Dear orang tua siswa
yang semoga Allah muliakan,
Saya mohon baca ini, sebentar saja.

Pada masa awal siswa belajar di rumah,
Kami memandangi kelas kosong
dengan beberapa barang siswa yang tertinggal.
Oh iya… kita belum berpamitan dengan layak ya,  Nak.
Layaknya ketika kalian lulus atau naik kelas.

Dear orangtua siswa,
Baca ini sebentar saja.


Sebelum bapak dan ibu menyebutkan bahwa orangtua harus bekerja. Bahwa orang tua sulit mendampingi anak belajar. Mohon sekali untuk mengingat. Kebanyakan orang tua bukanlah guru, tapi BANYAK GURU YANG MERUPAKAN ORANGTUA. Kami ingin yang terbaik untuk anak Bapak dan Ibu dan ANAK-ANAK KAMI JUGA.  Ayolah, Pak/Bu, kita punya tantangan yang sama.

Dear orangtua siswa,
Baca ini sebentar saja.

Sebelum Bapak/Ibu menumpahkan segala pengalaman yang kurang nyaman dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR). Izinkan kami menyampaikan hal ini. Tahukah Bapak/Ibu bahwa kami berusaha keras untuk memastikan siswa mendapatkan hak-hak belajar mereka? Tahukah Bapak dan Ibu, betapa sakitnya hati kami membaca kalimat-kalimat yang Bapak/Ibu tuliskan?

Sebelum Bapak/Ibu berkata pembelajaran masa kelaziman baru sebaiknya begini dan begitu, mohon sekali dipahami. Setiap anak dan keluarga itu memiliki kebutuhan berbeda. Strategi yang Bapak/Ibu pikir berhasil untuk  keluarga Bapak dan Ibu, belum tentu cocok diterapkan oleh keluarga lainnya.

Dear orangtua siswa,
Baca ini sebentar saja.

Saat orangtua yang lain memiliki kemudahan bekerja dari rumah, ada beberapa dari kami yang diharuskan ke sekolah. Bahkan ada beberapa dari kami yang memilih datang ke sekolah. Meninggalkan bayi dan anak-anak kami. Atau mengambil resiko membawa mereka ke sekolah. Agar bisa mendapatkan internet yang kencang dan kemudahan yang tidak kami dapatkan di rumah. Kami lakukan untuk putra dan putri Bapak dan Ibu semua.

Kami berusaha yang terbaik, Pak/Bu.
Rapat-rapat evaluasi yang terjadi nyaris setiap hari.
Belajar ilmu-ilmu baru.
Dari cara menjadikan BDR yang mudah dan menyenangkan,  LKS yang memberdayakan, teknik komunikasi, menjaga interaksi saat vCon, memastikan video sesuai ceklis dari litbang, beragam teknologi baru, sampai ah… banyak, Pak/ Bu.
Belum lagi ketika kami harus memperbaiki materi yang tidak lolos QC sekolah.


Terkadang kami melakukan itu semua tidak hanya pada saat jam sekolah. Kami juga menggunakan waktu setelahnya hingga malam hari, bahkan akhir pekan.

Sungguh
Kami berupaya tanpa lelah.
Agar pembelajaran tetap berjalan sempurna.
Tapi ternyata memang tidak akan pernah bisa sempurna.

Kami merelakan waktu-waktu istirahat kami untuk menyajikan yang terbaik untuk putra/putri Bapak dan Ibu.
Karena anak-anak Bapak/ Ibu adalah anak-anak kami juga. Amanah bagi kami.

Dear orangtua siswa,
Kami mohon baca ini…
Sebentar saja.

Salam hormat saya, Mierza Miranti.
Untuk semua pendidik generasi masa depan.
Mari bersinergi, berjuang bersama.

Surat Cinta Untuk Orang Tua Pada Masa Kelazimam Baru