Menjelang kenaikan kelas ke TK besar, Jenna sibuk mempersiapkan pemampilan terbaiknya di atas panggung.

image
Princess's Maid

Dari mulai kostum yang mengorbankan tunik umminya untuk diubah jadi gaun putri negeri dongeng, sampai apa yang harus ia ucapkan di atas panggung.

Nah, untuk urusan terakhir, sepertinya ia sudah siap karena peran Jenna saat di panggung adalah menjadi pelayan. Ia hanya harus jalan megal-megol (itu istilah yang ia dapat dari gurunya) lalu memberikan minuman  kepada si putri sambil mempersilahkannya minum. Sebagai mantan drama queen (ehm..uhuk..uhuk), saya menasihatinya untuk total bermain peran apapun yang diamanahkan.

Done? Eit… Ternyata belum! Jenna lantas  bercerita tentang karakter si putri yang pemarah. Kasusnya adalah, sang guru mengatakan kalau jadi putri harus seperti itu. Say what? Ow…Ow…Ow… Sungguh stereotyping yang berbahaya.

Lebay? I don’t think so! Pertama, jika memang diperkenalkan, princesses’ stories akan jadi idola anak-anak perempuan, termasuk Jenna, anak sulungku tercinta. Untuk menghalau infiltrasi  “putri menunggu, menikah, and they lived happily ever after“, saya belikan buanyak sekali buku Islamic Princess dari Mizan yang secara diam-diam mengajarkan asmaul husna.

image
Sebagian Koleksi Islamic Princess Jenna

Jadiii, kembali lagi berbicara tentang stereotyping, anak-anak akan menganggap sah jika putri, penguasa, pemimpin untuk bersikap jahat! Naaah loooo… Bahaya kan?

Kedua, banyak anak usia TK yang mengiyakan saja apa yang dikatakan gurunya. Untunglah disana ada Jenna yang maju mendebat gurunya (hadeuh… Emaknya aje didebat apalagi orang lain).

“Tapi, bu…  Princess yang dibukuku nggak gitu. Princess Qoyyuma malah mandiri.” Begitu yang ia ceritakan di rumah. Selanjutnya, ia tidak tertarik lagi untuk bercerita tentang hal itu dan pindah topik jadi cerita tentang temannya. Hihihi.. Saya jadi ingin tahu apa yang dikatakan bu guru selanjutnya.

Yang pasti ini juga jadi autokritik untuk saya karena Jenna sekolah di unit lain kelompok sekolah tempat saya mengajar juga. Yang pasti, saya tidak menyesal membelikan Jenna berpuluh-puluh buku yang berkualitas… Lumayan… Bisa jadi bahan untuk membela kebenaran. Hehe…

Iklan