utbahWasiat ‘Utbah bin Abi Sufyah ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Berikut ini adalah wasiat beliau yang sangat penting untuk mendidik generasi terbaik Islam masa depan.

Dari Sa’ad dia berkata, “Utbah bin Abi Sufyan berwasiat kepada Abduh Shomad, pendidik anak laki-lakinya: “Hendaklah perkara pertama dalam kamu mendidik atau memperbaiki akhlak anak-anakku adalah kamu memperbaiki dirimu sendiri. Karena mata-mata mereka sangat tertarik dengan kekuranganmu. Kebaikan di sisi mereka adalah apa yang kamu lakukan. Dan kejelekan adalah apa yang engkau tinggalkan.

Beliau berkata, “Ajarkan kepada anak-anak Al Qur’an dan jangan kamu membuat bosan, maka mereka meninggalkanmu. Ajarkan mereka hadits dan syair-syair yang membawa hikmah. Jangan kamu keluar bab ilmu sampai mereka benar-benar kokoh, karena kata-kata yang berdesak-desakkan untuk disampaikan bisa membuat bingung pemahaman.

Utbah bin Abi Sufyan berkata, “Takut-takutilah mereka denganku. Didiklah adab mereka kepada selainku. Jadilah kamu untuk mereka seperti dokter yang penuh kasih, yang tidak tergesa-gesa memberikan obat sampai mereka paham penyakitnya. Laranglah mereka dari membahas para wanita. Sibukkanlah mereka dengan kisah-kisah ahli hikmah. Ajarkan mereka akhlak orang-orang yang penuh adab. Mintalah kamu bekal kepadaku dalam mendidik adab kepada mereka, niscaya aku akan menambahkan bekal. Jangan kamu bersantai-santai karena udzur yang datang dariku. Karena sungguh aku telah memberikan tanggung jawab ini kepadamu. (Ibnu Abi Dunya – Kitab Al Qiyal)

Dari wasiat ‘Utbah bin Abi di atas, kita para pendidik adab bisa mengambil hikmah. Inilah beberapa pelajaran yang bisa dipetik untuk diaplikasikan dalam pendidikan anak-anak:

  1. Perbaiki diri sebelum mendidik adab
  2. Jadilah pendidik yang menyenangkan
  3. Ajarkan Qur’an dan hadits
  4. Ajarkan syai’r-sya’ir yang penuh hikmah, namun tidak menjauhkan dari ibadah
  5. Gunakan kalimat yang dipahami anak
  6. Selesaikan pelajaran yang telah dimulai hingga benar-benar paham
  7. Ajari untuk menyelesaikan masalahnya sendiri
  8. Latih anak memilih dan memperhatikan orang lain yang baik adabnya
  9. Kuatkan anak untuk menjauhi ikhtilat, terutama setelah baligh.
  10. Bersemangatlah dan hindari bersantai-santai dalam mendidik.

Masalah ikhtilat ini disoroti pula oleh Umair bin Habib akan bahaya ikhtilat ini  sebagaimana yang disampaikan dari Ibnu Syaibah Abi Ja’far Alkhutami:

Beliau berkata: Umair bin Habib mempunyai budak yang kemudian dimerdekakannya. Dia mengajari anak Umair Al Qurán dan menulis. (Waktu itu) dia menyebut-nyebut wanita dan dunia di hadapan mereka. Maka Umair pun menegur,

“Ya Ziyad, sesungguhnya kamu telah meletakkan kubah syaithan di atas kepala anak-anakku. Maka (sekarang) hilangkanlah.”

Gentingnya masalah ikhtilat yang kini dianggap biasa ini ternyata harus kita telan akibatnya. Padahal para ulama sudah memberikan solusi jika memang kondisi terpaksa menjadikan laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan kelas. Tempatkanlah para anak lelaki itu di depan anak perempuan agar lebih terjaga pandangannya. Bukan, solusi ini bukan untuk ‘merendahkan’ kecerdasan wanita. Justru, dengan tidak dipajangnya wanita di depan laki-laki, maka kehormatannya lebih terjaga. Justru yang terlihat dan ternilai adalh kecerdasannya, bukan fisiknya.

Wallahu ‘alam bi shawab

 

Iklan