kasus bullying di indonesia
My Thoughts, Parenting

5 Cara Membesarkan Seorang Perundung (Bully)

Seliweran lagi kasus perundungan (bullying) yang dilakukan oleh mahasiswa dan anak kelas 7 SMP. Hmmm…. berkat medsos, kasus ini bisa mencuat yaa. Padahal perundungan sudah berlalu sejak lama, bahkan sejak saya SMP yang kira-kira 20 tahun lalu. Kasusnya yaaa sama, dari mulai mengejek, menjambak, hingga menelanjangi, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Tapi tunggu… sebelum kita merundung perundung (seperti banyak yang saya baca di kolom komentar pada kasus terhangat yang banyak di-share itu) mari melakukan refleksi.

TERNYATA MEMBESARKAN PERUNDUNG ITU MUDAH LOOO.

***Mierza Ummu Abdillah***

Ga percaya? Ini dia tutorialnya ala klastulistiwa.com:

1. TERTAWAKAN ANAK KETIKA BERBUAT KESALAHAN

a. Iya. Lakukan itu saat dia jatuh/ melakukan kesalahan karena kan itu unyuuuu banget kaan; agar
b. Ia belajar bahwa tidak mengapa menertawakan orang lain. Itu unyu -_- ; lalu,
c. Dia akan memilih untuk menertawakan bukan membantu orang yang jatuh/kesusahan.

2. RESPONLAH SECARA NEGATIF

a. Ucapkan satu kata yang tidak kita sukai kepada anak saat ia melakukan kesalahan, misalnya kalimat “Yaelah gitu doang ga bisa” atau “Lambat banget sih”; agar
b. Ia belajar  bahwa cara merespon secara negatif itu sangat efektif untuk mendapatkan yang ia  mau; lalu
c. Dia akan menganggap itu normal untuk diucapkan kepada siapapun.

3. ABAIKAN AJA

a. Biarkan ketika kita melihat ada anak yang mengejek atau menyakiti secara fisik di depan anak kita. Lah kan, bukan anak sendiri ini; agar
b. Anak belajar bahwa lebih aman untuk untuk mendiamkan kemunkaran yang terjadi di depannya; lalu
c. Dia akan belajar untuk mematikan hatinya.

4. PELIHARA BAPER

a. Sakit hatilah ketika ketika ada yang mengingatkan anak kita atau memberi tahu yang ia lakukan di luar sepengetahuan kita. “Kan anak gue, ya terserah gue laaah” Teruslah berpikir demikian! ; agar
b. Anak belajar untuk tidak belajar dari kesalahan; lalu
c. Ia akan sulit menerima ketika ia diingatkan orang lain.

5. ITU BUKAN ANAK SAYA

a. Ketika ada anak yang menangis dan selalu ada anak kita di sana, salahkan anak lain karena tidak mampu beradaptasi. Jangan temani anak saat ia bermain. Biarkan saja mereka, kita kan banyak kerjaan; agar
b. Anak belajar untuk memahami bahwa ia sudah benar dan selalu benar dan akan tetap benar; lalu
c. Ia akan lebih mudah menyalahkan orang lain dan memilih malah berlindung di balik orang tua atau mahluk lain untuk menyelamatkan diri dari kondisi yang salah ini.
Itu baru lima. Ada banyak sebenarnya cara untuk membesarkan seorang perundung. Hedeeeh… banyak kaaali PR-mu bu Mirja. Perundungan ini sudah mengakar dan bisa jadi budaya sepertinya di segala lini. Etapi, bukan berarti kita tidak bisa mengubahnya kan yaaa? Setidaknya dari keluarga tercinta. Bukankah kita punya Rasulullah sang uswah hasanah? Ya kan tinggal ikutin ajaaaa.
Yuk, kita rekonstruksi pola didik untuk menyelamatkan generasi.
Kini lho yaaa, bukan nanti.
Parenting, Product Review

[VLOG] Ramadhan: Saatnya Tumbuhkan Empati Sang Juara Hebat Kebaikan

Jpeg

Bagi seorang Ibu, rasanya bahagia melihat anak-anak tumbuh dengan rasa empati yang tinggi terhadap sesama. And Ramadhan is the perfect time to grow them great. Pada bulan mulia ini pula, Bebelac yang memahami tumbuh kembang anak lebih dari sekedar fisik dan kognitif semata, mengadakan kegiatan #JuaraHebatKebaikan untuk menginspirasi para ibu. Caranya, dengan berkegiatan positif bersama sang buah hati untuk menjadi juara hebat kebaikan.

 

Terinspirasi Dalam Acara #JuaraHebatKebaikan

Bersyukur sekali saya bisa mengajak anak-anak mengikuti rangkaian acara Juara Hebat Kebaikan ini. Banyak ilmu pengasuhan yang saya dapatkan melalui talkshow bersama bu Pinky dari Dandelion dan bu Rinrin dari Nutricia. Talkshow ini yang berharga memberikan banyak tips yang berharga untuk menjadikan anak-anak bertumbuh tidak hanya IQ, tapi juga EQ-nya secara seimbang.

talkshowSalah satu ilmu penting yang bisa kita terapkan untuk menjadikan anak juara hebat kebaikan adalah perlunya satu keluarga untuk berkolaborasi dalam mendidik empati anak. Salah satunya melalui apresiasi yang spesifik, spontan, dan diberikan di berbagai situasi (to grow them great, of course). Dukungan sosial lain yang sangat penting adalah dengan memberikan ruang kepada anak untuk melakukan kebaikan disertai pendampingan selama proses berlangsung. Salah satunya melalui bermain peran bersama anak-anak, menjadikan diri kita sebagai role model, dan bersama-sama melakukan kegiatan-kegiatan sosial, terutama pada bulan Ramadhan seperti ini.

Bagaimana tahap perkembangan mereka yang cenderung egosentris disertai perkembangan logika belum sempurna ? Itulah pentingnya memahami ilmu pengasuhan dan development stages. Justru masa-masa ini adalah saat yang tepat untuk menanamkan sifat-sifat baik karena akan kuat tertanam dalam diri anak. Melalui penanaman sikap ini, anak akan akan membangun rasa percaya diri lebih dini untuk berempati. Mereka lebih mudah mandiri dan berinisiatif (untuk melakukannya) karena ia merasa mampu. Itulah sebagian ilmu yang saya dapatkan dalam talkshow pengasuhan kemarin.

 

Terenyuh Bersama Anak Yatim

Jpeg
Bermain Bersama Teman-Teman dari Rumah Yatim

Bagian yang paling kami membuat terenyuh adalah kebersamaan kami dengan anak-anak dari Rumah Yatim. Anak-anak yang diundang khusus oleh Bebelac ini diperkenankan untuk bermain bersama sebelum prosesi acara. Ketika anak saya memberikan buku gambar kepada salah satu anak yatim, ia mengetahui bahwa orang dewasa yang berada dalam ruangan bersama mereka itu bukanlah orang tuanya, melainkan pengasuh dan pengganti ayah (dan ibu) mereka sudah tiada. Tetiba, anak itu pun memeluk ibunya lebih erat. Oh my…. Yes Dear.. we should be grateful.. alhamdulillah. The occasion hopefully will grow them great.

JpegTerima kasih banyak Bebelac untuk kesempatan, ilmu, dan inspirasinya. Program keren dan bermanfaat untuk sesama ini berhasil mendukung saya memberikan stimulasi yang tepat untuk anak-anak, tidak hanya IQ tapi juga EQ mereka. Bagaimana tidak, setiap partisipasi Juara Hebat Kebaikan berupa foto atau video dan cerita aksi hebat kebaikan buah hati yang diunggah ke http://www.bebeclub.co.id/juarahebatkebaikan pada 5 Mei hingga 30 Juni 2017, berarti  akan ada 1 donasi yang diberikan untuk Rumah Yatim. Keren kaan?

Below is our action to #GrowThemGreat

https://youtu.be/aNCvpWt5SXk

Itu aksiku, mana aksimu? Yuk, masih ada waktu bagi Ibu dan sang buah hati untuk ikut serta. Ayo menjadi inspirasi untuk terus menanamkan pentingnya melakukan kebaikan pada anak sejak dini dan jadikan si Kecil Juara Hebat Kebaikan yang menjadi salah satu keutamaan mendidik anak.

VLOG ini adalag persembahan istimewa klastulistiwa.com untuk Bebelac #GrowThemGreat #JuaraHebatKebaikan

Parenting

Membimbing Anak Bertanggung  Jawab? Ajak Ngepel Aja

Kadang-kadang, orang tua (sayaa Buuu maksudnya) suka merasa bingung dalam mencari cara membimbing anak bertanggung jawab. Eh, ternyata… resep orangtua jaman dulu masih dipake looh jaman sekarang. Caranya yaaaa dengan membuat mereka tahu kalau mereka dibutuhkan dan memberikan kontribusi kepada sekitarnya. Apa ituu? Ajak ngepel bersama alias melakukan pekerjaan rumah tangga (silahkan tepuk tangan buibu).

Teganya kau, Mak. Iyes. InsyaAllah ketegaan ini menumbuhkan bibit-bibit tanggung jawab ketika mereka dewasa. Itu tujuannya.

 

Membimbing Anak Bertanggung  Jawab Pake Ngepel? Gak Ilmiah, Ih!

Eiiit.. siapa itu yang bilang ga ilmiah, hah? Sini temuin ane. Kita ngeteh bareng maksudnya.

Nih yaaa… udah banyaaak penelitian tentang ini. Salah satunya dilakukan oleh Roger W. McIntire, professor di bidang psikologi Universitas Maryland yang juga penulis buku Raising Good Kids in Tough Times. Beliau nih yang mengatakan bahwa seorang anak harus memiliki beberapa tanggung jawab. Tapiiii….. ada caranya yaaah dalam membimbing anak bertanggung  jawab melalui pekerjaan rumah. Ihik.. jangan seperti saya yang sempat melakukan kesalahan dalam ‘mengajak’ anak. Karena itu, pastikan  beberapa hal yang merusak proses dan cara membimbing anak bertanggung jawab ini dijauhi. Inget yaaa.. DIJAUHI (daripada nyesel ga berkesudahan seperti saya huhuuuuu).

Berikut Tips-Tips yang Bisa Dilakukan Agar Terhindar Dari Kesalahan

  1. Jangan menuntut kesempurnaan. Lha, pan udah tahu kalau tidak ada yang sempurna. So, slow down, Beibeh. Santai aja saat mengajak anak dan biarkan mereka lakukan yang terbaik VERSI MEREKA. Jika di tengah-tengah Anda ambil alih, weleh, siap-siap aja menghancurkan semua proses pendidikan ini.
  2. Mulai dari anak berusia 2 tahun. “WHAAAAT??? YOU DON’T SAY…” Mengkin begitu jawaban Anda. Hmmm… kita mungkin berpikir anak kita terlalu muda. Tapi mereka sebenarnya lebih mampu daripada yang kita pikirkan. We just underestimate them. Pilih dan sesuaikan beberapa pekerjaan rumah dengan usia mereka. Gambar di bawah ini bisa jadi referensinya.tugas-sesuai-usia
  3. Segera. Jangan pelit. Jangan tunggu sampai tugas selesai. Dan untuk Muslim, ucapkan MasyaAllah atau Barakallahu fiik untuk menisbatkan kemampuan mereka kepada kemudahan yang diberikan Allah. Memuji dan mendorong anak ketika tugas berlangsung akan membangun momentum positif, terutama pada anak-anak balita.
  4. Konsisten! Kenapa? Karena anak-anak akan melihat pola. Jika tidak konsisten, maka selanjutnya bisa ditebak, hehe… mereka akan menganggap kita tidak serius. Mereka akan menanti orang lain untuk melakukan pekerjaan itu daaan bisa jadi menciptakan ‘tantrum’ sebagai senjata termuktahir mereka huahahaha.
  5. Berikan instruksi yang spesifik. Perintah seperti, “Rapikan tempat tidur” itu tidak begitu jelas dan dapat ditafsirkan dalam berbagai cara. Sebaliknya, kalimat eksplisit seperti, “Atur bantal di ujung sini (sambil menunjuk). Guling sebelah sini. Ujung sprei dimasukan seperti ini ya (beri contoh jika belum tahu).” Kalau masih salah tafsir lagi, itu salah kitaaaa bukan bocah-bocah unyu ituuu. Coba deh cari kalimat yang lebih cocok dan sederhana.
  6. Step-By-Step. Pertama, tunjukkan kepada mereka bagaimana melakukan tugas langkah demi langkah. Selanjutnya, ajak anak membantu kita melakukannya. Kemudian, biarkan anak melakukan tugas dalam pengawasan kita. Setelah anak menguasai skill yang dibutuhkan, yup, mereka bisa melakukannya secara mandiri. Tanpa disuruh. Serius!
  7. Berikan reward (dengan sangat hati-hati). Mengapa hati-hati? Karena anak harus menyadari bahwa mereka melakukan hal ini untuk masa depan mereka. Jadi, sebisa mungkin jangan berikan uang untuk hal-hal seperti ini. Adapun reward yang saya maksud adalah sesuatu yang sederhana. Sesederhana boleh memilih satu jenis jajanan di minimarket. Jika melibatkan uang, dikhawatirkan bahwa hal itu akan menjadi fokus mereka. Padahal melakukan pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari pendidikan tanggung jawab dan tentang belajar mengenai tugas rumah tangga. Memang benar, anak-anak perlu belajar bagaimana mendapatkan uang, tetapi tidak dengan melakukan tugas-tugas yang seharusnya mereka lakukan. Anak-anak bisa ‘mendapatkan’ uang dari hal-hal lain di luar ‘pekerjaan wajib’, seperti membersihkan halaman tetangga, membersihkan mobil kantor ayahnya merawat kucing peliharaan saudara yang bepergian ke luar kota, menjual slime buatan sendiri, atau semacamnya. Karena jika dibiasakan, semakin besar anak yang diberi upah akan menjadi semakin kurang termotivasi oleh uang dan hanya memilih untuk tidak melakukannya.

Begitu ceritanya. Dan, apakah kami masih melakukan pola ini dalam kehidupan homeschooling kami? Tentu saja. Sampai saat inikami masih menikmatina (emaknya terutama hehehehe). Semoga kita semua terus dimudahkan membimbing anak bertanggung jawab baik melalui ngepel bersama atau apapun itu namanya yaaa. Semangat! ^_^

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit

KENAPA HARUS HOMESCHOOLING?

Posting ini merupakan resume Kuliah WhatsApp Grup Parenting United pada hari Kamis, 10 november 2016. Semoga Bermanfaat. ^_^

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

KENAPA HARUS HOMESCHOOLING?

Mierza Miranti | klastulistiwa.com

Moderator : Bunda Iis
Comoderator : Bunda Tiena
Peresume : Rizki

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Jawabannya ada pada pertanyaan itu sendiri.

Lho, kok? -_-

Lha iya.. pastikan dulu “Kenapa harus Homeschooling (HS)?”

Apakah ini adalah pilihan sadar setelah mencari ilmu dan istikharah, terpaksa, diminta, ikutan, atau melarikan diri dari sesuatu? Siapkah dengan konsekuensinya, termasuk bertemu 24 jam sehari? Sudahkah siap jika ada masalah? Ayahnya ikut nyemplung atau malah ga setuju?

Kalau masalah-masalah basic ‘Kenapa harus HS’ ini telah terjawab, insyaAllah masalah teknis dari metode sampai ijazah akan dapat jawabannya.

* * *

Lalu, kenapa kami pilih Homeschooling?

Jawaban kami… untuk mencapai visi-misi keluarga :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭﺍً
“ Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim ayat 6).

Homeschooling adalah ikhtiar yang kami rasa lebih mudah karena hampir semua kami lakukan sendiri. Dari memilih materi, alat, guru, sampai evaluasi.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

💕 Assalamu’alaikum bu Mierza 😊

💝 Wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh. 😃
Salam kenal bu Iis

💕 Salam kenal juga bu Mierza..
Terima kasih atas kesediaannya mengisi kulwap di group PU ini ya bu Mierza😊

💝Sama-sama. 😊

💕Sebelum masuk ke pertanyaan boleh sedikit bercerita tentang perjalan homeschoolingnya bu Mierza..
Dengan anak 3 semuanya homeschooling kah bu?

💕 Versi pendek ya. 😅
Baik. Saya baru memulai HS setahun ini. Meski impian itu sudah sempat saya tulis di Jakarta Post 8 th yang lalu, tapi baru menyadari tahun lalu. Anak pertama saya sempat sekolah 2 th. Lalu, kami memutuskan HS, karena ingin saja. Dari sisi kami karena kami cukup perfectionist, di sisi anak karena dia ga rela ibunya mengajar orang lain. Tidak ada masalah yang melatar belakangi. HS ini sudah jadi keputusan kami setelah istikharah.  (Note: anak kedua dan ketiga masih ‘main’)
Perjalanannya naik turun tentu saja. Tidak ada yang mudah, tapi tantangan-tantangan itu kami lalui bersama, hingga alhamdulillah kami masih ingin HS setelah melihat hasilnya. 😊
Ketika menyekolahkan, ada beberapa ‘idealisme pengasuhan’ yg harus dikorbankan. Disesesuaikan dengan ekspektasi dan kondisi lembaga, ortu lain, media, dll.

🌱🌱🌱🌱 Tanya jawab 🌱🌱🌱🌱

1 Assalamu’alaikum bu Mierza..
Untuk pendidikan anak-anak saya (6th dan 4th) saya ingin menerapkan HS karena khawatir dengan penyimpangan perilaku anak-anak jaman sekarang. Harapan saya, dengan HS akan bisa meminimalisasi pengaruh negatif dari perilaku menyimpang yang sekarang ini sedang marak di Indonesia..
Cuma…ada beberapa teman saya berpendapat bahwa HS akan membuat anak “steril”.. Dan itu tidak baik untuk perkembangan sosialisasi anak..apakah benar demikian? #lila
☑ Wa’alaikum salaam warahmatullah, mba Lila. Steril? Bisa jadi. Bukankah orang tua diminta memilihkan teman yang baik untuk anak-anaknya? Agar anak-anak terpercik minyak wangi, bukan bau dari pandai besi? Jika pertanyaan klasik seperti ‘tidak ada teman’, mari kita kembalikan makna teman. Di sekolah, anak di’kelas’kan, diberi strata. Apakah mereka dibekali dengan ilmu berteman lintas kelas? Apakah guru selalu ada untuk mendampingi agar anak-ank tahu adab berteman? HS-er bisa berteman tidak hanya dengan teman sekelas, tapi sekelurahan.. yang terpilih. 😄

2 1. Bu, pembuatan kurikulum HS apakah bisa dilakukan sendri berdasarkan visi misi keluarga?
2. Terkait masalah sosialiasi anak yang mengikuti HS, sering dikhawatirkan akan ada efek kurangnya nilai sosial dan sosialiasi pada diri anak, sehingga anak menjadi tidak peka terhadap lingkungan, padahal dia bisa bermain dengan tetangga. Mohon tanggapnnya? #Shabrina_PU Jatim
☑1. Bisa.
2. Sekolah yang dibatasi dinding tinggi, diberi jadwal untuk berada dengan anak ‘1 level’ selama itu… bisakah membuat anak peka? Kalau dari pengalaman pribadi, anak saya sangat pemalu dan dilabel pasif meski jadi kesayangan guru dan ranking 1. Tapi pulang sekolah, semua adab yang saya ajarkan luntur. Tas dilempar, adiknya nangis dibiarkan. Alhamdulillah… setahun ini Allah mudahkan untuk membuka hatinya.. dia jadi lebih peka dengan kondisi sekitar dan terakhir memilih untuk membagikan ilmu bahasa Arab dengan menjadi guru bagi teman2nya.

3
3.السلام عليكم ورحمةالله وبركاته bu mierza ,
Saya mau bertanya , apakah HS yang bu mierza jalankan pakai kurikulum? Kalau boleh apa yang ibu ajarkan ke anak-anak? Apakah ada pelajaran sekolahnya? Atau fokus ke minat dan bakat anak? Trus, untuk nanti ujiannya bagaimana proses ngurusnya? Karena saya dengar sekarang kalau anak anak yang HS, apabila mau ujian UN, harus ada NISNnya. Maaf kalau pertanyaannya banyak. Syukran ibu 😊 Wassalam #ummujihad
☑Wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh. Salam kenal, Ummu Jihad. ‘Kurikulum’ saya berdasarkan visi misi keluarga tadi ‘qu anfusakum wa ahlikum naaro’. Jadi, saya tempatkan tauhid dan ilmu diin pertama kali. Duduk di majelis-majelis ilmu. Memastikan konten-konten pelajaran sesuai Quran dan Sunnah, sambil membantu anak menemukan bakatnya. Saya lebih cenderung menempatkan bakat di urutan berikut setelah ilmu diin. Karena bakat itu harusnya membantu dia terhindar dari api neraka, bukan mendekatinya. Apalagi dengan menganggap ‘bakat’ lebih penting lalu melupakan tujuan awalnya sebagai muslim. Jangan sampai begitu. Contoh, mengejar bakat sampai melupakan shalat, pergi shafar sendirian (kalau perempuan) demi mengejar ‘ilmu’, menyepelekan ilmu wajib yang harusnya diketahuinya lebih dulu. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga keluarga kita semua dijauhkan dari hal-hal ini.

Wa fiik barakallahu. Oh, afwan. 😅 Untuk NISN, bisa didapatkan dengan ikut PKBM yang terdaftar. Bisa dicek di http://bindikmas.kemdikbud.go.id/nilem/ Bun
Ada juga opsi sekolah payung.. tp saya ga berani sarankan karena sama aja artinya anak2 terjejal pelajaran2

4Assalamualaikum bu Mierza..
Ada kah panduan atau rule yang bisa dipegang untuk ber-HS?
Anak saya baru 15 bulan..
Saya mau mempersiapkan sedini mungkin tentang HS jadi nanti kalau sudah saatnya saya tidak bingung lagi..
#rizkina
☑ Masih main bu. Insya Allah masih lama ya. Boleh intip-intip ke sini untuk persiapan.

5 Assalamu’alaikum bu Mierza Miranti, saya mau bertanya:
1. Apa kelebihan & kekurangan dr homeschooling?
2. Bagaimana jika nantinya anak merasa bosan dengan homeschooling?
#debby_PU jatim
☑Wa ‘alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh.
1. Kelebihannya banyak. Salah satunya bisa memilih materi, lingkungan, dan guru. Kekurangannya, orang tua bisa jadi lebih lelah, baik dalam mengeksekusinya, atau menghadapi arus yang berlawanan.

2. Belum tahu karena belum terjadi 😅

6Assalaamu’alaikum…bu sy mau tanya…bagaimana bu Mirza melaksanakan HS tiap harinya? Apakah ada jadwal jam sekian sampai sekian..atau kah tidak terjadwalkan? Jadi selama ada kesempatan ya belajar selama seharian itu ato bgaimana? #habibah
☑Saya tidak ada ‘jadwal mata pelajaran’ – hanya target. Anak-anak memilih 3 ilmu diin, 3 pelajaran, dan 3 pekerjaan rumah setiap harinya. Jika tercapai sebelum jam 2, insyaAllah diberi bintang yang jika tercapai (sejumlah tertentu) mendapatkan reward. Tapi jangan bayangkan yg hebat2 yaa..  reward-nya cukup jajan 1 macam di minimarket. 😄

Biasanya kalau anak2 ingin main cepet dapat waktu bermain, mereka bangun sebelum subuh untuk hafalan/ muraja’ah. Kenapa targetnya sampai jam 2? Karena saya juga harus kerja 😅

Saat ini anak-anak tahfiz dgn guru dua kali seminggu. Hafalan sehari2 di rumah dengan saya di cek kesempurnaannya oleh ustadzahnya. 😊

Saya pakai At Tuqo untuk ilmu diin, untuk materi saya ambil pokoknya saja. Disesuaikan. 😄

7. Saya punya murid dulu SD-nya HS, sekarang sekolah boarding. Saya lihat perkembangannya luar biasa susahnya Bu ketika ia melewati 2 keadaan yang berbeda. Di boarding dia susah penyesuaian dan dia mengaku lebih nyaman HS karena bisa memilih teman yang dia suka saja, tidak suka keramaian, sering cekcok dengan teman yang tidak disuka. Nah pertanyaan saya, prinsip dan pola pikirnya seperti itu masih bisa diubah atau menetap dan bagaimana supaya mengarahkan pikiran dia agar tidak terlalu terpaku dnegan tidak cinta sosial#
Apri

☑Salam, Bu Apri. Tergantung pendampingan, Bu. Jika fasilitator/ guru/ musyrif hingga sistem sekolah mampu menyampaikan dan mendidik mengenai adab berteman, insyaAllah bisa. Bukankah lembaga sebaiknya siap menerima input apapun (karena sudah diterima kan anaknya) dan mengolahnya agar menjadi output sesuai visi misi lembaga? Kesamaan pesantren dan HS adalah minimnya campur tangan orang tua lain, sehingga seharusnya lebih mudah mendidik masalah sosialisasi. Ini berdasarkan pengalaman aja sih waktu mengajar di boarding school. 😊

💕Alhamdulillah. Jazakillahu khairan Ceu Mir atas sharing2 ilmu perHSannya. Sedikit banyak membuka mata sudut pandang lain bagi kami.

Cepat skali ya waktu.pertanyaan msh antri 😂
Semoga ilmu dan informasi-informasi yang Ceumir share dpt bermanfaat buat teman-teman ibu-ibu ketje di grup ini yang ingin dan sedang menerapkan HS bg putra/inya.

💝 Wa jazzakumullaahu khairan katsira semua. Mohon maaf jika ada kata2 yang salah. Terima kasih atas kesempatannya berkenalan dengan ibu-ibu ketje pembelajar hebat. MasyaAllah banget deh pertanyaannya 😅🙏🏻

💕Sebelum kami akhiri, ada yg ingin disampaikan ceumier sbgi penutup ?

💝Homeschooling itu ada loh. 😁 Salah satu pilihan, selain sekolah, yang harus diambil dengan istikharah dan dilalui dengan ilmu. Jadi? HS apa jangan niiih? Hehe.. jawabannya pilih sendiri ya. Selamat memilih. 😘

My Reflection, My Thoughts, Parenting

Kenapa Malu Punya Anak Pemalu?

*Mierza Ummu Abdillah*

“Anaknya pemalu ya, Umm?”

Betapa mudahkah seorang anak dilabel ‘pemalu’, hanya karena memilih tidak berebut kue saat istirahat seperti teman-temannya? Tapi kurangnya ilmu membuat ibu itu pun hanya tersenyum malu. Malu punya anak pemalu.

Ah, andai saja dulu Ibu itu tahu bahwa rasa malu adalah akhlak Islam yang terpuji. Malu yang ditunjukkan anaknya bukanlah malu yang tercela, seperti malu menuntut ilmu syar’i, mengaji, amar ma’ruf nahi munkar, melakukan kewajiban seorang Muslim, dan yang semisalnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Andai Ibu itu tahu bahwa buah dari rasa malu adalah iffah atau menjaga kehormatan. Hal yang sangat sulit ditemukan di jaman penuh fitnah ini.Bahwa memiliki malu bukan suatu kesalahan.

malu

Bukankah di dunia yang berisik ini, kita memerlukan manusia yang mampu menjadi pendengar yang penuh perhatian? Tidakkah kita pernah menemukan seorang pribadi yang begitu diterima bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata? 

Ibu… Tidak perlu meminta maaf kepada orang lain hanya karena memiliki ‘anak pemalu’. Jangan pula mengucapkannya di hadapan intanmu yang berharga itu. Tidak ada yang salah dan banyak alasan tepat untuk menjadi pemalu.

Andai Ibu itu tahu bahwa anak yang pemalu tidak selalu berarti menderita citra diri yang buruk. Ah… alangkah tidak adilnya.  Banyak anak-anak pemalu yang memiliki konsep diri yang kuat. Mereka bersinar dari dalam – jika saja para orang tua itu lebih sabar.

Andai dulu Ibu itu tahu bahwa ia tidak perlu khawatir jika anaknya tutup mulut di tengah orang banyak. Bahwa selama anaknya masih bisa melakukan kontak mata, sopan, menurut, dan bahagia – namun hanya diam – itu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya.

Andai Ibu itu dulu tahu bahwa anak-anak ‘pemalu’-nya lebih dalam berpikir, menyeluruh dalam mengamati, dan sangat berhati-hati. Mereka hanya seperti mesin diesel – memerlukan waktu tambahan untuk untuk pemanasan ketika bertemu orang baru.

Bersyukurlah, Ibu, jika anakmu hanya merasa malu – bukan menarik diri. Bukan bersembunyi dari kemarahan dan ketakutan. Bukankah kau tidak pernah mengancam atau menakutinya?  Jika tidak, maka tenanglah. Anakmu hanya memilih menjadi mereka yang bersorak dalam pawai dan dipercaya untuk melambaikan bendera.

Namun, pelajarilah Ibu…. Jangan sampai label pemalu ini digunakan untuk tidak mau berteman dengan anak-anak lainnya. Jangan sampai label ‘pemalu’ ini digunakan  sebagai pertahanan untuk tidak berusaha lebih keras dan tinggal di zona nyaman.

Jika kau menemukan demikian  maka perkuatlah rasa percaya diri mereka. Anak ini hanya  membutuhkan orang tua dapat ia percaya, yang mendisiplinkan dengan cara yang benar dan lembut. Mendidik tanpa menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Ibu, bersyukurlah dengan akhlak anakmu. Ia diberkati dengan sifat yang sensitif, sangat peduli, dan lebih berhati-hati. Peluklah anakmu dan jadikan dunia menjadi tempat yang lebih lembut dan menyenangkan. Ciptakan lingkungan yang nyaman yang memungkinkan kepribadian sosialnya berkembang secara alami.

Tidak Ibu.. jangan ikut mengatainya dengan cap anak “pemalu”. Jika mendengarnya, ia bisa merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dan ini akan membuatnya merasa lebih malu. Memanggilnya “pemalu” bisa membuatnya lebih cemas, seolah-olah ada sesuatu yang mereka harus lakukan untuk “membantu” atau memperbaikinya.

Dukunglah dengan cara memberitahu apa yang harus ia lakukan ketika mengunjungi saudara atau tempat yang baru. Hindari godaan untuk mengatakan, “Jangan diem aja ya, disana.” Karena itu akan menjamin dia bungkam. 

Beritahu ia apa yang diharapkan. Dari ucapan “Salim Pakde, ya.” sampai perilaku sopan lainnya. Tidak mengapa jika ia ingin membawa salah satu mainan favoritnya, seperti lego atau puzzle, yang bisa menjadi jembatan untuk komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, jika anakmu diminta tampil di hadapan umum, mintakan dulu izinnya. Jangan gunakan kekuasaan orang dewasa. Hormati tingkat kenyamanannya. Bukankah ada manusia yang lebih memilih untuk menjadi penonton?

Bantulah anakmu dengan berbicara lebih sedikit. Beri kepercayaan untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Mintalah ia untuk menjawab langsung pertanyaan orang lain, tanpa Ibu menggantikan jadi mesin penjawabnya. Sungguh ini akan sangat membantunya. Lalu, berilah ia pujian ketika berhasil membangun komunikasi dengan sekitarnya.

Ibu, setahun sudah waktu berlalu sejak kau putuskan mendidik anak itu sendiri. Kau memilih untuk selalu bersama 24 jam sehari, belajar bersamanya, melatihnya, berusaha menjadi teladan untuknya. Satu inginmu waktu memilih keputusan melelahkan itu: agar bisa lebih sering memeluknya.

Lihatlah, kini ia tumbuh lebih percaya diri. Dengan kesantunannya, ia tetap bersinar di tengah keramaian. Dengan kehati-hatiannya, ia memberi jeda terhadap semua jawaban yang akan dilontarkan agar bisa berterima. Dalam diamnya, dia menyerap apa yang kau tanamkan setiap harinya. Melalui tenan gnya, dia menunjukan cintanya.

Semua kesabaran ini memang tidak mudah. Cermin ini saksinya.

Jazzakillah khairan telah bersabar dengan Ibumu, yaa bunayya.

 

Homeschooling, Homeschooling Starter Kit, Parenting

Hak Anak Mencontoh Orang Tua Penuntut Ilmu (Agama)

*Mierza ummu Abdillah*
image

Homeschooling itu memang bukan cerita yang selalu indah. Terlibat banyak guru kesabaran di dalamnya.

Saya yang seorang ibu, seorang muslim, seorang pengajar (atau memilihkan pengajar) anak-anaknya sendiri , tidak hanya menyampaikan ilmu. Tapi juga mendidik adab, ilmu, dan menerapkannya.

Beuh… berat yaaa? Terutama pas bagian ‘menerapkannya’.

Begini mungkin ilustrasi, eh, kenyataannya….

PAS JAMAN NYEKOLAHIN: Gampang… titip aja di sekolah Islam, di TPA. Anak pinter agama dan jadi hafidz(ah). Kita cari uang… atau paling nggak, kita ngajar aja (saya guru Bahasa Inggris dulu) di tempat anak belajar. Kita? Hafalan? Ke majelis ilmu? Belajar? Halah… mana sempet. Cari uang, Bro!

PAS JAMAN HOMSKULINGIN: Bahasa Arab? Gampaaang, ada aplikasi. Tahfiz, tuuuh deket rumah ada rumah tahfiz. Ane? Hafalan? Bentar… ng.. ini cucian belum kelar. (Dan blass sampai keesokan harinya) Kajian ke madjid? Temanya apa? Tar browsing aja.

,

Ng… iya. Itu saya dulu. Masih ada residunya sih.. semoga istiqomah menghilangkannya.

Nah, dalam sebuah majelis rutin yang membahas salah satu kitab parenting Islam dari jaami’ul ahkam fii adab al shibyan, saya ditampar dengan ayat ini (tafsir lengkap dari Ibnu Katsir dan para sahabat bisa dilihat di sini):

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Q.S. Al Baqoroh: 44)

Saya kopikan beberapa penafsirannya ya….

Maksud dari ayat pertama di atas dari Ibnu Jurairj yang mengatakan sehubungan dengan firman-Nya, “Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan,” bahwa orangorang ahli kitab dan orang-orang munafik selalu memerintahkan orang lain untuk melakukan puasa dan salat, tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka perintahkan kepada orang-orang untuk melakukannya. Maka Allah mengecam perbuatan mereka itu, karena orang yang memerintahkan kepada suatu kebaikan, seharusnya dia adalah orang yang paling getol dalam mengerjakan kebaikan itu dan berada paling depan daripada yang lainnya.

Atau Ad-Dahhak yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu apakah kalian memerintahkan orang lain untuk masuk ke dalam agama Nabi Muhammad Saw. dan lain-lainnya yang diperintahkan kepada kalian untuk melakukannya —seperti mendirikan salat— sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri?’

Iya, saya tertohok sangat di kajian ituuu (emot nangis mana emot nangis?). أستغفر الله . Anak-anak BERHAK mendapat contoh yang baik dari saya. Bukan hanya perilaku baik, tapi juga kebiasaan menuntut ilmu (diin). Betapa sombongnya saya, dengan secuil yang saya miliki (titipan Allah pula!), petantang-petenteng bilang “Saya cari uang aja, ilmu mah belakangan.” Iya kalau dapat waktunya. Lha, kalau pas ‘cari uang’ udah diketok duluan sama malaikat maut, piye? Terzolimi lah hak anak-anak, meski gak sampe KOMNAS HAM, sih.

Jadi, semua mindset yang saya bangun sejak awal tentang mendidik saya bongkar total. SAYA HARUS BELAJAR. MEMBUANG RASA MALU berada di satu majelis: yang bocah udah juz 28 akhir, Ibunya masih terseok2 menghafal juz 30. Pas tanya jawab tentang ilmu Diin, anaknya yang tau duluan. Pas kajian tetiba inget kalau pulang-pulang harus lipet2 (saya anti neriska hehe).

Beraaat memaaang… Tapi ingatlah selalu:  Ilmu tidak akan bisa diraih dengan banyak mengistirahatkan badan.” (Yahya bin Abi Katsir rahimahullah)

 

http://www.klastulistiwa.com

My Reflection, Parenting

“Anaknya Anteng, ya.” Tips Membawa Anak ke Tempat Umum

“Ih, kok anteng ya?” Biasanya, pertanyaan itu yang terlontar ketika  saya membawa salah satu atau salah tiga dari anak saya ヾ(*´∀`*)ノ.

Sebenarnya,  itu adalah jawaban, rahmat, dan kasih sayang Allah ketika saya galau bertanya “Apakah bisa kesana kemari dengan tiga anak kecuyungun?”.  Alhamdulillah, itulah doa yang dikabulkan dan diiringi ikhtiar tentunya.

Sedih memang melihat kenyataan di dunia sekarang ini yang semakin tidak sabar dan tidak ramah dengan anak kecil. Jangankan tempat resmi, bahkan di institusi pendidikan yang kliennya anak – anak pun bisa lebih bengis dan diskriminatif terhadap perempuan yang bawa anak kemana-mana seperti saya. Maka dari itu, saya yang perlu wara wiri pun harus mampu bersiasat.

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat formula yang bisa saya terapkan kepada anak sulung (8th), anak tengah (4th), maupun anak bungsu saya (2bln). Mereka sudah bisa dibawa rapat atau pertemuan yang beberapa jam…

image

Daurah dua hari yang berturut -turut dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore bersama dua bocah (waktu itu si bayi belum ada)

image

Sampai ikut pelatihan montessori pagi sampai sore selama 4 hari berturut – turut.

image

Alhasil Debay pun jadi cerewet setelah pelatihan.. hehehe…

Kalau saat memberikan pelatihan atau mengajar, debay kecuyungun masuk babywrap deh…

image

Nah, sekarang kita masuk ke how-to. Inilah yang kami lakukan setelah meminta bantuan Allah Azza wa Jalla untuk membuat anak-anak kami anteng di tempat umum:

1. Minta ijin yang mengundang. Lha, ini adabnya. Mosok kita mau maksa tuan rumah. Lagipula, dari pengalaman, bayi/ anak bisa merasakan lho orang dewasa yang suka (dan tidak suka) anak kecil.

2. Ajak bicara sebelumnya . Ini juga berlaku untuk bayi lho. Kalau kami sudah sounding dari malam sebelumnya sampai saat turun dari kendaraan. Komunikasikan apa yang mau kita lakukan, apa yang kita harapkan, sampai apa yang bisa terjadi kalau si anak tidak berlaku sesuai harapan (tapi bukan ancaman lho, ya). Kalau saya berbicara seperti ini, “Sayang, besok Ummi akan ajak kamu ke…. . Disana Ummi akan (melakukan apa). Kamu yang anteng ya sayang. Kalau mau bicara bisik-bisik ya. ” Kalau kepada si balita dan anak sulung, saya ajak ngobrol deh. ‘Kelakuan’ anak balita akan kita bahas bersama ceritanya hehe. Misalnya, saya akan bertanya begini, “Kalau kamu jalan-jalan, om tante yang ada disana akan merasa apa ya?” Teruus digali sampai dia mengeluarkan kata yang kita mau, yaitu “terganggu”. Heheh… modus. Bahkan kita pun bisa memberi tahu konsekuensinya (bukan ancaman lho ya) jika mereka tidak berlaku sesuai harapan. Maksudnya, konsekuensi itu juga menimpa orangtuanya *efek dramatisasi*.

3. Know your children. Ini penting karena anak masih pada tahap pemenuhan insting. Jangan harapkan anak berlaku baik ketika keinginan dasar mereka tidak terpenuhi. Contohnya anak sulungku. Dia bisa anteng di tempat asing kalau dibekali (atau dibelikan) buku yang banyak. Anak tengahku doyan ngemil, jadi tahulah apa yang harus dibawa.
Dia juga hobi membawa mainan kemana -mana. Kalau si bungsu ya pastikan si emak dan stok Abinya tersedia, hehe.

4. Beri hadiah jika mereka berhasil sabar . Yup, reward ini diberikan untuk kesabaran mereka berada di tempat yang ‘tidak seharusnya ‘ dalam waktu lama. Ini akan lebih efektif kalau orangtua jarang memberi hadiah. Untuk hal rutin yang berhasil mereka lakukan, saya memberi reward vertikal seperti ucapan barakallahu fiik, masyaAllah, Ummi bangga banget, dan sebagainya. Pemberian hadiah itu akan menjadi spesial ketika mereka melakukan hal yang menyenangkan orangtua. Ini, menurut saya, melatih birrul walidain lho…

5. Konsistensi. Nah, ini yang paling penting dan paling sulit, apalagi untuk orang tua yang tidak tega melihat anak menangis. Ingat lho, setiap yang kita lakukan akan dipelajari anak. Misalkan, ketika kita sudah menyampaikan konsekuensi kalau kita harus meninggalkan acara, yaaa harus kita lakukan. Demikian pula dengan pemberian hadiah.

Anak-anak itu belajar dari pola yang kita lakukan. Memang terkadang things didn’t go the way we wanted . Kalau itu, ingat yang nomor 4: konsistensi , plus stay cool, calm, and confident . Jika kita terus konsisten, mereka akan mempelajari dan melakukan,
sesuai ‘skenario ‘, insyaAllah. Dan lama-lama semuanya akan jadi lebih mudah karena routine dan prosedur yang kita ikuti dari awal.

Jadi, siapa takut tetap menjadi Ibu di saat kita dituntut profesional?

(*^▽^)/