If you are under 13 years of age, then please do not use the Service. There are lots of other great web sites for you. Talk to your parents about what sites are appropriate for you.

Itulah kalimat yang dapat ditemukan pada laman Terms of Service (ToS) Youtube ini. Dan ToS ini pun berlaku pada beberapa layanan generik Google lainnya, seperti Blogspot, Google, dan Gmail. Intinya, jika anak kita masih berusia di bawah 13 tahun, maka kita harus mencari alternatif layanan yang ramah anak. Bukankah kita sudah teredukasi dengan baik (setidaknya melalui dunia maya) bahwa ada yang disebut dengan bahaya predator online?

Bahkan National Geographic  dalam link ini pun menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia sangat rawan diburu predator seks dunia maya. Lalu, bagaimana jika terlanjur? Nahhh, simak terus artikel ini untuk mendapatkan jawabannya, ya. ^_^

Bahaya Predator Online Itu Ada

Oke, sebelum membahas tentang bahaya predator online, kita cari tahu dulu definisi predator online. Manusia jenis ini yang pasti bukan mahluk unyu, melainkan manusia berbahaya dan harus dihindari.

Apa Itu Predator Online?

Banyak definisi yang bisa kita temukan di internet. Salah satunya dari situs iPredator yang mendefinisikan manusia jenis ini sebagai mahluk yang memanfaatkan anak kecil hingga orang dewasa untuk dimanfaatkan secara seksual atau tujuan buruk lainnya. Predator online memiliki banyak cara untuk menarik calon korban dan memanfaatkan kelengahan mereka. Biasanya, korban yang tidak menyadarinya saking ‘baiknya’ profil yang ditampilkan. Biasanya akun-akun yang dipakai adalah akun palsu karena memang dibuat untuk tujuan yang tidak baik.

Apa Itu Predator Online?

Banyak definisi yang bisa kita temukan di internet. Salah satunya dari situs iPredator yang mendefinisikan manusia jenis ini sebagai mahluk yang memanfaatkan anak kecil hingga orang dewasa untuk dimanfaatkan secara seksual atau tujuan lainnya. Predator online memiliki banyak cara untuk menarik calon korban, tapi korban yang lengah tentu tidak menyadarinya saking ‘baiknya’ profil yang ditampilkan. Biasanya akun-akun yang dibuat adalah akun palsu karena memang dibuat untuk tujuan yang tidak baik.

Serigala Berbulu Domba

Masih ingat peribahasa ‘Serigala berbulu domba’? Nah, peribahasa ini cocok sekali menggambarkan predator online yang terkadang disebut juga sebagai predator seksual, cyber predator, atau predator internet.

Tahukah Anda? Ternyata jumlah data korban kejahatan melalui internet yang melapor dan terdeteksi itu hanya berupa fenomena gunung es. Artinya, kasus-kasus kejahatan yang diakibatkan oleh mahluk-mahluk ini sangat banyaaaaak dan harus diwaspadai, terutama oleh orang tua. Di Indonesia, terutama, keberadaan predator online sangat sulit dilacak karena memang membuat akun palsu di media sosial dan mengganti-ganti no telfon itu sangat mudah – bahkan murah. Tentunya, mencegah predator ‘memasuki rumah’ kita menjadi solusi terbaik – well, setidaknya bagi kami.

Batas MInimal Google

Better Late Than Early

Ini personal preference lho yaaaa. Alasannya? Karena, perjalanan hidup anak kecil hingga dewasa itu kan puanjaaang, insyaAllah. Kegiatan anak melalui internet seperti jadi Yutuber asik, endorser terkenal, online marketter kaya, atau bisa segala macam melalui internet itu ternyata belum tentu mendatangkan manfaat bagi dirinya. Apalagi jika menggunakan platform yang tidak sesuai umur. Jika memang suatu layanan, rumah, tempat, acara, benda, atau apapun itu memang menyasar usia di atas 13 tahun, ya nurut dan kreatif aja. Kan, buat kebaikan anak-anak kita jugaaa. Jika memang passion-nya di bidang itu, ya akan ketemu jalannya. Pasti ada alasan dibaliknya, kok. Baca agreement-nya dan cari alternatif yang aman. Pilihlah layanan-layanan yang aman dan khusus dibuat untuk anak-anak, misalnya YouTube Kids atau apa saja yang tidak mengsyaratkan umur. 

Tapi, Anakku Sudah Terlanjur Punya. Gimana, dong?

Nah, yang pertama harus kita lakukan ya menerima dengan ikhlas dulu yaaa. Kata-kata “Tapi kaaaaan…” disimpen dulu di lemari. Setelah terima, kita bisa mulai dengan beberapa step seperti:

  1. Ngobrol. Nah, iya.. anak-anak juga manusia kaaan. Mereka pastinya ingin tahu kenapa tetiba orang tuanya berubah pikiran. Dari yang memperbolehkan akses Youtube sendiri tanpa pengawasan, sekarang kok manteng di sebelahnya? Utarakan bahwa kita melakukan ini agar mereka tetap aman. Karena kita sayang.
  2. Hapus akun anak. Disini kita juga mengajarkan kejujuran dan ketaatan terhadap aturan. Oh iya, sebisa mungkin anak-anak melihat atau malah melakukannya sendiri ya untuk pembelajaran semua. Iya, semua: ibu dan ayahnya juga. Biar ga terlalu nelangsa, mungkin beberapa hal penting, seperti unggahan, file, foto,  video, atau aplikasi yang terhubung dengan akun anak dicatat, lalu dialihkan ke akun orang tua.
  3. Buat perjanjian baru penggunaan internet aman di rumah. Memang membesarkan anak untuk bisa membuat pilihan-pilihan sehat memang susah-susah gampang yaaaa. Tapi, bukannya tidak mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mengakomodir kemampuannya untuk menepati amanah. Karena itu, sebisa mungkin, buka dialog agar anak benar-benar paham alasannya.
  4. Gunakan akun orangtua. Ketika ada kondisi-kondisi yang mengharuskan anak menggunakan layanan 13+, seperti tugas sekolah misalnya, dampingi sepenuhnya. Bukankah apa yang mereka lihat, baca, dengar adalah amanah dan tanggung jawab kita? Internet itu seperti dua mata pisau. Pendampingan yang tepat bisa membantu anak untuk membuat pilihan sehat nantinya, insyaAllah.
  5. Download video, file, gambar, dokumen, atau apapun untuk digunakan secara offline. Untuk video, kita bisa menggunakan keepvid.com atau aplikasi tubemate untuk Android.
  6. Terakhir dan terpenting: Apresiasi anak jika ia telah menepati janjinya untuk menjalani internet sehat sesuai aturan. Because indeed, the reward is supposed to go beyond the punishment, isn’t it? 😉

Semoga anak-anak kita terus Allah jaga agar tetap aman dan tetap mendapatkan manfaat dari berselancar di dunia maya.

Iklan