Salah satu manfaat berjejaring sosial dan bermilis ria bagi guru adalah mengetahui banyak hal dari apa yang dibagi oleh anggota jejaring tersebut. Salah satunya adalah mengenai teori pembelajaran bernama CONNECTIVISM

Connectivism

Sebenarnya, ketika saya bertegur sapa dengan Mang Google, teori ini telah  lama ada (saya lihat tahunnya dari 2005). Hanya saja saya memang kurang apdet kalau kata murid-murid tercinta saya.. hiks… ~____~” 

Ilmu mengenai CONNECTIVISM  ini dipopulerkan di milis IGI  oleh Ines Puspita, seorang pendidik yang bertugas di sebuah institusi bernama German International School. Nah, berikut posting beliau yang sangat mengilhami saya untuk terus belajar banyak hal. Selamat membaca! ^___^

CONNECTIVISM – Dipopulerkan di Milis IGI oleh Ines Puspita 

Pertama, Information and Communication Technology (ICT) adalah teknologi untuk mengakuisisi, memproses, menyimpan, menyebarluaskan dan mengkomunikasikan informasi baik berupa tulisan, gambar, numeric signal, audio, video, dll. Meskipun istilahnya dicetuskan di Inggris tahun 1997an, tetapi teknologi ini sudah berkembang sejak manusia memasuki masa sejarah (setelah pra sejarah). Candi borobudur merupakan alat ICT yang dipakai beberapa orang di jaman dinasti Sailendra untuk mengkomunikasikan sebuah cerita yang bermakna kepada khalayak. Daun lontar yang dipakai Mpu Tantular juga alat ICT.  Pemikiran yang dituangkan Mpu Tantular dalam daun lontar ini selamat dan sampai kepada kita sehingga kita bisa menjadikannya sebagai landasan hidup berbineka tunggal ika. Jadi, alat ICT itu luas, sejarahnya panjang, dan perkembangannya tidak bisa dielakkan.  

Kedua, ketika kita melihat ICT, kita sering lupa melihat bahwa ICT itu hanya alat yang baik buruknya tergantung mereka yang menggunakannya. ICT ini hanya akan bermanfaat kalau pada dasarnya manusia di balik ICTnya tahu bagaimana berkomunikasi dan bisa mengolah informasi yang didapat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi, apabila ada guru yang tanpa ICT yang canggih saja, yang hanya dengan papan tulis dan kapur saja TIDAK BISA berkomunikasi dg baik (murid bosan, ngantuk, tidak mengerti, tidak ingat apapun yg guru katakan), diberi ipad juga tidak akan serta-merta memperbaiki komunikasinya, apalagi pembelajaran yang disampaikan. Kemampuan komunikasi yang rendah ini akan bertambah buruk ketika guru juga tidak mengerti pedagogi dalam pembelajaran. Jadi tidak mengherankan kalau sekolah berinvestasi besar di ICT tetapi tidak semua sekolah bsia meningkat kualitas anak didiknya. Kesimpulan yang paling mudah kita ambil baisanya : ICT tidak berguna dan oleh karenanya tidak perlu dipelajari.  

Ketiga, kenapa ICT untuk pendidikan ini didengungkan sedemikian dasyatnya 10 tahun terakhir ini? Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa perusahaan yang berkepentingan seperti yang disampaikan Pak Pur. Tetapi dengan mengesampingkan itu, kemajuan ICT ini telah melahirkan sebuah LEARNING THEORY (teori pembelajaran) baru yaitu CONNECTIVISM, yang memantapkan learning theory yang banyak berkembang sebelumnya yaitu constructivism. Dalam teori belajar connectivism, premisnya adalah pengetahuan ini ada di dunia bukan hanya ada dalam satu individu saja. Dengan menghubungkan satu orang dengan orang lainnya di dunia yang memiliki pengetahuan yang beragam maka kita bisa belajar dengan sendirinya. Sebelum ICT berkembang, connectivism ini sudah terjadi dan terbukti seperti Bu Nina yang belajar banyak hanya dengan mengunjungi tempat2 di luar negeri dan bertemu beragam orang. Dulu sebelum ICT berkembang, connectivism ini MAHAL karena untuk membuka akses koneksi/kontak antara satu orang dengan orang lain di dunia begitu sulit, dan mahal. Setelah ICT berkembang terutama dalam 1 dekade terakhir, ini bisa dilakukan dengan mudah dan murah sehingga orang kampung miskin dengan pendidikan kelas kampung seperti saya bisa menjadi guru Indonesia pertama yang diijinkan mengajar Science di Sekolah International Jerman padahal saya bukan lulusan Science. (Maaf, saya bukan bermaksud sombong. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi) Semua pengetahuan tentang Science dan bagaimana mengajarkannya saya dapatkan semua dari orang-orang lain di berbagai belahan dunia yang dengan suka rela membagikan ilmunya dalam sebuah jaringan world wide web. Di sinilah kenapa perkembangan ICT menjadi sangat penting dan kemudian menggema.  

Keempat, perkembangan ICT yang sedemikian pesat benar2 menggeser banyak sekali peran guru. Bukan berarti guru tidak diperlukan tetapi dengan ICT seseorang bisa memilih gurunya sendiri dari berbagai belahan dunia dan meninggalkan guru yang dirasa tidak memberikan manfaat baginya. Makna guru juga berkembang tidak hanya terbatas hanya untuk mendefinisi mereka yang bekerja sebagai guru di sekolah. Siapa saja yang bisa membagikan ilmunya kepada orang lain dan bermanfaat adalah guru. Misalnya, waktu saya belajar membudidayakan jamur, saya belajar dari petani jamur di Yogyakarta lewat komunikasi di Facebook dan dari Website beliau. Padahal ketemu beliau saja saya tidak pernah. Jadi bisa dibayangkan betapa guru-guru seperti kita bisa menjadi terancam dan kalang kabut menghadapi “guru-guru” lain yang hebat-hebat di bidangnya di seluruh dunia. Senjata yang bisa kita pakai untuk mempertahankan “status-quo” kita mungkin adalah kebijakan “HARUS” yang disertai ancaman “Kamu harus belajar di kelas saya kalau tidak …” , “Kamu harus belajar dengan saya kala utidak …”, ” Kalau sekolah di sini maka gurunya hanya ini kalau tidak mau …”   

Kita memiliki pilihan untuk menyikapi kehadiran kemajuan ICT ini. Saya sendiri memilih beradaptasi dengan kemajuan di bidang ICT dan memanfaatkannya untuk murid-murid saya dan diri saya. Meskipun saya tidak menguasai seluruh aspek ICT, saya pilih alat/perangkat yang bisa saya pakai. Dengan kemajuan ICT, peran guru seharusnya bergeser dari Mr Know It All & Do It As I Say menjadi fasilitator, motivator, inspirator, ketiga peran yang tidak akan punah dengan adanya kemajuan ICT tetapi justru bisa berkembang seiring dengan perkembangan ICT.    Akhir kata, seperti kata B.W. Seibert “People will never be replaced by technology – but people who use technology will replace those who do not.”  Semoga lebih banyak lagi anak kampung yang tidak punya banyak uang, yang minim fasilitas, (seperti saya) yang bisa keluar dari belenggu kebodohan dan kemiskinan lewat pembelajaran mandiri melalui teknologi ICT. Ide Self-Teaching with Technology Sugata Mitra (India) untuk anak2 yang tidak terjangkau oleh pendidikan yang berkualitas, bukan ide yang kosong. Yang Sugata Mitra atasi adalah masalah terbesar pendidikan yaitu “Guru-guru dan sekolah-sekolah terbaik tidak ada di tempat2 di mana mereka paling dibutuhkan.” http://www.youtube.com/watch?v=dk60sYrU2RU

Ines Puspita
Deutsche Internationale Schule
German International School
http://inesogura.weebly.com
http://virtual-world-education-asia.weebly.com

Phew.. wasn’t that inspiring you to know more? It was for me! Mau ngubek-ngubek aaah… cari tahu lebih banyak tentang si konektivisme ini. Oya… saya menemukan gambar ini ketika mencari ilham tentang teori ini yang mungkin memberi gambaran sekilas mengenai apa yang disampaikan di atas – terutama bagi anda yang sangat visual – seperti saya. Hehe… ^___^

 
Iklan