My Reflection

ANALISA PENERAPAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER DALAM PROGRAM E-KTP

Tulisan ini sebenarnya merupakan tugas kuliah studi magister saya. Tapi, setelah dibaca ulang, ada beberapa ide nyeleneh yang ingin saya bagian di klastulistiwa.com. Siapa tahu ada yang tertarik dan iseng mengaplikasikan atau meneliti apa yang sudah saya tuliskan disini. Daaan…. berhubung plagiarisme sedang laris-larisnya, maka sebagai penulis, saya perkenankan mengutip tulisan ini asalkan menuliskan nama saya *uhuk* dan sumbernya (klastulistiwa.com).  

 

A.    PENDAHULUAN

Indonesia dengan segala keunikan di dalamnya menyimpan potensi yang sangat kaya untuk dikelola dan diadministrasi. Potensi itu bernama Sumber Daya Manusia. Menurut Badan Pusat Statistik dari hasil sensus terakhir yang dilakukan pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia pada tahun tersebut mencapai 237.556.363 orang. Hasil pendataan terakhir yang berjarak dua tahun hingga makalah ini dibuat tentunya sulit untuk dijadikan tolak ukur keadaan penduduk saat ini. Selain itu, pemerintah juga mengalami masalah dalam sistem pencatatan kependudukan dan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) tradisional. Kelemahan sistem ini yaitu adanya kesempatan untuk menggandakan identitas untuk beragam alasan.

 

Untuk menangani masalah di atas, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia pada bulan Februari 2011 meluncurkan program e-KTP.  KTP elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi berbasis data kependudukan nasional (KEMENDAGRI, 2011). Seperti tujuan akhirnya, dengan dukungan teknologi informasi, data-data penduduk yang cepat, tepat, dan akurat  dapat segera diolah dan digunakan untuk berbagai hal yang diperlukan  (Pratondo & Supangkat, 2008).

 

Tulisan ini, karenanya, akan menganalisa penerapan sistem informasi berbasis komputer atau yang biasa dikenal sebagai CBIS (Computer Based Information System). Didalamnya terdapat proses mengintegrasikan sumber daya fisik dan logis, kombinasi dari manusia, fasilitas teknologi, media, prosedur dan pengendalian informasi (Furqon, 2011) dalam konteks pendataan penduduk Indonesia. Selain itu, makalah ini akan berfokus pada pemaparan kelebihan dan kekurangan e-KTP  dibandingkan sistem konvensional, keberadaan dukungan kedelapan elemen lingkungan terhadap program tersebut, strategi operasional yang dipilih dan pengelolaan sistem informasi sumber daya informasi (IRIS), serta analisa kelayakan penerapan CBIS. Di akhir makalah, terdapat kesimpulan yang didapatkan dari hasil analisa penulis.

 

 

 

B.   ANALISIS

1. Kelebihan dan Kekurangan Program KTP Elektronik dibandingkan KTP Biasa

KTP elektronik atau yang dikenal dengan nama e-KTP merupakan usaha pemerintah untuk mendokumentasikan data penduduk yang akurat sesuai dengan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang menjadi payung hukumnya  (KEMENDAGRI, 2011).

Untuk mendapatkan e-KTP, pemohon yang sudah memenuhi syarat, membawa dokumen yang diperlukan serta surat panggilan ke tempat pelayanan. Disini, petugas melakukan verifikasi data dengan menggunakan basis data kependudukan untuk menghindari penggandaan dan pemalsuan. 

Mengenai perbedaan dengan jenis kartu identitas dan cara pendataan sebelumnya, yang disebut dengan program KTP nasional 2004, dapat dilihat pada tabel berikut ini yang diambil dari situs resmi e-KTP:

Jenis KTP

Karakteristik

Teknologi

Validitas/Verifikasi

KTP Nasional 2004

Foto dicetak pada kartu

Tanda tangan/ cap jempol

Data tercetak dengan komputer

Berlaku nasional

Tahan lebih lama

Bahan terbuat dari plastik

Nomor serial khusus

Gulloche Patterns pada kartu

Hanya untuk keperluan ID

Pemindaian foto dan tanda tangan/cap jempol

Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dan seterusnya

E-KTP

Foto dicetak pada kartu

Data tercetak dengan komputer

Berlaku nasional

Mampu menyimpan data

Data dibaca/ditulis dengan pembaca kartu (card reader)

Bahan terbuat dari PVC/PC

Nomor serial khusus

Gulloche Patterns pada kartu

Pemindaian foto dan tanda tangan/cap jempol

Terdapat mikrochip sebagai media penyimpan data

Menyimpan data sidik jari biometrik sebagai satu identifikasi unik personal

Mampu menampung seluruh data personal yang diperlukan dalam multi aplikasi.

Pengawasan dan verifikasi pengesahan dari tingkat terendah RT/RW dan seterusnya

Multi aplikasi

Diterima secara internasional

Tidak bisa dipalsukan

Hanya satu kartu untuk satu orang

Satu orang satu kartu

Tingkat kepercayaan terhadap keabsahan kartu sangat tinggi.

Program ini diluncurkan dengan beberapa kelebihan yang diusung, seperti yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di situs resmi e-KTP (2011). Satu diantaranya adalah identitas jati diri tunggal dengan menggunakan satu nomor kependudukan untuk satu orang yang tidak dapat dipalsukan maupun digandakan. Kartu ini juga direncanakan untuk dapat dipakai sebagai kartu suara dalam Pemilu atau Pilkada (E-voting).

Sementara untuk kelemahan program ini, beberapa diantaranya dapat dianalisa dari beberapa studi mengenai penerapan e-Public services, e-ID, dan e-Government di beberapa negara berkembang. Hasil studi penerapan CIT di Bangladesh (Imran, 2009 dalam  Ray, 2011) menemukan bahwa kunci kelemahan penerapan berada pada lemahnya skill dan attitude para administrator dan penduduk itu sendiri. Sementara itu, studi yang lain menyimpulkan bahwa kelemahan sistem ini dapat terjadi lebih parah dikarenakan kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintahan yang bekerja sama dalam program ini, kurangnya pengetahuan dan keahlian menggunakan perangkat yang diperlukan, serta kualitas kecepatan jaringan (Joia,2007; Lam, 2005; Zaed, 2007 dalam  Ray, 2011). Di Indonesia, ditemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan e-KTP. Di antaranya adalah kurangnya sumber daya manusia atau pengelola yang diperlukan serta kesadaran masyarakat yang berhubungan erat dengan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah (Pikiran Rakyat, 2012).

 

2. Dukungan Elemen Lingkungan Terhadap Program e-KTP

Tidak terelakan bahwa pelaksanaan program e-KTP maupun program-program yang melibatkan sistem informasi berbasis komputer memerlukan dukungan elemen lingkungan. McLeod(2001) dalam Daniel & Supratiwi (2011) mengelompokan elemen-elemen pendukung ini menjadi kelompok konsumen, supplier, kelompok serikat pekerja, institusi keuangan, pemegang saham, dan institusi pemerintah.

Selain itu, proyek-proyek semacam ini yang dikelola pemerintah harus mempertimbangkan tiga dimensi utama e-government yaitu government-to-citizen (G2C), government-to-government (G2G), dan government-to-business (G2B) (Afisco & Soliman, 2006 dalam  Alzahrani, 2012).

Dalam dimensi government-to-citizen (G2C), banyak kesempatan mengembangkan hubungan dari sekedar hanya memberikan informasi pemerintahan. Rencana e-voting yang disebutkan sebelumnya harus direncanakan dan dipersiapkan dengan matang sebelum pelaksanaan. Hal yang telah dilakukan pemerintah sebelum pelaksanaan yaitu sosialisasi mengenai keuntungan program dan pelatihan pengggunaan perangkat.

Dimensi yang kedua yaitu government-to-government (G2G). Sebagian dari aspek ini yang dilaksanakan oleh pemerintah yaitu oleh Departemen Dalam Negeri dan Departemen Komunikasi dan Informasi. Inisiatif dalam penggunaan sistem teknologi informasi harus dibuka seluas mungkin untuk mempermudah komunikasi kedua departemen ini. Selain itu, banyak saluran yang dapat bisa dibuka di antara departemen-departemen lain dalam pemerintahan untuk mencapai rencana jangka panjang yang telah ditetapkan, yaitu memaksimalkan fungsi e-KTP menjadi lebih dari sekedar kartu identitas (KEMENDAGRI, 2011).

Dimensi yang terakhir yaitu government-to-business juga harus diperhatikan karena kemudahan dalam birokrasi menjadi nilai tambah G2B untuk dapat mendukung keberhasilan program e-KTP. Seperti yang dicetuskan dalam situs resmi e-KTP (2011) bahwa generasi kedua sistem tersebut akan memasukan fungsi e-Health yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, pemerintah harus memastikan efisiensi komunikasi dapat terlaksana di antara lembaga-lembaga yang berkepentingan.

Hingga saat ini memang masih banyak kendala dalam pelaksanaan e-KTP. Namun, hambatan-hambatan ini dapat diatasi dengan analisa dukungan elemen lingkungan serta dimensi penerapan e-government yang cermat serta aplikasi di lapangan.

 

3.  Strategi Operasional yang Digunakan

Pada tahun 2011, sudah tercatat 197 kabupaten/ kota di seluruh Indonesia yang menanda tangani MoU pelaksanaan program e-KTP. Sedangkan pada tahun 2012, diperkirakan sejumlah 329 lagi yang akan menyusul (Rifnaldi, 2011). Dengan letak geografis Indonesia yang berpulau-pulau, sepertinya pemerintah penyelenggara memilih strategi global sebagai strategi operasionalnya.

Disini, pemerintah pusat, dengan berpayungkan UURI Nomor 23 Tahun dan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009, mengatur pelaksanaan program e-KTP untuk tiap daerah pelaksana. Pemilihan infrastruktur utama, seperti mesin pemindai dan perangkat lunak, dikirim dari pemerintah pusat. Sementara, kebutuhan unik setiap kawasan, seperti tenaga pelatih operator dan perlengkapan fisik seperti ruangan, dipersiapkan oleh masing-masing daerah. Sistem seperti ini dapat menjangkau daerah yang memiliki kesulitan transportasi dan komunikasi.

 

4. Model Sistem Informasi Sumber Daya Informasi (IRIS)

Model IRIS yang digunakan penyusun dalam menganalisa pelaksanaan program e-KTP adalah model IRIS yang ditulis dalam Daniel & Supratiwi (2005) yang dimodifikasi dari konsep IRIS McLeod & Schell tahun 2001. Pada sistem ini, terdapat istilah subsistem input dan subsistem output yang komponen-komponen didalamnya akan dijelaskan sebagai berikut.

 1. a.      Subsistem Input

Di dalam subsistem input, tedapat tiga subsistem yaitu sistem informasi enterprise yang membantu pemerintah mengetahui informasi perangkat keras yang digunakan, subsistem riset dan perencanaan sumber daya informasi yang akan mengolah hasil riset kebutuhan informasi dari departemen fungsional lain, dan subsistem intelijen sumber daya informasi yang mencari data pemasok hardware, software, teknologi, hingga lembaga pemasok SDM ahli komputer. Mengenai subsistem input untuk e-KTP, penulis tidak memiliki cukup data utuk dianalisa sehingga akan hanya berfokus pada analisa subsistem output.

 b.      Subsistem Output

Setelah database dibuat dari hasil analisa dan proses subsistem input, analisa kini beranjak ke subsistem output yang terdiri dari subsistem hardware, software, sumber daya manusia, serta data dan informasi.

Untuk subsistem hardware e-KTP, berdasarkan situs resminya (2011), pemerintah menempatkan perangkat yang disalurkan dari pusat untuk dilokasikan di setiap kabupaten, kecamatan, dan kelurahan. Perangkat-perangkat tersebut yaitu sebuah server untuk database dan AFIS, UPS 1000VA, harddisk eksternal untuk backup data, switch and cabling, smart card reader/writer, signature pad, retina digital scanner, dan tripod. Hingga saat ini, tahun 2012, perangkat-perangkat tersebut masih digunakan dan belum ada pertimbangan untuk mengganti maupun memindahkan perangkat apapun.

 Dalam hal subsistem software, jenis perangkat lunak yang digunakan yaitu sistem operasi Windows Server, database engine (standard edition per 5 users), aplikasi perekaman sidik jari, anti-virus client, dan anti-virus server. Hingga makalah ini dibuat, penulis belum menemukan data yang menyebutkan adanya perubahan atau penggantian perangkat  (KEMENDAGRI, 2011).

 Mengenai subsistem sumber daya manusia, program e-KTP mengerahkan tenaga lokal yang berada di daerah sebagai petugas penginput data e-KTP untuk dilatih oleh tenaga pendamping. Database seluruh daerah tersimpan dan dikelola oleh  Direktorat Administrasi Kependudukan (Ditjen Adminduk) – Kemendagri Jakarta dengan back up data/ data recovery center yang direncanakan akan ditempatkan di server teknologi informasi milik Badan Pengusahaan Batam  (Bisnis Indonesia, 2012). Sedangkan analisa mengenai penyusun dan pemelihara sistem belum dapat dituliskan karena kurangnya data mengenai poin ini.

 Yang terakhir yaitu mengenai subsistem data dan informasi. Pada program e-KTP, diketahui bahwa data yang didapatkan dari proses input dan pemrosesan data yang dilakukan di pusat layanan di daerah disimpan dalam harddisk eksternal sebagai cadangan. Bersamaan dengan itu, data juga dikirimkan ke pusat penyimpanan di Depdagri.

 4. Kelayakan Implementasi CIBS

Hingga saat ini, penulis belum menemukan studi yang meneliti kelayakan sistem informasi berbasis komputer yang dilaksanakan dalam program e-KTP. Analisa yang melihat berbagai sisi ini dapat membantu pemerintah untuk menentukan layak atau tidaknya sistem. Selain itu, studi ini juga dapat menemukan pencegahan dari potensi masalah di masa mendatang.

Lima penilaian kelayakan implementasi sistem informasi berbasis komputer yang juga dapat digunakan untuk memperbaiki sistem yang telah berjalan  (Wahyono, 2008) , yaitu: kelayakan ekonomi (echonomical feasibility), kelayakan operasi (operational feasibility), kelayakan teknik (technical feasibility), kelayakan jadwal (schedule feasibility), dan kelayakan hukum (law feasibility).

Penilaian pertama mengenai kelayakan secara ekonomi yang berkisar pada analisa biaya yang diperlukan untuk mengembangkan sistem dapat disepakati  manfaatnya. Untuk e-KTP, biaya yang dialokasikan Kemendagri sejumlah 6,3 triliun untuk dana sosialisasi  (Antara News, 2012).   Selain itu, masing-masing daerah juga harus mengalokasikan dana dengan jumlah yang dibutuhkan. Dana sebesar itu seharusnya dapat memberikan manfaat seperti yang telah dipaparkan di atas, yaitu akurasi data. Jika tujuan ini dapat dicapai, maka dapat dikatakan bahwa program e-KTP layak secara ekonomi.

Penilaian kedua yaitu kelayakan operasional yang mencakup kesepakatan semua perangkat sistem termasuk sumber daya manusia yang bersedia menjalankan sistem, kemampuan interaktifitas program komputer yang digunakan dalam sistem,  serta kualitas informasi yang dihasilkan. Dukungan elemen pemerintah pusat membuat kesepakatan sumber daya manusia pengguna sistem menjadi terpenuhi melalui penyediaan tenaga operasional. Masalah pengunaan program komputer pun diatasi dengan melaksanakan pelatihan bagi para operator. Sementara pengendalian dari pihak pemerintah pusat pun belum dilaporkan ada masalah  (KEMENDAGRI, 2011) karena yang harus dilakukan daerah adalah menyimpan database ke pusat informasi.

Penilaian ketiga yaitu kelayakan teknik yang mencakup ketersediaan teknologi di pasaran dan ketersediaan ahli. Sepertinya pemerintah memilih teknologi yang memang mudah dipergunakan dengan dipilihnya sistem operasi yang kompatibel untuk saat ini yaitu Windows 7 bagi komputer yang digunakan operator, selain perangkat lunak dan keras yang telah dipaparkan di bagian subsistem output di atas. Sementara mengenai ketersediaan ahli diatasi dengan pelatihan di lokal masing-masing wilayah.

Mengenai penilaian keempat yaitu kelayakan jadwal belum terdapat kesepakatan karena belum ada studi yang mempelajari hal ini.

Penilaian terakhir yaitu mengenai kelayakan hukum. Pemerintah memiliki dasar hukum yang kuat dalam pengimplementasiannya yaitu UURI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan yang mengatur pelaksanaan program e-KTP untuk tiap daerah pelaksana. Mengenai keaslian software, pemerintah pun menggunakan perangkat lunak orisinil yang tidak diragukan validitasnya  (KEMENDAGRI, 2011).

Dari kelima penilaian kelayakan implementasi program, penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk sementara ini, hingga terdapat hasil studi yang meggugurkan, dapat dikatakan program e-KTP layak untuk diimplementasikan.

 

C.   KESIMPULAN

Pada bulan Februari 2011, KEMDAGRI meluncurkan program e-KTP yang merupakan dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada basis data kependudukan nasional. Kelebihan program ini diantaranya adalah akurasi data kependudukan dengan  satu nomor kependudukan untuk satu orang yang tidak dapat dipalsukan maupun digandakan.  Namun, e-KTP juga memiliki kelemahan penerapan yaitu skill dan attitude para administrator yang dalam hal ini adalah pegawai pemerintahan yang ditugaskan dan penduduk itu sendiri, kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintahan yang bekerja sama dalam program ini, kurangnya pengetahuan dan keahlian menggunakan perangkat yang diperlukan, kualitas kecepatan jaringan, serta kesadaran masyarakat yang berhubungan erat dengan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah. Selain itu, proyek-proyek semacam ini yang digagas atau dikelola pemerintah juga harus mempertimbangkan tiga dimensi utama e-government yaitu government-to-citizen (G2C), government-to-government (G2G), dan government-to-business (G2B)

Mengenai strategi operasional, pemerintah penyelenggara memiliki strategi global dimana pemilihan infrastruktur utama, sementara kebutuhan unik setiap kawasan dipersiapkan oleh masih-masing daerah. Untuk subsistem output yang pertama dan kedua yaitu subsistem hardware dan software e-KTP, penulis belum menemukan data yang menyebutkan adanya perubahan atau penggantian perangkat. Data yang didapatkan dari proses input dan pemrosesan data yang dilakukan di pusat layanan di daerah, disimpan di dalam harddisk eksternal sebagai cadangan. Bersamaan dengan itu, data juga dikirimkan ke pusat penyimpanan di Depdagri. Sementara dalam subsistem SDM, program e-KTP mengerahkan tenaga lokal yang berada di daerah untuk dilatih oleh tenaga pendamping.

 

Terakhir, untuk menilai kelayakan implementasi program, dipilih lima jenis penilaian dari Wahyono (2008) yaitu kelayakan ekonomi, operasi, teknik, jadwal, dan hukum. Dari kelima penilaian kelayakan implementasi program, dapat disimpulkan untuk sementara ini, hingga terdapat hasil studi yang meggugurkan, bahwa program e-KTP layak untuk diimplementasikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alzahrani, A. (2012, July-September). Developing an Instrument for E-Public Services’ Acceptance Using Confirmatory Factor Analysis: Middle East Context. Journal of Organizational and End User Computing, 24 (3) , pp. 18-44.

Antara News. (2012, 05 22). E-ID Seems to Running Smoothly. Retrieved Agustus 26, 2012, from antaranews.com: m.antaranews.comen/news/82311/e-id-project-seems-to-be-runnning-smoothly

Badan Pusat Statistik. (2011). Pedoman Ringkas Web Diseminas Hasil SP 2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Bisnis Indonesia. (2012, Juni 7). BP Batam Ikut Simpan Data Penduduk RI. Retrieved Agustus 26, 2012, from bisnis_kepri.com: http://www.bisnis-kepri.com/index.php/2012/06/bp-batam-ikut-simpan-data-penduduk-ri/

Daniel, D. R., & Supratiwi, W. (2005). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka .

Furqon, C. (2011). Modul Perkuliahan Sistem Informasi Manajemen. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

KEMENDAGRI. (2011, June 12). Situs Resmi e-KTP. Retrieved Agustus 24, 2012, from http://www.e-ktp.com: http://www.e-ktp.com/category/sosialisasi-e-ktp/

Orgeron, C. P. (2011, July-September). Evaluating Citizen Adoptionand Satisfaction of E-Government. International Journal of Electronic Research, 7 (3) , pp. 57-78.

Pikiran Rakyat. (2012, Juni 13). Media Online Pikiran Rakyat . Retrieved 26 Agustus, 2012, from http://www.pikiran-rakyat.com: http://www.pikiran-rakyat.com/node/192200

Pratondo, A., & Supangkat, S. H. (2008). Sistem Informasi Pemerintah Kota/ Kabupaten sebagai Sarana Pemantauan Kesejahteraan Masyarakat. Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia. Jakarta: e-Indonesia Initiative 2008 (eII2008).

Ray, S. (2011, July-September). Identifying Barriers to e-Government Services for Citizens in Developing Countries: an Explanatory Studies. International Journal of Electronic Government Research, 7 (3) , pp. 79-91.

Rifnaldi. (2011, Maret 03). KAdis Capil Padang Panjang Matangkan Persiapan Program e-KTP. Retrieved Agustus 28, 2012, from http://www.pewarta-indonesia.com: http://www.pewarta-indonesia.com/nusantara/4359-kadis-capil-padang-panjang-matangkan-persiapan-program-e-ktp.html

Wahyono, T. (2003). Kuliah Berseri Ilmu Komputer. Retrieved Agustus 24, 2012, from http://www.ilmukomputer.org: ttp://ilmukomputer.org/2008/11/25/computer-based-information-system-cbis/

Wahyono, T. (2008, 11 25). Observasi dan Studi Kelayakan Membangun CBIS. Retrieved Agustus 26, 2012, from http://www.ilmukomputer.com: Teguh 2008 http://ilmukomputer.org/2008/11/25/computer-based-information-system-cbis/ 

My Reflection

Ketika Idul Fitri Menyenangkan dan Ramadhan Memberatkan

“Berapa baju lebaran yang kamu punya?” begitu kira-kira ungkapan yang sering saya dengar sewaktu dari teman, Tante, Om, atau orang dewasa lain menjelang dan di hari Idul Fitri. Sungguh saat itu saya merasa bangga ketika jumlah baju saya lebih atau setidaknya sama dengan jumlah baju yang dimiliki teman-teman atau saudara.

Idul Fitri atau lebaran identik dengan baju baru, kue, dan uang. Uang? Yup, uang! Lembaran yang didapatkan dari orang dewasa yang ditemui saat itu. Lama kelamaan, ketika mulai remaja, kebosanan pun mulai melanda. Meskipun demikian, budaya belanja, buat kue, dan ‘salam tempel’ pun masih dilakukan. Only that.

Bagaimana dengan Ramadhan? Sungguh, dari kecil hingga kuliah, yang saya pikirkan tentang Ramadhan hanyalah bulan yang berat dan membosankan yang harus dilalui hingga ‘Hari Kemenangan’. Hari dimana kita bisa memamerkan baju terbaik kita. Bulan sebelum hari menyenangkan itu, saya diwajibkan puasa, shalat tarawih, bersedekah.. dengaan alasan: arena semua melakukan itu. Jika sewaktu kecil saya melakukan itu karena hadiah, maka setelah remaja saya melakukan itu karena malu. Malu jika tidak melalukannya karena orang lain melaksanakannya. Sungguh sangat artifisial. Palsu. Saya tidak pernah tahu atau tidak peduli mengenai arti bulan Ramadhan maupun hal-hal berarti yang bisa dilakukan untuk mengisinya. I did not care at all.

Apa yang saya rasakan ketika anak-anak hingga remaja itu hampir sama dengan apa yang saya dengar di ruangan berisi puluhan remaja yang diikutkan untuk mendengarkan petuah dari seorang ustadz beberapa saat lalu di bulan. Ramadhaan tahun 2013M ini. Awal tausyiah, sang Ustadz bertanya apa makna Ramadhan dan banyak dari anak-anak yang menjawab “Ramadhan is boooring!” “Ramadhan itu berat.” “Ramadhan itu melelahkan”.

Subhanallah.. seketika saya tersentak. Saya mengingat beberapa tahun lalu ketika saya memiliki pendapat yang sama. Bedanya dengan saat itu, tidak ada orang dewasa yang bertanya demikian dan saya pun hanya berani berkata demikian kepada teman terdekat saja. Seingat saya, jarang atau malah sama sekali tidak ada penguatan mengenai keutamaan Ramadhan. Kalaupun ada, sepertinya hanya karena orang dewasa tersebut hanya menunaikan kewajiban. Mereka tidak (mau) menemukan cara agar Mierza kecil itu tau arti Ramadhan.

Ya Rabb… itu membuat saya takut dengan amanah yang saya emban sebagai ibu dan guru. Sungguh saya takut apa yang saya lakukan itu belum cukup untuk memahamkan arti dan keutamaan Ramadhan bagi seoramg Muslim.

Sungguh, saya takut telah menyia-nyiakan masa muda anak-anak kandung dan didik saya. Bukankah Rasulullah telah bersabda:

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, (3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan (4) untuk apa dia belanjakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2417, dan beliau berkata: “Hadits hasan shahih.” Diriwayatkan juga dari sahabat Abu Barzah Nadhlah bin ‘Ubaid Al-Aslamiz, dan diriwayatkan Al-Khathib dalam kitab Iqtidha’ Al-’Ilmi Al-’Amal. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2417. Beliau juga berkata dalam Ash-Shahih Al-Jami’ hadits no. 7300: “Shahih”, dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah hadits no. 9461).

Namun tentunya Allah memberikan orangtua dan guru ketakutan agar bisa menjadi hamba yang kebih kuat. Seharusnya ketakutan ini menjadi senjata yang maha dahsyat untuk mentransformasi orang dewasa manapun – termasuk saya – untuk mencari terus jalan terbaik dalam memahamkan Islam kepada para khalifah masa depan: anak-anak kita. Ketakutan seharusnya menjadi pecut bagi para caretaker untuk mencari ilmu yang syar’i dalam memahamkan pengertian tentang Islam yang benar kepada anak-anak.

Bersambung ke bagian 2: Mendidik anak memahami Islam yang kaffah.

My Reflection

Berkenalan dengan VELS dan Cambridge Curriculum

Setelah 4 tahun berada di zona nyaman seorang pengajar – bertanggung jawab dengan kelas yang itu-ituuuu aja dan mengajar dengan kurikulum yang itu-ituuuu aja – akhirnya saya memutuskan untuk PINDAH SEKOLAH! Sebentar… sepertinya kalau hanya pindah sekolah tapi masih berpelukan dengan kurikulum naisonal yang sebelumnya sangat saya akrabi, sepertinya… nggak seru. Maka dengan ini saya mengambil keputusan untuk: PINDAH SEKOLAH DAN BELAJAR TANGGUNG JAWAB BARU!

Say, what? Kurikulum baru?

Ayay… for sure... kurikulum baru!

Dari pelosok Lampung yang nun jauh disana, Sekolah Sugar Group dengan segala fasilitas gratisnya yang kumplit-plit-plit , saya pindah ke pelosok Bukit Hambalang nun jauh disini yang merupakan cabang dari sekolah Induknya di Victoria, Aussie: Al Taqwa College. Kurikulum yang ditetapkan disini ada tiga: KTSP, AusVELS (Australian Victorian Essential Learning Standards), dan Cambridge Int’l Examinations atau CIE.

Al Taqwa College, Indonesia

Banyak yaaaaaa…. ~____~” Pusing ga tuuuu nyampur-nyampur begituuuu?

Awalnya… mungkin..

Sekarang? Lumayan… masih pusing… ^___^

Sebenarnya sih, ketiga kurikulum tersebut nggak langsung ‘nyampur-nyampur’ untuk satu mata pelajaran  seperti beberapa sekolah yang tidak perlu saya  sebutkan namanya. Di Al Taqwa College, semua objectives-nya sudah jelas.

Maksudnya????

Begini… saya kasih contoh apa yangsaya ajar dulu mungkin ya… Pada tahun ini, saya diberikan amanah utnuk mengajar 2 mata pelajaran dengan 3 kurikulum:

  • IGCSE English untuk kelas 9 sekalian mempersiapkan mereka untuk UN
  • A-Level English untuk kelas 11 (yang ujiannya masih 2 tahun lagi)
  • KTSP-Based English untuk kelas 12 (karena mereka memilih itu)
  • AUSVels SOSE untuk kelas 7, 8, dan 9

Nah kaan, tidak begitu pusing. Enaknya kurikulum yang jelas adalah objective  yang jelas. Jadi kita mempersiapkan anak untuk tujuan akhirnya. Malah, AusVELS dan CIE sudah mempersiapkan segala paperwork yang sangat membantu tugas guru dalam mengajar. Jadiii… guru memang dimotivasi untuk berkreasi dengan pembelajaran daripada paperwork. 

Semoga saya makin rajin mencari ide-ide segar untuk pembelajaran nantinya. Oh iya, kalau sempat, saya akan bagikan lebih lanjut tentang AusVELS ya… seru juga pakai kurikulum ini soalnya.

Salam pendidikan!

^____^

Lectures of Life

Obesity Manifesto

Food=FastMinggu pertama Coursera untuk mata kuliah Child Nutrition and Cooking memperlihatkan video berjudul ‘Obesity Manifesto’. Video ini menceritakan krisis kesehatan publik yang mendera Amerika. Maya Adam M.D. (dosen mata kuliahku itu) menamakannya sebuah ‘epidemi’yang menjebak keluarga untuk ‘mengikutinya dan pada akhirnya akan ‘menyapu’ generasi berikutnya.

Ada beberapa bagian yang membuat saya tercengang dalam video itu, diantaranya:

• Lebih dari 17% anak-anak yang tinggal di AS menderita obesitas

• Setidaknya 1 dari 3 anak di AS diduga menunjukan gejala awal obesitas

• Obesitas pada anak-anak memiliki hubungan dengan penyakit-penyakit berat seperti diabetes, jantung, dan kanker

• Obesitas pada anak-anak merupakan penyakit yang diakibatkan oleh perubahan budaya makan yang terjadi secara bertahap semenjak 30 tahun yang lalu.
• AS menjadi sebuah Negara yang tergantung pada makanan olahan yang dijual di segala penjuru
• Setidaknya satu dari tiga anak-anak AS yang berusia 4-19 tahun mengonsumsi makananan cepat saji yang berakibat pada bertambahnya berat anak rata-rata sebesar 6 pound setiap tahunnya.
• Jika budaya ini berlanjut, maka generasi ini akan menjadi yang generasi anak-anak pertama dalam dunia modern yang akan mengalami harapan hidup yang lebih PENDEK dari orang tua mereka!!!
• Satu dari tiga anak yang dilahirkan pada tahun 2000 akan memiliki diabetes tipe 2 yang sebelumnya hanya diderita oleh orang dewasa saja (adult-onset diabetes). Penyakit ini berpotensi merusak limfa, pandangan, dan fungsi ginjalnya pada usia produktif.

Maya yakin bahwa memasak adalah salah satu cara yang ampuh untuk menyelamatkan AS dari keterpurukan kesehatan dikarenakan gaya hidup. Dengan memasak-menyajikan-hingga memakan makanan yang diolah sendirii bersama keluarga dapat menjadi lebih menyenangkan daripada membawa anak-anak ke restoran cepat saji atau membeli makanan olahan dari perusahaan multinasional yang kaya.

“Kebiasaan makan dimulai sejak anak berusia 12-24 bulan” katanya.

Maya bahkan yakin bahwa krisis budaya ini berakibat pada kebangkrutan Negara. Salah satu buktinya, pada tahun 2008 dinyatakan bahwa pelayanan medis yang dihubungkan dnegan obesitas berjumlah sebesar $ 147 miliar.

Ternyata (eh, ternyata), porsi-porsi makan jumbo yang dimakan orang-orang Amerika (yang sering saya lihat di televise atau ketika teman Amrik saya datang berkunjung) BUKANLAH porsi yang normal!

“Porsi yang diberikan oleh restoran cepat saji ternyata 2-5 kali lebih banyak daripada yang sewajaranya.” Ujarnya lagi

Ia menyajikan data dimana makan siang yang disajikan pada 80% sekolah di Amerika melebihi rekomendasi total lemak dan lemak jenuh dari USDA. Bahkan 94% sekolah tidak memenuhi standar makanan sehat yang disyaratkan USDA.

Wiiih… saya sungguh sangat terpanggil untuk melakukan apa yang disarankan Maya. Saya sudah membayangkan nanti kalau Jenna sudah masuk SD, bangun pagi-pagi, menyiapakan segala sarapan dan bekal makan siang Jenna. Semoga tekad Ummi cukup kuat untuk melaksanakannya, nak. Amiin. ^___^

Lectures of Life

Masak Bareng Dosen “Stanford School of Medicine”

Maya Adam

Judulnya nampak keren? Tentu saja.

Apakah artinya benar-benar literer: MEMASAK? — Pastinya!

Jadi… ini merupakan tulisan pertama dari (semoga saja) beberapa catatan kuliah saya di Coursera (cieee…) yang bertema Child Nutrition and Cooking di Stanford School of Medicine.

“Whatt?? Stanford??? Jauh bener!” Mungkin itu yang ada di benak anda.

Saya (sayangnya) tidak benar-benar terbang ke Stanford untuk mengambil kuliah ini. Tapi, saya duduk manis di depan computer (atau tidur-tiduran dengan dengan perangkat lain) sambil mendengarkan video kuliah dari ibu Maya Adam (beliau dosennya), mengerjakan beberapa proyek (yang belum saya mulai hingga tulisan ini dibuat, hiings…. ~____~”) untuk dinilai oleh teman-teman sekelas, dan mengakhiri setiap minggu dengan mengerjakan kuis mingguan.

Inilah silabus kuliah yang sedang saya ambil untuk kuliah ini:

  • Minggu pertama – Pengenalan masalah, dari mulai epdemi obesitas yang melanda AS dan apa yang bisa dilakukan. Pada minggu ini, masak-memasak yang dilakukan cukup sederhana, yaitu sarapan yang simpel dan stir-fry yang dalam bahasa kita hanya satu kata yaitu: TUMIS!
  • Minggu kedua – Menu seimbang, dari mulai cara menyiasati porsi yang cukup tapi memuaskan, alternatif sarapan sehat, makan malam sederhana yang hanya memerlukan satu wadah besar, dan membuat kue yang bebas ‘gluten’ (ini apa bahasa Indonesianya, ya?).
  • Minggu ketiga – Bagaimana cara membuat bekal makan siang yang sehat dan cepat, membeli sabu (sayur dan buah maksudnya) serta membuat anak mencintainya (halah!), dan membuat makanan sehat lain (Yuuummm!!).
  • Minggu keempat – Berkebun (haduh!) sebagai salah satu cara membuuat anak cinta makanan segar dan cara pernyajian sabu yang kreatif serta teknik dasar membuat sup dan memasak ikan (Yaay!).
  • Minggu kelima – Kesimpulan semuanya dengan tambahan cara mengukus sederhana, membuat saus salad dasar, dan membuat penganan untuk hari libur.

Nampak seru yaaa! Saya sih baru mengunduh video minggu pertama dan kedua. Kesan pertama begitu membuat ketagihaaan!

Aish… sungguh terlalu sedikit ilmu saya sebagai ibu. Semoga kuliah ini mampu membuat saya menjadi ibu yang lebih benar (selain baik tentunya) terutama di dapur. ^___^ Amiin.

Maka, dengan ini, saya akan membuat PERNYATAAN:

“Saya – Ummi Jeqeela – menyatakan bahwa saya (sangat) optimis dalam menyelesaikan kuliah ini. Hal-hal yang menyangkut tugas dan kuis akan saya laksanakan dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Bismillah…

Product Review

My Lifetime Waranty Targus from Lazada

Ini adalah ulasan produk pertama saya di blog ini. Berhubung  karier saya adalah guru, maka barang yang akan saya ulas pertama kali adalah TAS: sebuah benda yang sangat membantu mobilitas saya dari satu kelas ke kelas lain.

Sebenarnya saya tidak berniat membeli tas, hanya saja tas andalan saya  hanya seumur jagung muda (karena dipetik untuk masak sayur asem). Belum sampai setahun, tas itu sudah menganga… tepat ketika saya sangat memerlukannya… hihiks… Maka, saya MEMUTUSKAN BAHWA inilah waktunya membeli tas baru yang tahan lama dan kalau perlu ada garansinya. Garansi? Yup, garansi! Garansi bahwa toko online yang akan saya beli produknya itu terpercaya dan garansi bahwa barang yang dijualnya juga berkualitas.

Lalu, setelah mencari-cari via search engine dengan kata kunci tas+laptop+garansi+online dan…. voila!

LAZADA HASIL BROWSING
Hasil Browsing Tas

Yang keluar pertama kali adalah iklan toko online Lazada yang beralamatkan http://www.lazada.co.id! Hmm… saya tidak langsung percaya sih.. karena terus terang saya baru pertama kali mendengar toko online ini. Akhirnya, saya mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Lazada. Ternyata, toko ini sudah banyak memiliki akun-akun di sosmed, seperti blog, google+  , twitter , dan hampir semua pengunjungnya mengatakan hal yang positif. So… I thought.. It deserved a try then. (^▽^)

Maka, masuklah saya ke toko online Lazada dan melihat pilihat menu navigasi. Ng… berhubung saya (believe it or not) adalah jenis perempuan yang hanya pergi ke toko (online or offline) untuk mencari benda yang saya inginkan, maka saya langsung ketik produk di kotak cari.  Dari semua produk yang ditawarkan, mata saya langsung takjub dengan satu tas yang berjudul Targus Incognito Ransel Laptop – 15.6″ – Olive karena 3 hal: BETULAN BERGARANSI SEUMUR HIDUP (Cek gambarnya, deh!), reviewnya bagus, muraaah dibanding lapak sebelah karena diskonnya gedee (lihat gambar), dan ONGKIRNYA GRATISSS sampai Lampung! O(≧∇≦)O

Targusku di Lazada

Inilah yang membuat saya  memutuskan untuk…. MEMBELINYA!  (/^▽^)/

Klak-klik-klak-klik… sampailah saya di ‘troli’ dan… weits… ternyata pilihan pembayarnnya banyak! Dari mulai yag standar (transfer bank), kartu kredit, sampai bayar di tempat! Wutt??! Cara pembayaran terakhir yang membuat saya haqqul yaqin  bahwa saya bisa percaya Lazada. Come on! Kalau mau nipu nggak mungkin sepede ini kan.. menawarkan COD gitu loooh. Tapi.. berhubung saya di hutan Lampung dan  kuatir tidak bisa bertemu sang kurir, maka saya putuskan untuk memakai cara yang standar: transfer bank.

Setelah dapat konfirmasi via email, yang saya lakukan tentu saja… menunggu. Trust me… bagi seseorang yang berada di tempat terpencil (saya mengajar di sekolah perusahaan di tengah-tengah kebun dan hutan di Lampung), mengunggu adalah hal yang sangat… biasa. Bahkan, barang yang seharusnya sampai hanya seminggu, dengan kondisi seperti kami, bisa sampai sebulan bahkan dua bulan kemudian. But then… saya ditelfon oleh bagian administrasi perusahaan yang mengatakan ada paket kiriman — 5 HARI KEMUDIAN!!!  Sungguh ajaiiiib. Pesanan saya tiba kurang dari seminggu!  d=(´▽`)=b

My Order
Targusku Pesananku (☆^O^☆)

Bahagianya kalau bisa mendapat lebih dari yang kita inginkan. Targus yang kualitasnya ajiib ini ternyata sudah ada di depan mata… bergaransi seumur hidup pula. ヾ(´▽`;)ゝ

GARANSI
Garansi Seumur Hidup Targus

Oya, untuk anda yang membeli Targus, pastikan anda menyimpan resi pembelian dan kartu garansinya yang supaya bisa klaim. Tapi, kalau berdasarkan review-review di dunia maya itu, jaraang banget kasus resleting rusaklah, jahitan yang tidak kuat, atau manufactured-based damage yang bikin nyesek. Tapi, hati-hati juga… kalau beli Targus harus toko online terpercaya semacam Lazada supaya bener-bener dapat yang aseli. Pasti gak mau dong kalo kita beli barang palsu, padahal niatannya mau beli yang asli?  ┐( ̄ー ̄)┌   — Kecuali kalau emang niat beli yang KW-KW-an.. hehehe…

Finally, kalau ada yang tanya “Mau repurchase di Lazada?” Saya akan jawab.. “Sudaaaah… Sudah beli untuk kedua kalinya dan sampai dengan gratis dan bahagia.”  (ヘ。ヘ)

— THE END —

My Reflection

Inovasi + Sistem yang Suportif = Indonesia Mandiri

I-N-O-V-A-S-I

Yup… Inovasi. Kata ini – menurut mbah wiki – berasal dari kata benda dalam bahasa Latin yaitu innovare yang artinya “mempebarui atau mengubah”. Kata ini dibentuk dari kata dasarnya novus yang artinya “baru”.

Tapi, ingat! ๏[-ิ_•ิ]๏ Tidak semua hal yang “baru” adalah inovasi. Pak Indra dalam laman manajemeninovasi.com mengutip tiga sumber yang memperdalam pengertian istilah tersebut. Saya hanya akan mengambil apa yang ditulis oleh Avanti Fontana (2009). Dalam tulisannya,  inovasi  berarti  mentransformasi input menjadi output melalui diperkenalkannya cara  atau kombinasi baru dari cara-cara lama. Transformasi ini dapat   menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada pengguna, komunitas, sosietas, dan lingkungan, yang pada akhirnya bisa  menghasilkan kesuksesan ekonomi.

Sekarang, kita bumikan kata inovasi yang terkesan teoritis dan super ideal di atas dengan harapan bahwa inovasi dapat menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Hipotesanya adalah: Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri melalui inovasi.

Kemudian, mari bayangkan telah mewawancarai beberapa orang Indonesia dengan menawarkan hipotesa di atas. Berikut pertanyaan dan pernyataan yang mungkin dilontarkan:

  • Benarkah senaif itu?
  • Ini pasti adalah optimisme model baru yang ditularkan melalui media untuk mengangkat harga diri Indonesia yang (terlanjur) terpuruk bahkan di mata penghuninya sendiri?
  • Memang inovasi bisa memperbaiki (minimal citra) Indonesia?
  • Ah, paling hanya segelintir penghuni negara ini saja yang dapat menikmati indahnya kemandirian melalui proses inovasi.
  • Memang negara kita tercinta Indonesia ini bisa menjadi mandiri melalui  hasil inovasi para penduduknya, ya?
  • Bisakah…?
  • Bisakah…?
  • Bisakah…?

Sebelum pertanyaan dan pernyataan diatas dijawab untuk membuktikan hipotesis, marilah kita tengok tempat Indonesia dalam Index Inovasi Global tahun 2012 yang diterbitkan INSEAD and WIPO (World Intellectual Property Organization, sebuah badan khusus dibawah organisasi PBB). Riset ini meneliti bagaimana peran inovasi  dalam membangun perkembangan ekonomi yang tentunya berkontribusi pada kemandirian suatu bangsa. Hasil riset tersebut juga mengurutkan negara-negara yang ekonominya terpacu oleh inovasi. Silahkan periksa skema di bawah ini:

Seperti terlihat, terdapat 10 negara mandiri yang berada pada ranking sepuluh teratas karena inovasinya. Dari ranking 1 sampai 10, negara-negara tersebut adalah Swis, Swedia, Singapura, Finlandia, Inggris, Belanda, Denmark, China, Irlandia, dan Amerika.

Lho, Indonesia manaaaa? (O_O;)

Jangan kuatir. Dari 141 negara yang diteliti, Indonesia berada pada peringkat ke….100!

Jika setelah melihat tabel di atas anda mulai berteriak: “Yaaa iyalaaah. Mereka kan negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang.. bla.. bla.. bla…”

Eit, tunggu dulu!

Dalam laporan itu juga disebutkan ranking negara yang mampu mentransformasi input inovasi menjadi output. Maksud dari input inovasi disini adalah kondisi lingkungan negara tersebut dalam proses inovasi hingga mampu meningkatkan perekonomian negara. Sedangkan output adalah hasil kegiatan inovasi dalam kegiatan ekonomi masing-maisng negara yang berbeda. Sepuluh negara yang terefisien dalam indeks inovasi global – dari urutan pertama – adalah China, India, Republik Moldova, Malta, Swiss, Paraguay, Serbia, Estonia, Belanda, dan di peringkat 10 – tetangga dekat Indonesia- Srilangka. Ajaibnya, meurut laporan tersebut, empat negara teratas dalam menghasilkan inovasi justru adalah negara-negara yang tidak memiliki lingkungan yang kondusif dalam dukungan inovasi.

Nah, tuh kan! Seharusnya, dengan melihat fakta di atas, kita harus makin optimis berinovasi untuk mencapai kemandirian bangsa. Tanpa sistem yang suportif saja, inovasi dapat memberi kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi. Bagaimana jika kita memiliki lingkungan yang sangat kondusi??? Well, seperti pepatah bahasa  Inggris yang sudah saya terjemahkan “Jika anda tidak bisa mengalahkan mereka, belajarlah dari mereka!” – yakinlah… Kita pasti BISA!

Untungnya, WIPO sudah berbaik hati membuatkan laporan lengkap yang berjudul Global Innovation Index Report 2012 yang dapat kita pelajari untuk mencari tahu bagaimana sebuah sistem yang suportif terhadap inovasi dapat membuat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri.

Nah, dari laporan yang super panjang itu, saya menyimpulkan beberapa hal yang bisa dilakukan Indonesia untuk agar inovasi bisa memacu pertumbuhan ekonomi:

  1. Membuat model yang berlaku nasional yang menghubungkan antara inovasi dengan sistem-sistem pendukung ekonomi. Tapi, model ini hanya berupa template saja yang bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan daerah. Kondisi Indonesia yang unik, terutama secara geografis, memerlukan energi ekstra untuk dapat mengejawantahkan model yang dibuat.
  2. Mengkoordinasikan semua usaha yang dilakukan semua pihak yang menyokong inovasi secara ekonomis. Sebenarnya, banyak pihak yang sudah mendukung keberadaan inovasi untuk dapat berkontribusi lebih dari sekedar ‘selesai diciptakan’. Bank Mandiri adalah salah satu contohnya. Bank ini sudah menelurkan beberapa program yang secara langsung maupun tidak, turut mendukung inovasi dari jalur moneter. Pihak-pihak yang sudah berjalan ini dapat berjalan secara sinergis jika dapat dikoordinasikan dengan baik.
  3. Penyederhanaan jalur birokrasi. Untuk hal ini, jalur birokrasi yang disederhanakan tidak hanya bagi sang inovator, tapi semua pihak yang terlibat di dalamnya dari mulai penyokong hingga pemerintah.
  4. Mendidik masyarakat untuk memiliki jiwa enterprenership. Hal yang bisa dilakukan adalah merombak sistem pendidikan yang terbukti menghasilkan calon konsumen atau pemakai yang hanya mengutamakan nilai kognitif. Sistem pendidikan yang baru nanti diharapkan dapat membentuk karakter-karakter yang diharapkan yang tidak menyerah pada tantangan. Oh ya, enterprenership disini bukan berarti semua yang menyelesaikan studi tidak akan menjadi karyawan. Namun, profil pembelajar dan lulusan sistem pendidikan enterpreneship memiliki mental yang tangguh, bukan hanya mental pengguna yang manja.
  5. Meningkatkan jumlah tenaga kerja terdidik. Kalau yang ini sudah jelas: pendidikanlah jawabannya. 🙂
  6. Meningkatkan infrastruktur yang berbasis inovasi. Ayooo, buka mata…. Berapa hutang Indonesia sekarang? Jika untuk membangun dan mempertahankan infrastruktur masih menggunakan metode yang selama ini kita pakai a.k.a. mahal dan tidak long lasting, makin tekor lah negara ini. Jika para inovator diberi kesempatan untuk berinovasi, bukan tidak mungkin sistem pendukung pun berjalan mengikuti.
  7. Menyokong komunitas bisnis yang modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita adalah bagian dari dunia global. Berkontribusi dan membangun jaringan di dalamnhya akan banyak berkontribusi dalam pendewasaan proses inovasi di Indonesia.
  8. Mendukung keterpakaian teknologi informasi. Lagi-lagi, kondisi Indonesia yang berpulau-pulau membuat penggunaan teknologi informasi sangat masuk akal. Dukungan penggunaan ICT oleh pemerintah akan sangat membantu para inovator dan (calon-calon) pihak pendukung untuk berinteraksi dan bertindak lebih intens.

Nah, mari kita kembali menguji hipotesa yang dituliskan diatas:

Dapatkah Indonesia menjadi bangsa yang mandiri melalui inovasi.

Semoga jawabannya kini  berubah menjadi : BISA, dengan sistem yang mendukung inovasi tentunya. ^_____^ v

Salam Kreativitas!

Sumber Bacaan:

INSEAD & WIPO. 2012. The Global Innovation Index 2012: Stronger Innovation Linkages for Global Growth. Fountainebleau: INSEAD

Nusca, Andrew. 26 Januari 2011. Top 10 Countries for Innovation: US LEads; Germany, Japan Follows. http://www.smartplanet.com/blog/smart-takes/top-10-countries-for-innovation-us-leads-germany-japan-follow/13881. Diunduh: 13 November 2012.

Tarde, G. (1903). The laws of imitation (E. Clews Parsons, Trans.). New York: H. Holt & Co.

StrategyOne. (26 Januari 20122). GE Global Innovation BArometer” Identifies New Expectations and Parameters for Innovation in the 21st Century. http://www.businesswire.com/news/home/20110126005607/en/%E2%80%9CGE-Global-Innovation-Barometer%E2%80%9D-Identifies-Expectations-Parameters. Diunduh: 15 November 2012.

Zudin, Indra. (8 Januari 2012). “Apakah Inovasi Itu?”. http://manajemeninovasi.com/apakah-inovasi-itu/.  Diunduh: 13 November 2012.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

My Reflection

Car Free Day

Going out of the jungle for sure rejuvenate my soul, mind, and recharge my energy. Being ‘stucked’, or should I say choosing to get stucked – in a middle of a jungle almost make me numb. Yes.. I know… We have the so called www to get ourselves updated, but come on… aren’t our five senses also need non-virtual stuff.to be sensed?

So there I went… Jakarta… To advance my degree at the Open University for every 4 weekends in that semester (At the time I blogged this, I just did my final exam). What I love is.. not the journey or being in the city but.. This:

Yup… Jakarta Car Free Day on every Sunday. I love to watch the urbans – from children to adults, students to executives – breaking their habit. I believe it got challengers at the beginning of implementation. But… Look! They seemed to enjoy the freedom among those sky crapper… Some of companies use it for team building

image
Indomaret Employees

and even as promotion and campaign media

image
Anlene Promo

And it made me realize: I MISS CIVILIZATION ~___~.

My Reflection

Kursi Merah Kosong

Kursi yang merah menyala itu masih kosong. Kalau warna lain sih… banyak! Katanya, tang merah itu kursi ajaib. Jampi-jampi apapun yang dipanjatkan hingga detik ini tidak mampu mengisi si kursi merah kosong itu.

Aneh… Tidak seperti kursi buru yang banyak dipilih anak-anak pencinta permen loli yang bersedia berubah pikiran jika diberi loli. Juga tidak seperti kursi hijau yang diisi anak-anak berbadan tegap dengan dahi takut berkerut. Kursi merah itu tetap saja kosong.

Belakangan, kursi itu diketahui bernama keberanian. Ternyata, jampi-jampi saja tidak cukup mengisinya.

Tidak Dikategorikan

Life Skill Counts!

Momen-momen favorit saya sebagai guru adalah ketika bertemu dengan alumni. Saat-saat inilah yang saya sebut ‘insentif’ guru yang sebenarnya. Betapa tidak… Anak-anak yang memberi bumbu dalam kisah-kisah yang selalu baru di sekolah ini muncul dalam ‘kemasan’ yang berbeda.

Percakapan pun mengalir dalam bahkan kisah-kisah yang kebanyakan bercerita tentang betapa dunia di luar sana berbeda dengan ketika mereka masih berseragam sekolah.

Biasanya, saya suka iseng bertanya apakah ada pelajaran yang masih ‘nyangkut’ di otak. Saya tanyakan beberapa istilah yang pernah saya berikan ketika mereka berada di dalam kelas bahasa Inggris saya, dari mulai genre tulisan, aturan grammar dan istilahnya, sampai jenis-jenis puisi kreatif. Coba tebak… Kebanyakan tidak mampu menjawab. Hanya beberapa yang memang meneruskan ke fakultas pendidikan bahasa yang sanggup menjawabnya. Terus terang, saya sedih ketika mereka tidak mampu menjawab. Saya merasa gagal sebagai guru.

Namun, saya tidak menyerah. Ayolah.. Minimal mereka berada di kelas selama 1 tahun! Apa iya tidak ada satu pun ilmu yang ‘nyangkut’, saya berkilah. Lalu, pertanyaan yang diberikan pun saya perluas menjadi apa saja yang mereka ingat ketika masih menjadi murid saya, saking ‘desperate‘-nya.

Ternyata, jawaban mereka di luar dugaan. Super duper di luar dari apa yang pernah saya pikirkan. Awalnya, saya pikir mereka akan menyatakan apa yang pernah saya ajarkan. Namun, ajaibnya…tidak. Mereka melontarkan pernyataan yang bahkan saya lupa pernah lakukan atau sampaikan.

Beberapa diantaranya seperti memori bawah sadar yang muncul ketika mereka stres atau ada di bawah tekanan. Misalnya,ada anak yang tiba-tiba ingat bagaimana berbicara di depan orang banyak yang pernah saya latihkan ketika ia tiba-tiba didaulat jadi MC di kampusnya. Ada juga yang ingat ketika saya pernah iseng membahas bagaimana pakaian dapat memengaruhi keputusan seseorang, ketika si anak bingung menghadapi dosennya yang killer. Ada juga yang mengubah gaya hidup setelah diam-diam setuju ketika ia mendebat ‘gaya hidup’ saya yang aneh: kemana-mana pake sepeda, misalnya.

Yang paling aneh adalag yang saya temukan kemarin ketika harus berobat ke klinik. Si alumni berkata bahwa satu hal yang paling memorable adalah cara menghilangkan cegukan menahun yang ia derita.

“Hah?!” sahut saya. Saya malah lupa sama sekali dengan fragmen yang ia ceritakan. Katanya, saya pernah menyarankan untuk melihat ke kiri ketika minum.

“It works, bu. Saya sebarkan ilmu itu kemana-mana loo.” katanya. Subhanallah… Saya hanya bisa tertawa mendengar itu.

Sungguh, beberapa pengalaman itu membuat saya berpikir bahwa saya harus berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Kecakapan hidup yang saya tanamkan seharusnya bisa lebih banyak lagi. Semoga saja saya mampu melakukan lebih dari itu. 🙂

My Reflection

KETIKA TES DIBUAT UNTUK MENCARI KETIDAKMAMPUAN

“Selasa, 5 Juni 2012 15:39 WIB | Semarang (ANTARA News) –
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan pada tahun depan, derajat kesulitan soal ujian nasional (UN) akan lebih ditingkatkan… Ia mengatakan ada dua skenario yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas UN, yakni dengan meningkatkan derajat kesulitan soal atau dengan menaikkan standar kelulusan UN.”

Sungguh terkejut saya membaca tajuk di atas. Betapa tidak! Saya yang baru saja keluar dari mulut buaya bersama siswa-siswi saya pada tahun ini, harus bersiap-siap masuk ke mulut harimau tahun depan. Apa sebelumnya tidak dipikirkan tingkat stres yang tidak perlu menjelang ujian yang harus diderita anak-anak? Ataukah budaya menghukum (jika tidak dikatakan menyiksa)sudah demikian kuat mengakar di urat nadi bangsa Indonesia karena terlalu lama dijajah? Ya, kambing hitamkan saja sejarah tanpa belajar. 😦

Apa sebenarnya tujuan ujian semacam ini jika bukan untuk ‘memetakan’ ketidak mampuan? Jika memang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia… Well… Pernyataan semacam itu tidak seharusnya dikeluarkan sedini itu. Bukankah pendidikan besar kaitannya dengan riset? It makes me feel that all of these testing thingy in Indonesia is merely superstitious. (Apa bahasa Indonesianya superstitious ya?) Bagaimana tidak, keputusan untuk  menyatakan pendapat di atas berasal sangat dipertanyakan dan tidak berdasar. Kemungkinan besar berasal dari katanya… katanya.. katanya… 😦

Saya jadi mempertanyakan lagi  hubungan antara UN dan pemetaan atau idealnya perbaikan pendidikan.  Jika memang UN ini berfungsi untuk perbaikan mutu pendidikan, apa buktinya ya? Soal-soal ajaib yang dijadikan pemetaan hanya menguji kemampuan tingkat berpikir rendah. Ayolah… berapa banyak soal yang berisi aplikasi? Kebanyakan malah harus dihafal dan dilupakan setelah ujian selesai.

Ah sudahlah… toh pada akhirnya gurunya juga yang harus berjuang. Melakukan apa yang harus dilakukan dengan baik, benar, ikhlas, dan cerdas.

My Reflection

Jenna, Buku, dan Putri Galak

Menjelang kenaikan kelas ke TK besar, Jenna sibuk mempersiapkan pemampilan terbaiknya di atas panggung.

image
Princess's Maid

Dari mulai kostum yang mengorbankan tunik umminya untuk diubah jadi gaun putri negeri dongeng, sampai apa yang harus ia ucapkan di atas panggung.

Nah, untuk urusan terakhir, sepertinya ia sudah siap karena peran Jenna saat di panggung adalah menjadi pelayan. Ia hanya harus jalan megal-megol (itu istilah yang ia dapat dari gurunya) lalu memberikan minuman  kepada si putri sambil mempersilahkannya minum. Sebagai mantan drama queen (ehm..uhuk..uhuk), saya menasihatinya untuk total bermain peran apapun yang diamanahkan.

Done? Eit… Ternyata belum! Jenna lantas  bercerita tentang karakter si putri yang pemarah. Kasusnya adalah, sang guru mengatakan kalau jadi putri harus seperti itu. Say what? Ow…Ow…Ow… Sungguh stereotyping yang berbahaya.

Lebay? I don’t think so! Pertama, jika memang diperkenalkan, princesses’ stories akan jadi idola anak-anak perempuan, termasuk Jenna, anak sulungku tercinta. Untuk menghalau infiltrasi  “putri menunggu, menikah, and they lived happily ever after“, saya belikan buanyak sekali buku Islamic Princess dari Mizan yang secara diam-diam mengajarkan asmaul husna.

image
Sebagian Koleksi Islamic Princess Jenna

Jadiii, kembali lagi berbicara tentang stereotyping, anak-anak akan menganggap sah jika putri, penguasa, pemimpin untuk bersikap jahat! Naaah loooo… Bahaya kan?

Kedua, banyak anak usia TK yang mengiyakan saja apa yang dikatakan gurunya. Untunglah disana ada Jenna yang maju mendebat gurunya (hadeuh… Emaknya aje didebat apalagi orang lain).

“Tapi, bu…  Princess yang dibukuku nggak gitu. Princess Qoyyuma malah mandiri.” Begitu yang ia ceritakan di rumah. Selanjutnya, ia tidak tertarik lagi untuk bercerita tentang hal itu dan pindah topik jadi cerita tentang temannya. Hihihi.. Saya jadi ingin tahu apa yang dikatakan bu guru selanjutnya.

Yang pasti ini juga jadi autokritik untuk saya karena Jenna sekolah di unit lain kelompok sekolah tempat saya mengajar juga. Yang pasti, saya tidak menyesal membelikan Jenna berpuluh-puluh buku yang berkualitas… Lumayan… Bisa jadi bahan untuk membela kebenaran. Hehe…

Teacher's Professional Development

Mission statement for Life: a lesson for parents and educators

Love how it inpires. Please kindly allow me to re-blog it. Thanks for sharing! 🙂

avatar A Shard of TruthThe Real Highlands Latin School

The following mission statement (from the Holstee Company) has resonated with people around the world.  We encourage parents and educators to embrace the ideas and foster an enthusiasm toward learning and life in our children.

Lihat pos aslinya

Teacher's Professional Development

STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #3

CERAMAH GURU PUN BISA JADI SERU!

Siapa bilang kalau dalam kelas aktif itu tidak ada waktu ceramah? Mungkin ada sih dan yang pasti itu bukan saya. Saya lebih setuju pendapat yang mendukung waktu ceramah, presentasi atau menerangkan yang tidak terlalu sering dilakukan. Karena, kalau menurut saya pribadi nih, pembelajaran jarang bisa ‘masuk’ jika itu terlalu sering dilakukan.

Eit.. tunggu dulu… Namun tidak jarang juga ada guru-guru, pembicara, penceramah, dosen, atau siapapun yang berhasil menjadikan waktu TTT alias Teacher’s Talking Time mereka menjadi sangat efektif, lho!

Bercermin dari para presenter handal yang memukau – termasuk beberapa guru dan dosen yang pernah mengajar saya dan buku yang pernah saya baca tapi saya lupa judulnya (kalau tidak salah pengarangnya bernama depan Mel) – ada beberapa tahap minimal yang biasa mereka lakukan. Tahap-tahap tersebut adalah (i) memulai dengan sesuatu yang menarik perhatian, (ii) memiliki trik untuk memastikan kepahaman peserta, (iii) melibatkan peserta/ siswa, dan (iv) penekanan topik yang diberikan.

Berikut cara-cara yang saya ingat bisa dilakukan untuk menjadi pembicara jagoan seperti mereka:

AWAL YANG MENARIK

  1. Menampilkan visual aid atau menceritakan kisah yang menarik. Saya masih ingat satu dosen saya yang selalu melakukan hal ini. Tiap awal presentasinya, beliau selalu menyelipkan kartun pendek, gambar karikatur, potongan gambar yang aneh dan bikin penasaran – yang hebatnya selalu berhubungan dengan topik. Selain itu, pernah ada rekan sejawat saya yang mengajar ilmu sosial yang sangat jago bercerita sebelum mulai pelajaran, baik yang lucu seperti anekdot, atau yang jayus (kalau kata anak-anak), sampai kisah menyentuh yang ternyata di akhir cerita ia bilang itu cuma cerita fiksi. Bisa juga dengan menampikan film, seperti kelas Fisika yang pernah saya intip minggu ini. Sang guru saat itu mengajarkan tentang perubahan zat (itu lho yang isinya membeku, memuai, melebur, dkk). Nah, beliau menampilkan trailer film Ice Age di awal pembelajaran.
  2. Menantang peserta dengan pertanyaan, yang tentunya berhubungan dengan topik yang akan disajikan. Jangan kuatir jika topik benar-benar baru atau prior knowledge mereka mungkin tidak seperti harapan. Dengan pertanyaan tersebut, siswa akan termotivasi untuk mendengarkan. Saya pernah menjadi siswa seperti itu, yang sebeeel banget ketika tidak bisa menjawab pertanyaan salah satu guru saya sewaktu SMA. It worked! Saya malah masih ingat yang beliau ajarkan.
  3. Acting!Kalau ini terjadi di kelas saya. Hehehe… Biasanya saya tidak sering-sering melakukan ini biar element of surprise-nya terasa. Seperti ketika saya mau mengajarkan beberapa ungkapan bahasa Inggris, saya masuk kelas, membanting segala yang saya lalui dan berteriak marah mengenai suatu kasus yang terjadi dengan salah satu teman mereka. Yang pasti, murid-murid yang jarang banget melihat saya marah jadinya ketar-ketir. “What happened? What happened? ” katanya. Selesai acting, saya tanyai apa ungkapan yang saya gunakan. Setelah dramanya selesai, ada beberapa siswa yang ngeh kalau saya mengerjai mereka, tapi banyak juga yang masih ketakutan hehe.

MENANAMKAN PEMAHAMAN DAN MENJAGA KETERTARIKAN

  1. Headlines. Kurangi kalimat-kalimat yang paaanjaaaang dan laaaamaaa. Jangan pula tergoda untuk muter-muter, menjelaskan yang lain (meskipun itu ‘terasa’ berhubungan), atau narsis menceritakan diri sendiri dan kisah di masa lalu. Pilihlah kata-kata kunci yang dituliskan di papan atau ditampilkan di layar proyektor.
  2. Contoh nyata dan analogi. Sediakan ilustrasi yang bisa ditemukan di dunia nyata. Jika memungkinkan, buat perbandingan antara contoh materi yang disajikan dengan pengalaman siswa.
  3. Bantuan Visual. Jika anda memiliki murid seperti saya yang super visual, ini akan sangat membantu! Anda bisa menggunakan poster, transparansi, modul yang sesuai dengan apa yang disampaikan, atau demonstrasi akan sangat mempermudah siswa mendengarkan.

MELIBATKAN SISWA

  1. Stop dan tantang siswa! Hentikan ceramah anda tiba-tiba (bisa beberapa kali) dan tanyakan sesuatu yang berhubungan dengan materi.
  2. Quiz ringan. Selingi ceramah anda dengan quiz ringan berdurasi 3-10 menit. 1 pertanyaan pun boleh. Hal ini dapat memperingan beban siswa yang memiliki attention span yang rendah.
  3. LKS on-the-spot. Berikan modul isi ceramah anda yang tidak lengkap. Disini siswa melakukan cloze procedure. Caranya, hapus kata-kata yang ingin anda tekankan pada modul tersebut dan minta siswa untuk mengisi titik-titik selama mendengarkan ceramah anda.
  4. Blank. Kalau anda presentasi dengan menggunakan LCD Projector, selipkan satu slide kosong diantara presentasi anda. Pancing siswa yang mungkin saat itu mengira sedang mati lampu/ proyektornya rusak. Tanyakan apa yang terakhir disampaikan. Pura-puralah lupa… tapi jangan terlalu lama dan terlalu sering ya… Ini cuma sekali-kali aja. Oya, bisakah ini dilakukan tanpa PPT? Bisa! Diam saja tanpa ekspresi dan lakukan hal yang sama.
  5. Oops! Ini juga jika anda presentasi dengan menggunakan LCD Projector, selipkan satu slide yang salah atau pernah dipakai sebelumnya. Kalau siswa menymak, biasanya mereka akan berkomentar seperti, “Itu kan udah, bu!” atau “Lho, bukannya itu adalah … ” Anak-anak lain yang mungkin nyaris tertidur jadi ingin tahu apa yang terjadi. Hihihi.

MENEKANKAN POIN PENTING

  1. Pertanyaan aplikatif. Berikan pertanyaan atau studi kasus untuk dipecahkan siswa berdasarkan informasi yang didapat dari ceramah.
  2. Ulasan siswa. Minta siswa untuk mengulas isi ceramah satu sama lain atau berikan ulangan yang mereka nilai sendiri. (bukan ujian lho… Ini yang bahasa Inggrisnya review).

Hmm… saya juga masih harus belajar banyak menjadi penceramah yang baik-benar-enak. Untuk menuju ke sana, perjalanannya masih paaanjaaang. Mash banyak contoh yang harus saya cari dan kelas yang harus saya intip. Oya, kalau Bapak/ Ibu berkenan berbagi tips jitu untuk jadi penceramah model itu saya mau juga yaaa!

Teacher's Professional Development

STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #2 : PAIR WORK IDEAS

Saya sangat menyukai strategi kelas aktif dengan metode siswa berpasangan ini karena pernah dan bisa diterapkan di kelas dan pembelajaran apapun dengan jumlah murid berapapun, dari cuma 2 hingga 200 siswa. Metode ini bermanfaat untuk mengaktifkan diskusi hingga memeriksa pemahaman siswa dalam beragam seting kelas dari yang klasikal dengan bangku statis hingga dinamis.

Ada beberapa strategi yang bisa kita lakukan, diantaranya sebagai berikut:

1. Merespon bersama pertanyaan yang diberikan guru.

2. Mendiskusikan teks tertulis.

3. Merangkum bersama apa yang telah dipelajari.

4. Mewawancarai satu sama lain untuk mendapatkan jawaban yang berbeda dari apa yang tertulis, ditonton, didengar, dl..

5. Membandingkan catatan (BUKAN MENYALIN lho, ya! ^___^)

6. Mengoreksi hasil yang dibuat rekan sebangku.

7. Mengembangkan pertanyaan untuk ditanyakan kepada guru (ini kegiatan yang paling saya suka)

8. Melakukan studi kasus.

9. Menganalisa latihan yang diberikan atau melakukan eksperimen (sederhana) bersama.

10. Menguji kompetensi satu sama lain, misalnya dengan memberikan tes yang individualized.. hehe… kan lumayan lama duduk sebangku tuh! Pasti sudah kenal sifatnya.

11. Membuat game dan/ atau melakukan game berdua (Banyak yang bisa dibuat, bisa board game, flash cards, dominoes, dll.)

12. Melengkapi pair-information gap, (Kalau saya biasa melakukan ini untuk melakukan scanning pada pelajaran membaca. Saya suka cara yang ini karena siswa yang belum kompeten pun bisa melakukannya. Caranya, guru memilih satu teks yang sama. Buat dua salinan lalu hilangkan kata-kata yang berbeda di setiap teks. Nah, secara berpasangan siswa melakukan tanya-jawab untuk melengkapi teks.

Lalu, bisakah mereka bekerja berkelompok dengan posisi duduk yang tidak portable itu. Sangat bisa! Tinggal putar badan dan voila! Jadilah kelompok dengan empat anggota.

Jadi… furnitur kelas dan jumlah siswa pastinya tidak menjadi halangan untuk menerapkan kelas aktif.

Teacher's Professional Development

Connectivism – Ide Pendidikan Jaman Sekarang!

Salah satu manfaat berjejaring sosial dan bermilis ria bagi guru adalah mengetahui banyak hal dari apa yang dibagi oleh anggota jejaring tersebut. Salah satunya adalah mengenai teori pembelajaran bernama CONNECTIVISM. 

Connectivism

Sebenarnya, ketika saya bertegur sapa dengan Mang Google, teori ini telah  lama ada (saya lihat tahunnya dari 2005). Hanya saja saya memang kurang apdet kalau kata murid-murid tercinta saya.. hiks… ~____~” 

Ilmu mengenai CONNECTIVISM  ini dipopulerkan di milis IGI  oleh Ines Puspita, seorang pendidik yang bertugas di sebuah institusi bernama German International School. Nah, berikut posting beliau yang sangat mengilhami saya untuk terus belajar banyak hal. Selamat membaca! ^___^

CONNECTIVISM – Dipopulerkan di Milis IGI oleh Ines Puspita 

Pertama, Information and Communication Technology (ICT) adalah teknologi untuk mengakuisisi, memproses, menyimpan, menyebarluaskan dan mengkomunikasikan informasi baik berupa tulisan, gambar, numeric signal, audio, video, dll. Meskipun istilahnya dicetuskan di Inggris tahun 1997an, tetapi teknologi ini sudah berkembang sejak manusia memasuki masa sejarah (setelah pra sejarah). Candi borobudur merupakan alat ICT yang dipakai beberapa orang di jaman dinasti Sailendra untuk mengkomunikasikan sebuah cerita yang bermakna kepada khalayak. Daun lontar yang dipakai Mpu Tantular juga alat ICT.  Pemikiran yang dituangkan Mpu Tantular dalam daun lontar ini selamat dan sampai kepada kita sehingga kita bisa menjadikannya sebagai landasan hidup berbineka tunggal ika. Jadi, alat ICT itu luas, sejarahnya panjang, dan perkembangannya tidak bisa dielakkan.  

Kedua, ketika kita melihat ICT, kita sering lupa melihat bahwa ICT itu hanya alat yang baik buruknya tergantung mereka yang menggunakannya. ICT ini hanya akan bermanfaat kalau pada dasarnya manusia di balik ICTnya tahu bagaimana berkomunikasi dan bisa mengolah informasi yang didapat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi, apabila ada guru yang tanpa ICT yang canggih saja, yang hanya dengan papan tulis dan kapur saja TIDAK BISA berkomunikasi dg baik (murid bosan, ngantuk, tidak mengerti, tidak ingat apapun yg guru katakan), diberi ipad juga tidak akan serta-merta memperbaiki komunikasinya, apalagi pembelajaran yang disampaikan. Kemampuan komunikasi yang rendah ini akan bertambah buruk ketika guru juga tidak mengerti pedagogi dalam pembelajaran. Jadi tidak mengherankan kalau sekolah berinvestasi besar di ICT tetapi tidak semua sekolah bsia meningkat kualitas anak didiknya. Kesimpulan yang paling mudah kita ambil baisanya : ICT tidak berguna dan oleh karenanya tidak perlu dipelajari.  

Ketiga, kenapa ICT untuk pendidikan ini didengungkan sedemikian dasyatnya 10 tahun terakhir ini? Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa perusahaan yang berkepentingan seperti yang disampaikan Pak Pur. Tetapi dengan mengesampingkan itu, kemajuan ICT ini telah melahirkan sebuah LEARNING THEORY (teori pembelajaran) baru yaitu CONNECTIVISM, yang memantapkan learning theory yang banyak berkembang sebelumnya yaitu constructivism. Dalam teori belajar connectivism, premisnya adalah pengetahuan ini ada di dunia bukan hanya ada dalam satu individu saja. Dengan menghubungkan satu orang dengan orang lainnya di dunia yang memiliki pengetahuan yang beragam maka kita bisa belajar dengan sendirinya. Sebelum ICT berkembang, connectivism ini sudah terjadi dan terbukti seperti Bu Nina yang belajar banyak hanya dengan mengunjungi tempat2 di luar negeri dan bertemu beragam orang. Dulu sebelum ICT berkembang, connectivism ini MAHAL karena untuk membuka akses koneksi/kontak antara satu orang dengan orang lain di dunia begitu sulit, dan mahal. Setelah ICT berkembang terutama dalam 1 dekade terakhir, ini bisa dilakukan dengan mudah dan murah sehingga orang kampung miskin dengan pendidikan kelas kampung seperti saya bisa menjadi guru Indonesia pertama yang diijinkan mengajar Science di Sekolah International Jerman padahal saya bukan lulusan Science. (Maaf, saya bukan bermaksud sombong. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi) Semua pengetahuan tentang Science dan bagaimana mengajarkannya saya dapatkan semua dari orang-orang lain di berbagai belahan dunia yang dengan suka rela membagikan ilmunya dalam sebuah jaringan world wide web. Di sinilah kenapa perkembangan ICT menjadi sangat penting dan kemudian menggema.  

Keempat, perkembangan ICT yang sedemikian pesat benar2 menggeser banyak sekali peran guru. Bukan berarti guru tidak diperlukan tetapi dengan ICT seseorang bisa memilih gurunya sendiri dari berbagai belahan dunia dan meninggalkan guru yang dirasa tidak memberikan manfaat baginya. Makna guru juga berkembang tidak hanya terbatas hanya untuk mendefinisi mereka yang bekerja sebagai guru di sekolah. Siapa saja yang bisa membagikan ilmunya kepada orang lain dan bermanfaat adalah guru. Misalnya, waktu saya belajar membudidayakan jamur, saya belajar dari petani jamur di Yogyakarta lewat komunikasi di Facebook dan dari Website beliau. Padahal ketemu beliau saja saya tidak pernah. Jadi bisa dibayangkan betapa guru-guru seperti kita bisa menjadi terancam dan kalang kabut menghadapi “guru-guru” lain yang hebat-hebat di bidangnya di seluruh dunia. Senjata yang bisa kita pakai untuk mempertahankan “status-quo” kita mungkin adalah kebijakan “HARUS” yang disertai ancaman “Kamu harus belajar di kelas saya kalau tidak …” , “Kamu harus belajar dengan saya kala utidak …”, ” Kalau sekolah di sini maka gurunya hanya ini kalau tidak mau …”   

Kita memiliki pilihan untuk menyikapi kehadiran kemajuan ICT ini. Saya sendiri memilih beradaptasi dengan kemajuan di bidang ICT dan memanfaatkannya untuk murid-murid saya dan diri saya. Meskipun saya tidak menguasai seluruh aspek ICT, saya pilih alat/perangkat yang bisa saya pakai. Dengan kemajuan ICT, peran guru seharusnya bergeser dari Mr Know It All & Do It As I Say menjadi fasilitator, motivator, inspirator, ketiga peran yang tidak akan punah dengan adanya kemajuan ICT tetapi justru bisa berkembang seiring dengan perkembangan ICT.    Akhir kata, seperti kata B.W. Seibert “People will never be replaced by technology – but people who use technology will replace those who do not.”  Semoga lebih banyak lagi anak kampung yang tidak punya banyak uang, yang minim fasilitas, (seperti saya) yang bisa keluar dari belenggu kebodohan dan kemiskinan lewat pembelajaran mandiri melalui teknologi ICT. Ide Self-Teaching with Technology Sugata Mitra (India) untuk anak2 yang tidak terjangkau oleh pendidikan yang berkualitas, bukan ide yang kosong. Yang Sugata Mitra atasi adalah masalah terbesar pendidikan yaitu “Guru-guru dan sekolah-sekolah terbaik tidak ada di tempat2 di mana mereka paling dibutuhkan.” http://www.youtube.com/watch?v=dk60sYrU2RU

Ines Puspita
Deutsche Internationale Schule
German International School
http://inesogura.weebly.com
http://virtual-world-education-asia.weebly.com

Phew.. wasn’t that inspiring you to know more? It was for me! Mau ngubek-ngubek aaah… cari tahu lebih banyak tentang si konektivisme ini. Oya… saya menemukan gambar ini ketika mencari ilham tentang teori ini yang mungkin memberi gambaran sekilas mengenai apa yang disampaikan di atas – terutama bagi anda yang sangat visual – seperti saya. Hehe… ^___^

 
Teacher's Professional Development

STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #1

JURUS PRAKTIS MENDAPATKAN PARTISIPASI SISWA

Suatu kelas tidak akan dikatakan aktif tanpa partisipasi siswa. Karena itu para ahli yang sudah berjibaku dengan siswa mengkreasikan beberapa metode yang insyaAllah bisa membuat siswa tertarik untuk ikut serta. Namun tentu saja, gaya-gaya ini tidak bisa terus dipakai di setiap kelas. Karena yang dihadapi guru adalah manusia, sangat mungkin mengkombinasikan atau memodifikasi metode di bawah ini untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

1. Diskusi terbuka

Tanyakan suatu pertanyaan pembuka di depan kelas. Jika anda kuatir siswa terlalu malu untuk menjawab, tanyakan apakah ada tiga atau atau empat orang siswa yang bisa menjawab. Atau, tanyakan saja siapa yang punya jawaban untuk pertanyaan. Atau, anda bisa memberikan waktu sebanyak 5-30 detik untuk siswa menuliskan jawaban mereka. Waktu pause tergantung kesulitan pertanyaan anda… Di kelas, saya tidak pernah lebih dari 30 detik :D. (Hmm.. Mungkin itu sebabnya murid-murid menjuluki saya Ratu Tega huehehehehe)

Tapi ingat-ingat yaaa… tingkat kesulitan siswa berbeda-beda, seperti tiga dari 6 level berpikirnya Bloom (bener gak ya?) yang saya ingat, yaitu mengingat, menerapkan, dan mengevaluasi. Jadi, bentuk pertanyaan sebaiknya didesain  minimal untuk tiga level itu. Misalkan:

  • Untuk level mengingat (basic) pertanyaannya menjadi “Apa bedanya…. dan ….” atau “Hayoo, sebutkan 3 bla.. bla..bla…”. jadi benar-benar  recalling saja sifat pertanyaannya.
  • Untuk level menerapkan (intermediate), pertanyaanya bisa seperti “Jelaskan apa hubungan antara… dan…. menurutmu?” atau “Bagaimana bisa … dikatakan sesuai, ya?” atau “Siapa yang setuju……? Kenapa?” dll, dst, dsb, dllaj. 😀 Intinya pertanyaan-pertanyaan didesain untuk menantang siswa level ini untuk (a) melogiskan  apa yang mereka pelajari,  (b) mengaplikasikan formula ke pertanyaan atau problem yang baru, dan  (c) menganalisa hubungan antara dua konsep atau lebih dan menggeneralisasikannya. 
  • Untuk level mengevaluasi, pertanyaannya bisa menjadi “Menurut si ini, bla.. bla.. bla… Jika kamu adalah si inu, apa yang kamu lakukan?” atau “Menurutmu, memangnya bisa ya jika bla.. bla.. bla…” Intinya, pertanyaan untuk siswa yang sudah mencapai level ini menantang mereka untuk mencari solusi atau alternatif dan memberikan justifikasi atas pilihan yang diambil.

Nah… saya yakin anda pasti sudah mengenali siswa-siswa anda tercinta. Dengan variasi pertanyaan sesuai level, semoga tidak ada siswa yang merasa tertinggal. 

2. Diskusi kelompok: Bagi siswa menjadi beberapa kelompok beranggotakan tiga orang atau lebih (jangan terlalu banyak, kalau menurut saya, agar efektif). Tugaskan kelompok untuk berbagi atau mendapatkan informasi. Metode ini berfungsi jika anda memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tanya jawab atas masalah yang muncul. Oya, suatu hari ketika saya sedang puter-puter cari ide di dunia maya untuk kegiatan di kelas, saya temukan laman dari University of North Carolina at Chapel Hill dan laman dari University of Minnesota ini yang isinya beberapa metode yang bisa diterapkan dalam kelompok kecil. Tujuannya  adalah agar siswa mampu menyuarakan pendapatnya  Begini kurang lebih isinya  setelah diterjemahkan:

  • Think/Write-Pair-Share (Lyman, 1992). Disini, guru memberikan isu atau masalah kepada siswa yang diminta untuk memikirkan atau menuliskannya setelah diberikan 30-60 menit. Lalu, siswa diminta bekerja berpasangan untuk menjelaskan jawaban mereka kepada rekannya selama 3-5 menit. Lalu, guru berdiskusi hasilnya satu kelas. 
  • Buzz Groups. Anak-anak dikelompokkan menjadi 5-8 orang untuk mendiskusikan topik yang diberikan guru. Oya, jangan lupa pastikan bahwa guru menginstruksikan siswa untuk mengkontribusikan satu ide kepada masing-masing kelompok. Setelah 10 menit, minta salah satu kelompok untuk membacakan hasilnya dan minta kelompok yang sama hasilnya untuk mengangkat tangan. Bagi kelompok yang memiliki jawaban/ tanggapan yang berbeda, minta mereka untuk berbagi.
  • Three-steps-interview. Kegiatan ini dilakukan oleh berpasangan. Masing-masing anggota pasangan bergantian untuk mewawancarai pasangan yang lain. Setelah itu, pasangan menyimpulkan apa yang dikatakan pasangannya. Kegiatan ini diakhiri oleh masing-masing pasangan menjelaskan kesimpulannya kepada pasangan yang lain.
  • Note Check. Kalau anda mewajibkan siswa untuk menulis (seperti saya.. hehe.. berhubung kami tidak menggunakan buku paket), sempatkan untuk meminta anak-anak membandingkan catatan mereka dengan rekannya. Minta siswa untuk mencari misconception dan atau apakah mereka telah menuliskan poin-poin terpenting yang harus dituliskan. Oya, ingatkan dan monitor siswa untuk tidak menukar catatan, ya! Membandingkan bukan memberikan catatan lalu dengan sekenanya dikopi loh… Jika strategi ini rutin dilakukan, insyaAllah kemampuan mencatat mereka akan berarsung meningkat.
  • STUMP! Hehe.. ini nama generik yang saya ambil sekenanya. Seru banget deh. Saya paling suka kalau sedang pakai metode ini. Biasanya, saya akan stop ditengah-tengah diskusi atau penjelasan lalu berkata “Stomp!”. Karena terbiasa, anak-anak akan segera berpaling ke teman mereka lalu dulu-duluan bertanya tentang apa yang saya sudah ajarkan di sesi itu. Kalau mereka bisa, saya menuliskan nama mereka di papan tulis. 

3. Kartu bingung: Sebarkan kartu berukuran A6 atau A7 dan minta siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan yang anda berikan tanpa menuliskan identitas di kertas. Anda bisa menggunakan metode ini untuk menghemat waktu atau ketika anda merasa siswa tidak cukup percaya diri untuk menyertakan identitas mereka di kartu jawaban.

4.  Polling. Buatlah survei kecil-kecilan yang berhubungan dengan materi anda saat itu. Jika waktu anda sedikit, anda bisa meminta siswa untuk mengangkat tangan. Jika waktunya lumayan memadai, anda bisa meminta siswa untuk menuliskan pilihannya secepat mungkin ya.. 

5. Whips. Anda bisa menanyakan kelompok pertanyaan singkat yang hanya membutuhkan satu kata atau frase sebagai jawaban. Contoh pertanyaan bisa seperti “Satu hal yang bisa dilakukan dengan bla-bla-bla yaitu…”. Anda bisa menantang siswa untuk membuat pertanyaan untuk grup lain loh! Usually the students would love it! ^___^ Oya, jangan lupa dimonitor agar siswa tidak menanyakan hal yang sama. 

6. Diskusi panel. Undanglah kelompok siswa ke depan sebagai presenter untuk menyampaikan pendapat mereka mengenai suatu hal. Para peserta panel dapat memberikan pendapat mereka terhadap apa yang disampaikan. Rotasikan kesempatan untuk menjadi presenter agar setiap siswa memilik i kesempatan untuk memimpin. Jika waktu mencukupi, diskusi bisa dibuat lebih dalam untuk mendapatkan lebih dari suatu topik. 

7. Fishbowl. Sistem ini yang hampir sama dengan diskusi panel. Caranya, beberapa siswa untuk duduk di tengah lingkaran siswa yang lain. Yang sedikit mnjelaskan, sedangkan yang lebih banyak tentunya menjadi pendengar (aktif loh.. ada sesi tanya jawab nantinya). Metode ini saya rasakan manfaatnya kalau harus fokus ke diskusi kelas.. meskipun kelemahannya adalah makan waktu. 

8. GAMES! YAAY! Sebenernya hanya mengadopsi sistem cerdas cermat aja sih… atau acara Ranking Satu-nya salah satu stasiun TV dan game show lainnya. Klasik namun seruw! 

9. PEMBICARA BERIKUTNYA. Trik ini berguna kalau anda ingin siswa berpartisipasi. Daripada anda yang menunjuk siswa untuk memberikan pendapat, misalnya, anda bisa meminta siswa melakukannya setelah giliran mereka berbicara selesai. 

10. Pilih-Pilih PG. Hehehe.. kalau anda mencoba mencari tahu nama ini lewat mang Google, mungkin akan berakhir di blog saya. Sebenarnya metode ini sama dengan metode STUMP, tapi menggunakan PG alias Pilihan Ganda. Caranya sama, stop ceramah anda dan berikan satu soal PG. Minta anak tunjuk tangan untuk setiap jawaban, misalnya “Siapa yang memilih A, tunjuk tangan.” dst. Jika waktu memungkinkan, silahkan tanya alasannya. Ini juga untuk mengecek apakah siswa tidur ketika anda menerangkan di depan. 😛

11. Debat! My students love to debate a lot! Hehehe… biasanya saya menyediakan dua hal yang bertentang di kelas untuk satu topik. Lalu, saya bagi kelas menjadi dua bagian besar. Yang HARUS setuju dan yang TIDAK setuju. Ini sebenarnya bisa untuk materi apa saja, dari mulai ilmu sosial sampai matematika. Teman saya, guru matematika, membagi kelas menjadi dua bagian. Lalu, ia membuat dua statement yang bertentangan yang harus dipertahankan habis-habisan (sampai waktu habis maksudnya) oleh kedua kelompok. Satu pernyataan itu adalah: “Tower air itu (sambil menunjuk tower air) bisa didapat tingginya tanpa diukur dari atas ke bawah.” Seru…! Anak-anak yang sudah dibekali buku paket bisa menggunakan bukunya tanpa disuruh loh (mereka ingin jadi kelompok yang menang soalnya).

 Phew… Baiklah.. untuk sementara demikian strategi yang pernah saya pakai di kelas (dan yang saya intip di kelas teman-teman saya). Jika anda punya strategi yang lain, jangan sungkan berbagi yaaa! 

Bersambung ke STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #2 ^______^

Teacher's Professional Development

STRATEGI PRAKTIS KELAS AKTIF #INTRO

Mulai detik ini saya akan mulai berbagi apa yang saya tahu, pernah saya baca, dengar, alami, dan praktikan di ruang-ruang kelas mengenai manajemen kelas aktif.

Berhubung strategi-strategi praktis ini berasal dari berbagai sumber yang pernah saya pelajari dari mulai saya nekad mengajar di depan murid, maka saya persilahkan anda atau siapapun untuk membaginya seluar-luasnya. Semoga semakin banyak guru-guru yang berdaya yang sanggup memberdayakan potensi-potensi (tersembunyi) generasi-generasi masa depan.

Yang pasti, strategi-strategi ini pernah saya praktikan di ruang kelas. Dan, hasilnya… Subhanallah… baik siswa maupun saya ketagihan dengan bagaimana kami berinteraksi di dalam kelas. Namun mohon maaf,  berhubung saya tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai peristilahan, banyak strategi yang tidak dinamai dengan nama generik asalnya. Mungkin ada beberapa yang saya tahu, namun selebihnya, kebanyakan saya menamai sekenanya.

Karena saya (pribadi)  percaya, siswa tidak butuh nama-nama metode pembelajaran yang njelimet… they just need to have something when they walk out of my class.

Meniru iklan susu yang katanya dapat memberikan efek sixpacks bagi pengonsumsinya, maka saya saya juga akan ikut berkata:

“Active Learning? Trust me.. It works!” Hahahaha 😀

Selamat mencoba! ^___^ 

Teacher's Professional Development

PROKLAMASI MUSLIMAH SUKSES

Sesi keputrian yang sempat beku tanpa supervisi beberapa bulan karena ketidak pedulian guru (baca: termasuk saya), telah diluncurkan ulang dengan nama baru: MUSLIMAHS’ SESSION. Ini sebenarnya ide saya dan Ulil Albab (siswa-siswi Students Representative Council yang membawahi bidang agama Islam) agar segala kajian dan kegiatan bagi  muslimah remaja SMA Sugar Group lebih ‘mengena’.

Konsep Muslimahs’ Session saya rubah sedikit. dari sebelumnya. Masih berupa diskusi namun diberi selingan informasi, motivasi, dan kegiatan yang bertumpu pada siswa. Jika sebelumnya siswi-siswi dipisahkan menjadi tiga kelas, mulai tahun ini kami satukan menjadi kelompok besar. Jadi, bisa dibayangkan… bagaimana hebohnya memfasilitasi 199 siswi putri dalam satu ruangan. Bagi guru muslimah SMA Sugar Group… insya Allah.. Bisa! 😀

Sesi pertama berjudul “PROKLAMASI MUSLIMAH SUKSES”. Sebuah judul yang lumayan provokatif yang  saya pilihkan sebagai launching program yang berdurasi 30-45 menit ini.

Saya mulai dengan mendiskusikan Aturan Main di sesi ini. Dilanjutkan dengan diskusi mengenai kesuksesan, dari mulai definisi, cara meraihnya, dan bagaimana panduannya dalam Qur’an dan hadits (yang sebelumnya sudah saya mintakan kepada guru agama… maklum.. saya kan belum ngerti :P).

Alhamdulillah, diskusi berjalan lancar. Hampir semua level kelas berpartisipasi… Tidak seperti stereotip sebelumnya dimana diskusi hanya didominasi kelas 12.

Lalu, saya perkenalkan dengan Teks Proklamasi Muslimah Sukses yang saya ambil dari buku “Hidup untuk Hidup” karangan Masrukhul Amri:

PROKLAMASI
Saya… Hamba Allah…
Dengan ini menyatakan, insyaAllah hidup hanya sekali.
Hal-hal mengenai 7 B:
Beribadah dengan benar; Berakhlak mulia; Belajar tiada henti; Bekerja keras, cerdas, dan ikhlas; Bersahaja dalam hidup; Bantu sesama; dan Bersihkan hati selalu…
Yang akan diselenggarakan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Lampung, 2 Maret 2012
Atas nama diri sendiri,
HAMBA ALLAH
Guru Sukses

Ruangan kafetaria yang cukup panas karena AC-nya dimatikan pun bergelora dengan riuhnya pembacaan teks yang dilakukan bersama ke-199 anak-anak.

Lalu, saya minta para muslimah remaja yang bersemangat itu untuk membuat secara berpasangan/ berkelompok sebanyak 3 orang,  teks mereka masing-masing. Hasilnya… sungguh memotivasi! Sayangnya karena waktunya yang pendek (bersamaan dengan shalat Jum’at), hanya beberapa pembacaan saja yang bisa dilakukan hari itu. Sisanya, dikumpulkan untuk dipajang di musholla.

Berikut beberapa teks proklamasi  yang akan dipajang di mading musholla:

 PROKLAMASI

Kami, HambaMu bertekad, bahwa kami ingin menjadi orang SUKSES. Untuk mencapai hal tersebut, maka, kami melaksanakan 6 hal, yaitu… SUKSES:
Siap hadapi tantangan
Usaha tiada henti
Kuatkan hati dan pikiran
Selalu menjalankan perintah-Nya
Etika yang beradab
Selalu Berpikir kreatif
 
Hal-hal diatas akan kami lakukan sebaik-baiknya dengan mengharap ridho Allah semata.
 
Kami, Hamba Allah
Winda, Laras, Wulam

Dan yang ini…

 PROKLAMASI
Kami, Hamba Allah beinisial 3N, menyatakan bahwa kami akan selalu mengingat BISA, yaitu:
Bismillah sebelum memulai pekerjaan;
InsyaAllah dalam berjanji;
Subhanallaah dalam menghadapi cobaan
Alhamdulillaah jika berhasil
Kesemuanya akan mulai kami kerjakan
dalam tempo sesingkat-singkatnya 
 
Lampung, 3 Maret 2012
Nana, Nur Eliyani, Nur Ikhsara

 Dan.. yang ini..

PROVOKASI
Kami, generasi bangsa Indonseia yan Insya Allah berbakti kepada bangsa dan agama.
Hal-hal yang mengenai kesuksesan diri sendiri, diselenggarakan dengan sebaik-baiknya. Untuk menuju sukses, kita harus NAKAL
Niatkan untuk sukses mulai dari sekarang
Atur waktu seefektif mungkin
Kurangi aktivitas yang kurang berguna
Abaikan bisikan-bisikan menyesatkan
Lihat masa depan dengan cermat dan bijaksana
 
Atas nama Hamba Allah
Lampung, 2 Maret 2012
– DUT –
 

Haduuh.. kalau boleh jujur.. ternyata ke-100 teks yang sudah dibuat memang  layak pajang karena sangat memotivasi. Mungkin akan saya pikirkan bagaimana cara memajang kesemua karya muslimah remaja itu bersamaan dengan indah…

I’m very proud of you, girls! Semangat!!! ^___^

My Reflection

HIJABILAH

Saat ini ingin aku menggapaimu

Memeluk dan melindungimu

Memastikan kau aman

Menjaga lajurmu agar lurus

Mengingatkanmu akan masa depan selepas fana

Sungguh nak…

Hati ibu kelu menatap masa

Ketakutan ini mengejawantah akan hijabmu

Akankah kau hijabi hatimu?

Akankau kau hijabi dirimu demi selamatmu?

Tahukah kau, nak….

Setiap hijab yang terbuka

adalah ujian bagi bunda seorang khalifah

Ya Rabb…

Tak sanggup khalifahmu ini menjangkau hatinya

Menata masa yang Kau siapkan untuknya

Kumohon ya Rabb hijabilah malaikat hamba

Jangan biarkan fana merenggut surga yang Kau janjikan

Kumohon ya Rabb…

Hijabilah…