Bersyukur hukumnya wajib, bukan sunnah. Tidak boleh kita kufur terhadap nikmat Allah. “Jika kita bersyukur maka akan
Kufur nikmat mendatangkan adzab kubur.
Kemerdekaan merupakan karunia dari Alah kemudian perjuangan para pahlawan.
“Apakah kamu akan menjadikan aku sebagai tanding kamu?” Maka jangan pakai kalimat “Indonesia merdeka karena para pahlawan.”
Rukun pertama nikmat dari Allah.. mengakui nikmat dari Allah
Rukun kedua bersyuku.r dengan lisan: Ucapkan semua ini karunia dari Allah
Imam ibnu Katsir “Bukankah Alah Kayakan kamu”.
Sesungguhnya Allah ridSafii yng mengetahui banyak hadits o kepada Allah saat kita mensyukuri immature walaupun sedikit ucapkan alhamdulillah setiap saat.
Rukun ketiga, bersyukur dengan anggota badan.
Gunakan nikmat anggota badan untuk ketaatan, beramal shalih bukan maksiat
At Thabari : mengakui semua nikmat itu berasal dari Allah dan mengakui semua degan perbuatan, dengan amal shaih. Adapun, mengakui dengan hati tanpa amal shalih, maka pelakunya tidak bisa disnebut orang yang bersyukur
Keutamaan bersyukur:
1. Allah bersyukur kepada hambanya
yang melakukan amal-amal shaih dengan memberikan pahala. Nama Allah asy syakur, maka kita sebagai hamba Allh harus pandai bersyukur dan pandai berterima kepada orang yaitu banyak ngasih kita.
Siapa yang melakukannya kebaikan kepada kalian, balas dengan yang sama. Jika tidak bisa, doakan. Seperti Imam Ahmad yang tidaklah berhenti mendoakan Imam Syafii yang mengajarkan banyak hadits.
2. Bersyukur itu sifat para nabi
Sesungguhnya Ibrahim itu makhluk yang senantiasa mensyukuri nikmat Allah
3. Syukur merupakan perintah Allah
Firman Allah: “Ingatlah aku maka Akumkan ingatnkamu, dan bersyukurlah dan jangan kufur”
“Kami kabarkan kepada manusia agar berbakti kepada orang tuanya…”
Az Zumar 66: “.. jadilah kamu orang yang bersyukur
4. Syukur sifat orang yang beriman
Mengagumkan urusannya Mukmin, semua urusan baik. Kalau iberkan kenikmatan, dia bersyukur. Jika diberikan kesulitan, ia bersabar.
5. Diridhoi Allah
AzZumar 6-7. An Nisa 47.
6. Tidak akan diadzab
Allah tidak akan mengazab jika kalian bersyukur dan beriman.
7. Akan ditambah kenikmatannya
Jika kalian bersyukur, maka akan kami tambah.
8. Diberikan pahala yang besar
ALi Imron 45: diberikan balasan yang besar
9. Kesehatan dan kenikmatan disertai dengan syukur lebih baik dari bala disertai sabar
Bagaimana cara menjadi hamba yang bersyukur:
1. Bertakwa
ALi Imron 173: bertakwalah agar kalian bersyukur
2. Qanaah
adakah kekayaan hati. Orang yang hatinya miskin tidak akan pernah puas.
3. Sujud syukur
4. Doa syukur
5. Berinfaq
6. Mengingat-ingat nikmat
7. Terus melawan syaithon dan hawa nafsu
8. Jangan berhasil dengan orang yang tidak bersyukur, ahli maksiat
Akibat tidak bersyukur
Kenikmatan akan berkurang
…
Nikmatnya diubah menjadi siksa
Tidak mendapat pemimpin amanah
Catatan kajian ini banyak kesalahan karena dicatat saat membawa 2 anak usia dini. ^^ Silakan merujuk ke rekaman di tautan ini
Tipu daya setan kepada manusia: Membuat manusia menganggap baik pada pendapatnya
Bisikan-bisikan hatinya, apa yang melintas dalam pikirannya – bahkan ketika belum dicicil dengan Quran dan sunnah
Menipu orang yang suka menyendiri seperti ahli zuhud, orang yang merasa cendekiawan, untuk merasa benar hanya dari perasaan saja. Mereka tidak melihat keterangan syariat dari zikir dan amal. Mereka merasa maksum, merasa hatinya bersama Allah.
Lintasan hati:
Rahmaniyah: berasal dari Allah, malaikat Allah
Syaithaniyah: berasal dari setahun, bisikan/ waswas setan
Bawaan diri, seperti mimpi
Seorang hamba yang ubudiyahnya tinggi tetap saja ada setan yang memusuhinya, seorang manusia yang punya hawa nafsu yang embawapada hal yang tidak baik, pote si tergelincir. Setan berjalan pada tubuhnya pada peredaran darahnya.
Kemaksuman hanya diberikan kepada Rasul Allah yang menengahi antara hamba dan penciptaan, atau sebagai perantara, bukan perantara agar diibadahi agar ibadahnya sampai kepada Allah.
Betapa orang berada pada keadaan paling zuhud sekalipun, ia tidak pernah ditinggalkan setan hingga ia mati. Karena itu, keadaan sebelum mati itu krusial. Setan ingin membuat muslim suul khatimah. Maka kita terus berhati-hati, terus meminta tolong kepada Allah.
TIDAK PANTAS bagi seorang pun yang Allah berikan ia ilmu, kemudian ia berkata kepada manusia: Ayolah kalian, jadi hamba-hambaku.
Jadi, selain rasul, tidak boleh untuk kita untuk ingin menjadi atau menganggap orang maksum.
Setiap sahabat pasti akan berlepas diri dari pendapat mereka saat melampaui Quran dan sunnah, tidak pernah berhukum pada lintasan perasaan, terutama dalam beramal. Hanya orang yang tertipu yang memilih-milih hadits atau membantahnya berdasarkan perasaannya.
Kalau dasar kebodohannya itu berasal dari salah info yang dianggap anggap benar, ini dimaafkan. Kalau tidak mau belahar, maka ia terkena beban dosa akan keberpalingannya (syubhat: jangan belajar agama. Nanti makin banyak tahu, makin banyak dosanya).
Keadaan diri yang menganggap hasil perasaan dan pikirannya itu cukup tanpa pemikiran Rasul, itu sama dengan mendustakan Rasul dengan bahasa yang berbeda. Bagi orang yang menganggap boleh sesekali keluar dari syariat, itu sebesar-besarnya kekufuran.
Para sahabat sahabat yang mencurigai pendapat mereka karena kuatir tidak sesuai dengan Quran dan sunnah itu adalah orang yang paling baik ma hatinya.
Bagi yang lahirnya rusak, maka bisa menjadi perkara di hatinya: untuk menjawab “gimana hatinya “
Siapa yang hanya menimbang batinna degan lahiriyah yang berantakan, maka jangan perhitungkan orang seperti ini.
Tipu daya setan lainnya: TAHZIBUNNAS/ MENGKOTAK-KOTAKAN MANUSIA
Membuat kelompok- kelompok dengan sragam,cara bergeak, beribadah yang tidak ada ketentuannya dalam syariat, berguru pada 1 orang aja, menetapi jalan yang dimodifikasi sebagai tanda kelompok keberagamaan.
Nabi gunakan apa yang ada untuk beribadah, tidak memaksakan atau mengkhususkan atribut tertentu. Perlu berhati-hati dengan pakaian kebesaran yang menjadikan salah sangka manusia (menjadikan orang sebagai orang besar melihat dari pakaiannya.
Sibuk denga formalitas seperti ini bukan cara Nabi beragama. Maka, pelajari cara Nabi beribadah yang berubah-ubah pakaiannya, alas shalatnya, alas kakinya — bebas saja jd hamba Allah seutuhnya selama tidak ditentukan syariat.
Petunjuk Nabi tidak memaksakan diri dalam beribadah yang tidak ditentukan dalam syariat.
Waktu terjadinya kiamat sudah ditetapkan Allah. Tidak ada siapapun yang tahu kapan terjadinya kiamat.
Kita perlu ilmu untuk hidup, serta tazkiyatun nufus atau mensucikan jiwa. Keimanan kepada Allah yaumil akhir akan memberikan warna yang begitu jelas dalam kehidupan hamba. Seorang hamba akan tahu betapa singkat dan recent, bahkan hina, kehidupan dunia ini. Hamba akan tau prioritas yang tepat karena tujuan hidupnya adalah kehidupan sebenarnya atau kehidupan akhirat. Maka kita perlu memupuk kuat harapan dan kerinduan kita terhadap mati sebagai kehidupan yang lebih indah, lebih bahagia, yaitu surgaNya.
Semoga manusia akan masuk’ruang tunggu’ setelah ujian di dunia
Sebaik- baik hati Sebaik terbit adalah hari Jumat. Pada hari Jumat itu Afam dimasukkan ke surga dan kiamat tidak akan terjadi pada hari Jumat:
Dari Aus bin ‘Aus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud no. 1047, An Nasai no. 1374, Ibnu Majah no. 1085 dan Ahmad 4: 8. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)
Hasbunalah wa nimal wakil, alallahi tawakalna
TIUPAN ISRAFIL
Pendapatnya ada 2 atau 3 kali
Pendapat 1 (2x) terkejut dan mati, lalu dibangkitkan
Pendapat 2 3x
Di antara dua pendapat tersebut, yang lebih tepat adalah pendapat yang ke dua, bahwa sangkakala ditiup sebanyak dua kali pada hari kiamat. Hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang di dalamnya diceritakan,
“ … Kemudian ditiuplah sangkakala. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali dia memasang pendengarannya dan menjulurkan lehernya. Beliau bersabda, ’Maka orang yang pertama kali mendengarnya adalah seseorang yang memperbaiki telaga untuk untanya.’ Beliau berkata, ’Dia pun mati, dan orang-orang pun mati.’ Kemudian Allah mengirim –atau beliau berkata, ’Menurunkan’- hujan gerimis atau naungan –Nu’man (salah seorang perawi) ragu-ragu- yang darinya Allah menumbuhkan (membangkitkan) jasad-jasad manusia. Kemudian ditiuplah sangkakala yang ke dua, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) …” (HR. Muslim no. 2940).
Maka di dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ketika sangkakala ditiup pertama kali dan didengar manusia, maka mereka pun mati. Kemudian ditiuplah sangkakala ke dua kalinya, maka bangkitlah manusia dari kuburnya dan menunggu putusannya masing-masing. Dua tiupan ini juga ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab, ”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi, ”Empat buluh bulan?” Abu Hurairah menjawab, ”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi, ”Empat puluh tahun?” Abu Hurairah menjawab, ”Aku enggan.” (HR. Bukhari no. 4935)
Maksudnya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu enggan untuk menegaskan atau memastikan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun. Akan tetapi yang pasti adalah bahwa jaraknya empat puluh. Dikatakan juga bahwa jarak dua tiupan ini adalah di antara perkara yang tidak diketahui kecuali Allah Ta’ala.
Tiupan tsur yang pertama dahsyat, bahkan bayi ada yang beruban
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. [Al-Hajj/22: 1-2].
Setelah tiupan pertama dan kedua
Yaumul ba’ats: Hari berbangkit
Peristiwa Padang Mahsyar
Fokus kita adalah untuk perkara yang lebih besar: Hari akhir
Ada 7 golongan yang akan dilindungi:
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata. 1. Imam (pemimpin) yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.
3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.
5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”
6. Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.
7. Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, II/143 – Fat-h, dan Muslim, no. 1031).
Golongan lain yang mendapatkan naungan Allah Ta’ala adalah orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar hutang kepadanya atau memutihkan hutang darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan membayar hutang atau memutihkan hutang orang tersebut, niscaya Allah akan menaunginya dalam naungan Arsy-Nya (pada hari Kiamat).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 3006)
Mereka semua menunggu KAPAN MULAI PERADILAN, belum lagi proses yang lama
MANUSIA MEMINTA SYAFAAT KEPADA NABI
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Saya adalah pemimpin semua orang pada hari kiamat. Tahukah kalian sebabnya apa? AllahSubhanahu wa Ta’ala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang akhir di suatu dataran tinggi. Mereka dapat dilihat oleh orang yang melihat dan dapat mendengar orang yang memanggil. Matahari dekat sekali dari mereka. Semua orang mengalami kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak mampu memikulnya. Lantas orang-orang berkata, ‘Apakah kalian tidak tahu sampai sejauh mana yang kalian alami ini? Apakah kalian tidak memikirkan siapa yang dapat memohonkan syafaat kepada Rabb untuk kalian?’ Lantas sebagian orang berkata kepada sebagian lain, ‘Ayah kalian semua, Nabi Adam ‘alaihissalam’.
Mereka pun mendatangi beliau, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Adam! Engkau adalah ayah semua manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakanmu dengan kekuasaan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuhmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud, sehingga mereka pun bersujud kepadamu. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempat tinggal kepadamu di surga. Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Bukankah engkau tahu apa yang kami alami dan sampai sejauh apa menimpa kami?’ Nabi Adam‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, Dia melarangku akan suatu pohon, tetapi saya berbuat maksiat. Diriku, diriku, diriku. Pergilah ke selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam’.
Lantas mereka mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Engkaulah Rasul pertama di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’alatelah menyebut dirimu hamba yang banyak bersyukur. Bukankah engkau mengetahui apa yang sedang kita alami sekarang? Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami?’ Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya mempunyai suatu dosa mustajab yang telah saya gunakan untuk mendoakan kebinasaan pada kaumku. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam’.
Kemudian mereka pun mendatangi Nabi Ibrahim‘alaihissalam, lalu mereka bertanya, ‘Wahai Ibrahim! Engkau adalah Nabi Allah dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami. Bukankah engkau telah mengetahui keadaan yang sedang kami alami?’ Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sesungguhnya saya pernah berdusta sebanyak tiga kali. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Musa ‘alaihissalam’.
Selanjutnya mereka mendatangi Nabi Musa‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Musa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi keutamaan kepadamu dengan kerasulan dan kalam-Nya yang melebihi orang lain. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya pernah membunuh seorang manusia padahal saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Isa ‘alaihissalam’.
Setalah itu, mereka pun mendatangi Nabi Isa‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Isa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’aladan yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Engkau dapat berbicara dengan orang-orang ketika masih dalam buaian. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.’ Nabi Isa tidak menyebutkan dosa yang diperbuatnya. ‘Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’.
Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penutup para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas saya berangkat hingga saya sampai di bawah Arsy. Kemudian saya bersujud kepada Rabbku. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan padaku pujian-pujian kepada-Nya serta keindahan sanjungan terhadap-Nya yang belum pernah Dia ajarkan kepada selain diriku. Lalu dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Angkatlah kepadamu. Ajukanlah permohonan, niscaya permohonanmu dikabulkan. Mohonlah syafaat, pastilah akan diterima syafaatmu.’ Selanjutnya aku mengangkat kepalaku, lalu saya berkata, ‘Ummatku, wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku, ummatku wahai Rabbku!’ Lantas dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Masukkanlah umatmu yang tidak peru dihisab dari pintu surga ke sebelah kanan. Mereka juga sama dengan orang-orang lain di selain pintu tersebut.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang mengauasai diriku, sesungguhnya jarak anara dua daun pintu dari beberapa daun pintu surga sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar atau antara Mekah dan Bushra’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Nama Allah tidak bisa dihitung, karena ada nama Allah yang disebut nanti (perkara ghaib)
Maka bersyukurlah, kita sebagai umat Nabi Muhammad shalallaahu alaihi wasallam karena atas syafaat Nabi, peradilan dimulai.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.