Bukankah sering kita lihat fenomena hari ini dimana anak-anak melecehkan gurunya, menyalahkan guru karena merasa ‘lebih hebat’ dari mereka. Baper ketika diingatkan. Alih-alih berusaha mencari cara memahami untuk mengambil ilmu, malah menyalahkan ketidak mampuan guru mentransfer ilmu. Lalu, untuk apa manusia diberikan akal untuk beradaptasi? Sungguh, ini bukanlah perkara akhlak yang baik. Ketika mengajar selama 13 tahun dulu, saya temukan baaanyaaak sekali kejadian ini. Beberapa rekan mengeluh soal ‘adab’ anak-anak didiknya. Eh, anak-anak itu malah curhat sama saya: sorry guys, wrong pick. Memang benar bahwa guru perlu menguasai ilmu mendidik. But hey, it’s not your part to remind them! 

Itu baru guru lho. Belum lagi fenomena sosial dimana banyak orang yang memilih bicara.. iya bicara.. bahkan mendebat orang yang lebih berilmu. Lihat saja beranda facebook dan komen-komennya. Ada juga yang lalu mendelik atau tidak terima jika diingatkan, meski itu orang yang lebih tua atau bahkan orang tua sendiri. Acuh tak acuh dengan gadgetnya ketika diajak bicara. My oh my….

LANDASAN HS#7 : MENDIDIK KOMUNIKATOR YANG TAWADHU

Mierza Ummu Abdillah

Mari kita simak Qur’an surat Luqman ayat 18 yang artinya

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Al-Qurthubi menyebutkan makna dari surat Luqman ayat 18 di atas yaitu, “Janganlah kamu palingkan mukamu dari orang-orang karena sombong terhadap mereka, merasa besar diri, dan meremehkan.”

Iya, itu semua adalah pekerjaan rumah saya juga sebagai orang tua. PR untuk menumbuhkan sikap anak untuk menjadi simpatik, memiliki rasa hormat, menyayangi dan tidak bersikap pongah terhadap yang lebih muda apalagi yang lebih tua/ berilmu, tidak menyela pembicaraan, mendengarkan dengan seksama, dan mengikuti akhlah Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam.

Untuk mengerjakan PR ini, saya akhirnya memutuskan untuk mempelajari ulang cara kami berkomunikasi. Lalu, dalam usaha kami memperbaiki diri, kami mencoba mendidik anak-anak menjadi pembicara yang efektif dan tawadhu. Belajar bersama mencontoh Rasulullah dan beberapa sahabat yang menjadi komunikator hebat pada jamannya.

INILAH RENCANA KAMI DALAM MENDIDIK ANAK BERKOMUNIKASI

  1. Berusaha keras mencontohkan kepada anak. Yes, action speaks louder than words. Saya bukan orang yang mudah bersosialisasi dan sungguh, ini lebih mudah ditulis daripada dilaksanakan. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha dan Allah menghendaki bukan?
  2. Hilangkan praduga “Saya kan sifatnya gak gitu. Saya orangnya udah begini, gak mungkin bisa berubah.” Reaaaallyyy? Bisa kok, insya Allah. Ingat Umar bin Khattab, kan? Betapa banyak perubahan sikapnya yang dahulu keras hingga lembut dan bijak semenjak masuk Islam. So, why not?
  3. Bantu anak-anak dengan melakukan roleplay. Kita bisa menggunakan alat peraga seperti boneka atau benar-benar bermain peran.
  4. Berdiskusi dan membekali anak sebelum bertemu dengan lawan bicara. Eh, ini beneran lho. Pengalaman saya sebagai orang yang lidahnya tetiba kaku ketika harus berbicara 4 mata, saya paham benar fungsinya berlatih sebelum benar-benar bertemu manusia. Untuk berbicara di depan umum pun sama.
  5. Melakukan evaluasi seusai pertemuan. Diskusikan kira-kira apa yang bisa diperbaiki.
  6. Moderasi penggunaan gadget (ini bagi orang tua juga lho ya.. hehe.. lumayan menantang juga kan?) Mari simpan gadget ketika anak berbicara dengan kita, atau… minta waktu dan segera fokus melihat wajahnya ketika berbicara.
  7. Pertimbangkan ulang waktu penggunaan gadget, terutama jika berada diantara orang tua dan saudara. Gadget boleh keluar dalam jangka waktu yang sebentar dan hanya diperbolehkan ketika tidak terjadi diskusi yang melibatkan mereka.
  8. Latih anak-anak menjadi asertif, salah satunya dengan menggunakan ‘I-message’
  9. Memilih waktu yang tepat untuk diam, bertanya, menjawab, atau menanggapi.
  10. Memilih kalimat yang berterima saat berkomunikasi. Contohnya, mengurangi atau menghilangkan kata “Iya, saya sudah/ baca/ dengar itu.” Ajari anak (dan kita sendiri) untuk menanggapi dengan ilmu yang baru atau diam dan cukup menanggapi dengan kata ‘masya Allah’ atau ‘barakallahu fiik’. Karena pada dasarnya pendengar tidak perlu tahu kalau ‘kita tahu’ kan? Ngerinya jika kita/ anak dianggap pongah dengan mengucapkan itu.

Tentunya, bagian paling menantang dari mengajarkan semua skill komunikasi adalaaaaah: semua ini sebaiknya dimulai dari orang tua dulu. #tariknapaspanjang Fiuuuh.. banyak juga euy peernya. Semangats! Semoga kita dimudahkan dalam mendidik anak-anak menjadi manusia dengan sikap dan tutur kata seperti Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang berakhlak Al Qur’an.


Alhamdulillah, lengkap sudah ulasan mengenai landasan pendidikan sekolah rumah ini. Untuk yang terlewat silahkan klik tautan di bawah ini.

LANDASAN PENDIDIKAN RUMAH BAGI MUSLIM

[LANDASAN #1] MEMILIH VISI DAN MISI

[LANDASAN #2] TANAMKAN TAUHID

[LANDASAN #3] ADAB DAN AKHLAK KEPADA ORANG TUA

[LANDASAN #4] AUTO-PILOT HOMESCHOOL

[LANDASAN #5] MURAQABAH

[LANDASAN #6] AMAL MA’RUF NAHI MUNKAR DAN SABAR

[LANDASAN #7] MENDIDIK KOMUNIKATOR YANG TAWADHU

Iklan