Homeschooling Starter Kit

Apa Itu Homeschooling?

Pengertian Homeschooling

image

Homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. 

Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah/ kursus melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah, di mana penentu kebijakannya adalah keluarga.

HOMESCHOOLING ADALAH GAYA HIDUP

Ayah dan ibunya merupakan CEO yang menddesain, melaksanakan, dan menevaluasi praktik homeschooling. Beberapa keluarga memilih struktur yang sangat akademis, ada yang menggunakan metode – metode tertentu, ada yang memakai metode eklektik atau mengambil beberapa metode. Ada yang menggunakan guru, interaksi satu banding satu, sampai mengikut sertakan ke kelas-kelas khusus, ada yang menggunakan penyedia kurikulum online namun tetap diajari orang tuanya sendiri.

Apapun keputusannya, itu semua menyesuaikan dengan kebutuhan anak yang ditentukan oleh keluarga. Walaupun disebut homeschooling, bukan berarti proses belajar melulu diadakan di rumah. Proses belajar bisa dilaksanakan di taman, pasar, kolam, peternakan, dan dimana saja.

Sekarang di Indonesia juga mulai banyak bermunculan flexi school yang dinamai homeschooling

Flexi school adalah metode pendidikan yang memadukan antara orang tua dan sekolah, di mana anak terdaftar di  lembaga tetapi memiliki jadwal yang fleksibel. Anak bisa memilih mau sekolah hari apa saja, sisanya anak belajar ‘sendiri’ di luar sekolah. Basis kurikulumnya mengikuti kurikulum nasional dengan modifikasi.

Beberapa alasan orang tua lebih memilih flexy school adalah karena kondisi kesehatan anak yang tidak stabil, lebih memilih metode pendidikan di rumah akan tetapi masih membutuhkan sekolah formal untuk menyajikan beberapa subjek yang belum bisa dilaksanakan orang tua, masih takut atau menolak untuk sekolah (biasanya anak – anak yang baru mulai sekolah), dan lain – lain.

Homeschooling vs Flexi School

Pilih yang mana? Itu semua tergantung kebutuhan dan kondisi orang tua dan anak saya rasa, apakah orang tua merasa sudah mampu menjalankan homeschooling atau masih membutuhkan peran sekolah dalam pendidikan anak. Dan yang paling penting mana yang paling diinginkan dan tepat untuk si anak.

Jika orang tua sudah mampu menyelenggarakan pendidikan seutuhnya serta mendedikasikan waktu (yang saya rasa cukup banyak) untuk anak maka saya rasa homeschooling merupakan pilihan tepat. Lain hal jika orang tua merasa belum mampu menyediakan pendidikan seutuhnya serta memiliki waktu yang terbatas, tentu saja flexi school bisa menjadi pilihan.Pada akhirnya semua dikembalikan pada anak, mana yang lebih cocok dan diminati anak.

Tapi ingat yaaa… HOMESCHOOLING ITU BUKAN LEMBAGA

Homeschooling

Mengapa Memilih Homeschooling: Itu Mimpi Saya 8 Tahun yang Lalu

Ya, memulai homeschooling atau sekolah berbasis keluarga rasanya seperti mimpi. Mimpi yang pernah saya tuliskan ketika saya masih mengajar 8 tahun lalu di sekolah swasta. Saat itu saya terheran-heran dengan keputusan beberapa orang tua yang mengambil langkah untuk memulai homeschooling yang saat itu masih asing. Saya juga sempat termakan prasangka akan si anak dan orang tua mengenai keputusan mereka. Mengapa memilih homeschooling menjadi pemicu rasa penasaran saya.

Sadar mulai melabel manusia, saya mulai melakukan riset kecil-kecilan. Hasil riset ini iseng-iseng saya kirimkan ke surat kabar. Dan, alhamdulillah, ini menjadi tulisan pertama saya yang dimuat Jakarta Post:

Why Opt for HSInti dari tulisan saya adalah beberapa alasan yang dipilih orang tua emngapa memilih homeschooling untuk anaknya. Dan tahukah anda, sebenarnya kesemuanya itu juga menjadi alasan saya. Berikut daftarnya:

  1. Homeschooling adalah tempat yang tepat untuk menanamkan nilai agama dan tauhid. Didalamnya tentu terdapat etika, norma, moral, dan karakter sesuai ajaran agama saya: Islam yang semoga dalam prakteknya sesuai dengan manhaj yang lurus.
  2. Merekatkan keluarga. Betapa tidak? Kami akan bersama 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
  3. Bebas memilih dan mendesain kurikulum yang kami mau. Ini tentunya tidak bisa dengan bebas kita pilih di sekolah manapun karena keinginan setiap orang tua berbeda. Saya ingin integrasi Islam dalam pembelajaran anak-anak saya.
  4. Homeschooling memberikan kesempatan untuk melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi pembelajaran yang tepat untuk anak sendiri.
  5. Memberikan lingkungan yang yang sesuai untuk dicontoh, terutama hingga masa SD selesai. Tapi ini bukan berarti tidak bergaul. Hanya, orang tua selalu dapat mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya akan adab yang sesuai.
  6. Waktu pembelajaran yang lebih fleksibel.
  7. Memanfaatkan segala sumber belajar yang sangat dekat hubungannya dengan anak.

Itu keinginan saya 8 tahun lalu. Saat ini, keinginan itu telah berkembang setelah mengalami perjalanan hidup sebagai pengajar di beberapa sekolah. Bersentuhan dengan beragam sistem sekolah membuat saya takut bahwa sistem yang saya pilih tidak menjadikan anak saya menjadi pribadi yang utuh.

Bagaimanakah akhir bentuk perkembangan itu? Tunggu tulisan saya berikutnya ya, insyaAllah.

My Reflection, My Thoughts, Parenting

KERJA DARI RUMAH

Oke, karena banyak yang nanya “Ngapain aja jadi kalau nggak mengajar?” jadi saya share aja yah.

image

Jadi, setelah 12 tahun jadi wanita karir, sudah 3 bulan ini saya merubah pola pikir untuk lebih mengutamakan keluarga. So I decided to homeschool my children sambil kerja dari rumah. Bukan MLM loh yaaa. Pengen sih jualan, tapi kayaknya gak bakat dan gak tegaan. Nanti habis lagi barang dagangan, hehe.

Eh, dan alhamdulillah, ternyata, banyaaaak  sekali peluang bagi lulusan sastra Inggris dan manajemen seperti saya ini (kamana wae atuh?). Thanks to the WWW, informasi seperti ini sangat mudah sekali didapatkan.

Nah, ini dia…  Saya paparkan di bawah beberapa peluangnya ya:

1. Guru privat – Sudah jelas ya, gak perlu dijelaskan apa dan bagaimananya. Tapi ini mah jelas saya gak bisa, saat ini, kecuali online. Nunggu Debay gede. Hehe.

2. GHOST WRITER – Nah, kalau yang ini katanya harus sanggup kejar deadline dan (katanya juga) harus mampu menulis untuk pencitraan hehe.. not me also (coret)

3. CONTENT WRITER – Nah ini yang saya  lakukan. Saya menawarkan jasa kepada perusahaan dan institusi untuk jadi pekerja lepas waktu. Berhubung sekarang jamannya Marketing in Venus dimana konsumen dilibatkan, jadi bisa banget dapet pemasukan dengan cara ini. All we have to do is only updating their website to be shared to socmed. Done. Asyik kan.

4. SEARCH ENGINE RATER. Nah, saya juga secara resmi tergabung dengan salah satu rating company Google. Maap, tidak bisa menyebutkan namanya karena terikat Non-Disclosure Agreement. Modalnya ya kudu bisa Bahasa Inggris karena bahan bacaan banyak dan kudu selesai dalam waktu seminggu, terus koneksi internet n gadget terkini. Kalo dah punya modal ini, ikut tes, lulus, udah deh ke terima. Tergantung jobnya, biasanya satu jamnya dapat $18 untuk newbie kayak saya. Di kali 40 jam udah berapa tuh hehehe… Bebas pilih waktu tapi ya harus nurut deadline.

5. TRANSLATOR – udah jelas lah ya kerjaannya .. tapi not me at the moment. Takut gak kekejar soalnya.

6. WRITER – yaaay.. ini memang nggak instan, tapi justru letak kepuasannya disitu. Setelah buku selesai baru dapat royalti.

7. EDUCATION CONSULTANT – ini kerjanya online juga saat ini. Jadi kalau ada yang perlu bantuan pengelolaan sekolah secara mikro, hanya saat terjadi yang stuck aja, I’m available. Tapi gak bisa ketemu offline juga karena masih ada debay.

8. TEACHER’S TRAINER – Yup, ini kesempatan seru untuk memperluas jaringan dan belajar dari guru-guru hebat lainnya. Tapiiii, karena ada debay… pastinya not at the moment.

Nah, kaaan … banyak  peluangnya meski kita kerjaannya dari rumah. Kalau di Jepang lagi musim ibu yang giving up career for family, kenapa kita takut? InsyaAlloh, kemiskinan hanya di pikiran kita aja. Alloh yang menjamin kecukupan rizki.

Tapiii… if my next dream happen : ngajar di pesantren sambil homeschooling-in bocah (aamiin) I’d love to reconsider. Kapan lagi berkumpul dengan ahli ilmu jika tidak begitu.

My Reflection

Duka dan Embun Pagi

image

Bagi yang dirundung duka,
lihat embun pagi yang Alloh ciptakan.
Ia sabar datang membasahi bumi
memberi maslahat hingga datang matahari.
Ia tidak meminta penangguhan waktu,
tidak jua bersungut dan berseru.
Hentikan harap manusia melihat
kesedihan, rasa sakit, dan air matamu.
Mereka hanya mampu melihat kesalahanmu.
Hanya Alloh tempat berpaling,
yang tahu segala tentang makhluknya.
Maka, segera singkirkan air mata
seakan tiada di hadapan manusia.

Lectures of Life, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Sebelum Memulai Homeschooling

Ilmu sebelum amal. Yak, dalam memulai sekolah rumah pun sama. Jangan mentang-mentang homeschooling atau flexi-schooling terus kita tinggal liat kurikulum, beli buku, terus belajar sendiri atau sewa guru. Udah. Hayyaaaah, itu mah sama aja kayak pindah sekolah tapi fisiknya doang.

Sebelum mulai, sebaiknya memang kita konsultasi dulu dengan yang sudah memulai. Mereka yang sudah merasakan pahit getir homeschooling. #Cieeee *kibas jilbab*

Homeschooling is such a solution, kalau kata saya mah. Kita bisa fokus dengan ngaji, hobi, dan apapun. Plus, belajar pun lebih dalam lagi by the help of the world wide web sama guru atau narasumber yang bisa kita pilih sendiri. Kalau sekolah? Hyaaaaa… mana bisaaaaaa! Yang ada kita telan aja tuh segala kualitas guru, konten, sistem, pengajaran, manajemen, yang bisa jadi di bawah standar harapan kita.

Terus, karena tidak dipahamkan pelajaran, setelah sekolah full day, anak disiksa lagi dengan bimbel? Kali ikut kursus, wajar lah ya… Tapi, BIMBEL??? Hmm, terus, fungsi guru, sistem sekolah, dan prosedur sekolah untuk mencerdaskan dimana yaaa? Well, it’s illogical, isn’t it? *gagal paham*

image

Ah sudahlah… gak selesai-selesai ngomongin sekolah mah. Now, for a start , saya rangkumkan nih blog dan situs yang dibuat emak bapak para homeschooler, komunitas sekolah rumah, atau malah muridnya sendiri. Here we go, para mastah dan guru yang sudah berkecimpung lebih dulu (dan kemungkinan lebih tua dari saya, yes!) di dunia keren inih. Happy blogwalking. 🙂

1. Kumpulan blog ibu-ibu homeschooler muslim dari Pinterest
2. Middle Way Mom: Islam, Homeschooling, Parenting
3. TJ Homeschooling: Islamic Studies
4. Rahmah Muslim Homeschool
5. Islamic Studies on Pinterest
6. Happy Muslim Mama
7. Homeschool for Muslims
8. Iman Homeschool
9. A Muslim Homeschool
10. A Muslim Homeschool Journey
11. The Wired Homeschool
12. Eva Varga
13. Homeschool Scientists
14. Tea Cups in the Garden
15. This Reading Mama
16. The Home Scholar
17. Education Possible
18. Tyna’s Dynamic Homeschool Plus
19. Harrington Harmonies
20. Unschool Rules
21. Confession of a Homeschooler
22. Raising Lifelong Learners
23. Homeschool Creations
24. Living Montessori Now
25. Our Journey Westward
26. Blogs, She Wrote
27. Rumah Inspirasi
28. Blessed Learners
29. Komunitas2 Homeschooling Lainnya
30. Homeschooling Jakarta

Fiuuh… Masya Allah… Banyak ya? Padahal itu belum semua loooh… Harus semangat nih ngelmunya .

Bismillah.

My Reflection, My Thoughts

Fenomena Sekolah Ruko

***Pengantar artikel yang ditulis Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999, di bawah ini. ***

Saatnya cari sekolah sudah tiba. Bagi yang memilih sekolah swasta, perburuan lebih menantang lagi karena banyaknya pilihan. Dari sekolah nasional, ada plusnya, internasional, sampai sekolah abal-abal.

Yup. Sekolah abal-abal. Sekolah- sekolah ini memanfaatkan keawaman ilmu orangtua atau malah mampu menangkap idealisme untuk dijual tapi tak bisa mengejawantahkan secara teknis. Karena mau tidak mau, tata kelola sekolah ya memang teknis pelaksanaan. Ngerinya, sekolah semacam ini menjamur dimana-mana. Agar dibuat mentereng dan bertingkat, disewalah ruko agar mempesona.

Cuma ilustrasi
image[cuma ilustrasi]

Di jabodetabek ini memang lagi menjamur sekolah2 ruko. Mereka bukan lembaga pendidikan yang secara terhormat menyatakan diri sebagi kursus, pendidikan alternatif, PKBM, flexi-school, namun benar-benar mendeklarasikan diri sebagai sekolah umum. Ya, sekolah umum tanpa izin.

Memang tidak bisa digeneralisir karena beberapa sekolah bertahan berkat kualitas tata kelola dan SDM. Mereka yang melek aturan juga mengalihkan kepemilikan ruko menjadi milik sendiri. Akhirnya, sekolah pun bertransformasi dan layak disebut sekolah berkualitas.

Tapi, sayangnya, ada juga sekolah- sekolah yang sama sekali tidak layak disebut sekolah… amburadul… no system at all. Pastinya ini yang membuat tingkat turnover sangat tinggi. Dan korbannya… ya siswa lagi. 😦

Akhir dari suksesnya sang marketing menjual program adalah pindahnya para orang tua setelah tertipu. Bayar uang pangkal lagi di sekolah lain, tentunya setelah mereka melek informasi. Bagi orang tua yang sudah ‘all out’ bayar semua, pilihannya cuma satu : pasrah…

Duh… bagaimana cara menertibkan sekolah seperti ini ya? Dan yang terpenting, bagaimana mengedukasi orang tua dan anak sebelum jadi korban mereka?

Pertanyaan ini semakin banyak setelah ibu Dhitta membagikan artikel di bawah ini di milis Ikatan Guru Indonesia. Semakin galau karena sekolah-sekolah ini kok ya ‘dibiarkan’ saja. 😦

============================
SEINDAH KEHIDUPAN

Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999

KOMPAS, 10 Juni 2015

http://budisansblog.blogspot.com/2015/06/sekolah-kehidupan.html

Jelang pertengahan November 1998, di tengah hiruk-pikuk semboyan”Reformasi Total” di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, saya dipanggil Presiden Abdurrahman Wahid di suatu kediaman di Jalan Irian, Jakarta Pusat.

Kami membahas lingkup dan materi kurikulum sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Karena kami yakin materi dan cara pengajaran cepat atau lambat harus diubah, Gus Dur-sapaan akrab Abdurrahman Wahid-mengingatkan agar reformasi pendidikan di telaah secara cermat karena perubahan sistem pendidikan perlu waktu. Minimal 1-2 tahun untuk menyusun konsep, 2-3 tahun memasyarakatkan, dan setelah lima tahun mulai dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan. Saya paham tentang hal ini meski merasakan betapa sulit memasyarakatkan reformasi yang didorong para tokoh politik yang mendesak agar reformasi dimulai “sekarang juga”.

Apalagi reformasi yang mendesak merombak kurikulum, mulai dari perubahan “Bahasa Orde Baru” ke arah “Bahasa Orde Reformasi”. Saya teringat pada pemeo “ganti menteri” dan “ganti kurikulum” pada tahun 1960-an dan 1970-an. Dari zaman Menteri Pendidikan dan Pengajaran Priyono sampai Mendikbud Nugroho Notosusanto,

Saya pikir sekarang saya bakal kena batunya. Setelah belajar di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia Bagian Publisistik (sekarang Departemen Ilmu Komunikasi Massa FISIP), saya mulai berhadapan dengan orang pintar, para ahli dari berbagai institut keguruan dan ilmu pendidikan seluruh Indonesia yang ingin menyumbang pikiran tentang apa lingkup dan isi kurikulum yang “baik dan benar”.

Beruntung saya dibantu Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro (Direktur Pembinaan Sarana Akademik) dan Dr Anhar Gonggong (Direktur Nilai Sejarah dan Tradisional) di Depdikbud. Saya dikawal Letnan Jenderal Sofian Effendi, Sekjen Depdikbud yang kebetulan bos saya di Lemhannas 1996-1998. Saya pikir, karena saya dibantu teknolog asal Jawa (yang ayahnya, Prof Soemantri Brodjonegoro, pernah menjadi Rektor UI), oleh sejarawan Bugis-Makassar, dan oleh prajurit Kopassus asal Bireuen, Aceh. Agak lengkaplah, saya dibantu orang yang melambangkan rakyat yang mewakili sebagian besar Indonesia barat dan timur.

Gus Dur berseloroh, “Mas Ju jadi apanya ‘Mafia Berkeley’?” Julukan Mafia Berkeley disandangkan kepada sebagian tokoh ekonomi dan administrasi publik yang langsung atau tidak langsung membantu Prof Widjojo Nitisastro selama 20 tahun lebih (1966-2000).
“Saya hanya kroco bidang politik internasional, Gus, pernah belajar dengan beberapa teman dosen asal Aceh sampai ujung timur di Manado dan Kupang.”

“Wah, politik. Kalau begitu Mas Ju jadi tukang tembak (hit-man),” kata Gus Dur, mengingatkan saya pada film The Untouchables yang diperankan Kevin Costner, Sean Connery, dan Robert De Niro sebagai Al Capone, tokoh mafia Chicago tahun 1929-1930.

“Begini,” kata Dur, “Saya ini ditanyain tentang itu lho, sekolah ruko yang menjamur di mana-mana, termasuk di daerah saya di Ciganjur. Itu namanya sekolah-sekolahan, enggak jelas alamatnya, enggak jelas izinnya. Itu namanya sekolah enggak keruan.”

“Saya ingat kata-kata Satryo Soemantri Brodjonegoro, kira-kira ada 747 perguruan tinggi swasta di daerah Jabotabek,” kata saya ke Gus Dur. Ia yang langsung berseloroh: “747? Angka dari mana tuh, kok mirip banget dengan pesawat Boeing 747?”

“Tahu enggak Mas,” sambung Gus Dur, “saya ini sudah lama mimpin UCLA, University Ciganjur Lenteng Agung, enggak kalah terkenal dengan sekolah UC Berkeley atau UC Los Angeles. Saya drop out dari Universitas Baghdad dan cuma mahasiswa pendengar di Al-Azhar, Kairo. Tetapi, saya mahasiswa Sekolah Kehidupan, saya melihat-lihat mengalami kehidupan nyata di lapangan.”

Saya mengangguk diam dan berkata dalam hati, Gus Dur memang sarjana yangsujana, simple dan rendah hati. Orang Jawa bilang dia itu tidak gumunan, tidak mudah kagetan, tidak mentang-mentang. Gelar apa pun, akademik, adat, gelar keagamaan, tidak ada artinya kalau dia tidak menghargai dirinya sendiri dengan berkaca pada pahit getirnya tantangan hidup sehari-hari.

Saya teringat ucapan Bung Karno pada awal 1960-an ketika membuka Hari Sarjana UI di Kampus Salemba 4, Jakarta Pusat.

Mengutip pidato Bung Karno ketika memperkenalkan pemimpin Vietnam Ho Chi Minh, saya berkata dalam hati, “Paman Ho tak tamat sekolah tinggi, tetapi berhasil mengocar-ngacirkan pemerintah kolonial Perancis sehingga tahun 1954 Perancis takluk di Dien Bien Phu dan mundur dari Indo-China.”

Gus Dur adalah sosok genius yang tak perlu mengejar gelar akademik, apalagi dari sekolahan pojok jalan atau ruko murahan yang bertebaran di mana-mana. Tetapi, Gur Dur seperti juga Ho Chi Minh yang pernah magang sebagai koki di hotel di Place Vendome, Paris, adalah orang yang percaya diri pada garis tangan. Siapa tahu yang mengelola ruko sekolah-sekolahan itu berhasil karena ada tangan Tuhan yang membantunya keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Siapa tahu ijazah palsu yang dipersoalkan itu kelak membantu orang menjadi otodidak, yang karena rasa percaya dirinya besar sehingga tak memerlukan gelar: sah atau tidak! Atau, seperti kata Gus Dur, “Enggak usah repot-repot nertibkan (sekolah di) ruko-ruko itu. Lama-lama capai juga mereka ngurusin ijazah dengan segala tetek bengek cap, laminating dan figura.”

Benar juga. Butuh tenaga dan biaya sangat banyak untuk menertibkan sekolah tak keruan itu. Biarkan sekolah tadi layu tak berkembang. Biarkan orang mencari rezeki atau rugi sendiri kalau tidak ada peminat yang memercayai iklan yang dipasang di mana-mana dengan biaya semurah atau semahal apa pun. Biarkan ijazah palsu diedarkan sampai orang kapok.

Sekolah Kehidupan hanya perlu pelita hidup dalam hati kita masing-masing. Itulah ijazah yang sebenarnya kita selalu mencari, dari pengalaman hidup Ho Chi Minh, Gus Dur, dan ratusan tokoh tak bergelar akademik di seluruh pelosok Indonesia.

My Reflection

KLASTULISTIWA 2015

Hari ini hati saya bergetar…

Ternyata benar, untaian doa penuh harap untuk rampungnya sebuah karya yang dikerjakan dengan ikhlas bersama-sama, seakan mampu menggerakkan semesta untuk mewujudkannya. Tidaklah mudah mengerjakannya di tengah tuntutan waktu untuk untuk mempelajari ilmu. Belum lagi, beberapa dari penulis terpaksa mundur dari institusi yang menyatukan raga kami.

Tapi, Allah Azza wa Jalla berkehendak lain. Buku ini selesai meskipun raga kami terpisah. Semoga karya ini mampu merekatkan ukhuwah yang indah ini nantinya. InsyaAllah….

Inilah kisah kami…

image
Klastulistiwa 2015

Alhamdulillah, atas karunia Allah Azza wa Jalla, buku karya para penulis perempuan muda ini pun akhinya rampung. Perjalanan kreatif yang terjadi di kelas Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Ibu Mierza pada tahun ajaran 2014-2015 ini menjadi lebih dari sekadar portofolio, tapi awal kontribusi mereka yang menembus ruang kelas. Ya… menembus ruang kelas. Karena, selain memiliki ISBN yang berlaku internasional, seluruh royalti pembelian buku ini akan didonasikan kepada Yayasan Umar bin Abdul Azis untuk pembangunan Masjid As-Sunnah BSD, Tangerang. Akhir kata, tulisan mereka yang tepercik oleh pembelajaran yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah semoga menjadi penguat perjalanan dalam akhir zaman sebagai al ghuraba. Namun, karena memang buku ini ditulis oleh para pembelajar, mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun redaksinya. Silakan kunjungi
http://www.klastulistiwa.com untuk memberikan saran demi perkembangan kami jika Anda menemukannya.

image
Klastulistiwa 2015

Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via :
– SMS ke 0819 0422 1928 (LeutikaPrio Publisher)
– Email ke leutikaprio@hotmail.com
Atau klik disini

My Reflection, Parenting

“Anaknya Anteng, ya.” Tips Membawa Anak ke Tempat Umum

“Ih, kok anteng ya?” Biasanya, pertanyaan itu yang terlontar ketika  saya membawa salah satu atau salah tiga dari anak saya ヾ(*´∀`*)ノ.

Sebenarnya,  itu adalah jawaban, rahmat, dan kasih sayang Allah ketika saya galau bertanya “Apakah bisa kesana kemari dengan tiga anak kecuyungun?”.  Alhamdulillah, itulah doa yang dikabulkan dan diiringi ikhtiar tentunya.

Sedih memang melihat kenyataan di dunia sekarang ini yang semakin tidak sabar dan tidak ramah dengan anak kecil. Jangankan tempat resmi, bahkan di institusi pendidikan yang kliennya anak – anak pun bisa lebih bengis dan diskriminatif terhadap perempuan yang bawa anak kemana-mana seperti saya. Maka dari itu, saya yang perlu wara wiri pun harus mampu bersiasat.

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat formula yang bisa saya terapkan kepada anak sulung (8th), anak tengah (4th), maupun anak bungsu saya (2bln). Mereka sudah bisa dibawa rapat atau pertemuan yang beberapa jam…

image

Daurah dua hari yang berturut -turut dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore bersama dua bocah (waktu itu si bayi belum ada)

image

Sampai ikut pelatihan montessori pagi sampai sore selama 4 hari berturut – turut.

image

Alhasil Debay pun jadi cerewet setelah pelatihan.. hehehe…

Kalau saat memberikan pelatihan atau mengajar, debay kecuyungun masuk babywrap deh…

image

Nah, sekarang kita masuk ke how-to. Inilah yang kami lakukan setelah meminta bantuan Allah Azza wa Jalla untuk membuat anak-anak kami anteng di tempat umum:

1. Minta ijin yang mengundang. Lha, ini adabnya. Mosok kita mau maksa tuan rumah. Lagipula, dari pengalaman, bayi/ anak bisa merasakan lho orang dewasa yang suka (dan tidak suka) anak kecil.

2. Ajak bicara sebelumnya . Ini juga berlaku untuk bayi lho. Kalau kami sudah sounding dari malam sebelumnya sampai saat turun dari kendaraan. Komunikasikan apa yang mau kita lakukan, apa yang kita harapkan, sampai apa yang bisa terjadi kalau si anak tidak berlaku sesuai harapan (tapi bukan ancaman lho, ya). Kalau saya berbicara seperti ini, “Sayang, besok Ummi akan ajak kamu ke…. . Disana Ummi akan (melakukan apa). Kamu yang anteng ya sayang. Kalau mau bicara bisik-bisik ya. ” Kalau kepada si balita dan anak sulung, saya ajak ngobrol deh. ‘Kelakuan’ anak balita akan kita bahas bersama ceritanya hehe. Misalnya, saya akan bertanya begini, “Kalau kamu jalan-jalan, om tante yang ada disana akan merasa apa ya?” Teruus digali sampai dia mengeluarkan kata yang kita mau, yaitu “terganggu”. Heheh… modus. Bahkan kita pun bisa memberi tahu konsekuensinya (bukan ancaman lho ya) jika mereka tidak berlaku sesuai harapan. Maksudnya, konsekuensi itu juga menimpa orangtuanya *efek dramatisasi*.

3. Know your children. Ini penting karena anak masih pada tahap pemenuhan insting. Jangan harapkan anak berlaku baik ketika keinginan dasar mereka tidak terpenuhi. Contohnya anak sulungku. Dia bisa anteng di tempat asing kalau dibekali (atau dibelikan) buku yang banyak. Anak tengahku doyan ngemil, jadi tahulah apa yang harus dibawa.
Dia juga hobi membawa mainan kemana -mana. Kalau si bungsu ya pastikan si emak dan stok Abinya tersedia, hehe.

4. Beri hadiah jika mereka berhasil sabar . Yup, reward ini diberikan untuk kesabaran mereka berada di tempat yang ‘tidak seharusnya ‘ dalam waktu lama. Ini akan lebih efektif kalau orangtua jarang memberi hadiah. Untuk hal rutin yang berhasil mereka lakukan, saya memberi reward vertikal seperti ucapan barakallahu fiik, masyaAllah, Ummi bangga banget, dan sebagainya. Pemberian hadiah itu akan menjadi spesial ketika mereka melakukan hal yang menyenangkan orangtua. Ini, menurut saya, melatih birrul walidain lho…

5. Konsistensi. Nah, ini yang paling penting dan paling sulit, apalagi untuk orang tua yang tidak tega melihat anak menangis. Ingat lho, setiap yang kita lakukan akan dipelajari anak. Misalkan, ketika kita sudah menyampaikan konsekuensi kalau kita harus meninggalkan acara, yaaa harus kita lakukan. Demikian pula dengan pemberian hadiah.

Anak-anak itu belajar dari pola yang kita lakukan. Memang terkadang things didn’t go the way we wanted . Kalau itu, ingat yang nomor 4: konsistensi , plus stay cool, calm, and confident . Jika kita terus konsisten, mereka akan mempelajari dan melakukan,
sesuai ‘skenario ‘, insyaAllah. Dan lama-lama semuanya akan jadi lebih mudah karena routine dan prosedur yang kita ikuti dari awal.

Jadi, siapa takut tetap menjadi Ibu di saat kita dituntut profesional?

(*^▽^)/

Education Management, My Thoughts

Lebih Baik Diam? (Ketiadaan Manajemen Keluhan)

Sebuah organisasi yang baik terbentuk dari kontribusi seluruh pihak, baik dari atasan maupun bawahan.  Begitu juga dengan sekolah. Institusi pendidikan dianggap berhasil ketika mampu memprediksi masalah, bukan hanya mengatasi.

Kemampuan memprediksi ini hanya akan muncul di institusi yang  sehat. Ada dua karakter yang sebaiknya dimiliki sekolah sehat, yaitu mampu menerima masukan dan kepemimpinan yang kuat. Bagaimana bisa? Oke, kita beberkan di bawah ini:

Yang pertama adalah manajemen keluhan atau complaint management yang baik. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang mampu mengelola semua masukan dan keluhan baik dari dalam maupun dari luar. Dari luar bisa berarti dari orang tua, siswa, dan komunitas. Dari dalam bisa didapatkan dari guru, staf, dan manajemen sekolah.

Mungkin saat ini anda berpikir, “Seharusnya dari dalam itu berupa masukan, bukan keluhan.” Ya, mungkin idealnya demikian. Tapi, ayolah….  keluhan itu berasal dari ketidak mampuan orang yang mengeluh.

Katakanlah yang mengeluh itu adalah guru. Mereka melakukan itu bisa jadi karena area penyelesaiannya terlalu luas seperti sistem yang berantakan atau di luar wewenang, atau ketika sekolah memiliki kepala sekolah, yang abai dan tidak cakap, misalnya. Maka, wajar jika mereka mengeluh. Yang menjadi perhatian seharusnya adalah follow up dari keluhan tersebut, bukan siapa yang mengeluh.

Adalah sebuah kesalahan besar ketika guru atau siapapun yang mengeluh ini dibungkam demi pencitraan. APA YANG HARUS DICITRAKAN??? Setiap keluhan yang dibungkam dan lama atau tidak di follow up akan menumpuk laksana gunung es.

Belum lagi ketika kepala sekolah yang seharusnya menjadi penghubung antara pemilik dan guru memilih diam demi keberlanjutan hajat hidup pribadi dan melupakan amanah sebagai pemimpin.

Nah, berarti kita masuk ke pembahasan kedua yaitu kepemimpinan yang kuat sebagai ciri sekolah sehat. Beruntung saya berada di bawah pengayoman para pimpinan berkualitas di sekolah sebelumnya: Al Izhar, Tunas Muda, Sugar Group, dan Al Taqwa. Dari merekalah saya banyak belajar mengenai ilmu kepemimpinan.

Sungguh saya akan super galau jika berada di bawah kepemimpinan yang represif, yang meminta guru untuk diam demi pencitraan. Ada lho, sekolah seperti itu.. Yang kepala sekolahnya memilih diam dan melupakan amanah, yang penting aman dan keluarga kenyang. Yang gurunya tidak dianggap profesional sehingga tidak perlu diikat dengan kontrak. Yang pemiliknya lebih mementingkan bisnis daripada anak didik dengan merumahkan guru di tengah tahun ajaran tanpa diberi bimbingan lebih dulu. Lha wong perusahaan aja dapet SP sampai 3X kok, masa sekolah yang nyata-nyata merupakan institusi pendidikan tidak mendidik para pendidiknya.

Tapi lagi – lagi saya bersyukur karena keempat sekolah yang saya sebutkan di atas sangat profesional dan bukan jenis sekolah yang ‘khilaf ‘ tadi. Semoga siapapun guru,orang tua, dan siswa yang bertahan di sekolah tersebut dapat membantu sekolah bangkit dari kekhilafan.

Sungguh diam yang demikian membawa konsekuensi yang besar, yaitu hilangnya kepercayaan orang tua sebagai konsumen. Maka, tidak heran jika orang tua akhirnya memindahkan anaknya dan memilih sekolah lain. image

Nah, setelah membaca artikel ini, masihkah anda percaya bahwa diam lebih baik di setiap kesempatan? Saya kembalikan jawaban dan konsekuensinya ke tangan anda.

Education Management, My Thoughts

Turnover Guru: Apa dan Kenapa

Tulisan ini akan menyoal turnover dalam bidang SDM ya. Sebenarnya ada padanan kata bahasa Indonesia untuk turnover ini, yaitu perpindahan atau pergantian. Tapi, berhubung kata turnover (menurut saya) jauh lebih familiar, jadi saya akan memakainya dalam tulisan ini.

Definisi turnover itu sendiri, yang saya terjemahkan dari businessdictionary , adalah jumlah karyawan yang direkrut untuk menggantikan karyawan yang mengundurkan diri atau diberhentikan dalam jangka waktu tertentu.

Kata karyawan disini akan kita ganti dengan kata guru yang merupakan salah satu komponen terpenting dalam menentukan kualitas sekolah. Kualitas kinerja guru yang baik sering berdampak positif bagi perkembangan anak didik.

Begitu pula dengan masa kerja guru di sekolah tersebut. Sekolah Sekolah yang memiliki kemampuan retensi guru yang baik, atau dengan kata lain tidak sering bongkar pasang guru,  terbukti berpengaruh dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pengembangan profesi, jumlah siswa, penjadwalan, perencanaan kurikulum, kenyamanan kerja, dan menghindarkan sekolah tersebut dari potensi ‘chaos’.

Seperti bola es yang terjadi dalam sekolah dengan turnover tinggi, faktor-faktor di atas akan mempengaruhi operasional sekolah secara makro, atmosfir kerja yang tidak menyenangkan, merusak citra sekolah, dan pada akhirnya terjadi hal yang paling tidak diinginkan: mencederai proses belajar mengajar. Seperti hasil riset William Sanders dalam Teachers Magazine (2000), anak-anak didik yang belajar di sekolah yang memiliki kemampuan retensi guru akan merasa nyaman dan mampu meningkatkan prestasi akademik.

Lalu, apa yang menyebabkan tingginya turnover? Apakah hanya gaji dan remunerasi? Guess what?
image

Yup, berdasarkan banyak riset yang dilakukan bidang manajemen seperti uang dilakukan Galluphttp:// www.gallup.com/businessjournal/106912/turning-around-your-turnover-problem.aspx, ternyata bukan uang alasan utama tingginya turnover.

Mari kita lihat prosentase berikut:

image

Ternyata, alasan moneter hanya mendapat porsi 22%. Sisanya yang 78% terbagi menjadi beberapa alasan seperti job security, jenjang karier, gaya manajemen, ketidak cocokan pekerjaan, dan penjadwalan/ fleksibilitas. Kelima hal tersebut disebabkan oleh ketidak cakapan manajemen dalam menganalisis dan mengelola talent yang dimiliki organisasinya.

Dalam cakupan sekolah, siapakah yang disebut manajemen itu?

Manajemen sekolah termasuk dalamnya setiap pengelola yang merupakan pengambil keputusan, baik strategis maupun operasional. Berarti, dalam hal ini, manajemen sekolah itu termasuk ketua dan anggota yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, hingga koordinator.

Semua pengambil keputusan tadi paling bertanggung jawab atas tingginya tingkat turnover . Tidak ada satu pun bagian yang bisa mencuci tangan karena koordinasi yang baik dimulai dari analisis diri dan mengakui kesalahan.

Lalu, bagaimana selanjutnya? Bisakah kita atasi masalah ini?
Tunggu lanjutannya, ya, insyaAllah. 🙂

Englicious Resources, SOSE Resources, Students' Masterpieces

The Klastulistiwa Anthology: Mari Terbitkan Mimpi

Dan akhirnya… buku keroyokan ‘The Klastulistiwa Anthology‘ yang menggantikan portofolio itu terbit. Alhamdulillah, dengan modal self publishing, saya dapat membantu menerbitkan mimpi anak-anak murid saya menjadi penulis.

So, what’s Klastulistiwa Anthology?

Klastulistiwa Anthology adalah kumpulan tulisan anak-anak selama satu tahun ajaran ketika saya mengajarkan SOSE dan Bahasa Inggris. Isinya ya, campur-campur: puisi, artikel, cerpen, sampai poster. Selama satu tahun itu pula siswa-siswa saya menabung agar bisa cetak pertama plus biaya biro pengurus ISBN. Maklum, posisi sekolah berasrama kami yang sangat dekat dengan wisma atlet ternama itu tidak memungkinkan kami mengurusnya sendiri.

Di akhir tahun ajaran, salah satu anak yang menjadi pengurus Girls SRC (OSIS tapi khusus perempuan) menggagas untuk membuat Klastulistiwa Project Team.

Via, sang ketua SRC, banyak berperan dalam hal ini. Ia memimpin tim yang terdiri dari beberapa anak2 kelas 7 hingga 12 yang saya ajar. Mereka memosisikan diri menjadi content editor, visual designer, editor, treasurer, sampai marketer – di bawah Via yang jadi Project Manager tentunya. Mereka membuat project timeline, budgeting, hingga promosi.

KLASTULISTIWAWaktu project yang hanya satu bulan pun rampung. An accomplished project. Seluruh penjualan buku hard copy dan royalty disumbangkan untuk pembangunan masjid sekolah. Saat itu perasaan saya membuncah sebagai guru. Bagaimana tidak? Saya seakan-akan melihat langsung semua yang saya ajarkan di kelas, diterapkan di dunia nyata. All of the life skills, knowledge, and character building!

Kisah pun diakhiri dengan telfon kalau buku tidak bisa diikirim tepat waktu ke sekolah untuk dijual kepada pengunjung saat Graduation & Open House karena lokasi yang sulit dijangkau. “Bisanya ke Bogor kota, Bu.” katanya.

Saya publish di LINE, dan dalam sekejap saya di jawab puluhan komen yang bernada sama “Kirim ke alamat saya aja, Bu.” tulis salah satu anak. Dan lagi, an obstacle is overcome.

Anak-anak itu benar-benar bekerja meskipun ada di minggu ujian. Bahkan, para marketer berhasil menjual empat puluh buku!

Dan sekarang, saya mau coba peruntungan saya sebagai marketer dengan mempromosikan buku keroyokan anak-anak itu. Siapa tahu ada yang berminat untuk menulari anak-anaknya kisah yang serupa. Jika ada, buku bisa dibeli online melalui leutikaprio.com. Klik saja LINK INI.

Lectures of Life, Mierza's Own, Parenting

8 METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Alhamdulillah, akhirnya bisa keluar lagi untuk mengaji setelah melahirkan. Kajian dengan tema “Ibuku, Idolaku” yang disampaikan oleh Ummu Ihsan Choiriyah pada tanggal 27 Maret 2015 ini dimulai pada pukul 08.30. Ehem… dan kami pun datang jam 09.00 – terlambat 30 menit. Maklumlah adaptasi penambahan anggota baru yang mulai ikut kajian pertamanya di usianya yang 19 hari (cari alesan).

cutcastervector100823079number81Nah, dari paparan ummu Ihsan, saya mendapatkan sejata yang, subhanallah, sangat berguna dalam mendidik anak. Langsung aja ya… Berikut adalah ‘senjata’ yang saya maksud, yaitu 8 METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM:

  1. METODE KETELADANAN – Yang ini mah sudah jelas. Kalau dalam bahasa Inggris kita tahu peribahasa “Action speaks loder than words”, bukankah Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik seperti yang disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 21: “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” Akhlak dan perilaku beliau layak dijadikan contoh sehingga banyak yang jatuh cinta dengan Islam. Begitu pun ketika kita mengemban amanah sebagai ibu. Keteladanan yang baik sebagai sarana terpenting pendidikan. Karenanya, pastikan sesuai antara perkataan dan perbuatan.
  2. METODE BIMBINGAN DAN NASIHAT – Seperti yang dinasehatkan Lukman kepada anaknya. Berikanlah nasihat dengan kasih sayang. Namanya juga bocah, ya terkadang memang mereka melakukan kesalahan yang sama. Nah, disitulah kesempatan kita untuk mengulang-ulangi nasihat. Tapi, hati-hati, cari waktu bicara yang tepat, karena terlalu sering memberikan nasihat juga bisa membuat anak menjadi jenuh. Selain itu, jangan menasihati ketika kita sedang marah. Gunakan kata-kata yang sesuai serta berbicaralah kepada manusia sesuai dengan waktunya.
  1. METODE KISAH DAN CERITA – Jangankan anak-anak, ibu-ibu aja suka banget dengan metode ini. Kenapa? Karena metode ini dapat memindahkan khayalan dari kisah yang nyata. Dan dibandingkan dengan kisah-kisah dongeng yang entah pemerannya ada atau hanya di bayangan si penutur, kisah-kisah sahabat, thabi’in, atau kisah para nabi akan lebih inspirational karena itu benar-benar terjadi. Nah, pastikan ketika bercerita, sesuaikan dengan umurnya agar bisa dihubungkan dengan kondisi anak, plus berikan apresiasi jika mereka sudah melaksanakan sikap yang diceritakan.
  2. MENGAMBIL PELAJARAN DARI BERBAGAI PERISTIWA DAN KEJADIAN – Peristiwa sehari-hari akan memberikan pengaruh sikap terhadap kehidupannya. Dengan menggunakan peristiwa yang sudah mereka alami, orang tua harus jeli memilih cara menjadikannya sarana bimbingan, pengajaran, dan memperbaiki kesalahan.
  3. METODE PEMBIASAAN – Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab, dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah, baik urusan agama maupun dunia. Contohnya yang gampang: bangun pagi buat shalat subuh dan membereskan mainan. 😀
  4. PANDAI MEMANFAATKAN WAKTU LUANG – Ingat hadits ini? Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi n bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933]. Duh, kita tidak ingin kan anak kita tumbuh sebagai manusia yang tidak bisa memanfaatkan nikmat ini. Bisa rugi dunia dan akhirat nanti…. Makanya, setiap anak sedang memiliki waktu luang, manfaatkan dengan baik. Gali potensinya (yang syar’i dan positif lho, ya) kemudian didukung.
  1. BERIKAN MOTIVASI & APRESIASI BERUPA FASILITAS/ HADIAH – Asal disesuaikan waktunya dan frekuensinya, metode ini akan mengajarkan anak untuk berusaha, insyaAllah.
  2. METODE HUKUMAN YANG SYARI – Kalau di Islam, metode hukuman itu ada, lho… Kalau jaman sekarang disebut dengan konsekuensi (padahal mah sama.. lha wong sebelum ‘dihukum’, dikasih tau ‘konsekuensi’nya di Qur’an/ hadits kok -___-). Oke, fokus! Ehem.. cara menghukum itu tidak dengan fisik lho yaaa… apalagi di wajah. Bisa contohnya dengan mendiamkan, memberi hukuman yang mendidik dan sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan. Tapi ingat, metode ini diambil setelah kita mencoba ketujuh metode di atas semaksimal mungkin. Seperti hadits dari Rasulullah, “Perintakanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah apabila mereka tidak mau sholat ketika berumur 10 tahun., dan pisahkan tempat-tempat tidur mereka.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Shahih Abi Daud: 509] Lha kan ada 3 TAHUN (dari usia 7 hingga 10 tahun) untuk mendidik sebelum orang tua diperbolehkan ‘memukul’. 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar lho untuk mendisiplinkan anak.

Kemudian, sebelum daurah ditutup, Ummu Ihsan melontarkan pertanyaan “Berapa seharusnya kesetimbangan hadiah dan hukuman dalam Islam?”

Now, here’s the answer

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]

Tuh kaan…. jadi jangan seperti pemadam kebakaran, jika anak berbuat salah baru kita heboh, tapi ketika anak berbuat baik kita diam saja. Hadits tersebut seharusnya membuat orang tua agar selalu ingat untuk memberi apresiasi positif yang lebih besar dari hukuman. Karena hadiah terbaik itu bukan barang, tapi sikap dan apresiasi.

Nah, di sesi pertanyaan, ada satu pertanyaan yang menarik yang membuat saya ingin mencatatnya. Salah satu ibu bertanya tentang kondisi anaknya yang sangat aktif. Hampir semua sekolah Islam kewalahan dan tidak sanggup ‘mendidik’ anaknya dan akhirnya satu sekolah Islam inklusif yang sesuai bujet yang menerima. Tapi dia kuatir karena ‘konten agamanya’ tidak terlalu banyak.

Jawabannya Ummu Ihsan, masyaAllah, sungguh indah… Beliau berujar bahwa orang tua harus terus memberikan yang terbaik. Berarti kondisi tersebut sudah yang terbaik bagi si anak. Kita harus ingat bahwa hidayah itu di tangan Allah. Jangan merasa mentang-mentang kita sudah memilih sekolah yang tepat, anaknya pasti akan sesuai dengan cetakan yang kita mau. Ingatlah Nabi Nuh alaihi salam, putranya tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya dan istrinya pun membangkang. Padahal Ia adalah seorang rasul! Jadi ingat! Kita tidak bisa terlalu menyandarkan kepada usaha kita. Segala usaha harus selalu diiringi doa yang tulus kepada Allah.

Usai daurah, saya merasa banyak peer yang harus saya kejar nih dalam mendidik anak-anak. Banyak ilmu yang tidak saya tahu ternyata… Bismillah… Maka dari itu..saya harus meniatkan diri untuk terus belajar dan mendatangi majelis ilmu. Karena dengan ilmu yang bisa diamalkan membuat kita bisa lebih baik dari sebelumnya, insya Allah.  🙂

– Catatan Mierza Miranti – http://www.klastulistiwa.com

Mierza's Own, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Balita Anda Suka Berteriak? Ini Tipsnya

Mengingat kembali dua tahun yang lalu, ketika anak kedua saya – Isma – suka berteriak atau bersuara keras kalau berbicara (meskipun jaraknya dekat).

Pertanyaannya, apakah saya panik? Oh, tentu tidak.

Pertanyaan berikutnya, pasti anak pertama seperti itu,  ya? Hehe, nggak. Justru, Jenna, anak pertama saya, lebih seperti observer. Pendiam banget sih, nggak. Tapi berteriak itu kata yang lumayan jauh dari kamus waktu membesarkannya sebagai balita.

Jadi, kemarin ada yang tanya bagaimana menangani anak yang suka berteriak di Facebook. Berhubung ini sempat terjadi pada Isma, dan alhamdulillah beberapa tipsnya berhasil, saya share aja yah sedikit …

Pada masanya Isma, saya punya 3 kamus yang udah buluk di rumah, karena belinya 8 tahun lalu. Dua kamus itu adalah  The Baby Book-nya Dr.Sears dan Nanny 911. Selain itu, saya juga sudah sempat tersentuh dakwah sunnah. Dakwah ini ternyata nyampe di nalar saya karena mungkin scientificya… berdasarkan Qur’an dan sunnah,.

Okay, bismillah… Here we go…

Sebelum menerapkan beragam tips, kita harus cari tau dulu sebabnya.

Biasanya anak usia 2-5 tahun memang masanya belajar bicara dan melampiaskan emosi secara positif. Jadi, terkadang dia lagi mengekspresikan kesetresan dia karena salah dimengerti. Atau, dia lagi belajar dari orang sekitarnya (yang suka teriak juga hehe). Atau, volume media di rumah yang keras, misal TV/ video/ game yang disetel kencang, yang otomatis buat dia ingin lebih didengar. Atau, bisa jadi memang masih belajar membedakan bagaimana berbicara di dalam atau di luar ruanganز

Tapi tips pertama yang harus bin wajib kita terapkan adalah berdoa di waktu mustajab, pas tiap sujud misalnya. Saat-saat mustajab inilah kita meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kemudahan dalam mendidik.

Next tips, kalau berdasarkan masalah, tips-tips ini ini mungkin bisa dicoba:

  1. Ketika anak merasa nggak dimengerti (lagi belajar bicara). Pas lagi teriak, tetep tenang. Ulangi dengan kalimat bervolume normal, “Kamu mau ini, De?” terus minta ia ulangi sampai tenang. Kalo dia tantrum, peluk seperti Khadijah r.a. yang menyelimuti Rasulullah ketika pertama  mendapat wahyu. She (r.a.) didn’t say a word until Rasulullah was ready to talk. Lakukan hal yang sama, peluk sampai tenang. Jangan terpancing. Kalo di psikologi barat, kalau nggak salah,  ini disebutnya Bear Hug. Kalo pas di keramaian, bawa dia ke tempat sepi. Tanggapi dan puji kalau ia bisa bicara tenang/ tanpa teriak.
  2. Matikan/ pelankan suara media. Anak sebenarnya sudah fitrah ingin didengar.
  3. Kalo masalahnya lagi belajar suara indoor/ outdoor, tinggal treatment aja. Kalo pas lagi di rumah teriak2nya (bukan pas marah2 tapinya), gendong dia keluar rumah dan bilang “Nah, kalau di luar sini, kamu boleh bersuara keras. Coba tadi mau bicara apa?” Kalau udah turun volumenya, ulangi lagi ketika masuk rumah, dan puji kalau dia berhasil menurunkan volume suaranya.\
  4. Mengendalikan respon kita. Pokoknya jangan terpancing marah/ bales teriak.
  5. Untuk long-term, kita bisa beri pengertian lewat cerita,  kompromikan dengan orang rumah (kalau ada yang suka teriak) bahwa kita lagi didik anak supaya tidak berteriak (minta mereka turunkan volume kalau bicara), puji setiap kalo anak pakai volume normal, selalu memanggil/ menghampiri anak lalu berlutut untuk berbicara dengan volume normal (untuk memberikan feeling sejajar) – bukan berbicara lintas ruangan misalnya.. Hehe.

Nah, begitulah petualangan saya sewaktu menjinakkan eh mendidik anak untuk berbicara sesuai ruang dan waktu.  Pastinya, tidak ada satu tips yang manjur, karena orang tua harus selalu mencari ilmu untuk mendidik anak-anaknya menjadi khalifah di muka bumi ini.  It takes time, and patience, but it’s all worthy, insya Allah.

 

Teacher's Professional Development

Creating Audio File with Audacity

In our classes, sometimes we need to use podcast or audio files that individualize the learning. However, the files we browse on the net or got from the book sometimes are not as specific as the one we need. The solution is to make one that suits the need of our lesson.

audWell, we can do it by using a freeware called Audacity. It is a free software or open source software, developed by a group of volunteers and distributed under the GNU General Public License (GPL). You can download it for free by clicking the the link below.

CLICK HERE TO DOWNLOAD AUDACITY

What can the software do? Here are some in the list:

I personally really love this software as it helps me a lot. Therefore, I conducted a teachers training program in Lampung, Indonesia, in 2012, to share my experience. The session focused on the benefits of using podcast followed by step-by-step guide on how to use it. It was a fun session since I was with teachers who were very inquisitive.

Followings are the slides I used…

TRAINING PART ONE

 

TRAINING PART TWO

Feel free to download the software and slides. feel free to email me at klastulistiwa@gmail.com should you want to invite me to collaborate.

Mierza Miranti

Education Management

Dalami Karakter Calon Guru Dengan Teknik Wawancara Ini

INETRVIEW“Kok kinerjanya tidak seperti saat wawancara, ya?”

Mungkin kalimat ini pernah anda dengar atau mungkin pernah anda lontarkan jika anda bekerja sebagai manajer sekolah. Atau bahkan, mungkin saat ini anda bertanya-tanya akan keefektifan proses rekrutmen yang anda lakukan. Jika iya, maka anda adalah seorang pemimpin yang reflektif.

Sekarang ini, saya akan berbagi sebuah metode wawancara yang dikenal dengan nama

Behavioral Event Interview atau BEI

Secara sederhana, BEI adalah suatu teknik yang meminta calon karyawan atau guru untuk menceritakan dengan RUNTUT situasi atau pengalaman NYATA SECARA DETIL pada saat mereka mengajar di tempat sebelumnya atau belajar di universitas (untuk yang merekrut fresh graduate). Jadi, memang hasil wawancaranya tersebut adalah kisah sang kandidat dalam menyelesaikan masalah tertentu dalam pekerjaan atau pendidikan sebelumnya.

Mungkin di titik ini anda akan bertanya: “Waduh… Apa saja yang ditanyakan pada saat wawancara? Apa mungkin bisa langsung bercerita begitu saja? Ada tekniknya?”

Yup, tentu saja. BEI menyebutnya dengan teknik STAR.

STAR Technique

Begini langkahnya:

  • PERSIAPAN – Sebelum dimulai, kandidat ‘dipersiapkan’ untuk menjawab dalam beberapa detik setelah diperdengarkan pertanyaan tentang suatu kejadian di masa kerja/ pendidikan yang lalu. Pertanyaannya sebaiknya detil, seperti : “Sebutkan satu proyek yan pernah anda pimpin?” atau sejenisnya.
  • SITUATION (SITUASI) – dimana penanya menggali situasi genting pada event tersebut.
  • TASK (TANTANGAN DAN EKSPEKTASI) – Intinya, apa yang dilakukan, dengan cara apa, siapa yang telibat, dan seterusnya.
  • RESULTS (HASIL) – Apa saja pencapaian, prestasi, bahkan hingga kegagalan yang dialami.

BEI dianggap salah satu metode yang cukup cerdas dalam menggali karakter calon guru karena kandidat tidak bisa memoles jawaban sebelumnya. Jawaban ini juga dapat memprediksi kesesuaian kultur sang kandidat dengan sekolah kita dengan menggali respon yang nyata berdasarkan keahlian, pengetahuan, sikap, karakter, sampai filosofi hidupnya.

Apakah teknik ini selalu berhasil? Sangat tergantung kualitas pertanyaan atau probing yang dilakukan pewawancara. Jadi, ya, memang perlu latihan untuk menjadi pewawancara BEI yang handal. 🙂

Nah, berikut saya lampirkan slide presentasi yang saya bawakan tentang tema ini. Slide ini bisa anda unduh jika ingin tahu dan mempraktekan teknik ini. Dan, jika anda memerlukan trainer, jangan sungkan hubungi saya untuk berkolaborasi.

Selamat mencoba.

Salam,

Mierza Miranti

 

Education Management

Pemimpin Sekolah yang Efektif (Bagian 2)

Posting ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya, yaitu Apakah Anda Pemimpin yang Efektif? (Bagian 1) . Posting tersebut membahas 3 kriteria pertama seorang pemimpin sekolah yang efektif, yaitu:

  1. Menunjukkan kepemimpinan atau leadership
  2. Memiliki kemampuan mendisiplinkan siswa
  3. Memiliki sistem yang berkelanjutan dan holistik untuk mengevaluasi kinerja

Pada posting kali ini, saya akan melanjutkan kriteria pemimpin yang efektif berikutnya.

4.Mengembangkan dan Mengevaluasi Program Sekolah

Bagian ini merupakan peran penting dri seorang pemimpin sekolah. Program yang berhasil adalah program yang dapat mengembangkan kemampuan siswa di sekolah melalui pengalaman yang bernilai. Inilah kurikulum tersembunyi yang sesungguhnya, atau yang ramai disebut dengan ‘pendidikan karakter’. Program yang efektif harus mencakup beragam area untuk memberikan ‘pengalaman’ ini.

Jika sekolah merupakan sekolahyang baru, ada baiknya sebelum dibuka atau pada awal tahun, pemimpin sekolah menginvestigasi program yang diterapkan di sekolah lain. Membuka telinga lebar-lebar untuk masukan sangatlah penting. Jangan tersinggung jika ada beberapa guru atau orang tua yang mengatakan “Di sekolah saya sebelumnya, ada program begini dan begitu.” atau “Kenapa tidak begini atau begitu saja?” atau kalimat yang semisalnya. Karena, siapa tahu program yang disebutkan tersebut bisa efektif diterapkan di sekolah setelah dikembangkan dan dievaluasi.

Selain itu, perlu sekali melakukan evaluasi atas program  yang sedang berjalan setiap tahunnya. Contohnya saja, jika sekolah memiliki program membaca yang tidak memotivasi anak untuk membaca, maka saatnya untuk meninjau ulang keefektifan program dan melakukan penyesuaian untuk meningkatkan kualitas program tersebut.

 

5.Meninjau Ulang Kebijakan dan Prosedur

Seorang pemimpin sekolah, terutama kepala sekolah memiliki tugas untuk membuat, meninjau ulang, menghilangkan, dan mengedit kebijakan dan prosedur setiap tahunnya. Kebijakan dan prosedur sekolah ini sebaiknya tercetak di buku penghubung karena buku penghubung  bukan hanya berfungsi sebagai ‘catatan harian’ tapi juga mampu meningkatkan kualitas pendidikan siswa. Kualitas pendidikan ini bisa tercapai dengan memastikan setiap individu mengikuti kebijakan dan prosedur sebagai budaya sekolah dan ‘kurikulum terselubung’ sekolah tersebut.

Apa sajakah kebijakan dan prosedur minimal yang harus dicantumkan di buku penghubung?

  1. Prosedur kehadiran dan keterlambatan
  2. Prosedur kedisiplinan dan konsekuensinya
  3. Kebijakan penggunaan telepon genggam
  4. Kebijakan seragam
  5. Code of Conduct setiap penghuni kampus

 

 

6. Membuat jadwal

Proses pembuatan jadwal setiap tahun adalah tantangan yang akan selalu ada untuk para pemimpin sekolah. Ada beragam jadwal yang harus dimasukan dalam rutinitas sekolah, termasuk diantaranya jadwal bel sekolah, piket, penggunaan laboratorium, penggunaan perpustakaan, dll. Kroscek masing-masing jadwal sangat penting untuk memastikan beban guru sama satu dengan yang lain – meski tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak.  Seorang pemimpin sekolah juga harus menjadi fleksibel dan selalu siaga untuk mengubah jadwal jika diperluka.

 

7. Mendelegasikan tugas

Banyak pemimpin yang masih sulit mendelegasikan tugas karena kuatir akan kemampuan anak buahnya. Namun, perlu diketahui bahwa, pendelegasian akan banyak membantu anak buah untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan menyingkat waktu pengerjaan. Cobalah mencari tahu pihak-pihak yang dapat dipercaya atau dilatih untuk mengerjakan pekerjaan yang didelegasikan. Selanjutnya, cobalah memberikan rasa trust kepada mereka. Sekolah yang tidak bersifat one-man show akan jauh lebih sehat dalam hal membina hubungan antar pekerjanya.

 

8. Menjalin Hubungan Baik dengan Orang Tua dan Komunitas

Membangun hubungan yang baik dengan orang tua pembelajar dapat memberi banyak kemudahan dalam proses pendidikan. Salah satunya adalah ketika sekolah mengadapi masalah displin, situasi akan sagat mudah diatasi jika orangtua mendukung keputusan sekolah dan turut mendidik anak dengan kultur yang diharapkan.

Selain itu, membangun hubungan dengan komunitas, baik secara individu maupun bisnis, daoat sangat membantu operasional sekolah. Beberapa keuntungan diantaranya adalah kemudahan mendapatkan donasi, waktu pribadi, dan dukungan positif lainnya.

 

9. Merekrut Guru dan Staf yang Berkualitas

Hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah sumber daya insani sekolah. Merekrut orang yang tepat dapat mempermudah pekerjaan semua orang yang terlibat di dalam sistem. Salah satu cara mencari SDM yang berkualitas adalah dengan melakukan wawancara.

Namun, memang terkadang para pemimpin sekolah ini tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan wawancara. UNtuk itu, perlu dilakukan beberapa tahap screening khusus yang bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang didelegasikan. Tahap penyaringan tersebut diantaranya adalah:

  • Mengirimkan surel berisi beberapa pertanyaan untuk melihat antusiasme atau kesesuaian awal. Hal ini berguna untuk menghemat waktu kedua belah pihak.
  • Melakukan serangkaian tes tertulis dan tes mengajar/ unjuk kerja.

Nah, jika proses di atas telah dilakukan, maka pemimpin sekolah dapat memutuskan untuk melakukan wawakcara. Ada baiknya mengundang pihak lainyang dipercaya untuk mendapatkan umpan balik yang berbeda. Terdapat beberapa cara rekrutmen yang sesuai untuk sekolah, diantaranya yaitu dengan Behavioral Event Interview atau STAR. Ini akan dibahas lebih mendalam dalam posting saya selanjutnya.


Memang tidak mudah menjadi seorang pemimpin yang efektif, namun tentunya tidak mungkin selama pemimpin tersebut mau terus belajar untuk menjadikan dirinya efektif. Semoga paparan peran-peran dapat membantu para pengambil keputusan di sekolah. Selamat belajar. 🙂

Education Management

Pemimpin Sekolah yang Efektif? (Bagian 1)

Posting yang ini merupakan operasionalisasi dari posting saya sebelumnya yaitu:

Perangkat Manajemen Sekolah yang Efektif.

Saya beruntung mengenal beberapa pimpinan sekolah, baik itu kepala sekolah, koordinator guru, pengelola sekolah, dan yang siapapun yang bertanggung jawab dalam manajemen sekolah. Dari mereka, saya banyak mengamati dan akhirnya menerapkan ilmu ketika saya mengemban amanah sebagai manajer sekolah.

Tentu tidak mudah ya menjadi seorang pimpinan sekolah. Perlu banyak waktu, tenaga, kelapangan hati, dan kerja cerdas. Para pemimpin tersebut saya pandang mampu mengatasi segala rintangan yang menghadang demi memberikan yang terbaik bagi siapapun pihak yang ada di sekolah.Mereka sangat layak disebut pemimpin sekolah yang efektif.

Di bawah ini, saya ambil beberapa persamaan peran yang membuat mereka dianggap sebagai pemimpin yang efektif. Apa sajakah itu?

1. Menunjukan kepemimpinan atau leadership

Pemimpin yang efektif selalu menjadi contoh anak buahnya. Kepemimpinan ini ditunjukan dengan sikap yang positif (atau mudahnya nggak gampang sakit hati :P), selalu antusias, selalu siap mengatasi kesulitan dalam keseharian operasional sekolah, dan yang paling utama mau mendengar anak buahnya.

Intinya, seorang pemimpin itu selalu available bagi guru, staf, orang tua, siswa, dan komunitas pembelajar sekolah lainnya. Kalau dilihat dari sikap, nih, seorang pemimpin yang baik itu selalu nampak tenang dalam situasi tersulit, berpikir panjang sebelum bertindak, dan mengedepankan kepentingan sekolah di atas kepentingan pribadi. Mereka bahkan siap untuk mengambil peran di luar jobdesc yang diamanahkan.

2. Mampu mendisiplinkan siswa 

Pimpinan sekolah, mau tidak mau, harus mengambil peran sebagai pihak yang mendisiplinkan siswa: terutama kepala sekolah dan wakasek kesiswaan.

Eit, tapi jangan salah… seorang pemimpin sekolah yang bergerak di bidang yang tidak berhubungan langsung dengan siswa pun memeliki peran ini, lho. Setidaknya, mereka memperlakukan siswa dengan standar kedisiplinan yang sama yang diharapkan sekolah.

Siapakah yang membuat standar kedisiplinan ini? Kepala sekolah (dan terkadang bagian kesiswaan) tentunya.

Lalu, bagaimanakah cara membuat standar kedisiplinan ini. Pertama, pastikan semua pihak tahu langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk setiap masalah kedisiplinan serta konsekuensinya. Jadi, hanya kasus-kasus beratlah yang ditangani langsung bagian kesiswaan atau kepala sekolah. Seorang pimpinan yang baik akan mendengarkan dan mengumpulkan sebanyak mungkn bukti sebelum memberikan konsekuensi maupun pinalti. Dan, yang penting tapi sering dianggap remeh adalah selalu mendokumentasikan isu-isu disiplin untuk setiap tindakan yang dilakukan.

3. Mengevaluasi bawahannya

Biasanya, seorang pemimpin yang efektif cenderung memiliki anak buah yang efektif juga. Misalkan, kepala sekolah atau koordinator guru yang efektif biasanya memiliki guru-guru yang efektif. Kepala Tata Usaha biasanya memiliki staf yang efektif.

Lho? Kok bisa?

Tentu saja. Karena pimpinan yang efektif selalu menginformasikan ekspektasi di awal, melakukan induction atau pengawalan tugas di awal, melakukan kunjungan kelas atau meninjau proses pekerjaan secara rutin, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai kualitas kerja anak buah.

Yang terpenting, informasi ini dikomunikasikan secara berkala dengan cara yang positif, terutama jika terdapat ekspektasi yang belum tercapai. Intinya, seorang pemimpin tidak perlu menunggu akhir masa jabatan bawahannya untuk mengevaluasi, terutama jika peningkatan mutu proses dan hasil kerja adalah tujuannya.

Hmm…. Keren, kan? Tapi apa iya ada pemimpin yang demikian? Tentu saja. Merekalah yang menginspirasi saya menerbitkan tulisan ini agar bisa meracuni pimpinan sekolah yang lain. Ini baru bagian satu, lho…. Saya akan teruskan di posting bagian dua untuk racun-racun berikutnya. Biar nggak kepanjangan bacanya. 🙂

Salam,

Mierza Miranti

Education Management, My Reflection

Perangkat Manajemen Sekolah yang Efektif

Source: http://gambarumahminimalis.comManajemen yang efektif. Kata ini pasti sering kita dengar di lingkungan profesional manapun. Namun kali ini, klastulistiwa.com ingin berfokus pada bidang  manajemen sekolah.

Untuk dapat dikatakan efektif, manajemen sekolah perlu memiliki perangkat dasar yang menjadi pilar dalam menopang kualitas sekolah. Ketiadaan salah satu dari perangkat ini dapat membuat visi dan misi yang dijalankan secara strategis hingga operasional menjadi berantakan.

Nah, posting kali ini akan membahas empat perangkat manajemen sekolah yang efektif. Apa sajakah perangkat itu?

1.    Adanya leadership dalam manajemen sekolah

Inilah WAJAH sebuah sekolah. Merekalah para pemimpin dan pengelola sekolah. Mereka dapat disebut sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator, manajer sekolah, atau pihak manapun yang mengembang tugas untuk mengambil keputusan strategis dan operasional.

Well, mengembangkan kemampuan memimpin atau leadership itu gampang-gampang sulit. Salah satunya adalah kemampuan mengelola trust atau rasa percaya antara staf, siswa, orang tua, dan anggota komunitas sekolah lainnya. Seorang pemimpin sekolah perlu mengetahui perannya dan filosofi kepemimpinan sekolah yang mengikutinya. Selain itu, pemimpin sekolah juga harus membangun komunitas pembelajar dan mengambil keputusan strategis dan operasional.

Jadi sebenarnya, stempel leadership dapat diberikan berdasarkan kesepakatan bersama para stakeholder setelah melihat peran sang pemimpin. Jika salah satu dari stakeholeder, misalkan guru atau orang tua, meragukan leadership pengelola sekolah, maka yang harus legowo menjadi pendengar dan pembelajar adalah sang pemegang otoritas tersebut.

2.    Program sekolah yang berkualitas

Inilah NYAWA sebuah sekolah. Pengelola sekolah yang profesional perlu memiliki andil dalam perancangan program sekolah. Yang dimaksud disini adalah, program sekolah tidak bisa digagas oleh satu orang saja untuk kemudian diinstruksikan. Itu ONE MAN SHOW namanya.

JIka memang terdapat visi dan misi yang harus dijaga, program tetap harus dibicarakan antar pengelola strategis sekolah. Bukankah yang direkrut adalah mereka yang dianggap memiliki visi dan misi yang sama? Kekuatan musyawarah  akan membuat sebuah program lebih kaya karena dikembangkan dalam beberapa perspektif. Selain itu, keikutsertaan lebih dari satu pengelola strategis akan membuat evaluasi program menjadi lebih objektif.

3.    Evaluasi guru dan manajemen yang holistik

Inilah yang menjadi JANTUNG sekolah. Semua pihak pasti setuju bahwa guru menentukan kualitas proses dan hasil belajar-mengajar. Lagi-lagi, tantangan pengelola sekolah menghadapi tantangan dalam menentukan cara mengevaluasi guru. Karena, tidak hanya evaluasinya yang penting, namun langkah selanjutnya dari hasil evaluasi tersebut.

Sebagai organisasi pembelajar, sekolah tidak seharusnya berhenti pada fungsi evaluasi sebagai alat pemilihan guru yang efektif dan guru yang tidak berkualitas. Karea itu, evaluasi perlu dilakukan secara berkala untuk melihat keinginan guru untuk belajar. Bukankah guru merupakan role model bagi murid-muridnya? 🙂

Hasil dari evaluasi ini, selain berdampak pada guru, juga seharusnya memiliki dampak perubahan bagi sekolah. Dari hasil analisis, manajemen dapat mengetahui efektifitas yang dimilikinya selama satu tahun ajaran mengelola sekolah. Jika evaluasi ini dilakukan secara holistik, bukan tidak mungkin sekolah akan bertumbuh menjadi sekolah yang lebih baik setiap tahunnya.

4.    Kebijakan dan prosedur yang kuat

Kebijakan dan prosedur sekolah merupakan TULANG PUNGGUNG sebuah sekolah. Setiap sekolah yang efektif memiliki ciri kebijakan dan prosedur yang kuat dan ditaati oleh seluruh komponen sekolah.

Kekuatan ini tidak hanya didapatkan dari tulisan di atas kertas yang dibagikan di awal tahun ajaran atau tercetak di website dan buku penghubung sekolah. Kekuatan ini bisa didapatkan dengan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan dari manajemen sekolah. Menuliskan dan merevisi kebijakan dan prosedur sekolah bukanlah kelemahan, namun kekuatan sekolah yang dinamis dan dapat melihat keuntungan jangka panjang dari proses pembelajaran sebagai manajemen sekolah.

Setiap sekolah pasti ingin dikatakan sebagai sekolah yang efektif sebagaimana pengelola sekolah ingin dikatakan profesional. Namun, stempel itu tentunya tidak melekat dengan sendirinya. Perlu kerja keras dan cerdas dalam mewujudkannya. Visi dan misi akan hanya menjadi tulisan indah di atas kertas tanpa pengejawantahan secara operasional.

Karena itu, posting klastulistiwa.com mengenai manajemen sekolah efektif tidak akan berhenti hingga paparan umum dan idealis saja. Tunggu posting selanjutnya, dimana klastulistiwa.com akan memaparkan secara operasional masing-masing dari empat kategori di atas. Insya Allah.

My Reflection

The Quest for A Safe School

Bullying, embarrassments, harassment, and even crime happened again. They occurred here, in our own schools in Indonesia. Sadly, some of them happened during school hours and make parents wonder what schools have done to protect their children.

Well, I wrote this article on The Jakarta Post in April 2014 to help parents to find their children a so-called safe school. A place to trust to educate and nurture their jewels. A place to be called a second home.


THE QUEST FOR A SAFE SCHOOL

Mierza Miranti for the Jakarta Post

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

If possible, observe the relationship between the principal and faculty. A safe school will ensure a healthy relationship among their staff members and students.

Third, observe for the campus’ cleanliness during school hours. Doing it during and a while after recess can be the best time to find out how successful school instills the habit to their students. Afterward, parents can see firsthand the standard of the school’s cleaning service.

Fourth, ask information about bullying, harassment and other daily management and intervention programs with regards to student behavior. A safe school is not an impulsive school that treats students’ behavior after it occurs. It has a well-planned and structured program that also involves the student to raise awareness.

Fifth, ask for data of students’ leave and staff turnover. Yet, do not rely too much on these statistics. A high level of expulsion may indicate that the school has a high regard for discipline. On the contrary, it can also show their inability to improve the students’ behavior.

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

If possible, observe the relationship between the principal and faculty. A safe school will ensure a healthy relationship among their staff members and students.

Third, observe for the campus’ cleanliness during school hours. Doing it during and a while after recess can be the best time to find out how successful school instills the habit to their students. Afterward, parents can see firsthand the standard of the school’s cleaning service.

Fourth, ask information about bullying, harassment and other daily management and intervention programs with regards to student behavior. A safe school is not an impulsive school that treats students’ behavior after it occurs. It has a well-planned and structured program that also involves the student to raise awareness.

Fifth, ask for data of students’ leave and staff turnover. Yet, do not rely too much on these statistics. A high level of expulsion may indicate that the school has a high regard for discipline. On the contrary, it can also show their inability to improve the students’ behavior.

Yet, a high staff turnover can lead you to other questions to ask on the quality of staff recruitment and development system of the school. Since for the students, a high staff turnover might influence the learners’ sense of security, especially during secondary school years.

Sixth, find out about the school’s policy of students’ use of electronic devices. Does the school ask their students to hand them over? If they require the students to bring a laptop, find out whether the school has a solid Internet filtering system. Remember that cyberbullying is as dangerous as the physical act.

Finally, request for a sit-in session in the classroom, remember that it is the child that will undergo everything at school. Ask for two days to one week, if possible. Otherwise, one day might be fine to seek for the child’s opinion about the school. Take it as part of the consideration.

These checklist items are actually very basic ones that every school must have. A good school might have a long list of policies but a safe school is the one that really applies it. A safe school also requires involvement of the whole school, not merely the security division. Hopefully, the chosen school can be a second home that ensures equal security to that provided at home.

My Reflection

Apa yang tidak anda lihat di media tentang Gaza? – Wawancara dengan Dubes Palestina, Fariz Mehdawi

Silahkan dibaca… bukan berita sepotong-potong yang dipelintir…

avatar TimMarbun tim marbun

Di tengah ramainya pembicaraan dan perhatian dunia pada peristiwa yang terjadi di Gaza, saya berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi di Kedutaan Palestina di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2014 dalam bahasa inggris. Berikut adalah terjemahan lengkap dari wawancara yang berdurasi 24 menit tersebut.
Pertanyaan yang saya ajukan akan diawali dengan huruf T, dan jawaban Duta Besar akan ditandai dengan huruf J.
Semoga berguna.
——————————————-
T:
Duta besar, terima kasih atas waktu anda. Pertama saya ucapkan turut prihatin atas kondisi yang terjadi di Gaza saat ini, yang harapannya akan segera membaik. Pertanyaan saya adalah, media tidak selalu dapat menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi disana. Apa kondisi Gaza yang tidak kita lihat di media?
J:
Yang tidak kita lihat, orang selalu tertarik dengan angka. Kita sudah berhitung berapa angka martir disana. Sudah lebih dari 200 orang, dan bangunan yang hancur juga…

Lihat pos aslinya 2.679 kata lagi