Bismillah…

Setiap orang tua muslim pasti ingin mendidik anaknya agar bisa mentauhidkan ALLAH dan beribadah dengan benar berdasarkan apa yang diajarkan Rasulullah. Tapi mungkin derasnya informasi, rujukan, dan rekomendasi saat ini membuat orang tua bingung mengambil keputusan. Salah satunya mengenai boleh tidaknya anak kecil diajak melihat prosesi Qurban. Kebingungan itu terlihat dariiii… linimasa sosmed saya hehe.

Jadi, Boleh Tidak Mengajak Anak Menyaksikannya?

Jawaban yang tepat, jika Anda, saya, atau siapapun yang BELUM faqih dalam bidang agama adalah TIDAK TAHU – terutama jika kita belum bertanya kepada ulama. Kesampingkan gelar sarjana/master/doktor Pendidikan, Psikologi, Filsuf, Pakar Parenting atau gelar apapun jika kita tidak memiliki ilmu agama yang memadai. Jangan berikan pendapat yang mengandalkan logika manusia dan pengalaman kita yang terbatas.  CUKUP KATAKAN TIDAK TAHU.

Lalu, tanyakan kepada para ahli, ustadz, asatidz, atau ulama. Karena merekalah yang menguasai ilmu agama, yang mengkaji (BUKAN HANYA MEMBACA) puluhan kitab BERULANG-ULANG,  dan menyampaikannya kepada umat. Karena ulama adalah yang memiliki ketakutan yang sesungguhnya kepada ALLAH, bukan kita (saya deng) yang hanya seorang awam.

Jadi, Apa Jawabannya?

Sebentar. Jadi paham ya urutannya.

1. Jika kita (yang awam ini) ditanya dan kita benar tidak tahu, JANGAN JADIKAN RUJUKAN ILMU DUNIA (PENDIDIKAN BARAT, PSIKOLOGI, APALAGI FILSAFAT) untuk menjawabnya.

2. Pergilah kepada ulama dan tanyakan masalahnya.

Nah… Karena saya tinggal di sekitar Tangerang Selatan, maka saya pergi bertanya kepada 2 ustadz yang secara rutin menggelar kajian di daerah ini, disamping melontarkan pertanyaan pada sebuah grup Islam ilmiah BISA yang menyandarkan kajiannya pada Al Qur’an dan Sunnah dalam pemahaman salafush shalih atau orang-orang shalih terdahulu

PERTANYAAN SAYA:

“Boleh/ tidak mengajak anak kecil melihat penyembelihan hewan Qurban? Apakah ada dalil/ fatwa/ contoh mengenai ini? Usia berapa boleh/tidaknya anak menyaksikan penyembelihan? Saya merasa bingung karena masing2 berhujjah dengan pendapat atau ilmu dunia atau psikologi.”

JAWABAN YANG DIDAPATKAN:

1. Pertama dari Grup BIAS atau Bimbingan Islam ini dibimbing oleh Ustadz Firanda, Ustadz Abdullah Roy, dan Asatidz lainnya. Lumayan lama menunggu lainya, sampai saya tertidur. Tapi alhamdulillah, keesokan harinya akhirnya dijawab seperti ini:

“Ilmu filsafat dan psikologi modern tidak akan selaras dgn hukum islam. Kebanyakan ilmu2 tersebut merusak Aqidah. Bukankah Shohibul Qurban (kepala keluarga & anggota keluarganya ) di sunnahkan untuk memotong sendiri..atau jika tidak memotong sendiri.. disunnahkan menyaksikan penyembelihan hewan qurbannya. Qurban adalah IBADAH.  Qurban adalah AMAL SHALEH.  Qurban adalah Menegakkan TAUHID ( Menyembelih hanya untuk ALLAH..bukan selainnya). Tidakkah ini memang selayak nya diajarkan oleh orang tua MUSLIM..sedini mungkin kepada anak2 keturunan mereka..??”

2. Dari Ustadz Aep Sapulloh, salah seorang Asatidz di area Tangerang Selatan juga menyebutkan hal yang senada:

“Boleh (mengajak anak menyaksikan – Red). Tidak ada dalil yg melarang.. Dan mengajarkan syariat kurban pd anak tentu dianjurkan dengan cara sebaik mungkin.”

3. Dari Ustadz Muhtarom, salah seorang Asatidz yang sudah lama memberikan kajian Islam di area Tangerang Selatan, beliau menjawab:

“Jangan dengarkan para ahli psikologi. Lihat Rasulullah, beliau tidak pernah melarang anak-anak menyaksikan penyembelihan kurban, berapapun umur mereka.”

LIHAT BENANG MERAHNYA

Setiap pendidik yang berpegangan pada Al Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman yang benar, pasti akan melontarkan jawaban yang sama. Maka, seharusnya ilmu yang kita miliki, dari mulai pedagogi hingga psikologi, menjadi jalan yang ‘mempermudah’ orang tua menjalani syariat dan mengajarkan syariat – bukan melarang atau menginspirasi orang tua untuk mengikuti pemahaman ilmu dunia yang sudah pasti keterbatasannya.

Jangan salahkan Qurban atau prosesi Qurban yang katakanlah membuat seorang anak trauma (atau orang tua trauma saat kecil). Tapi, tanyakan kepada diri kita, sudahkah kita menghujamkan tauhid ke dada-dada anak kita? Sudah kita berilmu tentangnya? Sudahkah kita mempelajari tentang rukun iman sebelum rukun Islam? Seberapa sering kita menghujamkan rukun iman ke dada-dada anak kita sebelum berkutat dengan prosesi dalam rukun Islam?

Jika kita belum bisa, janganlah memicingkan mata kepada keluarga yang berhasil membelajarkan anak-anaknya yang masih kecil. Justru, buang jauh-jauh gelar kita dan rendahkan diri… cari tahu bagaimana cara orang tua tersebut bisa membelajarkan anaknya sejak dini tanpa menimbulkan yang disebut dengan trauma. Orang-orang tua ini mampu mengarahkan sisi sensitif anak bukan pada ‘ketakutan akan kekejaman penyembelihan’ BUKAAAAN. Hati-hati, kita bisa menjadi pencela syariat ALLAH jika kita melakukannya. Sisi sensitif anak bisa kita arahkan pada rasa haru.

NG… ADA CONTOH CARA MENDIDIKNYA?

ADA! ^^ Berikut contoh dari beberapa teman dalam memahamkan hal ini kepada anaknya yang saya dapat sewaktu berdiskusi di sosmed:

 

Ummu Allegra

Sebenarnya bagaimana cara kita menjelaskan ke anak ya, tentang esensi ibadah kurban. Yang dikembalikan lagi kepada pengagungan thd syariat ALLAH.. Karena ketaatan kita pada ALLAH… 

Insyaa ALLAH anak bisa paham. Walaupun mungkin awal2nya anak kecil menangis karena kasihan lihat domba ada darahnya (kejadian sama anakku yg usia 2,5 thn ^^ , padahal dombanya sudah ditutupin terpal tubuhnya jd tdk terlihat lukanya). Memang perasaan anak2 halus ya..namun ketika dijelaskan, dg bahasa yg sederhana, bahwa kita melakukan ini karena ALLAH perintahkan untuk menyembelih hewan kurban di hari raya kurban. Nanti sebagiannya kita bisa berikan ke fakir miskin, dan kita mendapat bagian yang untuk kita masak. Lalu kita bisa berhari raya bersama…

Kalau adik makan ayam goreng, kan ayamnya juga disembelih dengan nama ALLAH. Supaya halal. Lalu dipotong-potong baru dimasak. 

Sama kan dengan domba-domba ini juga. Disembelih jg harus menyebut nama ALLAH supaya halal. Nanti bisa dimasak dan dimakan bersama.

Fitrahnya anak2 ya memang, perasaan mereka kan lembut. 

Namun khawatirnya jatuhnya jd mencela syariat , kalau akhirnya ortunya jg malah jd punya pikiran iya yha kejam hewan disembelih, dan membiarkan anakna jd vegetarian krn alasan tsb. Kita kan umat muslim, kita ikuti syariat yg diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.
Wallahualam…

Laah selama ini makan baso emangnya ga nyadar sapinya mesti disembelih dulu trus dijadikan daging giling?

Lidya Alfianasta Rachman

“Aku setuju sama contoh yang terakhir juga mba, azka udah liat pemotongan hewan juga kmrn, tapi jauh sebelumnya dikasih penjelasan dulu, pemahaman dulu, dan setelah liat ditanya perasaan nya gimana, takut sedih atau gimana, azka bilang azka agak sedih, tapi azka udah tau kalo itu kan perintah Allah.”

 

Adriana

Anak2ku mlh demen liat proses penyembelihan…cuma blg…Kk liatny jd pengen nangis…terharu…., sepuphny mlh ampe nangis.. .#bhndiskusi… Dari usia dini pd liat

Maasyaa Allah… saya harus berterima kasih juga kepada kaka Rezki Ayuu Hermawan yang sudah membuka diskusi. Saya pun banyak tercerahkan. Barakallahu fiikum Buibuuu. Semoga kita dimudahkan mendidik anak di atas ilmu yang haq.

Iklan