My Reflection

[CATATAN KAJIAN] Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga

BAB 6: ADAB-ADAB PENUNTUT ILMU

ADAB KETIKA DI MASJID

4. Memelihara kebersihan,  kesucian, kehormatan masjid.  

Ada laki-laki meludah  menghadap kiblat, itu seperti meludahi diri sendiri.  Imam Ahmad pernah melihat qahza (potongan kayu kecil) di masjid,  maka beliau ambil potongan tersebut. Ini menjadi contoh juga bagi anak didik yang. Imam Bukhari pernah melihat pisang lain membuang benda yang kecil di masjid. Beliau tunggu semua orang  keluar dari masjid, lalu mengambil kotoran tersebut. Dianjurkan mengharumkan ruangannya, membersihkan lantai dan karpetnya.

5. Menjaga perabot milik wakaf.

Mushaf ditempatkan di rak/ laci agar tidak rusak.

6. Tidak mengeraskan suara, baik membaca Quran maupun berbincang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan semacam ini. Hal ini sebagaimana hadits yang diceritakan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para sahabat) mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) mereka. Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang berdialog dengan Rabb kalian. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca Al-Qur’an” atau beliau mengatakan, “atau dalam shalatnya.”” (HR. Abu Dawud no. 1332, shahih)


عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كُنْتُ قَائِماً فِى الْمَسْجِدِ فَحَصَبَنِى رَجُلٌ ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ : اذْهَبْ فَأْتِنِى بِهَذَيْنِ . فَجِئْتُهُ بِهِمَا . قَالَ : مَنْ أَنْتُمَا ؟ – أَوْ مِنْ أَيْنَ أَنْتُمَا ؟ قَالاَ : مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ . قَالَ : لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لأَوْجَعْتُكُمَا ، تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِى مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ؟

Dari As Saa’ib bin Yazid ia berkata, “Aku pernah berdiri di masjid, lalu ada yang melempar batu kerikil kepadaku, maka aku melihat, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab ia berkata, “Pergilah, ambillah kedua batu ini.” Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua batu itu. Ia (Umar) bertanya, “Siapa kamu berdua?” atau “Dari mana kamu berdua?” Keduanya menjawab, “Dari penduduk Tha’if.” Ia berkata, “Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu kamu berdua aku sakiti; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)

Ketika masuk masjid,  dahulukan kaki kanan, dan berdoa dengan salah satunya:

بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah kepadaku pintu rahmat-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketika keluar masjid, doa

بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ

“BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWABAA FADHLIK(artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Doa keluar dan masuk masjid ini tidak terikat satu sama lain. Jika lupa salah satu, tetap dapat pahala.

7. Memasuki masjid dengan tenang,  melakukan shalat sunnah tahiyatul ma sjid. Jaga kebersihan badan. Bagi laki-laki, gunakan minyak wangi.


3 LANDASAN UTAMA

Hal.141

2. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kerap mendatangi perkemahan tempat berbagai kafilah untuk berbincang dalam rangka berdakwah. Kaum Anshar adalah yang menerima. Itulah hidayah.  Surat Ibrahim Ayat 4
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

3. Dari hasil dakwah tersebut,  pada musim haji berikutnya,  datang jumlah yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Kaum Anshar membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

4. Setelah peristiwa baiat menyebar, kafir Quraisy kuatir bila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertemu dengan sahabat di Madinah dan menjadi kuat. Mereka berdiskusi dan akhirnya memutuskan satu orang dari semua kafilahuntuk membunuh beliau. Surat Al-Anfal Ayat 30
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Tapi nabi sudah tau dari malaikat Jibril. Nabi keluar tanpa disadari menuju rumah Abu Bakar dan menginformasikan bahwa perintah hijrah sudah ada. Beliau mengajak Abu Bakar hijrah dan Abu Bakar mau meski berbahaya. Abu Bakar menangis.

Tinggalkan komentar