Seliweran lagi kasus perundungan (bullying) yang dilakukan oleh mahasiswa dan anak kelas 7 SMP. Hmmm…. berkat medsos, kasus ini bisa mencuat yaa. Padahal perundungan sudah berlalu sejak lama, bahkan sejak saya SMP yang kira-kira 20 tahun lalu. Kasusnya yaaa sama, dari mulai mengejek, menjambak, hingga menelanjangi, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Tapi tunggu… sebelum kita merundung perundung (seperti banyak yang saya baca di kolom komentar pada kasus terhangat yang banyak di-share itu) mari melakukan refleksi.

TERNYATA MEMBESARKAN PERUNDUNG ITU MUDAH LOOO.

***Mierza Ummu Abdillah***

Ga percaya? Ini dia tutorialnya ala klastulistiwa.com:

1. TERTAWAKAN ANAK KETIKA BERBUAT KESALAHAN

a. Iya. Lakukan itu saat dia jatuh/ melakukan kesalahan karena kan itu unyuuuu banget kaan; agar
b. Ia belajar bahwa tidak mengapa menertawakan orang lain. Itu unyu -_- ; lalu,
c. Dia akan memilih untuk menertawakan bukan membantu orang yang jatuh/kesusahan.

2. RESPONLAH SECARA NEGATIF

a. Ucapkan satu kata yang tidak kita sukai kepada anak saat ia melakukan kesalahan, misalnya kalimat “Yaelah gitu doang ga bisa” atau “Lambat banget sih”; agar
b. Ia belajar Β bahwa cara merespon secara negatif itu sangat efektif untuk mendapatkan yang ia Β mau; lalu
c. Dia akan menganggap itu normal untuk diucapkan kepada siapapun.

3. ABAIKAN AJA

a. Biarkan ketika kita melihat ada anak yang mengejek atau menyakiti secara fisik di depan anak kita. Lah kan, bukan anak sendiri ini; agar
b. Anak belajar bahwa lebih aman untuk untuk mendiamkan kemunkaran yang terjadi di depannya; lalu
c. Dia akan belajar untuk mematikan hatinya.

4. PELIHARA BAPER

a. Sakit hatilah ketika ketika ada yang mengingatkan anak kita atau memberi tahu yang ia lakukan di luar sepengetahuan kita. “Kan anak gue, ya terserah gue laaah” Teruslah berpikir demikian! ; agar
b. Anak belajar untuk tidak belajar dari kesalahan; lalu
c. Ia akan sulit menerima ketika ia diingatkan orang lain.

5. ITU BUKAN ANAK SAYA

a. Ketika ada anak yang menangis dan selalu ada anak kita di sana, salahkan anak lain karena tidak mampu beradaptasi. Jangan temani anak saat ia bermain. Biarkan saja mereka, kita kan banyak kerjaan; agar
b. Anak belajar untuk memahami bahwa ia sudah benar dan selalu benar dan akan tetap benar; lalu
c. Ia akan lebih mudah menyalahkan orang lain dan memilih malah berlindung di balik orang tua atau mahluk lain untuk menyelamatkan diri dari kondisi yang salah ini.
Itu baru lima. Ada banyak sebenarnya cara untuk membesarkan seorang perundung. Hedeeeh… banyak kaaali PR-mu bu Mirja. Perundungan ini sudah mengakar dan bisa jadi budaya sepertinya di segala lini. Etapi, bukan berarti kita tidak bisa mengubahnya kan yaaa? Setidaknya dari keluarga tercinta. Bukankah kita punya Rasulullah sang uswah hasanah? Ya kan tinggal ikutin ajaaaa.
Yuk, kita rekonstruksi pola didik untuk menyelamatkan generasi.
Kini lho yaaa, bukan nanti.
Iklan