My Reflection

Ketika Kematian Itu Dekat

Sungguh, aku terhenyak mendengarnya. Ibuku yang rela mencucurkan seluruh keringat dan air matanya untuk membuatku sebesar ini kini sendiri.

Aku yang katanya tahu bagaimana membalas budi hanya diam… diam… diam… Ia sendiri harus berjuang dengan sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Sendiri…. dalam diam…

Omong kosong jika kukatakan aku pandai membalas budi! Dimana aku sekarang dan dimana wanita itu? Wanita yang rela melakukan nyaris apapun untuk membuatku seperti sekarang?

Kematian yang mendekat sedekat helaan napas yang memburunya telah membuatnya rela digerogoti keputus asaan. Ketiadaan orang-orang yang dicintanya membuatnya tak sanggup melangkah… tak berani bermimpi…

Ah Mama…

Semoga aku masih diberi waktu untuk bersamamu. ¬†Memelukmu. Mengingatkanmu bahwa ada aku…. yang mencintaimu…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s