Telecommuting adalah pekerjaan yang tidak mementingkan kehadiran di tempat kerja dan banyak dilakukan Gen-Z. Saya salah satu yang melakukannya. Lalu, saya Gen-Y atau Gen-X? Ng… secara umur, saya terperangkap dalam tubuh Gen-Y, tapi kinerja dan kreasi lebih masuk ke performa Gen-Z. #ecieecieee. Alhamdulillah, kini masuk tahun kesekian bekerja sama dengan dua perusahaan yang berlokasi di luar Indonesia untuk menjadi penulis media dan produk mereka – plus beberapa proyek lepasan. So yes, I am a telecommuter.

MEMILIH CARA BEKERJA

Haaaa? Gen-Z??? Umuuurrr Buuu… Umuuuurr… wkwkwk. Etapi beneeer, saya diduga Gen-Z oleh beberapa HRD yang menyaring saya hahaha. Hmmm… mungkin karena dilihat juga dari mentalnya saya pada perusahaan yang menawarkan skema Gen-X yang kuno dengan segala bonus kinerja dan fasilitas untuk berjam-jam masuk kerja. Seperti telecommuter lainnya, kami memilih bagaimana cara kami bekerja. Untuk model saya yang emak-emak begini… Kadang saya kejar target, kadang jauuuh dari target. But I ensure ONE thing: QUALITY.
Jadi, ya tahu sama tahu ajah situ butuh apah, sinih butuh gimana. Daaan.. kayaknya semakin banyak juga pekerja2 yang kayak saya, malah lebih banyak yang ga pake ijazah dan jauuuh lebih muda. Penghasilan mereka jelaaas sebanding dengan kuantitas yang sulit saya kejar. Kalau saya kejar, penghasilannya sama bahkan bisa lebih dari kerja pagi-sampe malam saya jaman dulu… cuma ini di rumah, dasteran, ngupi2… Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushshalihaat.
Jadi, yakin masih perlu ijazah? Haha.. bukan itu sih poinnya. Poinnya adalah…

APAKAH ORANG TUA MENYADARI TREN INI?

Bahwa bisa jadi, perusahaan sudah tidak lagi membayar tinggi untuk pekerjaan yang membayar jumlah jam. Bukan lagi kuantitas tapi kualitas. Bukan lagi kehadiran tapi selesainya tuntutan. Bukan lagi jobdesc tapi job expectation.

Oh noooo.. Jadi Gimana Dong?

Tenaaang… ada beberapa kecakapan hidup yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak sejak mereka masih kecil. Kecakapan hidup ini insyaAllah akan memudahkan mereka meraih (bukan mengejar) dunia.

Apa Saja Kecakapan Hidup Itu?

1. Cinta Baca

Ini bukan baca dalam calistung model baru masuk sekolah yaaa. Membaca disini yaitu mencari ilmu dari bacaan dan tahu bagaimana cara mengenali bacaan bergizi. Jauhkan TV! Saya serius. Membaca buku bergizi akan memberikan stimulasi pada otak anak untuk berpikir kreatif dan kritis dalam menghadapi tantangan. Contohnya? Saya baru masuk dunia telecommuting ini baru-baru ini kok. Tawaran pertama adalah review produk-produk elektronik yang mbuh dulu saya blass ga ngerti apaan artinya. Tapi alhamdulillah Mama rahimahallah mengajari saya pentingnya membaca. Saya cari tahu apa saja yadan melengkapi diri untuk bisa menyesuaikan diri dengan ekspektasi klien.. dan saya bertahan alhamdulillah.

 

2. Komunikasi Lisan dan Tertulis

Jauhkan mereka dari bahasa alay hahaha. Boleh lah kenal bahasa itu asal mereka dikenalkan cara berbahasa ibu secara lisan dan tertulis. Ngobrol banyak-banyak, setelah membaca buku bergizi tentunya, akan membangun banyak kosa kata untuk mereka miliki. Kosa kata ini penting untuk membangun bahasa. Ajarkan pula anak-anak kita untuk berani berbicara di depan orang lain – sesuai tatanan syariat.

 

3. Bilingualisme Setelah Bahasa Ibu

Kalau ini pengalaman pribadi. Saya baru belajar bahasa Inggris pada usia SMP tanpa kursus. Tapiiii, saya dicemplungkan oleh Ibu ke dalam beberapa klub percakapan! Megap-megap gapapalah, katanya. Tapi hasilnya? Masya Allah, I survived the language.

InsyaAllah itulah yang saya terapkan kepada anak-anak. Saya TIDAK mengajarkan bahasa Inggris sejak kecil. Anak-anak saya saya kuatkan dulu bahasa Ibu, serta bahasa Arab untuk mereka pakai sebagai ilmu alat. Tapi untuk komunikasi dalam bahasa lain, insyaAllah akan saya mulai dari usia minimal 10 tahun. Yes, just like what my late mum did. Dan ternyata benar kata pepatah: ‘Bahasa menghaluskan budi.’

Dengan 3 kecakapan hidup dasar ini banyaaak GenY yang menyebrang menjadi GenZ. Menghilangkan ketakutan akan ‘ga bisa makan papan’ eh… ‘hidup mapan’. Lagipula, bukankah dunia ini hanya sementara? Mapan hanya bisa didapatkan dalam kehidupan setelah kematian. ^_^

So, parents… Are you ready?

Iklan