CERAMAH GURU PUN BISA JADI SERU!

Siapa bilang kalau dalam kelas aktif itu tidak ada waktu ceramah? Mungkin ada sih dan yang pasti itu bukan saya. Saya lebih setuju pendapat yang mendukung waktu ceramah, presentasi atau menerangkan yang tidak terlalu sering dilakukan. Karena, kalau menurut saya pribadi nih, pembelajaran jarang bisa ‘masuk’ jika itu terlalu sering dilakukan.

Eit.. tunggu dulu… Namun tidak jarang juga ada guru-guru, pembicara, penceramah, dosen, atau siapapun yang berhasil menjadikan waktu TTT alias Teacher’s Talking Time mereka menjadi sangat efektif, lho!

Bercermin dari para presenter handal yang memukau – termasuk beberapa guru dan dosen yang pernah mengajar saya dan buku yang pernah saya baca tapi saya lupa judulnya (kalau tidak salah pengarangnya bernama depan Mel) – ada beberapa tahap minimal yang biasa mereka lakukan. Tahap-tahap tersebut adalah (i) memulai dengan sesuatu yang menarik perhatian, (ii) memiliki trik untuk memastikan kepahaman peserta, (iii) melibatkan peserta/ siswa, dan (iv) penekanan topik yang diberikan.

Berikut cara-cara yang saya ingat bisa dilakukan untuk menjadi pembicara jagoan seperti mereka:

AWAL YANG MENARIK

  1. Menampilkan visual aid atau menceritakan kisah yang menarik. Saya masih ingat satu dosen saya yang selalu melakukan hal ini. Tiap awal presentasinya, beliau selalu menyelipkan kartun pendek, gambar karikatur, potongan gambar yang aneh dan bikin penasaran – yang hebatnya selalu berhubungan dengan topik. Selain itu, pernah ada rekan sejawat saya yang mengajar ilmu sosial yang sangat jago bercerita sebelum mulai pelajaran, baik yang lucu seperti anekdot, atau yang jayus (kalau kata anak-anak), sampai kisah menyentuh yang ternyata di akhir cerita ia bilang itu cuma cerita fiksi. Bisa juga dengan menampikan film, seperti kelas Fisika yang pernah saya intip minggu ini. Sang guru saat itu mengajarkan tentang perubahan zat (itu lho yang isinya membeku, memuai, melebur, dkk). Nah, beliau menampilkan trailer film Ice Age di awal pembelajaran.
  2. Menantang peserta dengan pertanyaan, yang tentunya berhubungan dengan topik yang akan disajikan. Jangan kuatir jika topik benar-benar baru atau prior knowledge mereka mungkin tidak seperti harapan. Dengan pertanyaan tersebut, siswa akan termotivasi untuk mendengarkan. Saya pernah menjadi siswa seperti itu, yang sebeeel banget ketika tidak bisa menjawab pertanyaan salah satu guru saya sewaktu SMA. It worked! Saya malah masih ingat yang beliau ajarkan.
  3. Acting!Kalau ini terjadi di kelas saya. Hehehe… Biasanya saya tidak sering-sering melakukan ini biar element of surprise-nya terasa. Seperti ketika saya mau mengajarkan beberapa ungkapan bahasa Inggris, saya masuk kelas, membanting segala yang saya lalui dan berteriak marah mengenai suatu kasus yang terjadi dengan salah satu teman mereka. Yang pasti, murid-murid yang jarang banget melihat saya marah jadinya ketar-ketir. “What happened? What happened? ” katanya. Selesai acting, saya tanyai apa ungkapan yang saya gunakan. Setelah dramanya selesai, ada beberapa siswa yang ngeh kalau saya mengerjai mereka, tapi banyak juga yang masih ketakutan hehe.

MENANAMKAN PEMAHAMAN DAN MENJAGA KETERTARIKAN

  1. Headlines. Kurangi kalimat-kalimat yang paaanjaaaang dan laaaamaaa. Jangan pula tergoda untuk muter-muter, menjelaskan yang lain (meskipun itu ‘terasa’ berhubungan), atau narsis menceritakan diri sendiri dan kisah di masa lalu. Pilihlah kata-kata kunci yang dituliskan di papan atau ditampilkan di layar proyektor.
  2. Contoh nyata dan analogi. Sediakan ilustrasi yang bisa ditemukan di dunia nyata. Jika memungkinkan, buat perbandingan antara contoh materi yang disajikan dengan pengalaman siswa.
  3. Bantuan Visual. Jika anda memiliki murid seperti saya yang super visual, ini akan sangat membantu! Anda bisa menggunakan poster, transparansi, modul yang sesuai dengan apa yang disampaikan, atau demonstrasi akan sangat mempermudah siswa mendengarkan.

MELIBATKAN SISWA

  1. Stop dan tantang siswa! Hentikan ceramah anda tiba-tiba (bisa beberapa kali) dan tanyakan sesuatu yang berhubungan dengan materi.
  2. Quiz ringan. Selingi ceramah anda dengan quiz ringan berdurasi 3-10 menit. 1 pertanyaan pun boleh. Hal ini dapat memperingan beban siswa yang memiliki attention span yang rendah.
  3. LKS on-the-spot. Berikan modul isi ceramah anda yang tidak lengkap. Disini siswa melakukan cloze procedure. Caranya, hapus kata-kata yang ingin anda tekankan pada modul tersebut dan minta siswa untuk mengisi titik-titik selama mendengarkan ceramah anda.
  4. Blank. Kalau anda presentasi dengan menggunakan LCD Projector, selipkan satu slide kosong diantara presentasi anda. Pancing siswa yang mungkin saat itu mengira sedang mati lampu/ proyektornya rusak. Tanyakan apa yang terakhir disampaikan. Pura-puralah lupa… tapi jangan terlalu lama dan terlalu sering ya… Ini cuma sekali-kali aja. Oya, bisakah ini dilakukan tanpa PPT? Bisa! Diam saja tanpa ekspresi dan lakukan hal yang sama.
  5. Oops! Ini juga jika anda presentasi dengan menggunakan LCD Projector, selipkan satu slide yang salah atau pernah dipakai sebelumnya. Kalau siswa menymak, biasanya mereka akan berkomentar seperti, “Itu kan udah, bu!” atau “Lho, bukannya itu adalah … ” Anak-anak lain yang mungkin nyaris tertidur jadi ingin tahu apa yang terjadi. Hihihi.

MENEKANKAN POIN PENTING

  1. Pertanyaan aplikatif. Berikan pertanyaan atau studi kasus untuk dipecahkan siswa berdasarkan informasi yang didapat dari ceramah.
  2. Ulasan siswa. Minta siswa untuk mengulas isi ceramah satu sama lain atau berikan ulangan yang mereka nilai sendiri. (bukan ujian lho… Ini yang bahasa Inggrisnya review).

Hmm… saya juga masih harus belajar banyak menjadi penceramah yang baik-benar-enak. Untuk menuju ke sana, perjalanannya masih paaanjaaang. Mash banyak contoh yang harus saya cari dan kelas yang harus saya intip. Oya, kalau Bapak/ Ibu berkenan berbagi tips jitu untuk jadi penceramah model itu saya mau juga yaaa!

Iklan