Posting yang ini merupakan operasionalisasi dari posting saya sebelumnya yaitu:

Perangkat Manajemen Sekolah yang Efektif.

Saya beruntung mengenal beberapa pimpinan sekolah, baik itu kepala sekolah, koordinator guru, pengelola sekolah, dan yang siapapun yang bertanggung jawab dalam manajemen sekolah. Dari mereka, saya banyak mengamati dan akhirnya menerapkan ilmu ketika saya mengemban amanah sebagai manajer sekolah.

Tentu tidak mudah ya menjadi seorang pimpinan sekolah. Perlu banyak waktu, tenaga, kelapangan hati, dan kerja cerdas. Para pemimpin tersebut saya pandang mampu mengatasi segala rintangan yang menghadang demi memberikan yang terbaik bagi siapapun pihak yang ada di sekolah.Mereka sangat layak disebut pemimpin sekolah yang efektif.

Di bawah ini, saya ambil beberapa persamaan peran yang membuat mereka dianggap sebagai pemimpin yang efektif. Apa sajakah itu?

1. Menunjukan kepemimpinan atau leadership

Pemimpin yang efektif selalu menjadi contoh anak buahnya. Kepemimpinan ini ditunjukan dengan sikap yang positif (atau mudahnya nggak gampang sakit hati :P), selalu antusias, selalu siap mengatasi kesulitan dalam keseharian operasional sekolah, dan yang paling utama mau mendengar anak buahnya.

Intinya, seorang pemimpin itu selalu available bagi guru, staf, orang tua, siswa, dan komunitas pembelajar sekolah lainnya. Kalau dilihat dari sikap, nih, seorang pemimpin yang baik itu selalu nampak tenang dalam situasi tersulit, berpikir panjang sebelum bertindak, dan mengedepankan kepentingan sekolah di atas kepentingan pribadi. Mereka bahkan siap untuk mengambil peran di luar jobdesc yang diamanahkan.

2. Mampu mendisiplinkan siswa 

Pimpinan sekolah, mau tidak mau, harus mengambil peran sebagai pihak yang mendisiplinkan siswa: terutama kepala sekolah dan wakasek kesiswaan.

Eit, tapi jangan salah… seorang pemimpin sekolah yang bergerak di bidang yang tidak berhubungan langsung dengan siswa pun memeliki peran ini, lho. Setidaknya, mereka memperlakukan siswa dengan standar kedisiplinan yang sama yang diharapkan sekolah.

Siapakah yang membuat standar kedisiplinan ini? Kepala sekolah (dan terkadang bagian kesiswaan) tentunya.

Lalu, bagaimanakah cara membuat standar kedisiplinan ini. Pertama, pastikan semua pihak tahu langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk setiap masalah kedisiplinan serta konsekuensinya. Jadi, hanya kasus-kasus beratlah yang ditangani langsung bagian kesiswaan atau kepala sekolah. Seorang pimpinan yang baik akan mendengarkan dan mengumpulkan sebanyak mungkn bukti sebelum memberikan konsekuensi maupun pinalti. Dan, yang penting tapi sering dianggap remeh adalah selalu mendokumentasikan isu-isu disiplin untuk setiap tindakan yang dilakukan.

3. Mengevaluasi bawahannya

Biasanya, seorang pemimpin yang efektif cenderung memiliki anak buah yang efektif juga. Misalkan, kepala sekolah atau koordinator guru yang efektif biasanya memiliki guru-guru yang efektif. Kepala Tata Usaha biasanya memiliki staf yang efektif.

Lho? Kok bisa?

Tentu saja. Karena pimpinan yang efektif selalu menginformasikan ekspektasi di awal, melakukan induction atau pengawalan tugas di awal, melakukan kunjungan kelas atau meninjau proses pekerjaan secara rutin, dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai kualitas kerja anak buah.

Yang terpenting, informasi ini dikomunikasikan secara berkala dengan cara yang positif, terutama jika terdapat ekspektasi yang belum tercapai. Intinya, seorang pemimpin tidak perlu menunggu akhir masa jabatan bawahannya untuk mengevaluasi, terutama jika peningkatan mutu proses dan hasil kerja adalah tujuannya.

Hmm…. Keren, kan? Tapi apa iya ada pemimpin yang demikian? Tentu saja. Merekalah yang menginspirasi saya menerbitkan tulisan ini agar bisa meracuni pimpinan sekolah yang lain. Ini baru bagian satu, lho…. Saya akan teruskan di posting bagian dua untuk racun-racun berikutnya. Biar nggak kepanjangan bacanya. 🙂

Salam,

Mierza Miranti

Iklan