Product Review

Kenapa Harus Asus 15 Inch, Wahai Telecommuters?

Telecommuters? Apaan tuh?

Itu kerjaan saya. Hehehe. Selain jadi homeschooling mum of 3, saya juga menulis secara telecommute full time 40 jam seminggu.

Jadi apaaa telecommuter itu?

Asal katanya dari telecommute, yaitu kerja dari rumah, pakai teknologi, dari laptop, internet, dan telfon – meski belum mandi dan masih pakai baju tidur *eh. Dalam kasus saya, minimal 8 jam harus bersentuhan dengan laptop lah, kalau pengen 2 hari libur seminggu.

Nah, untuk mendukung pekerjaan yang full techie itu, saya memilih ASUS X540SA. Pertimbangan pertama adalah….. HARGA! Hahahaha.. emak2 banget yaaaa.

Kenapa Harus 15 Inci ?

Ada beberapa hal yang penting banget yang membuat saya memilih laptop 15 inch model yang ini.

  1. Gak sampai 4.000 K bisa bawa pulang laptop berlayar 15.6″.  Hahaha.. emang dasar ya ga jauh-jauh dari harga. Etapi jaman sekarang ini kan memang harus cerdas menyiasati budget dan peluang. *ngeles*
  2. Luaaas dan bisa kerja tanpa sering scrolling layar sana-sini yang penting banget buat telecommuter yang harus bekerja di online organizer boards seperti Trello (klik  tautannya aja ya, ga bakal dibahas disini) . Nah, buat perusahaan  yang punya divisi banyak, boards-nya juga banyak. Alhasil, kalau layarnya sempiiit, itu kartu-kartu proyek yang harus dikerjakan (cek tautan lagi kalau mau tau tentang Trello cards) bakal susah di drag-and-drop sana-sini.  Begini nih tampilannya. Sungguh membutuhkan keluasan layar dan hati melihatnya.
  3. Kenyamanan view laaah. Mata tidak perlu memicing, terutama kalau perlu tampilan multimedia. Ini penting buat anak-anak sih, terutama ketika harus menonton video edukasi bareng-bareng. Yang pasti, berguna banget untuk si kecil menghitung benda-benda kecil waktu mengerjakan maths di ixl.com seperti yang terlihat di bawah ini nih. Kebayang ga sih kalau pakai netbook liatnya?

     

Baiklah. Cukup curhatnya, yes. Sekarang review benerannya tentang si ASUS X540SA. Selain harga, apalagi yang pantas dilirik dan kenapa? Kenapa?

Kenapa Harus ASUS 15 Inci yang Itu?

Ga boleh harga lagi ya alasannya? Muahahaha. Baiklah.

Banyaaaak bangeeeet alasan kenapa emang harus ASUS 15 inci. Nih, ya.. saja jabarkan spesifikasi dan fitur-fitur yang mendukung banget pekerjaan dan gaya hidup saya (Tsaaah… You don’t say ‘gaya hidup’, eh?) Spesifikasinya jelaaas worth the bucks alias lebih dari ada harga ada rupa. Ini mah ada harga dapetnya rupa-rupa.  Here you go:

  1. Dengan memori sebesar  2GB DDR3L, program yang dibuka bersamaan dengan kerjaan lancaaar jayaaa tanpa lagging. Apalagi kalau pas kerjaan banyak plus anak-anak lagi keluar curiosity-nya. Jalan dah tuh, researching the web barengan sama buka proyek, sambil nulis, kadang-kadang nge-Yutub juga. Bagusnyaaa, si IceCool technology bikin laptop yang diseksa 25,5 jam sehari tu anteng-anteng aja.
  2. 500GB HDD, ng… cukuplah. Kan emang banyakan kerja online berbasis cloud. Untuk pembelajaran anak-anak juga pakainya aplikasi online atau website.
  3. DVDRW — Iyesss…. bapak emak pasti tahu kalau abis jalan-jalan anaknya suka minta dibeliin dvd. Jelasss laptop dengan fungsi ini perlu pake bangeet.
  4. VGA Intel HD Graphic.. Huruf ajaib si HD inii
    Kalau Ga Ada Eye Care Technology

    loooh, emang bikin betah mata deh. Ditambah lagi dengan Eye Care Technology. Kumpliiiit banget memanjakan dan menjaga mata, dari mulai melototin Trello, researching material, sampe nonton segala video. Jangan sampe deh kejadian kayak gambar di samping. Oiya, kenikmatan menonton juga nambah ajib dengan Sonic Master yang mantep suaranya.

  5. Fitur penting terakhir yang bener-bener perfect on-the-go itu adalah Polymer Battery yang dukung banget mobilitas. Mobilitas ituuu… buat saya.. seperti bawa-bawa laptop buat kerja di kebun belakang atau beranda sambil ngawasin anak-anak lagi eksperimen. Hahaha. I’m a remotely working homeschooling Mom! What to expect? 🙂
  6. Oiya.. Satu lagi.. Beneran terakhir deh. Fitur Instant on 2 second dari ASUS! Aseli ini bener-bener life-saving. Jadi, selain Trello, telecommuters juga dipantau aktifitasnya secara online looh. Salah satunya dengan aplikasi Time Doctor yang bisa mendeteksi ketika kita ga di depan laptop. Kan, ada kalanya tuh  anak-anak minta tolong sebentaaar. Ga usah khawatir, dengan fitur ini pekerjaan aman, anak juga keurus. Begitulah kira-kira intinya.

Sebenarnya, banyak banget yang mau diulas tentang si ASUS kesayangan ini. Tapi berhubung waktu dan word count tidak mencukupi, saya sudahi dulu yah. Semoga bermanfaat.

Oiya, kalau mau tahu tentang ASUS 15 inch atau telecommuting jobs lebih jauh, boleh tanya-tanya kok. Silahkan tuliskan komentar di bawah. Tenang, saya nggak gigit. ^_^

My Reflection, My Thoughts, Parenting

Kenapa Malu Punya Anak Pemalu?

*Mierza Ummu Abdillah*

“Anaknya pemalu ya, Umm?”

Betapa mudahkah seorang anak dilabel ‘pemalu’, hanya karena memilih tidak berebut kue saat istirahat seperti teman-temannya? Tapi kurangnya ilmu membuat ibu itu pun hanya tersenyum malu. Malu punya anak pemalu.

Ah, andai saja dulu Ibu itu tahu bahwa rasa malu adalah akhlak Islam yang terpuji. Malu yang ditunjukkan anaknya bukanlah malu yang tercela, seperti malu menuntut ilmu syar’i, mengaji, amar ma’ruf nahi munkar, melakukan kewajiban seorang Muslim, dan yang semisalnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Andai Ibu itu tahu bahwa buah dari rasa malu adalah iffah atau menjaga kehormatan. Hal yang sangat sulit ditemukan di jaman penuh fitnah ini.Bahwa memiliki malu bukan suatu kesalahan.

malu

Bukankah di dunia yang berisik ini, kita memerlukan manusia yang mampu menjadi pendengar yang penuh perhatian? Tidakkah kita pernah menemukan seorang pribadi yang begitu diterima bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata? 

Ibu… Tidak perlu meminta maaf kepada orang lain hanya karena memiliki ‘anak pemalu’. Jangan pula mengucapkannya di hadapan intanmu yang berharga itu. Tidak ada yang salah dan banyak alasan tepat untuk menjadi pemalu.

Andai Ibu itu tahu bahwa anak yang pemalu tidak selalu berarti menderita citra diri yang buruk. Ah… alangkah tidak adilnya.  Banyak anak-anak pemalu yang memiliki konsep diri yang kuat. Mereka bersinar dari dalam – jika saja para orang tua itu lebih sabar.

Andai dulu Ibu itu tahu bahwa ia tidak perlu khawatir jika anaknya tutup mulut di tengah orang banyak. Bahwa selama anaknya masih bisa melakukan kontak mata, sopan, menurut, dan bahagia – namun hanya diam – itu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa anak-anak ‘pemalu’-nya lebih dalam berpikir, menyeluruh dalam mengamati, dan sangat berhati-hati. Mereka hanya seperti mesin diesel – memerlukan waktu tambahan untuk untuk pemanasan ketika bertemu orang baru.

Bersyukurlah, Ibu, jika anakmu hanya merasa malu – bukan menarik diri. Bukan bersembunyi dari kemarahan dan ketakutan. Bukankah kau tidak pernah mengancam atau menakutinya?  Jika tidak, maka tenanglah. Anakmu hanya memilih menjadi mereka yang bersorak dalam pawai dan dipercaya untuk melambaikan bendera.

Namun, pelajarilah Ibu…. Jangan sampai label pemalu ini digunakan untuk tidak mau berteman dengan anak-anak lainnya. Jangan sampai label ‘pemalu’ ini digunakan  sebagai pertahanan untuk tidak berusaha lebih keras dan tinggal di zona nyaman.

Jika kau menemukan demikian  maka perkuatlah rasa percaya diri mereka. Anak ini hanya  membutuhkan orang tua dapat ia percaya, yang mendisiplinkan dengan cara yang benar dan lembut. Mendidik tanpa menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Ibu, bersyukurlah dengan akhlak anakmu. Ia diberkati dengan sifat yang sensitif, sangat peduli, dan lebih berhati-hati. Peluklah anakmu dan jadikan dunia menjadi tempat yang lebih lembut dan menyenangkan. Ciptakan lingkungan yang nyaman yang memungkinkan kepribadian sosialnya berkembang secara alami.

Tidak Ibu.. jangan ikut mengatainya dengan cap anak “pemalu”. Jika mendengarnya, ia bisa merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dan ini akan membuatnya merasa lebih malu. Memanggilnya “pemalu” bisa membuatnya lebih cemas, seolah-olah ada sesuatu yang mereka harus lakukan untuk “membantu” atau memperbaikinya.

Dukunglah dengan cara memberitahu apa yang harus ia lakukan ketika mengunjungi saudara atau tempat yang baru. Hindari godaan untuk mengatakan, “Jangan diem aja ya, disana.” Karena itu akan menjamin dia bungkam. 

Beritahu ia apa yang diharapkan. Dari ucapan “Salim Pakde, ya.” sampai perilaku sopan lainnya. Tidak mengapa jika ia ingin membawa salah satu mainan favoritnya, seperti lego atau puzzle, yang bisa menjadi jembatan untuk komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, jika anakmu diminta tampil di hadapan umum, mintakan dulu izinnya. Jangan gunakan kekuasaan orang dewasa. Hormati tingkat kenyamanannya. Bukankah ada manusia yang lebih memilih untuk menjadi penonton?

Bantulah anakmu dengan berbicara lebih sedikit. Beri kepercayaan untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Mintalah ia untuk menjawab langsung pertanyaan orang lain, tanpa Ibu menggantikan jadi mesin penjawabnya. Sungguh ini akan sangat membantunya. Lalu, berilah ia pujian ketika berhasil membangun komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, setahun sudah waktu berlalu sejak kau putuskan mendidik anak itu sendiri. Kau memilih untuk selalu bersama 24 jam sehari, belajar bersamanya, melatihnya, berusaha menjadi teladan untuknya. Satu inginmu waktu memilih keputusan melelahkan itu: agar bisa lebih sering memeluknya.

Lihatlah, kini ia tumbuh lebih percaya diri. Dengan kesantunannya, ia tetap bersinar di tengah keramaian. Dengan kehati-hatiannya, ia memberi jeda terhadap semua jawaban yang akan dilontarkan agar bisa berterima. Dalam diamnya, dia menyerap apa yang kau tanamkan setiap harinya. Melalui tenan gnya, dia menunjukan cintanya.

Semua kesabaran ini memang tidak mudah. Cermin ini saksinya.

Jazzakillah khairan telah bersabar dengan Ibumu, yaa bunayya.

 

My Reflection

BUAT JAM MATAHARI YUK BUAT CEK KIBLAT

BUAT JAM MATAHARI YUK BUAT CEK KIBLAT

*Mierza Ummu Abdillah*

Jumuah selalu istimewa. Tapi jumat yang sekarang lebih istimewa… Kenapaaa?

Karena, matahari tepat berada di atas ka’bah.

Ini saya dapet dari mba Anne Adzkia, blogger yang homeschooling mum yang keyen ituuu loooh. Nah, jam 16.18 hari ini (27 Mei 2018) adalah saat yang tepat buat cek posisi kiblat.

image
PENGUMUMAAAAN

Ehem… berhubung anak2 emang ga (pernah) sekolah, langsung ajalah diajak buat jam matahari (bapake yang ajak, deng).

Susaahkaah? Tentu tidak…

Yang gampang ajalah, pake kardus – atau dalam kasus saya cover buku gambar bekas – sama kertas dan lem.

Caranya:
1. Buat dasarnya
2. Buat segitiga berdiri (kalau saya pakai kardus lagi di dalamnya)
3. Lem di tempat yang seharusnya.

image
Jam Matahari yang Njawani

Udah deehhhh.

Pas jam 4.18 sore, bawa keluar sesuai petunjuk gambar pengumuman di atas. Terus,  cari arah kiblat yang bayangannya ada di belakang segitiga (Ng… deskripsinya bener ga nih? Liat gambar jamnya aja yaaa)

Gampang tho? Ya jangan susah susah… karena cucian menunggu. Hehe… maklum, cari masalah jadi emak2 homskuler tapi ga punya ART (curhat).

Semoga bermanfaat. ^_^

Product Review

EFEK NEGATIF PEMBAYARAN TAGIHAN ONLINE

Sekarang ini, orang sudah banyak yang move on dari pembayaran tagihan konvensional ke pembayaran tagihan online. Semua tagihan – dari  mulai beli pulsa, bayar listrik, voucher game, sampai bayar kuliah – hampir semuanya menuju pembayaran online. Tapi, ada juga beberapa yang menolak memilih opsi ini, meski sudah ada yang membuktikan bahwa transaksi online aman itu nyata. Bisa jadi sih, yang namanya pembayaran tagihan online itu punya beberapa kelemahan. Mau tahu apa aja?

1. BIKIN GAK BISA BOROS

Kok bisa? Iya doong. Coba aja bedakan antara beli pulsa di counter handphone sama beli via Paybill Indonesia.

Di counter, biaya voucher biasanya lebih tinggi karena harus menutupi bayaran kios sama gaji yang jaga counter. Belum lagi kalau jauh, kan harus beli bensin.

Begitu juga kalau harus antri bayar tagihan, selain ongkos berangkat ke sana, Anda juga harus merogoh kocek buat beli air mineral sama jajanan buat temen nunggu.

Nah, tuh, boros kan? Gak cocok deh kalau Anda mau menjauhi gaya hidup hemat.

2. BIKIN ORANG GAK SUKA TANTANGAN

Ehm… sebentar.  Maksud tantangan disini adalah tantangan menghadapi sesuatu yang lama, lambat, dan berbahaya loh yaaa…

Halah, kok gitu?

Lah, iya. Pembayaran tagihan online kan lebih cepat dan mudah daripada metode bayar konvensional. Jadi, pada dasarnya sih, yang pilih pembayaran online berarti sudah menghilangkan faktor penundaan. Tapi, buat suka yang tantangan nunggu lama-lama dan buang-buang waktu ga jadi masalah dooong. Kan itu ‘tantangannya’… wew.

Pembayaran online pun tidak cocok bagi anda yang menyukai bahaya membawa uang tunai di perjalanan. Atau, kalau Anda suka dengan resiko terlambat bayar listrik. Begitu juga kalau Anda lebih suka mengambil ‘tantangan’ kehilangan struk pembayaran yang sebenarnya bisa Anda akses secara online.

3. BIKIN ANDA GAK BISA KOLEKSI SAMPAH

Nah, kalau Anda tipe yang suka mengumpulkan kertas-kertas bukti pembayaran dan menambahkan koleksi sampah di bumi, maka Anda menjadi pihak yang bertanggung jawab dengan kerusakan bumi. 

Tahu nggak, kalau Anda mau move on ke tagihan Anda secara online, Anda bisa mengambil  bagian dalam melestarikan sumber daya bumi. Psssttt… bukankah uang tunai juga dibuat dari kertas?

Salah satu keuntungan terbesar dari membayar tagihan Anda secara online, tentu saja, adalah menyingkirkan semua kertas itu. Hare geneee, hampir semua tagihan dapat dikirimkan dengan mudah (dan lebih murah) via Paybill.

Apa artinya? Limbah kertas pun berkurang di tempat pembuangan sampah. Dan jika tagihan atau bukti pembayaran itu lebih sedikit dicetak, berarti lebih sedikit pula energi dan bahan bakar yang dikeluarkan saat pencetakan, pengolahan, pengiriman, dan pengangkutan. So, pembayaran tagihan secara online adalah pemenang dalam hal memberikan manfaat kepada lingkungan. Yaaay!

4. GAK BISA RIBET

Jika Anda sangat tidak terorganisir, membayar tagihan online mungkin terdengar ribet. Anda mungkin merasa lebih mudah menerima tagihan kertas, menyimpannya, lalu kehilangan kertas itu saat diperlukan.

Hadeeeuh… nggak koook… pembayaran tagihan secara online itu sebenernya sangat sederhana dan menyenangkan. Cek aja disini:

Awalnya cuma download aplikasi, daftar sebentar, udah. Anda tidak perlu khawatir lagi tentang biaya keterlambatan atau kehilangan kertas-kertas dalam tumpukan apalah-apalah. Eh, tapi kalau Anda lebih memilih ribet dengan mencari-cari kertas yang udah entah dimana itu, yaaa… silahkan dinikmati kegalauannya.

5. GAK BISA DAPET KEJUTAN

Iyaaa… kejutan yang tidak menyenangkan maksudnya. Katakanlah pada suatu sore, Anda kalau hari itu adalah hari jatuh tempo pembayaran listrik. Weeh, ternyata besoknya itu tanggal merah. Kejutaaan! Anda harus bayar denda deh (atau kena resiko listrik diputus hehe).

Atau, kejutan itu Anda dapatkan saat membayar tagihan yang tiba-tiba membengkak dari biasanya. Kalau pakai Paybill, Anda tinggal buka aplikasi, lalu cek dan tunjukan saat itu juga.

Nah, karena Anda suka kejutaaan, Anda lebih memilih balik lagi ke rumah buat ubek-ubek bukti pembayaran yang bisa jadi udah keselip dimana.

Dan, ketika kembali… KEJUTAAAN! Ternyata kantornya tutup.  

Ehem, bagaimana? Apa Anda masih mengambil resiko dengan nggak mau move on ke pembayaran tagihan online? Masih nggak percaya kalau transaksi online itu beneran aman? Coba buktikan deh dengan move on ke Paybill Indonesia. Aseliiii, hidup jadi lebih mudaaah. Klak klik di aplikasinya yang super responsif itu bikin waktu kita efektif banget deh rasanya. Nih.. lihat deh.. gampang bangeeet…

Klik aja banner di bawah ini kalau mau tahu lebih banyak, yaaaa….

Homeschooling, My Reflection, Parenting

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

KURIKULUM UNTUK ORANG TUA (HOMESCHOOLERS) MUSLIM

*Mierza ummu Abdillah*

“Cieee yang homeschooler…. masa orang tuanya perlu kurikulum?”

 Baiklah, kita bahas tentang kurikulum dulu ya. Karena kita di Indonesia, kita pakai acuan nasional, yaitu Diknas.

Kurikulum menurut UU No. 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19 adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Garis bawahi kata TUJUAN PENDIDIKAN. Sebagai muslim, sebagai orang tua, apa tujuan kita?

Pasti udah sering mendengar ayat yang artinya iniii kaaan:

 “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

love isnot enoughBagaimanakah cara melindungi ‘kita dan keluarga kita’? Cukupkah dengan cinta dan ketulusan?

Nope. Love is not enough.

Bukankah kita sudah banyak melihat contoh orang tua yang mencintai anaknya dengan tulus dan melakukan apapun yang anaknya minta atas nama cinta? Lalu bagaimana kelanjutannya? Teman-teman disini pasti tahulaah jawabannya: Iyesss… kita butuh ilmu.

Banyaaak sekali yang harus kita pelajari, dari mulai ilmu agama hingga ilmu berkomunikasi. Islam memberikan kurikulum yang ajiiib dalam soal mendidik anak  ini, terutama soal akidah sebagai ilmu pertama yang layak dikenalkan pertama kali. Singkatnya, begini ‘kurikulum dasar’ bagi orang tua sang pendidik adab yang sebenarnya bisa bertambah berlipat-lipat sesuai karakteristik keluarga:

  1. AQIDAH

Inilah modal dasar dalam mendidik, agar anak hanya menyandarkan diri kepada Allah. Memberikan hadiah tak mengapa, asal ajarkan anak meminta kepada Allah saat menjanjikannya. Disinilah kita bisa menancapkan aqidah di hati mereka.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberi contoh dalam pondasi dalam jiwa anak. Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, yang artinya “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. (HR. Tirmidzi – Hasan sahih).  Dengan terus mencamkan ini, insyaAllah ketika mereka tak bisa mendapatkan apa yang mereka mau, itulah yang terbaik dari Allah.

Lihatlah wasiat Nabi Yaqub pada surat Al Baqarah ayat 133 ketika hendak meninggal dunia. Yang ditanyakan bukan berapa nilai di ijazah atau penghasilan anak-anaknya, tapi siapa yang disembah? Bukankah kita juga tidak tahu apakah besok kita masih bisa bangun dan ‘menjaga’ anak-anak dengan semua ilmu parenting kita? Siapa lagi yang akan menjaga mereka selain yang menciptakannya?

  1. ILMU TENTANG TATA CARA IBADAH

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka untuk dipaksa shalat, ketika mereka berusia 10 tahun.”(HR. Abu Daud 495 dan dishahihkan al-Albani)

Hadits ini juga pasti sudah sangat dikenal. Tapi, sudahkah kita memiliki ilmu tentang bagaimana tata caranya? Atau yang penting pukul aja kalau mereka ga mau nurut shalat? Kita punya banyak waktu sebelum ‘memerintahkan mereka’, bukan? Bukankah semua setiap perkataan, perbuatan, hingga yang kita pikirkan akan dimintai pertanggungjawaban? Jadi, mari gunakan masa-masa mumayyiz mereka (di bawah 7 tahun) untuk mulai mencari ilmu yang shahih tentang cara beribadah.

  1. ILMU TENTANG AKHLAK

Oh, yaaa.. banyak sudah kita lihat di linimasa ketika selfie yang ‘tidak beradab’ bocah menjadi kekinian. L Karena itu, kita perlu sekali mempersiapkan amunisi ilmu adab bagi anak, baik itu terhadap Allah, orangtua, teman, tetangga,  dan adab sehari-hari. Sebelum mengajari mereka tentang bagaimana cara berbicara kepada orang tua, makan, minum, bertamu, berbicara, tidur, masuk kamar mandi, belajar dan banyaaak lagi… mari kita cari tahu praktek Rasulullah dan menerapkannya terlebih dulu.

  1. ILMU TENTANG DOA

Doa ini senjata orang beriman dan tentunya orangtua generasi rabbani. Sungguh hanya karena Allah segala sesuatu itu terjadi, bukan semata-mata karena kecanggihan kita mendidik anak. Ada banyak doa shahih yang bisa kita amalkan untuk kebaikan keluarga. Selain yang dicontohkan Rasulullah, beberapa doa juga terdapat di Qur’an seperti dalam doa nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 28, doa dalam surat Al-Furqan ayat 74, dan doa nabi Ibrahim untuk anak-anaknya menjadi orang yang menegakkan shalat dalam QS. Ibrahim ayat 40.

  1. ILMU DLL, DST, DSB, DKI, DLLAJ (ABAIKAN 2 SINGKATAN TERAKHIR)

Iyesss… ada banyak ilmu yang kita butuhkan dalam mendidik generasi masa depan. You name it. Dari mulai seni  berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak, strategi menghadapi anak berdasarkan sifat dan karakternya, cara membangun PD anak, cara menumbuhkan potensi dan bakat anak, cara memotivasi, dan baaanyaaak lagi. Alhamdulillah, kita diberikan banyak kemudahan mengakses buku-buku bergizi, kajian-kajian yang mengisi hati, grup-grup pengasuhan yang memompa semangat, seminar dan workshop pengasuhan yang mencerahkan,  pengalaman-pengalaman pengasuhan yang terlihat berhasil dalam prosesnya, dan segala sumber belajar dari yang bersertifikat seperti guru beneran seperti iou.com sampai yang gratis dan menyenangkan macam coursera.

Memangnya boleh? InsyaAllah, selama tidak bertentangan dengan syariat.   Bagaimana tahunya?  Belajar media literacy – karena gak semua yang dikatakan internet itu benar.

Daaan… untuk ilmu syar’i, mari belajar dengan tahapan yang benar karena ilmu syar’i itu bertingkat-tingkat dan membutuhkan ulama yang benar-benar utuh memahaminya. Boleh intip https://klastulistiwa.com/2016/05/20/homeschoolers-pun-perlu-tahu-tahap-tahap-belajar-ilmu-syari/ untuk beberapa tahapannya.

LALU, KAPAN KURIKULUM INI BERAKHIR???

Tentunya tidak setamat SMA, S1, S2, S3, atau saat SK kerja berakhir yaaa. Ibaratnya ‘homeschooling’ itu tidak pernah berakhir. Dan kita, orang tua, adalah homeschoolers seumur hidup meski nanti anak-anak yang kita didik bukan lagi ‘homeschoolers’ di rumah kita. Mereka akan menjadi homeschoolers di rumah mereka selanjutnya.

Karena rumah adalah sekolah.

 

 

 

My Reflection, Parenting

#BahagiaDiRumah Menyelamatkan Masa Depan Generasi

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Selamatkan generasi ini menjauh dari kesepian dan kehampaan. Kehadiran dan sentuhanmu sangat dirindukan.

Cobalah tengok linimasa sosmedmu sekarang. Lihatlah kisah-kisah yang disebut kekinian. Dari mulai anak-anak berseragam yang memajang kebodohan, menyia-nyiakan waktu berharga, hingga mencoba hal-hal jahat yang orang dewasa normal manapun tidak berani melakukannya. Alasannya satu: Perhatianmu wahai Ayah-Ibu.

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Pulanglah segera menemui anak-anakmu. Peluk dan bermainlah bersama mereka. Dengarkan ocehannya meski engkau sangat lelah. Kalimat-kalimat itu mungkin menurutmu tidak berarti, namun tidak bagi mereka. Hiasi wajah mereka dengan senyum dan tawa, Ayah dan Ibu. Jangan takut wibawamu jatuh. Justru, rasa sayangmu akan memelihara rasa hormat mereka padamu.

Ayah, Ibu, kembalikan segera #bahagiadirumah. Jadilah tempat bersandar anak-anak remajamu. Jadilah gua tempat berlindung dari dunia di luar sana yang tidak ramah. Tawarkan bahu nyamanmu dengan rasa nyaman persahabatan agar mereka leluasa bercerita tentang hari-hari yang penuh penat atau bahagia. Jangan takut mereka melangkahi dominasimu. Justru, rasa perdulimu akan membuat mereka memilihmu lebih dari apapun.

Apakah kalian tidak takut, wahai ayah dan ibu? Ketika anak-anakmu berpaling dan memilih para manusia jahat yang nampak seperti peri baik hati namun sesungguhnya  menginginkan sebaliknya? Bekali mereka dengan ilmu dan berdirilah di sisi mereka. Jangan berkata yang baik sedangkan sikapmu menunjukkan sebaliknya. Jadikan mereka yakin bahwa ayah dan ibu adalah manusia terbaik tempat kembali.

Apakah kalian tidak takut, wahai ayah dan ibu? Ketika remaja-remajamu lebih memilih untuk lari mengambil keputusan yang salah dan merasa nyaman dengannya? Bekali mereka dengan kehangatan. Yakinkan mereka bahwa kalian selalu ada dan sebenar-benarnya perduli lebih dari siapapun.

bahagiadirumah.jpgAda masa NOVAVERSARY (tabloid Nova yang merayakan masa ke-28 tahunnya) menjadi pengingat bahwa 28 tahun lalu, ketika ia mulai ada, keburukan belum merajalela. Kini, kita bersaing dengan kebobrokan yang dipoles indah di mata mereka. Kita berperang dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang dengan mudah mereka dapatkan.

Maka, beranilah untuk mengembalikan #bahagiadirumah. Belum terlambat untuk menyelamatkan generasi ini. Mari kita mulai…. hari ini.

My Reflection, My Thoughts

Tahapan Menuntut Ilmu

image

Di tengah-tengah semangat menuntut ilmu dan kemudahan mendapatkannya dengan satu satu klik saja, terkadang kita (saya) lupa dan menjadi pongah. Padahal, jika kita benar-benar belajar sesuai tingkatan dan urutannya, sungguh kita akan semakin haus untuk terus bermajelis. Semakin tahu, kita merasa semakin kecil. Bukankah belajar tidak seharusnya berhenti setelah kita lulus? Lalu kenapa anak-anak itu berteriak ‘bebas’ setelah belajar 12 tahun di sekolah? Apa yang bebas? Semoga bukan bebas belajar… Karena jika itu yang lantang diteriakkan, maka tahun-tahun mereka ‘belajar’ di sekolah itu tidaklah benar-benar belajar.

(Mierza Ummu Abdillah)

————————————————————————————————————————
*📌 Program BETAH (Belajar Tauhid)*

Quote: 002

Asy Syafi’i رحمه اللّه berkata

أخي لن تنال العلم الا بستة سأنبيك عن تفصيلها ببيان: ذكاء و حرص و اجتهاد و درهم و صحبة أستاذ و طول زمان

*”Wahai saudaraku….ilmu itu tidak diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya:*

(1) kecerdasan
(2) semangat
(3) bersungguh-sungguh
(4) adanya bekal harta
(5) belajar dengan ustadz
(6) membutuhkan waktu yang lama

___________________
BBM: 59957910
WhatsApp: 0898-60-1-70-70
Line: http://line.me/ti/p/%40dxn3713g
Telegram: @itauhid
Website: http://www.indonesiabertauhid.com
——————-
♻ Silakan disebarluaskan

Homeschooling, My Reflection, My Thoughts, Parenting

MENDESAIN ULANG BUKU CEKLIS RAMADHAN

Ramadhan sebentar lagi!

~ Mierza Ummu Abdillah ~

Jadi kembali teringat masa2 ketika harus mengisi buku Ramadhan. Ceklis shalat, puasa, sampai berburu stempel masjid dan tanda tangan penceramah. Teruuuuus begitu, sampai saya jadi remaja cerdik.

Ya, cerdik. Tinggal ceklis2 atau silang2. And, so what?

image

Tapi ketika dapat guru agama yang menilai dari jumlah ceklis, si cerdik itu mengubah jumlah ceklis dengan kenyataannya. Ya. Manipulasi. And, so what?

Untuk catatan terawih, tinggal salin ceramah, atau minta anak lain tuliskan, lalu titip buat dicap dan tanda tangan. Beresss. Kami yang remaja2 cerdik ini tinggal jajan sambil cekikikan sementara yang lain shalat. “Masih mending kita ke masjid. And, so what?”

Dan saya pun bertumbuh jadi remaja baligh tanpa aqil. Manusia tang hidup untuk hari ini.

***

Kini, berganti waktu dan peran. Si remaja itu kini jadi seorang ibu yang menghadapi Ramadhan. Seru.. karena ini Ramadhan oertama sebagai homeschooling family. Sempat terpikir membuatkan buku ceklis dan ceramah untuk anak2 yang ga sekolah kayak ‘waktu itu’..
Sampai Qadarullah… terlintas kenangan tadi.

Setelah ditimbang, dibungkus, dan diberi label *eh* langsung terkesiap…

Lhaaa.. ngapain emak homeschoolers bikin yang begiiniiii? Hadeeeuh… Emang susyah menghalau mindset schooling, yah…

Paham sih alasan sekolah memberi itu. Mereka perlu alat kendali untuk memastikan murid2nya ke masjid dan ‘beribadah’ di bulan Ramadhan. Perkara nanti itu ceklis cuma jadi wacana aja, yang penting udah terlaksana. Done. Pendidikan karakter, katanya.

Oke, balik ke tema keluarga sendiri. Terus piyee program Ramadhannya?

Hehe.. tenang… ‘buku ceklis’ itu tinggal direkonstruksi aja kok (kalau emang keukeuh bikin yang begitu). Jadi gak cuma alat kontrol aja, tapi reminder orang tua.

Missaaal….

Kalau sebelumnya minta stempel dan tanda tangan masjid, sekarang tiap abis tarawih buat halaqah kecil di rumah buat diskusi isi ceramah bareng bocah2. Atau malah gantian menyampaikan isi ceramah.

Kalau sebelumnya anak2 yang ceklis, ini ayah/ibu yang ceklis setiap ngajak anaknya shalat atau sahur.

Kalau sebelumnya cuma anak2 yg isi hafalan dengan ayat/ surat yang baru dihafal, sekarang di halaman yang sebelahnya Ibu/ ayah ikutan isi juga.

Intinya: Children see, children do.

Lagian, di Islam tu ngeri banget lho ancaman ortu yang menyuruh tanpa melakukan yang disuruh. Dibenci ألله emang mau? Saya sih nggak. 🙂

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Jadi, ayo kita belajar bersama.
Ramadhan Mubarak!

Kisah perjalanan klastulistiwa.com

My Reflection

Kumpulan Video Kajian Pendidikan Anak dari Ustadz Abdullah Zaen, MA

Alhamdulillah, nemu ini bersliweran di grup dan linimasa. Siapapun yang merangkumkan, jazzakumullah khairan.

بسم الله الر حمن الر حيم

Pelajaran untuk para Orang Tua tentang Pendidikan Anak
Ada 27 Kajian yang menarik dan sangat penting bagi pertumbuhan karakter anak

Disampaikan secara apik, lugas dan jelas dari sudut pandang agama dan psikologis

Sangat dianjurkan untuk para ortu yang baru pemula mempelajari agama Islam, karena beliau cara penyampaiannya santai dan mudah dipahami..

oleh : Ustadz Abdullah Zaen, MA.
.
01 – Adil Terhadap Semua Anak (40 Menit)

.
02 – Ajarkan Quran kepada Anak (50 Menit)

.
03 – Ajarkan Bahasa Arab pada Anak (50 Menit)

.
04 – Ajarkan Hadits pada Anak (48 Menit)

.
05 – Anak adalah Amanah Allah (38 Menit)

.
06 – Anak adalah Anugrah dan Ujian (40 Menit)

.
07 – Anak dan Dasar Keilmuan (58 Menit)

.
08 – Anak dan Ilmu Dunia (46 Menit)

.
09 – Anak dan Kejujuran (55 Menit)

.
10 – Anak dan Kreatifitas (46 Menit)

.
11 – Anak dan Membaca (52 Menit)

.
12 – Anak dan Menjaga Rahasia (53 Menit)

.
13 – Anak dan Lapang Dada (50 Menit)

.
14 – Anak dan Amanah (50 Menit)

.
15 – Berikan Bingkisan Hadiah (50 Menit)

.
16 – Berikan Sambutan Hangat (43 Menit)

.
17 – Bermain dan Bercanda (50 Menit)

.
18 – Hindari Mencela Anak (56 Menit)

.
19 – Istimewakan setiap Anak (52 Menit)

.
20 – Jangan sampai Setan Menyentuh Anak (44 Menit)

.
21 – Kecupan Kasih Sayang (46 Menit)

.
22 – Permainan untuk Anak (51 Menit)

.
23 – Manfaatkan Hari Istimewa (46 Menit)

.
24 – Keminderan Anak (48 Menit)

.
25 – Menjaga Perasaan Anak (48 Menit)

.
26 – Anak Tidak Percaya Diri (43 Menit)

.
27 – Rumah adalah Sekolah (34 Menit)

My Reflection

KETIKA SABAR LEBIH UTAMA DALAM MENDIDIK

(Mierza ummu Abdillah)

Ternyata, segala ilmu parenting yang mendewakan ‘tidak ada hukuman’ itu memang hanya cocok di jaman nabi Isa yang secara fitrah sangat lembut. Saat itu diturunkan kitab yang akhirnya diikuti oleh para pengikutnya… dan tentu bukan umatnya Nabi Muhammad.

Jamannya Rasulullah, telah ada kitab dan panduannya… Memukul (ringan) sebenarnya diperbolehkan ASALKAN melewati 11 jenis hukuman dan ilmu pengasuhan yang panjang dan mendalam…. Ketatnya pemberian hukuman dalam rangka mendidik ini bisa menjadikan anak malah tidak kena hukuman sama sekali.. itulah hebatnya Islam. Kita boleh memilih – dengan ilmu dan konsekuensi yang menyertai.

Pembahasan tentang hukuman ini ditaruh di bab belasan dalam kitab2 parenting para ulama salafush shalih agar para pendidik (orang tua) mampu mendidik sehingga tidak perlu menghadirkan pukulan (bahkan hukuman) dalam prosesnya.

Ya. Islam memperbolehkan DENGAN PILIHAN: ternyata bersabar (dengan ilmunya) jauh lebih utama dalam mendidik.

Al Qur’an dan sunnah yang dipelajari sesuai pemahaman salafush shalih, sebagai orang2 yang hidup dekat dengan jaman Rasulullah, menjadikan manusia-manusia memiliki qudwah hasanah. Tapi mungkin kita (saya) terlalu sombong untuk mengikutinya. Memilih tidak membacanya… menjadikan diri tidak percaya bahwa Islam sudah memiliki segala yang dibutuhkan. Menganggap kurang kekinian, mungkin?

So… itulah sebab awal mula rusaknya karakter… teori barat itu berkiblat pada kitab yang mana?

Dan sekarang kita sedang mengunyah akibatnya.

Mari membaca sumber shahih yang memang dituliskan untuk kita.

Mari memulainya.

Bismillah.

My Reflection

TERNYATA USTADZAH ITU MASIH ‘USIA SMA’ DAN TIDAK SEKOLAH

-Mierza ummu Abdillah-

Tiga hari ini kelas TK-B agak beda. Kenapa ya?

Ah… ternyata salah satu ustadzahnya sedang UN. Ujian Paket C tepatnya.

MasyaAllah.. ternyata, ustadzah muda yang saya observasi tiap hari… yang ilmu agamanya jauh lebih dalam dari saya itu… baru 17 tahun!

Tapi berbeda dengan anak2 lain yang tiap hari sekolah.. Ia setiap hari menghadapi anak sekolah. Dengan kata lain, ia sudah mengajar di usia itu.

MENGAJAR.

Baru itu yang saya tahu.

Yap.. saya belum ngobrol banyak karena baru tahu hari ini.. bahwa Ustadzah itu ternyata gak sekolah (or you can say that she is a homeschooler).

Ah, tak sabar menanti utadzah muda itu masuk.. Tak sabar bertanya dan menanti ceritanya… Dan terutama, tak sabar bertemu ibunya untuk menggali ilmu yang sudah terbukti nyata…

MasyaAllah.

Terima kasih, Jogja…
Ini lebih dari sekedar cerita.

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, My Reflection

Ketika Tekad itu Menebal

WHY I HOMESCHOOL

Saat ini saya sedang diklat PAUD selama 2 bulan di Jogja. Ilmu mengajar disini diambil dari beberapa sumber, diantaranya kitab para ulama seperti Kaifa Nurobbi Auladana, Nida, dan Jaami’ul Ahkaami fi Aadaabi Shibyan.

Dan… masya Allah…
Semua perjalanan kami sebagai Homeschooling family terjawab disini…

Ada dua dalil yang disebut2 terus di semua kitab. Dan masyaAllah, sangat menguatkan saya dan keluarga untuk melanjutkan homeschooling:

Yang Pertama
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَاللَّهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاًوَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada seseorang melalui tanganmu lebih baik bagimu dari pada memperoleh unta merah (Hadits shahih, riwayat Bukhari & Muslim)

Yang Kedua
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Kemarin ustadz mengkonfirmasi seorang HSer parent insyaAllah bisa mendapat keempatnya… dengan ijin Allah. 😍😍😍

image

Mierza Miranti
Kisah Klastulistiwa
di gerimis sore Jogja
5 Maret 2016

My Reflection, My Thoughts, Parenting

HELICOPTER PARENTING

***Orangtua Helikopter***

Nulis konten buat website parenting kemarin itu ternyata lebih lama dari biasanya. Kaget dengan data2 yang diberikan. Takut karena, bisa jadi, saya adalah salah satunya.

image

Fenomena Budaya
Data-data yang didapat dari sedikit penelitian, salah satunya dari Shiffrin et al yang berjudul  “Helping or Hovering? The Effects of Helicopter Parenting on College Students’ Well-Being“, tersebut menyebutkan bahwa orang tua jaman sekarang lebih banyak yang paranoid atau over-protektif. Fenomena ini disebut orang tua helikopter.

Cirinya?
Sang orang tua selalu ada di sebelah anaknya 24/7 laksana bayangan. Dari kecil, hingga besar. Iyap. Riset tersebut menyebutkan bahwa sekarang orang tua sangat ingin anaknya sukses menurut standar yang diterima. Bahkan banyak yang ikut heboh mendaftarkan anak-anaknya ke perguruan tinggi hingga melamar pekerjaan! Sesuatu yang jarang saya temui di masa lalu saya.

Misinya? Mereka ingin melindungi dan memastikan semuanya sempurna. Kalau kurang, sini tak ambil alih!

Lalu, apa penyebabnya?
Ternyata ya orang tua sendiri. Derasnya informasi tidak dibarengi dengan literasi, semua dilahap, dihayati, dibagi, dipercayai, dan ditakuti diri sendiri. Padahal berada di sekitar anak sebagai CCTV sudah cukup membuat anak aman dan nyaman,  karena dilepas juga sama berbahayanya.

Lha ini, semua dicurigai. Dari virus kuku mulut rambut, sampai tukang tahu yang lewat.

Menurut Saya
Jika kita merujuk ke nash-nash shahih, dan menerapkannya, InsyaAllah hati ini tenang. Percaya Allah menjaga melalui perintah dan larangan. Coba lihat semua precautions atau peringatan ( kalau  memang kata nasihat dianggap oldschool ) yang diberikan, semua mengandung kebaikan. Tentu yang utama berdoa meminta perlindungan kepada penguasa segala mahluk, Allah Azza wa Jalla.

Jadi…

Sebentar…

Saya ngajak diri sendiri dulu aja, ya. Kuatir tidak cukup ilmu mengajak yang lain untuk bercermin.

Apa saya over protektif dengan tidak percaya bahwa ada Allah yang  maha menjaga ciptaan? Apa saya kepedean mengabaikan aturan dan larangan Allah? Jika iya, maka sudah saatnya ngelmu lagi. Belajar menjaga amanah sebagai orangtua. Hayu ah.

My Reflection

Pikirkan Ini Sebelum Memutuskan Homeschooling

image

Beralih dari sekolah formal ke homeschooling (atau memulai homeschooling ditengah budaya schooling) merupakan suatu langkah besar. Untuk itu orang tua perlu mempertimbangkannya dengan baik.

Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memilih homeschooling?

Beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan orang tua  sebelum memutuskan menerapkan homeschooling.

Komitmen terhadap waktu
Kegiatan homeschooling cenderung menghabiskan waktu yang lebih banyak. Kegiatan homeschooling tidak hanya duduk mempelajari buku – buku selama berjam – jam. Ada banyak kegiatan lain seperti eksperimen dan proyek – proyek yang harus dilakukan, pekerjaan anak yang harus diperiksa, belajar di lingkungan luar seperti taman, pelajaran tahsin, tahfiz, dan masih banyak lagi. Orang tua dan anak harus mempunyai komitmen dan disiplin kuat dalam menjalani homeschooling.

Mengorbankan kehidupan pribadi
Agak lebay sih bahasanya, tapi saya belum menemukan padanannya. Alasannya karena ya… orang tua homeschooling memiliki sangat sedikit waktu untuk diri mereka sendiri (atau ini cuma saya aja yah?). Dapat dikatakan bahwa orang tua dan anak selalu bersama – sama hampir 24 jam dalam seminggu. Sehingga orang tua harus siap mengorbankan kehidupan pribadinya.

Kondisi keuangan keluarga
Homeschooling mungkin tidak menghabiskan biaya sebesar sekolah formal, akan tetapi membutuhkan peran orang tua yang sangat besar sehingga salah satu orang tua harus mengorbankan pekerjaan full time mereka. Hal ini tentu berdampak besar bagi keluarga yang mengandalkan dua pemasukan. Eh, tapi bukan tidak mungkin loh jika keduanya bekerja. Kalau saya ingat, nanti, saya akan posting tentang hal ini.

Sosialisasi
Orang tua harus memberi perhatian lebih dalam hal sosialisasi anak dengan orang lain. Karena anak tidak bersekolah formal seperti anak – anak pada umumnya, sosialisasi anak harus benar – benar diperhatikan. Kebaikan homeschooling adalah orang tua memiliki kontrol lebih dalam hal kontak sosial anak dengan orang lain. Sehingga anak lebih terjaga dari tindakan buruk lingkungan. Komunitas homeschooling dapat menjadi salah satu pilihan anak untuk bersosialisasi. Atau bagi Muslim, ini saatnya memperbanyak silaturahmi.

Pengaturan rumah tangga
Orang tua homeschooling harus mampu mengatur pekerjaan rumah tangga dan kegiatan homeschooling berjalan dengan baik. Ini bukan curhat, tapi pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan dengan baik, sementara   kegiatan homeschooling juga harus berjalan baik. Kegiatan homeschooling tentu berpengaruh pada kondisi rumah yang bisa jadi lebih berantakan sehingga membutuhkan tugas ekstra.

Kesepakatan kedua orang tua
Sangat penting untuk kedua orang tua sepakat dalam menerapkan homeschooling. Akan sangat sulit menerapkan homeschooling jika salah satu pasangan ada yang menolak. Jika pasangan anda menolak cobalah untuk meneliti dan berbicara dengan orang lain untuk mencari solusinya.

Apakah anak bersedia/tertarik?
Ketertarikan anak akan sangat menentukan karena anak yang akan menjalaninya. Yang utama tentu keputusan orang tua, tetapi jika anak menolak tentu akan sulit untuk menerapkan homeschooling.

Satu tahun untuk satu masa pendidikan
Homeschooling bukanlah komitmen seumur hidup, banyak keluarga yang menerapkannya per tahun kemudian dievaluasi kembali apakah tetap menjalankan homeschooling atau tidak. Bisa saja orang tua dan anak merasa sudah saatnya untuk bersekolah formal.

Apakah orang tua merasa tertekan untuk mengajar?
Jika anda dapat membaca dan menulis, maka anda mampu untuk mengajar anak anda. Kurikulum dan materi – materi pembelajaran akan membantu anda dalam merencanakan dan menjalankan pendidikan. Anda dapat meminta bantuan orang lain jika mendapat kesulitan atau mencari tutor untuk beberapa subjek pelajaran yang sulit.

Pengalaman orang lain
Akan sangat membantu jika anda mendengarkan alasan orang lain memilih homeschooling. Anda dapat belajar dari pengalaman orang lain dan menjadi pertimbangan sebelum memilih homeschooling.

Itulah hal – hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih homeschooling. Semoga bermanfaat ya…

Sumber : http://homeschooling.about.com/od/gettingstarted/a/homeschool4you.htm

My Reflection, My Thoughts, Parenting

KERJA DARI RUMAH

Oke, karena banyak yang nanya “Ngapain aja jadi kalau nggak mengajar?” jadi saya share aja yah.

image

Jadi, setelah 12 tahun jadi wanita karir, sudah 3 bulan ini saya merubah pola pikir untuk lebih mengutamakan keluarga. So I decided to homeschool my children sambil kerja dari rumah. Bukan MLM loh yaaa. Pengen sih jualan, tapi kayaknya gak bakat dan gak tegaan. Nanti habis lagi barang dagangan, hehe.

Eh, dan alhamdulillah, ternyata, banyaaaak  sekali peluang bagi lulusan sastra Inggris dan manajemen seperti saya ini (kamana wae atuh?). Thanks to the WWW, informasi seperti ini sangat mudah sekali didapatkan.

Nah, ini dia…  Saya paparkan di bawah beberapa peluangnya ya:

1. Guru privat – Sudah jelas ya, gak perlu dijelaskan apa dan bagaimananya. Tapi ini mah jelas saya gak bisa, saat ini, kecuali online. Nunggu Debay gede. Hehe.

2. GHOST WRITER – Nah, kalau yang ini katanya harus sanggup kejar deadline dan (katanya juga) harus mampu menulis untuk pencitraan hehe.. not me also (coret)

3. CONTENT WRITER – Nah ini yang saya  lakukan. Saya menawarkan jasa kepada perusahaan dan institusi untuk jadi pekerja lepas waktu. Berhubung sekarang jamannya Marketing in Venus dimana konsumen dilibatkan, jadi bisa banget dapet pemasukan dengan cara ini. All we have to do is only updating their website to be shared to socmed. Done. Asyik kan.

4. SEARCH ENGINE RATER. Nah, saya juga secara resmi tergabung dengan salah satu rating company Google. Maap, tidak bisa menyebutkan namanya karena terikat Non-Disclosure Agreement. Modalnya ya kudu bisa Bahasa Inggris karena bahan bacaan banyak dan kudu selesai dalam waktu seminggu, terus koneksi internet n gadget terkini. Kalo dah punya modal ini, ikut tes, lulus, udah deh ke terima. Tergantung jobnya, biasanya satu jamnya dapat $18 untuk newbie kayak saya. Di kali 40 jam udah berapa tuh hehehe… Bebas pilih waktu tapi ya harus nurut deadline.

5. TRANSLATOR – udah jelas lah ya kerjaannya .. tapi not me at the moment. Takut gak kekejar soalnya.

6. WRITER – yaaay.. ini memang nggak instan, tapi justru letak kepuasannya disitu. Setelah buku selesai baru dapat royalti.

7. EDUCATION CONSULTANT – ini kerjanya online juga saat ini. Jadi kalau ada yang perlu bantuan pengelolaan sekolah secara mikro, hanya saat terjadi yang stuck aja, I’m available. Tapi gak bisa ketemu offline juga karena masih ada debay.

8. TEACHER’S TRAINER – Yup, ini kesempatan seru untuk memperluas jaringan dan belajar dari guru-guru hebat lainnya. Tapiiii, karena ada debay… pastinya not at the moment.

Nah, kaaan … banyak  peluangnya meski kita kerjaannya dari rumah. Kalau di Jepang lagi musim ibu yang giving up career for family, kenapa kita takut? InsyaAlloh, kemiskinan hanya di pikiran kita aja. Alloh yang menjamin kecukupan rizki.

Tapiii… if my next dream happen : ngajar di pesantren sambil homeschooling-in bocah (aamiin) I’d love to reconsider. Kapan lagi berkumpul dengan ahli ilmu jika tidak begitu.

My Reflection

Duka dan Embun Pagi

image

Bagi yang dirundung duka,
lihat embun pagi yang Alloh ciptakan.
Ia sabar datang membasahi bumi
memberi maslahat hingga datang matahari.
Ia tidak meminta penangguhan waktu,
tidak jua bersungut dan berseru.
Hentikan harap manusia melihat
kesedihan, rasa sakit, dan air matamu.
Mereka hanya mampu melihat kesalahanmu.
Hanya Alloh tempat berpaling,
yang tahu segala tentang makhluknya.
Maka, segera singkirkan air mata
seakan tiada di hadapan manusia.

Lectures of Life, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Sebelum Memulai Homeschooling

Ilmu sebelum amal. Yak, dalam memulai sekolah rumah pun sama. Jangan mentang-mentang homeschooling atau flexi-schooling terus kita tinggal liat kurikulum, beli buku, terus belajar sendiri atau sewa guru. Udah. Hayyaaaah, itu mah sama aja kayak pindah sekolah tapi fisiknya doang.

Sebelum mulai, sebaiknya memang kita konsultasi dulu dengan yang sudah memulai. Mereka yang sudah merasakan pahit getir homeschooling. #Cieeee *kibas jilbab*

Homeschooling is such a solution, kalau kata saya mah. Kita bisa fokus dengan ngaji, hobi, dan apapun. Plus, belajar pun lebih dalam lagi by the help of the world wide web sama guru atau narasumber yang bisa kita pilih sendiri. Kalau sekolah? Hyaaaaa… mana bisaaaaaa! Yang ada kita telan aja tuh segala kualitas guru, konten, sistem, pengajaran, manajemen, yang bisa jadi di bawah standar harapan kita.

Terus, karena tidak dipahamkan pelajaran, setelah sekolah full day, anak disiksa lagi dengan bimbel? Kali ikut kursus, wajar lah ya… Tapi, BIMBEL??? Hmm, terus, fungsi guru, sistem sekolah, dan prosedur sekolah untuk mencerdaskan dimana yaaa? Well, it’s illogical, isn’t it? *gagal paham*

image

Ah sudahlah… gak selesai-selesai ngomongin sekolah mah. Now, for a start , saya rangkumkan nih blog dan situs yang dibuat emak bapak para homeschooler, komunitas sekolah rumah, atau malah muridnya sendiri. Here we go, para mastah dan guru yang sudah berkecimpung lebih dulu (dan kemungkinan lebih tua dari saya, yes!) di dunia keren inih. Happy blogwalking. 🙂

1. Kumpulan blog ibu-ibu homeschooler muslim dari Pinterest
2. Middle Way Mom: Islam, Homeschooling, Parenting
3. TJ Homeschooling: Islamic Studies
4. Rahmah Muslim Homeschool
5. Islamic Studies on Pinterest
6. Happy Muslim Mama
7. Homeschool for Muslims
8. Iman Homeschool
9. A Muslim Homeschool
10. A Muslim Homeschool Journey
11. The Wired Homeschool
12. Eva Varga
13. Homeschool Scientists
14. Tea Cups in the Garden
15. This Reading Mama
16. The Home Scholar
17. Education Possible
18. Tyna’s Dynamic Homeschool Plus
19. Harrington Harmonies
20. Unschool Rules
21. Confession of a Homeschooler
22. Raising Lifelong Learners
23. Homeschool Creations
24. Living Montessori Now
25. Our Journey Westward
26. Blogs, She Wrote
27. Rumah Inspirasi
28. Blessed Learners
29. Komunitas2 Homeschooling Lainnya
30. Homeschooling Jakarta

Fiuuh… Masya Allah… Banyak ya? Padahal itu belum semua loooh… Harus semangat nih ngelmunya .

Bismillah.

My Reflection, My Thoughts

Fenomena Sekolah Ruko

***Pengantar artikel yang ditulis Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999, di bawah ini. ***

Saatnya cari sekolah sudah tiba. Bagi yang memilih sekolah swasta, perburuan lebih menantang lagi karena banyaknya pilihan. Dari sekolah nasional, ada plusnya, internasional, sampai sekolah abal-abal.

Yup. Sekolah abal-abal. Sekolah- sekolah ini memanfaatkan keawaman ilmu orangtua atau malah mampu menangkap idealisme untuk dijual tapi tak bisa mengejawantahkan secara teknis. Karena mau tidak mau, tata kelola sekolah ya memang teknis pelaksanaan. Ngerinya, sekolah semacam ini menjamur dimana-mana. Agar dibuat mentereng dan bertingkat, disewalah ruko agar mempesona.

Cuma ilustrasi
image[cuma ilustrasi]

Di jabodetabek ini memang lagi menjamur sekolah2 ruko. Mereka bukan lembaga pendidikan yang secara terhormat menyatakan diri sebagi kursus, pendidikan alternatif, PKBM, flexi-school, namun benar-benar mendeklarasikan diri sebagai sekolah umum. Ya, sekolah umum tanpa izin.

Memang tidak bisa digeneralisir karena beberapa sekolah bertahan berkat kualitas tata kelola dan SDM. Mereka yang melek aturan juga mengalihkan kepemilikan ruko menjadi milik sendiri. Akhirnya, sekolah pun bertransformasi dan layak disebut sekolah berkualitas.

Tapi, sayangnya, ada juga sekolah- sekolah yang sama sekali tidak layak disebut sekolah… amburadul… no system at all. Pastinya ini yang membuat tingkat turnover sangat tinggi. Dan korbannya… ya siswa lagi. 😦

Akhir dari suksesnya sang marketing menjual program adalah pindahnya para orang tua setelah tertipu. Bayar uang pangkal lagi di sekolah lain, tentunya setelah mereka melek informasi. Bagi orang tua yang sudah ‘all out’ bayar semua, pilihannya cuma satu : pasrah…

Duh… bagaimana cara menertibkan sekolah seperti ini ya? Dan yang terpenting, bagaimana mengedukasi orang tua dan anak sebelum jadi korban mereka?

Pertanyaan ini semakin banyak setelah ibu Dhitta membagikan artikel di bawah ini di milis Ikatan Guru Indonesia. Semakin galau karena sekolah-sekolah ini kok ya ‘dibiarkan’ saja. 😦

============================
SEINDAH KEHIDUPAN

Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999

KOMPAS, 10 Juni 2015

http://budisansblog.blogspot.com/2015/06/sekolah-kehidupan.html

Jelang pertengahan November 1998, di tengah hiruk-pikuk semboyan”Reformasi Total” di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, saya dipanggil Presiden Abdurrahman Wahid di suatu kediaman di Jalan Irian, Jakarta Pusat.

Kami membahas lingkup dan materi kurikulum sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Karena kami yakin materi dan cara pengajaran cepat atau lambat harus diubah, Gus Dur-sapaan akrab Abdurrahman Wahid-mengingatkan agar reformasi pendidikan di telaah secara cermat karena perubahan sistem pendidikan perlu waktu. Minimal 1-2 tahun untuk menyusun konsep, 2-3 tahun memasyarakatkan, dan setelah lima tahun mulai dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan. Saya paham tentang hal ini meski merasakan betapa sulit memasyarakatkan reformasi yang didorong para tokoh politik yang mendesak agar reformasi dimulai “sekarang juga”.

Apalagi reformasi yang mendesak merombak kurikulum, mulai dari perubahan “Bahasa Orde Baru” ke arah “Bahasa Orde Reformasi”. Saya teringat pada pemeo “ganti menteri” dan “ganti kurikulum” pada tahun 1960-an dan 1970-an. Dari zaman Menteri Pendidikan dan Pengajaran Priyono sampai Mendikbud Nugroho Notosusanto,

Saya pikir sekarang saya bakal kena batunya. Setelah belajar di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia Bagian Publisistik (sekarang Departemen Ilmu Komunikasi Massa FISIP), saya mulai berhadapan dengan orang pintar, para ahli dari berbagai institut keguruan dan ilmu pendidikan seluruh Indonesia yang ingin menyumbang pikiran tentang apa lingkup dan isi kurikulum yang “baik dan benar”.

Beruntung saya dibantu Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro (Direktur Pembinaan Sarana Akademik) dan Dr Anhar Gonggong (Direktur Nilai Sejarah dan Tradisional) di Depdikbud. Saya dikawal Letnan Jenderal Sofian Effendi, Sekjen Depdikbud yang kebetulan bos saya di Lemhannas 1996-1998. Saya pikir, karena saya dibantu teknolog asal Jawa (yang ayahnya, Prof Soemantri Brodjonegoro, pernah menjadi Rektor UI), oleh sejarawan Bugis-Makassar, dan oleh prajurit Kopassus asal Bireuen, Aceh. Agak lengkaplah, saya dibantu orang yang melambangkan rakyat yang mewakili sebagian besar Indonesia barat dan timur.

Gus Dur berseloroh, “Mas Ju jadi apanya ‘Mafia Berkeley’?” Julukan Mafia Berkeley disandangkan kepada sebagian tokoh ekonomi dan administrasi publik yang langsung atau tidak langsung membantu Prof Widjojo Nitisastro selama 20 tahun lebih (1966-2000).
“Saya hanya kroco bidang politik internasional, Gus, pernah belajar dengan beberapa teman dosen asal Aceh sampai ujung timur di Manado dan Kupang.”

“Wah, politik. Kalau begitu Mas Ju jadi tukang tembak (hit-man),” kata Gus Dur, mengingatkan saya pada film The Untouchables yang diperankan Kevin Costner, Sean Connery, dan Robert De Niro sebagai Al Capone, tokoh mafia Chicago tahun 1929-1930.

“Begini,” kata Dur, “Saya ini ditanyain tentang itu lho, sekolah ruko yang menjamur di mana-mana, termasuk di daerah saya di Ciganjur. Itu namanya sekolah-sekolahan, enggak jelas alamatnya, enggak jelas izinnya. Itu namanya sekolah enggak keruan.”

“Saya ingat kata-kata Satryo Soemantri Brodjonegoro, kira-kira ada 747 perguruan tinggi swasta di daerah Jabotabek,” kata saya ke Gus Dur. Ia yang langsung berseloroh: “747? Angka dari mana tuh, kok mirip banget dengan pesawat Boeing 747?”

“Tahu enggak Mas,” sambung Gus Dur, “saya ini sudah lama mimpin UCLA, University Ciganjur Lenteng Agung, enggak kalah terkenal dengan sekolah UC Berkeley atau UC Los Angeles. Saya drop out dari Universitas Baghdad dan cuma mahasiswa pendengar di Al-Azhar, Kairo. Tetapi, saya mahasiswa Sekolah Kehidupan, saya melihat-lihat mengalami kehidupan nyata di lapangan.”

Saya mengangguk diam dan berkata dalam hati, Gus Dur memang sarjana yangsujana, simple dan rendah hati. Orang Jawa bilang dia itu tidak gumunan, tidak mudah kagetan, tidak mentang-mentang. Gelar apa pun, akademik, adat, gelar keagamaan, tidak ada artinya kalau dia tidak menghargai dirinya sendiri dengan berkaca pada pahit getirnya tantangan hidup sehari-hari.

Saya teringat ucapan Bung Karno pada awal 1960-an ketika membuka Hari Sarjana UI di Kampus Salemba 4, Jakarta Pusat.

Mengutip pidato Bung Karno ketika memperkenalkan pemimpin Vietnam Ho Chi Minh, saya berkata dalam hati, “Paman Ho tak tamat sekolah tinggi, tetapi berhasil mengocar-ngacirkan pemerintah kolonial Perancis sehingga tahun 1954 Perancis takluk di Dien Bien Phu dan mundur dari Indo-China.”

Gus Dur adalah sosok genius yang tak perlu mengejar gelar akademik, apalagi dari sekolahan pojok jalan atau ruko murahan yang bertebaran di mana-mana. Tetapi, Gur Dur seperti juga Ho Chi Minh yang pernah magang sebagai koki di hotel di Place Vendome, Paris, adalah orang yang percaya diri pada garis tangan. Siapa tahu yang mengelola ruko sekolah-sekolahan itu berhasil karena ada tangan Tuhan yang membantunya keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Siapa tahu ijazah palsu yang dipersoalkan itu kelak membantu orang menjadi otodidak, yang karena rasa percaya dirinya besar sehingga tak memerlukan gelar: sah atau tidak! Atau, seperti kata Gus Dur, “Enggak usah repot-repot nertibkan (sekolah di) ruko-ruko itu. Lama-lama capai juga mereka ngurusin ijazah dengan segala tetek bengek cap, laminating dan figura.”

Benar juga. Butuh tenaga dan biaya sangat banyak untuk menertibkan sekolah tak keruan itu. Biarkan sekolah tadi layu tak berkembang. Biarkan orang mencari rezeki atau rugi sendiri kalau tidak ada peminat yang memercayai iklan yang dipasang di mana-mana dengan biaya semurah atau semahal apa pun. Biarkan ijazah palsu diedarkan sampai orang kapok.

Sekolah Kehidupan hanya perlu pelita hidup dalam hati kita masing-masing. Itulah ijazah yang sebenarnya kita selalu mencari, dari pengalaman hidup Ho Chi Minh, Gus Dur, dan ratusan tokoh tak bergelar akademik di seluruh pelosok Indonesia.

My Reflection

KLASTULISTIWA 2015

Hari ini hati saya bergetar…

Ternyata benar, untaian doa penuh harap untuk rampungnya sebuah karya yang dikerjakan dengan ikhlas bersama-sama, seakan mampu menggerakkan semesta untuk mewujudkannya. Tidaklah mudah mengerjakannya di tengah tuntutan waktu untuk untuk mempelajari ilmu. Belum lagi, beberapa dari penulis terpaksa mundur dari institusi yang menyatukan raga kami.

Tapi, Allah Azza wa Jalla berkehendak lain. Buku ini selesai meskipun raga kami terpisah. Semoga karya ini mampu merekatkan ukhuwah yang indah ini nantinya. InsyaAllah….

Inilah kisah kami…

image
Klastulistiwa 2015

Alhamdulillah, atas karunia Allah Azza wa Jalla, buku karya para penulis perempuan muda ini pun akhinya rampung. Perjalanan kreatif yang terjadi di kelas Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Ibu Mierza pada tahun ajaran 2014-2015 ini menjadi lebih dari sekadar portofolio, tapi awal kontribusi mereka yang menembus ruang kelas. Ya… menembus ruang kelas. Karena, selain memiliki ISBN yang berlaku internasional, seluruh royalti pembelian buku ini akan didonasikan kepada Yayasan Umar bin Abdul Azis untuk pembangunan Masjid As-Sunnah BSD, Tangerang. Akhir kata, tulisan mereka yang tepercik oleh pembelajaran yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah semoga menjadi penguat perjalanan dalam akhir zaman sebagai al ghuraba. Namun, karena memang buku ini ditulis oleh para pembelajar, mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun redaksinya. Silakan kunjungi
http://www.klastulistiwa.com untuk memberikan saran demi perkembangan kami jika Anda menemukannya.

image
Klastulistiwa 2015

Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via :
– SMS ke 0819 0422 1928 (LeutikaPrio Publisher)
– Email ke leutikaprio@hotmail.com
Atau klik disini

My Reflection, Parenting

“Anaknya Anteng, ya.” Tips Membawa Anak ke Tempat Umum

“Ih, kok anteng ya?” Biasanya, pertanyaan itu yang terlontar ketika  saya membawa salah satu atau salah tiga dari anak saya ヾ(*´∀`*)ノ.

Sebenarnya,  itu adalah jawaban, rahmat, dan kasih sayang Allah ketika saya galau bertanya “Apakah bisa kesana kemari dengan tiga anak kecuyungun?”.  Alhamdulillah, itulah doa yang dikabulkan dan diiringi ikhtiar tentunya.

Sedih memang melihat kenyataan di dunia sekarang ini yang semakin tidak sabar dan tidak ramah dengan anak kecil. Jangankan tempat resmi, bahkan di institusi pendidikan yang kliennya anak – anak pun bisa lebih bengis dan diskriminatif terhadap perempuan yang bawa anak kemana-mana seperti saya. Maka dari itu, saya yang perlu wara wiri pun harus mampu bersiasat.

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat formula yang bisa saya terapkan kepada anak sulung (8th), anak tengah (4th), maupun anak bungsu saya (2bln). Mereka sudah bisa dibawa rapat atau pertemuan yang beberapa jam…

image

Daurah dua hari yang berturut -turut dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore bersama dua bocah (waktu itu si bayi belum ada)

image

Sampai ikut pelatihan montessori pagi sampai sore selama 4 hari berturut – turut.

image

Alhasil Debay pun jadi cerewet setelah pelatihan.. hehehe…

Kalau saat memberikan pelatihan atau mengajar, debay kecuyungun masuk babywrap deh…

image

Nah, sekarang kita masuk ke how-to. Inilah yang kami lakukan setelah meminta bantuan Allah Azza wa Jalla untuk membuat anak-anak kami anteng di tempat umum:

1. Minta ijin yang mengundang. Lha, ini adabnya. Mosok kita mau maksa tuan rumah. Lagipula, dari pengalaman, bayi/ anak bisa merasakan lho orang dewasa yang suka (dan tidak suka) anak kecil.

2. Ajak bicara sebelumnya . Ini juga berlaku untuk bayi lho. Kalau kami sudah sounding dari malam sebelumnya sampai saat turun dari kendaraan. Komunikasikan apa yang mau kita lakukan, apa yang kita harapkan, sampai apa yang bisa terjadi kalau si anak tidak berlaku sesuai harapan (tapi bukan ancaman lho, ya). Kalau saya berbicara seperti ini, “Sayang, besok Ummi akan ajak kamu ke…. . Disana Ummi akan (melakukan apa). Kamu yang anteng ya sayang. Kalau mau bicara bisik-bisik ya. ” Kalau kepada si balita dan anak sulung, saya ajak ngobrol deh. ‘Kelakuan’ anak balita akan kita bahas bersama ceritanya hehe. Misalnya, saya akan bertanya begini, “Kalau kamu jalan-jalan, om tante yang ada disana akan merasa apa ya?” Teruus digali sampai dia mengeluarkan kata yang kita mau, yaitu “terganggu”. Heheh… modus. Bahkan kita pun bisa memberi tahu konsekuensinya (bukan ancaman lho ya) jika mereka tidak berlaku sesuai harapan. Maksudnya, konsekuensi itu juga menimpa orangtuanya *efek dramatisasi*.

3. Know your children. Ini penting karena anak masih pada tahap pemenuhan insting. Jangan harapkan anak berlaku baik ketika keinginan dasar mereka tidak terpenuhi. Contohnya anak sulungku. Dia bisa anteng di tempat asing kalau dibekali (atau dibelikan) buku yang banyak. Anak tengahku doyan ngemil, jadi tahulah apa yang harus dibawa.
Dia juga hobi membawa mainan kemana -mana. Kalau si bungsu ya pastikan si emak dan stok Abinya tersedia, hehe.

4. Beri hadiah jika mereka berhasil sabar . Yup, reward ini diberikan untuk kesabaran mereka berada di tempat yang ‘tidak seharusnya ‘ dalam waktu lama. Ini akan lebih efektif kalau orangtua jarang memberi hadiah. Untuk hal rutin yang berhasil mereka lakukan, saya memberi reward vertikal seperti ucapan barakallahu fiik, masyaAllah, Ummi bangga banget, dan sebagainya. Pemberian hadiah itu akan menjadi spesial ketika mereka melakukan hal yang menyenangkan orangtua. Ini, menurut saya, melatih birrul walidain lho…

5. Konsistensi. Nah, ini yang paling penting dan paling sulit, apalagi untuk orang tua yang tidak tega melihat anak menangis. Ingat lho, setiap yang kita lakukan akan dipelajari anak. Misalkan, ketika kita sudah menyampaikan konsekuensi kalau kita harus meninggalkan acara, yaaa harus kita lakukan. Demikian pula dengan pemberian hadiah.

Anak-anak itu belajar dari pola yang kita lakukan. Memang terkadang things didn’t go the way we wanted . Kalau itu, ingat yang nomor 4: konsistensi , plus stay cool, calm, and confident . Jika kita terus konsisten, mereka akan mempelajari dan melakukan,
sesuai ‘skenario ‘, insyaAllah. Dan lama-lama semuanya akan jadi lebih mudah karena routine dan prosedur yang kita ikuti dari awal.

Jadi, siapa takut tetap menjadi Ibu di saat kita dituntut profesional?

(*^▽^)/