My Reflection

Versi Unyu-Unyu Blooms’ Taxonomy

Pagi-pagi nongkrong di facebook sambil blogwalking memang seru, apalagi kalau nemu yang begini. Hehe…

Blooms Taxonomy emang gak ada matinya. Sejak pertama berkenalan dan mulai pakai formulanya di kelas, saya lebih sering dibuat tercengang sama hasil akhirnya: my students and their masterpieces!

It can dig into their full potential beyond the classroom! Saya ulangi ya… beyond… melewati tembok-tembok ruang kelas, mashaAllah.

So, teachers, enjoy the infographic…  intinya sama namun lebih unyu-unyu pastinya.

image

Gambar & pelajaran keren lainnya bisa dilihat di http://anethicalisland.wordpress.com/

Students' Masterpieces

Al Taqwa Indonesia’s Talents

Salaam!

Al Taqwa Welcome

It’s been almost a year that I jumbled with the classes of Al Taqwa Colege Sentul. Some of their masterpiece have captured our writing journey throughout the days. Some of the works were captured on tdifferent media, however, due to the challenge of our so-called internet connection. Well, that’s the art of living a bit far from civilization.

So, feel free to click on the links and be rejuvenated by the young minds of these talents! 🙂

YEAR 8

1. Ihsan http://m1psch00l.wordpress.com

2. Rizna  http://itsaboutschool.wordpress.com   riznaar.wordpress.com

3. Cut blogdipaksapaksa.wordpress.com

4. Salsa salsabilakh.wordpress.com

5. Nada http://shafiyyaqotunnada.wordpress.comsyafidaqk.wordpress.com

6. Erdy http://erditanaya14.wordpress.com/

7. Ulhaq http://ulhaqthebuluk.wordpress.com

8. Hilmi http://alwanhilmi.wordpress.com

9. Leon http://rikudouleonmahesa.wordpress.com

10. Ganes http://ganesyear8.wordpress.com/
11. Rizza http://rizza29.wordpress.com/

12. Nicky http://nickyputtera.wordpress.com

13. Mujahid http://www.Mujayhid19.wordpress.com

14. Tsabita http://tsabitasafirablog.wordpress.com

15. Ghozi http://ghozifikri.wordpress.com/

16. Farrel farrelyuvialdi.wordpress.com

17. Kautsar alwanalkautsar.wordpress.com

18. Zikri kamupintaryah.wordpress.com

YEAR 7

1. Bulan http://bulanayu495.wordpress.com

2. Nisa http://arigohshafanissa.wordpress.com/

3. Vica  http://yuvicaf.wordpress.com/

4. Idan http://haidarhorsey.blogspot.com 
5. Ocean http://oceannubli.blogspot.com 
6. Odi http://dinanta07.blogspot.com

7. Farah http://farahdina2508.wordpress.com

8. Abil nabilladeh.wordpress.com

9. Nurma http://creepycrackycastle.wordpress.com

10. Shafa http://sosesosesose.wordpress.com/

11. Davina devinasac.wordpress.com

12. Fadel http://fadelf2.wordpress.com

13. Bulan bulanayu495.wordpress.com

14. shalimar10.wordpress.com

YEAR 9

1. Angela dewivangreuningen.blogspot.com

2. Ariq ariqalghifari11.blogspot.com

3. Ataa ataassoseproject.blogspot.com

4. Dika muhammadhandika.blogspot.com

5. Fatimah fullofschool.blogspot.com

6. Huzi hudzaifahsproject.wordpress.com

7. Indah setiapjumat.blogspot.com

8. Kyla kylaaulias.blogspot.com

9. Pristina pristinabahar.blogspot.com

10. Putri iniblogmilikku.blogspot.com

11. Bagas rafi203.blogspot.com

12. Raissa schoolsukamakan.blogspot.com

13. Shoffa oppadilah.blogspot.com

14. Tsamara tsammyxo29.blogspot.com

15. Zahra schoolimagines.blogspot.com

Year 11

1. Via vianoviani.blogspot.com

2. Nadia nadikidalkadal.blogspot.com

 

Year 12

1. Dimas http://dimaswrd.blogspot.com

My Reflection

Saksi Kebohongan Jamaah Tahunan

Apa-apaan ini? Semua akhlak yang kita tanamkan semenjak kecil luntur karena ketidak adilan yang kita (orang dewasa) buat sendiri. Hati saya hancur membaca ini. Bukan… hati saya hancur setiap tahunnya. Tahun dimana kita menutup hati lalu melupakan setelah high-stakes exam ini berlalu.

Alhamdulillah, saya berada di institusi yang menjunjung tinggi kejujuran. Hasil UNAS anak2 punya tinggi disini. Tapi tunggu, sekolah saya sekolah swasta dengan bayaran mahal. Wajarlah jika hasil ujiannya memuaskan. Tapi, alangkah picik jika saya menutup mata. Saya pendidik.. dimanapun.. kapanpun… bagi siapapun.. Alangkah naifnya kalau saya mengharapkan anak-anak di ujung Indonesia dengan kondisi yang jauh berbeda diberikan tes yang sama. Konyol. Sungguh konyol.

Hati saya teriris membaca surat terbuka ini.

Melihat kejujuran berubah menjadi… omong kosong.

INI buktinya!

http://tolakujiannasional.com/2014/04/24/surat-terbuka-untuk-bapak-menteri-pendidikan-dilematika-ujian-nasional/

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK MENTERI PENDIDIKAN: DILEMATIKA UJIAN NASIONAL

Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara.

Sebuah surat terbuka, untuk Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat,
di tempat.

16. Mencontek adalah sebuah perbuatan…

a. terpaksa

b. terpuji

c. tercela

d. terbiasa

Ardi berhenti di soal nomor enam belas itu, salah satu soal ulangan Budi Pekerti semasa dia kelas 2 SD dulu. Ia tertegun, dan hatinya berdenyut perih saat dilihatnya sebuah coretan menyilang pilihan jawaban C. Coretan tebal, panjang, ciri khas si Ardi kecil yang menjawab nomor itu tanpa ragu, melainkan dengan penuh keyakinan…

Handphonenya berdering pelan, sebuah SMS masuk. Ardi membukanya, dan ia menghela nafas dalam-dalam begitu membaca isinya.

Jadi gimana Di, ikutan pakai ‘itu’ nggak?

Barangkali bukan kebetulan Ardi menemukan soal-soal ulangan SD-nya saat ia mau mencari buku-buku lamanya, barangkali bukan kebetulan Ardi membaca soal nomor enam belas dan jawaban polosnya itu, sebab denyut perih di hatinya baru mereda setelah ia mengirim sebaris kalimat yakin…

Nggak, Jo, aku mau jujur aja.

Sebuah balasan pahit mampir selang beberapa detik setelahnya,

Ah, cemen kamu.

Tapi tidak, Ardi tak goyah. Ia mengulum senyum dan batinnya berbisik pelan, salah, Jo.

Jujur itu keren.

UNAS. Sebuah jadwal tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa selama tahun-tahun sebelumnya. Sebuah penentu kelayakan seorang siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah dia jalani atau tidak. UNAS sudah sejak lama ada, meliputi berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampai yang terakhir, yakni SMA. Sudah sejak lama pula UNAS menuai pro dan kontra, yang mana rupanya kontra itu belakangan ini berhasil ‘memaksa’ pemerintah untuk menghapuskan UNAS di tingkatan SD. Sedang untuk tingkat SMP dan SMA, kemungkinan itu masih harus menunggu.

Tiap kali UNAS akan digelar, seluruh elemen masyarakat ikut tertarik ke dalam pusaran perbincangannya. Perdebatan tentang perlu-tidaknya diadakan UNAS tak pernah absen dari obrolan ringan di warung kopi, dan acara-acara yang mengklaim ingin memotivasi para peserta UNAS pun bermunculan di berbagai channel televisi. Di sela-sela program motivasi itu, jikalau ada sesi tanya-jawab, hampir bisa dipastikan akan ada seorang partisipan yang melempar tanya:

“Bagaimana dengan kecurangan UNAS?”

Ah, ya, UNAS memang belum pernah lepas dari ketidakjujuran.

Sekarang, jangan marah jika saya bilang bahwa UNAS identik dengan kecurangan. Sebab jika tidak, pertanyaan itu tidak akan terlalu sering terdengar. Tapi nyatanya, semakin lama pertanyaan itu semakin berdengung di tiap sudut daerah yang punya lembaga pendidikan; dan tahukah apa yang menyedihkan? Yang paling menyedihkan adalah saat lembaga-lembaga pendidikan itu, tempat kita belajar mengeja kalimat ‘kejujuran adalah kunci kesuksesan’ itu, hanya mampu tersenyum tipis dan menahan kata di depan berita-berita ketidakjujuran yang simpang-siur di berbagai media.

UNAS dengan segala problematika dan dilematika yang dibawanya memang tak pernah habis untuk dikupas, dan sayangnya ia tak pernah bosan pula menemui jalan buntu. Dari tahun ke tahun selalu ada laporan tentang kecurangan, tetapi ironisnya setiap tahun itu pula pemerintah tetap tersenyum dan mengabarkan dengan bahagia bahwa ‘UNAS tahun ini mengalami peningkatan, kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, rata-rata tahun ini mengalami kemajuan’, dan hal-hal indah lainnya. Dulu, saat saya belum menginjak kelas tiga, saya berpikir bahwa grafik itu benar adanya dan saya pun terkagum-kagum oleh peningkatan pendidikan yang dialami oleh generasi muda Indonesia.

Tetapi sekarang, sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS… dengan berat hati saya mengaku bahwa saya tidak bisa lagi percaya pada dongeng-dongeng itu. Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya, saya merumuskannya menjadi tiga poin penting…

Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20 soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama, hanya untuk satu indikator ‘menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan dan hewan’?

Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil. Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah bertanya, ‘tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?’ melainkan akan langsung bertanya, ‘nilai UNASmu berapa?’.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali, bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa Indonesia, ‘kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan bersama, ‘kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.

Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata ‘sedikit’ ini). Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya. Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional. Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui soal-soal itu, ‘kan?

Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti… apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di twitter Bapak, ‘tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang baru’. Tapi, Pak, sekali ini saja… sekali ini saja saya mohon, Bapak duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas. Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu seperti apa.

Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal itu selama sepuluh menit. Ya… beliau bilang ada yang salah dengan kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya pertanyaan-pertanyaan heran…

Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?

Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?

Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam?

Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?

Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih ada banyak sekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja sudah sujud syukur?

Etiskah menuntut sebelum memberi?

Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat itu?

Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita, ‘Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan’. Kemudian Bapak akan merasa tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu, itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak ‘UNAS menyenangkan’ itu? Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas…

Jalan pintas itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini. Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa terjadi, yaitu joki.

Mengapa saya tidak paham joki itu bisa terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa “Soal UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!”, tetapi ketika hari H pelaksanaan… voila! Ada saja joki yang jawabannya tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini, berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai detergen mahal.

Iya langsung bersih cling begitu, toh?

Nyatanya tidak.

Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi, entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang. Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada main-main dari pihak dalam.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada kebocoran di atapnya.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan keyakinan dan iman saya.

Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar, untuk berbuat curang? Jika tidak… saya beritahu satu hal, Pak. Ada beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru, dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara airmata mereka… berharap Tuhan membantu.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu. Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah, ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih ‘ah, ini bukan bidang saya’, lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?

Tidak.

Tentu saja Bapak tidak sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika Bapak percaya… mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk mengadakan UNAS.

………

………

………

Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.

Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar, goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang notabene adalah penentu kelulusan kami?

Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.

Sampai sini, masih beranikah Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah, Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk mendapat uang.

Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berlaku curang itu tidak ada?

Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, “Kita lihat saja hasilnya nanti.”

Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali mendengar pepatah ‘don’t judge a book by its cover’, akan lupa untuk melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para ‘ghost writer UNAS’. Bapak akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami. Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran semu?

Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit, karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi…

Berhentilah bersembunyi di balik kata-kata, “Saya percaya masih ada yang jujur di generasi muda kita”. Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya. Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak? Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan yang hanya jujur di atas kertas?

(Ngomong-ngomong, Pak, banyak dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom ‘saya mengerjakan ujian dengan jujur’ dari lembar jawaban UNAS.)

UNAS bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun, sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput disosialisasikan ke siswa.

Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.

Dan saya tahu itu, Pak.

Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?

Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?

Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?

Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.

Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba…

Dari anakmu yang meredam sakit,

Pelajar yang baru saja mengikuti UNAS.

Nurmillaty Abadiah

Sumber: Note Facebook yang dilaporkan ke akun twitter @AyoTolakUN

__._,_.___

My Reflection

Karena Bu Risma

Setelah Teen Edu hari ini yang intinya sama… Ini teruntuk kalian anak-anaku siswa Al Taqwa College Indonesia tercinta.

avatar senyummatahariIslam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.588 kata lagi

Mierza's Own, My Reflection, Teacher's Professional Development

An Awesome Lecture

The slide was used in a training session at the Sugar Group Schools. It was shown after the audience, who was actually invited teachers, watched series of video of their alumnae telling them about the most memorable teacher and the reasons. Afterward, we shared on the ways to make our presentation look stunning and memorable for students guided by the slide below.

Mierza's Own, My Reflection, Teacher's Professional Development

Integrating Business Skills into KTSP-Based ELT

The paper was presented at the National Education Conference organized by Sampoerna School of Education, Mien R. Uno Foundation, and World Bank on December 12, 2012. It was such a remarkable experience since I got to know so many amazing people such as Taufan Garuda Putera, Lendo Novo, and lots of inspiring individuals. I was also interviewed by Kompas after my presentation as the links could be found here . Yet, to my surprised, the content was devastatingly different. Thank God there is the real-time magic of the internet. I sent my concern via Kompas.com comment section, and they finally clarified with another news that could be found  here.

Well, enough said. Hope that the slides and paper I put here will be beneficial to be used.

Mierza's Own, Teacher's Professional Development

Relevant Teaching Technique to Consider

Today seems to be an uploading workshop materials time for me as I have been uploading some, including this one, on one same day. The slide I uploaded was presented in a workshop held at Sugar Group Schools.  I shared this with the teachers who actually have known some of the teaching techniques. So, actually it is more than just a training session but also a sharing session.  Enough said, feel free to download the following slide for your purpose, then. 🙂

My Reflection, Teacher's Professional Development

The Super Easy Way to Create Comment Bank

This slide is dedicated to a webpage that makes report comment writing an ease. Truly, I’d like to thank Ray’s Educational Software  that can make my paperwork as a bliss. They, mashaAllaah, shared the software for free (known as freeware) to all teachers. They even encouraged teachers to share it to others.

Therefore, I held a training session for teachers at Al Taqwa College Indonesia in creating comment bank. Hopefully, the freeware would benefit them as well, inshaAllaah.

Well, I can’t say no more but to invite you to view the slide and enjoy the teachers’ moment of creating report comment for our beloved students.

Lectures of Life, My Reflection, Teacher's Professional Development

Teachnology

This post is to share a professional development session I did in a workshop for the teachers of  Al Taqwa College, Indonesia. It is actually an introduction of how to use technology in the classroom, not merely to help as teaching tools. Following is the slide I used in the training. Feel free to use it.

As seen on the slides, there are some of my favorite techie tools such as hot potatoes and freemind. Yet, the links are unclickable. Well, if you require to have the links or files, you may leave your email on the comment section and inshaAllaah I would send it to you.

SOSE Resources

[SOSE Year 9] Coastal Systems

Assalaamu’alaikum students,

Kindly find the following slides used in the classroom when we learnt about Coastal System. Just follow the steps if you need to download it. You could also, however, read it on my website.

Ow, and those awesome videos that we watched, you can easily find it on the online video stores: YouTUBE! ^__^ Just put the keyword: ‘cliff collapse’, ‘coastal erosion good plenary’, ‘Japan tsunami’, and VOILA: bundled of free valuable resources could be accessed as easy as one-two-three (sometimes more, if the connection is not really good of course :P).

By the way, thanks for those contributing to twitter (optional) homework @klastulistiwa as you deserve more points for your effort.

So, this is it. See you in the next topic and as always…

Thanks for surviving in my classroom.

BarakAllaah feekum.

Bu Mierza

My Reflection

Yuk, ikut Seminar ‘Internet Ethics’ di IHBS

image

**Peserta terbatas, yang lolos seleksi akan dihubungi oleh panitia

Mengupas bagaimana etika berdakwah di media elektronik di.dunia maya

Hari/Tgl Ahad, 26 Januari 2014
Waktu Pukul 08.00 –15.00 WIB
Tempat Kampus Ibnu Hajar Boarding School (IHBS)
Jl. Raya Munjul Gg. Musholah Fathul Ulum No.11 Munjul Cipayung Jakarta Timur 13850

Pembicara
1. Bpk. Sukpandiar, SH. (pengacara) “Sosialisasi undang-unda Internet & Transaksi Eletronik (ITE) dan contoh-contoh pelanggarannya“
2. Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA. (Pembina KP Narasumber Yufid TV, Dosen STDI Imam Syafi’I Jember) “Fiqih dakwah ilallah dan etika berdakwah di dunia maya”

Terbuka untuk ikhwan dan akhawat
Pendaftaran: http://ethics.itdakwah.com/
Gratis, peserta terbatas!

Kontak Panitia:
1. Yulian Purnama (08562967403, 0888 1616 255 / ian.doang@gmail.com )
2. Kurnia Adhiwibowo (08562844478, 0896 0408 2340 / camagenta@gmail.com)

Sponsor:
* Salam Dakwah (salamdakwah.com), situs dan aplikasi untu Smartphone, seperti BlackBerry, Android, iPhone, dan Tablet memungkinkan Anda untuk mendapatkan tayangan video ka audio kajian, forum islami, jadwal kajian dan artikel
* E-Bimbel (ebimbel.co.id), solusi praktis untuk percepatan pembelajaran berbasis ICT di era digital. Insya Allah mampu memberikan efektivitas dan interaktivitas untuk pembelajara baru, berkualitas, mudah serta menyenangkan
* Muslim.Or.Id, situs islami yang berupaya menebarkan sun memurnikan aqidah
* Rumaysho.com, situs islami yang mengenalkan ajaran Islam lebih dekat
* Yufid (yufid.org), tim kreatif di bidang pendidikan dan dakw telah menghasilkan banyak produk dan konten Islami.

Lectures of Life, My Reflection, Teacher's Professional Development

Integrate Poverty Topic in ELT to Promote Character

Mierza's ICCE Pic 2011Well, this is my first presentation in international conference which is not language-related. I was interested with the ‘character improvement’ of my students, so I tried integrating poverty issues in my ELT (English Language Teaching). I was astonished since the lessons even taught me that I knew nothing about poverty. I learnt a lot from my students who have been living around and struggling to get out of it.

So, I tried to share to the world what we had done in the classroom and as a school system since at the moment the school also integrated the pillars of character. Surprisingly, most of the audience had no clue that the characters of the students would be best cultivated if it is part of the school system – more than just daily interventions.

Alhamdulillaah, I was fully supported by the school to present my paper there. Here are the slides and papers that I presented at the International Conference of Character Education held in University of Yogyakarta.

Englicious Resources, My Reflection, Teacher's Professional Development

Incorporating Global Warming Issues in ELT

This is my second presentation slides and presentation which happened to be my first ‘appearance’ at an international conference. The event was organized by TEFLIN and UPI Bandung on November 1-3, 2010. The paper itself was actually a continuation of the research I had made as presented at Ma Chung University.

Surprisingly, at that conference, I won the Alwasilah-Teflin Award as the best paper! Alhamdulillaah, I (who happened to be expecting my second child at that time) could bring home Rp 1.000.000 from the conference. I supposed that it was the gift for my baby. 🙂

The Presentation

The Paper 

Englicious Resources, My Reflection, Teacher's Professional Development

Promoting Environmental Sustainability in EFL Classroom

This is my first presentation and paper written to be presented at Ma Chung University on National Conference of Literature and Language Teaching (NACOLLIT) in 2010. It was also the first time for me presenting and talking in front of different audience, i.e. not my own students. 🙂 But then, alhamdulillaah, Allah gave me the strength and courage to move on. And now, I am addicted to share more.

The Slides

The Paper (ISBN 978-979-17959-6-8)

Lectures of Life, Muslimah Session

Jadi Muslimah Berahlak Baik itu COOL!

Bismillaah…

Berikut ini slide yang pernah dibuat untuk dipresentasikan pada Muslimah Session atau sesi kajian muslimah di sebuah sekolah menengah umum. Semoga bermanfaat.

Lectures of Life, Teacher's Professional Development

Manajemen Pendidikan Islam: Catatan Daurohku

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi materi dari sesi “Daurah Khusus Para Pendidik dan Pengelola Lembaga Pendidikan Islam” di Masjid Al-Barkah, Cilengsi pada tanggal 1 Januari 2014. pukul 09:00 – 15:00 WIB. Oya, catatan saya sebelumnya pernah  menampilkan informasi daurah pada  blog ini juga di http://goo.gl/fYtKKw . Pemateri daurah ini adalah  Ustadz DR Erwandi Tarmizi, M.A. yang membawakan materi “Manajemen Pendidikan Islam” dan Ustadz Kurnaedi, Lc. yang membawakan materi “Bingkisan Istimewa untuk Para Pendidik Generasi Islam”. Catatan ini tidak selengkap daurahnya tentu saja. Beberapa bagian gagal terdokumentasi karena beberapa gangguan konsentrasi seperti kelaparan, kebingungan, kefakiran ilmu, dan panggilan alam… hehe… 
 
InsyaAllah, saya tampilkan tautan ke situs yang akan menayangkan video atau catatan daurah yang komplit di masa yang akan datang, jika ada dan sudah diunggah panitia daurah tentunya.
 
Bismillaah….
 
Kesan Pertama Begitu Menggoda
Alhamdulillaah,  kesampaian juga menghadiri daurah setelah pindah ke peradaban 6 bulan yang lalu. Didaulatlah Masjid Al  Barkah Cileungsi sebagai tempat perdana mengkaji ilmu setelah sekian lama berencana (padahal niatnya aja yang  kurang -_-). 
 
Kesan pertama begitu menggoda. Masjid dua lantai ini nampak rapi tanpa pedagang  dan sampah. Pedagang dilokalisasi di gang sebelah masjid dan kios-kios depannya, sedangkan sampah tentunya dilokalisasi di tempat sampah.. hehe… 
 
Acara dijadwalkan dimulai jam 9.00 dan saya datang  15 menit  sebelumnya. Tapi, subhanallaah, bahkan belum dimulai pun sudah banyak yang hadir. Di  depan meja panitia terlihat antrian akhwat yang menunjukan surat pengantar dari lembaga untuk bisa masuk demi ilmu gratis ini. Kami hanya ditawari kupon infaq makan siang seharga Rp 10.000. Terlihat panitia yang sigap membagikan plastik untuk membungkus alas kaki kami karena penuhnya tempat penitipan. 
 
Setelah menuliskan nama di daftar peserta, cepat-cepat saya naik ke lantai 2 untuk memasuki ruangan khusus akhwat. Wah, saya harus puas mendapatkan shaf tengah,  barisan kesepuluh sepertinya. Weleh, menyesal juga tidak datang lebih pagi. Acara  dimulai tepat waktu  dengan jumlah partisipan yang memenuhi ruangan pukul 9 itu. Ngga ada tuh,  stereotip “Late is Our Nature” disini. Everything starts  punctually.
 
Nah, satu hal lagi yang membuat takjub adalah toiletnya yang sama-sama terletak di lantai 2. Awalnya sempat ragu sebentar untuk masuk tempat wudhu dan toiletnya karena terlintas  stereotip toilet umum yang tidak bersih.  Tapi,  berhubung sudah dipanggil,  saya beranikan diri sesungguh hati untuk memasukinya (halah!). 
 
Dan ternyata, saudara sekalian,  toilet dan tempat wudhu di sana jauh dari stereotip tadi.  Lantai luarnya yang kering dan bersih membuat akhwat yang datang bisa leluasa mengenakan kaus kakinya.  Terdapat gorden khusus kamar mandi tebal yang membatasi area kering dan tempat wudhu.  Tempat  wudhu dan toiletnya sangatlah bersih dan terjaga kesuciannya. Bahkan, kloset  duduknya bersih dari tapak kaki, kering, dengan flush yang berfungsi (huwaw!)  – hal yang sulit ditemukan di toilet umum. Subhanallaah,  inikah cerminan muslim sesungguhnya  yang murni mengikuti  Quran dan Sunnah? Typeless jadinya…
 
 

SESI 1: MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Sesi yang dibawakan Ustadz DR Erwandi Tarmizi, M.A. dengan moderator, yang saya lupa namanya, berlangsung seru karena sifatnya yang lebih ke sharing. Beberapa solusi didapatkan pula dari sesi yang berlangsung interaktif ini. Sayangnya, selama 30 menit pertama, sistem audionya kurang mendukung.. hihiks… 
 
Dalam 30 menit itu, beberapa statement sempat terdengar. Seperti “Anak-anak memiliki titik kelemahan bisa jadi kelebihan dan sebaliknya.” Intinya, pendidik generasi Islam seharusnya mampu menggali lebih lanjut. Terdengar juga kalimat yang menyatakan “Ilmu yang paling utamanya adalah ilmu dari Allah”, namun kurang jelas konteksnya apa.. mohon maaf… -_-.  Yang terakhir adalah satu pernyataan yang sangat saya suka yaitu “Sistem pendidikan Islam  seyogyanya bisa diakses seluas mungkin oleh seluruh kalangan.” 
 

Menyoal Kurikulum

Catatan khusus ya… sesi ini juga masih agak-agak kurang terdengar. Jadi, mohon maaf jika kurang lengkap. Nah, disini moderator mengangkat isu mengenai porsi pendidikan agama. Bagaimana seharusnya sebuah sekolah Islam ‘membagi’ porsi agama di tengah tuntutan kurikulum? Ust. Erwandi menjawab bahwa anak-anak sangat baik jika diajari Bahasa Arab di awal usianya untuk mampu memahami Al Quran. Beliau mengutip perkataan Ibn Khaldun yang menganjurkan agar anak-anak terlebih dahulu diajarkan bahasa Arab sebelum ilmu-ilmu yang lain, karena bahasa adalah merupakan kunci untuk menyingkap semua ilmu pengetahuan. Menurut pandangan Ibn Khaldun, mengajarkan al-Qur’an  mendahului pengajarannya terhadap bahasa Arab akan mengkaburkan pemahaman anak terhadap al-Qur’an itu sendiri karena anak akan membaca apa yang tidak dimengerti. 
 
Selain itu, ada poin penting yang Ust. Erwandi tekankan melihat fenomena menjamurnya SDIT, TKIT, dan IT-IT lainnya di Indonesia dengan beragam ‘kelebihan’ yang ditawarkan, seperti hafal berapa juz sampai menjanjikan untuk menjadikan si siswa ilmuwan dan ulama sekaligus di masa depan. Sayangnya, sekolah-sekolah (dengan beragam bobot kurikulum yang diusungnya) ini cenderung memberi beban berlebihan kepada anak. Beliau bertanya kepada hadirin ,(Subhanallaah… Bertanya? Betapa tawaddhu-nya  ustadz yang bergelar doktor ini) adakah seorang tokoh yang menjadi pakar dari dua ilmu yang berbeda: ilmu sains dan ilmu syar’i? Beliau memberi contoh Imam Nawawi yang tatkala belajar ilmu kedokteran memiliki kesulitan belajar ilmu syar’i. Disini, Allah menutup pintu mempelajari yang satu dan membuka yang lain.
 
Takhosus atau spesialisasi adalah hal yang perlu diterapkan. Untuk mempelajari ilmu syari diperlukan orang jenius.  Karena orang yang mempelajari ilmu syari harus mampu mengeluarkan hukum syar’i.  Seperti Rasulullah mengatakan, “Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid Bin Tsabit” (HR. Hakim). Ustadz juga menyebutkan nama-nama lain yang mumpuni dalam hal khusus, namun tidak dapat saya tangkap sempurna – maafkan… Intinya, jangan bebani anak dengan banyak hal atau banyak pelajaran.  Arahkan anak sesuai minatnya.  Islam memperhatikan individualisasi dalam mendidik. Janganlah pula dipaksakan yang kita mau.  Jika sekolah formal ingin memasukkan ilmu syar’i,  jangan bebani anak dengan ilmu baru.  Integrasikan ilmu syar’i ini dalam dalam pelajaran. Beliau menyebutnya sebagai kurikulum tersembunyi.
 
Ustadz lalu berujar bahwa guru agama sangatlah berpengaruh besar. Beliau mengisahkan seorang guru agama yang dipindahkan jadi guru kesenian karena dinilai terlalu berpengaruh. Ketika ia ditanya seorang anak apakah gambar yang dihasilkan bagus atau tidak, dia tidak bilang bagus. Lalu, anak itu diarahkan untuk mengenal Allah yang ‘lukisan’-nya jauh lebih indah. MasyaAllaah…
 
Kemudian, Ustaz Erwandi memaparkan kondisi Saudi Arabia dimana beliau menyekolahkan kedua anaknya disana. 6 tahun lalu,  di Saudi Arabia,  mulai diterapkan kurikulum yang memulangkan anak jam 12 serta dibebani sesuai kemampuan anak. Kondisi psikologi mereka sangat diperhatikan. Dan, (ini bagian yang saya sukai) sama sekali tidak ada test hingga akhir masa sekolah dasar! Hal ini membuahkan hasil dalam pencapaian pendidikan yang membuktikan bahwa jika terlalu banyak hal yang diajarkan (dan dihapalkan – saya) hasilnya NOL. Tidak ada yang tercapai: tidak jadi ilmuwan, tidak pula menguasai ilmu syar’i. 
 
Sesi kurikulum ditutup dengan pertanyaan,  adakah siswa disekolah hadirin yang hapal 10 juz dan dapat nilai mafiki 10. Kemudian,  8 orang mengangkat tangan.  Salah satu peserta yang ditanyai mengatakan 4 dari 8 orang anak memenuhi syarat pertanyaan itu. Ternyata,  dalam setiap pelajaran diselipkan pembelajaran dari ayat-ayat  Quran  dan sunnah Rasulullah yang sebelumnya disebut Ust. Erwandi  sebagai kurikulum tersembunyi.
 
Sesi pertanyaan pun dibuka. Sepertinya banyak pertanyaan yang diajukan. Namun karena kondisi pribadi (harus ke toilet yang ternyata antri – maaf) maka saya hanya bisa menuliskan satu saja yang bisa saya tangkap.
 
Satu penanya berasal dari Banjarmasin (masyaAllaah). Ibu itu bertanya mengenai pemaduan  kurikulum barat dengan Islam. Ustadz menanggapi bahwa jika ingin memadukan kurikulum, pastikan harus orang berilmu. Terkadang apa yang kita anggap baik belum tentu baik. Karena itu, alangkah baiknya jika sekolah yang memiliki keperluan penggabungan kurikulum barat dan Islam untuk memiliki dewan syariat untuk memutuskan perkara  ini. Sesi kurikulum pun berakhir dengan satu pernyataan dari moerator bahwa diperlukan waktu yang lapang untuk membahas hal ini. 
 

Tentang Guru

alifbataSub sesi kedua dengan Ustadz Erwandi pun dibuka. Beliau menekankan para guru (termasuk beliau) harus terus menerus memperbaiki diri, karena gurulah yang pertama kali dilihat dan dirujuk oleh siswa. Disadari atau tidak, siswa memperhatikan dan meniru gurunya. 
 
Hal yang pertama kali harus dijadikan perhatian oleh manajemen sekolah Islam ketika merekrut guru adalah suluk dan akhlak dari kandidat sambil menyesuaikan persyaratan akademik. Namun, jika manajemen sekolah menemukan dan berhasil merekrut guru dengan akademik yang sesuai (bahkan melebihi persyaratan) serta suluk dan ahlak yang baik, maka manajemen perlu mempertahankan guru tersebut!
 
Kemudian, ada pertanyaan dari hadirin mengenai ikatan kontrak. Seberapakah perlunya dalam manajemen sekolah Islam? Ustadz Erwandi mengatakah setiap manajemen sekolah Islam seyogyanya melakukan akad ijarah yang jelas dari awal.  Sampaikan sejelas mungkin hingga tak ada keraguan dan tafsir yang berbeda. 
 
Diriwayatkan oleh Imam Al-Tutmudzi di dalam sunahnya dari Abdullah bin Muhsin Al-Khutami bahwa Nabi Muhammand shalallahu ‘alai wasallam bersabda: “Barangsiapa yang pada waktu paginya merasakan ketentraman hati, sehat pada jasmaninya, dia memilki makanan untuk hari itu maka sungguh seakan dunia telah dikumpulkan untuk dirinya”. [Al-Turmudzi: 4/547 no: 2346].
 
Merujuk hadits di atas, seyogyanya penyelenggara pendidpikan Islam dapat memberikan  rasa tenteram untuk bekerja di sekolah tersebut, memastikan kesehatannya, dan kecukupan bagi diri dan keluarganya. Memastikan kecukupan guru adalah hal yang sangat penting. 
 
Ustadz Erwandi mengatakan (berdasarkan pengalamannya), di Saudi Arabia, pemerintah sangat memerhatikan kesejahteraan guru. Jika guru memiliki kesulitan dari tidak punya rumah hingga pengasuh, akan dibantu oleh pemerintah atau pengelola pendidikan karena itulah syariat. Secara logika pun, ketika hak guru sudah ditunaikan, maka akan sangat mudah memintanya memaksimalkan potensi yang dimiliki.
 
Kemudian, moderator bertanya, di sini terdapat ‘uang bangunan’ untuk membangun fasilitas yang baik. Lalu,  ketika manajemen dihadapkan pada pilihan untuk memilih menyejahterakan guru atau membangun fasilitas, mana yang diutamakan?  Bangunan atau guru? 
 
Ustadz Erwandi menanggapi dengan sebuah hadits yang disahihkan Al-Albani dimana  Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak akan datang kiamat sehingga manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid”. Itulah tanda akhir zaman dimana orang bermegah-megah  membangun masjid. Ingat,  pendidikan itu membangun manusia…  bukan gedung!  Maka,  kemampua guru harus menjadi  prioritas utama,  bukan dijadikan prioritas kedua setelah fasilitas!
 
Saat memasuki sesi tanya jawab, saya hanya bisa menangkap dua pertanyaan dan jawaban. 
 
Pertanyaan pertama mengenai hukum memberikan penalti kepada karyawan yang tidak menyelesaikan masa kontrak. Ust. Erwandi menyatakan hal itu diperkenankan dan disebut sebagai *** (maaf, istilahnya tidak bisa saya tangkap dengan jelas.. mungkin ‘syafil dazali’ namanya?). Seharusnya, akad yang sudah disetujui memang harus diselesaikan sesuai perjanjian awal – baik  dengan maupun tanpa penalti..
 
Pertanyaan kedua mengenai boleh tidaknya menggunakan beragam metode pendidikan seperti bermain peran, menggunakan musik, praktek, dan sebagainya. Ustadz Erwandi mengatakan bahwa sebenarnya Rasulullah sudah mengajarkan hal tersebut, seperti mengajarkan anak dengan bermain, praktek dengan melakukan sesuatu. Sebenarnya boleh, asal tidak menyelisihi sunnah, seperti tidak menggunakan musik dalam pembelajaran. (Tentunya semakin banyak metode menarik, semakin mampu seorang guru menjauhkan musik dari pembelajaran, bukan? -pendapat saya pribadi)
 
Pertanyaan terakhir yang saya tangkap adalah bagaimana dengan lembaga pendidikan yang meminta pendidik untuk menghinari kata tidak. Ustadz Erwandi mengatakan bahwa meminimalkan kata tersebut dan mengubahkan menjadi kalimat yang lebih baik, tentu saja boleh. Hany asaja, jangan dihilangkan sama sekali karena hal tersebut bertentangan dengan syariat.
 
Dan sesi ini pun berakhir pukul 11.30 untuk memberi kesempatan shalat dan makan siang.
 
 

SESI 2: BINGKISAN UNTUK PENDIDIK GENERASI ISLAM

 
Sesi ini dibawakan oleh Ust. Kurnaedi, Lc. Beliau memiliki cara penyampaian berbeda dengan yang sebelumnya dimana sesi tanya jawab dilakukan menggunakan kertas. Bagian yang saya sukai dari sesi ini adalah pernyataan beliau bahwa mengajar adalah karunia Allah yang diberikan pada orang-orang pilihan. Karenanya, menjadi pendidik adalah karunia Allah yang wajib disyukuri. Saat ini, menjadi guru bukanlah semata karena  pendidikan atau pemahaman – melainkan karena karunia Allah.  
 
Karena itu, seorang pendidik mengemban amanah sebagai berikut:
  1. Menyampaikan materi /ilmu. Ingatlah bahwa kita akan ditanyai Allah mengenai apa yang kita ajarkan.  Karena itu, sebagai guru, kita harus tahu bahwa tugas mulia ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
  2. Melaksanakan tugas tarbiyah/ mendidik/ menasehati. Ingatlah bahwa segala tindakan, seperti masuk atau keluar kelas seharusnya tepat waktu. Pikiran seorang guru,  sebaiknya jauh ke akhirat karena ketika orientasi kita duniawi saja maka kita akan menemukan kekurangan dimanapun kita bekerja.  Akhirnya,  kita jadi tidak bersyukur dan melupakan amanah tarbiyah ini.  Tugas kita di abad ini lebih berat karena kita menjadi pengganti orang tua yang bisa jadi tidak memiliki waktu untuk anak-anaknya.
  3. Mensifati diri dengan sifat sabar dan tidak mudah marah.  Dalam   (As-Sajdah: 24) dikatakan “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” Seorang pengajar adalah pemimpin yang seharusnya memiliki perhatian terhadap muridnya seperti terhadap dirinya dan anak-anaknya sendiri. Pendidik juga harus sabar menghadapi  kekurangan adaban dari murid karena pada dasarnya manusia memang sifanya kurang. 
Ustadz Kurnaedi kemudian membekali jamaah dengan 10 nasihat untuk pendidik yang berasal dari Qur’an dan Sunnah yang sangat baik diterapkan di dalam kelas:
  1. Ucapkan Assalaamu’alaikum ketika masuk kelas. Caranya, biarkan anak duduk dahulu, lalu ucapkanlah. Kemudian, didiklah agar mereka terbiasa pula membalas salam.
  2. Tampakkan wajah berseri (meskipun banyak hutang). JIka “Senyum anda terhadap saudara anda adalah sodaqoh.”  Maka, murid kita yang paling berhak mendapatkannya.
  3. Membuka pelajaran dengan khutbah hajjah, atau mukadimmah yang secukupnya. Jangan juga terlalu lama karena guru yang terlalu banyak bicara akan menghancurkan masa depan anak didiknya.
  4. Menggunakan kalimat yang baik di depan santri.  Jika siswa menjawab benar, biasakanlah mengucapkan “Ahsanta.  BarakAllaah fik“. Jika ternyata jawabannya belum tepat, ucapkan “Aslahakallaahu/ aslahakillaahu” (Semoga Allah memperbaiki Anda). Ingatlah sebuah hadits dimana Rasulullah bersabda  “Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2707 dan Muslim no. 2332)
  5. Menjauhi perkataan yang mengandung celaan krena siswa belajar perkataan yang baik dan buruk dari gurunya.
  6. Menegur murid-murid yang tidur atau sibuk sendiri (main handphone, tidak mendengarkan, dst). Tapi, jangan juga mencontohkan akhlak yang buruk, misalnya dengan  membalas sms di dalam kelas. 🙂
  7. Mengatur waktu menjawab pertanyaan dan tidak membiasakan murid untuk menginterupsi meski mengacungkan tangan.
  8. Memperhatikan adab-adab islami dan menggunakan kesempatan untuk mencontohkan ketika bergaul dengan siswa. Misalnya, ucapkan alhamdulillah ketika bersin, dst.
  9. Memperlihatkan  kebersihan dan kerapihan.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji dzarah dari kesombongan.” Seorang berkata:”Ya Rasulullah, seseorang senang terhadap sandalnya yang bagus dan pakaiannya yang bagus?” Beliau bersabda : ”Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud).
  10. Jika bekerja di tempat yang ikhtilat,  tempatkanlah laki-laki di depan dan perempuan di belakang.
 
Untuk sesi tanya-jawab, berhubung alam memanggil, lagi. -__-“, saya hanya bisa menangkap beberapa poin  sebagai berikut:
 
  • Mendidik anak yang nakal? Sabar, tegas, konsisten, dan tetap tunjukan ahlak yang baik.
  • Bolehkah guru ikhwan mengajar akhwat dan sebaliknya? Sebisa mungkin,  guru ikhwan mengajar kelas ikhwan dan sebaliknya.
  • Apa hukumnya jika memiliki program studi tur ke luar kota/ negeri? Itu hukumnya safar. Pastikan siswa/ guru akhwat didampingi mahrom.
  • Apa metode terbaik untuk pesantren? Metode masing-masing pesantren berbeda, karenanya selalu perbaiki diri dan pastikan tidak menyelisihi Qur’an dan sunnah.
Alhamdulillaah… waktu menunjukan pukul 14.30 dan sudah waktunya pulang. Ilmu hari ini sungguh padat dan saya bersyukur diberikan kesempatan untuk menghadirinya..
Akhir kata, mohon maaf (lagi) jika terdapat salah penulisan… namanya juga newbie dalam hal laporan per-dauroh-an ini… ^___^
Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama bagi para pendidik generasi islam, insyaAllaah.
 
Lectures of Life, Muslimah Session, My Reflection

Muslim dan Perayaan Tahun Baru

0. New Year CelebrationTahun Baru Masehi pun menjelang. Media, dari mulai TV (yang untuk tidak saya sambungkan ke antena) sampai medsos, sedang heboh-hebohnya mengkampanyekan dan mengsyiarkan gegap gempitanya si tahun baru ini. Pokoknya, barang siapa yang tidak merayakan tahun baru sepertinya nggak ngehitz banged. ~___~” 

Adakah yang salah dengan itu? Nope! Fine! Nggak apa-apa kok…. untuk yang bukan muslim. ^___^

Heh? Maksudnya?

Nah, bagi yang muslim, tentunya kita memiliki panduan dalam hidup alias A Way of Life dalam bahasa Sundana mah. Panduan itu disebut dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullaah (salallaahu ‘alayhi wassalam). Daan… dalam panduan itu tidak sedikitpun disebutkan tentang perayaan ini. Bahkan, dalam hadits yang derajatnya sahih disebutkan bahwa Rasulullaah (salallaahu ‘alayhi wassalam) berkata kepada kaum jahiliyah terdahulu yang  merayakan hari Nairuz dan Mihrojan setiap tahunnya ketika beliau tiba di Madinah bahwa “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha”. (HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).  Jadi, perayaan umat Muslim itu yaa.. kedua hari raya tersebut.

Now wait.. maksudnya yang merayakan Tahun Baru itu kaum jahiliyah gitu? Ng… monggo simpulkan sendiri. Kalau saya (dan keluarga), insya Allah, nggak berani merayakannya.
Terus? Gimana dong? Dibilang nggak asik dong? Nggak nge-hitz dong?
Hiyaaaa… takut bener dilabel manusia. Takut tuh kalau dilabel Allah kalii… Inget lho, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.) 
Lengkapnya, silahkan tengok slideshow berikut yang sempat saya buat untuk disajikan setahun lalu dalam forum Muslimah Session SGS.
SOSE Resources

Remedial for SOSE

Salaam,
The following information is for students who happened to get Final  Exam score lower than the Standard of Achievement  (SOA ). Please make sure that the assignment is submitted by Wednesday,  18 December 2013 at 11.59 p.m to klastulistiwa@gmail.com. The list of assignment and students requiring to do it is as follow :

Grade 7 : Create comic about the history of Rome  for Haidar,  Ocean, Nabilla,  dan Nuran

Grade  8 : Created a poster or publication about the discoveries made by Muslim  and Renaissance’s scientists and inventors  for Mujahid,  Farel,  Nauval,  Diaulhaq,  Erdy,  and Ghozy.

Grade 9: Create a 200-words essay about the different views of Movements in Australia and Islam for Ataa and Angela

Well then,  that’s it…  I’ll be waiting until the dateline to have it finished and sent to the above mentioned email.

Good luck.  ^_______^

Lectures of Life

Daurah FULL – DAY Khusus Para Pendidik dan Pengelola Lembaga Pendidikan Islam tanggal 1 Januari 2014 nanti

image

Ada yang sayang untuk dilewatkan nih oleh para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam  – selain  untuk mengisi tanggal merah 1 Januari  tentunya. ^__^ v Berikut infonya:

Rabu, 1 Januari 2014 : Daurah FULL -DAY Khusus Para Pendidik dan Pengelola Lembaga Pendidikan Islam bersama Ustadz DR Erwandi Tarmizi dan M. A . dan Ustadz Kurnaedi , Lc . di Masjid Al – Barkah (GRATIS!)
Posted by Radio Rodja on Dec 11, 2013

TAPI…
1. Daurah ini hanya untuk PARA PENDIDIK DAN PENGELOLA Lembaga Pendidikan Islam , meliputi : Guru , Pengurus, Ketua,
Pembina, dan Pemilik Yayasan / Sekolah Islam .
2. PERSYARATAN adalah Membawa surat keterangan resmi sebagai tenaga pengajar / jabatan semisal di lembaga pendidikan Islam terkait .

WHEN,  WHERE,  WHO, WHAT, HOW ?
Hari, tanggal : Rabu, 1 Januari 2014 / 8 Rabi’ul Awwal 1435
– Waktu: 09 :00 – 15: 00 WIB
– Pemateri dan Materi :
    1. Ustadz DR Erwandi Tarmizi, M.A . – “Manajemen Pendidikan Islam ”
    2. Ustadz Kurnaedi, Lc. – “Bingkisan Istimewa untuk Para Pendidik Generasi Islam ”
– Infaq: GRATIS a.k.a. FREE OF CHARGE
– Persyaratan : Membawa surat keterangan resmi sebagai tenaga pengajar / jabatan semisal di lembaga pendidikan Islam
– Tempat: Masjid Al – Barkah, Jl. Pahlawan Kampung Tengah , CIleungsi, Bogor, Indonesia
– Contact person : 021 – 8233661 / 081383245381

REMINDER
1. Daurah ini hanya untuk PARA PENDIDIK DAN PENGELOLA Lembaga Pendidikan Islam , meliputi : Guru , Pengurus, Ketua, Pembina, dan Pemilik Yayasan / Sekolah Islam .
2. PERSYARATAN adalah Membawa surat  keterangan resmi sebagai tenaga pengajar / jabatan semisal di lembaga pendidikan Islam terkait .

Ayo bantu sebarkan kepada saudara – saudara kita yang menjadi guru, pengurus, ketua , pembina dan pemilik
yayasan / sekolah Islam . Semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron .

Sumber : www.radiorodja.com/rabu-1-januari-2014-daurah-full-day-khusus-para-pendidik-dan-pengelola-lembaga-pendidikan-islam-bersama-ustadz-dr-erwandi-tarmizi-ma-dan-ustadz-kurnaedi-lc-di-masjid-al-barkah-gratis/

Kalau ada yang penasaran dengan para pemateri, seperti saya, berikut saya salinkan hasil pencarian yang dilakukan dengan segenap jiwa dan raga tentang kedua ustadz di atas:

DR ERWANDI TARMIDZI, M. A. (diambil dari blog beliau http://erwanditarmizi.wordpress.com/about/):

Lahir di Pekanbaru 30 September 1974, menyelesaikan pendidikan D1 Pengajaran Bahasa Arab LIPIA, 1994-1995 S1 Syariah LIPIA, 1995-1999. S2 jurusan Ushul Fiqh, Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, 2001-2005. S3 jurusan Ushul fiqh, Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, 2006-2011.
Menjadi Supervisor Materi Keislaman Divisi Bahasa Indonesia situs http://www.islamhouse.com 2004-2006. Anggota tim pembuatan program e-book “Panduan Indeks Thesis dan Disertasi Fakultas Syariah”, Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, 2006-2007. Anggota tim pembuatan program e-book “Panduan Lengkap Muamalat”, Dewan Syariah, Bank Al Rajhi, Riyadh, 2007-2008. Manajer situs islam berbahasa indonesia http://www.islam-indo.org , 2008-2009 . Pengajar D2 Studi Islam di Kantor Dakwah Islam Rabwah (2003-2011), dan di Kantor Dakwah Islam Rawdhah (2010 -2011). Penulis tetap kolom Fiqh Kontemporer, majalah “Manhajuna” Riyadh, 2003- sampai sekarang. Penulis tetap kolom Fiqh Muamalat Kontemporer & kolom Halal-Haram, majalah “Pengusaha Muslim”, Agustus 2011- sampai sekarang. Thesis : “Al Atsar Al Ushuly li Qaidah Isytirath Al Qudrah Lit Taklif”. Disertasi: “Tahqîq Mazhab Shafi’iyyah Fîmâ Ikhtalafu Fîhi Min Al Masail Al Ushuliyyah Fî Mabâhitsi Al Hukmi As Shar’i Wa Al Adillah “. Terjemahan buku “Sejarah Mekkah”, Darussalam for Publishing, Riyadh , 2003. Terjemahan buku “Sejarah Madinah”, Darussalam for Publishing, Riyadh, 2003. Terjemahan buku “Riyadhushshalihiin”, Darussalam for Publishing, Riyadh, 2004. Terjemahan buku “Tanda-tanda Hari Kiamat, Tinjaun Masa Depan Dunia Islam”, Qisthi Press, Jakarta, 2004. Terjemahan buku “Obat Penawar Sihir”, Islamic International for Publishing House, Riyadh, 2006. Terjemahan modul “Pengantar Fiqh Perbankan Islam”, Ma’had Al ‘Aly lil Qadhaa’, Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, 2009. Harta Haram Muamalat Kontemporer, P.T. Berkat Mulia Insani, Jakarta, Februari 2012.

Pekerjaan :
1. Dosen tamu di program magister Perbankan Syariah Universitas Ibn. Khaldun Bogor.
2. Dosen tamu di program magister Managemen Bisnis Syariah IPB
3. Dosen tamu di program magister Ekonomoi Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia Bogor
4. Dosen tamu di program magister Pemikiran Islam Kosentrasi Usul dan Fikih kelas Internasional Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Kegiatan :
Pemateri fiqih kontenporer radio rodja, rodja TV bogor.

No contact : 087885853828

USTADZ KURNAEDI, Lc
Maaf, setelah mencari di internet dengan tetesan darah dan air mata,    saya tidak bisa menemukan profil beliau yang lengkap.  Namun,  memang nama beliau sering muncul sebagai tenaga pengajar lembaga -lembaga  pendidikan  Islam  dan pemateri kajian salaf.

Naaah….  berhubung saya dan keluarga tidak merayakan Tahun Baru  Masehi yang tidak begitu penting juga,  daurah ini akan menjadi menjadi tempat tujuan saya tanggal 1 Januari  nanti,  insya Allaah. Bagaimana dengan tanggal  1 Januari anda? ^____^

My Reflection

I’d never let my kids riding motorcycles before they get licensed!

Being a mom who follows the rules and regularly supervise your children in Indonesia is extremely painful. You can be judged as being too strict and weird. And that is who I am, or should I say, my stereotype… right now… -___-“

Taken from johnhoban.files.wordpress.com

It started when I had to go out from a company-owned site in a remote area in Lampung, Sumatra, (since I worked there for four years) to Bogor – one of big cities in Java, Indonesia. On the first weekend after moving to this housing estate or complex, I let the children playing outside under my supervision. I thought it was safe since I did the same thing in Lampung and I also saw many children playing and running in front of their houses. But, apparently, I realized that I made a WRONG decision. Suddenly, there was a motorcycle crossing the neighborhood without realizing that there were MINI HUMANS running on the street! And guess what, seeing their body size, I guess the rider was still a middle schooler or perhaps an upper primary student. Suddenly, there were like three or more motorcycles rode by CHILDREN around that age doing the same thing! I, spontaneously, took my children away from the street and have them sit down on the porch.

I shared the incident with other moms and most of them agree that Indonesian streets (including the ones inside housing complexes) are pretty dangerous for children. They also agree that the children need thorough supervision outside the house.
The discussion grew to the topic of underage children on motorcycles which means riding them. And voila… I was declared a heretic weird mom just because I don’t let my children ride motorcycles if they haven’t got the licence to ride it. They argued that it’s the condition that force them to take the decision.

“Condition? What conditions that would make a mother allow her children risking their lives on wheels???” I asked. Well, actually my question was not that explicit. I replaced the whole sentence by only two words “What conditions?”

“It’s too far to reach my child’s school. Letting them riding their own bikes is cheaper.” said one mummy.
“It’s a lot easier than to drive them.” said the other one.
“Coz my kid asked for it. I can easily buy it with cheap installment. “

I just stunned. Stunned on the way I view myself differently that perhaps is considered weird by the other mothers. I mean… seriously! Those are excuses to teach our children to disobey the law! Let’s carefully examine the ‘conditions’.

“It’s too far to reach my child’s school. Letting them riding their own bikes is cheaper.” 
Well, for me, this reason might be true if we want to take it from a nation’s perspective. Unlike Finland, the spread of quality education is not equal from one place to another. Sometimes, a ‘good school’ is located far from one’s neighbourhood. But, then, that would be a ‘intelligent excuse’. If I were the mother of the child (and I would) I would say: WAKE UP EARLIER, AND WALK! This is a lot more humane that letting them riding bikes. Now, my whole family wake up at 4 (the latest is when we hear the subuh adzan) to get ourselves prepared. We live in a place (in Bogor) where we have to reach the nearest public transportation in 30 minutes and we survive it by walking or having ourselves driven there by the dad. I inherited this habit also form my family who believe that “Good things are earned, not asked”.

“It’s a lot easier than to drive them.”  Again, excuses. If we really want our children to succeed life, we have to be the first role model. Waking up earlier to drive or ride them to school is one way to teach them the family value and hard work.

“Coz my kid asked for it. I can easily buy it with cheap installment. ” Well, hardly to say that the danger of riba and hedonism that seems to be easily accepted is viable to be the cause of this changing mindset. Just imagine, in Indonesia, only by paying Rp 500.000 for the down payment and paying 3 YEAR installment, a person can easily take home a motorcycle by only showing his ID card! This did not happen in a long time ago when I was a teenager.

And yes, it was already mentioned that there will be time that people take riba (interest) as something normal as Hazrat Abu Hurairah r.a. reported that the Prophet said : “A time will certainly come over the people when none will remain who will not devour usury. If he does not devour it, its vapour will overtake him.” [Ahmed,Abu Dawood,Nisai,Ibn Majah] THe times when even Muslims would forget that riba is haraam since we don’t return to Qur’an and Sunnah as the Noble Qur’an – Al-Imran 3:130 “O you who believe! Eat not Riba (usury) doubled and multiplied, but fear Allaah that you may be successful.:” Sad but true, but the ease of taking riba would make people starves to reach the tertiary needs as if its their primary one.

Well, this is merely my opinion as a mom and as a muslimah. Hope we all learn to raise our children to be stong generation of the future.