Huwaaaat? Skip challenge yang lagi viral itu? Yang permainannya menekan dada sekeras-kerasnya dan menyebabkan pingsan atau kejang-kejang itu?

Yess… yang itu. Yang ramai-ramai dibagikan para remaja dengan hestek #skipchalllenge yang katanya kekinian itu. Ng.. sebenarnya siiiih ga baru-baru banget.

Huwaaat??? Ga baru-baru bangeeet?

Hedeeeeh… iyeeees. Jaman saya lagi ngehits dulu, nama permainannya Yoko-yokoan (mungkin terinspirasi dari film legenda ular putih hihi) Terus jamannya Paksu lebih lama lagi, namanya surup-surupan.

Saya saat itu gimana? Yaaaa… berasa waw aja gituh: mereka berani. Tapi cuma bisa senyum dan melipir ketika ada yang mengajak wkwkwk.

Yup. I chose NOT to do it. Biarin dah dikata ga keren. Ga gahul. Kenapa harus malu dengan standar yang dibuat orang lain? Begitu pesan Mama saya, rahimahallah, yang berhasil membantu saya mendefinisikan kata keren dalam KBBM: Kamus Besar Bahasa Mierza.

Kalau ada hal ‘keren’ yang dilakukan teman-teman, Mama tanya ‘Kenapa ya harus gitu? Itu tujuannya apa? Kalau buat… kenapa gak…” dst dsb dki dllaj. Beliau selalu bersedia mendengar, meski setelah memarahi sebentar kalau saya ketauan ikutan aneh-aneh hahaha… Tapi selanjutnya ya saya dibantu dalam mencari solusi. Tanpa label. Sampai teman-teman kuliah saya menyebut saya dan Rahimahallah Gilmore Girls saking kompaknya.

 

***PELABELAN DAN PENGABAIAN KITA***

Oke balik lagi ke skip challenge tadi. Akhirnya, sebagai orang yang pernah merasa ‘remaja’, saya sampai pada kesimpulan ini. Anak-anak abegeh itu  ituuu.. yang pada sekip2 chellenj, mereka jarang ditanya ‘KENAPA’ sama orang2 dewasa sekitarnya. Jarang dilibatkan. Jadi, IMO… ya itu murni bukan kesalahan mereka.

Itu hasil dari pelabelan dari KITA. Dari pengabaian kita. Wong kita sebagai orang dewasa  juga belum apa-apa udah berburuk sangka sih.

Huwaaat??? Yu don seeei!

-_-  Masuk ke contoh deh. Misalkan ketika kita melihat remaja (yang kita kenal) gayanya agak ajaib, apa yang kita lakukan? Kalau kita ujug-ujug memarahi, nyindir, melototin, atau malah menjaut sambil bilang pait pait pait.. yaaa kita termasuk orang dewasa yang doyan melabel atau mengabaikan.

Akibatnya? Yaaaa kayak cermin deh. Anak-anak itu bisa jadi akan mengiyakan label dari kita. Bisa jadi mereka akan menyukai pengabaian yang kita lakukan. “Ok fine, gue beli! Gitu kasarnya”

Lalu, mungkin kita bertanya: “Tapi kaan.. adabnya gimanaaa? Masa depannya gimana kok yo kayak gituuuu modelnya? Dimana ilmu agamanya?? Orang tuanya pasti didiknya ga bener. Anak jaman sekarang. Generasi alay tuh. Pasti kena harta haram.” Nah kaan.. nah kaaan. Well, that’s labelling.

Okeee.. okee.. saya ga bilang mereka ga salah loooh. Saya fokus pada KITA. Iyes, KITAAAA. Kita yang (ga semuanya memang) telah melabel dan mengabaikan anak remaja itu. What have we done about it? Cuma heboh share2 aja mah malah bikin mereka pada semangat melakukan yang lebih ajaib lagi. Trust me, been there done that. Adrenalin, meeeen…. yang begituh aja viral, apalagi yaang…. silahkan isi titik-titiknya.

Mulai ga setuju soal pelabelan dan pengabaian? Hehe.. bagaimana jika saya katakan bahwa kita memperlakukan pemuda-pemudi itu (ganti kata remaja yah) TIDAK  seperti Rasulullah memperlakukan mereka?

Hmmm.. coba renungkan kembali deh, jika ada seorang pemuda (yang kita kenal yaaa… anggap aja tetangga) datang pada kita bertanya.. hanya bertanya loh ya… “Bu, di komplek ini saya boleh berzina?”

Apa jawaban Anda?

A. Langsung menegur “Ga boleh, dosa!”

B. Membiarkan, ga enak soalnya sama tetangga.

C. Ngamuk, marah-marah.

D. Menantang akalnya untuk berpikir.

Jika Anda memilih D dengan mengarahkannya pada dalil, makaaa.. masyaAllah… Anda mengambil cara yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi pemuda-pemuda yang ajaib pola pikirnya ini. Serius.

Inget ga kisah seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!” dalam hadits shahih riwayat Ahmad? Orang-orang sekitarnya pada menghardik kan? Tapi, apa yang Rasulullah lakukan?

Rasulullah bilang ga, “Heleh, mikirnya ke situ mulu” atau.. “pasti deh anak muda jaman sekarang”  (inga2.. tetep ada yg ga percaya dengan Islam tho saat itu).

Ngga. Rasulullah malah mengajaknya mendekat. Menantang akalnya untuk berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan seperti, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain? Putrimu? Saudari kandungmu? dan seterusnya… (nash lengkapnya ada di bagian bawah postingan ini di klastulistiwa.com ya)

Abis nasehatin itu, apa yang Rasulullah lakukan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.

Nah kaaaan… Pemuda itu didoakaaan saudara-saudaraaaa… bukannya dinyinyirin, disumpahin, dijauhin, dst, dsb, dki, dllaj.

See? Jadi, sebelum melabel atau membiarkan mereka, sudahkah kita berdialog? Bertanya? Mencari tahu? Mendekati mereka? Atau kita mencukupkan diri dengan pelarangan dari Mendikbud tentang si sekip ini? (Baru dimuat media baru-baru ini, Buibuuuu)

Hedeeeh… kalau cuma larang-larang, yang ada itu akun-akun Instagram digembok deh… Eit… viral teuteup: di kalangan sendiri. Efeknya? Yaaa kita ga bisa tau lagi apa yang mereka lakukan. Lebih bahaya mana???

.

***SO TO WRAP UP***

Kalau ternyata mengubah remaja seluruh Indonesia masih terlalu gegap gempita, yuks kita mulai dululah dari pemuda-pemudi yang terdekat. Mulai dari anak kita, saudara kita, tetangga kita, anak teman kita. Libatkan mereka dalam percakapan. Libatkan diri kita dalam dunia mereka. Tahan semua label negatif. Mereka hanya ingin didengarkan, dipahami, dan diluruskan dengan cara yang baik.

Tapiii… usahakan jangan terlibat lho yaaa. Maksudnya jangan malah ikutan sekip2an wkwkwk. Yakin deh, mereka punya istilah buat orang dewasa seperti ini: sok asik. Mereka ga butuh orang dewasa yang sok asik. Yang mereka butuhkan orang dewasa yang konsisten. Yang bersedia mendengarkan. Yang mengarahkan tanpa melabel.

Yuks, latih cara berkomunikasi dengan para pemuda harapan bangsa ini. Belajar cara komunikasi seperti Rasulullah melalui nash-nash yang shahih agar tuh ilmu ga masuk kuping kiri keluar kanan.

Yang pastiiii… selalu minta bantuan Allah agar kita dianugrahi generasi penerus yang diberkahi. Doakan.. doakan.. doakan… doakan generasi ini tanpa lelah. Bukankah “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka?” (Ar Ra’d:11)


Catatan:

Berikut hadits yang dimaksud dalam posting ini…

Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” sahut pemuda itu.

Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” pemuda itu kembali menjawab.

Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.

Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!

Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.

Relakah engkau jika bibi – dari jalur bapakmu – dizinai?

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!

Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.

Relakah engkau jika bibi – dari jalur ibumu – dizinai?

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!

Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina.

*) Lihat hadits riwayat Ahmad, no. 22211; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.

 

Iklan