Diantara kedzoliman dan kebodohan manusia terhadap dirinya sendiri adalah ia membuka aibnya padahal sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupnya.”#JLEB

Bismillah…

Ketika ilmu itu terhampar, yang langsung terngiang-ngiang adalah saat berniat membuat blog dan mengisinya, serta tulisan-stulisan ‘curhat‘ pada sosmed yang dimiliki. Betapa banyak aib diri yang tersebar dengan dalih ‘agar orang bisa belajar dari kejadian ini’ atau ‘agar tulisan lebih mengalir karena pengalaman pribadi atau yang paling menyedihkan adalah ‘agar laku’. Wa’iyadzubillah….

Lalu, disebutkan pula hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang Al Mujaahiriin yang diriwayatkan dalam kitab shahih Al Bukhori dan Muslim , yang artinya:

Telah mengabarkan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibrohim bin Sa’d dari anak saudaraku Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk –ed.) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk – ed.). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (keesokan harinya –ed.)”[sumber].

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Orang-orang ini terbagi menjadi dua golongan :

[1]. Orang yang melakukan perbuatan maksiat dan ia menunjukkan perbuatannya tersebut dihadapan manusia dan manusia yang lain pun melihatnya. Yang demikian ini tidaklah kita ragukan lagi bahwa mereka termasuk golongan Al Mujaahiriin dan tidak akan mendapat ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

[2]. Orang yang melakukan perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi missal di waktu malam kemudian Allah menutup aibnya tersebut, atau seseorang yang melakukan maksiat di rumahnya sendiri kemudian Allah menutup aibnya tersebut sehingga manusia lainnya tidak dapat melihatnya sehingga seandainya ia bertaubat kepada Allah maka jelas hal itu akan baik baginya. Namun ketika ia menemui hari berikutnya dan bertemu dengan orang lain dia mengatakan, “Aku telah melakukan perbuatan maksiat ini dan itu” maka orang yang demikian ini termasuk orang yang tidak akan dimaafkan Allah Subhana wa Ta’ala dosa-dosanya. Orang ini termasuk Al Mujaahirin padahal sebelumnya telah Allah tutup aibnya.

Hal di atas tidaklah muncul melainkan karena dua sebab :

[1]. Dia menceritakannya karena lupa dan tidak sengaja sehingga ia menceritakan keburukannya itu dengan hati yang tidak berniat dengan niat yang buruk (semisal ingin berbangga bangga dengan maksiatnya –ed.).

[2]. Dia menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga ketika ia menceritakannya dengan semangat (dia merasa) seolah-olah ia telah mendapatkan ghonimah (harta rampasan perang) maka jenis ini adalah jenis yang paling buruk diantara dua penyebab di atas”[sumber] 

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah. Membuat alasan untuk mengulang kesalahan bisa jadi solusinya, tapi bagaimana dengan ketenangan hati?

Ah ya… maka dengan ini klastulistiwa.com akan bebenah. Mencoba menghadirkan diri di tengah umat untuk menyampaikan informasi, ilmu,  (semoga) nasihat, dan sedikit jualan pribadi atau paid-review. Mencoba mengingatkan diri untuk mengurangi curhat dengan dalih apapun, tanpa dalih bahwa ini  solusi yang bisa jadi berfungsi seperti Question and Answer.

Bukankan sarana dan tujuan harus sejalan? Semoga saya dan kita semua dimudahkan untuk mendengar perintah dan larangan (agama) untuk kemudian menaatinya – tanpi tapi, tanpa nanti.

Iklan