Teacher's Professional Development

Connectivism – Ide Pendidikan Jaman Sekarang!

Salah satu manfaat berjejaring sosial dan bermilis ria bagi guru adalah mengetahui banyak hal dari apa yang dibagi oleh anggota jejaring tersebut. Salah satunya adalah mengenai teori pembelajaran bernama CONNECTIVISM

Connectivism

Sebenarnya, ketika saya bertegur sapa dengan Mang Google, teori ini telah  lama ada (saya lihat tahunnya dari 2005). Hanya saja saya memang kurang apdet kalau kata murid-murid tercinta saya.. hiks… ~____~” 

Ilmu mengenai CONNECTIVISM  ini dipopulerkan di milis IGI  oleh Ines Puspita, seorang pendidik yang bertugas di sebuah institusi bernama German International School. Nah, berikut posting beliau yang sangat mengilhami saya untuk terus belajar banyak hal. Selamat membaca! ^___^

CONNECTIVISM – Dipopulerkan di Milis IGI oleh Ines Puspita 

Pertama, Information and Communication Technology (ICT) adalah teknologi untuk mengakuisisi, memproses, menyimpan, menyebarluaskan dan mengkomunikasikan informasi baik berupa tulisan, gambar, numeric signal, audio, video, dll. Meskipun istilahnya dicetuskan di Inggris tahun 1997an, tetapi teknologi ini sudah berkembang sejak manusia memasuki masa sejarah (setelah pra sejarah). Candi borobudur merupakan alat ICT yang dipakai beberapa orang di jaman dinasti Sailendra untuk mengkomunikasikan sebuah cerita yang bermakna kepada khalayak. Daun lontar yang dipakai Mpu Tantular juga alat ICT.  Pemikiran yang dituangkan Mpu Tantular dalam daun lontar ini selamat dan sampai kepada kita sehingga kita bisa menjadikannya sebagai landasan hidup berbineka tunggal ika. Jadi, alat ICT itu luas, sejarahnya panjang, dan perkembangannya tidak bisa dielakkan.  

Kedua, ketika kita melihat ICT, kita sering lupa melihat bahwa ICT itu hanya alat yang baik buruknya tergantung mereka yang menggunakannya. ICT ini hanya akan bermanfaat kalau pada dasarnya manusia di balik ICTnya tahu bagaimana berkomunikasi dan bisa mengolah informasi yang didapat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi, apabila ada guru yang tanpa ICT yang canggih saja, yang hanya dengan papan tulis dan kapur saja TIDAK BISA berkomunikasi dg baik (murid bosan, ngantuk, tidak mengerti, tidak ingat apapun yg guru katakan), diberi ipad juga tidak akan serta-merta memperbaiki komunikasinya, apalagi pembelajaran yang disampaikan. Kemampuan komunikasi yang rendah ini akan bertambah buruk ketika guru juga tidak mengerti pedagogi dalam pembelajaran. Jadi tidak mengherankan kalau sekolah berinvestasi besar di ICT tetapi tidak semua sekolah bsia meningkat kualitas anak didiknya. Kesimpulan yang paling mudah kita ambil baisanya : ICT tidak berguna dan oleh karenanya tidak perlu dipelajari.  

Ketiga, kenapa ICT untuk pendidikan ini didengungkan sedemikian dasyatnya 10 tahun terakhir ini? Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa perusahaan yang berkepentingan seperti yang disampaikan Pak Pur. Tetapi dengan mengesampingkan itu, kemajuan ICT ini telah melahirkan sebuah LEARNING THEORY (teori pembelajaran) baru yaitu CONNECTIVISM, yang memantapkan learning theory yang banyak berkembang sebelumnya yaitu constructivism. Dalam teori belajar connectivism, premisnya adalah pengetahuan ini ada di dunia bukan hanya ada dalam satu individu saja. Dengan menghubungkan satu orang dengan orang lainnya di dunia yang memiliki pengetahuan yang beragam maka kita bisa belajar dengan sendirinya. Sebelum ICT berkembang, connectivism ini sudah terjadi dan terbukti seperti Bu Nina yang belajar banyak hanya dengan mengunjungi tempat2 di luar negeri dan bertemu beragam orang. Dulu sebelum ICT berkembang, connectivism ini MAHAL karena untuk membuka akses koneksi/kontak antara satu orang dengan orang lain di dunia begitu sulit, dan mahal. Setelah ICT berkembang terutama dalam 1 dekade terakhir, ini bisa dilakukan dengan mudah dan murah sehingga orang kampung miskin dengan pendidikan kelas kampung seperti saya bisa menjadi guru Indonesia pertama yang diijinkan mengajar Science di Sekolah International Jerman padahal saya bukan lulusan Science. (Maaf, saya bukan bermaksud sombong. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi) Semua pengetahuan tentang Science dan bagaimana mengajarkannya saya dapatkan semua dari orang-orang lain di berbagai belahan dunia yang dengan suka rela membagikan ilmunya dalam sebuah jaringan world wide web. Di sinilah kenapa perkembangan ICT menjadi sangat penting dan kemudian menggema.  

Keempat, perkembangan ICT yang sedemikian pesat benar2 menggeser banyak sekali peran guru. Bukan berarti guru tidak diperlukan tetapi dengan ICT seseorang bisa memilih gurunya sendiri dari berbagai belahan dunia dan meninggalkan guru yang dirasa tidak memberikan manfaat baginya. Makna guru juga berkembang tidak hanya terbatas hanya untuk mendefinisi mereka yang bekerja sebagai guru di sekolah. Siapa saja yang bisa membagikan ilmunya kepada orang lain dan bermanfaat adalah guru. Misalnya, waktu saya belajar membudidayakan jamur, saya belajar dari petani jamur di Yogyakarta lewat komunikasi di Facebook dan dari Website beliau. Padahal ketemu beliau saja saya tidak pernah. Jadi bisa dibayangkan betapa guru-guru seperti kita bisa menjadi terancam dan kalang kabut menghadapi “guru-guru” lain yang hebat-hebat di bidangnya di seluruh dunia. Senjata yang bisa kita pakai untuk mempertahankan “status-quo” kita mungkin adalah kebijakan “HARUS” yang disertai ancaman “Kamu harus belajar di kelas saya kalau tidak …” , “Kamu harus belajar dengan saya kala utidak …”, ” Kalau sekolah di sini maka gurunya hanya ini kalau tidak mau …”   

Kita memiliki pilihan untuk menyikapi kehadiran kemajuan ICT ini. Saya sendiri memilih beradaptasi dengan kemajuan di bidang ICT dan memanfaatkannya untuk murid-murid saya dan diri saya. Meskipun saya tidak menguasai seluruh aspek ICT, saya pilih alat/perangkat yang bisa saya pakai. Dengan kemajuan ICT, peran guru seharusnya bergeser dari Mr Know It All & Do It As I Say menjadi fasilitator, motivator, inspirator, ketiga peran yang tidak akan punah dengan adanya kemajuan ICT tetapi justru bisa berkembang seiring dengan perkembangan ICT.    Akhir kata, seperti kata B.W. Seibert “People will never be replaced by technology – but people who use technology will replace those who do not.”  Semoga lebih banyak lagi anak kampung yang tidak punya banyak uang, yang minim fasilitas, (seperti saya) yang bisa keluar dari belenggu kebodohan dan kemiskinan lewat pembelajaran mandiri melalui teknologi ICT. Ide Self-Teaching with Technology Sugata Mitra (India) untuk anak2 yang tidak terjangkau oleh pendidikan yang berkualitas, bukan ide yang kosong. Yang Sugata Mitra atasi adalah masalah terbesar pendidikan yaitu “Guru-guru dan sekolah-sekolah terbaik tidak ada di tempat2 di mana mereka paling dibutuhkan.” http://www.youtube.com/watch?v=dk60sYrU2RU

Ines Puspita
Deutsche Internationale Schule
German International School
http://inesogura.weebly.com
http://virtual-world-education-asia.weebly.com

Phew.. wasn’t that inspiring you to know more? It was for me! Mau ngubek-ngubek aaah… cari tahu lebih banyak tentang si konektivisme ini. Oya… saya menemukan gambar ini ketika mencari ilham tentang teori ini yang mungkin memberi gambaran sekilas mengenai apa yang disampaikan di atas – terutama bagi anda yang sangat visual – seperti saya. Hehe… ^___^

 
Teacher's Professional Development

STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #1

JURUS PRAKTIS MENDAPATKAN PARTISIPASI SISWA

Suatu kelas tidak akan dikatakan aktif tanpa partisipasi siswa. Karena itu para ahli yang sudah berjibaku dengan siswa mengkreasikan beberapa metode yang insyaAllah bisa membuat siswa tertarik untuk ikut serta. Namun tentu saja, gaya-gaya ini tidak bisa terus dipakai di setiap kelas. Karena yang dihadapi guru adalah manusia, sangat mungkin mengkombinasikan atau memodifikasi metode di bawah ini untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

1. Diskusi terbuka

Tanyakan suatu pertanyaan pembuka di depan kelas. Jika anda kuatir siswa terlalu malu untuk menjawab, tanyakan apakah ada tiga atau atau empat orang siswa yang bisa menjawab. Atau, tanyakan saja siapa yang punya jawaban untuk pertanyaan. Atau, anda bisa memberikan waktu sebanyak 5-30 detik untuk siswa menuliskan jawaban mereka. Waktu pause tergantung kesulitan pertanyaan anda… Di kelas, saya tidak pernah lebih dari 30 detik :D. (Hmm.. Mungkin itu sebabnya murid-murid menjuluki saya Ratu Tega huehehehehe)

Tapi ingat-ingat yaaa… tingkat kesulitan siswa berbeda-beda, seperti tiga dari 6 level berpikirnya Bloom (bener gak ya?) yang saya ingat, yaitu mengingat, menerapkan, dan mengevaluasi. Jadi, bentuk pertanyaan sebaiknya didesain  minimal untuk tiga level itu. Misalkan:

  • Untuk level mengingat (basic) pertanyaannya menjadi “Apa bedanya…. dan ….” atau “Hayoo, sebutkan 3 bla.. bla..bla…”. jadi benar-benar  recalling saja sifat pertanyaannya.
  • Untuk level menerapkan (intermediate), pertanyaanya bisa seperti “Jelaskan apa hubungan antara… dan…. menurutmu?” atau “Bagaimana bisa … dikatakan sesuai, ya?” atau “Siapa yang setuju……? Kenapa?” dll, dst, dsb, dllaj. 😀 Intinya pertanyaan-pertanyaan didesain untuk menantang siswa level ini untuk (a) melogiskan  apa yang mereka pelajari,  (b) mengaplikasikan formula ke pertanyaan atau problem yang baru, dan  (c) menganalisa hubungan antara dua konsep atau lebih dan menggeneralisasikannya. 
  • Untuk level mengevaluasi, pertanyaannya bisa menjadi “Menurut si ini, bla.. bla.. bla… Jika kamu adalah si inu, apa yang kamu lakukan?” atau “Menurutmu, memangnya bisa ya jika bla.. bla.. bla…” Intinya, pertanyaan untuk siswa yang sudah mencapai level ini menantang mereka untuk mencari solusi atau alternatif dan memberikan justifikasi atas pilihan yang diambil.

Nah… saya yakin anda pasti sudah mengenali siswa-siswa anda tercinta. Dengan variasi pertanyaan sesuai level, semoga tidak ada siswa yang merasa tertinggal. 

2. Diskusi kelompok: Bagi siswa menjadi beberapa kelompok beranggotakan tiga orang atau lebih (jangan terlalu banyak, kalau menurut saya, agar efektif). Tugaskan kelompok untuk berbagi atau mendapatkan informasi. Metode ini berfungsi jika anda memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tanya jawab atas masalah yang muncul. Oya, suatu hari ketika saya sedang puter-puter cari ide di dunia maya untuk kegiatan di kelas, saya temukan laman dari University of North Carolina at Chapel Hill dan laman dari University of Minnesota ini yang isinya beberapa metode yang bisa diterapkan dalam kelompok kecil. Tujuannya  adalah agar siswa mampu menyuarakan pendapatnya  Begini kurang lebih isinya  setelah diterjemahkan:

  • Think/Write-Pair-Share (Lyman, 1992). Disini, guru memberikan isu atau masalah kepada siswa yang diminta untuk memikirkan atau menuliskannya setelah diberikan 30-60 menit. Lalu, siswa diminta bekerja berpasangan untuk menjelaskan jawaban mereka kepada rekannya selama 3-5 menit. Lalu, guru berdiskusi hasilnya satu kelas. 
  • Buzz Groups. Anak-anak dikelompokkan menjadi 5-8 orang untuk mendiskusikan topik yang diberikan guru. Oya, jangan lupa pastikan bahwa guru menginstruksikan siswa untuk mengkontribusikan satu ide kepada masing-masing kelompok. Setelah 10 menit, minta salah satu kelompok untuk membacakan hasilnya dan minta kelompok yang sama hasilnya untuk mengangkat tangan. Bagi kelompok yang memiliki jawaban/ tanggapan yang berbeda, minta mereka untuk berbagi.
  • Three-steps-interview. Kegiatan ini dilakukan oleh berpasangan. Masing-masing anggota pasangan bergantian untuk mewawancarai pasangan yang lain. Setelah itu, pasangan menyimpulkan apa yang dikatakan pasangannya. Kegiatan ini diakhiri oleh masing-masing pasangan menjelaskan kesimpulannya kepada pasangan yang lain.
  • Note Check. Kalau anda mewajibkan siswa untuk menulis (seperti saya.. hehe.. berhubung kami tidak menggunakan buku paket), sempatkan untuk meminta anak-anak membandingkan catatan mereka dengan rekannya. Minta siswa untuk mencari misconception dan atau apakah mereka telah menuliskan poin-poin terpenting yang harus dituliskan. Oya, ingatkan dan monitor siswa untuk tidak menukar catatan, ya! Membandingkan bukan memberikan catatan lalu dengan sekenanya dikopi loh… Jika strategi ini rutin dilakukan, insyaAllah kemampuan mencatat mereka akan berarsung meningkat.
  • STUMP! Hehe.. ini nama generik yang saya ambil sekenanya. Seru banget deh. Saya paling suka kalau sedang pakai metode ini. Biasanya, saya akan stop ditengah-tengah diskusi atau penjelasan lalu berkata “Stomp!”. Karena terbiasa, anak-anak akan segera berpaling ke teman mereka lalu dulu-duluan bertanya tentang apa yang saya sudah ajarkan di sesi itu. Kalau mereka bisa, saya menuliskan nama mereka di papan tulis. 

3. Kartu bingung: Sebarkan kartu berukuran A6 atau A7 dan minta siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan yang anda berikan tanpa menuliskan identitas di kertas. Anda bisa menggunakan metode ini untuk menghemat waktu atau ketika anda merasa siswa tidak cukup percaya diri untuk menyertakan identitas mereka di kartu jawaban.

4.  PollingBuatlah survei kecil-kecilan yang berhubungan dengan materi anda saat itu. Jika waktu anda sedikit, anda bisa meminta siswa untuk mengangkat tangan. Jika waktunya lumayan memadai, anda bisa meminta siswa untuk menuliskan pilihannya secepat mungkin ya.. 

5. WhipsAnda bisa menanyakan kelompok pertanyaan singkat yang hanya membutuhkan satu kata atau frase sebagai jawaban. Contoh pertanyaan bisa seperti “Satu hal yang bisa dilakukan dengan bla-bla-bla yaitu…”. Anda bisa menantang siswa untuk membuat pertanyaan untuk grup lain loh! Usually the students would love it! ^___^ Oya, jangan lupa dimonitor agar siswa tidak menanyakan hal yang sama. 

6. Diskusi panelUndanglah kelompok siswa ke depan sebagai presenter untuk menyampaikan pendapat mereka mengenai suatu hal. Para peserta panel dapat memberikan pendapat mereka terhadap apa yang disampaikan. Rotasikan kesempatan untuk menjadi presenter agar setiap siswa memilik i kesempatan untuk memimpin. Jika waktu mencukupi, diskusi bisa dibuat lebih dalam untuk mendapatkan lebih dari suatu topik. 

7FishbowlSistem ini yang hampir sama dengan diskusi panel. Caranya, beberapa siswa untuk duduk di tengah lingkaran siswa yang lain. Yang sedikit mnjelaskan, sedangkan yang lebih banyak tentunya menjadi pendengar (aktif loh.. ada sesi tanya jawab nantinya). Metode ini saya rasakan manfaatnya kalau harus fokus ke diskusi kelas.. meskipun kelemahannya adalah makan waktu. 

8. GAMES! YAAY! Sebenernya hanya mengadopsi sistem cerdas cermat aja sih… atau acara Ranking Satu-nya salah satu stasiun TV dan game show lainnya. Klasik namun seruw! 

9. PEMBICARA BERIKUTNYATrik ini berguna kalau anda ingin siswa berpartisipasi. Daripada anda yang menunjuk siswa untuk memberikan pendapat, misalnya, anda bisa meminta siswa melakukannya setelah giliran mereka berbicara selesai. 

10. Pilih-Pilih PG. Hehehe.. kalau anda mencoba mencari tahu nama ini lewat mang Google, mungkin akan berakhir di blog saya. Sebenarnya metode ini sama dengan metode STUMP, tapi menggunakan PG alias Pilihan Ganda. Caranya sama, stop ceramah anda dan berikan satu soal PG. Minta anak tunjuk tangan untuk setiap jawaban, misalnya “Siapa yang memilih A, tunjuk tangan.” dst. Jika waktu memungkinkan, silahkan tanya alasannya. Ini juga untuk mengecek apakah siswa tidur ketika anda menerangkan di depan. 😛

11. Debat! My students love to debate a lot! Hehehe… biasanya saya menyediakan dua hal yang bertentang di kelas untuk satu topik. Lalu, saya bagi kelas menjadi dua bagian besar. Yang HARUS setuju dan yang TIDAK setuju. Ini sebenarnya bisa untuk materi apa saja, dari mulai ilmu sosial sampai matematika. Teman saya, guru matematika, membagi kelas menjadi dua bagian. Lalu, ia membuat dua statement yang bertentangan yang harus dipertahankan habis-habisan (sampai waktu habis maksudnya) oleh kedua kelompok. Satu pernyataan itu adalah: “Tower air itu (sambil menunjuk tower air) bisa didapat tingginya tanpa diukur dari atas ke bawah.” Seru…! Anak-anak yang sudah dibekali buku paket bisa menggunakan bukunya tanpa disuruh loh (mereka ingin jadi kelompok yang menang soalnya).

 Phew… Baiklah.. untuk sementara demikian strategi yang pernah saya pakai di kelas (dan yang saya intip di kelas teman-teman saya). Jika anda punya strategi yang lain, jangan sungkan berbagi yaaa! 

Bersambung ke STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #2 ^______^

Teacher's Professional Development

STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #INTRO

Mulai detik ini saya akan mulai berbagi apa yang saya tahu, pernah saya baca, dengar, alami, dan praktikan di ruang-ruang kelas mengenai manajemen kelas aktif.

Berhubung strategi-strategi praktis ini berasal dari berbagai sumber yang pernah saya pelajari dari mulai saya nekad mengajar di depan murid, maka saya persilahkan anda atau siapapun untuk membaginya seluar-luasnya. Semoga semakin banyak guru-guru yang berdaya yang sanggup memberdayakan potensi-potensi (tersembunyi) generasi-generasi masa depan.

Yang pasti, strategi-strategi ini pernah saya praktikan di ruang kelas. Dan, hasilnya… Subhanallah… baik siswa maupun saya ketagihan dengan bagaimana kami berinteraksi di dalam kelas. Namun mohon maaf,  berhubung saya tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai peristilahan, banyak strategi yang tidak dinamai dengan nama generik asalnya. Mungkin ada beberapa yang saya tahu, namun selebihnya, kebanyakan saya menamai sekenanya.

Karena saya (pribadi)  percaya, siswa tidak butuh nama-nama metode pembelajaran yang njelimet… they just need to have something when they walk out of my class.

Meniru iklan susu yang katanya dapat memberikan efek sixpacks bagi pengonsumsinya, maka saya saya juga akan ikut berkata:

“Active Learning? Trust me.. It works!” Hahahaha 😀

Selamat mencoba! ^___^ 

Teacher's Professional Development

PROKLAMASI MUSLIMAH SUKSES

Sesi keputrian yang sempat beku tanpa supervisi beberapa bulan karena ketidak pedulian guru (baca: termasuk saya), telah diluncurkan ulang dengan nama baru: MUSLIMAHS’ SESSION. Ini sebenarnya ide saya dan Ulil Albab (siswa-siswi Students Representative Council yang membawahi bidang agama Islam) agar segala kajian dan kegiatan bagi  muslimah remaja SMA Sugar Group lebih ‘mengena’.

Konsep Muslimahs’ Session saya rubah sedikit. dari sebelumnya. Masih berupa diskusi namun diberi selingan informasi, motivasi, dan kegiatan yang bertumpu pada siswa. Jika sebelumnya siswi-siswi dipisahkan menjadi tiga kelas, mulai tahun ini kami satukan menjadi kelompok besar. Jadi, bisa dibayangkan… bagaimana hebohnya memfasilitasi 199 siswi putri dalam satu ruangan. Bagi guru muslimah SMA Sugar Group… insya Allah.. Bisa! 😀

Sesi pertama berjudul “PROKLAMASI MUSLIMAH SUKSES”. Sebuah judul yang lumayan provokatif yang  saya pilihkan sebagai launching program yang berdurasi 30-45 menit ini.

Saya mulai dengan mendiskusikan Aturan Main di sesi ini. Dilanjutkan dengan diskusi mengenai kesuksesan, dari mulai definisi, cara meraihnya, dan bagaimana panduannya dalam Qur’an dan hadits (yang sebelumnya sudah saya mintakan kepada guru agama… maklum.. saya kan belum ngerti :P).

Alhamdulillah, diskusi berjalan lancar. Hampir semua level kelas berpartisipasi… Tidak seperti stereotip sebelumnya dimana diskusi hanya didominasi kelas 12.

Lalu, saya perkenalkan dengan Teks Proklamasi Muslimah Sukses yang saya ambil dari buku “Hidup untuk Hidup” karangan Masrukhul Amri:

PROKLAMASI
Saya… Hamba Allah…
Dengan ini menyatakan, insyaAllah hidup hanya sekali.
Hal-hal mengenai 7 B:
Beribadah dengan benar; Berakhlak mulia; Belajar tiada henti; Bekerja keras, cerdas, dan ikhlas; Bersahaja dalam hidup; Bantu sesama; dan Bersihkan hati selalu…
Yang akan diselenggarakan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Lampung, 2 Maret 2012
Atas nama diri sendiri,
HAMBA ALLAH
Guru Sukses

Ruangan kafetaria yang cukup panas karena AC-nya dimatikan pun bergelora dengan riuhnya pembacaan teks yang dilakukan bersama ke-199 anak-anak.

Lalu, saya minta para muslimah remaja yang bersemangat itu untuk membuat secara berpasangan/ berkelompok sebanyak 3 orang,  teks mereka masing-masing. Hasilnya… sungguh memotivasi! Sayangnya karena waktunya yang pendek (bersamaan dengan shalat Jum’at), hanya beberapa pembacaan saja yang bisa dilakukan hari itu. Sisanya, dikumpulkan untuk dipajang di musholla.

Berikut beberapa teks proklamasi  yang akan dipajang di mading musholla:

 PROKLAMASI

Kami, HambaMu bertekad, bahwa kami ingin menjadi orang SUKSES. Untuk mencapai hal tersebut, maka, kami melaksanakan 6 hal, yaitu… SUKSES:
Siap hadapi tantangan
Usaha tiada henti
Kuatkan hati dan pikiran
Selalu menjalankan perintah-Nya
Etika yang beradab
Selalu Berpikir kreatif
 
Hal-hal diatas akan kami lakukan sebaik-baiknya dengan mengharap ridho Allah semata.
 
Kami, Hamba Allah
Winda, Laras, Wulam

Dan yang ini…

 PROKLAMASI
Kami, Hamba Allah beinisial 3N, menyatakan bahwa kami akan selalu mengingat BISA, yaitu:
Bismillah sebelum memulai pekerjaan;
InsyaAllah dalam berjanji;
Subhanallaah dalam menghadapi cobaan
Alhamdulillaah jika berhasil
Kesemuanya akan mulai kami kerjakan
dalam tempo sesingkat-singkatnya 
 
Lampung, 3 Maret 2012
Nana, Nur Eliyani, Nur Ikhsara

 Dan.. yang ini..

PROVOKASI
Kami, generasi bangsa Indonseia yan Insya Allah berbakti kepada bangsa dan agama.
Hal-hal yang mengenai kesuksesan diri sendiri, diselenggarakan dengan sebaik-baiknya. Untuk menuju sukses, kita harus NAKAL
Niatkan untuk sukses mulai dari sekarang
Atur waktu seefektif mungkin
Kurangi aktivitas yang kurang berguna
Abaikan bisikan-bisikan menyesatkan
Lihat masa depan dengan cermat dan bijaksana
 
Atas nama Hamba Allah
Lampung, 2 Maret 2012
– DUT –
 

Haduuh.. kalau boleh jujur.. ternyata ke-100 teks yang sudah dibuat memang  layak pajang karena sangat memotivasi. Mungkin akan saya pikirkan bagaimana cara memajang kesemua karya muslimah remaja itu bersamaan dengan indah…

I’m very proud of you, girls! Semangat!!! ^___^

My Reflection

HIJABILAH

Saat ini ingin aku menggapaimu

Memeluk dan melindungimu

Memastikan kau aman

Menjaga lajurmu agar lurus

Mengingatkanmu akan masa depan selepas fana

Sungguh nak…

Hati ibu kelu menatap masa

Ketakutan ini mengejawantah akan hijabmu

Akankah kau hijabi hatimu?

Akankau kau hijabi dirimu demi selamatmu?

Tahukah kau, nak….

Setiap hijab yang terbuka

adalah ujian bagi bunda seorang khalifah

Ya Rabb…

Tak sanggup khalifahmu ini menjangkau hatinya

Menata masa yang Kau siapkan untuknya

Kumohon ya Rabb hijabilah malaikat hamba

Jangan biarkan fana merenggut surga yang Kau janjikan

Kumohon ya Rabb…

Hijabilah…

My Reflection

That’s Why We Love PORORO!

Minggu pagi, Jenna – anak sulung saya yang baru TK kecil,  meminta jatahnya menonton TV setelah semua ritual paginya selesai: mandi, makan, beres2 mainan, dan menggoda Isma – adiknya yang masih bayi.

Klak-klik saluran TV, ada 4 jenis kartun yang ditayangkan 4 stasiun televisi yang berbeda: Spongebob, Sinchan, Disney (Mickey Mouse dkk) tapi yang versi dulu, dan Pororo.

Terus terang untuk urusan TV saya lumaya tegas (atau berlebihan?). Dalam satu hari, Jenna dibatasi menonton 1 jam (maksimal 2 jam jika yang ditonton adalah video pembelajaran yang tersedia di rumah) dan itupun harus didampingi. Kalau ‘terpaksa’ memilih saluran TV, saya lengkapi dengan mainan (balok, gunting-lem, kertas, any edutoys)/ buku untuk pengalih perhatian ketika iklan.

Oke, kembali dengan pilihan yang tersedia tadi. Setelah beberapa pendampingan (ada juga film yang saya putuskan tidak layak tayang di rumah saya tanpa Jenna harus menonton dulu), akhirnya terdapat 3 pilihan film kartun tidak saya rekomendasikan untuk ditonton Jenna:

  1. Spongebob. Komentar Jenna: “Jangan, Mi… Mister Crabnya pelit dan Squidword kata-katanya jelek.” Hehehe… Syukurlah. Saya sempat, dengan naifnya, memperbolehkan Jenna menonton kartun ini  beberapa kali. Untung sempat saya dampingi. Sebenarnya itu adalah kartun dewasa dengan setting orang dewasa yang bekerja, semacam The Simpson. Lebih kaget lagi di episode terakhir yang sempat saya tonton, Squidword sempat berkata-kata kurang baik.. bukan kasar.. hanya saja membuat saya kuatir akan ditiru oleh Jenna. Selain itu, saya bersyukur Jenna berhenti menonton ini, terutama setelah terbit penelitian tentang anak-anak yang berkurang kemampuan mengingatnya setelah menonton film kartun berframe cepat semacam Spongebob.
  2. Sinchan. Haduh.. maaf.. kalo yang ini saya sama sekali tidak memberi akses kepada Jenna. Saya katakan kepadanya kalau ini sebenarnya film kartun untuk orang dewasa. Namun berkat Sinchan juga Jenna akhirnya tahu kalau tidak semua kartun  bisa dikonsumsi anak-anak.
  3. Disney versi lama.  Untuk yang ini, kami sempat dua-tiga kali menonton sampai ada adegan yang kurang pantas untuk anak-anak yaitu adegan pacaran dan berkelahi. Pada saat itu saya alihkan saja perhatian Jenna dengan mainan jika tidak ada siara pengganti atau saya tawarkan menonton koleksi film Pocoyo/ Syamil & Nadia/ Tupi&Pingping.
Dapat ditebak kan? Pororo-lah yang bisa mengambil hati kami (saya terutama) hehe.
We Love Pororo: The Little Penguin

Bagaimana tidak, dari pilihan kisahnya yang mendidik, kata-katanya yang sesuai untuk anak-anak, hingga lagu-lagunya yang tidak asal buat (saya saja ibunya bisa hapal lho.. hehehe). Potongan lirik lagu penutupnya saja  – “Kami berteman baik” mampu membuat saya hapal (melodinya-walaupun liriknya salah ;P). Lagu ini juga pernah dibuat senjata oleh anak saya ketika ia harus mendamaikan dua temannya yang bertengkar.

Animasi Korea yang satu ini memang luar biasa. Mendunia karena kemampuannya menggaet perhatian anak-anak dan orang tuanya sekalian. Nah… kalau demam K-Pop yang ini saya sangat setuju! ^____^

My Reflection

The Hat Attack!

BEWARE OF THE INVASION!

Say What???

No worries, this kind of invasion only happens once a year and the impact is only for the good laugh for creativity made by the community in the school units.

So, what is the hat attack? Um… originally named Creative Hat in on of the  thematic Fridays in the Sugar Group Schools – a group of schools unit owned by the Sugar Group Companies. This post will review on the uniqueness of hat creations, ideas, even up to the interpretation of ‘creative hat’ itself. (Eh?)

Most of the students come up with creative ideas. Some student come up with an idea of creating hats using newspaper…

Marvelous Paper Hats
The JakPost Ambassador
More Newspaphats

Not enough? Maybe adding some balloons will make it have a sense of.. um.. art? 😛

Ready to fly? 😛

Construction and thick papers will work the beauty. Check these ones:

Need a Rainbow, Ma'am?
The Angry Bird Attack
Hat Paper Beauty
The Circus Hat

Or… if you have more time… maybe you can try the idea of this great spider straw hat (I gave two thumbs up for this one :D)

The Spidey Straw Hat

Some others have great ideas with flannel fabric…

Flannel hat that beautifies the owners ;P

See how it beautifies them? :P.

Ow… and check these cool hat ideas:

A hat that talks
Other Hat Ideas
It's Cesarean Time!
'Let's Go to Bank' Hat
Lady Marmalade

And there are also some ‘interpretations’ of what hats should be… like these ones 😀

A reinterpretation of a hat (or a mask) ;P
A Hatwig!

Phew… actually, I haven’t shown you all but I guess the tour has shown you the bottom line that creative ideas really do need creative (and crazy) people to apply it. I really enjoy the sight in every corner of the school though!

Hope that I will see crazier ideas in the next thematic friday!

 

See You!

 

 

 

 

 

 

 

My Reflection

Ketika Kematian Itu Dekat

Sungguh, aku terhenyak mendengarnya. Ibuku yang rela mencucurkan seluruh keringat dan air matanya untuk membuatku sebesar ini kini sendiri.

Aku yang katanya tahu bagaimana membalas budi hanya diam… diam… diam… Ia sendiri harus berjuang dengan sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Sendiri…. dalam diam…

Omong kosong jika kukatakan aku pandai membalas budi! Dimana aku sekarang dan dimana wanita itu? Wanita yang rela melakukan nyaris apapun untuk membuatku seperti sekarang?

Kematian yang mendekat sedekat helaan napas yang memburunya telah membuatnya rela digerogoti keputus asaan. Ketiadaan orang-orang yang dicintanya membuatnya tak sanggup melangkah… tak berani bermimpi…

Ah Mama…

Semoga aku masih diberi waktu untuk bersamamu.  Memelukmu. Mengingatkanmu bahwa ada aku…. yang mencintaimu…

Teacher's Professional Development

(RE)GROUPING YANG SERU

–by Mierza Miranti

“New semester means new groups in Englicious Class!”

“Yaaay!” murid-murid kelas 12 itu pun berseru gaduh. Haduuh… ko kelasku tidak seperti kelas 12 ya…

“Yaiyalah… liat aja gurunya!” Itu komentar rekan kerja saya sesama guru. Wew… ~____~”

Lalu, saya tawarkan murid-murid tercinta saya itu untuk membuat group sendiri dengan batasan bahwa dalam satu kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Ajaibnya, mereka menolak lho! Berbeda dengan tahun lalu yang langsung iya-iya aja karena mereka memang ingin bergabung dengan kelompok bermainnya (geng maksudnya).

Tahun ini anak-anak menunjukkan wajah bingung ketika saya meminta mereka memilih sendiri anggota kelompoknya. (Haduuh.. bu Mierza… ingat2! setiap anak itu unik.. begitu juga tiap generasi!) Anggap saja tahun ini setiap kelas itu kompak, sehingga bingung mau dengan siapa….(terus berpikir positif J)

Baiklah.. putar otak…. akhirnya si jurus grouping pun dikeluarkan!

“Alright students…. Since you ask for it, I’m going to regroup you in a natural way.” (Halah! Natural way? Bingung habisnya mau ngomong apa.. hehe…)

“Please stand up and get ready to listen.”

Stop!

Ceritanya akan saya hentikan disini ya karena lamannya mungkin tidak akan cukup, berhubung saya mengajar 5 kelas yang berbeda.  Yang pasti pengelompokkan tadi berjalan seru, menyenangkan, serta menegangkan dan mungkin bisa menjadi ide ice breaking juga.

Nah… Berikut 2 tipe grouping seru yang pernah saya lakukan di kelas.

A.  Object Grouping

Object Grouping

(RE)Grouping yang satu ini hanya mengandalkan sisi auditory  dan kinestetik siswa (dan mungkin gurunya juga, hehe). Dari object grouping, kita bisa mengelompokkan siswa menjadi pasangan atau kelompok bertiga, berempat, berlima, dst… dst.. tergantung kebutuhan.

Yang harus dilakukan pertama yaitu mengkomunikasikan apa yang harus dilakukan dan pastikan siswa mengerti. Jika dibutuhkan (dan biasanya diperlukan), guru ikut memperagakan objek yang dimaksud dengan variasi sesuai pribadi masing-masing tentunya. Namun, seperti yang dibilang murid-murid saya: semakin lebay semakin oke! Hehehe.

Peraturan lainn yang saya terapkan yaitu pada setiap perubahan gerakan, anak-anak harus memastikan bahwa anggota kelompoknya benar-benar baru! Ini untuk menghindari kelompok yang mencoba untuk terus bersama. Kalaupun ada anak yang ingin memolakan, silahkan.. mereka jadi terpacu untuk berpikir mengenai peluangnya kan. (Hehe… gotcha!)

Objek dan gerakan yang saya pilih lalu jelaskan kepada anak-anak adalah sebagai berikut:

  1. Liberty Statue. Anak-anak diminta memperagakan patung liberty dengan satu tangan di atas berpura-pura memegang obor dan satu tangan lain memegang buku. Biasanya saya meminta anak-anak untuk memerankannya secara anggun (setelah saya peragakan tentunya J).
  2. Welcome Statue. Kalau yang ini saya ambil dari patung selamat datang. Anak harus mencari teman berbeda jenis kelamin den memeragakan patung ini dengan seimbang. Biasanya saya lebih-lebihkan peragaannya sehingga anak-anak harus berdiri satu kaki, dengan satu tangan ke depan dan yang satu ke belakang. (Gambar menyusul deh…J)
  3. Traffic light. Nah, kalau yang ini lebih mudah. Dengan mencari dua orang berbeda, anggota kelompok diminta berbaris. Yang paling depan jongkok, yang di tengah membungkuk, dan yang terakhir berdiri dengan posisi agak menjorok kedepan. (Iya..iya… gambar menyusul ya….)
  4. Train. Untuk membentuk kelompok berisi empat orang, anak-anak diminta berbaris dengan tangan yang bergerak-gerak ke depan dan belakang persis seperti roda kereta api dengan siswa yang paling depan memperagakan masinis yang menarik tali untuk membunyikan… ng… apa ya namanya? Peluit? Yang bunyinya tuuut… tuuuut… Oya minta anak-anak membunyikannya juga… Huahahahaha.. seru deh pokonya.

Biasanya saya hanya membuat kelompok paling banyak berisi empat orang agar kerjanya efektif. Tapi kalau anda ingin membuat lebih.. silahkan cari ide lainnya. Yang pasti kegiatan ini sangat saya rekomendasikan.. terutama setelah istirahat makan siang. ^_____^.

B. Category grouping.

Kalau yang ini, kita harus menyiapkan kertas sejumlah anak yang mau kita bagi. Lalu, tentukan jumlah kelompoknya. Idenya banyak untuk grouping yang ini dan sangat bisa disesuaikan dengan pembelajaran. Biasanya, saya meminta anak untuk tidak memperlihatkan kertas yang dia dapat (atau malah saya minta lagi kertasnya hehe). Hal ini saya lakukan agar dia bisa ingat kata-kata yang dia dengar dan akan aktif mengucapkannya.

Category grouping yang pernah saya lakukan (dan yang saya ingat tentunya J):

1.   Animal sound grouping. Ini seru… karena kelas anda akan berubah menjadi KANDANG!!! Hehehe… Pertama bagikan secara acak suara-suara binatang (kalau saya waktu itu ya suara binatang dalam bahasa Inggris): ruff-ruff  (anjing), Meow (kucing), Oink-oink (babi), cockle-doodle-doo(ayam), dan quack-quack (bebek). Anda bisa membahas ini setelah mereka duduk dengan kelompoknya.

2.  Parts of Speech sound grouping. Untuk pengelompokkan yang ini, karena tujuannya adalah grouping, maka anak-anak saya haruskan membawa kamus sehingga mereka tahu kelompok parts of speech-nya (haduh.. apa ya bahasa Indonesianya?). Sama dengan animal sound, pastikan anda sudah menyiapkannya. Contoh:

Nouns: classroom, toilet, tree, door

Verbs: leave, write, smile, try

Adjective : beautiful, great, enormous, terrible

Dst.. dst..

Grouping ini sangat bisa anda variasikan sesuai dengan pembelajaran jika terdapat pengelompokan-pengelompokan yang harus dihapalkan. Dari pengalaman saya, banyak anak (kinestetik terutama) yang terbantu untuk menghapal kategori yang memusingkan (misalkan pengarang dan buku-bukunya atau nama binatang langka dan habitatnya) dan terbukti mereka mampu memilahnya ketika saya membahas di akhir pengelompokkan.  Biar anak-anak dulu yang mencoba mencari tahu. Sehingga tidak hanya disuapi (itu menurut saya loo…)

3.   Pasangan peribahasa. Kalau yang ini ketika saya mengajar bahasa Indonesia di SD dan saya memang mau mereview peribahasa sekalian meminta anak duduk dan bekerja berpasangan. Caranya, siapkan sejumlah peribahasa yang harus dihapalkan anak. Jika memang hanya 5, misalnya, silahkan dikalikan hingga mencapai jumlah anak. Misalkan terdapat 20 anak di kelas,berarti ada 4 set peribahasa yang harus disiapkan. Lalu, potong peribahasa tersebut agar bisa dipasangkan. Contohnya peribahasa berikut adalah satu set yang ditulis di kertas terpisah: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” dan “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Terakhir, jangan lupa acak set yang sudah disiapkan. Lagi-lagi… pengelompokkan ini juga bisa didesain untuk mata pelajaran apapun yang membutuhkan kemampuan anak untuk mampu memasangkan.

Satu hal yang harus selalu diingat adalah aturan main. Agar seru dan tidak menimbulkan ekses yang berlebihan, pastikan anak didik anda tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Selain itu, saya selalu membuat kelas saya adalah panggung teater. Karena saya percaya :

“Teaching is 50% preparation and 50% theatre!” Hehehe…

Jika anda memiliki ide pengelompokkan yang lebih seru lagi jangan sungkan berbagi, ya!

Salam Pendidikan!

 ***visit also klastulistiwa.guru-indonesia.net***

Students' Masterpieces

FRESH!!! The First Semester FE Question Guideline for S-12 of 2011-2012

S-12 Semester Test Guideline 2011-2012

There you go… hope you can prepare yourself well for the first semester final exam. Good luck, guys! ^___^

 

Teacher's Professional Development

5 Gifts from Munif Chatib’s Session

On October 8, 2011, the rain would not stop 8 teachers and I to go to a seminar in Tanjung Karang. Even it was raining cats and dogs, we gathered in front of the Single Quarter (the lodgings provided by the company for single teachers or those having no child at the site) at five – not really punctual though, all of us departed 10 minutes afterward :P.

 Okay…

We arrived at 7.50, 10 minutes earlier since the seminar started at eight. The committee welcomed us warmly. They even  showed us the way to their canteen (maybe it was really shown that we were REALLY starving.. Hahaha! – “Come on, we departed at 5!” as we always defended ourselves :D)

About the seminar itself.

Since it was held in Sekolah Global Madani, an Islamic school, the first agenda after the opening speeches is Al Qur’an recitation. It was so amazing to see a high school student reciting it without reading.

Now… What we have been waiting for: MUNIF CHATIB *applause*

I do not remember exactly what he presented, but I always remember the 5 gifts teachers should give when she comes into a classroom.

1. To see that every child is a STAR

 Every human is a masterpiece. Calling – or even thinking – names to be given to a child such as stupid, lazy, or any other names would only discourage them. Every child is born to be a star of their own…

2. To understand the OCEAN of their capacities

The slides show a turn-around pyramid. From the biggest to smallest space, it was written:

– Ahlaq – affective

– Creativity – psycho motor

– Cognitive

If we can combine them, not only focusing on the last smallest portion i.e. cognitive, we could have the best final  result: THE BENEFIT

3. To find out the TREASURE in every child

He redefined the term INTELLIGENCE into HABIT. By creating activities that will provoke them to improve their CREATIVITY and PROBLEM SOLVING SKILLS.

He also put forward the danger of forcing students’ cognitive aspect. It will finally make their character and creativity to withdrawn and finally will create a COGNITIVE SHUT DOWN. We have to make sure, as a teacher, we give proper stimulus, in order to help them developing their competence.

What we have to bear in mind is that one’s intelligence is not related  to their physical and brain conditions as well as the result of standardized tests. Yet, it is closely related to DISCOVERING ABILITY, THE PROPER PLACE, and BENEFIT.

4. DIVING to discover their ability

As educators, we have to train ourselves to find out their abilities, NOT heir inabilities. As what we have known before, there are 9 multiple intelligence. We have to be able to find out what intelligence surfaces from every child.

5. Find out their talent

Every child has a potential to have a talent. If one has found it, it could grow into a hobby, and developed into ability, which is supported by their interest, and finally could go more serious into their hobby.

Wow…

The way he packed the session is interesting. Especially at the time he used some videos of children whom we might think that they could go that far.

Well. actually we expected more from this seminar. We expect something applicative so we can share and apply it in the classroom. However, the school promise to hold a workshop on that one. After then… I have no more to say… Let’s see….

 

 

My Reflection

A Case Against Ranked School Report

Reading Pak Marsudi W. Kisworo’s blog (he’s the Head of Perbanas) entitled “Guru yang Melahirkan Kehebatan (dari Rhenald Kasali)” reminds me to a national event held a couple of month ago: The Independence Day of Indonesia on 17 August 2011…

In this site, we celebrated it by starting the day with a flag ceremony. All employees of the companies – I live in a sugar cane site where all employees are provided housings and free education (How lucky we are!) – as well as the school communities gathered in a field.

One of the agenda is to announce the students with the best achievements. The first rank students- as they would call them literally translated. And there you go, one by one students were called by the announcers…

At a glance, I saw a wishful face of my students… wishing that they would be called as well. But that would not happen since the number of students called were even less that one percent. Some students might think that it would be such a fantasy to be appreciated like that. To be known to be the best… the best that they can be however.

It has been far too long that we put exaggerated priority on the cognitive level of the students. I professionally think – as an educator – instead of encouraging them, it would be the other way around. How about some students who are improved their interpersonal skill who do not face any difficulties in mingling with anyone. Or the ones who have a strong character that they could be the a promising leader. Why don’t we also put them in the “rank”?

How long will we be trapped in this “ranking system” that only creates more and more problems in maintaining characters? We have been through some years in which cheating is considered not special anymore in facing the national exam. How could we build better generations if this continues to happen?

The questions.. I bet… should be answered by myself. I should continue my fight to put forward this case… against the ranked school report. So that the future generations can be well acknowledged more than their brain to be the best in the class room, but to be the best that they can be.

Students' Masterpieces

The Menu for 2011-2012

Welcome the new generation of Ibu Mierza’s Englicious Students 2011-2012! Yup… We are starting fresh and rejuvenated in this delicious English classroom. We’re not going to only to prepare you to be the best that you can be in using English, but also to have fun with it.

The main topic for the first semester will be about the Glocal Poverty Issues happening around us. The appetizer is on the introduction to Glocal Poverty itself by being in it through a theatrical performance. Afterward, I invite you to investigate the causes and effects of Glocal Poverty and result a sequences based on your own analysis. And finally, the semester will end with the fascinating desert of your rebuttal opinions and arguments on what YOU can do to overcome poverty (I personally never believe in the word ABOLISH POVERTY).

As for the second semester, at a glance, I will show you that preparing for the next step to your future – a.k.a. The National Exam – can be also as delicious as dining itself. We’re going to cherish every moment of it and make it as wonderful as we can… in our very own Englicious Classroom. Hopefully you are patient enough in waiting for it to happen.

Well, happy tasting the deli of English and tell the world – through your blog – that you are the Glocal Generation!

Students' Masterpieces

NEW!!! FE MATERIAL!!!

Guys…

Herewith I attach the  list of materials you will face in the final exam this semester. Just click on the link and happy downloading…

Good luck!

English 1st Semester FE 1011

 

Ms. M

Students' Masterpieces

The Menu

Welcome to Englicious, 12 Graders!

Now we are starting fresh and getting ready to be rejuvenated in the classroom. The main topic (as always) will be the glocal issues happening around us. This year, we will deal with our own way of Perceiving the World Differently through  topic of Global Poverty, as well as to find out our role in maintaining Environmental Sustainability through the issue of Global Warming (Between Myth and Reality), and of course – since this class will face the what is so-called National Exam, the final menu on the list is Preparing for the Future that mostly will deal with types of texts and expressions.

The things we cover will most likely be as follow:

  1. Expressions for : suggesting, begging, complaining, discussing possibilities to do something, giving commands, acknowledging one’s fault, promises, blaming, expressing curiosity, stating stances, persuading, suggesting, criticizing, giving expectation, reminding, showing regrets, making plans, stating purpose and aim, giving prediction, speculating, and giving opinion.
  2. Types of text: narrative, explanation, discussion, and review.
  3. All the things that most likely will appear in the National Exam.

Well, happy tasting the deli of English and tell the world – through your blog – that you are the Glocal Generation!

Note: Herewith I attached the  Assessment Rubric for Engliciousclass Blog Project 2010.

Regards,

Ms. M