My Reflection

What Makes (a) Teacher Happy in a Classroom

Countless literatures have suggested lots of things for teachers to learn to make sure the students happy. But, how many readings really show what things students could do that could make teachers happy? (At this point, if you are a student, you may say “What?” – or if you are a teacher, you may say “Finally!”)

Umm.. this post – however – does not really talk the scientific ways. What I want to say is something natural… something expected by humans… since teachers ARE humans, right?  So this post would view my one-and-only point of view after teaching for more than 8 years in schools with different systems and cultures.

So, here we go with the list of things that could make a teacher (read: ME) happy.

1. Being warmly greeted 

Well, this is normal, I believe. But honestly, as a teacher,  I would be very happy if a student (the ones I teach or not) greet me. A simple smile would be enough should ones don’t feel like greeting. 🙂

2. Being listened to

This what makes it super different between hearing and listening. When you listen, you really put the effort of trying to figure out “What in the world is this person talking about, eh?” It really erases my fatigue of preparing those lesson plans and teaching preparation. Well, for sure, sometimes I do not make myself clear. If that happens, it would lead to my next happiness…

 3. Being asked (while teaching)

This factor is following factor number 2: being listened to. Sometimes, I vibe different ‘frequency’ or ‘language’ when I explain or present something in front of people. Then, if my listener(s) ask questions related to my presentation – not like, “May I go to the rest room?” type of question – I would be super happy! Any kinds of questions would enrich both sides of the parties and  make the brain think!

4. When students/ audience do what is told

This last but not least item is the most important one, I assume. It really highlight everything I have been explaining. Well, I am the kind of teacher who believes in the magic of ‘active learning’. I’ve been seeing examples of how my students still ‘use’ it even after they graduate. They still remember what they have acquired in my classroom (not what they listen). So, if they do what they are told, it will (insyaAllah) bring benefits for them. Their body will help ‘memorizing’ the things I am supposed to teach.

My Students: Source of Happiness
My Students: Source of Happiness

Basically, those would be all I could remember (and type) about the things that make me (as a teacher in  a classroom) happy. Actually, there are more than just four. But for now, having those for has made me more than grateful for being a teacher.

My Reflection

Teleconference dan Rasa Lapar

Hari Minggu ini pertama kalinya saya, setelah selama 1 tahun kuliah, berada di sesi kuliah umum dengan metode teleconference. Kelas yang saat itu dibuka adalah Manajemen Stratejik. Tema yang diberikan adalah Institusi dan Biaya Transaksi.

Karena kuliah umum ini bersifat teleconference, maka mahasiswa tidak perlu meninggalkan kursinya menuju tempat kuliah umum – yang jika dilaksanakan secara konvensional, maka mahasiswa akan mendatangi tempat yang bisa menampung orang banyak. Dengan pola ini, si gadget penghubunglah yang mendatangi mahasiswa…

Kembali ke kuliah umum via teleconference di UT. Teleconference ini dilakukan dengan 7 UPBJJ UT yaitu Medan, Jambi, Ternate, Denpasar, Surabaya, Gorontal, dan tentu saja UPBJJ saya yaitu Jakarta.

image

Well… ide awalnya sih baik dan keren. Semua tahu kalau teleconference tidak murah, bukan? Sayang, pelaksanaannya kurang tertata.

Dikatakan bahwa kuliah umum ini berhubungan dengan kuliah Manajemen Stratejik yang baruuuu saja selesai. Yup! Kuliah umum ini dilaksanakan pada saat kami seharusnya istirahaaaat. Huuhuuu… kami dilarang makaaan… Entah dengan yang lain tapi bagi saya ITU MASALAAH! Ayolaaah… saya lapar… mana bisa mikir atuh!

image

Selain itu, menurut saya siiih… seharusnya agenda sepenting ini diinformasikan minimal sehari sebelumnya. Tapi ini.. oh no no no… kami dicegat keluar beberapa detik sebelum teleconference dimulai… I mean.. come oooon! Bahkan bioskop misbar (gerimis bubar) pun mengumumkan dulu via karang taruna. Seharusnya.. seharusnya…

Ah sudahlah… saya lapar.

-Masih akan terjebak di ruangan ini hingga satu jam ke depan.

My Reflection

Cambridge v.s. IB Curriculum in My Opinion

Fiuuuh… akhirnya 3 minggu pun berlalu. 3 minggu yang superrr sibuk menyiapkan kurikulum baru yang bernama IGCSE dan A-Level ala Cambridge Int’l Examination.

Selama 3 minggu itu juga saya terseok-seok menyiapkan siswa dalam menghadapi IGCSE dan A-Level. Sungguh! Bukan karena betapa banyak paperwork yang harus disiapkan atau betapa riweuh persiapan sebelum memulai pelajaran, tapi lebih karena saya seakan-akan HANYA menyiapkan otak mereka saja untuk menghadapi masa depan. Honestly, I felt like I’ve been threatening the students that they would not pass the TESTS if they don’t.. bla.. bla.. bla.. Bagaimana tidak, dari awal, saya sudah diwanti-wanti untuk menjelaskan jenis-jenis tes yang akan mereka ambil hingga preference sang penguji. Memang sih, CIE memberikan banyaaak sekali panduan yang kumplit… plit… plit… Silabus hingga Scheme of Work-nya lengkap dari minggu pertama hingga terakhir. But.. it’s only that!

Mungkin yang sedang membaca posting ini ada yang bertanya,

So, what do you expect, Mierza???”

Well, I see it from managerial and parental points of view. Seriously, I haven’t seen the curriculum really integrates a holistic school system. It merely improves COGNITIVE. Yup… Cuma otak saja. (Maaf) Padahal.. come oooon… everyone knows that it takes more than your brain to really become ‘something’! Bayangkan jika si sekolah hanya mengandalkan kurikulum ini dalam sistemnya tanpa penambahan sistem yang mendorong ahlak atau karakter yang baik… Akan jadi apa generasi yang tercetak nantinya?

Mungkin hingga paragraf di atas, anda akan bertanya:

Jadi, kembali lagi sama sekolahnya dong? Tapi kalau sekolahnya bagus membuat sistem yang mendukung karakter yang diharapkan, tidak apa-apa kan? Sekolah kami punya program yang bagus kok untuk menjadikan siswa berkarakter. Dll.. dst.. dsb… dllaj…

Maka saya akan katakan disini bahwa saya tidak membicarakan sekolah yang menjalankan, tapi si sistem/ kurikulum itu sendiri yang diadopsi oleh sekolah. Sistem yang ditawarkan Cambridge Int’l Examination HANYA menawarkan sertifikasi. Coba lihat kutipan di bawah ini dan cermati apakah sistem tersebut menawarkan juga cara mengembangkan karakter anak didiknya?

“We are the world’s largest provider of international education programmes and qualifications for 5–19 year olds. More than 9000 schools in over 160 countries are part of the Cambridge learning community. Cambridge programmes and qualifications are progressive and flexible, helping schools develop successful students.” (http://www.cie.org.uk/)

Hmmm… “develop successful students?” Silahkan jawab sendiri pertanyaan: “What kind of successful students are we talking about?

Saya jadi terbayang-bayang lagi ketika saya mengajar di sekolah IB. Sepengalaman saya…. sistem yang ditawarkan IB,  sangat memperhatikan bagaimana ahlak/ karakter itu menjadi poin penting dalam perkembangan pendidikan si anak. Seingat saya juga, IB memiliki satu tema sentral yang dipakai setiap 6 minggu. Tema-tema itu, menurut saya, sangat down-to-earth. Bener-bener realistis.  Terkoneksi dengan kehidupan saat ini dan solusi untuk kehidupan yang akan datang. Dan (ini setahu saya lho, yang pernah mencicipi IB), sistem ini memberikan label ‘IB learner profile’  sebagai bagian dari tujuan pendidikan yang diusungnya, seperti: inquirers, knowledgeable, thinkers, communicators, principled, open-minded, caring, risk-takers, balanced, dan reflective. Dengan begitu, maka bisa disimpulkan bahwa IBO berani mengatakan (dalam kata-kata saya sendiri) “We develop more than your brain” dan ini berlaku pada semua sekolah yang menerapkan IB – tidak tergantung pada bagus atau tidaknya sistem atau program sekolah tersebut. Lihat saja bagaimana IB menampilkan apa yang disebut dengan pendidikan internasional (http://www.ibo.org/programmes/index.cfm):

  • Developing citizens of the world in relation to culture, language and learning to live together
  • Building and reinforcing students’ sense of identity and cultural awareness
  • Fostering students’ recognition and development of universal human values
  • Stimulating curiosity and inquiry in order to foster a spirit of discovery and enjoyment of learning
  • Equipping students with the skills to learn and acquire knowledge, individually or collaboratively, and to apply these skills and knowledge accordingly across a broad range of areas
  • Providing international content while responding to local requirements and interests
  • Encouraging diversity and flexibility in teaching methods
  • Providing appropriate forms of assessment and international benchmarking

Apakah program yang diatas HANYA menampilkan bagian akademik saja? I don’t think so. Pantas saja banyak sekolah yang sudah keburu mengadopsi Cambridge International Examination programs juga mengintegrasikan IB ke dalam sistem sekolahnya. Bukankah kita menginginkan anak-anak kita untuk cerdas dalam segala hal yang lebih dari sekedar pelajaran? 

 

My Reflection

ANALISA PENERAPAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER DALAM PROGRAM E-KTP

Tulisan ini sebenarnya merupakan tugas kuliah studi magister saya. Tapi, setelah dibaca ulang, ada beberapa ide nyeleneh yang ingin saya bagian di klastulistiwa.com. Siapa tahu ada yang tertarik dan iseng mengaplikasikan atau meneliti apa yang sudah saya tuliskan disini. Daaan…. berhubung plagiarisme sedang laris-larisnya, maka sebagai penulis, saya perkenankan mengutip tulisan ini asalkan menuliskan nama saya *uhuk* dan sumbernya (klastulistiwa.com).  

 

A.    PENDAHULUAN

Indonesia dengan segala keunikan di dalamnya menyimpan potensi yang sangat kaya untuk dikelola dan diadministrasi. Potensi itu bernama Sumber Daya Manusia. Menurut Badan Pusat Statistik dari hasil sensus terakhir yang dilakukan pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia pada tahun tersebut mencapai 237.556.363 orang. Hasil pendataan terakhir yang berjarak dua tahun hingga makalah ini dibuat tentunya sulit untuk dijadikan tolak ukur keadaan penduduk saat ini. Selain itu, pemerintah juga mengalami masalah dalam sistem pencatatan kependudukan dan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) tradisional. Kelemahan sistem ini yaitu adanya kesempatan untuk menggandakan identitas untuk beragam alasan.

 

Untuk menangani masalah di atas, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia pada bulan Februari 2011 meluncurkan program e-KTP.  KTP elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi berbasis data kependudukan nasional (KEMENDAGRI, 2011). Seperti tujuan akhirnya, dengan dukungan teknologi informasi, data-data penduduk yang cepat, tepat, dan akurat  dapat segera diolah dan digunakan untuk berbagai hal yang diperlukan  (Pratondo & Supangkat, 2008).

 

Tulisan ini, karenanya, akan menganalisa penerapan sistem informasi berbasis komputer atau yang biasa dikenal sebagai CBIS (Computer Based Information System). Didalamnya terdapat proses mengintegrasikan sumber daya fisik dan logis, kombinasi dari manusia, fasilitas teknologi, media, prosedur dan pengendalian informasi (Furqon, 2011) dalam konteks pendataan penduduk Indonesia. Selain itu, makalah ini akan berfokus pada pemaparan kelebihan dan kekurangan e-KTP  dibandingkan sistem konvensional, keberadaan dukungan kedelapan elemen lingkungan terhadap program tersebut, strategi operasional yang dipilih dan pengelolaan sistem informasi sumber daya informasi (IRIS), serta analisa kelayakan penerapan CBIS. Di akhir makalah, terdapat kesimpulan yang didapatkan dari hasil analisa penulis.

 

 

 

B.   ANALISIS

1. Kelebihan dan Kekurangan Program KTP Elektronik dibandingkan KTP Biasa

KTP elektronik atau yang dikenal dengan nama e-KTP merupakan usaha pemerintah untuk mendokumentasikan data penduduk yang akurat sesuai dengan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang menjadi payung hukumnya  (KEMENDAGRI, 2011).

Untuk mendapatkan e-KTP, pemohon yang sudah memenuhi syarat, membawa dokumen yang diperlukan serta surat panggilan ke tempat pelayanan. Disini, petugas melakukan verifikasi data dengan menggunakan basis data kependudukan untuk menghindari penggandaan dan pemalsuan. 

Mengenai perbedaan dengan jenis kartu identitas dan cara pendataan sebelumnya, yang disebut dengan program KTP nasional 2004, dapat dilihat pada tabel berikut ini yang diambil dari situs resmi e-KTP:

Jenis KTP

Karakteristik

Teknologi

Validitas/Verifikasi

KTP Nasional 2004

Foto dicetak pada kartu

Tanda tangan/ cap jempol

Data tercetak dengan komputer

Berlaku nasional

Tahan lebih lama

Bahan terbuat dari plastik

Nomor serial khusus

Gulloche Patterns pada kartu

Hanya untuk keperluan ID

Pemindaian foto dan tanda tangan/cap jempol

Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dan seterusnya

E-KTP

Foto dicetak pada kartu

Data tercetak dengan komputer

Berlaku nasional

Mampu menyimpan data

Data dibaca/ditulis dengan pembaca kartu (card reader)

Bahan terbuat dari PVC/PC

Nomor serial khusus

Gulloche Patterns pada kartu

Pemindaian foto dan tanda tangan/cap jempol

Terdapat mikrochip sebagai media penyimpan data

Menyimpan data sidik jari biometrik sebagai satu identifikasi unik personal

Mampu menampung seluruh data personal yang diperlukan dalam multi aplikasi.

Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dan seterusnya

Multi aplikasi

Diterima secara internasional

Tidak bisa dipalsukan

Hanya satu kartu untuk satu orang

Satu orang satu kartu

Tingkat kepercayaan terhadap keabsahan kartu sangat tinggi.

Program ini diluncurkan dengan beberapa kelebihan yang diusung, seperti yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di situs resmi e-KTP (2011). Satu diantaranya adalah identitas jati diri tunggal dengan menggunakan satu nomor kependudukan untuk satu orang yang tidak dapat dipalsukan maupun digandakan. Kartu ini juga direncanakan untuk dapat dipakai sebagai kartu suara dalam Pemilu atau Pilkada (E-voting).

Sementara untuk kelemahan program ini, beberapa diantaranya dapat dianalisa dari beberapa studi mengenai penerapan e-Public services, e-ID, dan e-Government di beberapa negara berkembang. Hasil studi penerapan CIT di Bangladesh (Imran, 2009 dalam  Ray, 2011) menemukan bahwa kunci kelemahan penerapan berada pada lemahnya skill dan attitude para administrator dan penduduk itu sendiri. Sementara itu, studi yang lain menyimpulkan bahwa kelemahan sistem ini dapat terjadi lebih parah dikarenakan kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintahan yang bekerja sama dalam program ini, kurangnya pengetahuan dan keahlian menggunakan perangkat yang diperlukan, serta kualitas kecepatan jaringan (Joia,2007; Lam, 2005; Zaed, 2007 dalam  Ray, 2011). Di Indonesia, ditemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan e-KTP. Di antaranya adalah kurangnya sumber daya manusia atau pengelola yang diperlukan serta kesadaran masyarakat yang berhubungan erat dengan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah (Pikiran Rakyat, 2012).

 

2. Dukungan Elemen Lingkungan Terhadap Program e-KTP

Tidak terelakan bahwa pelaksanaan program e-KTP maupun program-program yang melibatkan sistem informasi berbasis komputer memerlukan dukungan elemen lingkungan. McLeod(2001) dalam Daniel & Supratiwi (2011) mengelompokan elemen-elemen pendukung ini menjadi kelompok konsumen, supplier, kelompok serikat pekerja, institusi keuangan, pemegang saham, dan institusi pemerintah.

Selain itu, proyek-proyek semacam ini yang dikelola pemerintah harus mempertimbangkan tiga dimensi utama e-government yaitu government-to-citizen (G2C), government-to-government (G2G), dan government-to-business (G2B) (Afisco & Soliman, 2006 dalam  Alzahrani, 2012).

Dalam dimensi government-to-citizen (G2C), banyak kesempatan mengembangkan hubungan dari sekedar hanya memberikan informasi pemerintahan. Rencana e-voting yang disebutkan sebelumnya harus direncanakan dan dipersiapkan dengan matang sebelum pelaksanaan. Hal yang telah dilakukan pemerintah sebelum pelaksanaan yaitu sosialisasi mengenai keuntungan program dan pelatihan pengggunaan perangkat.

Dimensi yang kedua yaitu government-to-government (G2G). Sebagian dari aspek ini yang dilaksanakan oleh pemerintah yaitu oleh Departemen Dalam Negeri dan Departemen Komunikasi dan Informasi. Inisiatif dalam penggunaan sistem teknologi informasi harus dibuka seluas mungkin untuk mempermudah komunikasi kedua departemen ini. Selain itu, banyak saluran yang dapat bisa dibuka di antara departemen-departemen lain dalam pemerintahan untuk mencapai rencana jangka panjang yang telah ditetapkan, yaitu memaksimalkan fungsi e-KTP menjadi lebih dari sekedar kartu identitas (KEMENDAGRI, 2011).

Dimensi yang terakhir yaitu government-to-business juga harus diperhatikan karena kemudahan dalam birokrasi menjadi nilai tambah G2B untuk dapat mendukung keberhasilan program e-KTP. Seperti yang dicetuskan dalam situs resmi e-KTP (2011) bahwa generasi kedua sistem tersebut akan memasukan fungsi e-Health yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, pemerintah harus memastikan efisiensi komunikasi dapat terlaksana di antara lembaga-lembaga yang berkepentingan.

Hingga saat ini memang masih banyak kendala dalam pelaksanaan e-KTP. Namun, hambatan-hambatan ini dapat diatasi dengan analisa dukungan elemen lingkungan serta dimensi penerapan e-government yang cermat serta aplikasi di lapangan.

 

3.  Strategi Operasional yang Digunakan

Pada tahun 2011, sudah tercatat 197 kabupaten/ kota di seluruh Indonesia yang menanda tangani MoU pelaksanaan program e-KTP. Sedangkan pada tahun 2012, diperkirakan sejumlah 329 lagi yang akan menyusul (Rifnaldi, 2011). Dengan letak geografis Indonesia yang berpulau-pulau, sepertinya pemerintah penyelenggara memilih strategi global sebagai strategi operasionalnya.

Disini, pemerintah pusat, dengan berpayungkan UURI Nomor 23 Tahun dan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009, mengatur pelaksanaan program e-KTP untuk tiap daerah pelaksana. Pemilihan infrastruktur utama, seperti mesin pemindai dan perangkat lunak, dikirim dari pemerintah pusat. Sementara, kebutuhan unik setiap kawasan, seperti tenaga pelatih operator dan perlengkapan fisik seperti ruangan, dipersiapkan oleh masing-masing daerah. Sistem seperti ini dapat menjangkau daerah yang memiliki kesulitan transportasi dan komunikasi.

 

4. Model Sistem Informasi Sumber Daya Informasi (IRIS)

Model IRIS yang digunakan penyusun dalam menganalisa pelaksanaan program e-KTP adalah model IRIS yang ditulis dalam Daniel & Supratiwi (2005) yang dimodifikasi dari konsep IRIS McLeod & Schell tahun 2001. Pada sistem ini, terdapat istilah subsistem input dan subsistem output yang komponen-komponen didalamnya akan dijelaskan sebagai berikut.

 1. a.      Subsistem Input

Di dalam subsistem input, tedapat tiga subsistem yaitu sistem informasi enterprise yang membantu pemerintah mengetahui informasi perangkat keras yang digunakan, subsistem riset dan perencanaan sumber daya informasi yang akan mengolah hasil riset kebutuhan informasi dari departemen fungsional lain, dan subsistem intelijen sumber daya informasi yang mencari data pemasok hardware, software, teknologi, hingga lembaga pemasok SDM ahli komputer. Mengenai subsistem input untuk e-KTP, penulis tidak memiliki cukup data utuk dianalisa sehingga akan hanya berfokus pada analisa subsistem output.

 b.      Subsistem Output

Setelah database dibuat dari hasil analisa dan proses subsistem input, analisa kini beranjak ke subsistem output yang terdiri dari subsistem hardware, software, sumber daya manusia, serta data dan informasi.

Untuk subsistem hardware e-KTP, berdasarkan situs resminya (2011), pemerintah menempatkan perangkat yang disalurkan dari pusat untuk dilokasikan di setiap kabupaten, kecamatan, dan kelurahan. Perangkat-perangkat tersebut yaitu sebuah server untuk database dan AFIS, UPS 1000VA, harddisk eksternal untuk backup data, switch and cabling, smart card reader/writer, signature pad, retina digital scanner, dan tripod. Hingga saat ini, tahun 2012, perangkat-perangkat tersebut masih digunakan dan belum ada pertimbangan untuk mengganti maupun memindahkan perangkat apapun.

 Dalam hal subsistem software, jenis perangkat lunak yang digunakan yaitu sistem operasi Windows Server, database engine (standard edition per 5 users), aplikasi perekaman sidik jari, anti-virus client, dan anti-virus server. Hingga makalah ini dibuat, penulis belum menemukan data yang menyebutkan adanya perubahan atau penggantian perangkat  (KEMENDAGRI, 2011).

 Mengenai subsistem sumber daya manusia, program e-KTP mengerahkan tenaga lokal yang berada di daerah sebagai petugas penginput data e-KTP untuk dilatih oleh tenaga pendamping. Database seluruh daerah tersimpan dan dikelola oleh  Direktorat Administrasi Kependudukan (Ditjen Adminduk) – Kemendagri Jakarta dengan back up data/ data recovery center yang direncanakan akan ditempatkan di server teknologi informasi milik Badan Pengusahaan Batam  (Bisnis Indonesia, 2012). Sedangkan analisa mengenai penyusun dan pemelihara sistem belum dapat dituliskan karena kurangnya data mengenai poin ini.

 Yang terakhir yaitu mengenai subsistem data dan informasi. Pada program e-KTP, diketahui bahwa data yang didapatkan dari proses input dan pemrosesan data yang dilakukan di pusat layanan di daerah disimpan dalam harddisk eksternal sebagai cadangan. Bersamaan dengan itu, data juga dikirimkan ke pusat penyimpanan di Depdagri.

 4. Kelayakan Implementasi CIBS

Hingga saat ini, penulis belum menemukan studi yang meneliti kelayakan sistem informasi berbasis komputer yang dilaksanakan dalam program e-KTP. Analisa yang melihat berbagai sisi ini dapat membantu pemerintah untuk menentukan layak atau tidaknya sistem. Selain itu, studi ini juga dapat menemukan pencegahan dari potensi masalah di masa mendatang.

Lima penilaian kelayakan implementasi sistem informasi berbasis komputer yang juga dapat digunakan untuk memperbaiki sistem yang telah berjalan  (Wahyono, 2008) , yaitu: kelayakan ekonomi (echonomical feasibility), kelayakan operasi (operational feasibility), kelayakan teknik (technical feasibility), kelayakan jadwal (schedule feasibility), dan kelayakan hukum (law feasibility).

Penilaian pertama mengenai kelayakan secara ekonomi yang berkisar pada analisa biaya yang diperlukan untuk mengembangkan sistem dapat disepakati  manfaatnya. Untuk e-KTP, biaya yang dialokasikan Kemendagri sejumlah 6,3 triliun untuk dana sosialisasi  (Antara News, 2012).   Selain itu, masing-masing daerah juga harus mengalokasikan dana dengan jumlah yang dibutuhkan. Dana sebesar itu seharusnya dapat memberikan manfaat seperti yang telah dipaparkan di atas, yaitu akurasi data. Jika tujuan ini dapat dicapai, maka dapat dikatakan bahwa program e-KTP layak secara ekonomi.

Penilaian kedua yaitu kelayakan operasional yang mencakup kesepakatan semua perangkat sistem termasuk sumber daya manusia yang bersedia menjalankan sistem, kemampuan interaktifitas program komputer yang digunakan dalam sistem,  serta kualitas informasi yang dihasilkan. Dukungan elemen pemerintah pusat membuat kesepakatan sumber daya manusia pengguna sistem menjadi terpenuhi melalui penyediaan tenaga operasional. Masalah pengunaan program komputer pun diatasi dengan melaksanakan pelatihan bagi para operator. Sementara pengendalian dari pihak pemerintah pusat pun belum dilaporkan ada masalah  (KEMENDAGRI, 2011) karena yang harus dilakukan daerah adalah menyimpan database ke pusat informasi.

Penilaian ketiga yaitu kelayakan teknik yang mencakup ketersediaan teknologi di pasaran dan ketersediaan ahli. Sepertinya pemerintah memilih teknologi yang memang mudah dipergunakan dengan dipilihnya sistem operasi yang kompatibel untuk saat ini yaitu Windows 7 bagi komputer yang digunakan operator, selain perangkat lunak dan keras yang telah dipaparkan di bagian subsistem output di atas. Sementara mengenai ketersediaan ahli diatasi dengan pelatihan di lokal masing-masing wilayah.

Mengenai penilaian keempat yaitu kelayakan jadwal belum terdapat kesepakatan karena belum ada studi yang mempelajari hal ini.

Penilaian terakhir yaitu mengenai kelayakan hukum. Pemerintah memiliki dasar hukum yang kuat dalam pengimplementasiannya yaitu UURI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan yang mengatur pelaksanaan program e-KTP untuk tiap daerah pelaksana. Mengenai keaslian software, pemerintah pun menggunakan perangkat lunak orisinil yang tidak diragukan validitasnya  (KEMENDAGRI, 2011).

Dari kelima penilaian kelayakan implementasi program, penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk sementara ini, hingga terdapat hasil studi yang meggugurkan, dapat dikatakan program e-KTP layak untuk diimplementasikan.

 

C.   KESIMPULAN

Pada bulan Februari 2011, KEMDAGRI meluncurkan program e-KTP yang merupakan dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada basis data kependudukan nasional. Kelebihan program ini diantaranya adalah akurasi data kependudukan dengan  satu nomor kependudukan untuk satu orang yang tidak dapat dipalsukan maupun digandakan.  Namun, e-KTP juga memiliki kelemahan penerapan yaitu skill dan attitude para administrator yang dalam hal ini adalah pegawai pemerintahan yang ditugaskan dan penduduk itu sendiri, kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintahan yang bekerja sama dalam program ini, kurangnya pengetahuan dan keahlian menggunakan perangkat yang diperlukan, kualitas kecepatan jaringan, serta kesadaran masyarakat yang berhubungan erat dengan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah. Selain itu, proyek-proyek semacam ini yang digagas atau dikelola pemerintah juga harus mempertimbangkan tiga dimensi utama e-government yaitu government-to-citizen (G2C), government-to-government (G2G), dan government-to-business (G2B)

Mengenai strategi operasional, pemerintah penyelenggara memiliki strategi global dimana pemilihan infrastruktur utama, sementara kebutuhan unik setiap kawasan dipersiapkan oleh masih-masing daerah. Untuk subsistem output yang pertama dan kedua yaitu subsistem hardware dan software e-KTP, penulis belum menemukan data yang menyebutkan adanya perubahan atau penggantian perangkat. Data yang didapatkan dari proses input dan pemrosesan data yang dilakukan di pusat layanan di daerah, disimpan di dalam harddisk eksternal sebagai cadangan. Bersamaan dengan itu, data juga dikirimkan ke pusat penyimpanan di Depdagri. Sementara dalam subsistem SDM, program e-KTP mengerahkan tenaga lokal yang berada di daerah untuk dilatih oleh tenaga pendamping.

 

Terakhir, untuk menilai kelayakan implementasi program, dipilih lima jenis penilaian dari Wahyono (2008) yaitu kelayakan ekonomi, operasi, teknik, jadwal, dan hukum. Dari kelima penilaian kelayakan implementasi program, dapat disimpulkan untuk sementara ini, hingga terdapat hasil studi yang meggugurkan, bahwa program e-KTP layak untuk diimplementasikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alzahrani, A. (2012, July-September). Developing an Instrument for E-Public Services’ Acceptance Using Confirmatory Factor Analysis: Middle East Context. Journal of Organizational and End User Computing, 24 (3) , pp. 18-44.

Antara News. (2012, 05 22). E-ID Seems to Running Smoothly. Retrieved Agustus 26, 2012, from antaranews.com: m.antaranews.comen/news/82311/e-id-project-seems-to-be-runnning-smoothly

Badan Pusat Statistik. (2011). Pedoman Ringkas Web Diseminas Hasil SP 2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Bisnis Indonesia. (2012, Juni 7). BP Batam Ikut Simpan Data Penduduk RI. Retrieved Agustus 26, 2012, from bisnis_kepri.com: http://www.bisnis-kepri.com/index.php/2012/06/bp-batam-ikut-simpan-data-penduduk-ri/

Daniel, D. R., & Supratiwi, W. (2005). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka .

Furqon, C. (2011). Modul Perkuliahan Sistem Informasi Manajemen. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

KEMENDAGRI. (2011, June 12). Situs Resmi e-KTP. Retrieved Agustus 24, 2012, from http://www.e-ktp.com: http://www.e-ktp.com/category/sosialisasi-e-ktp/

Orgeron, C. P. (2011, July-September). Evaluating Citizen Adoptionand Satisfaction of E-Government. International Journal of Electronic Research, 7 (3) , pp. 57-78.

Pikiran Rakyat. (2012, Juni 13). Media Online Pikiran Rakyat . Retrieved 26 Agustus, 2012, from http://www.pikiran-rakyat.com: http://www.pikiran-rakyat.com/node/192200

Pratondo, A., & Supangkat, S. H. (2008). Sistem Informasi Pemerintah Kota/ Kabupaten sebagai Sarana Pemantauan Kesejahteraan Masyarakat. Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia. Jakarta: e-Indonesia Initiative 2008 (eII2008).

Ray, S. (2011, July-September). Identifying Barriers to e-Government Services for Citizens in Developing Countries: an Explanatory Studies. International Journal of Electronic Government Research, 7 (3) , pp. 79-91.

Rifnaldi. (2011, Maret 03). KAdis Capil Padang Panjang Matangkan Persiapan Program e-KTP. Retrieved Agustus 28, 2012, from http://www.pewarta-indonesia.com: http://www.pewarta-indonesia.com/nusantara/4359-kadis-capil-padang-panjang-matangkan-persiapan-program-e-ktp.html

Wahyono, T. (2003). Kuliah Berseri Ilmu Komputer. Retrieved Agustus 24, 2012, from http://www.ilmukomputer.org: ttp://ilmukomputer.org/2008/11/25/computer-based-information-system-cbis/

Wahyono, T. (2008, 11 25). Observasi dan Studi Kelayakan Membangun CBIS. Retrieved Agustus 26, 2012, from http://www.ilmukomputer.com: Teguh 2008 http://ilmukomputer.org/2008/11/25/computer-based-information-system-cbis/ 

My Reflection

Ketika Idul Fitri Menyenangkan dan Ramadhan Memberatkan

“Berapa baju lebaran yang kamu punya?” begitu kira-kira ungkapan yang sering saya dengar sewaktu dari teman, Tante, Om, atau orang dewasa lain menjelang dan di hari Idul Fitri. Sungguh saat itu saya merasa bangga ketika jumlah baju saya lebih atau setidaknya sama dengan jumlah baju yang dimiliki teman-teman atau saudara.

Idul Fitri atau lebaran identik dengan baju baru, kue, dan uang. Uang? Yup, uang! Lembaran yang didapatkan dari orang dewasa yang ditemui saat itu. Lama kelamaan, ketika mulai remaja, kebosanan pun mulai melanda. Meskipun demikian, budaya belanja, buat kue, dan ‘salam tempel’ pun masih dilakukan. Only that.

Bagaimana dengan Ramadhan? Sungguh, dari kecil hingga kuliah, yang saya pikirkan tentang Ramadhan hanyalah bulan yang berat dan membosankan yang harus dilalui hingga ‘Hari Kemenangan’. Hari dimana kita bisa memamerkan baju terbaik kita. Bulan sebelum hari menyenangkan itu, saya diwajibkan puasa, shalat tarawih, bersedekah.. dengaan alasan: arena semua melakukan itu. Jika sewaktu kecil saya melakukan itu karena hadiah, maka setelah remaja saya melakukan itu karena malu. Malu jika tidak melalukannya karena orang lain melaksanakannya. Sungguh sangat artifisial. Palsu. Saya tidak pernah tahu atau tidak peduli mengenai arti bulan Ramadhan maupun hal-hal berarti yang bisa dilakukan untuk mengisinya. I did not care at all.

Apa yang saya rasakan ketika anak-anak hingga remaja itu hampir sama dengan apa yang saya dengar di ruangan berisi puluhan remaja yang diikutkan untuk mendengarkan petuah dari seorang ustadz beberapa saat lalu di bulan. Ramadhaan tahun 2013M ini. Awal tausyiah, sang Ustadz bertanya apa makna Ramadhan dan banyak dari anak-anak yang menjawab “Ramadhan is boooring!” “Ramadhan itu berat.” “Ramadhan itu melelahkan”.

Subhanallah.. seketika saya tersentak. Saya mengingat beberapa tahun lalu ketika saya memiliki pendapat yang sama. Bedanya dengan saat itu, tidak ada orang dewasa yang bertanya demikian dan saya pun hanya berani berkata demikian kepada teman terdekat saja. Seingat saya, jarang atau malah sama sekali tidak ada penguatan mengenai keutamaan Ramadhan. Kalaupun ada, sepertinya hanya karena orang dewasa tersebut hanya menunaikan kewajiban. Mereka tidak (mau) menemukan cara agar Mierza kecil itu tau arti Ramadhan.

Ya Rabb… itu membuat saya takut dengan amanah yang saya emban sebagai ibu dan guru. Sungguh saya takut apa yang saya lakukan itu belum cukup untuk memahamkan arti dan keutamaan Ramadhan bagi seoramg Muslim.

Sungguh, saya takut telah menyia-nyiakan masa muda anak-anak kandung dan didik saya. Bukankah Rasulullah telah bersabda:

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, (3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan (4) untuk apa dia belanjakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2417, dan beliau berkata: “Hadits hasan shahih.” Diriwayatkan juga dari sahabat Abu Barzah Nadhlah bin ‘Ubaid Al-Aslamiz, dan diriwayatkan Al-Khathib dalam kitab Iqtidha’ Al-’Ilmi Al-’Amal. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2417. Beliau juga berkata dalam Ash-Shahih Al-Jami’ hadits no. 7300: “Shahih”, dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah hadits no. 9461).

Namun tentunya Allah memberikan orangtua dan guru ketakutan agar bisa menjadi hamba yang kebih kuat. Seharusnya ketakutan ini menjadi senjata yang maha dahsyat untuk mentransformasi orang dewasa manapun – termasuk saya – untuk mencari terus jalan terbaik dalam memahamkan Islam kepada para khalifah masa depan: anak-anak kita. Ketakutan seharusnya menjadi pecut bagi para caretaker untuk mencari ilmu yang syar’i dalam memahamkan pengertian tentang Islam yang benar kepada anak-anak.

Bersambung ke bagian 2: Mendidik anak memahami Islam yang kaffah.

My Reflection

Berkenalan dengan VELS dan Cambridge Curriculum

Setelah 4 tahun berada di zona nyaman seorang pengajar – bertanggung jawab dengan kelas yang itu-ituuuu aja dan mengajar dengan kurikulum yang itu-ituuuu aja – akhirnya saya memutuskan untuk PINDAH SEKOLAH! Sebentar… sepertinya kalau hanya pindah sekolah tapi masih berpelukan dengan kurikulum naisonal yang sebelumnya sangat saya akrabi, sepertinya… nggak seru. Maka dengan ini saya mengambil keputusan untuk: PINDAH SEKOLAH DAN BELAJAR TANGGUNG JAWAB BARU!

Say, what? Kurikulum baru?

Ayay… for sure... kurikulum baru!

Dari pelosok Lampung yang nun jauh disana, Sekolah Sugar Group dengan segala fasilitas gratisnya yang kumplit-plit-plit , saya pindah ke pelosok Bukit Hambalang nun jauh disini yang merupakan cabang dari sekolah Induknya di Victoria, Aussie: Al Taqwa CollegeKurikulum yang ditetapkan disini ada tiga: KTSP, AusVELS (Australian Victorian Essential Learning Standards), dan Cambridge Int’l Examinations atau CIE.

Al Taqwa College, Indonesia

Banyak yaaaaaa…. ~____~” Pusing ga tuuuu nyampur-nyampur begituuuu?

Awalnya… mungkin..

Sekarang? Lumayan… masih pusing… ^___^

Sebenarnya sih, ketiga kurikulum tersebut nggak langsung ‘nyampur-nyampur’ untuk satu mata pelajaran  seperti beberapa sekolah yang tidak perlu saya  sebutkan namanya. Di Al Taqwa College, semua objectives-nya sudah jelas.

Maksudnya????

Begini… saya kasih contoh apa yangsaya ajar dulu mungkin ya… Pada tahun ini, saya diberikan amanah utnuk mengajar 2 mata pelajaran dengan 3 kurikulum:

  • IGCSE English untuk kelas 9 sekalian mempersiapkan mereka untuk UN
  • A-Level English untuk kelas 11 (yang ujiannya masih 2 tahun lagi)
  • KTSP-Based English untuk kelas 12 (karena mereka memilih itu)
  • AUSVels SOSE untuk kelas 7, 8, dan 9

Nah kaan, tidak begitu pusing. Enaknya kurikulum yang jelas adalah objective  yang jelas. Jadi kita mempersiapkan anak untuk tujuan akhirnya. Malah, AusVELS dan CIE sudah mempersiapkan segala paperwork yang sangat membantu tugas guru dalam mengajar. Jadiii… guru memang dimotivasi untuk berkreasi dengan pembelajaran daripada paperwork. 

Semoga saya makin rajin mencari ide-ide segar untuk pembelajaran nantinya. Oh iya, kalau sempat, saya akan bagikan lebih lanjut tentang AusVELS ya… seru juga pakai kurikulum ini soalnya.

Salam pendidikan!

^____^

Product Review

My Lifetime Waranty Targus from Lazada

Ini adalah ulasan produk pertama saya di blog ini. Berhubung  karier saya adalah guru, maka barang yang akan saya ulas pertama kali adalah TAS: sebuah benda yang sangat membantu mobilitas saya dari satu kelas ke kelas lain.

Sebenarnya saya tidak berniat membeli tas, hanya saja tas andalan saya  hanya seumur jagung muda (karena dipetik untuk masak sayur asem). Belum sampai setahun, tas itu sudah menganga… tepat ketika saya sangat memerlukannya… hihiks… Maka, saya MEMUTUSKAN BAHWA inilah waktunya membeli tas baru yang tahan lama dan kalau perlu ada garansinya. Garansi? Yup, garansi! Garansi bahwa toko online yang akan saya beli produknya itu terpercaya dan garansi bahwa barang yang dijualnya juga berkualitas.

Lalu, setelah mencari-cari via search engine dengan kata kunci tas+laptop+garansi+online dan…. voila!

LAZADA HASIL BROWSING
Hasil Browsing Tas

Yang keluar pertama kali adalah iklan toko online Lazada yang beralamatkan http://www.lazada.co.id! Hmm… saya tidak langsung percaya sih.. karena terus terang saya baru pertama kali mendengar toko online ini. Akhirnya, saya mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Lazada. Ternyata, toko ini sudah banyak memiliki akun-akun di sosmed, seperti blog, google+  , twitter , dan hampir semua pengunjungnya mengatakan hal yang positif. So… I thought.. It deserved a try then. (^▽^)

Maka, masuklah saya ke toko online Lazada dan melihat pilihat menu navigasi. Ng… berhubung saya (believe it or not) adalah jenis perempuan yang hanya pergi ke toko (online or offline) untuk mencari benda yang saya inginkan, maka saya langsung ketik produk di kotak cari.  Dari semua produk yang ditawarkan, mata saya langsung takjub dengan satu tas yang berjudul Targus Incognito Ransel Laptop – 15.6″ – Olive karena 3 hal: BETULAN BERGARANSI SEUMUR HIDUP (Cek gambarnya, deh!), reviewnya bagus, muraaah dibanding lapak sebelah karena diskonnya gedee (lihat gambar), dan ONGKIRNYA GRATISSS sampai Lampung! O(≧∇≦)O

Targusku di Lazada

Inilah yang membuat saya  memutuskan untuk…. MEMBELINYA!  (/^▽^)/

Klak-klik-klak-klik… sampailah saya di ‘troli’ dan… weits… ternyata pilihan pembayarnnya banyak! Dari mulai yag standar (transfer bank), kartu kredit, sampai bayar di tempat! Wutt??! Cara pembayaran terakhir yang membuat saya haqqul yaqin  bahwa saya bisa percaya Lazada. Come on! Kalau mau nipu nggak mungkin sepede ini kan.. menawarkan COD gitu loooh. Tapi.. berhubung saya di hutan Lampung dan  kuatir tidak bisa bertemu sang kurir, maka saya putuskan untuk memakai cara yang standar: transfer bank.

Setelah dapat konfirmasi via email, yang saya lakukan tentu saja… menunggu. Trust me… bagi seseorang yang berada di tempat terpencil (saya mengajar di sekolah perusahaan di tengah-tengah kebun dan hutan di Lampung), mengunggu adalah hal yang sangat… biasa. Bahkan, barang yang seharusnya sampai hanya seminggu, dengan kondisi seperti kami, bisa sampai sebulan bahkan dua bulan kemudian. But then… saya ditelfon oleh bagian administrasi perusahaan yang mengatakan ada paket kiriman — 5 HARI KEMUDIAN!!!  Sungguh ajaiiiib. Pesanan saya tiba kurang dari seminggu!  d=(´▽`)=b

My Order
Targusku Pesananku (☆^O^☆)

Bahagianya kalau bisa mendapat lebih dari yang kita inginkan. Targus yang kualitasnya ajiib ini ternyata sudah ada di depan mata… bergaransi seumur hidup pula. ヾ(´▽`;)ゝ

GARANSI
Garansi Seumur Hidup Targus

Oya, untuk anda yang membeli Targus, pastikan anda menyimpan resi pembelian dan kartu garansinya yang supaya bisa klaim. Tapi, kalau berdasarkan review-review di dunia maya itu, jaraang banget kasus resleting rusaklah, jahitan yang tidak kuat, atau manufactured-based damage yang bikin nyesek. Tapi, hati-hati juga… kalau beli Targus harus toko online terpercaya semacam Lazada supaya bener-bener dapat yang aseli. Pasti gak mau dong kalo kita beli barang palsu, padahal niatannya mau beli yang asli?  ┐( ̄ー ̄)┌   — Kecuali kalau emang niat beli yang KW-KW-an.. hehehe…

Finally, kalau ada yang tanya “Mau repurchase di Lazada?” Saya akan jawab.. “Sudaaaah… Sudah beli untuk kedua kalinya dan sampai dengan gratis dan bahagia.”  (ヘ。ヘ)

— THE END —

My Reflection

Inovasi + Sistem yang Suportif = Indonesia Mandiri

I-N-O-V-A-S-I

Yup… Inovasi. Kata ini – menurut mbah wiki – berasal dari kata benda dalam bahasa Latin yaitu innovare yang artinya “mempebarui atau mengubah”. Kata ini dibentuk dari kata dasarnya novus yang artinya “baru”.

Tapi, ingat! ๏[-ิ_•ิ]๏ Tidak semua hal yang “baru” adalah inovasi. Pak Indra dalam laman manajemeninovasi.com mengutip tiga sumber yang memperdalam pengertian istilah tersebut. Saya hanya akan mengambil apa yang ditulis oleh Avanti Fontana (2009). Dalam tulisannya,  inovasi  berarti  mentransformasi input menjadi output melalui diperkenalkannya cara  atau kombinasi baru dari cara-cara lama. Transformasi ini dapat   menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada pengguna, komunitas, sosietas, dan lingkungan, yang pada akhirnya bisa  menghasilkan kesuksesan ekonomi.

Sekarang, kita bumikan kata inovasi yang terkesan teoritis dan super ideal di atas dengan harapan bahwa inovasi dapat menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Hipotesanya adalah: Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri melalui inovasi.

Kemudian, mari bayangkan telah mewawancarai beberapa orang Indonesia dengan menawarkan hipotesa di atas. Berikut pertanyaan dan pernyataan yang mungkin dilontarkan:

  • Benarkah senaif itu?
  • Ini pasti adalah optimisme model baru yang ditularkan melalui media untuk mengangkat harga diri Indonesia yang (terlanjur) terpuruk bahkan di mata penghuninya sendiri?
  • Memang inovasi bisa memperbaiki (minimal citra) Indonesia?
  • Ah, paling hanya segelintir penghuni negara ini saja yang dapat menikmati indahnya kemandirian melalui proses inovasi.
  • Memang negara kita tercinta Indonesia ini bisa menjadi mandiri melalui  hasil inovasi para penduduknya, ya?
  • Bisakah…?
  • Bisakah…?
  • Bisakah…?

Sebelum pertanyaan dan pernyataan diatas dijawab untuk membuktikan hipotesis, marilah kita tengok tempat Indonesia dalam Index Inovasi Global tahun 2012 yang diterbitkan INSEAD and WIPO (World Intellectual Property Organization, sebuah badan khusus dibawah organisasi PBB). Riset ini meneliti bagaimana peran inovasi  dalam membangun perkembangan ekonomi yang tentunya berkontribusi pada kemandirian suatu bangsa. Hasil riset tersebut juga mengurutkan negara-negara yang ekonominya terpacu oleh inovasi. Silahkan periksa skema di bawah ini:

Seperti terlihat, terdapat 10 negara mandiri yang berada pada ranking sepuluh teratas karena inovasinya. Dari ranking 1 sampai 10, negara-negara tersebut adalah Swis, Swedia, Singapura, Finlandia, Inggris, Belanda, Denmark, China, Irlandia, dan Amerika.

Lho, Indonesia manaaaa? (O_O;)

Jangan kuatir. Dari 141 negara yang diteliti, Indonesia berada pada peringkat ke….100!

Jika setelah melihat tabel di atas anda mulai berteriak: “Yaaa iyalaaah. Mereka kan negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang.. bla.. bla.. bla…”

Eit, tunggu dulu!

Dalam laporan itu juga disebutkan ranking negara yang mampu mentransformasi input inovasi menjadi output. Maksud dari input inovasi disini adalah kondisi lingkungan negara tersebut dalam proses inovasi hingga mampu meningkatkan perekonomian negara. Sedangkan output adalah hasil kegiatan inovasi dalam kegiatan ekonomi masing-maisng negara yang berbeda. Sepuluh negara yang terefisien dalam indeks inovasi global – dari urutan pertama – adalah China, India, Republik Moldova, Malta, Swiss, Paraguay, Serbia, Estonia, Belanda, dan di peringkat 10 – tetangga dekat Indonesia- Srilangka. Ajaibnya, meurut laporan tersebut, empat negara teratas dalam menghasilkan inovasi justru adalah negara-negara yang tidak memiliki lingkungan yang kondusif dalam dukungan inovasi.

Nah, tuh kan! Seharusnya, dengan melihat fakta di atas, kita harus makin optimis berinovasi untuk mencapai kemandirian bangsa. Tanpa sistem yang suportif saja, inovasi dapat memberi kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi. Bagaimana jika kita memiliki lingkungan yang sangat kondusi??? Well, seperti pepatah bahasa  Inggris yang sudah saya terjemahkan “Jika anda tidak bisa mengalahkan mereka, belajarlah dari mereka!” – yakinlah… Kita pasti BISA!

Untungnya, WIPO sudah berbaik hati membuatkan laporan lengkap yang berjudul Global Innovation Index Report 2012 yang dapat kita pelajari untuk mencari tahu bagaimana sebuah sistem yang suportif terhadap inovasi dapat membuat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri.

Nah, dari laporan yang super panjang itu, saya menyimpulkan beberapa hal yang bisa dilakukan Indonesia untuk agar inovasi bisa memacu pertumbuhan ekonomi:

  1. Membuat model yang berlaku nasional yang menghubungkan antara inovasi dengan sistem-sistem pendukung ekonomi. Tapi, model ini hanya berupa template saja yang bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan daerah. Kondisi Indonesia yang unik, terutama secara geografis, memerlukan energi ekstra untuk dapat mengejawantahkan model yang dibuat.
  2. Mengkoordinasikan semua usaha yang dilakukan semua pihak yang menyokong inovasi secara ekonomis. Sebenarnya, banyak pihak yang sudah mendukung keberadaan inovasi untuk dapat berkontribusi lebih dari sekedar ‘selesai diciptakan’. Bank Mandiri adalah salah satu contohnya. Bank ini sudah menelurkan beberapa program yang secara langsung maupun tidak, turut mendukung inovasi dari jalur moneter. Pihak-pihak yang sudah berjalan ini dapat berjalan secara sinergis jika dapat dikoordinasikan dengan baik.
  3. Penyederhanaan jalur birokrasi. Untuk hal ini, jalur birokrasi yang disederhanakan tidak hanya bagi sang inovator, tapi semua pihak yang terlibat di dalamnya dari mulai penyokong hingga pemerintah.
  4. Mendidik masyarakat untuk memiliki jiwa enterprenership. Hal yang bisa dilakukan adalah merombak sistem pendidikan yang terbukti menghasilkan calon konsumen atau pemakai yang hanya mengutamakan nilai kognitif. Sistem pendidikan yang baru nanti diharapkan dapat membentuk karakter-karakter yang diharapkan yang tidak menyerah pada tantangan. Oh ya, enterprenership disini bukan berarti semua yang menyelesaikan studi tidak akan menjadi karyawan. Namun, profil pembelajar dan lulusan sistem pendidikan enterpreneship memiliki mental yang tangguh, bukan hanya mental pengguna yang manja.
  5. Meningkatkan jumlah tenaga kerja terdidik. Kalau yang ini sudah jelas: pendidikanlah jawabannya. 🙂
  6. Meningkatkan infrastruktur yang berbasis inovasi. Ayooo, buka mata…. Berapa hutang Indonesia sekarang? Jika untuk membangun dan mempertahankan infrastruktur masih menggunakan metode yang selama ini kita pakai a.k.a. mahal dan tidak long lasting, makin tekor lah negara ini. Jika para inovator diberi kesempatan untuk berinovasi, bukan tidak mungkin sistem pendukung pun berjalan mengikuti.
  7. Menyokong komunitas bisnis yang modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita adalah bagian dari dunia global. Berkontribusi dan membangun jaringan di dalamnhya akan banyak berkontribusi dalam pendewasaan proses inovasi di Indonesia.
  8. Mendukung keterpakaian teknologi informasi. Lagi-lagi, kondisi Indonesia yang berpulau-pulau membuat penggunaan teknologi informasi sangat masuk akal. Dukungan penggunaan ICT oleh pemerintah akan sangat membantu para inovator dan (calon-calon) pihak pendukung untuk berinteraksi dan bertindak lebih intens.

Nah, mari kita kembali menguji hipotesa yang dituliskan diatas:

Dapatkah Indonesia menjadi bangsa yang mandiri melalui inovasi.

Semoga jawabannya kini  berubah menjadi : BISA, dengan sistem yang mendukung inovasi tentunya. ^_____^ v

Salam Kreativitas!

Sumber Bacaan:

INSEAD & WIPO. 2012. The Global Innovation Index 2012: Stronger Innovation Linkages for Global Growth. Fountainebleau: INSEAD

Nusca, Andrew. 26 Januari 2011. Top 10 Countries for Innovation: US LEads; Germany, Japan Follows. http://www.smartplanet.com/blog/smart-takes/top-10-countries-for-innovation-us-leads-germany-japan-follow/13881. Diunduh: 13 November 2012.

Tarde, G. (1903). The laws of imitation (E. Clews Parsons, Trans.). New York: H. Holt & Co.

StrategyOne. (26 Januari 20122). GE Global Innovation BArometer” Identifies New Expectations and Parameters for Innovation in the 21st Century. http://www.businesswire.com/news/home/20110126005607/en/%E2%80%9CGE-Global-Innovation-Barometer%E2%80%9D-Identifies-Expectations-Parameters. Diunduh: 15 November 2012.

Zudin, Indra. (8 Januari 2012). “Apakah Inovasi Itu?”. http://manajemeninovasi.com/apakah-inovasi-itu/.  Diunduh: 13 November 2012.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

My Reflection

Car Free Day

Going out of the jungle for sure rejuvenate my soul, mind, and recharge my energy. Being ‘stucked’, or should I say choosing to get stucked – in a middle of a jungle almost make me numb. Yes.. I know… We have the so called www to get ourselves updated, but come on… aren’t our five senses also need non-virtual stuff.to be sensed?

So there I went… Jakarta… To advance my degree at the Open University for every 4 weekends in that semester (At the time I blogged this, I just did my final exam). What I love is.. not the journey or being in the city but.. This:

Yup… Jakarta Car Free Day on every Sunday. I love to watch the urbans – from children to adults, students to executives – breaking their habit. I believe it got challengers at the beginning of implementation. But… Look! They seemed to enjoy the freedom among those sky crapper… Some of companies use it for team building

image
Indomaret Employees

and even as promotion and campaign media

image
Anlene Promo

And it made me realize: I MISS CIVILIZATION ~___~.

My Reflection

Kursi Merah Kosong

Kursi yang merah menyala itu masih kosong. Kalau warna lain sih… banyak! Katanya, tang merah itu kursi ajaib. Jampi-jampi apapun yang dipanjatkan hingga detik ini tidak mampu mengisi si kursi merah kosong itu.

Aneh… Tidak seperti kursi buru yang banyak dipilih anak-anak pencinta permen loli yang bersedia berubah pikiran jika diberi loli. Juga tidak seperti kursi hijau yang diisi anak-anak berbadan tegap dengan dahi takut berkerut. Kursi merah itu tetap saja kosong.

Belakangan, kursi itu diketahui bernama keberanian. Ternyata, jampi-jampi saja tidak cukup mengisinya.

My Reflection

KETIKA TES DIBUAT UNTUK MENCARI KETIDAKMAMPUAN

“Selasa, 5 Juni 2012 15:39 WIB | Semarang (ANTARA News) –
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan pada tahun depan, derajat kesulitan soal ujian nasional (UN) akan lebih ditingkatkan… Ia mengatakan ada dua skenario yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas UN, yakni dengan meningkatkan derajat kesulitan soal atau dengan menaikkan standar kelulusan UN.”

Sungguh terkejut saya membaca tajuk di atas. Betapa tidak! Saya yang baru saja keluar dari mulut buaya bersama siswa-siswi saya pada tahun ini, harus bersiap-siap masuk ke mulut harimau tahun depan. Apa sebelumnya tidak dipikirkan tingkat stres yang tidak perlu menjelang ujian yang harus diderita anak-anak? Ataukah budaya menghukum (jika tidak dikatakan menyiksa)sudah demikian kuat mengakar di urat nadi bangsa Indonesia karena terlalu lama dijajah? Ya, kambing hitamkan saja sejarah tanpa belajar. 😦

Apa sebenarnya tujuan ujian semacam ini jika bukan untuk ‘memetakan’ ketidak mampuan? Jika memang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia… Well… Pernyataan semacam itu tidak seharusnya dikeluarkan sedini itu. Bukankah pendidikan besar kaitannya dengan riset? It makes me feel that all of these testing thingy in Indonesia is merely superstitious. (Apa bahasa Indonesianya superstitious ya?) Bagaimana tidak, keputusan untuk  menyatakan pendapat di atas berasal sangat dipertanyakan dan tidak berdasar. Kemungkinan besar berasal dari katanya… katanya.. katanya… 😦

Saya jadi mempertanyakan lagi  hubungan antara UN dan pemetaan atau idealnya perbaikan pendidikan.  Jika memang UN ini berfungsi untuk perbaikan mutu pendidikan, apa buktinya ya? Soal-soal ajaib yang dijadikan pemetaan hanya menguji kemampuan tingkat berpikir rendah. Ayolah… berapa banyak soal yang berisi aplikasi? Kebanyakan malah harus dihafal dan dilupakan setelah ujian selesai.

Ah sudahlah… toh pada akhirnya gurunya juga yang harus berjuang. Melakukan apa yang harus dilakukan dengan baik, benar, ikhlas, dan cerdas.

My Reflection

Jenna, Buku, dan Putri Galak

Menjelang kenaikan kelas ke TK besar, Jenna sibuk mempersiapkan pemampilan terbaiknya di atas panggung.

image
Princess's Maid

Dari mulai kostum yang mengorbankan tunik umminya untuk diubah jadi gaun putri negeri dongeng, sampai apa yang harus ia ucapkan di atas panggung.

Nah, untuk urusan terakhir, sepertinya ia sudah siap karena peran Jenna saat di panggung adalah menjadi pelayan. Ia hanya harus jalan megal-megol (itu istilah yang ia dapat dari gurunya) lalu memberikan minuman  kepada si putri sambil mempersilahkannya minum. Sebagai mantan drama queen (ehm..uhuk..uhuk), saya menasihatinya untuk total bermain peran apapun yang diamanahkan.

Done? Eit… Ternyata belum! Jenna lantas  bercerita tentang karakter si putri yang pemarah. Kasusnya adalah, sang guru mengatakan kalau jadi putri harus seperti itu. Say what? Ow…Ow…Ow… Sungguh stereotyping yang berbahaya.

Lebay? I don’t think so! Pertama, jika memang diperkenalkan, princesses’ stories akan jadi idola anak-anak perempuan, termasuk Jenna, anak sulungku tercinta. Untuk menghalau infiltrasi  “putri menunggu, menikah, and they lived happily ever after“, saya belikan buanyak sekali buku Islamic Princess dari Mizan yang secara diam-diam mengajarkan asmaul husna.

image
Sebagian Koleksi Islamic Princess Jenna

Jadiii, kembali lagi berbicara tentang stereotyping, anak-anak akan menganggap sah jika putri, penguasa, pemimpin untuk bersikap jahat! Naaah loooo… Bahaya kan?

Kedua, banyak anak usia TK yang mengiyakan saja apa yang dikatakan gurunya. Untunglah disana ada Jenna yang maju mendebat gurunya (hadeuh… Emaknya aje didebat apalagi orang lain).

“Tapi, bu…  Princess yang dibukuku nggak gitu. Princess Qoyyuma malah mandiri.” Begitu yang ia ceritakan di rumah. Selanjutnya, ia tidak tertarik lagi untuk bercerita tentang hal itu dan pindah topik jadi cerita tentang temannya. Hihihi.. Saya jadi ingin tahu apa yang dikatakan bu guru selanjutnya.

Yang pasti ini juga jadi autokritik untuk saya karena Jenna sekolah di unit lain kelompok sekolah tempat saya mengajar juga. Yang pasti, saya tidak menyesal membelikan Jenna berpuluh-puluh buku yang berkualitas… Lumayan… Bisa jadi bahan untuk membela kebenaran. Hehe…

My Reflection

HIJABILAH

Saat ini ingin aku menggapaimu

Memeluk dan melindungimu

Memastikan kau aman

Menjaga lajurmu agar lurus

Mengingatkanmu akan masa depan selepas fana

Sungguh nak…

Hati ibu kelu menatap masa

Ketakutan ini mengejawantah akan hijabmu

Akankah kau hijabi hatimu?

Akankau kau hijabi dirimu demi selamatmu?

Tahukah kau, nak….

Setiap hijab yang terbuka

adalah ujian bagi bunda seorang khalifah

Ya Rabb…

Tak sanggup khalifahmu ini menjangkau hatinya

Menata masa yang Kau siapkan untuknya

Kumohon ya Rabb hijabilah malaikat hamba

Jangan biarkan fana merenggut surga yang Kau janjikan

Kumohon ya Rabb…

Hijabilah…

My Reflection

That’s Why We Love PORORO!

Minggu pagi, Jenna – anak sulung saya yang baru TK kecil,  meminta jatahnya menonton TV setelah semua ritual paginya selesai: mandi, makan, beres2 mainan, dan menggoda Isma – adiknya yang masih bayi.

Klak-klik saluran TV, ada 4 jenis kartun yang ditayangkan 4 stasiun televisi yang berbeda: Spongebob, Sinchan, Disney (Mickey Mouse dkk) tapi yang versi dulu, dan Pororo.

Terus terang untuk urusan TV saya lumaya tegas (atau berlebihan?). Dalam satu hari, Jenna dibatasi menonton 1 jam (maksimal 2 jam jika yang ditonton adalah video pembelajaran yang tersedia di rumah) dan itupun harus didampingi. Kalau ‘terpaksa’ memilih saluran TV, saya lengkapi dengan mainan (balok, gunting-lem, kertas, any edutoys)/ buku untuk pengalih perhatian ketika iklan.

Oke, kembali dengan pilihan yang tersedia tadi. Setelah beberapa pendampingan (ada juga film yang saya putuskan tidak layak tayang di rumah saya tanpa Jenna harus menonton dulu), akhirnya terdapat 3 pilihan film kartun tidak saya rekomendasikan untuk ditonton Jenna:

  1. Spongebob. Komentar Jenna: “Jangan, Mi… Mister Crabnya pelit dan Squidword kata-katanya jelek.” Hehehe… Syukurlah. Saya sempat, dengan naifnya, memperbolehkan Jenna menonton kartun ini  beberapa kali. Untung sempat saya dampingi. Sebenarnya itu adalah kartun dewasa dengan setting orang dewasa yang bekerja, semacam The Simpson. Lebih kaget lagi di episode terakhir yang sempat saya tonton, Squidword sempat berkata-kata kurang baik.. bukan kasar.. hanya saja membuat saya kuatir akan ditiru oleh Jenna. Selain itu, saya bersyukur Jenna berhenti menonton ini, terutama setelah terbit penelitian tentang anak-anak yang berkurang kemampuan mengingatnya setelah menonton film kartun berframe cepat semacam Spongebob.
  2. Sinchan. Haduh.. maaf.. kalo yang ini saya sama sekali tidak memberi akses kepada Jenna. Saya katakan kepadanya kalau ini sebenarnya film kartun untuk orang dewasa. Namun berkat Sinchan juga Jenna akhirnya tahu kalau tidak semua kartun  bisa dikonsumsi anak-anak.
  3. Disney versi lama.  Untuk yang ini, kami sempat dua-tiga kali menonton sampai ada adegan yang kurang pantas untuk anak-anak yaitu adegan pacaran dan berkelahi. Pada saat itu saya alihkan saja perhatian Jenna dengan mainan jika tidak ada siara pengganti atau saya tawarkan menonton koleksi film Pocoyo/ Syamil & Nadia/ Tupi&Pingping.
Dapat ditebak kan? Pororo-lah yang bisa mengambil hati kami (saya terutama) hehe.
We Love Pororo: The Little Penguin

Bagaimana tidak, dari pilihan kisahnya yang mendidik, kata-katanya yang sesuai untuk anak-anak, hingga lagu-lagunya yang tidak asal buat (saya saja ibunya bisa hapal lho.. hehehe). Potongan lirik lagu penutupnya saja  – “Kami berteman baik” mampu membuat saya hapal (melodinya-walaupun liriknya salah ;P). Lagu ini juga pernah dibuat senjata oleh anak saya ketika ia harus mendamaikan dua temannya yang bertengkar.

Animasi Korea yang satu ini memang luar biasa. Mendunia karena kemampuannya menggaet perhatian anak-anak dan orang tuanya sekalian. Nah… kalau demam K-Pop yang ini saya sangat setuju! ^____^

My Reflection

The Hat Attack!

BEWARE OF THE INVASION!

Say What???

No worries, this kind of invasion only happens once a year and the impact is only for the good laugh for creativity made by the community in the school units.

So, what is the hat attack? Um… originally named Creative Hat in on of the  thematic Fridays in the Sugar Group Schools – a group of schools unit owned by the Sugar Group Companies. This post will review on the uniqueness of hat creations, ideas, even up to the interpretation of ‘creative hat’ itself. (Eh?)

Most of the students come up with creative ideas. Some student come up with an idea of creating hats using newspaper…

Marvelous Paper Hats
The JakPost Ambassador
More Newspaphats

Not enough? Maybe adding some balloons will make it have a sense of.. um.. art? 😛

Ready to fly? 😛

Construction and thick papers will work the beauty. Check these ones:

Need a Rainbow, Ma'am?
The Angry Bird Attack
Hat Paper Beauty
The Circus Hat

Or… if you have more time… maybe you can try the idea of this great spider straw hat (I gave two thumbs up for this one :D)

The Spidey Straw Hat

Some others have great ideas with flannel fabric…

Flannel hat that beautifies the owners ;P

See how it beautifies them? :P.

Ow… and check these cool hat ideas:

A hat that talks
Other Hat Ideas
It's Cesarean Time!
'Let's Go to Bank' Hat
Lady Marmalade

And there are also some ‘interpretations’ of what hats should be… like these ones 😀

A reinterpretation of a hat (or a mask) ;P
A Hatwig!

Phew… actually, I haven’t shown you all but I guess the tour has shown you the bottom line that creative ideas really do need creative (and crazy) people to apply it. I really enjoy the sight in every corner of the school though!

Hope that I will see crazier ideas in the next thematic friday!

 

See You!

 

 

 

 

 

 

 

My Reflection

Ketika Kematian Itu Dekat

Sungguh, aku terhenyak mendengarnya. Ibuku yang rela mencucurkan seluruh keringat dan air matanya untuk membuatku sebesar ini kini sendiri.

Aku yang katanya tahu bagaimana membalas budi hanya diam… diam… diam… Ia sendiri harus berjuang dengan sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Sendiri…. dalam diam…

Omong kosong jika kukatakan aku pandai membalas budi! Dimana aku sekarang dan dimana wanita itu? Wanita yang rela melakukan nyaris apapun untuk membuatku seperti sekarang?

Kematian yang mendekat sedekat helaan napas yang memburunya telah membuatnya rela digerogoti keputus asaan. Ketiadaan orang-orang yang dicintanya membuatnya tak sanggup melangkah… tak berani bermimpi…

Ah Mama…

Semoga aku masih diberi waktu untuk bersamamu.  Memelukmu. Mengingatkanmu bahwa ada aku…. yang mencintaimu…

My Reflection

A Case Against Ranked School Report

Reading Pak Marsudi W. Kisworo’s blog (he’s the Head of Perbanas) entitled “Guru yang Melahirkan Kehebatan (dari Rhenald Kasali)” reminds me to a national event held a couple of month ago: The Independence Day of Indonesia on 17 August 2011…

In this site, we celebrated it by starting the day with a flag ceremony. All employees of the companies – I live in a sugar cane site where all employees are provided housings and free education (How lucky we are!) – as well as the school communities gathered in a field.

One of the agenda is to announce the students with the best achievements. The first rank students- as they would call them literally translated. And there you go, one by one students were called by the announcers…

At a glance, I saw a wishful face of my students… wishing that they would be called as well. But that would not happen since the number of students called were even less that one percent. Some students might think that it would be such a fantasy to be appreciated like that. To be known to be the best… the best that they can be however.

It has been far too long that we put exaggerated priority on the cognitive level of the students. I professionally think – as an educator – instead of encouraging them, it would be the other way around. How about some students who are improved their interpersonal skill who do not face any difficulties in mingling with anyone. Or the ones who have a strong character that they could be the a promising leader. Why don’t we also put them in the “rank”?

How long will we be trapped in this “ranking system” that only creates more and more problems in maintaining characters? We have been through some years in which cheating is considered not special anymore in facing the national exam. How could we build better generations if this continues to happen?

The questions.. I bet… should be answered by myself. I should continue my fight to put forward this case… against the ranked school report. So that the future generations can be well acknowledged more than their brain to be the best in the class room, but to be the best that they can be.