Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khatab

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

wasiat umarDari Abu Ja’far Al Umawi, Umar bin Abdullah berkata,

“Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada pendidik adab anak-anaknya….

Kepada Sahl Maulana,

Sesungguhnya aku telah memilihmu karena pertimbangan ilmuku untuk mendidik anak-anakku. Aku serahkan merek kepadamu, bukan kepada selainmu dari maula-maulaku dan orang-orang khususku. 

Maka latihlah paha-paha mereka karena akan mengokohkan kaki-kaki mereka. Tinggalkanlah berpagi-pagi dalam melatih mereka, karena membiasakannya akan menjadikan lalai. Tinggalkan banyak tertawa karena itu akan mematikan hati. Dan jadikanlah perkara awal yang mesti mereka yakini dari pelajaran adabmu adalah membenci mainan yang munculnya dari syaithan dan akibatnyaadalah kemurkaan Ar Rahman. 

Maka sungguh telah sampai kepadaku dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang berilmu,

“Bahwasanya mendatangi alat-alat musik, mendengar nyanyi-nyanyian, dan bertekun-tekun pada keduanya akan menumbuhkan penyakit nifaq dalam hati sebagaimana air menumbuhkn rumput.“(Ibnu Abiddunya)

My Reflection

WASIAT UTBAH BIN ABI SUFYAN DAN UMAIR BIN HABIB UNTUK PENDIDIK ADAB

utbahWasiat ‘Utbah bin Abi Sufyah ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Berikut ini adalah wasiat beliau yang sangat penting untuk mendidik generasi terbaik Islam masa depan.

Dari Sa’ad dia berkata, “Utbah bin Abi Sufyan berwasiat kepada Abduh Shomad, pendidik anak laki-lakinya: “Hendaklah perkara pertama dalam kamu mendidik atau memperbaiki akhlak anak-anakku adalah kamu memperbaiki dirimu sendiri. Karena mata-mata mereka sangat tertarik dengan kekuranganmu. Kebaikan di sisi mereka adalah apa yang kamu lakukan. Dan kejelekan adalah apa yang engkau tinggalkan.

Beliau berkata, “Ajarkan kepada anak-anak Al Qur’an dan jangan kamu membuat bosan, maka mereka meninggalkanmu. Ajarkan mereka hadits dan syair-syair yang membawa hikmah. Jangan kamu keluar bab ilmu sampai mereka benar-benar kokoh, karena kata-kata yang berdesak-desakkan untuk disampaikan bisa membuat bingung pemahaman.

Utbah bin Abi Sufyan berkata, “Takut-takutilah mereka denganku. Didiklah adab mereka kepada selainku. Jadilah kamu untuk mereka seperti dokter yang penuh kasih, yang tidak tergesa-gesa memberikan obat sampai mereka paham penyakitnya. Laranglah mereka dari membahas para wanita. Sibukkanlah mereka dengan kisah-kisah ahli hikmah. Ajarkan mereka akhlak orang-orang yang penuh adab. Mintalah kamu bekal kepadaku dalam mendidik adab kepada mereka, niscaya aku akan menambahkan bekal. Jangan kamu bersantai-santai karena udzur yang datang dariku. Karena sungguh aku telah memberikan tanggung jawab ini kepadamu. (Ibnu Abi Dunya – Kitab Al Qiyal)

Dari wasiat ‘Utbah bin Abi di atas, kita para pendidik adab bisa mengambil hikmah. Inilah beberapa pelajaran yang bisa dipetik untuk diaplikasikan dalam pendidikan anak-anak:

  1. Perbaiki diri sebelum mendidik adab
  2. Jadilah pendidik yang menyenangkan
  3. Ajarkan Qur’an dan hadits
  4. Ajarkan syai’r-sya’ir yang penuh hikmah, namun tidak menjauhkan dari ibadah
  5. Gunakan kalimat yang dipahami anak
  6. Selesaikan pelajaran yang telah dimulai hingga benar-benar paham
  7. Ajari untuk menyelesaikan masalahnya sendiri
  8. Latih anak memilih dan memperhatikan orang lain yang baik adabnya
  9. Kuatkan anak untuk menjauhi ikhtilat, terutama setelah baligh.
  10. Bersemangatlah dan hindari bersantai-santai dalam mendidik.

Masalah ikhtilat ini disoroti pula oleh Umair bin Habib akan bahaya ikhtilat ini  sebagaimana yang disampaikan dari Ibnu Syaibah Abi Ja’far Alkhutami:

Beliau berkata: Umair bin Habib mempunyai budak yang kemudian dimerdekakannya. Dia mengajari anak Umair Al Qurán dan menulis. (Waktu itu) dia menyebut-nyebut wanita dan dunia di hadapan mereka. Maka Umair pun menegur,

“Ya Ziyad, sesungguhnya kamu telah meletakkan kubah syaithan di atas kepala anak-anakku. Maka (sekarang) hilangkanlah.”

Gentingnya masalah ikhtilat yang kini dianggap biasa ini ternyata harus kita telan akibatnya. Padahal para ulama sudah memberikan solusi jika memang kondisi terpaksa menjadikan laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan kelas. Tempatkanlah para anak lelaki itu di depan anak perempuan agar lebih terjaga pandangannya. Bukan, solusi ini bukan untuk ‘merendahkan’ kecerdasan wanita. Justru, dengan tidak dipajangnya wanita di depan laki-laki, maka kehormatannya lebih terjaga. Justru yang terlihat dan ternilai adalh kecerdasannya, bukan fisiknya.

Wallahu ‘alam bi shawab

 

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Harun bin Muhammad dari Bani Habasyah

Halaman ini adalah bagian dari seri WASIAT GENERASI TERBAIK ISLAM BAGI PARA PENDIDIK ADAB dalam kajian kitab Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Harun bin Muhammad dari Bani Abasyah sangat mementingkan syair yang terkandung adab yang bernilai tinggi. Beliau mewasiatkan Al Amin dan Al Ma’mun kepada Al Kisa-iy. Diantara wasiatnya adalah

Riwayatkanlah kepada mereka syair, karena akan mengumpukan adab yang bernilai tinggi.” (Adrotul Aghridh)

“Sungguh aku telah menyerahkan jantung hatinya, maka … dan jadikanlah ketaatan untuk anakku. Jadikanlah dia kepada Amirul Mualimin kepadaku. Bacakanlah Al Qur’an yang bagus. Dan beritahukanlah kabar-kabar yang bermanfaat. Ajarkan perilaku yangbagus. Perlihatkan cara bicara yang bagus (meletakkan kalimat pada tempatnya). Tahanlah anak-anak untuk tertawa karena tertawa ada waktunya.”

wasiat harunDari wasiat di atas, maka secara fitrah, kita sebenarnya memang menyukai bacaan yang bagus, Itulah kenapa pendidik adab sebaiknya membacakan Qur’an kepada anak dengan bacaan yang bagus sebagai ‘idola’ pertama sebelum yang lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan berita-berita bermanfaat. Subhanallah… jaman dulu memang belum ada internet, namun sungguh wasiat ini sangat penting. Betapa tidak semua hal yang kita dengar dan baca itu kita perlukan. Inilah yang perlu kita kabarkan dan ajarkan kepada anak-anak kita.

Kemudian mengenai meletakkan kalimat pada tempatnya. Betapa dakwah akan menjadi hikmah jika seseorang mampu menerapkan ilmu untuk berkomunikasi. Satu hal yang pertama dilakukan adalah memberikan teladan sebelum mendidik anak-anak untuk mempraktekkannya.

Dan yang terakhir adalah tertawa. Sebagaimana kita tahu bahwa terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati. Begitu pun mengetahui tempat dan waktu yang tepat untuk tertawa adalah adab yang penting untuk diajarkan.

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

Wasiat Muawiyah bin Abi Sufyan Kepada Pendidik Adab

Masih dalam seri 25 Nasihat Generasi Terdahulu Kepada Para Pendidik Adab, Muawiyah bin Abi Sufyan juga mewasiatkan beberapa hal terkait pendidikan anaknya.

Dari Ibnu Buraidah bahwa Muawiyah mengutus seorang utusan kepada Daghfal bin Handhalah untuk menanyakan bahasa Arab, nasab bangsa Arab (dan keluarga Rasulullah), dan tentang perbintangan (untuk mencari tanda atau alamat). Utusan ini takjub dengan kealiman (kecerdasan) Daghfal dan bertanya,

“Ya Daghfal, dari mana kamu bisa hafal seperti ini?”

Maka Daghfal menjawab,

“Dengan lisan yang rajin bertanya dan hati yang banyak berusaha memahami. Karena penyakit ilmu adalah ilmu.”

Dalam perkataannya, dapat kita lihat bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan menyebutkan beberapa hal penting lain yang perlu diajarkan kepada anak. Ilmu dan keahlian tersebut diantaranya:

1. Mempelajari bahasa Arab.

2. Mempelajari nasab bangsa Arab, terutama nasab Rasulullah.

3. Mengetahui ilmu tentang perbintangan.

4. Bersikap kritis dan mampu melontarkan pertanyaan kritis dan berkualitas.

5. Mendidik hati untuk berusaha memahami.

6. Tawadhu dengan ilmu yang dimiliki

Product Review

Kenapa Harus Asus 15 Inch, Wahai Telecommuters?

Telecommuters? Apaan tuh?

Itu kerjaan saya. Hehehe. Selain jadi homeschooling mum of 3, saya juga menulis secara telecommute full time 40 jam seminggu.

Jadi apaaa telecommuter itu?

Asal katanya dari telecommute, yaitu kerja dari rumah, pakai teknologi, dari laptop, internet, dan telfon – meski belum mandi dan masih pakai baju tidur *eh. Dalam kasus saya, minimal 8 jam harus bersentuhan dengan laptop lah, kalau pengen 2 hari libur seminggu.

Nah, untuk mendukung pekerjaan yang full techie itu, saya memilih ASUS X540SA. Pertimbangan pertama adalah….. HARGA! Hahahaha.. emak2 banget yaaaa.

Kenapa Harus 15 Inci ?

Ada beberapa hal yang penting banget yang membuat saya memilih laptop 15 inch model yang ini.

  1. Gak sampai 4.000 K bisa bawa pulang laptop berlayar 15.6″.  Hahaha.. emang dasar ya ga jauh-jauh dari harga. Etapi jaman sekarang ini kan memang harus cerdas menyiasati budget dan peluang. *ngeles*
  2. Luaaas dan bisa kerja tanpa sering scrolling layar sana-sini yang penting banget buat telecommuter yang harus bekerja di online organizer boards seperti Trello (klik  tautannya aja ya, ga bakal dibahas disini) . Nah, buat perusahaan  yang punya divisi banyak, boards-nya juga banyak. Alhasil, kalau layarnya sempiiit, itu kartu-kartu proyek yang harus dikerjakan (cek tautan lagi kalau mau tau tentang Trello cards) bakal susah di drag-and-drop sana-sini.  Begini nih tampilannya. Sungguh membutuhkan keluasan layar dan hati melihatnya.
  3. Kenyamanan view laaah. Mata tidak perlu memicing, terutama kalau perlu tampilan multimedia. Ini penting buat anak-anak sih, terutama ketika harus menonton video edukasi bareng-bareng. Yang pasti, berguna banget untuk si kecil menghitung benda-benda kecil waktu mengerjakan maths di ixl.com seperti yang terlihat di bawah ini nih. Kebayang ga sih kalau pakai netbook liatnya?

     

Baiklah. Cukup curhatnya, yes. Sekarang review benerannya tentang si ASUS X540SA. Selain harga, apalagi yang pantas dilirik dan kenapa? Kenapa?

Kenapa Harus ASUS 15 Inci yang Itu?

Ga boleh harga lagi ya alasannya? Muahahaha. Baiklah.

Banyaaaak bangeeeet alasan kenapa emang harus ASUS 15 inci. Nih, ya.. saja jabarkan spesifikasi dan fitur-fitur yang mendukung banget pekerjaan dan gaya hidup saya (Tsaaah… You don’t say ‘gaya hidup’, eh?) Spesifikasinya jelaaas worth the bucks alias lebih dari ada harga ada rupa. Ini mah ada harga dapetnya rupa-rupa.  Here you go:

  1. Dengan memori sebesar  2GB DDR3L, program yang dibuka bersamaan dengan kerjaan lancaaar jayaaa tanpa lagging. Apalagi kalau pas kerjaan banyak plus anak-anak lagi keluar curiosity-nya. Jalan dah tuh, researching the web barengan sama buka proyek, sambil nulis, kadang-kadang nge-Yutub juga. Bagusnyaaa, si IceCool technology bikin laptop yang diseksa 25,5 jam sehari tu anteng-anteng aja.
  2. 500GB HDD, ng… cukuplah. Kan emang banyakan kerja online berbasis cloud. Untuk pembelajaran anak-anak juga pakainya aplikasi online atau website.
  3. DVDRW — Iyesss…. bapak emak pasti tahu kalau abis jalan-jalan anaknya suka minta dibeliin dvd. Jelasss laptop dengan fungsi ini perlu pake bangeet.
  4. VGA Intel HD Graphic.. Huruf ajaib si HD inii
    Kalau Ga Ada Eye Care Technology

    loooh, emang bikin betah mata deh. Ditambah lagi dengan Eye Care Technology. Kumpliiiit banget memanjakan dan menjaga mata, dari mulai melototin Trello, researching material, sampe nonton segala video. Jangan sampe deh kejadian kayak gambar di samping. Oiya, kenikmatan menonton juga nambah ajib dengan Sonic Master yang mantep suaranya.

  5. Fitur penting terakhir yang bener-bener perfect on-the-go itu adalah Polymer Battery yang dukung banget mobilitas. Mobilitas ituuu… buat saya.. seperti bawa-bawa laptop buat kerja di kebun belakang atau beranda sambil ngawasin anak-anak lagi eksperimen. Hahaha. I’m a remotely working homeschooling Mom! What to expect? 🙂
  6. Oiya.. Satu lagi.. Beneran terakhir deh. Fitur Instant on 2 second dari ASUS! Aseli ini bener-bener life-saving. Jadi, selain Trello, telecommuters juga dipantau aktifitasnya secara online looh. Salah satunya dengan aplikasi Time Doctor yang bisa mendeteksi ketika kita ga di depan laptop. Kan, ada kalanya tuh  anak-anak minta tolong sebentaaar. Ga usah khawatir, dengan fitur ini pekerjaan aman, anak juga keurus. Begitulah kira-kira intinya.

Sebenarnya, banyak banget yang mau diulas tentang si ASUS kesayangan ini. Tapi berhubung waktu dan word count tidak mencukupi, saya sudahi dulu yah. Semoga bermanfaat.

Oiya, kalau mau tahu tentang ASUS 15 inch atau telecommuting jobs lebih jauh, boleh tanya-tanya kok. Silahkan tuliskan komentar di bawah. Tenang, saya nggak gigit. ^_^

My Reflection, My Thoughts, Parenting

Kenapa Malu Punya Anak Pemalu?

*Mierza Ummu Abdillah*

“Anaknya pemalu ya, Umm?”

Betapa mudahkah seorang anak dilabel ‘pemalu’, hanya karena memilih tidak berebut kue saat istirahat seperti teman-temannya? Tapi kurangnya ilmu membuat ibu itu pun hanya tersenyum malu. Malu punya anak pemalu.

Ah, andai saja dulu Ibu itu tahu bahwa rasa malu adalah akhlak Islam yang terpuji. Malu yang ditunjukkan anaknya bukanlah malu yang tercela, seperti malu menuntut ilmu syar’i, mengaji, amar ma’ruf nahi munkar, melakukan kewajiban seorang Muslim, dan yang semisalnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Andai Ibu itu tahu bahwa buah dari rasa malu adalah iffah atau menjaga kehormatan. Hal yang sangat sulit ditemukan di jaman penuh fitnah ini.Bahwa memiliki malu bukan suatu kesalahan.

malu

Bukankah di dunia yang berisik ini, kita memerlukan manusia yang mampu menjadi pendengar yang penuh perhatian? Tidakkah kita pernah menemukan seorang pribadi yang begitu diterima bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata? 

Ibu… Tidak perlu meminta maaf kepada orang lain hanya karena memiliki ‘anak pemalu’. Jangan pula mengucapkannya di hadapan intanmu yang berharga itu. Tidak ada yang salah dan banyak alasan tepat untuk menjadi pemalu.

Andai Ibu itu tahu bahwa anak yang pemalu tidak selalu berarti menderita citra diri yang buruk. Ah… alangkah tidak adilnya.  Banyak anak-anak pemalu yang memiliki konsep diri yang kuat. Mereka bersinar dari dalam – jika saja para orang tua itu lebih sabar.

Andai dulu Ibu itu tahu bahwa ia tidak perlu khawatir jika anaknya tutup mulut di tengah orang banyak. Bahwa selama anaknya masih bisa melakukan kontak mata, sopan, menurut, dan bahagia – namun hanya diam – itu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa anak-anak ‘pemalu’-nya lebih dalam berpikir, menyeluruh dalam mengamati, dan sangat berhati-hati. Mereka hanya seperti mesin diesel – memerlukan waktu tambahan untuk untuk pemanasan ketika bertemu orang baru.

Bersyukurlah, Ibu, jika anakmu hanya merasa malu – bukan menarik diri. Bukan bersembunyi dari kemarahan dan ketakutan. Bukankah kau tidak pernah mengancam atau menakutinya?  Jika tidak, maka tenanglah. Anakmu hanya memilih menjadi mereka yang bersorak dalam pawai dan dipercaya untuk melambaikan bendera.

Namun, pelajarilah Ibu…. Jangan sampai label pemalu ini digunakan untuk tidak mau berteman dengan anak-anak lainnya. Jangan sampai label ‘pemalu’ ini digunakan  sebagai pertahanan untuk tidak berusaha lebih keras dan tinggal di zona nyaman.

Jika kau menemukan demikian  maka perkuatlah rasa percaya diri mereka. Anak ini hanya  membutuhkan orang tua dapat ia percaya, yang mendisiplinkan dengan cara yang benar dan lembut. Mendidik tanpa menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Ibu, bersyukurlah dengan akhlak anakmu. Ia diberkati dengan sifat yang sensitif, sangat peduli, dan lebih berhati-hati. Peluklah anakmu dan jadikan dunia menjadi tempat yang lebih lembut dan menyenangkan. Ciptakan lingkungan yang nyaman yang memungkinkan kepribadian sosialnya berkembang secara alami.

Tidak Ibu.. jangan ikut mengatainya dengan cap anak “pemalu”. Jika mendengarnya, ia bisa merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dan ini akan membuatnya merasa lebih malu. Memanggilnya “pemalu” bisa membuatnya lebih cemas, seolah-olah ada sesuatu yang mereka harus lakukan untuk “membantu” atau memperbaikinya.

Dukunglah dengan cara memberitahu apa yang harus ia lakukan ketika mengunjungi saudara atau tempat yang baru. Hindari godaan untuk mengatakan, “Jangan diem aja ya, disana.” Karena itu akan menjamin dia bungkam. 

Beritahu ia apa yang diharapkan. Dari ucapan “Salim Pakde, ya.” sampai perilaku sopan lainnya. Tidak mengapa jika ia ingin membawa salah satu mainan favoritnya, seperti lego atau puzzle, yang bisa menjadi jembatan untuk komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, jika anakmu diminta tampil di hadapan umum, mintakan dulu izinnya. Jangan gunakan kekuasaan orang dewasa. Hormati tingkat kenyamanannya. Bukankah ada manusia yang lebih memilih untuk menjadi penonton?

Bantulah anakmu dengan berbicara lebih sedikit. Beri kepercayaan untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Mintalah ia untuk menjawab langsung pertanyaan orang lain, tanpa Ibu menggantikan jadi mesin penjawabnya. Sungguh ini akan sangat membantunya. Lalu, berilah ia pujian ketika berhasil membangun komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, setahun sudah waktu berlalu sejak kau putuskan mendidik anak itu sendiri. Kau memilih untuk selalu bersama 24 jam sehari, belajar bersamanya, melatihnya, berusaha menjadi teladan untuknya. Satu inginmu waktu memilih keputusan melelahkan itu: agar bisa lebih sering memeluknya.

Lihatlah, kini ia tumbuh lebih percaya diri. Dengan kesantunannya, ia tetap bersinar di tengah keramaian. Dengan kehati-hatiannya, ia memberi jeda terhadap semua jawaban yang akan dilontarkan agar bisa berterima. Dalam diamnya, dia menyerap apa yang kau tanamkan setiap harinya. Melalui tenan gnya, dia menunjukan cintanya.

Semua kesabaran ini memang tidak mudah. Cermin ini saksinya.

Jazzakillah khairan telah bersabar dengan Ibumu, yaa bunayya.

 

Homeschooling, Ramadhan Activities

Kegiatan Ramadhan Tahun Ini (Persiapan & Minggu Pertama)

Assalaamu’alaikum warahmatullah!

Alhamdulillah sudah mau Ramadhan lagi. Biarpun ga tercium bau-bau sirup Marj*n karena ga ada TV, tapi hawa-hawa Ramadhan sudah mulaai terasa. Salah satunya, anak tertua udah sering tanya… “Mi, udah bayar puasa taun kemaren, belum? Udah Sya’ban loh ini.” -_____-

Ehem, biar hawanya makin menguat, menggugah, dan menggelora… keluarga klastulistiwa mau merencanakan Kegiatan Ramadhan tahun ini di tempat baruuuu, insya Allah.

Karena isinya banyak (gambarnya hehe), posting yang ini khusus untuk persiapan dan minggu pertama saja, yes.  Apa saja kah itu?

Selain bayar puasa (yang 2 hari pertamanya ditemani si sulung), kami juga membuat dekorasi untuk Ramadhan Wall. Intinya sih biar ngingetin emaknya supaya gak lupa bikin2 yang unyu2… heuheu.

Lentera Ramdadhan Wall (Tutorialnya Gugel Aja yaaa hehe)
Lentera Ramadhan Wall (Tutorialnya Gugel Aja yaaa hehe)

Dan sebelum bocah pada nanya tentang hilal dan sidang itsbat, kami antisipasi duluan. Mereka diajak nonton di Youtube tentang hilal dan berdiskusi tentang rotasi bulan. Pleus, buat ini….

p_20160528_230602.jpg

Nah, sekarang Ramadhannya itu sendiri ngapain doong?

Ya puasa lah… *krik krik krik*

Ngga deng, tentunya memaksimalkan ibadah-ibadah, plus memperkuat hafalan. Ilmu-ilmu umum libur duluuuu… Tapi bikin-bikin jalan terus, hehe.

Bismillah, semoga yang di bawah ini bisa kejadian semua. Klik link masing-masing untuk info lebih lanjut yaaaa…. Beberapa bukan saya yang buat tentu saja hehe… kan bagi waktu buat urusin cucian, dapur, dan rumah juga (alesan).

.

Hari Pertama: Jam Shalat-Puasa

Halah, opo meneh iki? Sebenernya sih mau buat seperti jam shalat tapi ditambah dengan jam bangun sahur dan jam tidur setelah isya. Belum selesai jadi gambarnya belum diaplot. Kepoin aja IG-nya di sidebar yaaa.*eeaaa*

.

Hari Kedua: Rukun Islam

Jeng-jeng, ternyata setelah dicek di dapur, saya punya oatmeal yang dua bulan ga termakan. Daripada dibuang, mending buat review tentang rukun Islam ini. Tinggal tetes pewarna makanan di bubur oatmealnya, dan (semoga) jadilah yang seperti gambar di samping. Siapa tak sukeu sama hand painting laaah. Selanjutnya bisa lanjut dengan kegiatan yang lebih serius dengan si sulung.

.

Hari Ketiga: Poster Siluet Doa Buka Puasa

Ini emaknya juga masih ngapaliiin doa shahih buat buka puasa – yang dibaca setelah berbuka ini (klik link ini untuk belajar lebih lanjut yes). Ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678) [7]

Kemungkinan besar buat poster siluet seperti yang cara buatnya ada di link imanhomeschool ini. Tapi, di atasnya diganti tulisannya jadi doa di atas. Begitchu.

.

Hari Keempat: Poster Kurma

Hahaha… ga sempet cari nama yang nyastra buat judulnya. Tapi intinya yaaa begitulah. Ingin ajak bocah buat poster unyu-unyu soal sahur dengan kurma ini biar punya sense of pride ngikutin sunnah dan pede meski bukanya ga sama teh bottle nganu. Hehe. Posternya gambar sendiri lah… ga seperti yang dibuat komputer seperti gambar di samping. Semoga bisa aplot hasilnya di IG dan doakan selesai pas ada kuota (curcol lagiii).

.

Hari Kelima-Tujuh (Borongan): Pohon 99 Nama Allah

Pas lihat posting ini langsung melotot: huwaaaaa kereeen.. masyaAllah. Semoga bisa eksekusi. Pengennya pake daun beneran, tapi kan prosesnya lumayan lama.  Kalau pakai setria.. glek… 99 daun gitu? -___-

Tapi, kita lihat ajalah… sapa tau bisa.

.

Nah… alhamdulillah rencana sampai minggu pertama Ramadhan sudah tuntasss. Semoga bisa dieksekusi semua. ^____^

 

My Reflection

BUAT JAM MATAHARI YUK BUAT CEK KIBLAT

BUAT JAM MATAHARI YUK BUAT CEK KIBLAT

*Mierza Ummu Abdillah*

Jumuah selalu istimewa. Tapi jumat yang sekarang lebih istimewa… Kenapaaa?

Karena, matahari tepat berada di atas ka’bah.

Ini saya dapet dari mba Anne Adzkia, blogger yang homeschooling mum yang keyen ituuu loooh. Nah, jam 16.18 hari ini (27 Mei 2018) adalah saat yang tepat buat cek posisi kiblat.

image
PENGUMUMAAAAN

Ehem… berhubung anak2 emang ga (pernah) sekolah, langsung ajalah diajak buat jam matahari (bapake yang ajak, deng).

Susaahkaah? Tentu tidak…

Yang gampang ajalah, pake kardus – atau dalam kasus saya cover buku gambar bekas – sama kertas dan lem.

Caranya:
1. Buat dasarnya
2. Buat segitiga berdiri (kalau saya pakai kardus lagi di dalamnya)
3. Lem di tempat yang seharusnya.

image
Jam Matahari yang Njawani

Udah deehhhh.

Pas jam 4.18 sore, bawa keluar sesuai petunjuk gambar pengumuman di atas. Terus,  cari arah kiblat yang bayangannya ada di belakang segitiga (Ng… deskripsinya bener ga nih? Liat gambar jamnya aja yaaa)

Gampang tho? Ya jangan susah susah… karena cucian menunggu. Hehe… maklum, cari masalah jadi emak2 homskuler tapi ga punya ART (curhat).

Semoga bermanfaat. ^_^

Product Review

EFEK NEGATIF PEMBAYARAN TAGIHAN ONLINE

Sekarang ini, orang sudah banyak yang move on dari pembayaran tagihan konvensional ke pembayaran tagihan online. Semua tagihan – dari  mulai beli pulsa, bayar listrik, voucher game, sampai bayar kuliah – hampir semuanya menuju pembayaran online. Tapi, ada juga beberapa yang menolak memilih opsi ini, meski sudah ada yang membuktikan bahwa transaksi online aman itu nyata. Bisa jadi sih, yang namanya pembayaran tagihan online itu punya beberapa kelemahan. Mau tahu apa aja?

1. BIKIN GAK BISA BOROS

Kok bisa? Iya doong. Coba aja bedakan antara beli pulsa di counter handphone sama beli via Paybill Indonesia.

Di counter, biaya voucher biasanya lebih tinggi karena harus menutupi bayaran kios sama gaji yang jaga counter. Belum lagi kalau jauh, kan harus beli bensin.

Begitu juga kalau harus antri bayar tagihan, selain ongkos berangkat ke sana, Anda juga harus merogoh kocek buat beli air mineral sama jajanan buat temen nunggu.

Nah, tuh, boros kan? Gak cocok deh kalau Anda mau menjauhi gaya hidup hemat.

2. BIKIN ORANG GAK SUKA TANTANGAN

Ehm… sebentar.  Maksud tantangan disini adalah tantangan menghadapi sesuatu yang lama, lambat, dan berbahaya loh yaaa…

Halah, kok gitu?

Lah, iya. Pembayaran tagihan online kan lebih cepat dan mudah daripada metode bayar konvensional. Jadi, pada dasarnya sih, yang pilih pembayaran online berarti sudah menghilangkan faktor penundaan. Tapi, buat suka yang tantangan nunggu lama-lama dan buang-buang waktu ga jadi masalah dooong. Kan itu ‘tantangannya’… wew.

Pembayaran online pun tidak cocok bagi anda yang menyukai bahaya membawa uang tunai di perjalanan. Atau, kalau Anda suka dengan resiko terlambat bayar listrik. Begitu juga kalau Anda lebih suka mengambil ‘tantangan’ kehilangan struk pembayaran yang sebenarnya bisa Anda akses secara online.

3. BIKIN ANDA GAK BISA KOLEKSI SAMPAH

Nah, kalau Anda tipe yang suka mengumpulkan kertas-kertas bukti pembayaran dan menambahkan koleksi sampah di bumi, maka Anda menjadi pihak yang bertanggung jawab dengan kerusakan bumi. 

Tahu nggak, kalau Anda mau move on ke tagihan Anda secara online, Anda bisa mengambil  bagian dalam melestarikan sumber daya bumi. Psssttt… bukankah uang tunai juga dibuat dari kertas?

Salah satu keuntungan terbesar dari membayar tagihan Anda secara online, tentu saja, adalah menyingkirkan semua kertas itu. Hare geneee, hampir semua tagihan dapat dikirimkan dengan mudah (dan lebih murah) via Paybill.

Apa artinya? Limbah kertas pun berkurang di tempat pembuangan sampah. Dan jika tagihan atau bukti pembayaran itu lebih sedikit dicetak, berarti lebih sedikit pula energi dan bahan bakar yang dikeluarkan saat pencetakan, pengolahan, pengiriman, dan pengangkutan. So, pembayaran tagihan secara online adalah pemenang dalam hal memberikan manfaat kepada lingkungan. Yaaay!

4. GAK BISA RIBET

Jika Anda sangat tidak terorganisir, membayar tagihan online mungkin terdengar ribet. Anda mungkin merasa lebih mudah menerima tagihan kertas, menyimpannya, lalu kehilangan kertas itu saat diperlukan.

Hadeeeuh… nggak koook… pembayaran tagihan secara online itu sebenernya sangat sederhana dan menyenangkan. Cek aja disini:

Awalnya cuma download aplikasi, daftar sebentar, udah. Anda tidak perlu khawatir lagi tentang biaya keterlambatan atau kehilangan kertas-kertas dalam tumpukan apalah-apalah. Eh, tapi kalau Anda lebih memilih ribet dengan mencari-cari kertas yang udah entah dimana itu, yaaa… silahkan dinikmati kegalauannya.

5. GAK BISA DAPET KEJUTAN

Iyaaa… kejutan yang tidak menyenangkan maksudnya. Katakanlah pada suatu sore, Anda kalau hari itu adalah hari jatuh tempo pembayaran listrik. Weeh, ternyata besoknya itu tanggal merah. Kejutaaan! Anda harus bayar denda deh (atau kena resiko listrik diputus hehe).

Atau, kejutan itu Anda dapatkan saat membayar tagihan yang tiba-tiba membengkak dari biasanya. Kalau pakai Paybill, Anda tinggal buka aplikasi, lalu cek dan tunjukan saat itu juga.

Nah, karena Anda suka kejutaaan, Anda lebih memilih balik lagi ke rumah buat ubek-ubek bukti pembayaran yang bisa jadi udah keselip dimana.

Dan, ketika kembali… KEJUTAAAN! Ternyata kantornya tutup.  

Ehem, bagaimana? Apa Anda masih mengambil resiko dengan nggak mau move on ke pembayaran tagihan online? Masih nggak percaya kalau transaksi online itu beneran aman? Coba buktikan deh dengan move on ke Paybill Indonesia. Aseliiii, hidup jadi lebih mudaaah. Klak klik di aplikasinya yang super responsif itu bikin waktu kita efektif banget deh rasanya. Nih.. lihat deh.. gampang bangeeet…

Klik aja banner di bawah ini kalau mau tahu lebih banyak, yaaaa….

Homeschooling, My Reflection, Parenting

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

*Mierza ummu Abdillah*

“Cieee yang homeschooler…. masa orang tuanya perlu kurikulum?”

 Baiklah, kita bahas tentang kurikulum dulu ya. Karena kita di Indonesia, kita pakai acuan nasional, yaitu Diknas.

Kurikulum menurut UU No. 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19 adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Garis bawahi kata TUJUAN PENDIDIKAN. Sebagai muslim, sebagai orang tua, apa tujuan kita?

Pasti udah sering mendengar ayat yang artinya iniii kaaan:

 “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

love isnot enoughBagaimanakah cara melindungi ‘kita dan keluarga kita’? Cukupkah dengan cinta dan ketulusan?

Nope. Love is not enough.

Bukankah kita sudah banyak melihat contoh orang tua yang mencintai anaknya dengan tulus dan melakukan apapun yang anaknya minta atas nama cinta? Lalu bagaimana kelanjutannya? Teman-teman disini pasti tahulaah jawabannya: Iyesss… kita butuh ilmu.

Banyaaak sekali yang harus kita pelajari, dari mulai ilmu agama hingga ilmu berkomunikasi. Islam memberikan kurikulum yang ajiiib dalam soal mendidik anak  ini, terutama soal akidah sebagai ilmu pertama yang layak dikenalkan pertama kali. Singkatnya, begini ‘kurikulum dasar’ bagi orang tua sang pendidik adab yang sebenarnya bisa bertambah berlipat-lipat sesuai karakteristik keluarga:

  1. AQIDAH

Inilah modal dasar dalam mendidik, agar anak hanya menyandarkan diri kepada Allah. Memberikan hadiah tak mengapa, asal ajarkan anak meminta kepada Allah saat menjanjikannya. Disinilah kita bisa menancapkan aqidah di hati mereka.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberi contoh dalam pondasi dalam jiwa anak. Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, yang artinya “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. (HR. Tirmidzi – Hasan sahih).  Dengan terus mencamkan ini, insyaAllah ketika mereka tak bisa mendapatkan apa yang mereka mau, itulah yang terbaik dari Allah.

Lihatlah wasiat Nabi Yaqub pada surat Al Baqarah ayat 133 ketika hendak meninggal dunia. Yang ditanyakan bukan berapa nilai di ijazah atau penghasilan anak-anaknya, tapi siapa yang disembah? Bukankah kita juga tidak tahu apakah besok kita masih bisa bangun dan ‘menjaga’ anak-anak dengan semua ilmu parenting kita? Siapa lagi yang akan menjaga mereka selain yang menciptakannya?

  1. ILMU TENTANG TATA CARA IBADAH

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka untuk dipaksa shalat, ketika mereka berusia 10 tahun.”(HR. Abu Daud 495 dan dishahihkan al-Albani)

Hadits ini juga pasti sudah sangat dikenal. Tapi, sudahkah kita memiliki ilmu tentang bagaimana tata caranya? Atau yang penting pukul aja kalau mereka ga mau nurut shalat? Kita punya banyak waktu sebelum ‘memerintahkan mereka’, bukan? Bukankah semua setiap perkataan, perbuatan, hingga yang kita pikirkan akan dimintai pertanggungjawaban? Jadi, mari gunakan masa-masa mumayyiz mereka (di bawah 7 tahun) untuk mulai mencari ilmu yang shahih tentang cara beribadah.

  1. ILMU TENTANG AKHLAK

Oh, yaaa.. banyak sudah kita lihat di linimasa ketika selfie yang ‘tidak beradab’ bocah menjadi kekinian. L Karena itu, kita perlu sekali mempersiapkan amunisi ilmu adab bagi anak, baik itu terhadap Allah, orangtua, teman, tetangga,  dan adab sehari-hari. Sebelum mengajari mereka tentang bagaimana cara berbicara kepada orang tua, makan, minum, bertamu, berbicara, tidur, masuk kamar mandi, belajar dan banyaaak lagi… mari kita cari tahu praktek Rasulullah dan menerapkannya terlebih dulu.

  1. ILMU TENTANG DOA

Doa ini senjata orang beriman dan tentunya orangtua generasi rabbani. Sungguh hanya karena Allah segala sesuatu itu terjadi, bukan semata-mata karena kecanggihan kita mendidik anak. Ada banyak doa shahih yang bisa kita amalkan untuk kebaikan keluarga. Selain yang dicontohkan Rasulullah, beberapa doa juga terdapat di Qur’an seperti dalam doa nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 28, doa dalam surat Al-Furqan ayat 74, dan doa nabi Ibrahim untuk anak-anaknya menjadi orang yang menegakkan shalat dalam QS. Ibrahim ayat 40.

  1. ILMU DLL, DST, DSB, DKI, DLLAJ (ABAIKAN 2 SINGKATAN TERAKHIR)

Iyesss… ada banyak ilmu yang kita butuhkan dalam mendidik generasi masa depan. You name it. Dari mulai seni  berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak, strategi menghadapi anak berdasarkan sifat dan karakternya, cara membangun PD anak, cara menumbuhkan potensi dan bakat anak, cara memotivasi, dan baaanyaaak lagi. Alhamdulillah, kita diberikan banyak kemudahan mengakses buku-buku bergizi, kajian-kajian yang mengisi hati, grup-grup pengasuhan yang memompa semangat, seminar dan workshop pengasuhan yang mencerahkan,  pengalaman-pengalaman pengasuhan yang terlihat berhasil dalam prosesnya, dan segala sumber belajar dari yang bersertifikat seperti guru beneran seperti iou.com sampai yang gratis dan menyenangkan macam coursera.

Memangnya boleh? InsyaAllah, selama tidak bertentangan dengan syariat.   Bagaimana tahunya?  Belajar media literacy – karena gak semua yang dikatakan internet itu benar.

Daaan… untuk ilmu syar’i, mari belajar dengan tahapan yang benar karena ilmu syar’i itu bertingkat-tingkat dan membutuhkan ulama yang benar-benar utuh memahaminya. Boleh intip https://klastulistiwa.com/2016/05/20/homeschoolers-pun-perlu-tahu-tahap-tahap-belajar-ilmu-syari/ untuk beberapa tahapannya.

LALU, KAPAN KURIKULUM INI BERAKHIR???

Tentunya tidak setamat SMA, S1, S2, S3, atau saat SK kerja berakhir yaaa. Ibaratnya ‘homeschooling’ itu tidak pernah berakhir. Dan kita, orang tua, adalah homeschoolers seumur hidup meski nanti anak-anak yang kita didik bukan lagi ‘homeschoolers’ di rumah kita. Mereka akan menjadi homeschoolers di rumah mereka selanjutnya.

Karena rumah adalah sekolah.

 

 

 

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

[VLOG] How to Homeschool Ala Klastulistiwa

Yaaay.. Alhamdulillah… selesai sudah video tutorial cara  homeschooling ala keluarga kami! Iyesss.. itu video pertama kami di Youtube tanpa movie maker apps yang sudah terhapus di lappie karena mempertahankan OS jaman lawas tapi ORI (uhuk!).

Etapi.. etapiiii…. thanks to Smartfren yang dikenalkan oleh Blog Emak Gaoel,  gak ada program pun gak masalah tuuu. Edit-edit bahagia via onlie tetep bisa gratisan (makanya ga bisa ngilangin watermark hehe). Hasilnya ga malu-maluin lah sebagai nubi di peryutuban.

Kalau ada yang tanya, “Lha, how to homeschool lagiiiii? Kan dulu pernah posting ituuuuu?” Ehem… yang ini beda. Ini apdet ya know… kekinian…

Poin-poin penting seperti di bawah ini akan terus ada sebagai pengingat, bahwa:

  1. Homeschooling itu unik, berdasarkan ciri, how-to-homeschool-ala-klastulistiwa.jpgvisi, dan misi keluarga masing-masing. Jadi model HS perjalanan klastulistiwa yang kami jalani belum tentu sesuai dengan model HS keluarga lainnya. Makanya, kenali dan terus cari tahu agar puzzle-puzzle itu pun membentuk jadi visi-misi kamu (tsaaah).
  2. Ketika sudah siap dengan pilihan untuk homeschooling, mulai dan teruslah bangun chemistry dengan seluruh anggota keluarga, terutama si buah hati kesayangan.
  3. Gali potensi diri, anak, hingga komunitas yang bersentuhan dengan keseharian.
  4. Eksplorasi semua sumber dan cara belajar agar proses berilmu lebih holistik.
  5. Mengingatkan diri sendiri agar pembelajaran itu berlaku buat seluruh keluarga, tidak hanya anak yang diajari saja.
  6. Menghargai proses dan tidak terpaku pada hasil melulu. Kenapa? Karena dalam proses belajar terkandung banyak nilai dan keahlian yang penting dalam proses persiapan anak menghadapi kehidupan.
  7. Membekali anak untuk masa depan dunia akhirat, bukan cuma ‘biar lulus dan dapat nilai bagus’. Jadi, coret-coret di seragam pas kelulusan? Hadeeeuh… masih musim ya? -_-
  8. Berjejaring dengan banyak komunitas pembelajar, dari mulai yang isinya homeschoolers, anak satu kelurahan, anak-anak masjid,  perkumpulan berbasis hobi, kemasyarakatan, sampai ROHIS Berkemajuan yang lagi viral sekarang (ciee cieee). Kalau kami lebih memilih komunitas ketimbang kursus-kursusan. Karena ya itu tadi, anak-anak juga ikut proses berlembaga bukan dilembagakan. Ga cuma bayar terus marah-marah karena hasil gak sesuai harapan (ini cuma contoh lhooo – jangan baper).

Nah… adakah yang membedakan posting yang ini dengan posting sebelumnya? Tentu saja ada. Apa ituuu?

Tadaaa! Yang sekarang ada videonya.  *krik krik krik*

Baiklah… Selamat menikmati dan abaikan watermarknya ya.

Salam,
Mierza Ummu Abdillah

My Reflection, Parenting

#BahagiaDiRumah Menyelamatkan Masa Depan Generasi

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Selamatkan generasi ini menjauh dari kesepian dan kehampaan. Kehadiran dan sentuhanmu sangat dirindukan.

Cobalah tengok linimasa sosmedmu sekarang. Lihatlah kisah-kisah yang disebut kekinian. Dari mulai anak-anak berseragam yang memajang kebodohan, menyia-nyiakan waktu berharga, hingga mencoba hal-hal jahat yang orang dewasa normal manapun tidak berani melakukannya. Alasannya satu: Perhatianmu wahai Ayah-Ibu.

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Pulanglah segera menemui anak-anakmu. Peluk dan bermainlah bersama mereka. Dengarkan ocehannya meski engkau sangat lelah. Kalimat-kalimat itu mungkin menurutmu tidak berarti, namun tidak bagi mereka. Hiasi wajah mereka dengan senyum dan tawa, Ayah dan Ibu. Jangan takut wibawamu jatuh. Justru, rasa sayangmu akan memelihara rasa hormat mereka padamu.

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Jadilah tempat bersandar anak-anak remajamu. Jadilah gua tempat berlindung dari dunia di luar sana yang tidak ramah. Tawarkan bahu nyamanmu dengan rasa nyaman persahabatan agar mereka leluasa bercerita tentang hari-hari yang penuh penat atau bahagia. Jangan takut mereka melangkahi dominasimu. Justru, rasa perdulimu akan membuat mereka memilihmu lebih dari apapun.

Apakah kalian tidak takut, wahai ayah dan ibu? Ketika anak-anakmu berpaling dan memilih para manusia jahat yang nampak seperti peri baik hati namun sesungguhnya  menginginkan sebaliknya? Bekali mereka dengan ilmu dan berdirilah di sisi mereka. Jangan berkata yang baik sedangkan sikapmu menunjukkan sebaliknya. Jadikan mereka yakin bahwa ayah dan ibu adalah manusia terbaik tempat kembali.

Apakah kalian tidak takut, wahai ayah dan ibu? Ketika remaja-remajamu lebih memilih untuk lari mengambil keputusan yang salah dan merasa nyaman dengannya? Bekali mereka dengan kehangatan. Yakinkan mereka bahwa kalian selalu ada dan sebenar-benarnya perduli lebih dari siapapun.

bahagiadirumah.jpgAda masa NOVAVERSARY (tabloid Nova yang merayakan masa ke-28 tahunnya) menjadi pengingat bahwa 28 tahun lalu, ketika ia mulai ada, keburukan belum merajalela. Kini, kita bersaing dengan kebobrokan yang dipoles indah di mata mereka. Kita berperang dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang dengan mudah mereka dapatkan.

Maka, beranilah untuk mengembalikan #bahagiadirumah. Belum terlambat untuk menyelamatkan generasi ini. Mari kita mulai…. hari ini.

Kajian Tauhid, Lectures of Life, My Thoughts

MISTERI USIA 40 TAHUN

life-begins-at-40-katanya.jpg

Kita sering sekali mendengar kata-kata “Life begins at 40” ini diucapkan atau dituliskan. Setiap orang mengartikannya berbeda. Namun, tahukah kita ayat Allah mana yang juga menyebutkan tentang misteri usia 40 ini?

Berikut nasihat dari Ustadz Subhan Bawazier pada kajian hari Senin, 8 Februari 2016 lalu mengenai misteri usia ini.

***

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan UMURNYA TELAH SAMPAI 40 TAHUN ia berdoa: ‘Ya Rabb tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku, sesungguhnya aku bertobat kepada engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’”. [QS. Al-Ahqaf (46): 15]”

Usia 40 tahun dianggap sebagai usia pertengahan, dimana Rasulullah menyebutkan usia ini adalah usai pertengahan kehidupan.

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih).

Pada usia ini pula Rasulullah mendapatkan wahyu. Maka sudah pasti ada rahasia Allah yang besar di balik ini. Berdasarkan surah dan hadits di atas, berikut apa yang bisa dipetik:

  1. Ketika usia 40, alangkah indah ketika kita sudah menyadari bahwa, “Allah yang mencipta dan Allah yang mencukupi.”  Baik yang sudah sadar maupun belum, teruslah meminta kepada Allah untuk menjadikan diri Hamba yang bersyukur.  Yakinilah bahwa dunia ini ‘serba mungkin’ sebagai mana yang telah ditunjukan Allah dalam bentuk pertandanya sebagai pembuatnya.
  2. Dalam segala hal, usia 40 memberikan hikmah. Kita menyadari bahwa kita tidak sendiri. Kita adalah bagian dari puzzle kehidupan orang lain.
  3. Usia ini mengingatkan kita bahwa ujian itu mendewasakan dan mendatangkan kebaikan. Lihatlah cara salafush shalih, orang terdahulu, dalam menghadapi ujian hidup. Mereka menganggap ujian adalah tempaan yang membuat seseorang berkarakter karena mereka tahu SIAPA yang menguji.
  4. Pada usia ini, seyogyanya kita terus berdoa agar semua yang dirasakan dan dilalui adalah semata-mata rahmat Allah. Berdoalah agar kita mampu berjalan tanpa kesombongan. Jikapun kita dicacri, berdoalah agar diri tidak merasa kecewa dengan gunjingan mahluk.
  5. Pada usia ini bersyukurlah akan nikmat yang paling besar: NIKMAT MENTAUHIDKAN ALLAH. Nikmat ini tak tergantikan, meski menjadikan kita Al Ghuraba .
  6. Di usia ini, kita disarankan untuk banyak bergaul dengan orang shalih. Banyaklah bergaul dengan orang yang mencintai masjid. MASJID ADALAH TEMPAT YANG PALING DICINTAI اللهdi muka bumi ini.
  7. Ketika kita bersama dengan orang lain, saudara, atau komunitas, tanyakan pada diri sendiri: “ APA YANG BISA SAYA BERIKAN?” bukan sebaliknya. Sebagai mana pun tidak menyenangkannya sebuah kelompok yang berisi muslim, BERTAHANLAH SELAMA ADA CELAH UNTUK KITA BERBUAT BAIK.  Dan berikan manfaat ketika kita berada bersama mereka.

Nasihat pun kemudian mengalir bagi para orang tua. Banyak hal yan bisa dilakukan agar anak-anak siap menuju usia pertengahan ini. Lakukanlah wahai orang tua, sebelum masa itu tidak. Lakukan mulai sekarang

  1. Jika hati mulai merasa rusak, banyak-banyaklah bergaul dan berkumpul dengan orang shalih.
  2. Jika anak tersibukan dengan akademis yang sangat duniawi dan hedonis, budayakan pesantren weekend atau kumpulkan anak-anak secara rutin untuk mengkaji Qur’an. Mentadaburinya. Jangan hanya terpaku di urusan sekolah atau nilai saja. Bekal ruhiyah sangatlah dibutuhkan agar kuat menghadapi dunia melewati usia.
  3. Mulailah buat lingkungan yang baik di sekitar anak-anak yang terdiri dari orang-orang yang bertakwa, belajar, dan berilmu. Buatlah lingkungan yang syar’i dan merujuk pada Al Qur’an.
  4. Biasakan anak-anak (dan kita) berhijrah jika menghadapi masalah. Maksudnya,hijrah dengan hati menuju الله dan Rosul-Nya. Lakukan flash back atau muhasabah.
  5. Biasakan bangun qiyamul lail (terutama setelah anak baligh) untuk menutrisi hati.
  6. Jangan biasakan menceritakan masa lalu yang buruk pada anak. Biarkan mereka belajar bahwa aib itu harus ditutupi dan ditangisi di hadapan Allah.
  7. Jadilah umat Islam yang mewarnai. Berdakwah dengan lisan tidak akan sekuat ketika kita menunjukan dengan perbuatan. Tunjukan bahwa umat Islam itu layak untuk diikuti.
  8. Umat Islam tidak mengenal hari libur. Muslim selalu berusaha mengisi waktu yang kosong, bertebaran di muka bumi setelah beribadah.
  9. Ajari untuk merasa rakuslah dalam beramal. Jangan pernah merasa cukup.

***

 

Alhamdulillah, Allah mengijinkan kami duduk dalam kajian tersebut. Sungguh banyak nasihat yang beliau sampaikan yang menjadi ibroh, utamanya bagi saya.

Jika usia kita dicukupkan hingga atau melewati 40, semoga jiwa dan diri ini tetap istiqomah dalam memegang Al Haq. Memang tidak mudah memegang bara api. Tapi ingatlah, yang mudah itu bukan istiqomah, tapi istirahat. Mari berdoa menjadi hamba yang dimudahkan menujutempat beristirahat yang sesungguhnya.

*Murajaah Kajian oleh Mierza Ummu Abdillah*

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Dua Pilihan: Cari Guru atau Berilmu

“Hah??? Anak-anakmu homeschooling? Terus yang ngajar siapaaaaa?”

Karena ini masih jadi pertanyaan favorit, mari kita lanjutkan posting tentang guru dan homeschooling ya.

Baiklah.

Idealnya yang jadi guru pada awal-awal masa pendidikan adalah kita, orang tuanya.

“Lha, kan ga punyaaa ilmunyaaaaa!”

Iyesss…. permisalannya begini… Kalau kita cuma punya beras, penanak nasi, dan tungku berbahan bakar kayu saat lapar (settingnya ga ada uang loh ya), apa yang harus dilakukan?

Terus, kalau ga bisa masak pake tungku kayu itu gimana? Apa iya ga usah makan? *krik krik krik*

Bisa jadi setiap Ibu memiliki cara sendiri. Kalau model saya yang punya kuota, ya browsing atau tanya grup masak-masak. Ibu yang canggih ilmu interpersonalnya bisa mulai tebar pesona ke tetangga. Atau, ada Ibu yang lebih memilih barter sama warung nasi terdekat untuk menukar sekilo beras dengan sebungkus nasi – saking ga mau masak .

Well, sama aja seperti homeschooling. Setiap keluarga punya visi dan misi yang berbeda. Dari sana aja bisa terlihat cara yang berbeda dalam mendidik anak. Ada yang memilih untuk berilmu duluuuu, belajar bareng di satu majelis ilmu, sampai memilihkan guru.

picsart_05-20-05.23.53.jpgGaris bawahi kata MEMILIHKAN GURU loh yaa, bukan memilih sekolah atau meminta lembaga lain untuk menyeleksi guru yang you-don’t-say kayak gimana. KITA a.k.a. ORANG TUA (yang memilih homeschooling) jauh lebih leluasa untuk bisa memilih pendidik adab anak-anak kita. Ya. Pendidik adab adalah kata yang dipakai oleh para salafush shalih saking pentingnya peran guru ini.

Jadi paham yaaaaa….

Next discussion: kualitas apa yang harus kita miliki sebagai pendidik adab? Atau, untuk siapapun yang mendidik dan mengajar anak-anak kita nanti, apa saja kriterianya?

Hmmm…. berhubung kita muslim, tentu kriteria-kriteria ini harus berdasarkan sumber yang shahih lho yaaaa….

Karena saya duluan ikut kajian kitab-kitab* parenting Islam yang keren, saya tuliskan beberapa poin kriteria pendidik adab di bawah ini ya. Semoga bisa menjadi cermin untuk memantaskan diri atau menyeleksi pengajar anak-anak kita. Oh ya.. saya ingatkan dulu. Saya ini cuma lebih dulu ikut kajian loh ya, bukan berarti lebih pinter atau shalihah. (Eh… tapi boleh kok diaminkan.:) )

FOKUS. So, what makes an educator?

1. Dari kalangan ahlus sunah

Maksud dari kalangan ahlus sunnah itu adalah siapapun yang mengikuti ajaran Rasulullah, para sahabat, dan generasi setelahnya yang mengikuti Rasulullah. Untuk ilmu-ilmu syar’i, ini penting sangat sebagai fondasi yang kokoh, terutama di masa-masa awal kehidupan. Daaan… ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang artinya:

“Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]

2. Punya kemampuan dan ilmu

Nah, kan, ilmu lagi. Lha iya, kalau ga ada ilmu, gimana ngajarnya? Syarat-syarat ilmu yang perlu dimiliki seorang pengajar itu salah tiganya dapat dijelaskan dalam hadits berikut ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal sendirian ke Yaman.

Sebagaimana dalam Shohihain dari hadits Ibnu Abas, Rasululloh bersabda (yang artinya) :

“Sungguh kamu akan menjumpai satu kaum dari ahli kitab, apabila kamu mendatangi merkea maka dakwahilah untuk bersaksi syahadatain, bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu setiap harinya. Bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shodaqah (zakat) yang diambil dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Apabila mereka mentaatimu dalam hal ini maka hati-hatilah dari harta-harta kesayangan mereka dan takutlah dari do’a orang mazhlum, karena tidak ada hijab antaranya dengan Allah. (HR Al Bukhori).

Dari hadits di atas, terdapat 3 faedah mengenai ilmu yang perlu dimiliki seorang pendidik:

a. Punya ilmu (syar’i). Muadz dipilih untuk berangkat SENDIRIAN karena ilmu.

b. Mengetahui kondisi yang didakwahi. Dalam mendidik anak-anak pun begitu. Cari tahu bagaimana cara mendidik yang benar sesuai kondisi mereka, dari mulai usia hingga gaya belajar. Semuanya.

c. Mengetahui cara berdakwah. Setelah mendapat diagnosa awal, kita harus tahu mau diapakan itu hasil diagnosanya? Cari ilmunya agar apa yang anak-anak pelajari benar-benar dipahami dan diamalkan. Jangan sibuk ngajar sendiri, tapi anak ga ngerti. Gitu kali ya intinya.

Terus, buat yang memilih mendatangi guru bagaimana? Ya idealnya orang tua duluan yang memenuhi kriteria itu, minimal nomor 2 dan 3, agar bisa memberi wasiat kepada sang pendidik adab.

3. Bisa menjadi contoh yang baik

Ini mah jelas yaaa… GuRu pan singkatan dari diGUgu dan diTIru. Untuk muslim ya jelaslah, siapa yang layak jadi idola. Allah telah mengabarkan dalam Qur’an surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

4. Mengamalkan Ilmunya

Ini sudah seriiing disinggung dalam posting posting sebelumnya. Sungguh ngeri euy, sanksinya bagi pendidik yang ga melakukan apa yang dia ucapka..

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

5. Memiliki Sifat Tawadhu Terhadap Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya.”

Lalu, mengenai ilmu ini, beliau melanjutkan,

“Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya.  “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml : 40).” (Al Fawa’id, hal. 149).

Ah, dengan kemudahan menebarkan ilmu dengar satu klik ini sungguh mengerikan dampaknya. Saat menulis ini pun, ada rasa kuatir akan adanya rasa ujub yang bersemayam di hati. Semoga tidak. Semoga bukan. Doakan jangan. Semoga kita menjadi pendidik adab yang mampu menerima kebenaran, meski dari anak kecil.

Done. Alhamdulillah. Jadi, belajar dulu.. belajar lagi.. belajar teruuuus. Insya Allah. Semangat yaaa para pendidik adab. ^____^

*Kitab-kitab yang dimaksud di atas diantaranya adalah Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan (Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi), serta Nida’ Ila Murobbiyin wal Murobbiyat dan Kayfa Nurabbi Auladana (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahumahullah).

Sumber lain:

http://klikuk.com/kaedah-memahami-islam/

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

Homeschooling Parents Pun Perlu Tahu Tahap-Tahap Belajar Ilmu Syar’i

image

“Kalau homeschooling, yang ngajar agama siapa?”

Guru dan homeschooling.

Itu salah satu pertanyaan yang (biasanya) paling sering ditanyakan setelah seseorang tahu bahwa satu keluarga memutuskan untuk gak sekolah.

Kalau dulu, saya mungkin bisa dengan pede mengatakan, “Ya fasilitasi aja. Kan sekarang ada Pakde Google. Belajar bareng. Ilmu agama? Kan ada yufid. Ada aplikasi.  Kajian tematik? Banyak. Kurang apa lagi???” Dan benih ujub dan kesombongan pun perlahan mulai mengakar di hati.

Sampai suatu ketika, dalam sebuah majelis ilmu syar’i yang berjalan di atas manhaj salafush shalih, hati ini pun tertampar. Seorang ibu yang nyata-nyata menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya perlu mengkaji  ilmu-ilmu itu terlebih dulu – idealnya. Karena….

BELAJAR AGAMA ITU ADA TAHAPANNYA.

Baik itu aqidah, tafsir, hadits, fiqih, ilmu bahasa, sirah, semuanya!

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (Al-Qashshash:50)” (Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

Alhamdulillah. Tamparan itu berbekas ilmu. Lalu, apa sajakah tahapan-tahapan itu ?

  1. Cari guru dan kitab yang benar.
  2. Untuk ILMU AQIDAH, agar tahapannya  benar, seorang penuntut ilmu sebaiknya memulai dengan kitab Al Ushul Ats Tsalatsah, lalu Al Qawaid Al Arba’, Kasyfus Syubhat dan Risalah Ushulil Iman. InsyaAllah, pendidikan pokok in akan mengokohkan akidah yang benar. Setelahnya, seorang penuntut ilmu bisa melanjutkan pada Kitab At Tauhid, Al Aqidah Al Washithiyyah milik Imam Mujaddin Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, kemudian Al Hamawiyyah, lalu At Tadmuriyyah, dan  Al Aqidah Ath Thahawiyyah. Setelah mutqin, seorang pembelajar dapat melanjutkan pada pembahasan sunnah yang terkenal diantaranya Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah milik Al Laalikaa-i, Kitab As Sunnah milik Al Khallal, Kitab As Sunnah milik Abdullah bin Ahmad bin Hambal , Al Ibanah milik Ibnu Bathah Al’Akbari, dan Kitab At Tauhid milik Ibnu Khuzaimah dan banyaaaak kitab-kitab lain yang termasuk dalam bidang ini.
  3. Untuk ILMU TAFSIR, yang paling masyhur tentunya kitab Tafsir Ibni Katsir (774H) rahimahullah dan Kitab Tafsir As Sa’di (1376H) rahimahullah. Lebih khusus lagi, Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir milik Muhammad Nasib Ar Rafi’i. Jika mampu menyelesaikan kitab-kitab tadi, maka pelajarilah Tafsir Al Baghawi (516H).
  4. Untuk ILMU HADITS, seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dari Al Arba’in An Nawawiyah untuk dihafal dan dipahami, juga membaca penjelasan yang terkandung di dalamnya. Lalu hendaknya secara bertahap mempelajari Umdatul Ahkam kemudian Bulughul Maram, juga dengan syarah-nya. Kemudian, setelah itu barulah ia mampu untuk mempelajari Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan Kutubus Sittah.
  5. Untuk ILMU FIQIH, tidak cukup hanya membaca hadits-hadits. Perlu sekali mengkaji kitab-kitab fiqih seperti Umdatul Fiqhi yang merinci permasalahan-permasalahan furu’ atau kitab Zaadul Mustaqni. Di antara syarah yang mudah dipelajari adalah kitab As Syarh Al Mumthi’ yang ditulis oleh Syaikh Al Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
  6. Sedangkan dalam Sirah Nabawiyyah, mulailah dengan mempelajari Mukhtashar Sirah Nabawiyyah. Kemudian, bisa mempelajari Sirah Nabawiyyah milik Ibnu Hisyam. No worries karena di zaman ini, alhamdulillah, kitab-kitab sirah sudah banyak yang diringkas. Tapi, tetaplah berhati-hati untuk mengkonsultasikan kitab tersebut kepada para guru yang diakui keilmuannya.

Done, then. Banyak kaaan?

Permasalahan berikutnya adalah… bagaimana kalau guru tersebut tidak ada, atau tempatnya jauh, atau tidak mungkin melakukan perjalanan karena safar tanpa mahram?

Tenang. Ada solusinya, insyaAllah.

Azzamkan dalam hati perkara menemui guru ini. Beli (atau download kalau ada) kitab-kitab tadi atau minimal terjemahannya. Baca lalu catat poin-poin yang penting dan ingin diketahui. Kumpulkan dan bawalah ketika ada kesempatan. Minta terus kemudahan kepada Allah. Bukankah Allah sebaik-baik penolong?

Referensi:

Kajian kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan karangan Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi

Tahapan Dalam Menuntut Ilmu

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

https://almanhaj.or.id/2764-kaidah-kaidah-menuntut -ilmu.html

Homeschooling

Ibu, Mari Didik Anak Untuk Dapat Duduk di Majelis Ilmu

***Mierza ummu Abdillah***

duduk dengan ulama

Linimasa sempat riuh rendah dengan pro dan kontra membawa atau tidak membawa anak ke majelis ilmu. Padahal, bukan tingkah polah si anak yang menjadi masalah. Tapi kita. Ya, kita. Orang tuanya.

Sudahkah kita mendidik anak untuk dapat dapat duduk bermajelis? Sudahkah kita mempelajari  adab penuntut ilmu? Apakah kita telah membekali dengan ilmu pengasuhan yang memadai? Apa kita benar-benar all out dalam menjaga anak kita atau kita bahagia melihatnya berjalan kesana kemari mengganggu yang lain sedang kita asik sendiri? Apa saja yang kita persiapkan untuk bisa duduk bersama anak di majelis ilmu? Berapa lama kita menyiapkannya? Sudahkah dihitung durasi dan apa saja yang kita persiapkan?

Tunggu… Apa kita sudah kita mencoba? Sekali? Dua puluh kali? Apa kita lelah dan memilih untuk menunggu saja anak besar? Jika ya, itu belum mencoba namanya. Itu berhenti berusaha. Mencoba itu artinya saat anda membaca ini, anda masih berjuang untuk datang bersama anak-anak meski hanya dua menit pertama, lalu Anda keluar. Dan akan ada terus episode itu hingga Allah memperkenannya duduk di majelis dengan adab seorang penuntut ilmu.

“Anak saya kinestetik. Gak bisa diem. Apa bisa?”

InsyaAllah. Allah yang menjadikan segalanya mungkin. Saya sudah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun sebagai pendidik dan saya sudah sering melihat anak yang dicap kinestetik mampu duduk memperhatikan dengan lama dan benar. Tapi, tentunya itu bukan sesuatu yang instan. Perlu perjuangan yang insyaAllah bermanfaat bagi keluarga kita.

“Tapi, itu berat. Saya malu dilihat yang lain.”

I’ve been there, felt that, still do. Tapi, tidakkah kita ingin anak-anak kita seperti apa yang mereka lihat? Mencontoh dari para ahli ilmu dan pencari ilmu? Mencontoh manusia-manusia yang mendatangi majelis demi mendapat ilmu? Mendidik seperti salafush shalih dan ulama-ulama setelahnya?

Dari Abi ‘Ashim: “Aku pergi bersama anakku menemui Ibnu Juraij, padahal anakku masih kurang dari 3 tahun. Beliau menyampaikan hadits dan Al Qur’an”. Kemudian Abu Ashim berkata, “Tidak mengapa untuk diajarkan kepada anak ini hadits dan Al Qur’an pada usia demikian dan yang semisalnya.” [Al Kifayal lil Khatib]*

Berkata Imam Malik, “Ibuku kemudian memegang diriku dan memakaikan pakaian yang disingsingkan, lalu beliau meletakkan sesuatu yang tinggi di kepalaku dan memakaikan sorban di atasnya.” Kemudian Ibuku berkata, “Pergilah sekarang dan catatlah.” (Almuhadits Alfashil)*

Mendidik itu memang tidak ringan. Ungkapan ‘It takes a village to raise a child’ itu akan kita dapatkan dalam majelis ilmu, insyaAllah. Coba tengok apa yang dikatakan Zakariya bin Ziyad An Nabawiy di bawah ini.

Adalah guru kami telah berkata: “Duduklah kaliam bersama para ulama, dikarenakan jika kamu benar, mereka akan memujimu. Dan jika kamu salah, mereka akan mengajarimu. Dan jika kamu tidak punya ilmu, maka mereka tidak akan mencercamu. Dan janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang jahil (tidak punya ilmu), karena jika kamu benar, mereka tidak akan memujimu. Dan jika kamu tidak tahu tentang sesuatu, maka mereka akan mencercamu. Dan, apabila mereka bersaksi untukmu, maka (kesaksian) mereka tidak akan bermanfaat bagimu.”(Akbaril Qudhah)*

Mungkin kita mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti mendapat cibiran, pandangan sinis, sampai ucapan yang tidak menyenangkan dari beberapa gelintir penghuni majelis. Tapi ingat, parenting has ups and downs, doesn’t’t it? Selain itu, masih baaanyak penghuni majelis ilmu yang bersedia membantu kita mendidik anak. Ya, mendidik. Jadi yaaaa… nikmati perjalanan mendidik itu. Take it. Don’t leave it. Coz’ it’s well worth the result – insyaAllah.

*Kutipan diambil dari kajian rutin kitab Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan.

My Reflection, My Thoughts

Tahapan Menuntut Ilmu

image

Di tengah-tengah semangat menuntut ilmu dan kemudahan mendapatkannya dengan satu satu klik saja, terkadang kita (saya) lupa dan menjadi pongah. Padahal, jika kita benar-benar belajar sesuai tingkatan dan urutannya, sungguh kita akan semakin haus untuk terus bermajelis. Semakin tahu, kita merasa semakin kecil. Bukankah belajar tidak seharusnya berhenti setelah kita lulus? Lalu kenapa anak-anak itu berteriak ‘bebas’ setelah belajar 12 tahun di sekolah? Apa yang bebas? Semoga bukan bebas belajar… Karena jika itu yang lantang diteriakkan, maka tahun-tahun mereka ‘belajar’ di sekolah itu tidaklah benar-benar belajar.

(Mierza Ummu Abdillah)

————————————————————————————————————————
*📌 Program BETAH (Belajar Tauhid)*

Quote: 002

Asy Syafi’i رحمه اللّه berkata

أخي لن تنال العلم الا بستة سأنبيك عن تفصيلها ببيان: ذكاء و حرص و اجتهاد و درهم و صحبة أستاذ و طول زمان

*”Wahai saudaraku….ilmu itu tidak diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya:*

(1) kecerdasan
(2) semangat
(3) bersungguh-sungguh
(4) adanya bekal harta
(5) belajar dengan ustadz
(6) membutuhkan waktu yang lama

___________________
BBM: 59957910
WhatsApp: 0898-60-1-70-70
Line: http://line.me/ti/p/%40dxn3713g
Telegram: @itauhid
Website: http://www.indonesiabertauhid.com
——————-
♻ Silakan disebarluaskan

Kajian Tauhid

[MURAJAAH KAJIAN 3] Sekedar Pengakuan Allah Adalah Pencipta Dan Pemberi Rezeki Saja Tidak Cukup

***SUMBER: KAJIAN WA BELAJAR TAUHID PERTEMUAN KETIGA***

image
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

✅1. 👉🏻 Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadi Pelindung anda di dunia dan akhirat serta agar anda diberkahi dimanapun berada.

✅2. 👉🏻 Saudaraku, ketahuilah keberkahan hidup hanya dapat diraih dengan menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang benar-benar bertauhid kepada Nya.

✅3. 👉🏻 Kami juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar anda dijadikan orang yang apabila mendapat nikmat pandai bersyukur, jika mendapat ujian mampu bersabar serta jika melakukan perbuatan dosa segera memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.

✅4. 👉🏻 Ketiga hal tersebut merupakan tiga  tanda kebahagian seorang hamba, sekaligus ciri seorang hamba Allah yang benar-benar merealisasikan tauhid kepada Nya.

✅5. 👉🏻 Ketahuilah Saudaraku, poros dakwah para Nabi ‘alaihimussalam adalah satu. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam,
الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
“Para Nabi saudara seayah, ibu mereka berbeda namun agama mereka satu”.(HR. Bukhari)

✅6. 👉🏻 Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai contoh bagi Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami (Allah) wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang yang berbuat kemusyrikan”. (QS. An Nahl : 123).

✅7. 👉🏻 Allah ‘Azza wa Jalla menyebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan sebutan hanif. Karena beliau hanya menyembah Allah dan berlepas diri dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah Tabaraka wa Ta’ala.

✅8. 👉🏻 Ketahuilah wahai saudaraku, semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan tidak mungkin sia-sia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengabarkan perkataan orang-orang yang memiliki akal.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا

“Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia”. (QS. Ali ‘Imran: 191).

✅9. 👉🏻 Apakah kita mengira kita manusia diciptakan sia-sia ? Dibiarkan begitu saja ?
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira kami biarkan mereka sia-sia”. (QS. Al Qiyamah: 36).

Mujahid, Al-Imam Syafi’i dan ‘Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam rahimahumullah menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan sia-sia” yaitu tidak diperintahkan dan dilarang ? (Tafsir Ibnu Katsir)

✅10. 👉🏻 Maka tentulah dalam penciptaan kita terdapat tujuan yang sangat mulia yaitu agar kita benar-benar bertauhid kepada Sang Pencipta yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku (Allah) menciptakan seluruh manusia dan jin melainkan untuk bertauhid/beribadah kepada Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

✅11. 👉🏻 Ketika kita telah mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita untuk hanya beribadah kepada Nya. Maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah disebut, tidaklah teranggap sebagai ibadah melainkan harus disertai tauhid.

✅12. 👉🏻 Sebagaimana shalat tidak disebut, tidak dianggap shalat melainkan sebelumnya harus disertai dengan thoharah /bersuci.

✅13. 👉🏻 Kedua hal ini merupakan hal yang disepakati para ulama berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.

✅14. 👉🏻 Demikianlah, apabila syirik menyusup masuk dalam ibadah maka ibadah tersebut akan rusak, batal dan tidak teranggap. Sebagaimana jika seseorang yang telah bersuci mengeluarkan hadats.

✅15. 👉🏻 Saudaraku, ketika anda telah mengetahui apabila syirik bercampur dalam ibadah maka dia akan merusak ibadah anda, membatalkan amalan anda serta menjadikan pelakunya kekal di neraka.
Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nisa : 48).

✅16. 👉🏻 Saudaraku, mengetahui kesyirikan merupakan sebuah hal yang sangat penting agar anda terlepas, terbebas dari kemusyrikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

✅17. 👉🏻 Salah satu cara termudah bagi anda untuk memahami kesyirikan adalah dengan memahami empat point yang akan disebutkan.

✅18. 👉🏻 Point Pertama, ‘Ketahuilah bahwa orang-orang kafir yang Nabi Shallalahu  ‘alaihi wa Sallam diperintahkan untuk memeranginya, mereka adalah orang-orang yang mengakui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Namun semata-mata sekedar pengakuan ini semata tidak dapat memasukkan mereka ke dalam Islam’.

✅19. 👉🏻 Artinya mereka paham, mengerti betul bahwa berhala, patung, batu, pohon yang mereka sembah itu bukan pencipta mereka. Mereka bukanlah sedungu apa yang kita bayangkan. Mereka benar-benar paham bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Pencipta Alam Semesta yang termasuk di dalamnya manusia.

✅20. 👉🏻 Namun sayang wahai saudaraku, sebatas ini keyakinan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla belumlah cukup untuk memasukkan mereka ke dalam Islam melainkan tetap dianggap di atas kekafiran.

✅21. 👉🏻 Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallalahu  ‘alaihi wa Sallam agar bertanya sekaligus berargumentasi dengan mereka.

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah (Muhammad kepada mereka), “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mampu mengeluarkan sesuatu yang hidup dari yang mati dan yang mampu mengeluarkan sesuatu yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan ?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah (kepada mereka), “Mengapa kamu tidak hanya beribadah/menyembah kepada Nya ?”. (QS. Yunus [10] : 31).

✅22. 👉🏻 Demikianlah juga dengan orang-orang setelah mereka. Apabila keyakinan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala baru sebatas mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta Alam Semesta. Maka itu belum cukup untuk menjadikannya seorang muslim. Hingga dia hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meniadakan selain Nya. Barulah dia teranggap sebagai seorang muslim hakiki.

✅23. 👉🏻 Artinya ketika seseorang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Jika yang dia maksudkan adalah tidak ada Pencipta, Pengatur dan Penguasa Alam Semesta kecuali Allah. Maka hal itu belumlah cukup memasukkan ke dalam Islam. Hingga dia benar-benar menyakini bahwa tidak ada sesuatu yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berlepas diri dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

💐 Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tatimmush shaalihaat
(Segala puji bagi Allaah yang dengan nikmat-Nya lah segala kebaikan menjadi sempurna)

✒ Tim Indonesia Bertauhid
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
——————————————————————————————————————————

Ziyadah Satu

Mengenal Allah dan Rajin Ibadah

Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam. Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah sama sekali. Atau lebih parah lagi mereka mengira bahwasanya kaum kafir Quraisy adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya Allah [?!] Duhai, tidakkah mereka memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lembaran sejarah yang tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits ?

Kaum Kafir Quraisy Betul-Betul Mengenal Allah

Janganlah terkejut akan hal ini, cobalah simak firman Allah ta’ala,

Dalil pertama, Allah ta’alaberfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”(QS. Yunus [10]: 31)

Dalil kedua, firman Allahta’ala,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf : 87)

Dalil ketiga, firman Allahta’ala,

لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. al-’Ankabut: 63)

Dalil keempat, firman Allahta’ala,

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. an-Naml: 62)

Perhatikanlah! Dalam ayat-ayat di atas terlihat bahwasanya orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun, pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyah Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh karena itu, Allah katakan terhadap mereka,

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf : 106)

Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.”

‘Ikrimah mengatakan,”Jika kamu menanyakan kepada orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya juga.” (Lihat Al-Mukhtashor Al-Mufid, 10-11)

Syaikh Shalih Al-Fauzanhafizhahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada masa itu mengakui Allahsubhanahuwata’ala adalah pencipta, pemberi rezki serta pengatur urusan hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini di tangan Allah lah terletak kekuasaan segala urusan, dan tidak ada seorangpun diantara kaum musyrikin itu yang mengingkari hal ini (lihatSyarh Kitab Kasyfu Syubuhaat) Dan janganlah anda terkejut apabila ternyata mereka pun termasuk ahli ibadah yang mempersembahkan berbagai bentuk ibadah kepada Allahta’ala.

Kafir Quraisy Rajin Beribadah

Anda tidak perlu merasa heran, karena inilah realita. Syaikh Muhammad At Tamimirahimahullahmenceritakan bahwasanya kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka juga menunaikan ibadah haji, bersedekah dan bahkan banyak berdzikir kepada Allah. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik juga berhaji dan melakukan thowaf adalah dalil berikut.

Dan telah menceritakan kepadaku Abbas bin Abdul ‘Azhim Al Anbari telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Yamami telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Abu Zumail dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu orang-orang musyrik mengatakan; “LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilanMu wahai Dzat yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ فَيَقُولُونَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

“Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan.” Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai).” Mereka mengatakan ini sedang mereka berthawaf di Baitullah. (HR. Muslim no. 1185)

Mengomentari pernyataan Syaikh Muhammad At Tamimi di atas, Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa kaum musyrikin Quraisy yang didakwahi oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamadalah kaum yang beribadah kepada Allah, akan tetapiibadah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka karena ibadah yang mereka lakukan itu tercampuri dengan syirik akbar. Sama saja apakah sesuatu yang diibadahi disamping Allah itu berupa patung, orang shalih, Nabi, atau bahkan malaikat. Dan sama saja apakah tujuan pelakunya adalah demi mengangkat sosok-sosok tersebut sebagai sekutu Allah atau bukan, karena hakikat perbuatan mereka adalah syirik. Demikian pula apabila niatnya hanya sekedar menjadikan sosok-sosok itu sebagai perantara ibadah dan penambah kedekatan diri kepada Allah. Maka hal itu pun dihukumi syirik (lihatSyarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Dua Pelajaran Berharga

Dari sepenggal kisah di atas maka ada dua buah pelajaran berharga yang bisa dipetik.Pertama; pengakuan seseorang bahwa hanya Allah lah pencipta, pemberi rezki dan pengatur segala urusan tidaklah cukup untuk membuat dirinya termasuk dalam golongan pemeluk agama Islam. Sehingga sekedar mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur belum bisa menjamin terjaganya darah dan hartanya. Bahkan sekedar meyakini hal itu belum bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan Allah.

Kedua; apabila peribadatan kepada Allah disusupi dengan kesyirikan maka hal itu akan menghancurkan ibadah tersebut. Oleh sebab itu ibadah tidak dianggap sah apabila tidak dilandasi dengan tauhid/ikhlas (lihatSyarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Dengan demikian sungguh keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwasanya tauhid itu cukup dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan dengan modal anggapan yang terlanjur salah ini maka merekapun bersusah payah untuk mengajak manusia mengenali bukti-bukti alam tentang keberadaan dan keesaan wujud-Nya dan justru mengabaikan hakikat tauhid yang sebenarnya. Atau yang mengatakan bahwa selama orang itu masih mengucapkan syahadat maka tidak ada sesuatupun yang bisa membatalkan keislamannya. Atau yang membenarkan berbagai macam praktek kesyirikan dengan dalih hal itu dia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Atau yang mengatakan bahwa para wali yang sudah meninggal itu sekedar perantara untuk bisa mendekatkan diri mereka yang penuh dosa kepada Allah yang Maha Suci. Lihatlah kebanyakan praktek kesyirikan yang merebak di tengah-tengah masyarakat Islam sekarang ini, maka niscaya alasan-alasan semacam ini -yang rapuh serapuh sarang laba-laba- yang mereka lontarkan demi melapangkan jalan mereka untuk melestarikan tradisi dan ritual-ritual syirik.

‘Kita ‘Kan Tidak SebodohKafir Quraisy’

Barangkali masih ada orang yang bersikeras mengatakan,“Jangan samakan kami dengan kaum kafir Qurasiy. Sebab kami ini beragama Islam, kami cinta Islam, kami cinta Nabi, dan kami senantiasa meyakini Allah lah penguasa jagad raya ini, tidak sebagaimana mereka yang bodoh dan dungu itu!” Allahu akbar, hendaknya kita tidak terburu-buru menilai orang lain bodoh dan dungu sementara kita belum memahami keadaan mereka. Saudaraku, cermatilah firman Allah ta’ala,

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)

“Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.’”(QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

Nah, ayat-ayat di atas demikian gamblang menceritakan kepada kita tentang realita yang terjadi pada kaum musyrikin Quraisy dahulu. Meyakini tauhid rububiyah tanpa disertai dengan tauhid uluhiyah tidak ada artinya. Maka sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik haji akan tetapi mereka justru berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani. Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah. Dan mereka juga sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka jadikan perantara itu bukanlah pencipta, penguasa jagad raya dan pemeliharanya. Sungguh persis kesyirikan hari ini dengan masa silam. Sebagian orang mungkin berkomentar, “Akan tetapi mereka ini ‘kan kaum muslimin” Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab,“Maka kalau dengan perilaku seperti itu mereka masih layak disebut muslim, lantas mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak kita sebut sebagai muslim juga ?! Orang yang berpendapat semacam itu tidak memiliki pemahaman ilmu tauhid dan tidak punya ilmu sedikitpun, karena sesungguhnya dia sendiri tidak mengerti hakikat tauhid”(lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi dan Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

http://indonesiabertauhid.com/kafir-quraisy-juga-mengenal-allah-dan-rajin-ibadah/


———————————————————————————————————————〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

ZIYADAH 2

Membekali Diri Dengan Tauhid

Pengertian Tauhid

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah– memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah kata benda yang berasal dari perubahan kata kerja wahhada – yuwahhidu yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat (Al Qaul Al Mufid, 1/5)

Syaikh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal Dzat dan sifat-sifat-Nya, tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadatan, tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para Nabi dan Rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya maka hal itu tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama (Ibthal At Tandid, hal. 5-6)

Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ‘La ilaha’ adalah penafian/penolakan, maksudnya kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ‘illallah’ adalah itsbat/penetapan, maksudnya kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah (At Taudhihat Al-Kasyifat, hal. 49)

Tauhid dan Iman Kepada Allah

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan –hafizhahullah- menjelaskan bahwa hakekat iman kepada Allah adalah tauhid itu sendiri. Sehingga iman kepada Allah itu mencakup ketiga macam tauhi yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat (Al Irsyad ila Shahih Al I’tiqad, hal. 29). Di samping itu, keimanan seseorang kepada Allah tidak akan dianggap benar kalau hanya terkait dengan tauhid rububiyah saja dan tidak menyertakan tauhid uluhiyah. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada kaum musyrikin dahulu yang juga mengakui tauhid rububiyah. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi dan mengajak mereka untuk bertauhid. Hal itu dikarenakan mereka tidak mau melaksanakan tauhid uluhiyah.

Urgensi Tauhid Bagi Setiap Insan

Kepentingan manusia untuk bertauhid sungguh jauh berada di atas kepentingan mereka terhadap makanan, minuman atau tempat tinggal. Kalau seseorang tidak makan atau minum, akibat terburuk yang dialami hanyalah sekedar kematian. Namun, kalau seseorang tidak bertauhid barang sekejap saja dan pada saat itu dia meninggal dalam keadaan musyrik, maka siksaan yang kekal di neraka sudah siap menantinya.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّه ُمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah (dalam beribadah) maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka…”(QS. al-Ma’idah [5]: 72)

Bahkan amalnya yang bertumpuk-tumpuk selama hidup pun akan menjadi sia-sia apabila di akhir hidupnya dia telah berbuat syirik kepada Rabb-nya dan belum bertaubat darinya. Allah ta’ala berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika kamu berbuat syirik, akan lenyaplah semua amalmu, dan kamu pasti akan tergolong orang yang merugi.” (QS. az-Zumar [39]: 65)

Dan, kalaulah kita mau merenungkan untuk apa kita diciptakan di alam dunia ini niscaya kita akan memahami betapa agung kedudukan tauhid dalam hidup ini. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. adz-Dzariyat [51]: 56). Makna beribadah kepada Allah di sini adalah mentauhidkan Allah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– mengatakan, “Apabila engkau telah mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu untuk beribadah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ibadah tidak akan disebut sebagai ibadah (yang hakiki) apabila tanpa disertaitauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak disebut sebagai sholat jika tidak disertai dengan thaharah (bersuci). Maka apabila syirik merasuk ke dalam suatu ibadah, niscaya ibadah itu menjadi batal. Sebagaimana hadats jika terjadi pada (orang yang sudah melakukan) thaharah…” (Majmu’ah Tauhid, hal. 7)

Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena sesungguhnya jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan hati dan ruh kecuali dengan (pertolongan) Rabbnya, yang tiada ilah (sesembahan) yang benar untuk disembah selain Dia. Sehingga ia tidak akan bisa merasakan ketenangan kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Rabbnya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I/24. Dikutip dengan perantara Kitab TauhidSyaikh Shalih al-Fauzan, hal. 43)

Siapa yang merasa tauhidnya sudah hebat?!

Allah ta’ala mengisahkan do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di dalam ayat-Nya

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada arca-arca.” (QS. Ibrahim [14]: 35)

Ibrahim At Taimi mengatakan, “Lalu siapakah yang lebih merasa aman dari bencana kesyirikan selain Ibrahim[?]”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan –rahimahullah– mengatakan, “Tidak ada lagi yang merasa aman dari terjatuh dalam kesyirikan selain orang yang bodoh terhadap syirik dan juga tidak memahami sebab-sebab yang bisa menyelamatkan diri darinya; yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang ajaran Rasul-Nya yaitu mentauhidkan-Nya serta larangan dari perbuatan syirik terhadapnya.” (Fathul Majid, hal. 72)

Demikianlah sekilas mengenai pentingnya tauhid dalam kehidupan kita. Semoga kita tergolong hamba-hamba yang mentauhidkan Allah dengan sebenar-benarnya. Kalau orang semulia Nabi Ibrahim‘alaihis salam saja masih takut terjerumus syirik, lalu bagaimana lagi dengan orang seperti kita. Wallahul musta’an. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

http://indonesiabertauhid.com/membekali-diri-dengan-tauhid/

——————————————————————————————————————————–〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

ZIYADAH 3

Mari Tinjau Kembali Istilah tentang Tauhid

#IndonesiaBertauhid

-Bro, pernah dengar gak ungkapan:
“Jangan syiriklah (iri) dengan keberhasilan gue”
“kalau saya sih gak munafik, butuh uang juga”

-Dalam istilah syariat kata: syirik dan munafik itu agak berbeda maknanya

-Begini bro, sebenarnya masalah istilah dan ungkapan jika sesuai dengan maksud bahasa itu sendiri gak masalah

-Kalau memang makna bahasa untuk masyarakat itu, makna syirik adalah iri dan dipahami mereka seperti itu, maka tidak masalah, ya karena itu bahasa mereka

-Akan tetapi yang menjadi masalah jika kita sebagai seorang muslim tidak paham makna ini secara syariat atau malah bisa bercampur sehingga mengkaburkan makna syariatnya

-Istilah Syirik dan munafik ini diajarkan dalam pelajaran TAUHID

-Syirik dalam makna syariat adalah lawan dari TAUHID yang bermakna menyekutukan Allah dalam hak-hak khusus Allah berupa ibadah, Syirik adalah larangan terbesar dalam agama

-Sedangkan munafik dalam syariat, ada dua yaitu:

1. Munafik i’tiqadiy (amalan Hati)
ada yang menyebutnya juga nifak akbar yang bisa membuat pelakunya keluar dari Islam dan mendapat adzab yang paling berat melebihi siksaan orang kafir di akhirat

Contoh nifak i’tiqodi:

-Mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

-Mendustakan sebagian ajaran Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam

-Benci pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

-Benci pada sebagian ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

-Senang melihat agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam direndahkan

-Tidak senang jika agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan kemenangan

JADI JANGAN SAMPAI KITA TIDAK SENANG ATAU TIDAK RIDHA DENGAN SATUPUN AJARAN ISLAM

Misalnya mungkin dia berat memakai jilbab, tetapi masih yakin bahwa itu wajib, hanya malas saja, maka tidak masuk munafik i’tiqadiy ini

Justru yang berjilbab, tetapi hatinya senang dengan hancurnya Islam, dialah munafik i’tiqady

2. Munafik amaliy (perbuatan)
ini tidak sampai mengeluarkan dari agama Islam, masih tetap muslim hanya saja diminta agar taubat nashuha dan bersungguh-sungguh dalam taubat

Contohnya sebagaimana hadits :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga :
(1)Jika berbicara berdusta
(2) jika berjanji tidak menepati
(3) dan jika dipercaya dia berkhianat”
(HR. Bukhari dan Muslim)

dan dalam riwayat lain disebutkan :

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ

”(4) Jika berselisih, maka dia akan berbuat dhalim,
(5) dan jika berjanji dia melanggar”.

-Semoga kita dijauhi dari sifat munafik karena para sahabat sangat dan orang shalih sangat khawatir terjerumus dalam hal ini

Penyusun: Raehanul Bahraen

indonesiabertauhid.com/mari-tinjau-kembali-istilah-tentang-tauhid/

——————————————————————————————————————————- 〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Soal Latihan  BETAH Pekan 3

❗📑Sekedar Pengakuan Allah Adalah Pencipta Dan Pemberi Rezeki Saja Tidak Cukup 📑❗

1⃣. Apa tiga tanda kebahagiaan Seorang hamba?

2⃣. Apa yang dimaksud dengan hanif ?

3⃣. Apakah tujuan penciptaan manusia ? Mana dalilnya.

4⃣. Sebutkan contoh-contoh sifat kemunafikan yang mengeluarkan dari Islam .

5⃣.  Apa yang dimaksud dengan makna tauhid secara syariat ?

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Jawaban Latihan Pekan 3

❗📑Sekedar Pengakuan Allah Adalah Pencipta Dan Pemberi Rezeki Saja Tidak Cukup 📑❗

1⃣. Bersyukur jika mendapat nikmat, bersabar jika mendapat musibah, bertaubat jika bermaksiat.

2⃣. Hanya menyembah Allah dan berlepas diri dari peribadatan kepada selainNya.

3⃣. Untuk beribadah kepada Allah semata. Adz Dzariyat : 56

4⃣. Mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

❗Mendustakan sebagian ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

❗Benci pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

❗Benci pada sebagian ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

❗Senang melihat agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam direndahkan

❗Tidak senang jika agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan kemenangan

5⃣. Mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat (Al Qaul Al Mufid, 1/5)

_Jazaakumullaahu khayran ‘alaa ihtimaamikum_
(Semoga Allaah membalas kalian dengan kebaikan atas perhatian kalian)

🌏Dengan Tauhid, Masuk Surga Sekeluarga🌎

Homeschooling, My Reflection, My Thoughts, Parenting

MENDESAIN ULANG BUKU CEKLIS RAMADHAN

Ramadhan sebentar lagi!

~ Mierza Ummu Abdillah ~

Jadi kembali teringat masa2 ketika harus mengisi buku Ramadhan. Ceklis shalat, puasa, sampai berburu stempel masjid dan tanda tangan penceramah. Teruuuuus begitu, sampai saya jadi remaja cerdik.

Ya, cerdik. Tinggal ceklis2 atau silang2. And, so what?

image

Tapi ketika dapat guru agama yang menilai dari jumlah ceklis, si cerdik itu mengubah jumlah ceklis dengan kenyataannya. Ya. Manipulasi. And, so what?

Untuk catatan terawih, tinggal salin ceramah, atau minta anak lain tuliskan, lalu titip buat dicap dan tanda tangan. Beresss. Kami yang remaja2 cerdik ini tinggal jajan sambil cekikikan sementara yang lain shalat. “Masih mending kita ke masjid. And, so what?”

Dan saya pun bertumbuh jadi remaja baligh tanpa aqil. Manusia tang hidup untuk hari ini.

***

Kini, berganti waktu dan peran. Si remaja itu kini jadi seorang ibu yang menghadapi Ramadhan. Seru.. karena ini Ramadhan oertama sebagai homeschooling family. Sempat terpikir membuatkan buku ceklis dan ceramah untuk anak2 yang ga sekolah kayak ‘waktu itu’..
Sampai Qadarullah… terlintas kenangan tadi.

Setelah ditimbang, dibungkus, dan diberi label *eh* langsung terkesiap…

Lhaaa.. ngapain emak homeschoolers bikin yang begiiniiii? Hadeeeuh… Emang susyah menghalau mindset schooling, yah…

Paham sih alasan sekolah memberi itu. Mereka perlu alat kendali untuk memastikan murid2nya ke masjid dan ‘beribadah’ di bulan Ramadhan. Perkara nanti itu ceklis cuma jadi wacana aja, yang penting udah terlaksana. Done. Pendidikan karakter, katanya.

Oke, balik ke tema keluarga sendiri. Terus piyee program Ramadhannya?

Hehe.. tenang… ‘buku ceklis’ itu tinggal direkonstruksi aja kok (kalau emang keukeuh bikin yang begitu). Jadi gak cuma alat kontrol aja, tapi reminder orang tua.

Missaaal….

Kalau sebelumnya minta stempel dan tanda tangan masjid, sekarang tiap abis tarawih buat halaqah kecil di rumah buat diskusi isi ceramah bareng bocah2. Atau malah gantian menyampaikan isi ceramah.

Kalau sebelumnya anak2 yang ceklis, ini ayah/ibu yang ceklis setiap ngajak anaknya shalat atau sahur.

Kalau sebelumnya cuma anak2 yg isi hafalan dengan ayat/ surat yang baru dihafal, sekarang di halaman yang sebelahnya Ibu/ ayah ikutan isi juga.

Intinya: Children see, children do.

Lagian, di Islam tu ngeri banget lho ancaman ortu yang menyuruh tanpa melakukan yang disuruh. Dibenci ألله emang mau? Saya sih nggak. 🙂

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Jadi, ayo kita belajar bersama.
Ramadhan Mubarak!

Kisah perjalanan klastulistiwa.com

Homeschooling, Lectures of Life, Parenting

KEUTAMAAN MENDIDIK ANAK DAN BERSABAR DENGAN PROSES

بسم الله الرحمن الرحيم

image

Ilmu sebelum amal. Seorang (Muslim) perlu mempelajari hal yang diperlukan sebelum berbuat dan mengambil keputusan, bukan? Demikian pula sebelum mengambil keputusan homeschooling atau sekolah.

Kajian kitab-kitab parenting* yang saya ikuti sebelumnya membuka cakrawala saya untuk bisa meluruskan praktek Homeschooling yang sudah berjalan tanpa landasan ilmu Diin yang cukup. Kajian-kajian itu menjadi landasan mengenai cara mendidik anak-anak Muslim berdasarkan aqidah yang shahih, kecerdasan emosional, serta adab yang ditunjukkan kepada Rabb, manusia, dan makhluk sekitarnya.

Bab-bab pengasuhan dalam kitab-kitab Islam ini sangat menyeluruh, mendalam, dan aplikatif. Kita akan tahu bahwa kita akan tiba di akhir-akhir pembahasan jika sudah menyentuh bagian ‘punishment’. Ya, hukuman – yang sebenarnya tidak seseram penerjemahannya.

Dan sebagai pengingat, peran saya di sini yaitu sebagai praktisi. Ya, praktisi pengasuhan anak. :) Jadi, mari belajar bersama.

KEUTAMAAN MENDIDIK ANAK DAN BERSABAR DENGAN PROSESNYA

– Mierza Miranti –

Mendidik anak adalah anugerah terbesar bagi seorang manusia. Anugerah ini memberikan kesempatan kepada orang tua untuk meraih amal-amal yang paling mulia. Ya, mulia dan bahagia dunia akhirat, insyaAllah. Tentu dengan syarat apabila amalan-amalan mendidik anak ini dijalani dengan ikhlas karena Allah dalam mengarahkan anak-anaknya kepada agama, akhlaq, dan pengajaran yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’ad)

Bahagiakah kita sebagai orang tua jika ternyata SATU ORANG yang diberi petunjuk oleh Allah itu adalah anak-anak kita sendiri? Yang mana kita tahu bahwa mereka adalah SALAH SATU dari tiga perkara yang masih menyalurkan amalan meski setelah kita meninggal?

Sebagaimana hadits yang mahsyur dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau DOÁ ANAK YANG SHOLEH” (HR. Muslim no. 1631)

Pertanyaan berikutnya? Apakah anak yang sholeh itu sesuatu yang instan didapatkan sekeluarnya anak dari rahim sang Ibu? Apakah anak yang kita berikan segala yang ia mau akan menjadikannya anak yang Shalih? Apakah anak yang kita biarkan begitu saja sehingga dia akan terekspos dengan banyak hal dari kebenaran hingga penyimpangan dalam hidupnya akan menjadi anak yang shalih? Takutkah kita akan laporan pertanggung jawaban di hadapan Allah jika mengesampingkan kewajiban mendidik anak dengan sumber yang shahih?

Bukankah Rasulullah bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ِ
“Masing-masing kalian adalah pengembala, dan masing-masing kalian bertanggung jawab atas pengembalanya” (Muttafaqun’alaih)

Ya, kita adalah penggembala yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak kita. Kita tahu bahwa perjalanan mendidik itu tidak terjadi dalam hitungan hari. Kita juga tahu bahwa tenaga dan pikiran kita diperas untuk terus bergerak dan mendidik sementara harus menyelesaikan hal yang lain.

Kita lelah.

Kita pernah dan akan menghadapi hari-hari penuh tantangan yang memerlukan stok kesabaran yang (seharusnya) tidak pernah habis.

Sabar. Ya, sabar.

Sabar dalam mendidik anak, sayangnya, bukan hanya melihat anak-anak melakukan hal yang secara adaab tidak berterima, lalu kita kita hanya berucap, “Ah, masih anak-anak” – tanpa melakukan apapun.

Atau, pernah tahu kan ucapan yang mahsyur dari orang marah, ketika seseorang melihat sesuatu yang menguji kesabaran dan ia berkata, “Habis sudah kesabaranku!”

Ah, tidak, bukan itu. Sabar itu tidak pernah selesai seperti sinetron atau novel.

Bukankah kita tahu, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqoroh : 153).

Islam mengajarkan Muslim untuk Sabar dalam 3 perkara *:
1. Menahan jiwa dalam menaati Allah
2. Menahan jiwa dari menjauhi kemaksiatan kepada Allah
3. Menahan jiwa dalam takdir Allah yang menimpa diri meski itu sangat menyakitkan dan menyusahkan.

Jadi, bersabarlah dengan pilihan pengasuhan yang kita ketahui shahih dengan segala konsekuensinya. Misalnya, ketika kita mendidik anak untuk berkata jujur sebagai bagian dari ketaatan, maka bersabarlah dalam mendidik mereka.

Mintalah kepada Allah kemudahan agar akhlaq jujur itu bisa kita contohkan, dalam segala situasi sesulit apapun, karena kita tahu berbohong adalah bermaksiat kepada Allah. Bersabarlah belajar dan terus belajar mencarai cara agar akhlaq ini kuat terpatri dalam jiwa anak.

Dan sabarlah, jika ternyata kita diuji dengan kenyataan bahwa anak-anak pernah berbohong dengan memberi hukuman terlemah dalam Islam yaitu menasehati. Ya, memberi nasihat adalah hukuman teringan yang bisa kita berikan.

Ingatlah bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,
”مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”
Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku jujur, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. 

Saat raga dan hati mulai lelah mendidik, ingatlah….
Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mengukir di atas batu, namun ukiran terbaik akan indah, awet, dan tahan lama.

Semoga ini menjadi nasihat, terutama bagi diri saya sendiri. Semoga kita semua dimudahkan Allah dalam mengasuh generasi-generasi berikutnya. 

Catatan:
*Kitab-kitab parenting yang dimaksud dan telah saya pelajari dalam kajian bersama ulama adalah Al-Jâmi’ fi Ahkâm wa Âdâb Ash-Shibyan (Abu ‘Abdillah ‘Âdil bin Abdillâh Âlu Hamdân Al-Ghâmidi), serta Nida’ Ila Murobbiyin wal Murobbiyat dan Kayfa Nurabbi Auladana (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahumahullah).

** Untuk mempelajari ini silahkan kunjungi https://rumaysho.com/9579-macam-sabar.html

Disusun dalam perjalanan klastulistiwa.com