangnya ilmu membuat ibu itu pun hanya tersenyum malu. Malu punya anak pemalu.

Ah, andai saja dulu Ibu itu tahu bahwa rasa malu adalah akhlak Islam yang terpuji. Malu yang ditunjukkan anaknya bukanlah malu yang tercela, seperti malu menuntut ilmu syar’i, mengaji, amar ma’ruf nahi munkar, melakukan kewajiban seorang Muslim, dan yang semisalnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Andai Ibu itu tahu bahwa buah dari rasa malu adalah iffah atau menjaga kehormatan. Hal yang sangat sulit ditemukan di jaman penuh fitnah ini.Bahwa memiliki malu bukan suatu kesalahan.

malu

Bukankah di dunia yang berisik ini, kita memerlukan manusia yang mampu menjadi pendengar yang penuh perhatian? Tidakkah kita pernah menemukan seorang pribadi yang begitu diterima bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata? 

Ibu… Tidak perlu meminta maaf kepada orang lain hanya karena memiliki ‘anak pemalu’. Jangan pula mengucapkannya di hadapan intanmu yang berharga itu. Tidak ada yang salah dan banyak alasan tepat untuk menjadi pemalu.

Andai Ibu itu tahu bahwa anak yang pemalu tidak selalu berarti menderita citra diri yang buruk. Ah… alangkah tidak adilnya.  Banyak anak-anak pemalu yang memiliki konsep diri yang kuat. Mereka bersinar dari dalam – jika saja para orang tua itu lebih sabar.

Andai dulu Ibu itu tahu bahwa ia tidak perlu khawatir jika anaknya tutup mulut di tengah orang banyak. Bahwa selama anaknya masih bisa melakukan kontak mata, sopan, menurut, dan bahagia – namun hanya diam – itu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa anak-anak ‘pemalu’-nya lebih dalam berpikir, menyeluruh dalam mengamati, dan sangat berhati-hati. Mereka hanya seperti mesin diesel – memerlukan waktu tambahan untuk untuk pemanasan ketika bertemu orang baru.

Bersyukurlah, Ibu, jika anakmu hanya merasa malu – bukan menarik diri. Bukan bersembunyi dari kemarahan dan ketakutan. Bukankah kau tidak pernah mengancam atau menakutinya?  Jika tidak, maka tenanglah. Anakmu hanya memilih menjadi mereka yang bersorak dalam pawai dan dipercaya untuk melambaikan bendera.

Namun, pelajarilah Ibu…. Jangan sampai label pemalu ini digunakan untuk tidak mau berteman dengan anak-anak lainnya. Jangan sampai label ‘pemalu’ ini digunakan  sebagai pertahanan untuk tidak berusaha lebih keras dan tinggal di zona nyaman.

Jika kau menemukan demikian  maka perkuatlah rasa percaya diri mereka. Anak ini hanya  membutuhkan orang tua dapat ia percaya, yang mendisiplinkan dengan cara yang benar dan lembut. Mendidik tanpa menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Ibu, bersyukurlah dengan akhlak anakmu. Ia diberkati dengan sifat yang sensitif, sangat peduli, dan lebih berhati-hati. Peluklah anakmu dan jadikan dunia menjadi tempat yang lebih lembut dan menyenangkan. Ciptakan lingkungan yang nyaman yang memungkinkan kepribadian sosialnya berkembang secara alami.

Tidak Ibu.. jangan ikut mengatainya dengan cap anak “pemalu”. Jika mendengarnya, ia bisa merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dan ini akan membuatnya merasa lebih malu. Memanggilnya “pemalu” bisa membuatnya lebih cemas, seolah-olah ada sesuatu yang mereka harus lakukan untuk “membantu” atau memperbaikinya.

Dukunglah dengan cara memberitahu apa yang harus ia lakukan ketika mengunjungi saudara atau tempat yang baru. Hindari godaan untuk mengatakan, “Jangan diem aja ya, disana.” Karena itu akan menjamin dia bungkam. 

Beritahu ia apa yang diharapkan. Dari ucapan “Salim Pakde, ya.” sampai perilaku sopan lainnya. Tidak mengapa jika ia ingin membawa salah satu mainan favoritnya, seperti lego atau puzzle, yang bisa menjadi jembatan untuk komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, jika anakmu diminta tampil di hadapan umum, mintakan dulu izinnya. Jangan gunakan kekuasaan orang dewasa. Hormati tingkat kenyamanannya. Bukankah ada manusia yang lebih memilih untuk menjadi penonton?

Bantulah anakmu dengan berbicara lebih sedikit. Beri kepercayaan untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Mintalah ia untuk menjawab langsung pertanyaan orang lain, tanpa Ibu menggantikan jadi mesin penjawabnya. Sungguh ini akan sangat membantunya. Lalu, berilah ia pujian ketika berhasil membangun komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, setahun sudah waktu berlalu sejak kau putuskan mendidik anak itu sendiri. Kau memilih untuk selalu bersama 24 jam sehari, belajar bersamanya, melatihnya, berusaha menjadi teladan untuknya. Satu inginmu waktu memilih keputusan melelahkan itu: agar bisa lebih sering memeluknya.

Lihatlah, kini ia tumbuh lebih percaya diri. Dengan kesantunannya, ia tetap bersinar di tengah keramaian. Dengan kehati-hatiannya, ia memberi jeda terhadap semua jawaban yang akan dilontarkan agar bisa berterima. Dalam diamnya, dia menyerap apa yang kau tanamkan setiap harinya. Melalui tenan gnya, dia menunjukan cintanya.

Semua kesabaran ini memang tidak mudah. Cermin ini saksinya.

Jazzakillah khairan telah bersabar dengan Ibumu, yaa bunayya.

 

Homeschooling, Ramadhan Activities

Kegiatan Ramadhan Tahun Ini (Persiapan & Minggu Pertama)

Assalaamu’alaikum warahmatullah!

Alhamdulillah sudah mau Ramadhan lagi. Biarpun ga tercium bau-bau sirup Marj*n karena ga ada TV, tapi hawa-hawa Ramadhan sudah mulaai terasa. Salah satunya, anak tertua udah sering tanya… “Mi, udah bayar puasa taun kemaren, belum? Udah Sya’ban loh ini.” -_____-

Ehem, biar hawanya makin menguat, menggugah, dan menggelora… keluarga klastulistiwa mau merencanakan Kegiatan Ramadhan tahun ini di tempat baruuuu, insya Allah.

Karena isinya banyak (gambarnya hehe), posting yang ini khusus untuk persiapan dan minggu pertama saja, yes.  Apa saja kah itu?

Selain bayar puasa (yang 2 hari pertamanya ditemani si sulung), kami juga membuat dekorasi untuk Ramadhan Wall. Intinya sih biar ngingetin emaknya supaya gak lupa bikin2 yang unyu2… heuheu.

Lentera Ramdadhan Wall (Tutorialnya Gugel Aja yaaa hehe)
Lentera Ramadhan Wall (Tutorialnya Gugel Aja yaaa hehe)

Dan sebelum bocah pada nanya tentang hilal dan sidang itsbat, kami antisipasi duluan. Mereka diajak nonton di Youtube tentang hilal dan berdiskusi tentang rotasi bulan. Pleus, buat ini….

p_20160528_230602.jpg

Nah, sekarang Ramadhannya itu sendiri ngapain doong?

Ya puasa lah… *krik krik krik*

Ngga deng, tentunya memaksimalkan ibadah-ibadah, plus memperkuat hafalan. Ilmu-ilmu umum libur duluuuu… Tapi bikin-bikin jalan terus, hehe.

Bismillah, semoga yang di bawah ini bisa kejadian semua. Klik link masing-masing untuk info lebih lanjut yaaaa…. Beberapa bukan saya yang buat tentu saja hehe… kan bagi waktu buat urusin cucian, dapur, dan rumah juga (alesan).

.

Hari Pertama: Jam Shalat-Puasa

Halah, opo meneh iki? Sebenernya sih mau buat seperti jam shalat tapi ditambah dengan jam bangun sahur dan jam tidur setelah isya. Belum selesai jadi gambarnya belum diaplot. Kepoin aja IG-nya di sidebar yaaa.*eeaaa*

.

Hari Kedua: Rukun Islam

Jeng-jeng, ternyata setelah dicek di dapur, saya punya oatmeal yang dua bulan ga termakan. Daripada dibuang, mending buat review tentang rukun Islam ini. Tinggal tetes pewarna makanan di bubur oatmealnya, dan (semoga) jadilah yang seperti gambar di samping. Siapa tak sukeu sama hand painting laaah. Selanjutnya bisa lanjut dengan kegiatan yang lebih serius dengan si sulung.

.

Hari Ketiga: Poster Siluet Doa Buka Puasa

Ini emaknya juga masih ngapaliiin doa shahih buat buka puasa – yang dibaca setelah berbuka ini (klik link ini untuk belajar lebih lanjut yes). Ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678) [7]

Kemungkinan besar buat poster siluet seperti yang cara buatnya ada di link imanhomeschool ini. Tapi, di atasnya diganti tulisannya jadi doa di atas. Begitchu.

.

Hari Keempat: Poster Kurma

Hahaha… ga sempet cari nama yang nyastra buat judulnya. Tapi intinya yaaa begitulah. Ingin ajak bocah buat poster unyu-unyu soal sahur dengan kurma ini biar punya sense of pride ngikutin sunnah dan pede meski bukanya ga sama teh bottle nganu. Hehe. Posternya gambar sendiri lah… ga seperti yang dibuat komputer seperti gambar di samping. Semoga bisa aplot hasilnya di IG dan doakan selesai pas ada kuota (curcol lagiii).

.

Hari Kelima-Tujuh (Borongan): Pohon 99 Nama Allah

Pas lihat posting ini langsung melotot: huwaaaaa kereeen.. masyaAllah. Semoga bisa eksekusi. Pengennya pake daun beneran, tapi kan prosesnya lumayan lama.  Kalau pakai setria.. glek… 99 daun gitu? -___-

Tapi, kita lihat ajalah… sapa tau bisa.

.

Nah… alhamdulillah rencana sampai minggu pertama Ramadhan sudah tuntasss. Semoga bisa dieksekusi semua. ^____^

 

My Reflection

BUAT JAM MATAHARI YUK BUAT CEK KIBLAT

BUAT JAM MATAHARI YUK BUAT CEK KIBLAT

*Mierza Ummu Abdillah*

Jumuah selalu istimewa. Tapi jumat yang sekarang lebih istimewa… Kenapaaa?

Karena, matahari tepat berada di atas ka’bah.

Ini saya dapet dari mba Anne Adzkia, blogger yang homeschooling mum yang keyen ituuu loooh. Nah, jam 16.18 hari ini (27 Mei 2018) adalah saat yang tepat buat cek posisi kiblat.

image
PENGUMUMAAAAN

Ehem… berhubung anak2 emang ga (pernah) sekolah, langsung ajalah diajak buat jam matahari (bapake yang ajak, deng).

Susaahkaah? Tentu tidak…

Yang gampang ajalah, pake kardus – atau dalam kasus saya cover buku gambar bekas – sama kertas dan lem.

Caranya:
1. Buat dasarnya
2. Buat segitiga berdiri (kalau saya pakai kardus lagi di dalamnya)
3. Lem di tempat yang seharusnya.

image
Jam Matahari yang Njawani

Udah deehhhh.

Pas jam 4.18 sore, bawa keluar sesuai petunjuk gambar pengumuman di atas. Terus,  cari arah kiblat yang bayangannya ada di belakang segitiga (Ng… deskripsinya bener ga nih? Liat gambar jamnya aja yaaa)

Gampang tho? Ya jangan susah susah… karena cucian menunggu. Hehe… maklum, cari masalah jadi emak2 homskuler tapi ga punya ART (curhat).

Semoga bermanfaat. ^_^

Product Review

EFEK NEGATIF PEMBAYARAN TAGIHAN ONLINE

Sekarang ini, orang sudah banyak yang move on dari pembayaran tagihan konvensional ke pembayaran tagihan online. Semua tagihan – dari  mulai beli pulsa, bayar listrik, voucher game, sampai bayar kuliah – hampir semuanya menuju pembayaran online. Tapi, ada juga beberapa yang menolak memilih opsi ini, meski sudah ada yang membuktikan bahwa transaksi online aman itu nyata. Bisa jadi sih, yang namanya pembayaran tagihan online itu punya beberapa kelemahan. Mau tahu apa aja?

1. BIKIN GAK BISA BOROS

Kok bisa? Iya doong. Coba aja bedakan antara beli pulsa di counter handphone sama beli via Paybill Indonesia.

Di counter, biaya voucher biasanya lebih tinggi karena harus menutupi bayaran kios sama gaji yang jaga counter. Belum lagi kalau jauh, kan harus beli bensin.

Begitu juga kalau harus antri bayar tagihan, selain ongkos berangkat ke sana, Anda juga harus merogoh kocek buat beli air mineral sama jajanan buat temen nunggu.

Nah, tuh, boros kan? Gak cocok deh kalau Anda mau menjauhi gaya hidup hemat.

2. BIKIN ORANG GAK SUKA TANTANGAN

Ehm… sebentar.  Maksud tantangan disini adalah tantangan menghadapi sesuatu yang lama, lambat, dan berbahaya loh yaaa…

Halah, kok gitu?

Lah, iya. Pembayaran tagihan online kan lebih cepat dan mudah daripada metode bayar konvensional. Jadi, pada dasarnya sih, yang pilih pembayaran online berarti sudah menghilangkan faktor penundaan. Tapi, buat suka yang tantangan nunggu lama-lama dan buang-buang waktu ga jadi masalah dooong. Kan itu ‘tantangannya’… wew.

Pembayaran online pun tidak cocok bagi anda yang menyukai bahaya membawa uang tunai di perjalanan. Atau, kalau Anda suka dengan resiko terlambat bayar listrik. Begitu juga kalau Anda lebih suka mengambil ‘tantangan’ kehilangan struk pembayaran yang sebenarnya bisa Anda akses secara online.

3. BIKIN ANDA GAK BISA KOLEKSI SAMPAH

Nah, kalau Anda tipe yang suka mengumpulkan kertas-kertas bukti pembayaran dan menambahkan koleksi sampah di bumi, maka Anda menjadi pihak yang bertanggung jawab dengan kerusakan bumi. 

Tahu nggak, kalau Anda mau move on ke tagihan Anda secara online, Anda bisa mengambil  bagian dalam melestarikan sumber daya bumi. Psssttt… bukankah uang tunai juga dibuat dari kertas?

Salah satu keuntungan terbesar dari membayar tagihan Anda secara online, tentu saja, adalah menyingkirkan semua kertas itu. Hare geneee, hampir semua tagihan dapat dikirimkan dengan mudah (dan lebih murah) via Paybill.

Apa artinya? Limbah kertas pun berkurang di tempat pembuangan sampah. Dan jika tagihan atau bukti pembayaran itu lebih sedikit dicetak, berarti lebih sedikit pula energi dan bahan bakar yang dikeluarkan saat pencetakan, pengolahan, pengiriman, dan pengangkutan. So, pembayaran tagihan secara online adalah pemenang dalam hal memberikan manfaat kepada lingkungan. Yaaay!

4. GAK BISA RIBET

Jika Anda sangat tidak terorganisir, membayar tagihan online mungkin terdengar ribet. Anda mungkin merasa lebih mudah menerima tagihan kertas, menyimpannya, lalu kehilangan kertas itu saat diperlukan.

Hadeeeuh… nggak koook… pembayaran tagihan secara online itu sebenernya sangat sederhana dan menyenangkan. Cek aja disini:

Awalnya cuma download aplikasi, daftar sebentar, udah. Anda tidak perlu khawatir lagi tentang biaya keterlambatan atau kehilangan kertas-kertas dalam tumpukan apalah-apalah. Eh, tapi kalau Anda lebih memilih ribet dengan mencari-cari kertas yang udah entah dimana itu, yaaa… silahkan dinikmati kegalauannya.

5. GAK BISA DAPET KEJUTAN

Iyaaa… kejutan yang tidak menyenangkan maksudnya. Katakanlah pada suatu sore, Anda kalau hari itu adalah hari jatuh tempo pembayaran listrik. Weeh, ternyata besoknya itu tanggal merah. Kejutaaan! Anda harus bayar denda deh (atau kena resiko listrik diputus hehe).

Atau, kejutan itu Anda dapatkan saat membayar tagihan yang tiba-tiba membengkak dari biasanya. Kalau pakai Paybill, Anda tinggal buka aplikasi, lalu cek dan tunjukan saat itu juga.

Nah, karena Anda suka kejutaaan, Anda lebih memilih balik lagi ke rumah buat ubek-ubek bukti pembayaran yang bisa jadi udah keselip dimana.

Dan, ketika kembali… KEJUTAAAN! Ternyata kantornya tutup.  

Ehem, bagaimana? Apa Anda masih mengambil resiko dengan nggak mau move on ke pembayaran tagihan online? Masih nggak percaya kalau transaksi online itu beneran aman? Coba buktikan deh dengan move on ke Paybill Indonesia. Aseliiii, hidup jadi lebih mudaaah. Klak klik di aplikasinya yang super responsif itu bikin waktu kita efektif banget deh rasanya. Nih.. lihat deh.. gampang bangeeet…

Klik aja banner di bawah ini kalau mau tahu lebih banyak, yaaaa….

Homeschooling, My Reflection, Parenting

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

*Mierza ummu Abdillah*

“Cieee yang homeschooler…. masa orang tuanya perlu kurikulum?”

 Baiklah, kita bahas tentang kurikulum dulu ya. Karena kita di Indonesia, kita pakai acuan nasional, yaitu Diknas.

Kurikulum menurut UU No. 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19 adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Garis bawahi kata TUJUAN PENDIDIKAN. Sebagai muslim, sebagai orang tua, apa tujuan kita?

Pasti udah sering mendengar ayat yang artinya iniii kaaan:

 “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

love isnot enoughBagaimanakah cara melindungi ‘kita dan keluarga kita’? Cukupkah dengan cinta dan ketulusan?

Nope. Love is not enough.

Bukankah kita sudah banyak melihat contoh orang tua yang mencintai anaknya dengan tulus dan melakukan apapun yang anaknya minta atas nama cinta? Lalu bagaimana kelanjutannya? Teman-teman disini pasti tahulaah jawabannya: Iyesss… kita butuh ilmu.

Banyaaak sekali yang harus kita pelajari, dari mulai ilmu agama hingga ilmu berkomunikasi. Islam memberikan kurikulum yang ajiiib dalam soal mendidik anak  ini, terutama soal akidah sebagai ilmu pertama yang layak dikenalkan pertama kali. Singkatnya, begini ‘kurikulum dasar’ bagi orang tua sang pendidik adab yang sebenarnya bisa bertambah berlipat-lipat sesuai karakteristik keluarga:

  1. AQIDAH

Inilah modal dasar dalam mendidik, agar anak hanya menyandarkan diri kepada Allah. Memberikan hadiah tak mengapa, asal ajarkan anak meminta kepada Allah saat menjanjikannya. Disinilah kita bisa menancapkan aqidah di hati mereka.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberi contoh dalam pondasi dalam jiwa anak. Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, yang artinya “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. (HR. Tirmidzi – Hasan sahih).  Dengan terus mencamkan ini, insyaAllah ketika mereka tak bisa mendapatkan apa yang mereka mau, itulah yang terbaik dari Allah.

Lihatlah wasiat Nabi Yaqub pada surat Al Baqarah ayat 133 ketika hendak meninggal dunia. Yang ditanyakan bukan berapa nilai di ijazah atau penghasilan anak-anaknya, tapi siapa yang disembah? Bukankah kita juga tidak tahu apakah besok kita masih bisa bangun dan ‘menjaga’ anak-anak dengan semua ilmu parenting kita? Siapa lagi yang akan menjaga mereka selain yang menciptakannya?

  1. ILMU TENTANG TATA CARA IBADAH

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka untuk dipaksa shalat, ketika mereka berusia 10 tahun.”(HR. Abu Daud 495 dan dishahihkan al-Albani)

Hadits ini juga pasti sudah sangat dikenal. Tapi, sudahkah kita memiliki ilmu tentang bagaimana tata caranya? Atau yang penting pukul aja kalau mereka ga mau nurut shalat? Kita punya banyak waktu sebelum ‘memerintahkan mereka’, bukan? Bukankah semua setiap perkataan, perbuatan, hingga yang kita pikirkan akan dimintai pertanggungjawaban? Jadi, mari gunakan masa-masa mumayyiz mereka (di bawah 7 tahun) untuk mulai mencari ilmu yang shahih tentang cara beribadah.

  1. ILMU TENTANG AKHLAK

Oh, yaaa.. banyak sudah kita lihat di linimasa ketika selfie yang ‘tidak beradab’ bocah menjadi kekinian. L Karena itu, kita perlu sekali mempersiapkan amunisi ilmu adab bagi anak, baik itu terhadap Allah, orangtua, teman, tetangga,  dan adab sehari-hari. Sebelum mengajari mereka tentang bagaimana cara berbicara kepada orang tua, makan, minum, bertamu, berbicara, tidur, masuk kamar mandi, belajar dan banyaaak lagi… mari kita cari tahu praktek Rasulullah dan menerapkannya terlebih dulu.

  1. ILMU TENTANG DOA

Doa ini senjata orang beriman dan tentunya orangtua generasi rabbani. Sungguh hanya karena Allah segala sesuatu itu terjadi, bukan semata-mata karena kecanggihan kita mendidik anak. Ada banyak doa shahih yang bisa kita amalkan untuk kebaikan keluarga. Selain yang dicontohkan Rasulullah, beberapa doa juga terdapat di Qur’an seperti dalam doa nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 28, doa dalam surat Al-Furqan ayat 74, dan doa nabi Ibrahim untuk anak-anaknya menjadi orang yang menegakkan shalat dalam QS. Ibrahim ayat 40.

  1. ILMU DLL, DST, DSB, DKI, DLLAJ (ABAIKAN 2 SINGKATAN TERAKHIR)

Iyesss… ada banyak ilmu yang kita butuhkan dalam mendidik generasi masa depan. You name it. Dari mulai seni  berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak, strategi menghadapi anak berdasarkan sifat dan karakternya, cara membangun PD anak, cara menumbuhkan potensi dan bakat anak, cara memotivasi, dan baaanyaaak lagi. Alhamdulillah, kita diberikan banyak kemudahan mengakses buku-buku bergizi, kajian-kajian yang mengisi hati, grup-grup pengasuhan yang memompa semangat, seminar dan workshop pengasuhan yang mencerahkan,  pengalaman-pengalaman pengasuhan yang terlihat berhasil dalam prosesnya, dan segala sumber belajar dari yang bersertifikat seperti guru beneran seperti iou.com sampai yang gratis dan menyenangkan macam coursera.

Memangnya boleh? InsyaAllah, selama tidak bertentangan dengan syariat.   Bagaimana tahunya?  Belajar media literacy – karena gak semua yang dikatakan internet itu benar.

Daaan… untuk ilmu syar’i, mari belajar dengan tahapan yang benar karena ilmu syar’i itu bertingkat-tingkat dan membutuhkan ulama yang benar-benar utuh memahaminya. Boleh intip https://klastulistiwa.com/2016/05/20/homeschoolers-pun-perlu-tahu-tahap-tahap-belajar-ilmu-syari/ untuk beberapa tahapannya.

LALU, KAPAN KURIKULUM INI BERAKHIR???

Tentunya tidak setamat SMA, S1, S2, S3, atau saat SK kerja berakhir yaaa. Ibaratnya ‘homeschooling’ itu tidak pernah berakhir. Dan kita, orang tua, adalah homeschoolers seumur hidup meski nanti anak-anak yang kita didik bukan lagi ‘homeschoolers’ di rumah kita. Mereka akan menjadi homeschoolers di rumah mereka selanjutnya.

Karena rumah adalah sekolah.

 

 

 

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

[VLOG] How to Homeschool Ala Klastulistiwa

Yaaay.. Alhamdulillah… selesai sudah video tutorial cara  homeschooling ala keluarga kami! Iyesss.. itu video pertama kami di Youtube tanpa movie maker apps yang sudah terhapus di lappie karena mempertahankan OS jaman lawas tapi ORI (uhuk!).

Etapi.. etapiiii…. thanks to Smartfren yang dikenalkan oleh Blog Emak Gaoel,  gak ada program pun gak masalah tuuu. Edit-edit bahagia via onlie tetep bisa gratisan (makanya ga bisa ngilangin watermark hehe). Hasilnya ga malu-maluin lah sebagai nubi di peryutuban.

Kalau ada yang tanya, “Lha, how to homeschool lagiiiii? Kan dulu pernah posting ituuuuu?” Ehem… yang ini beda. Ini apdet ya know… kekinian…

Poin-poin penting seperti di bawah ini akan terus ada sebagai pengingat, bahwa:

  1. Homeschooling itu unik, berdasarkan ciri, how-to-homeschool-ala-klastulistiwa.jpgvisi, dan misi keluarga masing-masing. Jadi model HS perjalanan klastulistiwa yang kami jalani belum tentu sesuai dengan model HS keluarga lainnya. Makanya, kenali dan terus cari tahu agar puzzle-puzzle itu pun membentuk jadi visi-misi kamu (tsaaah).
  2. Ketika sudah siap dengan pilihan untuk homeschooling, mulai dan teruslah bangun chemistry dengan seluruh anggota keluarga, terutama si buah hati kesayangan.
  3. Gali potensi diri, anak, hingga komunitas yang bersentuhan dengan keseharian.
  4. Eksplorasi semua sumber dan cara belajar agar proses berilmu lebih holistik.
  5. Mengingatkan diri sendiri agar pembelajaran itu berlaku buat seluruh keluarga, tidak hanya anak yang diajari saja.
  6. Menghargai proses dan tidak terpaku pada hasil melulu. Kenapa? Karena dalam proses belajar terkandung banyak nilai dan keahlian yang penting dalam proses persiapan anak menghadapi kehidupan.
  7. Membekali anak untuk masa depan dunia akhirat, bukan cuma ‘biar lulus dan dapat nilai bagus’. Jadi, coret-coret di seragam pas kelulusan? Hadeeeuh… masih musim ya? -_-
  8. Berjejaring dengan banyak komunitas pembelajar, dari mulai yang isinya homeschoolers, anak satu kelurahan, anak-anak masjid,  perkumpulan berbasis hobi, kemasyarakatan, sampai ROHIS Berkemajuan yang lagi viral sekarang (ciee cieee). Kalau kami lebih memilih komunitas ketimbang kursus-kursusan. Karena ya itu tadi, anak-anak juga ikut proses berlembaga bukan dilembagakan. Ga cuma bayar terus marah-marah karena hasil gak sesuai harapan (ini cuma contoh lhooo – jangan baper).

Nah… adakah yang membedakan posting yang ini dengan posting sebelumnya? Tentu saja ada. Apa ituuu?

Tadaaa! Yang sekarang ada videonya.  *krik krik krik*

Baiklah… Selamat menikmati dan abaikan watermarknya ya.

Salam,
Mierza Ummu Abdillah

My Reflection, Parenting

#BahagiaDiRumah Menyelamatkan Masa Depan Generasi

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Selamatkan generasi ini menjauh dari kesepian dan kehampaan. Kehadiran dan sentuhanmu sangat dirindukan.

Cobalah tengok linimasa sosmedmu sekarang. Lihatlah kisah-kisah yang disebut kekinian. Dari mulai anak-anak berseragam yang memajang kebodohan, menyia-nyiakan waktu berharga, hingga mencoba hal-hal jahat yang orang dewasa normal manapun tidak berani melakukannya. Alasannya satu: Perhatianmu wahai Ayah-Ibu.

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Pulanglah segera menemui anak-anakmu. Peluk dan bermainlah bersama mereka. Dengarkan ocehannya meski engkau sangat lelah. Kalimat-kalimat itu mungkin menurutmu tidak berarti, namun tidak bagi mereka. Hiasi wajah mereka dengan senyum dan tawa, Ayah dan Ibu. Jangan takut wibawamu jatuh. Justru, rasa sayangmu akan memelihara rasa hormat mereka padamu.

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Jadilah tempat bersandar anak-anak remajamu. Jadilah gua tempat berlindung dari dunia di luar sana yang tidak ramah. Tawarkan bahu nyamanmu dengan rasa nyaman persahabatan agar mereka leluasa bercerita tentang hari-hari yang penuh penat atau bahagia. Jangan takut mereka melangkahi dominasimu. Justru, rasa perdulimu akan membuat mereka memilihmu lebih dari apapun.

Apakah kalian tidak takut, wahai ayah dan ibu? Ketika anak-anakmu berpaling dan memilih para manusia jahat yang nampak seperti peri baik hati namun sesungguhnya  menginginkan sebaliknya? Bekali mereka dengan ilmu dan berdirilah di sisi mereka. Jangan berkata yang baik sedangkan sikapmu menunjukkan sebaliknya. Jadikan mereka yakin bahwa ayah dan ibu adalah manusia terbaik tempat kembali.

Apakah kalian tidak takut, wahai ayah dan ibu? Ketika remaja-remajamu lebih memilih untuk lari mengambil keputusan yang salah dan merasa nyaman dengannya? Bekali mereka dengan kehangatan. Yakinkan mereka bahwa kalian selalu ada dan sebenar-benarnya perduli lebih dari siapapun.

bahagiadirumah.jpgAda masa NOVAVERSARY (tabloid Nova yang merayakan masa ke-28 tahunnya) menjadi pengingat bahwa 28 tahun lalu, ketika ia mulai ada, keburukan belum merajalela. Kini, kita bersaing dengan kebobrokan yang dipoles indah di mata mereka. Kita berperang dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang dengan mudah mereka dapatkan.

Maka, beranilah untuk mengembalikan #bahagiadirumah. Belum terlambat untuk menyelamatkan generasi ini. Mari kita mulai…. hari ini.

Kajian Tauhid, Lectures of Life, My Thoughts

MISTERI USIA 40 TAHUN

life-begins-at-40-katanya.jpg

Kita sering sekali mendengar kata-kata “Life begins at 40” ini diucapkan atau dituliskan. Setiap orang mengartikannya berbeda. Namun, tahukah kita ayat Allah mana yang juga menyebutkan tentang misteri usia 40 ini?

Berikut nasihat dari Ustadz Subhan Bawazier pada kajian hari Senin, 8 Februari 2016 lalu mengenai misteri usia ini.

***

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan UMURNYA TELAH SAMPAI 40 TAHUN ia berdoa: ‘Ya Rabb tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku, sesungguhnya aku bertobat kepada engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’”. [QS. Al-Ahqaf (46): 15]”

Usia 40 tahun dianggap sebagai usia pertengahan, dimana Rasulullah menyebutkan usia ini adalah usai pertengahan kehidupan.

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih).

Pada usia ini pula Rasulullah mendapatkan wahyu. Maka sudah pasti ada rahasia Allah yang besar di balik ini. Berdasarkan surah dan hadits di atas, berikut apa yang bisa dipetik:

  1. Ketika usia 40, alangkah indah ketika kita sudah menyadari bahwa, “Allah yang mencipta dan Allah yang mencukupi.”  Baik yang sudah sadar maupun belum, teruslah meminta kepada Allah untuk menjadikan diri Hamba yang bersyukur.  Yakinilah bahwa dunia ini ‘serba mungkin’ sebagai mana yang telah ditunjukan Allah dalam bentuk pertandanya sebagai pembuatnya.
  2. Dalam segala hal, usia 40 memberikan hikmah. Kita menyadari bahwa kita tidak sendiri. Kita adalah bagian dari puzzle kehidupan orang lain.
  3. Usia ini mengingatkan kita bahwa ujian itu mendewasakan dan mendatangkan kebaikan. Lihatlah cara salafush shalih, orang terdahulu, dalam menghadapi ujian hidup. Mereka menganggap ujian adalah tempaan yang membuat seseorang berkarakter karena mereka tahu SIAPA yang menguji.
  4. Pada usia ini, seyogyanya kita terus berdoa agar semua yang dirasakan dan dilalui adalah semata-mata rahmat Allah. Berdoalah agar kita mampu berjalan tanpa kesombongan. Jikapun kita dicacri, berdoalah agar diri tidak merasa kecewa dengan gunjingan mahluk.
  5. Pada usia ini bersyukurlah akan nikmat yang paling besar: NIKMAT MENTAUHIDKAN ALLAH. Nikmat ini tak tergantikan, meski menjadikan kita Al Ghuraba .
  6. Di usia ini, kita disarankan untuk banyak bergaul dengan orang shalih. Banyaklah bergaul dengan orang yang mencintai masjid. MASJID ADALAH TEMPAT YANG PALING DICINTAI اللهdi muka bumi ini.
  7. Ketika kita bersama dengan orang lain, saudara, atau komunitas, tanyakan pada diri sendiri: “ APA YANG BISA SAYA BERIKAN?” bukan sebaliknya. Sebagai mana pun tidak menyenangkannya sebuah kelompok yang berisi muslim, BERTAHANLAH SELAMA ADA CELAH UNTUK KITA BERBUAT BAIK.  Dan berikan manfaat ketika kita berada bersama mereka.

Nasihat pun kemudian mengalir bagi para orang tua. Banyak hal yan bisa dilakukan agar anak-anak siap menuju usia pertengahan ini. Lakukanlah wahai orang tua, sebelum masa itu tidak. Lakukan mulai sekarang

  1. Jika hati mulai merasa rusak, banyak-banyaklah bergaul dan berkumpul dengan orang shalih.
  2. Jika anak tersibukan dengan akademis yang sangat duniawi dan hedonis, budayakan pesantren weekend atau kumpulkan anak-anak secara rutin untuk mengkaji Qur’an. Mentadaburinya. Jangan hanya terpaku di urusan sekolah atau nilai saja. Bekal ruhiyah sangatlah dibutuhkan agar kuat menghadapi dunia melewati usia.
  3. Mulailah buat lingkungan yang baik di sekitar anak-anak yang terdiri dari orang-orang yang bertakwa, belajar, dan berilmu. Buatlah lingkungan yang syar’i dan merujuk pada Al Qur’an.
  4. Biasakan anak-anak (dan kita) berhijrah jika menghadapi masalah. Maksudnya,hijrah dengan hati menuju الله dan Rosul-Nya. Lakukan flash back atau muhasabah.
  5. Biasakan bangun qiyamul lail (terutama setelah anak baligh) untuk menutrisi hati.
  6. Jangan biasakan menceritakan masa lalu yang buruk pada anak. Biarkan mereka belajar bahwa aib itu harus ditutupi dan ditangisi di hadapan Allah.
  7. Jadilah umat Islam yang mewarnai. Berdakwah dengan lisan tidak akan sekuat ketika kita menunjukan dengan perbuatan. Tunjukan bahwa umat Islam itu layak untuk diikuti.
  8. Umat Islam tidak mengenal hari libur. Muslim selalu berusaha mengisi waktu yang kosong, bertebaran di muka bumi setelah beribadah.
  9. Ajari untuk merasa rakuslah dalam beramal. Jangan pernah merasa cukup.

***

 

Alhamdulillah, Allah mengijinkan kami duduk dalam kajian tersebut. Sungguh banyak nasihat yang beliau sampaikan yang menjadi ibroh, utamanya bagi saya.

Jika usia kita dicukupkan hingga atau melewati 40, semoga jiwa dan diri ini tetap istiqomah dalam memegang Al Haq. Memang tidak mudah memegang bara api. Tapi ingatlah, yang mudah itu bukan istiqomah, tapi istirahat. Mari berdoa menjadi hamba yang dimudahkan menujutempat beristirahat yang sesungguhnya.

*Murajaah Kajian oleh Mierza Ummu Abdillah*

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Dua Pilihan: Cari Guru atau Berilmu

“Hah??? Anak-anakmu homeschooling? Terus yang ngajar siapaaaaa?”

Karena ini masih jadi pertanyaan favorit, mari kita lanjutkan posting tentang guru dan homeschooling ya.

Baiklah.

Idealnya yang jadi guru pada awal-awal masa pendidikan adalah kita, orang tuanya.

“Lha, kan ga punyaaa ilmunyaaaaa!”

Iyesss…. permisalannya begini… Kalau kita cuma punya beras, penanak nasi, dan tungku berbahan bakar kayu saat lapar (settingnya ga ada uang loh ya), apa yang harus dilakukan?

Terus, kalau ga bisa masak pake tungku kayu itu gimana? Apa iya ga usah makan? *krik krik krik*

Bisa jadi setiap Ibu memiliki cara sendiri. Kalau model saya yang punya kuota, ya browsing atau tanya grup masak-masak. Ibu yang canggih ilmu interpersonalnya bisa mulai tebar pesona ke tetangga. Atau, ada Ibu yang lebih memilih barter sama warung nasi terdekat untuk menukar sekilo beras dengan sebungkus nasi – saking ga mau masak .

Well, sama aja seperti homeschooling. Setiap keluarga punya visi dan misi yang berbeda. Dari sana aja bisa terlihat cara yang berbeda dalam mendidik anak. Ada yang memilih untuk berilmu duluuuu, belajar bareng di satu majelis ilmu, sampai memilihkan guru.

picsart_05-20-05.23.53.jpgGaris bawahi kata MEMILIHKAN GURU loh yaa, bukan memilih sekolah atau meminta lembaga lain untuk menyeleksi guru yang you-don’t-say kayak gimana. KITA a.k.a. ORANG TUA (yang memilih homeschooling) jauh lebih leluasa untuk bisa memilih pendidik adab anak-anak kita. Ya. Pendidik adab adalah kata yang dipakai oleh para salafush shalih saking pentingnya peran guru ini.

Jadi paham yaaaaa….

Next discussion: kualitas apa yang harus kita miliki sebagai pendidik adab? Atau, untuk siapapun yang mendidik dan mengajar anak-anak kita nanti, apa saja kriterianya?

Hmmm…. berhubung kita muslim, tentu kriteria-kriteria ini harus berdasarkan sumber yang shahih lho yaaaa….

Karena saya duluan ikut kajian kitab-kitab* parenting Islam yang keren, saya tuliskan beberapa poin kriteria pendidik adab di bawah ini ya. Semoga bisa menjadi cermin untuk memantaskan diri atau menyeleksi pengajar anak-anak kita. Oh ya.. saya ingatkan dulu. Saya ini cuma lebih dulu ikut kajian loh ya, bukan berarti lebih pinter atau shalihah. (Eh… tapi boleh kok diaminkan.:) )

FOKUS. So, what makes an educator?

1. Dari kalangan ahlus sunah

Maksud dari kalangan ahlus sunnah itu adalah siapapun yang mengikuti ajaran Rasulullah, para sahabat, dan generasi setelahnya yang mengikuti Rasulullah. Untuk ilmu-ilmu syar’i, ini penting sangat sebagai fondasi yang kokoh, terutama di masa-masa awal kehidupan. Daaan… ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang artinya:

“Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]

2. Punya kemampuan dan ilmu

Nah, kan, ilmu lagi. Lha iya, kalau ga ada ilmu, gimana ngajarnya? Syarat-syarat ilmu yang perlu dimiliki seorang pengajar itu salah tiganya dapat dijelaskan dalam hadits berikut ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal sendirian ke Yaman.

Sebagaimana dalam Shohihain dari hadits Ibnu Abas, Rasululloh bersabda (yang artinya) :

“Sungguh kamu akan menjumpai satu kaum dari ahli kitab, apabila kamu mendatangi merkea maka dakwahilah untuk bersaksi syahadatain, bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu setiap harinya. Bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shodaqah (zakat) yang diambil dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Apabila mereka mentaatimu dalam hal ini maka hati-hatilah dari harta-harta kesayangan mereka dan takutlah dari do’a orang mazhlum, karena tidak ada hijab antaranya dengan Allah. (HR Al Bukhori).

Dari hadits di atas, terdapat 3 faedah mengenai ilmu yang perlu dimiliki seorang pendidik:

a. Punya ilmu (syar’i). Muadz dipilih untuk berangkat SENDIRIAN karena ilmu.

b. Mengetahui kondisi yang didakwahi. Dalam mendidik anak-anak pun begitu. Cari tahu bagaimana cara mendidik yang benar sesuai kondisi mereka, dari mulai usia hingga gaya belajar. Semuanya.

c. Mengetahui cara berdakwah. Setelah mendapat diagnosa awal, kita harus tahu mau diapakan itu hasil diagnosanya? Cari ilmunya agar apa yang anak-anak pelajari benar-benar dipahami dan diamalkan. Jangan sibuk ngajar sendiri, tapi anak ga ngerti. Gitu kali ya intinya.

Terus, buat yang memilih mendatangi guru bagaimana? Ya idealnya orang tua duluan yang memenuhi kriteria itu, minimal nomor 2 dan 3, agar bisa memberi wasiat kepada sang pendidik adab.

3. Bisa menjadi contoh yang baik

Ini mah jelas yaaa… GuRu pan singkatan dari diGUgu dan diTIru. Untuk muslim ya jelaslah, siapa yang layak jadi idola. Allah telah mengabarkan dalam Qur’an surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

4. Mengamalkan Ilmunya

Ini sudah seriiing disinggung dalam posting posting sebelumnya. Sungguh ngeri euy, sanksinya bagi pendidik yang ga melakukan apa yang dia ucapka..

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

5. Memiliki Sifat Tawadhu Terhadap Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya.”

Lalu, mengenai ilmu ini, beliau melanjutkan,

“Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya.  “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml : 40).” (Al Fawa’id, hal. 149).

Ah, dengan kemudahan menebarkan ilmu dengar satu klik ini sungguh mengerikan dampaknya. Saat menulis ini pun, ada rasa kuatir akan adanya rasa ujub yang bersemayam di hati. Semoga tidak. Semoga bukan. Doakan jangan. Semoga kita menjadi pendidik adab yang mampu menerima kebenaran, meski dari anak kecil.

Done. Alhamdulillah. Jadi, belajar dulu.. belajar lagi.. belajar teruuuus. Insya Allah. Semangat yaaa para pendidik adab. ^____^

*Kitab-kitab yang dimaksud di atas diantaranya adalah Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan (Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi), serta Nida’ Ila Murobbiyin wal Murobbiyat dan Kayfa Nurabbi Auladana (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahumahullah).

Sumber lain:

http://klikuk.com/kaedah-memahami-islam/

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’