Momen-momen favorit saya sebagai guru adalah ketika bertemu dengan alumni. Saat-saat inilah yang saya sebut ‘insentif’ guru yang sebenarnya. Betapa tidak… Anak-anak yang memberi bumbu dalam kisah-kisah yang selalu baru di sekolah ini muncul dalam ‘kemasan’ yang berbeda.

Percakapan pun mengalir dalam bahkan kisah-kisah yang kebanyakan bercerita tentang betapa dunia di luar sana berbeda dengan ketika mereka masih berseragam sekolah.

Biasanya, saya suka iseng bertanya apakah ada pelajaran yang masih ‘nyangkut’ di otak. Saya tanyakan beberapa istilah yang pernah saya berikan ketika mereka berada di dalam kelas bahasa Inggris saya, dari mulai genre tulisan, aturan grammar dan istilahnya, sampai jenis-jenis puisi kreatif. Coba tebak… Kebanyakan tidak mampu menjawab. Hanya beberapa yang memang meneruskan ke fakultas pendidikan bahasa yang sanggup menjawabnya. Terus terang, saya sedih ketika mereka tidak mampu menjawab. Saya merasa gagal sebagai guru.

Namun, saya tidak menyerah. Ayolah.. Minimal mereka berada di kelas selama 1 tahun! Apa iya tidak ada satu pun ilmu yang ‘nyangkut’, saya berkilah. Lalu, pertanyaan yang diberikan pun saya perluas menjadi apa saja yang mereka ingat ketika masih menjadi murid saya, saking ‘desperate‘-nya.

Ternyata, jawaban mereka di luar dugaan. Super duper di luar dari apa yang pernah saya pikirkan. Awalnya, saya pikir mereka akan menyatakan apa yang pernah saya ajarkan. Namun, ajaibnya…tidak. Mereka melontarkan pernyataan yang bahkan saya lupa pernah lakukan atau sampaikan.

Beberapa diantaranya seperti memori bawah sadar yang muncul ketika mereka stres atau ada di bawah tekanan. Misalnya,ada anak yang tiba-tiba ingat bagaimana berbicara di depan orang banyak yang pernah saya latihkan ketika ia tiba-tiba didaulat jadi MC di kampusnya. Ada juga yang ingat ketika saya pernah iseng membahas bagaimana pakaian dapat memengaruhi keputusan seseorang, ketika si anak bingung menghadapi dosennya yang killer. Ada juga yang mengubah gaya hidup setelah diam-diam setuju ketika ia mendebat ‘gaya hidup’ saya yang aneh: kemana-mana pake sepeda, misalnya.

Yang paling aneh adalag yang saya temukan kemarin ketika harus berobat ke klinik. Si alumni berkata bahwa satu hal yang paling memorable adalah cara menghilangkan cegukan menahun yang ia derita.

“Hah?!” sahut saya. Saya malah lupa sama sekali dengan fragmen yang ia ceritakan. Katanya, saya pernah menyarankan untuk melihat ke kiri ketika minum.

“It works, bu. Saya sebarkan ilmu itu kemana-mana loo.” katanya. Subhanallah… Saya hanya bisa tertawa mendengar itu.

Sungguh, beberapa pengalaman itu membuat saya berpikir bahwa saya harus berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Kecakapan hidup yang saya tanamkan seharusnya bisa lebih banyak lagi. Semoga saja saya mampu melakukan lebih dari itu. 🙂

Iklan