I-N-O-V-A-S-I

Yup… Inovasi. Kata ini – menurut mbah wiki – berasal dari kata benda dalam bahasa Latin yaitu innovare yang artinya “mempebarui atau mengubah”. Kata ini dibentuk dari kata dasarnya novus yang artinya “baru”.

Tapi, ingat! ๏[-ิ_•ิ]๏ Tidak semua hal yang “baru” adalah inovasi. Pak Indra dalam laman manajemeninovasi.com mengutip tiga sumber yang memperdalam pengertian istilah tersebut. Saya hanya akan mengambil apa yang ditulis oleh Avanti Fontana (2009). Dalam tulisannya,  inovasi  berarti  mentransformasi input menjadi output melalui diperkenalkannya cara  atau kombinasi baru dari cara-cara lama. Transformasi ini dapat   menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada pengguna, komunitas, sosietas, dan lingkungan, yang pada akhirnya bisa  menghasilkan kesuksesan ekonomi.

Sekarang, kita bumikan kata inovasi yang terkesan teoritis dan super ideal di atas dengan harapan bahwa inovasi dapat menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Hipotesanya adalah: Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri melalui inovasi.

Kemudian, mari bayangkan telah mewawancarai beberapa orang Indonesia dengan menawarkan hipotesa di atas. Berikut pertanyaan dan pernyataan yang mungkin dilontarkan:

  • Benarkah senaif itu?
  • Ini pasti adalah optimisme model baru yang ditularkan melalui media untuk mengangkat harga diri Indonesia yang (terlanjur) terpuruk bahkan di mata penghuninya sendiri?
  • Memang inovasi bisa memperbaiki (minimal citra) Indonesia?
  • Ah, paling hanya segelintir penghuni negara ini saja yang dapat menikmati indahnya kemandirian melalui proses inovasi.
  • Memang negara kita tercinta Indonesia ini bisa menjadi mandiri melalui  hasil inovasi para penduduknya, ya?
  • Bisakah…?
  • Bisakah…?
  • Bisakah…?

Sebelum pertanyaan dan pernyataan diatas dijawab untuk membuktikan hipotesis, marilah kita tengok tempat Indonesia dalam Index Inovasi Global tahun 2012 yang diterbitkan INSEAD and WIPO (World Intellectual Property Organization, sebuah badan khusus dibawah organisasi PBB). Riset ini meneliti bagaimana peran inovasi  dalam membangun perkembangan ekonomi yang tentunya berkontribusi pada kemandirian suatu bangsa. Hasil riset tersebut juga mengurutkan negara-negara yang ekonominya terpacu oleh inovasi. Silahkan periksa skema di bawah ini:

Seperti terlihat, terdapat 10 negara mandiri yang berada pada ranking sepuluh teratas karena inovasinya. Dari ranking 1 sampai 10, negara-negara tersebut adalah Swis, Swedia, Singapura, Finlandia, Inggris, Belanda, Denmark, China, Irlandia, dan Amerika.

Lho, Indonesia manaaaa? (O_O;)

Jangan kuatir. Dari 141 negara yang diteliti, Indonesia berada pada peringkat ke….100!

Jika setelah melihat tabel di atas anda mulai berteriak: “Yaaa iyalaaah. Mereka kan negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang.. bla.. bla.. bla…”

Eit, tunggu dulu!

Dalam laporan itu juga disebutkan ranking negara yang mampu mentransformasi input inovasi menjadi output. Maksud dari input inovasi disini adalah kondisi lingkungan negara tersebut dalam proses inovasi hingga mampu meningkatkan perekonomian negara. Sedangkan output adalah hasil kegiatan inovasi dalam kegiatan ekonomi masing-maisng negara yang berbeda. Sepuluh negara yang terefisien dalam indeks inovasi global – dari urutan pertama – adalah China, India, Republik Moldova, Malta, Swiss, Paraguay, Serbia, Estonia, Belanda, dan di peringkat 10 – tetangga dekat Indonesia- Srilangka. Ajaibnya, meurut laporan tersebut, empat negara teratas dalam menghasilkan inovasi justru adalah negara-negara yang tidak memiliki lingkungan yang kondusif dalam dukungan inovasi.

Nah, tuh kan! Seharusnya, dengan melihat fakta di atas, kita harus makin optimis berinovasi untuk mencapai kemandirian bangsa. Tanpa sistem yang suportif saja, inovasi dapat memberi kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi. Bagaimana jika kita memiliki lingkungan yang sangat kondusi??? Well, seperti pepatah bahasa  Inggris yang sudah saya terjemahkan “Jika anda tidak bisa mengalahkan mereka, belajarlah dari mereka!” – yakinlah… Kita pasti BISA!

Untungnya, WIPO sudah berbaik hati membuatkan laporan lengkap yang berjudul Global Innovation Index Report 2012 yang dapat kita pelajari untuk mencari tahu bagaimana sebuah sistem yang suportif terhadap inovasi dapat membuat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri.

Nah, dari laporan yang super panjang itu, saya menyimpulkan beberapa hal yang bisa dilakukan Indonesia untuk agar inovasi bisa memacu pertumbuhan ekonomi:

  1. Membuat model yang berlaku nasional yang menghubungkan antara inovasi dengan sistem-sistem pendukung ekonomi. Tapi, model ini hanya berupa template saja yang bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan daerah. Kondisi Indonesia yang unik, terutama secara geografis, memerlukan energi ekstra untuk dapat mengejawantahkan model yang dibuat.
  2. Mengkoordinasikan semua usaha yang dilakukan semua pihak yang menyokong inovasi secara ekonomis. Sebenarnya, banyak pihak yang sudah mendukung keberadaan inovasi untuk dapat berkontribusi lebih dari sekedar ‘selesai diciptakan’. Bank Mandiri adalah salah satu contohnya. Bank ini sudah menelurkan beberapa program yang secara langsung maupun tidak, turut mendukung inovasi dari jalur moneter. Pihak-pihak yang sudah berjalan ini dapat berjalan secara sinergis jika dapat dikoordinasikan dengan baik.
  3. Penyederhanaan jalur birokrasi. Untuk hal ini, jalur birokrasi yang disederhanakan tidak hanya bagi sang inovator, tapi semua pihak yang terlibat di dalamnya dari mulai penyokong hingga pemerintah.
  4. Mendidik masyarakat untuk memiliki jiwa enterprenership. Hal yang bisa dilakukan adalah merombak sistem pendidikan yang terbukti menghasilkan calon konsumen atau pemakai yang hanya mengutamakan nilai kognitif. Sistem pendidikan yang baru nanti diharapkan dapat membentuk karakter-karakter yang diharapkan yang tidak menyerah pada tantangan. Oh ya, enterprenership disini bukan berarti semua yang menyelesaikan studi tidak akan menjadi karyawan. Namun, profil pembelajar dan lulusan sistem pendidikan enterpreneship memiliki mental yang tangguh, bukan hanya mental pengguna yang manja.
  5. Meningkatkan jumlah tenaga kerja terdidik. Kalau yang ini sudah jelas: pendidikanlah jawabannya. 🙂
  6. Meningkatkan infrastruktur yang berbasis inovasi. Ayooo, buka mata…. Berapa hutang Indonesia sekarang? Jika untuk membangun dan mempertahankan infrastruktur masih menggunakan metode yang selama ini kita pakai a.k.a. mahal dan tidak long lasting, makin tekor lah negara ini. Jika para inovator diberi kesempatan untuk berinovasi, bukan tidak mungkin sistem pendukung pun berjalan mengikuti.
  7. Menyokong komunitas bisnis yang modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita adalah bagian dari dunia global. Berkontribusi dan membangun jaringan di dalamnhya akan banyak berkontribusi dalam pendewasaan proses inovasi di Indonesia.
  8. Mendukung keterpakaian teknologi informasi. Lagi-lagi, kondisi Indonesia yang berpulau-pulau membuat penggunaan teknologi informasi sangat masuk akal. Dukungan penggunaan ICT oleh pemerintah akan sangat membantu para inovator dan (calon-calon) pihak pendukung untuk berinteraksi dan bertindak lebih intens.

Nah, mari kita kembali menguji hipotesa yang dituliskan diatas:

Dapatkah Indonesia menjadi bangsa yang mandiri melalui inovasi.

Semoga jawabannya kini  berubah menjadi : BISA, dengan sistem yang mendukung inovasi tentunya. ^_____^ v

Salam Kreativitas!

Sumber Bacaan:

INSEAD & WIPO. 2012. The Global Innovation Index 2012: Stronger Innovation Linkages for Global Growth. Fountainebleau: INSEAD

Nusca, Andrew. 26 Januari 2011. Top 10 Countries for Innovation: US LEads; Germany, Japan Follows. http://www.smartplanet.com/blog/smart-takes/top-10-countries-for-innovation-us-leads-germany-japan-follow/13881. Diunduh: 13 November 2012.

Tarde, G. (1903). The laws of imitation (E. Clews Parsons, Trans.). New York: H. Holt & Co.

StrategyOne. (26 Januari 20122). GE Global Innovation BArometer” Identifies New Expectations and Parameters for Innovation in the 21st Century. http://www.businesswire.com/news/home/20110126005607/en/%E2%80%9CGE-Global-Innovation-Barometer%E2%80%9D-Identifies-Expectations-Parameters. Diunduh: 15 November 2012.

Zudin, Indra. (8 Januari 2012). “Apakah Inovasi Itu?”. http://manajemeninovasi.com/apakah-inovasi-itu/.  Diunduh: 13 November 2012.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Iklan