Kadang-kadang, orang tua (sayaa Buuu maksudnya) suka merasa bingung dalam mencari cara membimbing anak bertanggung jawab. Eh, ternyata… resep orangtua jaman dulu masih dipake looh jaman sekarang. Caranya yaaaa dengan membuat mereka tahu kalau mereka dibutuhkan dan memberikan kontribusi kepada sekitarnya. Apa ituu? Ajak ngepel bersama alias melakukan pekerjaan rumah tangga (silahkan tepuk tangan buibu).

Teganya kau, Mak. Iyes. InsyaAllah ketegaan ini menumbuhkan bibit-bibit tanggung jawab ketika mereka dewasa. Itu tujuannya.

 

Membimbing Anak Bertanggung  Jawab Pake Ngepel? Gak Ilmiah, Ih!

Eiiit.. siapa itu yang bilang ga ilmiah, hah? Sini temuin ane. Kita ngeteh bareng maksudnya.

Nih yaaa… udah banyaaak penelitian tentang ini. Salah satunya dilakukan oleh Roger W. McIntire, professor di bidang psikologi Universitas Maryland yang juga penulis buku Raising God Kids in Tough Times. Beliau nih yang mengatakan bahwa seorang anak harus memiliki beberapa tanggung jawab. Tapiiii….. ada caranya yaaah dalam membimbing anak bertanggung  jawab melalui pekerjaan rumah. Ihik.. jangan seperti saya yang sempat melakukan kesalahan dalam ‘mengajak’ anak. Karena itu, pastikan  beberapa hal yang merusak proses dan cara membimbing anak bertanggung jawab ini dijauhi. Inget yaaa.. DIJAUHI (daripada nyesel ga berkesudahan seperti saya huhuuuuu).

Berikut Tips-Tips yang Bisa Dilakukan Agar Terhindar Dari Kesalahan

  1. Jangan menuntut kesempurnaan. Lha, pan udah tahu kalau tidak ada yang sempurna kecuali Andra n the Backbone (ketauan umurnya). So, slow down, Beibeh. Santai aja saat mengajak anak dan biarkan mereka lakukan yang terbaik VERSI MEREKA. Jika di tengah-tengah Anda ambil alih, weleh, siap-siap aja menghancurkan semua proses pendidikan ini.
  2. Mulai dari anak berusia 2 tahun. “WHAAAAT??? YOU DON’T SAY…” Mengkin begitu jawaban Anda. Hmmm… kita mungkin berpikir anak kita terlalu muda. Tapi mereka sebenarnya lebih mampu daripada yang kita pikirkan. We just underestimate them. Pilih dan sesuaikan beberapa pekerjaan rumah dengan usia mereka. Gambar di bawah ini bisa jadi referensinya.tugas-sesuai-usia
  3. Segera. Jangan pelit. Jangan tunggu sampai tugas selesai. Dan untuk Muslim, ucapkan MasyaAllah atau Barakallahu fiik untuk menisbatkan kemampuan mereka kepada kemudahan yang diberikan Allah. Memuji dan mendorong anak ketika tugas berlangsung akan membangun momentum positif, terutama pada anak-anak balita.
  4. Konsisten! Kenapa? Karena anak-anak akan melihat pola. Jika tidak konsisten, maka selanjutnya bisa ditebak, hehe… mereka akan menganggap kita tidak serius. Mereka akan menanti orang lain untuk melakukan pekerjaan itu daaan bisa jadi menciptakan ‘tantrum’ sebagai senjata termuktahir mereka huahahaha.
  5. Berikan instruksi yang spesifik. Perintah seperti, “Rapikan tempat tidur” itu tidak begitu jelas dan dapat ditafsirkan dalam berbagai cara. Sebaliknya, kalimat eksplisit seperti, “Atur bantal di ujung sini (sambil menunjuk). Guling sebelah sini. Ujung sprei dimasukan seperti ini ya (beri contoh jika belum tahu).” Kalau masih salah tafsir lagi, itu salah kitaaaa bukan bocah-bocah unyu ituuu. Coba deh cari kalimat yang lebih cocok dan sederhana.
  6. Step-By-Step. Pertama, tunjukkan kepada mereka bagaimana melakukan tugas langkah demi langkah. Selanjutnya, ajak anak membantu kita melakukannya. Kemudian, biarkan anak melakukan tugas dalam pengawasan kita. Setelah anak menguasai skill yang dibutuhkan, yup, mereka bisa melakukannya secara mandiri. Tanpa disuruh. Serius!
  7. Berikan reward (dengan sangat hati-hati). Mengapa hati-hati? Karena anak harus menyadari bahwa mereka melakukan hal ini untuk masa depan mereka. Jadi, sebisa mungkin jangan berikan uang untuk hal-hal seperti ini. Adapun reward yang saya maksud adalah sesuatu yang sederhana. Sesederhana boleh memilih satu jenis jajanan di minimarket. Jika melibatkan uang, dikhawatirkan bahwa hal itu akan menjadi fokus mereka. Padahal melakukan pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari pendidikan tanggung jawab dan tentang belajar mengenai tugas rumah tangga. Memang benar, anak-anak perlu belajar bagaimana mendapatkan uang, tetapi tidak dengan melakukan tugas-tugas yang seharusnya mereka lakukan. Anak-anak bisa ‘mendapatkan’ uang dari hal-hal lain di luar ‘pekerjaan wajib’, seperti membersihkan halaman tetangga, membersihkan mobil kantor ayahnya merawat kucing peliharaan saudara yang bepergian ke luar kota, menjual slime buatan sendiri, atau semacamnya. Karena jika dibiasakan, semakin besar anak yang diberi upah akan menjadi semakin kurang termotivasi oleh uang dan hanya memilih untuk tidak melakukannya.

Begitu ceritanya. Dan, apakah kami masih melakukan pola ini dalam kehidupan homeschooling kami? Tentu saja. Sampai saat inikami masih menikmatina (emaknya terutama hehehehe). Semoga kita semua terus dimudahkan membimbing anak bertanggung jawab baik melalui ngepel bersama atau apapun itu namanya yaaa. Semangat! ^_^

Iklan