My Reflection, My Thoughts

Fenomena Sekolah Ruko

***Pengantar artikel yang ditulis Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999, di bawah ini. ***

Saatnya cari sekolah sudah tiba. Bagi yang memilih sekolah swasta, perburuan lebih menantang lagi karena banyaknya pilihan. Dari sekolah nasional, ada plusnya, internasional, sampai sekolah abal-abal.

Yup. Sekolah abal-abal. Sekolah- sekolah ini memanfaatkan keawaman ilmu orangtua atau malah mampu menangkap idealisme untuk dijual tapi tak bisa mengejawantahkan secara teknis. Karena mau tidak mau, tata kelola sekolah ya memang teknis pelaksanaan. Ngerinya, sekolah semacam ini menjamur dimana-mana. Agar dibuat mentereng dan bertingkat, disewalah ruko agar mempesona.

Cuma ilustrasi
image[cuma ilustrasi]

Di jabodetabek ini memang lagi menjamur sekolah2 ruko. Mereka bukan lembaga pendidikan yang secara terhormat menyatakan diri sebagi kursus, pendidikan alternatif, PKBM, flexi-school, namun benar-benar mendeklarasikan diri sebagai sekolah umum. Ya, sekolah umum tanpa izin.

Memang tidak bisa digeneralisir karena beberapa sekolah bertahan berkat kualitas tata kelola dan SDM. Mereka yang melek aturan juga mengalihkan kepemilikan ruko menjadi milik sendiri. Akhirnya, sekolah pun bertransformasi dan layak disebut sekolah berkualitas.

Tapi, sayangnya, ada juga sekolah- sekolah yang sama sekali tidak layak disebut sekolah… amburadul… no system at all. Pastinya ini yang membuat tingkat turnover sangat tinggi. Dan korbannya… ya siswa lagi. 😦

Akhir dari suksesnya sang marketing menjual program adalah pindahnya para orang tua setelah tertipu. Bayar uang pangkal lagi di sekolah lain, tentunya setelah mereka melek informasi. Bagi orang tua yang sudah ‘all out’ bayar semua, pilihannya cuma satu : pasrah…

Duh… bagaimana cara menertibkan sekolah seperti ini ya? Dan yang terpenting, bagaimana mengedukasi orang tua dan anak sebelum jadi korban mereka?

Pertanyaan ini semakin banyak setelah ibu Dhitta membagikan artikel di bawah ini di milis Ikatan Guru Indonesia. Semakin galau karena sekolah-sekolah ini kok ya ‘dibiarkan’ saja. 😦

============================
SEINDAH KEHIDUPAN

Juwono Sudarsono, Mendikbud 1998-1999

KOMPAS, 10 Juni 2015

http://budisansblog.blogspot.com/2015/06/sekolah-kehidupan.html

Jelang pertengahan November 1998, di tengah hiruk-pikuk semboyan”Reformasi Total” di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, saya dipanggil Presiden Abdurrahman Wahid di suatu kediaman di Jalan Irian, Jakarta Pusat.

Kami membahas lingkup dan materi kurikulum sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Karena kami yakin materi dan cara pengajaran cepat atau lambat harus diubah, Gus Dur-sapaan akrab Abdurrahman Wahid-mengingatkan agar reformasi pendidikan di telaah secara cermat karena perubahan sistem pendidikan perlu waktu. Minimal 1-2 tahun untuk menyusun konsep, 2-3 tahun memasyarakatkan, dan setelah lima tahun mulai dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan. Saya paham tentang hal ini meski merasakan betapa sulit memasyarakatkan reformasi yang didorong para tokoh politik yang mendesak agar reformasi dimulai “sekarang juga”.

Apalagi reformasi yang mendesak merombak kurikulum, mulai dari perubahan “Bahasa Orde Baru” ke arah “Bahasa Orde Reformasi”. Saya teringat pada pemeo “ganti menteri” dan “ganti kurikulum” pada tahun 1960-an dan 1970-an. Dari zaman Menteri Pendidikan dan Pengajaran Priyono sampai Mendikbud Nugroho Notosusanto,

Saya pikir sekarang saya bakal kena batunya. Setelah belajar di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia Bagian Publisistik (sekarang Departemen Ilmu Komunikasi Massa FISIP), saya mulai berhadapan dengan orang pintar, para ahli dari berbagai institut keguruan dan ilmu pendidikan seluruh Indonesia yang ingin menyumbang pikiran tentang apa lingkup dan isi kurikulum yang “baik dan benar”.

Beruntung saya dibantu Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro (Direktur Pembinaan Sarana Akademik) dan Dr Anhar Gonggong (Direktur Nilai Sejarah dan Tradisional) di Depdikbud. Saya dikawal Letnan Jenderal Sofian Effendi, Sekjen Depdikbud yang kebetulan bos saya di Lemhannas 1996-1998. Saya pikir, karena saya dibantu teknolog asal Jawa (yang ayahnya, Prof Soemantri Brodjonegoro, pernah menjadi Rektor UI), oleh sejarawan Bugis-Makassar, dan oleh prajurit Kopassus asal Bireuen, Aceh. Agak lengkaplah, saya dibantu orang yang melambangkan rakyat yang mewakili sebagian besar Indonesia barat dan timur.

Gus Dur berseloroh, “Mas Ju jadi apanya ‘Mafia Berkeley’?” Julukan Mafia Berkeley disandangkan kepada sebagian tokoh ekonomi dan administrasi publik yang langsung atau tidak langsung membantu Prof Widjojo Nitisastro selama 20 tahun lebih (1966-2000).
“Saya hanya kroco bidang politik internasional, Gus, pernah belajar dengan beberapa teman dosen asal Aceh sampai ujung timur di Manado dan Kupang.”

“Wah, politik. Kalau begitu Mas Ju jadi tukang tembak (hit-man),” kata Gus Dur, mengingatkan saya pada film The Untouchables yang diperankan Kevin Costner, Sean Connery, dan Robert De Niro sebagai Al Capone, tokoh mafia Chicago tahun 1929-1930.

“Begini,” kata Dur, “Saya ini ditanyain tentang itu lho, sekolah ruko yang menjamur di mana-mana, termasuk di daerah saya di Ciganjur. Itu namanya sekolah-sekolahan, enggak jelas alamatnya, enggak jelas izinnya. Itu namanya sekolah enggak keruan.”

“Saya ingat kata-kata Satryo Soemantri Brodjonegoro, kira-kira ada 747 perguruan tinggi swasta di daerah Jabotabek,” kata saya ke Gus Dur. Ia yang langsung berseloroh: “747? Angka dari mana tuh, kok mirip banget dengan pesawat Boeing 747?”

“Tahu enggak Mas,” sambung Gus Dur, “saya ini sudah lama mimpin UCLA, University Ciganjur Lenteng Agung, enggak kalah terkenal dengan sekolah UC Berkeley atau UC Los Angeles. Saya drop out dari Universitas Baghdad dan cuma mahasiswa pendengar di Al-Azhar, Kairo. Tetapi, saya mahasiswa Sekolah Kehidupan, saya melihat-lihat mengalami kehidupan nyata di lapangan.”

Saya mengangguk diam dan berkata dalam hati, Gus Dur memang sarjana yangsujana, simple dan rendah hati. Orang Jawa bilang dia itu tidak gumunan, tidak mudah kagetan, tidak mentang-mentang. Gelar apa pun, akademik, adat, gelar keagamaan, tidak ada artinya kalau dia tidak menghargai dirinya sendiri dengan berkaca pada pahit getirnya tantangan hidup sehari-hari.

Saya teringat ucapan Bung Karno pada awal 1960-an ketika membuka Hari Sarjana UI di Kampus Salemba 4, Jakarta Pusat.

Mengutip pidato Bung Karno ketika memperkenalkan pemimpin Vietnam Ho Chi Minh, saya berkata dalam hati, “Paman Ho tak tamat sekolah tinggi, tetapi berhasil mengocar-ngacirkan pemerintah kolonial Perancis sehingga tahun 1954 Perancis takluk di Dien Bien Phu dan mundur dari Indo-China.”

Gus Dur adalah sosok genius yang tak perlu mengejar gelar akademik, apalagi dari sekolahan pojok jalan atau ruko murahan yang bertebaran di mana-mana. Tetapi, Gur Dur seperti juga Ho Chi Minh yang pernah magang sebagai koki di hotel di Place Vendome, Paris, adalah orang yang percaya diri pada garis tangan. Siapa tahu yang mengelola ruko sekolah-sekolahan itu berhasil karena ada tangan Tuhan yang membantunya keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Siapa tahu ijazah palsu yang dipersoalkan itu kelak membantu orang menjadi otodidak, yang karena rasa percaya dirinya besar sehingga tak memerlukan gelar: sah atau tidak! Atau, seperti kata Gus Dur, “Enggak usah repot-repot nertibkan (sekolah di) ruko-ruko itu. Lama-lama capai juga mereka ngurusin ijazah dengan segala tetek bengek cap, laminating dan figura.”

Benar juga. Butuh tenaga dan biaya sangat banyak untuk menertibkan sekolah tak keruan itu. Biarkan sekolah tadi layu tak berkembang. Biarkan orang mencari rezeki atau rugi sendiri kalau tidak ada peminat yang memercayai iklan yang dipasang di mana-mana dengan biaya semurah atau semahal apa pun. Biarkan ijazah palsu diedarkan sampai orang kapok.

Sekolah Kehidupan hanya perlu pelita hidup dalam hati kita masing-masing. Itulah ijazah yang sebenarnya kita selalu mencari, dari pengalaman hidup Ho Chi Minh, Gus Dur, dan ratusan tokoh tak bergelar akademik di seluruh pelosok Indonesia.

My Reflection

KLASTULISTIWA 2015

Hari ini hati saya bergetar…

Ternyata benar, untaian doa penuh harap untuk rampungnya sebuah karya yang dikerjakan dengan ikhlas bersama-sama, seakan mampu menggerakkan semesta untuk mewujudkannya. Tidaklah mudah mengerjakannya di tengah tuntutan waktu untuk untuk mempelajari ilmu. Belum lagi, beberapa dari penulis terpaksa mundur dari institusi yang menyatukan raga kami.

Tapi, Allah Azza wa Jalla berkehendak lain. Buku ini selesai meskipun raga kami terpisah. Semoga karya ini mampu merekatkan ukhuwah yang indah ini nantinya. InsyaAllah….

Inilah kisah kami…

image
Klastulistiwa 2015

Alhamdulillah, atas karunia Allah Azza wa Jalla, buku karya para penulis perempuan muda ini pun akhinya rampung. Perjalanan kreatif yang terjadi di kelas Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Ibu Mierza pada tahun ajaran 2014-2015 ini menjadi lebih dari sekadar portofolio, tapi awal kontribusi mereka yang menembus ruang kelas. Ya… menembus ruang kelas. Karena, selain memiliki ISBN yang berlaku internasional, seluruh royalti pembelian buku ini akan didonasikan kepada Yayasan Umar bin Abdul Azis untuk pembangunan Masjid As-Sunnah BSD, Tangerang. Akhir kata, tulisan mereka yang tepercik oleh pembelajaran yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah semoga menjadi penguat perjalanan dalam akhir zaman sebagai al ghuraba. Namun, karena memang buku ini ditulis oleh para pembelajar, mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun redaksinya. Silakan kunjungi
http://www.klastulistiwa.com untuk memberikan saran demi perkembangan kami jika Anda menemukannya.

image
Klastulistiwa 2015

Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via :
– SMS ke 0819 0422 1928 (LeutikaPrio Publisher)
– Email ke leutikaprio@hotmail.com
Atau klik disini

My Reflection, Parenting

“Anaknya Anteng, ya.” Tips Membawa Anak ke Tempat Umum

“Ih, kok anteng ya?” Biasanya, pertanyaan itu yang terlontar ketika  saya membawa salah satu atau salah tiga dari anak saya ヾ(*´∀`*)ノ.

Sebenarnya,  itu adalah jawaban, rahmat, dan kasih sayang Allah ketika saya galau bertanya “Apakah bisa kesana kemari dengan tiga anak kecuyungun?”.  Alhamdulillah, itulah doa yang dikabulkan dan diiringi ikhtiar tentunya.

Sedih memang melihat kenyataan di dunia sekarang ini yang semakin tidak sabar dan tidak ramah dengan anak kecil. Jangankan tempat resmi, bahkan di institusi pendidikan yang kliennya anak – anak pun bisa lebih bengis dan diskriminatif terhadap perempuan yang bawa anak kemana-mana seperti saya. Maka dari itu, saya yang perlu wara wiri pun harus mampu bersiasat.

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat formula yang bisa saya terapkan kepada anak sulung (8th), anak tengah (4th), maupun anak bungsu saya (2bln). Mereka sudah bisa dibawa rapat atau pertemuan yang beberapa jam…

image

Daurah dua hari yang berturut -turut dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore bersama dua bocah (waktu itu si bayi belum ada)

image

Sampai ikut pelatihan montessori pagi sampai sore selama 4 hari berturut – turut.

image

Alhasil Debay pun jadi cerewet setelah pelatihan.. hehehe…

Kalau saat memberikan pelatihan atau mengajar, debay kecuyungun masuk babywrap deh…

image

Nah, sekarang kita masuk ke how-to. Inilah yang kami lakukan setelah meminta bantuan Allah Azza wa Jalla untuk membuat anak-anak kami anteng di tempat umum:

1. Minta ijin yang mengundang. Lha, ini adabnya. Mosok kita mau maksa tuan rumah. Lagipula, dari pengalaman, bayi/ anak bisa merasakan lho orang dewasa yang suka (dan tidak suka) anak kecil.

2. Ajak bicara sebelumnya . Ini juga berlaku untuk bayi lho. Kalau kami sudah sounding dari malam sebelumnya sampai saat turun dari kendaraan. Komunikasikan apa yang mau kita lakukan, apa yang kita harapkan, sampai apa yang bisa terjadi kalau si anak tidak berlaku sesuai harapan (tapi bukan ancaman lho, ya). Kalau saya berbicara seperti ini, “Sayang, besok Ummi akan ajak kamu ke…. . Disana Ummi akan (melakukan apa). Kamu yang anteng ya sayang. Kalau mau bicara bisik-bisik ya. ” Kalau kepada si balita dan anak sulung, saya ajak ngobrol deh. ‘Kelakuan’ anak balita akan kita bahas bersama ceritanya hehe. Misalnya, saya akan bertanya begini, “Kalau kamu jalan-jalan, om tante yang ada disana akan merasa apa ya?” Teruus digali sampai dia mengeluarkan kata yang kita mau, yaitu “terganggu”. Heheh… modus. Bahkan kita pun bisa memberi tahu konsekuensinya (bukan ancaman lho ya) jika mereka tidak berlaku sesuai harapan. Maksudnya, konsekuensi itu juga menimpa orangtuanya *efek dramatisasi*.

3. Know your children. Ini penting karena anak masih pada tahap pemenuhan insting. Jangan harapkan anak berlaku baik ketika keinginan dasar mereka tidak terpenuhi. Contohnya anak sulungku. Dia bisa anteng di tempat asing kalau dibekali (atau dibelikan) buku yang banyak. Anak tengahku doyan ngemil, jadi tahulah apa yang harus dibawa.
Dia juga hobi membawa mainan kemana -mana. Kalau si bungsu ya pastikan si emak dan stok Abinya tersedia, hehe.

4. Beri hadiah jika mereka berhasil sabar . Yup, reward ini diberikan untuk kesabaran mereka berada di tempat yang ‘tidak seharusnya ‘ dalam waktu lama. Ini akan lebih efektif kalau orangtua jarang memberi hadiah. Untuk hal rutin yang berhasil mereka lakukan, saya memberi reward vertikal seperti ucapan barakallahu fiik, masyaAllah, Ummi bangga banget, dan sebagainya. Pemberian hadiah itu akan menjadi spesial ketika mereka melakukan hal yang menyenangkan orangtua. Ini, menurut saya, melatih birrul walidain lho…

5. Konsistensi. Nah, ini yang paling penting dan paling sulit, apalagi untuk orang tua yang tidak tega melihat anak menangis. Ingat lho, setiap yang kita lakukan akan dipelajari anak. Misalkan, ketika kita sudah menyampaikan konsekuensi kalau kita harus meninggalkan acara, yaaa harus kita lakukan. Demikian pula dengan pemberian hadiah.

Anak-anak itu belajar dari pola yang kita lakukan. Memang terkadang things didn’t go the way we wanted . Kalau itu, ingat yang nomor 4: konsistensi , plus stay cool, calm, and confident . Jika kita terus konsisten, mereka akan mempelajari dan melakukan,
sesuai ‘skenario ‘, insyaAllah. Dan lama-lama semuanya akan jadi lebih mudah karena routine dan prosedur yang kita ikuti dari awal.

Jadi, siapa takut tetap menjadi Ibu di saat kita dituntut profesional?

(*^▽^)/

Lectures of Life, Mierza's Own, Parenting

8 METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Alhamdulillah, akhirnya bisa keluar lagi untuk mengaji setelah melahirkan. Kajian dengan tema “Ibuku, Idolaku” yang disampaikan oleh Ummu Ihsan Choiriyah pada tanggal 27 Maret 2015 ini dimulai pada pukul 08.30. Ehem… dan kami pun datang jam 09.00 – terlambat 30 menit. Maklumlah adaptasi penambahan anggota baru yang mulai ikut kajian pertamanya di usianya yang 19 hari (cari alesan).

cutcastervector100823079number81Nah, dari paparan ummu Ihsan, saya mendapatkan sejata yang, subhanallah, sangat berguna dalam mendidik anak. Langsung aja ya… Berikut adalah ‘senjata’ yang saya maksud, yaitu 8 METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM:

  1. METODE KETELADANAN – Yang ini mah sudah jelas. Kalau dalam bahasa Inggris kita tahu peribahasa “Action speaks loder than words”, bukankah Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik seperti yang disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 21: “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” Akhlak dan perilaku beliau layak dijadikan contoh sehingga banyak yang jatuh cinta dengan Islam. Begitu pun ketika kita mengemban amanah sebagai ibu. Keteladanan yang baik sebagai sarana terpenting pendidikan. Karenanya, pastikan sesuai antara perkataan dan perbuatan.
  2. METODE BIMBINGAN DAN NASIHAT – Seperti yang dinasehatkan Lukman kepada anaknya. Berikanlah nasihat dengan kasih sayang. Namanya juga bocah, ya terkadang memang mereka melakukan kesalahan yang sama. Nah, disitulah kesempatan kita untuk mengulang-ulangi nasihat. Tapi, hati-hati, cari waktu bicara yang tepat, karena terlalu sering memberikan nasihat juga bisa membuat anak menjadi jenuh. Selain itu, jangan menasihati ketika kita sedang marah. Gunakan kata-kata yang sesuai serta berbicaralah kepada manusia sesuai dengan waktunya.
  1. METODE KISAH DAN CERITA – Jangankan anak-anak, ibu-ibu aja suka banget dengan metode ini. Kenapa? Karena metode ini dapat memindahkan khayalan dari kisah yang nyata. Dan dibandingkan dengan kisah-kisah dongeng yang entah pemerannya ada atau hanya di bayangan si penutur, kisah-kisah sahabat, thabi’in, atau kisah para nabi akan lebih inspirational karena itu benar-benar terjadi. Nah, pastikan ketika bercerita, sesuaikan dengan umurnya agar bisa dihubungkan dengan kondisi anak, plus berikan apresiasi jika mereka sudah melaksanakan sikap yang diceritakan.
  2. MENGAMBIL PELAJARAN DARI BERBAGAI PERISTIWA DAN KEJADIAN – Peristiwa sehari-hari akan memberikan pengaruh sikap terhadap kehidupannya. Dengan menggunakan peristiwa yang sudah mereka alami, orang tua harus jeli memilih cara menjadikannya sarana bimbingan, pengajaran, dan memperbaiki kesalahan.
  3. METODE PEMBIASAAN – Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab, dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah, baik urusan agama maupun dunia. Contohnya yang gampang: bangun pagi buat shalat subuh dan membereskan mainan. 😀
  4. PANDAI MEMANFAATKAN WAKTU LUANG – Ingat hadits ini? Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi n bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933]. Duh, kita tidak ingin kan anak kita tumbuh sebagai manusia yang tidak bisa memanfaatkan nikmat ini. Bisa rugi dunia dan akhirat nanti…. Makanya, setiap anak sedang memiliki waktu luang, manfaatkan dengan baik. Gali potensinya (yang syar’i dan positif lho, ya) kemudian didukung.
  1. BERIKAN MOTIVASI & APRESIASI BERUPA FASILITAS/ HADIAH – Asal disesuaikan waktunya dan frekuensinya, metode ini akan mengajarkan anak untuk berusaha, insyaAllah.
  2. METODE HUKUMAN YANG SYARI – Kalau di Islam, metode hukuman itu ada, lho… Kalau jaman sekarang disebut dengan konsekuensi (padahal mah sama.. lha wong sebelum ‘dihukum’, dikasih tau ‘konsekuensi’nya di Qur’an/ hadits kok -___-). Oke, fokus! Ehem.. cara menghukum itu tidak dengan fisik lho yaaa… apalagi di wajah. Bisa contohnya dengan mendiamkan, memberi hukuman yang mendidik dan sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan. Tapi ingat, metode ini diambil setelah kita mencoba ketujuh metode di atas semaksimal mungkin. Seperti hadits dari Rasulullah, “Perintakanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah apabila mereka tidak mau sholat ketika berumur 10 tahun., dan pisahkan tempat-tempat tidur mereka.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Shahih Abi Daud: 509] Lha kan ada 3 TAHUN (dari usia 7 hingga 10 tahun) untuk mendidik sebelum orang tua diperbolehkan ‘memukul’. 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar lho untuk mendisiplinkan anak.

Kemudian, sebelum daurah ditutup, Ummu Ihsan melontarkan pertanyaan “Berapa seharusnya kesetimbangan hadiah dan hukuman dalam Islam?”

Now, here’s the answer

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]

Tuh kaan…. jadi jangan seperti pemadam kebakaran, jika anak berbuat salah baru kita heboh, tapi ketika anak berbuat baik kita diam saja. Hadits tersebut seharusnya membuat orang tua agar selalu ingat untuk memberi apresiasi positif yang lebih besar dari hukuman. Karena hadiah terbaik itu bukan barang, tapi sikap dan apresiasi.

Nah, di sesi pertanyaan, ada satu pertanyaan yang menarik yang membuat saya ingin mencatatnya. Salah satu ibu bertanya tentang kondisi anaknya yang sangat aktif. Hampir semua sekolah Islam kewalahan dan tidak sanggup ‘mendidik’ anaknya dan akhirnya satu sekolah Islam inklusif yang sesuai bujet yang menerima. Tapi dia kuatir karena ‘konten agamanya’ tidak terlalu banyak.

Jawabannya Ummu Ihsan, masyaAllah, sungguh indah… Beliau berujar bahwa orang tua harus terus memberikan yang terbaik. Berarti kondisi tersebut sudah yang terbaik bagi si anak. Kita harus ingat bahwa hidayah itu di tangan Allah. Jangan merasa mentang-mentang kita sudah memilih sekolah yang tepat, anaknya pasti akan sesuai dengan cetakan yang kita mau. Ingatlah Nabi Nuh alaihi salam, putranya tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya dan istrinya pun membangkang. Padahal Ia adalah seorang rasul! Jadi ingat! Kita tidak bisa terlalu menyandarkan kepada usaha kita. Segala usaha harus selalu diiringi doa yang tulus kepada Allah.

Usai daurah, saya merasa banyak peer yang harus saya kejar nih dalam mendidik anak-anak. Banyak ilmu yang tidak saya tahu ternyata… Bismillah… Maka dari itu..saya harus meniatkan diri untuk terus belajar dan mendatangi majelis ilmu. Karena dengan ilmu yang bisa diamalkan membuat kita bisa lebih baik dari sebelumnya, insya Allah.  🙂

– Catatan Mierza Miranti – http://www.klastulistiwa.com

Mierza's Own, My Reflection, My Thoughts, Parenting

Balita Anda Suka Berteriak? Ini Tipsnya

Mengingat kembali dua tahun yang lalu, ketika anak kedua saya – Isma – suka berteriak atau bersuara keras kalau berbicara (meskipun jaraknya dekat).

Pertanyaannya, apakah saya panik? Oh, tentu tidak.

Pertanyaan berikutnya, pasti anak pertama seperti itu,  ya? Hehe, nggak. Justru, Jenna, anak pertama saya, lebih seperti observer. Pendiam banget sih, nggak. Tapi berteriak itu kata yang lumayan jauh dari kamus waktu membesarkannya sebagai balita.

Jadi, kemarin ada yang tanya bagaimana menangani anak yang suka berteriak di Facebook. Berhubung ini sempat terjadi pada Isma, dan alhamdulillah beberapa tipsnya berhasil, saya share aja yah sedikit …

Pada masanya Isma, saya punya 3 kamus yang udah buluk di rumah, karena belinya 8 tahun lalu. Dua kamus itu adalah  The Baby Book-nya Dr.Sears dan Nanny 911. Selain itu, saya juga sudah sempat tersentuh dakwah sunnah. Dakwah ini ternyata nyampe di nalar saya karena mungkin scientificya… berdasarkan Qur’an dan sunnah,.

Okay, bismillah… Here we go…

Sebelum menerapkan beragam tips, kita harus cari tau dulu sebabnya.

Biasanya anak usia 2-5 tahun memang masanya belajar bicara dan melampiaskan emosi secara positif. Jadi, terkadang dia lagi mengekspresikan kesetresan dia karena salah dimengerti. Atau, dia lagi belajar dari orang sekitarnya (yang suka teriak juga hehe). Atau, volume media di rumah yang keras, misal TV/ video/ game yang disetel kencang, yang otomatis buat dia ingin lebih didengar. Atau, bisa jadi memang masih belajar membedakan bagaimana berbicara di dalam atau di luar ruanganز

Tapi tips pertama yang harus bin wajib kita terapkan adalah berdoa di waktu mustajab, pas tiap sujud misalnya. Saat-saat mustajab inilah kita meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kemudahan dalam mendidik.

Next tips, kalau berdasarkan masalah, tips-tips ini ini mungkin bisa dicoba:

  1. Ketika anak merasa nggak dimengerti (lagi belajar bicara). Pas lagi teriak, tetep tenang. Ulangi dengan kalimat bervolume normal, “Kamu mau ini, De?” terus minta ia ulangi sampai tenang. Kalo dia tantrum, peluk seperti Khadijah r.a. yang menyelimuti Rasulullah ketika pertama  mendapat wahyu. She (r.a.) didn’t say a word until Rasulullah was ready to talk. Lakukan hal yang sama, peluk sampai tenang. Jangan terpancing. Kalo di psikologi barat, kalau nggak salah,  ini disebutnya Bear Hug. Kalo pas di keramaian, bawa dia ke tempat sepi. Tanggapi dan puji kalau ia bisa bicara tenang/ tanpa teriak.
  2. Matikan/ pelankan suara media. Anak sebenarnya sudah fitrah ingin didengar.
  3. Kalo masalahnya lagi belajar suara indoor/ outdoor, tinggal treatment aja. Kalo pas lagi di rumah teriak2nya (bukan pas marah2 tapinya), gendong dia keluar rumah dan bilang “Nah, kalau di luar sini, kamu boleh bersuara keras. Coba tadi mau bicara apa?” Kalau udah turun volumenya, ulangi lagi ketika masuk rumah, dan puji kalau dia berhasil menurunkan volume suaranya.\
  4. Mengendalikan respon kita. Pokoknya jangan terpancing marah/ bales teriak.
  5. Untuk long-term, kita bisa beri pengertian lewat cerita,  kompromikan dengan orang rumah (kalau ada yang suka teriak) bahwa kita lagi didik anak supaya tidak berteriak (minta mereka turunkan volume kalau bicara), puji setiap kalo anak pakai volume normal, selalu memanggil/ menghampiri anak lalu berlutut untuk berbicara dengan volume normal (untuk memberikan feeling sejajar) – bukan berbicara lintas ruangan misalnya.. Hehe.

Nah, begitulah petualangan saya sewaktu menjinakkan eh mendidik anak untuk berbicara sesuai ruang dan waktu.  Pastinya, tidak ada satu tips yang manjur, karena orang tua harus selalu mencari ilmu untuk mendidik anak-anaknya menjadi khalifah di muka bumi ini.  It takes time, and patience, but it’s all worthy, insya Allah.

 

Education Management, My Reflection

Perangkat Manajemen Sekolah yang Efektif

Source: http://gambarumahminimalis.comManajemen yang efektif. Kata ini pasti sering kita dengar di lingkungan profesional manapun. Namun kali ini, klastulistiwa.com ingin berfokus pada bidang  manajemen sekolah.

Untuk dapat dikatakan efektif, manajemen sekolah perlu memiliki perangkat dasar yang menjadi pilar dalam menopang kualitas sekolah. Ketiadaan salah satu dari perangkat ini dapat membuat visi dan misi yang dijalankan secara strategis hingga operasional menjadi berantakan.

Nah, posting kali ini akan membahas empat perangkat manajemen sekolah yang efektif. Apa sajakah perangkat itu?

1.    Adanya leadership dalam manajemen sekolah

Inilah WAJAH sebuah sekolah. Merekalah para pemimpin dan pengelola sekolah. Mereka dapat disebut sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator, manajer sekolah, atau pihak manapun yang mengembang tugas untuk mengambil keputusan strategis dan operasional.

Well, mengembangkan kemampuan memimpin atau leadership itu gampang-gampang sulit. Salah satunya adalah kemampuan mengelola trust atau rasa percaya antara staf, siswa, orang tua, dan anggota komunitas sekolah lainnya. Seorang pemimpin sekolah perlu mengetahui perannya dan filosofi kepemimpinan sekolah yang mengikutinya. Selain itu, pemimpin sekolah juga harus membangun komunitas pembelajar dan mengambil keputusan strategis dan operasional.

Jadi sebenarnya, stempel leadership dapat diberikan berdasarkan kesepakatan bersama para stakeholder setelah melihat peran sang pemimpin. Jika salah satu dari stakeholeder, misalkan guru atau orang tua, meragukan leadership pengelola sekolah, maka yang harus legowo menjadi pendengar dan pembelajar adalah sang pemegang otoritas tersebut.

2.    Program sekolah yang berkualitas

Inilah NYAWA sebuah sekolah. Pengelola sekolah yang profesional perlu memiliki andil dalam perancangan program sekolah. Yang dimaksud disini adalah, program sekolah tidak bisa digagas oleh satu orang saja untuk kemudian diinstruksikan. Itu ONE MAN SHOW namanya.

JIka memang terdapat visi dan misi yang harus dijaga, program tetap harus dibicarakan antar pengelola strategis sekolah. Bukankah yang direkrut adalah mereka yang dianggap memiliki visi dan misi yang sama? Kekuatan musyawarah  akan membuat sebuah program lebih kaya karena dikembangkan dalam beberapa perspektif. Selain itu, keikutsertaan lebih dari satu pengelola strategis akan membuat evaluasi program menjadi lebih objektif.

3.    Evaluasi guru dan manajemen yang holistik

Inilah yang menjadi JANTUNG sekolah. Semua pihak pasti setuju bahwa guru menentukan kualitas proses dan hasil belajar-mengajar. Lagi-lagi, tantangan pengelola sekolah menghadapi tantangan dalam menentukan cara mengevaluasi guru. Karena, tidak hanya evaluasinya yang penting, namun langkah selanjutnya dari hasil evaluasi tersebut.

Sebagai organisasi pembelajar, sekolah tidak seharusnya berhenti pada fungsi evaluasi sebagai alat pemilihan guru yang efektif dan guru yang tidak berkualitas. Karea itu, evaluasi perlu dilakukan secara berkala untuk melihat keinginan guru untuk belajar. Bukankah guru merupakan role model bagi murid-muridnya? 🙂

Hasil dari evaluasi ini, selain berdampak pada guru, juga seharusnya memiliki dampak perubahan bagi sekolah. Dari hasil analisis, manajemen dapat mengetahui efektifitas yang dimilikinya selama satu tahun ajaran mengelola sekolah. Jika evaluasi ini dilakukan secara holistik, bukan tidak mungkin sekolah akan bertumbuh menjadi sekolah yang lebih baik setiap tahunnya.

4.    Kebijakan dan prosedur yang kuat

Kebijakan dan prosedur sekolah merupakan TULANG PUNGGUNG sebuah sekolah. Setiap sekolah yang efektif memiliki ciri kebijakan dan prosedur yang kuat dan ditaati oleh seluruh komponen sekolah.

Kekuatan ini tidak hanya didapatkan dari tulisan di atas kertas yang dibagikan di awal tahun ajaran atau tercetak di website dan buku penghubung sekolah. Kekuatan ini bisa didapatkan dengan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan dari manajemen sekolah. Menuliskan dan merevisi kebijakan dan prosedur sekolah bukanlah kelemahan, namun kekuatan sekolah yang dinamis dan dapat melihat keuntungan jangka panjang dari proses pembelajaran sebagai manajemen sekolah.

Setiap sekolah pasti ingin dikatakan sebagai sekolah yang efektif sebagaimana pengelola sekolah ingin dikatakan profesional. Namun, stempel itu tentunya tidak melekat dengan sendirinya. Perlu kerja keras dan cerdas dalam mewujudkannya. Visi dan misi akan hanya menjadi tulisan indah di atas kertas tanpa pengejawantahan secara operasional.

Karena itu, posting klastulistiwa.com mengenai manajemen sekolah efektif tidak akan berhenti hingga paparan umum dan idealis saja. Tunggu posting selanjutnya, dimana klastulistiwa.com akan memaparkan secara operasional masing-masing dari empat kategori di atas. Insya Allah.

My Reflection

The Quest for A Safe School

Bullying, embarrassments, harassment, and even crime happened again. They occurred here, in our own schools in Indonesia. Sadly, some of them happened during school hours and make parents wonder what schools have done to protect their children.

Well, I wrote this article on The Jakarta Post in April 2014 to help parents to find their children a so-called safe school. A place to trust to educate and nurture their jewels. A place to be called a second home.


THE QUEST FOR A SAFE SCHOOL

Mierza Miranti for the Jakarta Post

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

If possible, observe the relationship between the principal and faculty. A safe school will ensure a healthy relationship among their staff members and students.

Third, observe for the campus’ cleanliness during school hours. Doing it during and a while after recess can be the best time to find out how successful school instills the habit to their students. Afterward, parents can see firsthand the standard of the school’s cleaning service.

Fourth, ask information about bullying, harassment and other daily management and intervention programs with regards to student behavior. A safe school is not an impulsive school that treats students’ behavior after it occurs. It has a well-planned and structured program that also involves the student to raise awareness.

Fifth, ask for data of students’ leave and staff turnover. Yet, do not rely too much on these statistics. A high level of expulsion may indicate that the school has a high regard for discipline. On the contrary, it can also show their inability to improve the students’ behavior.

With the new school year looming, now is the time for most parents in Indonesia to search for the best schools for their children. The issue of school safety has given parents an extra item on their checklist on how to find a safe and supportive school environment, particularly following reports of sexual abuse at prestigious school in Jakarta.

As supervision shifts from home to school at certain periods of time, parents certainly do not want their children to worry about their own safety as it may affect the learning process. Thus, as a teacher who has been teaching at international schools for years and enrolling her children in the same place, I have put together a checklist for parents to go through before making any decision.

First, come to the school’s open house. Use the opportunity to observe teachers’ interaction with their students and how they manage their behavior.

Yet, if students are not involved in the program, parents can inspect the school’s physical surroundings as a start. See whether it is a school that can ensure hygiene as well as handle vandalism.

Yet, since it is a marketing program, it would be wise to only use it merely to narrow down the choices. Additional school visits are strongly suggested with regards to making the best decision.

Second, at the next school visit, find out how the school supervises their students during learning periods. A safe school might have two options: duty roster arrangements or a CCTV monitoring system.

If it is based on roster, ask for the contingency plan if the person-on-duty is absent. Seek clarification if one happens to see a group or lone student passing through an empty hall with no supervision.

Yet, if the school uses CCTV, parents can ask whether the screen is fully supervised or not because, if the CCTV is intended to “spot” a fault it has failed its control function — especially when it is not combined with the teacher roster.

Second, observe the interactions between those at the school. The best time to do this is before and during recess. Visitors can observe whether the staff and students are engaged and respectful.

If possible, observe the relationship between the principal and faculty. A safe school will ensure a healthy relationship among their staff members and students.

Third, observe for the campus’ cleanliness during school hours. Doing it during and a while after recess can be the best time to find out how successful school instills the habit to their students. Afterward, parents can see firsthand the standard of the school’s cleaning service.

Fourth, ask information about bullying, harassment and other daily management and intervention programs with regards to student behavior. A safe school is not an impulsive school that treats students’ behavior after it occurs. It has a well-planned and structured program that also involves the student to raise awareness.

Fifth, ask for data of students’ leave and staff turnover. Yet, do not rely too much on these statistics. A high level of expulsion may indicate that the school has a high regard for discipline. On the contrary, it can also show their inability to improve the students’ behavior.

Yet, a high staff turnover can lead you to other questions to ask on the quality of staff recruitment and development system of the school. Since for the students, a high staff turnover might influence the learners’ sense of security, especially during secondary school years.

Sixth, find out about the school’s policy of students’ use of electronic devices. Does the school ask their students to hand them over? If they require the students to bring a laptop, find out whether the school has a solid Internet filtering system. Remember that cyberbullying is as dangerous as the physical act.

Finally, request for a sit-in session in the classroom, remember that it is the child that will undergo everything at school. Ask for two days to one week, if possible. Otherwise, one day might be fine to seek for the child’s opinion about the school. Take it as part of the consideration.

These checklist items are actually very basic ones that every school must have. A good school might have a long list of policies but a safe school is the one that really applies it. A safe school also requires involvement of the whole school, not merely the security division. Hopefully, the chosen school can be a second home that ensures equal security to that provided at home.

My Reflection

Apa yang tidak anda lihat di media tentang Gaza? – Wawancara dengan Dubes Palestina, Fariz Mehdawi

Silahkan dibaca… bukan berita sepotong-potong yang dipelintir…

avatar TimMarbun tim marbun

Di tengah ramainya pembicaraan dan perhatian dunia pada peristiwa yang terjadi di Gaza, saya berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi di Kedutaan Palestina di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2014 dalam bahasa inggris. Berikut adalah terjemahan lengkap dari wawancara yang berdurasi 24 menit tersebut.
Pertanyaan yang saya ajukan akan diawali dengan huruf T, dan jawaban Duta Besar akan ditandai dengan huruf J.
Semoga berguna.
——————————————-
T:
Duta besar, terima kasih atas waktu anda. Pertama saya ucapkan turut prihatin atas kondisi yang terjadi di Gaza saat ini, yang harapannya akan segera membaik. Pertanyaan saya adalah, media tidak selalu dapat menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi disana. Apa kondisi Gaza yang tidak kita lihat di media?
J:
Yang tidak kita lihat, orang selalu tertarik dengan angka. Kita sudah berhitung berapa angka martir disana. Sudah lebih dari 200 orang, dan bangunan yang hancur juga…

Lihat pos aslinya 2.679 kata lagi

My Reflection

Versi Unyu-Unyu Blooms’ Taxonomy

Pagi-pagi nongkrong di facebook sambil blogwalking memang seru, apalagi kalau nemu yang begini. Hehe…

Blooms Taxonomy emang gak ada matinya. Sejak pertama berkenalan dan mulai pakai formulanya di kelas, saya lebih sering dibuat tercengang sama hasil akhirnya: my students and their masterpieces!

It can dig into their full potential beyond the classroom! Saya ulangi ya… beyond… melewati tembok-tembok ruang kelas, mashaAllah.

So, teachers, enjoy the infographic…  intinya sama namun lebih unyu-unyu pastinya.

image

Gambar & pelajaran keren lainnya bisa dilihat di http://anethicalisland.wordpress.com/

My Reflection

Saksi Kebohongan Jamaah Tahunan

Apa-apaan ini? Semua akhlak yang kita tanamkan semenjak kecil luntur karena ketidak adilan yang kita (orang dewasa) buat sendiri. Hati saya hancur membaca ini. Bukan… hati saya hancur setiap tahunnya. Tahun dimana kita menutup hati lalu melupakan setelah high-stakes exam ini berlalu.

Alhamdulillah, saya berada di institusi yang menjunjung tinggi kejujuran. Hasil UNAS anak2 punya tinggi disini. Tapi tunggu, sekolah saya sekolah swasta dengan bayaran mahal. Wajarlah jika hasil ujiannya memuaskan. Tapi, alangkah picik jika saya menutup mata. Saya pendidik.. dimanapun.. kapanpun… bagi siapapun.. Alangkah naifnya kalau saya mengharapkan anak-anak di ujung Indonesia dengan kondisi yang jauh berbeda diberikan tes yang sama. Konyol. Sungguh konyol.

Hati saya teriris membaca surat terbuka ini.

Melihat kejujuran berubah menjadi… omong kosong.

INI buktinya!

http://tolakujiannasional.com/2014/04/24/surat-terbuka-untuk-bapak-menteri-pendidikan-dilematika-ujian-nasional/

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK MENTERI PENDIDIKAN: DILEMATIKA UJIAN NASIONAL

Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara.

Sebuah surat terbuka, untuk Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat,
di tempat.

16. Mencontek adalah sebuah perbuatan…

a. terpaksa

b. terpuji

c. tercela

d. terbiasa

Ardi berhenti di soal nomor enam belas itu, salah satu soal ulangan Budi Pekerti semasa dia kelas 2 SD dulu. Ia tertegun, dan hatinya berdenyut perih saat dilihatnya sebuah coretan menyilang pilihan jawaban C. Coretan tebal, panjang, ciri khas si Ardi kecil yang menjawab nomor itu tanpa ragu, melainkan dengan penuh keyakinan…

Handphonenya berdering pelan, sebuah SMS masuk. Ardi membukanya, dan ia menghela nafas dalam-dalam begitu membaca isinya.

Jadi gimana Di, ikutan pakai ‘itu’ nggak?

Barangkali bukan kebetulan Ardi menemukan soal-soal ulangan SD-nya saat ia mau mencari buku-buku lamanya, barangkali bukan kebetulan Ardi membaca soal nomor enam belas dan jawaban polosnya itu, sebab denyut perih di hatinya baru mereda setelah ia mengirim sebaris kalimat yakin…

Nggak, Jo, aku mau jujur aja.

Sebuah balasan pahit mampir selang beberapa detik setelahnya,

Ah, cemen kamu.

Tapi tidak, Ardi tak goyah. Ia mengulum senyum dan batinnya berbisik pelan, salah, Jo.

Jujur itu keren.

UNAS. Sebuah jadwal tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa selama tahun-tahun sebelumnya. Sebuah penentu kelayakan seorang siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah dia jalani atau tidak. UNAS sudah sejak lama ada, meliputi berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampai yang terakhir, yakni SMA. Sudah sejak lama pula UNAS menuai pro dan kontra, yang mana rupanya kontra itu belakangan ini berhasil ‘memaksa’ pemerintah untuk menghapuskan UNAS di tingkatan SD. Sedang untuk tingkat SMP dan SMA, kemungkinan itu masih harus menunggu.

Tiap kali UNAS akan digelar, seluruh elemen masyarakat ikut tertarik ke dalam pusaran perbincangannya. Perdebatan tentang perlu-tidaknya diadakan UNAS tak pernah absen dari obrolan ringan di warung kopi, dan acara-acara yang mengklaim ingin memotivasi para peserta UNAS pun bermunculan di berbagai channel televisi. Di sela-sela program motivasi itu, jikalau ada sesi tanya-jawab, hampir bisa dipastikan akan ada seorang partisipan yang melempar tanya:

“Bagaimana dengan kecurangan UNAS?”

Ah, ya, UNAS memang belum pernah lepas dari ketidakjujuran.

Sekarang, jangan marah jika saya bilang bahwa UNAS identik dengan kecurangan. Sebab jika tidak, pertanyaan itu tidak akan terlalu sering terdengar. Tapi nyatanya, semakin lama pertanyaan itu semakin berdengung di tiap sudut daerah yang punya lembaga pendidikan; dan tahukah apa yang menyedihkan? Yang paling menyedihkan adalah saat lembaga-lembaga pendidikan itu, tempat kita belajar mengeja kalimat ‘kejujuran adalah kunci kesuksesan’ itu, hanya mampu tersenyum tipis dan menahan kata di depan berita-berita ketidakjujuran yang simpang-siur di berbagai media.

UNAS dengan segala problematika dan dilematika yang dibawanya memang tak pernah habis untuk dikupas, dan sayangnya ia tak pernah bosan pula menemui jalan buntu. Dari tahun ke tahun selalu ada laporan tentang kecurangan, tetapi ironisnya setiap tahun itu pula pemerintah tetap tersenyum dan mengabarkan dengan bahagia bahwa ‘UNAS tahun ini mengalami peningkatan, kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, rata-rata tahun ini mengalami kemajuan’, dan hal-hal indah lainnya. Dulu, saat saya belum menginjak kelas tiga, saya berpikir bahwa grafik itu benar adanya dan saya pun terkagum-kagum oleh peningkatan pendidikan yang dialami oleh generasi muda Indonesia.

Tetapi sekarang, sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS… dengan berat hati saya mengaku bahwa saya tidak bisa lagi percaya pada dongeng-dongeng itu. Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya, saya merumuskannya menjadi tiga poin penting…

Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20 soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama, hanya untuk satu indikator ‘menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan dan hewan’?

Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil. Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah bertanya, ‘tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?’ melainkan akan langsung bertanya, ‘nilai UNASmu berapa?’.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali, bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa Indonesia, ‘kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan bersama, ‘kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.

Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata ‘sedikit’ ini). Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya. Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional. Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui soal-soal itu, ‘kan?

Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti… apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di twitter Bapak, ‘tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang baru’. Tapi, Pak, sekali ini saja… sekali ini saja saya mohon, Bapak duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas. Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu seperti apa.

Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal itu selama sepuluh menit. Ya… beliau bilang ada yang salah dengan kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya pertanyaan-pertanyaan heran…

Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?

Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?

Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam?

Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?

Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih ada banyak sekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja sudah sujud syukur?

Etiskah menuntut sebelum memberi?

Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat itu?

Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita, ‘Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan’. Kemudian Bapak akan merasa tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu, itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak ‘UNAS menyenangkan’ itu? Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas…

Jalan pintas itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini. Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa terjadi, yaitu joki.

Mengapa saya tidak paham joki itu bisa terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa “Soal UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!”, tetapi ketika hari H pelaksanaan… voila! Ada saja joki yang jawabannya tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini, berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai detergen mahal.

Iya langsung bersih cling begitu, toh?

Nyatanya tidak.

Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi, entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang. Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada main-main dari pihak dalam.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada kebocoran di atapnya.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan keyakinan dan iman saya.

Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar, untuk berbuat curang? Jika tidak… saya beritahu satu hal, Pak. Ada beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru, dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara airmata mereka… berharap Tuhan membantu.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu. Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah, ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih ‘ah, ini bukan bidang saya’, lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?

Tidak.

Tentu saja Bapak tidak sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika Bapak percaya… mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk mengadakan UNAS.

………

………

………

Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.

Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar, goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang notabene adalah penentu kelulusan kami?

Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.

Sampai sini, masih beranikah Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah, Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk mendapat uang.

Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berlaku curang itu tidak ada?

Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, “Kita lihat saja hasilnya nanti.”

Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali mendengar pepatah ‘don’t judge a book by its cover’, akan lupa untuk melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para ‘ghost writer UNAS’. Bapak akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami. Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran semu?

Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit, karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi…

Berhentilah bersembunyi di balik kata-kata, “Saya percaya masih ada yang jujur di generasi muda kita”. Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya. Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak? Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan yang hanya jujur di atas kertas?

(Ngomong-ngomong, Pak, banyak dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom ‘saya mengerjakan ujian dengan jujur’ dari lembar jawaban UNAS.)

UNAS bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun, sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput disosialisasikan ke siswa.

Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.

Dan saya tahu itu, Pak.

Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?

Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?

Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?

Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.

Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba…

Dari anakmu yang meredam sakit,

Pelajar yang baru saja mengikuti UNAS.

Nurmillaty Abadiah

Sumber: Note Facebook yang dilaporkan ke akun twitter @AyoTolakUN

__._,_.___

My Reflection

Karena Bu Risma

Setelah Teen Edu hari ini yang intinya sama… Ini teruntuk kalian anak-anaku siswa Al Taqwa College Indonesia tercinta.

avatar senyummatahariIslam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.588 kata lagi

Mierza's Own, My Reflection, Teacher's Professional Development

An Awesome Lecture

The slide was used in a training session at the Sugar Group Schools. It was shown after the audience, who was actually invited teachers, watched series of video of their alumnae telling them about the most memorable teacher and the reasons. Afterward, we shared on the ways to make our presentation look stunning and memorable for students guided by the slide below.

Mierza's Own, My Reflection, Teacher's Professional Development

Integrating Business Skills into KTSP-Based ELT

The paper was presented at the National Education Conference organized by Sampoerna School of Education, Mien R. Uno Foundation, and World Bank on December 12, 2012. It was such a remarkable experience since I got to know so many amazing people such as Taufan Garuda Putera, Lendo Novo, and lots of inspiring individuals. I was also interviewed by Kompas after my presentation as the links could be found here . Yet, to my surprised, the content was devastatingly different. Thank God there is the real-time magic of the internet. I sent my concern via Kompas.com comment section, and they finally clarified with another news that could be found  here.

Well, enough said. Hope that the slides and paper I put here will be beneficial to be used.

Mierza's Own, Teacher's Professional Development

Relevant Teaching Technique to Consider

Today seems to be an uploading workshop materials time for me as I have been uploading some, including this one, on one same day. The slide I uploaded was presented in a workshop held at Sugar Group Schools.  I shared this with the teachers who actually have known some of the teaching techniques. So, actually it is more than just a training session but also a sharing session.  Enough said, feel free to download the following slide for your purpose, then. 🙂

My Reflection, Teacher's Professional Development

The Super Easy Way to Create Comment Bank

This slide is dedicated to a webpage that makes report comment writing an ease. Truly, I’d like to thank Ray’s Educational Software  that can make my paperwork as a bliss. They, mashaAllaah, shared the software for free (known as freeware) to all teachers. They even encouraged teachers to share it to others.

Therefore, I held a training session for teachers at Al Taqwa College Indonesia in creating comment bank. Hopefully, the freeware would benefit them as well, inshaAllaah.

Well, I can’t say no more but to invite you to view the slide and enjoy the teachers’ moment of creating report comment for our beloved students.

Lectures of Life, My Reflection, Teacher's Professional Development

Teachnology

This post is to share a professional development session I did in a workshop for the teachers of  Al Taqwa College, Indonesia. It is actually an introduction of how to use technology in the classroom, not merely to help as teaching tools. Following is the slide I used in the training. Feel free to use it.

As seen on the slides, there are some of my favorite techie tools such as hot potatoes and freemind. Yet, the links are unclickable. Well, if you require to have the links or files, you may leave your email on the comment section and inshaAllaah I would send it to you.

My Reflection

Yuk, ikut Seminar ‘Internet Ethics’ di IHBS

image

**Peserta terbatas, yang lolos seleksi akan dihubungi oleh panitia

Mengupas bagaimana etika berdakwah di media elektronik di.dunia maya

Hari/Tgl Ahad, 26 Januari 2014
Waktu Pukul 08.00 –15.00 WIB
Tempat Kampus Ibnu Hajar Boarding School (IHBS)
Jl. Raya Munjul Gg. Musholah Fathul Ulum No.11 Munjul Cipayung Jakarta Timur 13850

Pembicara
1. Bpk. Sukpandiar, SH. (pengacara) “Sosialisasi undang-unda Internet & Transaksi Eletronik (ITE) dan contoh-contoh pelanggarannya“
2. Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA. (Pembina KP Narasumber Yufid TV, Dosen STDI Imam Syafi’I Jember) “Fiqih dakwah ilallah dan etika berdakwah di dunia maya”

Terbuka untuk ikhwan dan akhawat
Pendaftaran: http://ethics.itdakwah.com/
Gratis, peserta terbatas!

Kontak Panitia:
1. Yulian Purnama (08562967403, 0888 1616 255 / ian.doang@gmail.com )
2. Kurnia Adhiwibowo (08562844478, 0896 0408 2340 / camagenta@gmail.com)

Sponsor:
* Salam Dakwah (salamdakwah.com), situs dan aplikasi untu Smartphone, seperti BlackBerry, Android, iPhone, dan Tablet memungkinkan Anda untuk mendapatkan tayangan video ka audio kajian, forum islami, jadwal kajian dan artikel
* E-Bimbel (ebimbel.co.id), solusi praktis untuk percepatan pembelajaran berbasis ICT di era digital. Insya Allah mampu memberikan efektivitas dan interaktivitas untuk pembelajara baru, berkualitas, mudah serta menyenangkan
* Muslim.Or.Id, situs islami yang berupaya menebarkan sun memurnikan aqidah
* Rumaysho.com, situs islami yang mengenalkan ajaran Islam lebih dekat
* Yufid (yufid.org), tim kreatif di bidang pendidikan dan dakw telah menghasilkan banyak produk dan konten Islami.

Lectures of Life, My Reflection, Teacher's Professional Development

Integrate Poverty Topic in ELT to Promote Character

Mierza's ICCE Pic 2011Well, this is my first presentation in international conference which is not language-related. I was interested with the ‘character improvement’ of my students, so I tried integrating poverty issues in my ELT (English Language Teaching). I was astonished since the lessons even taught me that I knew nothing about poverty. I learnt a lot from my students who have been living around and struggling to get out of it.

So, I tried to share to the world what we had done in the classroom and as a school system since at the moment the school also integrated the pillars of character. Surprisingly, most of the audience had no clue that the characters of the students would be best cultivated if it is part of the school system – more than just daily interventions.

Alhamdulillaah, I was fully supported by the school to present my paper there. Here are the slides and papers that I presented at the International Conference of Character Education held in University of Yogyakarta.

Englicious Resources, My Reflection, Teacher's Professional Development

Incorporating Global Warming Issues in ELT

This is my second presentation slides and presentation which happened to be my first ‘appearance’ at an international conference. The event was organized by TEFLIN and UPI Bandung on November 1-3, 2010. The paper itself was actually a continuation of the research I had made as presented at Ma Chung University.

Surprisingly, at that conference, I won the Alwasilah-Teflin Award as the best paper! Alhamdulillaah, I (who happened to be expecting my second child at that time) could bring home Rp 1.000.000 from the conference. I supposed that it was the gift for my baby. 🙂

The Presentation

The Paper 

Englicious Resources, My Reflection, Teacher's Professional Development

Promoting Environmental Sustainability in EFL Classroom

This is my first presentation and paper written to be presented at Ma Chung University on National Conference of Literature and Language Teaching (NACOLLIT) in 2010. It was also the first time for me presenting and talking in front of different audience, i.e. not my own students. 🙂 But then, alhamdulillaah, Allah gave me the strength and courage to move on. And now, I am addicted to share more.

The Slides

The Paper (ISBN 978-979-17959-6-8)