Setelah membahas landasan HS muslim sebelumnya, kini kita berlanjut pada landasan pendidikan rumah nomor 6 yang diambil dari surat Lukman ayat 17. Ayat ini berisi pentingnya shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan perintah untuk bersabar jika mengalami gangguan atau musibah.

***ditulis oleh Mierza Miranti – klastulistiwa.com***

Asy Syaukani rahimahullah menyebutkan bahwa tiga ibadah ini adalah induknya ibadah dan landasan seluruh kebaikan. (Fathul Qodir, 5: 489). Sebagaimana pula yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

“Dirikanlah shalat lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. Perintahkanlah yang baik dan cegahlah yang munkar sesuai kemampuan dan jerih payahmu. Karena untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahi munkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itu, dalam pesan selanjutnya Luqman memerintahkan kepada putranya untuk bersabar.”

Kita ulas satu per satu yaaa…. Pertama adalah ini:

Berilmu Sebelum Mendidik

Tentunya kita tidak mau anak-anak belajar hal atau dari orang yang salah. Agar anak-anak bisa berilmu dengan benar mengenai shalat dan amar ma’ruf nahi munkar, maka kita sebagai orang tua perlu berilmu. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلُحُ

Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan banyak kebaikan.”

kurikulum homeschooling islami
“Mengikat Ilmu Dengan Tulisan” (Doc Pribadi)

Mendidik Tentang Shalat

Ilmu melakukan shalat yang benar sebagai ibadah perlu diberikan sejak dini, justru sebelum anak diperintahkan shalat. Mengajari anak rukun-rukun shalat, misalnya, akan membuat anak tahu bahwa jika rukun ini tidak dilakukan, maka shalatnya tidak sah. Perintah shalat itu datang pada usia 7 tahun sedangkan memukul anak yang tidak shalat itu ada pada usia 10 tahun. Ada jarak 3 tahun untuk membiasakan shalat di awal waktu (dan di masjid bagi anak laki-laki), bukan? Jika waktu yang tidak sebentar ini dimanfaatkan, maka sebenarnya tidak akan ada pukulan, insya Allah.

Mendidik Shalat Sebelum Usia 7 Tahun?

Memang anak belum diperintahkan shalat sebelum usia 7 tahun. Tapi, inilah masa keemasan tuntuk memberikan keteladanan, ajakan, dan ilmu yang akan dipakainya seumur hidup ini. Cara terjitu adalah doa di waktu-waktu mustajab agar Allah yang langsung menggerakkan hati mereka.

Komunitas Homeschooling
Mosqueschooling Komunitas Homeschooling

Selain itu, untuk menumbuhkan cinta dalam beribadah kepada Rabb-nya bisa dilakukan melalui kisah-kisah shahih. Kenalkan pula nash-nash mengenai keutamaan shalat, misalnya hadits shalat fajr yg lebih utama dr seisi dunia, untuk menyentuhkan rahmat Allah yang luas kepada anak. Menumbuhkan cinta juga bisa dengan reward, tapi pastikan mengiringi dengan ilmu diin, agar tdk terjerumus ke dalam hedonisme. Jangan termakan dengan ide ‘reward is bribing‘ (imbalan adalah menyuap) dari ilmu-ilmu parenting masa kini. Noooo… ulama dan generasih shalih terdahulu telah lama melakukan ini dalam mendidik generasi Islam terbaik dan telah terbukti hasilnya. Asal ingat: memberi imbalan pun perlu diin ilmu diin yang cukup.

Berikutnya adalah pembiasaan bangun pagi yang bisa dilakukan saat usia dini. Untuk anak laki-laki bisa mulai diajak ke masjid, sambil mengingatkan mereka tentang adab di masjid. INGAT: JANGAN DITINGGAL! Karena ada hak jamaah lain yang harus dipenuhi dan adab yang harus diajarkan. Sementara itu, anak perempuan diajarkan keutamaan shalat di rumah. Jamaah bisa dilakukan bersama ibu atau saat shalat sunnah bersama ayahnya. Masya Allah, tenyata inilah hikmah hadits shalat sunnah di rumah kecuali shalat wajib.

Selanjutnya adalh tentang ajakan yang positif. Kalimat  seperti “Adik mau shalat?” insyaAllah akan menanamkan keinginan dan doa. Hindari kata pilihan NEGATIF seperti “Adik mau shalat, NGGAK?”  Bagaimana jika mereka memilih tidak mau shalat? Hindari mengiyakan ketidak mauannya (meskipunidak boleh memaksakannya ya). Coba ucapkan kata-kata ekspektasi seperti “Oh, adik mau ikut shalat berikutnya ya” misalnya. Meski bisa jadi berikutnya kejadiannya sama, tapi lagi-lagi kata-kata orang tua bisa menjadi doa yang mustajab.

Dan terakhir, mengenai pemberian teladan. Hal ini tidak cukup dengan mencontohkan, tapi juga memerlukan komunikasi yang baik, ceria, dan tanpa beban. Contohnya saat adzan, ucapkan “Wah, adzan. Wudhu yuk. Ke masjid yuk.” dan yang semacamnya. Begitu pula saat safar. Sebisa mungkin yang dicari pertama kali adalah lokasi masjid atau musholla. Insya Allah keteladanan dan pembiasaan ini akan menumbuhkan cinta.

Mendidik Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Menjalani Dengan Kesabaran

Tentunya hal ini pun memerlukan ilmu. Salah satunya adalah ilmu melakukannya dengan sikap lembut, seperti sabda Rasulullullah dalam hadits riwayat Muslim no. 2594.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya jika lemah lembut itu ada dalam sesuatu, maka ia akan senantiasa menghiasanya. Jika kelembutan itu hilang, maka pastilah hanya akan mendatangkan kejelekan.

Selain itu juga ada hadits mengenai memberikan nasihat secara diam-diam dan beberapa ilmu lain yang mengiringi tindakan amar ma’ruf nahi munkar ini. Karena itu, mendampingi anak ketika mengamalkan menjadi hal yang sangat baik. 

Membersamai anak menjadi penting karena hal ini insyaAllah dapat membentuk kesabaran mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, Mawqi’ Al Islam, mengatakan,

Setiap orang yang ingin melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pastilah mendapat rintangan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bersabar, maka hanya akan membawa dampak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”

Menyisir Sampah Tahun Baru Masehi di Taman Kota Bersama Komunitas HS Muslim
“Pagi Hari 1 Januari 2016 M Saat Menyisir Sampah Tahun Baru di Taman Kota Bersama Komunitas HS Muslim” (Dok. Pribadi)

Kesabaran ini tidak semudah mengucapkannya. Kita pun sebagai orang dewasa sulit melakukannya, apalagi anak-anak. Karena itu membersamai anak dan mengingatkan mereka mengenai kesabaran setelah melakukan amal ma’ruf nahi munkar itu adalah pilihan yang tepat. Selama kita ada, akan ada bahu bagi mereka untuk tempat bersandar dan tangan kita untuk memeluk. Akan ada tepukan kita di dada mereka untuk memberi semangat dan senyuman untuk menguatkan. Jadi, hadirkan diri hingga mereka bisa menguatkan diri sendiri dan bersabar dengan gangguan.

Jangan takut dengan stempel, “Anak nempel”, “Ga berani lepas”, atau yang semacamnya. Bukankah Ibnu Abbas mendapatkan nasihat berharga saat dibonceng Rasulullah? Insya Allah akan ada saatnya anak akan mengepakkan sayap dengan lebih berani, dengan cara yang benar dan lebih sabar.

Sila klik tautan untuk landasan pendidikan rumah yang lainnya:

[LANDASAN #1] MEMILIH VISI DAN MISI

[LANDASAN #2] TANAMKAN TAUHID

[LANDASAN #3] ADAB DAN AKHLAK KEPADA ORANG TUA

[LANDASAN #4] AUTO-PILOT HOMESCHOOL

[LANDASAN #5] MURAQABAH

[LANDASAN #6] AMAL MA’RUF NAHI MUNKAR DAN SABAR

[LANDASAN #7] MENDIDIK KOMUNIKATOR YANG TAWADHU

Sumber:

“Begini Seharusnya Menjadi Guru” oleh Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub,  terbitan Darul Haq,  1433 H

https://muslim.or.id/20020-nasehat-akhlak-dari-lukman-pada-anaknya.html

https://rumaysho.com/682-3-bekal-amar-maruf-nahi-mungkar.html#_ftn1

https://muslimah.or.id/7642-pesan-pesan-luqman.html

Iklan