Sebagai Muslim, sangat penting bagi kita untuk menjaga kesehatan qalbu (selanjutnya disebut jiwa atau hati dalam bahasa kiasan). Pun jika hati kita sakit, kita perlu vitamin yang bagus untuk masa penyembuhan sama halnya dengan vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit. Kesehatan jiwa ini dinilai sangat penting untuk memaksimalkan kualitas kehidupan seorang muslim. Betapa tidak, Allah saja bersumpah 11 kali dalam surat As Syams untuk membuktikannya.

Perhatikan sumpah Allah pada kata yang dicetak tebal dalam arti surat tersebut:

220px-ash-shams

1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
2. dan bulan apabila mengiringinya,
3. dan siang apabila menampakkannya,
4. dan malam apabila menutupinya ,
5. dan langit serta pembinaannya,
6. dan bumi serta penghamparannya,
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,
12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,
13. lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”.
14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),
15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Lihatlah bagaimana Allah bersumpah 11 kali atas nama (1) matahari dan (2) cahayanya di pagi hari, (3) bulan apabila mengiringinya, (4) siang apabila menampakkannya, (5) malam apabila menutupinya, (6) langit serta (7) pembinaannya, (8) bumi serta (9) penghamparannya, (10)  jiwa serta (11) penyempurnaannya (ciptaannya) untuk menyatakan sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Mengapa Kesehatan Jiwa Itu Penting?

Belum pernah Allah bersumpah sebanyak itu untuk menekankan bahwa seorang mukmin harus lebih memperhatikan kesehatan hatinya secara maksimal. Tentu kita sudah tahu bahwa perjalanan seorang muslim akan berakhir dengan kematian. Hati yang sehat akan memberikan kekuatan maksimal dalam kehidupan yang fana ini untuk menjalani misi sebagai muslim. Karena nanti, selamatnya hati pada hari kiamat, menentukan perjalanan muslim tersebut di akhirat sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat As Syuara ayat 88-89:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, [QS. Asy-Syu’ara’: 88].

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ؕ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, [QS. Asy-Syu’ara’: 89].

Maka benar, seorang mukmin harus memperhatikan kesehatan hati dan jiwanya daripada badannya. Seorang muslim perlu berusaha mencari vitamin yang bagus untuk masa penyembuhan hatinya, seperti halnya vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sembuh  sakit raganya.

3 Jenis Kondisi Hati

Kondisi kesehatan hati dibagi menjadi 3 jenis (sumber tambahan lihat di sini):

  1. Qalbun Shahih (hati yang suci/ sehat) —  yaitu hati yang takut menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mendekati penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Segala yang dilakukan hanya untuk Allah, dimana ia mencintai dan membenci karena Allah, patuh pada syari’at-Nya serta mempunyai landasan yang kuat dalam menjadikan Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam segala hal. Hati yang sehat menyadari bahwa ia bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat. Hati yang sehat merasakan sakit yang tiada terperi jika tertinggal peribatan. Hati yang sehat tidak menyia-nyiakan waktu, tidak pernah terputus/ malas/ futur untuk mengingat Allah, serta senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang sehat bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan urusan dunia. Hati yang sehat lebih mengutamakan kualitas amal perbuatan daripada kuantitasnya, serta ikhlas dalam beramal, mengikuti syari’at Rasulullah saw, selalu merenungi karunia yang diberikan Allah, dan mengakui kelalaian dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, jika kita abai akan hal ini, berarti hati kita masih berpenyakit.
  2. Qalbun Mayyit (hati yang mati) — adalah hati yang memperturutkan keinginan hawa nafsunya meski Allah Subhanahu wa Ta’ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan  walaupun hal ini menjadikan. Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup hati mereka.
  3. Qalbun Maridl (hati yang sakit) — hati yang tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan yang dapat menjadi parah jika tidak diobati.

Bagaimana Menjaga Kesehatan Hati?

Menurut Ibnul Qayyim, menjaga kesehatan hati itu sama dengan menjaga kesehatan tubuh. Apa sajakah kesamaan itu?

  1. Tubuh perlu stamina melalui vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh setelah sakit seperti Theragran-M. Hati pun demikian. Staminanya perlu dijaga melalui pembiasaan amalan shalih.
  2. Tubuh tidak boleh dirusak melalui zat-zat yang destruktif, seperti rokok dan minuman keras. Begitu pula hati. Menjauhi maksiat dan tontonan yang haram, misalnya, akan sangat menyelamatkan kesehatan hati.
  3. Tubuh tidak boleh berpenyakit. Karena itu, berbekam dan berobat sangat dianjurkan untuk mengeluarkan penyakit dari dalam tubuh. Untuk mengeluarkan penyakit hati, seorang muslim perlu memperbanyak istighfar dan bertaubat.

 

Bagaimana Cara Mendeteksi Penyakit Hati?

  1. Mengenali penyakit-penyakit hati.
  2. Mengenali penyakit apa yang menjangkiti hati kita.
  3. Mengenali obat dari penyakit hati, yaitu:
    • Membaca Al Qur’an — sebagai penyembuh dari apa yang ada di dada-dada manusia. Semakin sakit hati, semakin ditambahkan dosisnya.
    • Dzikrullah — yang harus dipaksakan seperti pil yang ditelan meskipun pahit.
    • Doa — karena Allah-lah yang menyembuhkan.
    • Thalabul ilmu (menuntut ilmu syar’i)  –sebagai obat yang sangat diperlukan.

Demikianlah catatan seorang Muslim yang menginginkan kehidupan berkualitas yang maksimal dari persinggahan yang sementara ini. Banyak dari tulisan ini yang diambil dari kajian rutin hadits Arba’in bersama Ustadz Badrussalam pada tanggal 12 Juli 2017. Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk menjaga kesehatan hati secara maksimal.

kesucian hati

 

Iklan