Minggu pagi, Jenna – anak sulung saya yang baru TK kecil,  meminta jatahnya menonton TV setelah semua ritual paginya selesai: mandi, makan, beres2 mainan, dan menggoda Isma – adiknya yang masih bayi.

Klak-klik saluran TV, ada 4 jenis kartun yang ditayangkan 4 stasiun televisi yang berbeda: Spongebob, Sinchan, Disney (Mickey Mouse dkk) tapi yang versi dulu, dan Pororo.

Terus terang untuk urusan TV saya lumaya tegas (atau berlebihan?). Dalam satu hari, Jenna dibatasi menonton 1 jam (maksimal 2 jam jika yang ditonton adalah video pembelajaran yang tersedia di rumah) dan itupun harus didampingi. Kalau ‘terpaksa’ memilih saluran TV, saya lengkapi dengan mainan (balok, gunting-lem, kertas, any edutoys)/ buku untuk pengalih perhatian ketika iklan.

Oke, kembali dengan pilihan yang tersedia tadi. Setelah beberapa pendampingan (ada juga film yang saya putuskan tidak layak tayang di rumah saya tanpa Jenna harus menonton dulu), akhirnya terdapat 3 pilihan film kartun tidak saya rekomendasikan untuk ditonton Jenna:

  1. Spongebob. Komentar Jenna: “Jangan, Mi… Mister Crabnya pelit dan Squidword kata-katanya jelek.” Hehehe… Syukurlah. Saya sempat, dengan naifnya, memperbolehkan Jenna menonton kartun ini  beberapa kali. Untung sempat saya dampingi. Sebenarnya itu adalah kartun dewasa dengan setting orang dewasa yang bekerja, semacam The Simpson. Lebih kaget lagi di episode terakhir yang sempat saya tonton, Squidword sempat berkata-kata kurang baik.. bukan kasar.. hanya saja membuat saya kuatir akan ditiru oleh Jenna. Selain itu, saya bersyukur Jenna berhenti menonton ini, terutama setelah terbit penelitian tentang anak-anak yang berkurang kemampuan mengingatnya setelah menonton film kartun berframe cepat semacam Spongebob.
  2. Sinchan. Haduh.. maaf.. kalo yang ini saya sama sekali tidak memberi akses kepada Jenna. Saya katakan kepadanya kalau ini sebenarnya film kartun untuk orang dewasa. Namun berkat Sinchan juga Jenna akhirnya tahu kalau tidak semua kartun  bisa dikonsumsi anak-anak.
  3. Disney versi lama.  Untuk yang ini, kami sempat dua-tiga kali menonton sampai ada adegan yang kurang pantas untuk anak-anak yaitu adegan pacaran dan berkelahi. Pada saat itu saya alihkan saja perhatian Jenna dengan mainan jika tidak ada siara pengganti atau saya tawarkan menonton koleksi film Pocoyo/ Syamil & Nadia/ Tupi&Pingping.
Dapat ditebak kan? Pororo-lah yang bisa mengambil hati kami (saya terutama) hehe.
We Love Pororo: The Little Penguin

Bagaimana tidak, dari pilihan kisahnya yang mendidik, kata-katanya yang sesuai untuk anak-anak, hingga lagu-lagunya yang tidak asal buat (saya saja ibunya bisa hapal lho.. hehehe). Potongan lirik lagu penutupnya saja  – “Kami berteman baik” mampu membuat saya hapal (melodinya-walaupun liriknya salah ;P). Lagu ini juga pernah dibuat senjata oleh anak saya ketika ia harus mendamaikan dua temannya yang bertengkar.

Animasi Korea yang satu ini memang luar biasa. Mendunia karena kemampuannya menggaet perhatian anak-anak dan orang tuanya sekalian. Nah… kalau demam K-Pop yang ini saya sangat setuju! ^____^

Iklan