Kajian Tafsir, Lectures of Life

Kajian Tafsir Alfajr 16-30 Ust Dzajuli – Babussalam – 10 Feb 2026

وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابۡتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهٗ ۙ فَيَقُوۡلُ رَبِّىۡۤ اَهَانَنِۚ‏ ١٦ كَلَّا بَلۡ لَّا تُكۡرِمُوۡنَ الۡيَتِيۡمَۙ‏ ١٧ وَلَا تَحٰٓضُّوۡنَ عَلٰى طَعَامِ الۡمِسۡكِيۡنِۙ‏ ١٨ وَتَاۡكُلُوۡنَ التُّرَاثَ اَكۡلًا لَّـمًّا ۙ‏ ١٩ وَّتُحِبُّوۡنَ الۡمَالَ حُبًّا جَمًّا ؕ‏ ٢٠

16.Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”1 17.Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,1 18.dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, 19.sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), 20.dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Seharusnya: diberi nikmat bersyukurlah, diberi ujian bersabar. Manusia cenderung bangga terhadap pencapaianya, lalu menyalahkan Allah jika tidak sesuai. Pikiran itu menjauh dari amal salih karena hatinya bermasalah. Kalaupun ada itu hanya kemunafikan atau kepura-puraan. Orang seperti ini tidak akan pernah puas.

كَلَّاۤ اِذَا دُكَّتِ الۡاَرۡضُ دَكًّا دَكًّا ۙ‏ ٢١ وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالۡمَلَكُ صَفًّا صَفًّا ۚ‏ ٢٢ وَجِاىْٓءَ يَوۡمَٮِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَ  ۙ يَوۡمَٮِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الۡاِنۡسَانُ وَاَنّٰى لَـهُ الذِّكۡرٰىؕ‏ ٢٣ يَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ قَدَّمۡتُ لِحَـيَاتِىۚ‏ ٢٤ فَيَوۡمَٮِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗۤ اَحَدٌ ۙ‏ ٢٥ وَّلَا يُوۡثِقُ وَثَاقَهٗۤ اَحَدٌ ؕ‏ ٢٦ يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ  ۖ‏ ٢٧ ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ۚ‏ ٢٨ فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ‏ ٢٩ وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى‏ ٣٠

21.Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), 22.dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, 23.dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. 24.Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” 25.Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), 26.dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. 27.Wahai jiwa yang tenang! 28.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. 29.Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, 30.dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Ujian dunia hanya berlaku hanya bagi yang beriman, jika tidak: itu azab atau istidraj. Ujian adalah untuk:

(1) hari yang salim

Proses sakaratul maut yang sulit untuk membersihkan hati dan mencuci dosa

(2) amal

Jangan asal beramal. Amal harusnya mensucikan hati

Kita hadapi 3 ujian: kenikmatan, kesalahan, musibah

Ketika kita diberi musibah, kita sedang dicintai Allah karena:

1. Itu ujian termudah

2. Itu ujian yang membuka mata. Jangan hadapi ujian sebagai manusia  karena tidak akan mampu karena dzalim dan bodoh (contoh: curhat kesana kemari, bermaksiat) . Hadapi dengan perkuat iman, kembali pada Allah. Contohnya: ucapkan qadarullah, minta kepada Allah, cari solusi. Seperti Asiyah istri Firaun yang meminta surga saat ia di-KDRT.

Allah tidak sayang ketika kita kehilangan  akhirat.

Contoh: Kisah Ummu Salamah yang suaminya meninggal, Rasulullah menyuruh ucapkan isti raja lalu melamar dan memperlakukan banyak anaknya Seperti anak sendiri. Contohnya hadits ‘ Ya Gulam, makan dg tangan kananmu’ itu bicara kepada Salamah.

Iman yang tidak berfungsi dengan baik akan membuat seseorang merasa paling dizolimi, bersikap tidak I ideal sebagai muslim. Orang yang beriman akan ikhlas dan tawakal. Selalu hadiri majelis ilmu.

Tobat, sabar, syukur adalah ibadah.

Ketika hati kita rindu kepada Allah,

Di dunia ada surga : mengenal Allah, cinta, rindu, dan taat kepada Allah. (Ibnul Qayyim)

Di Qanthara, amal shalih diambil orang terzalimi, KECUALI PAHALA PUASA.

Semua lelah, upaya, milik kita di dunia tujukan kepada Allah.

Tinggalkan komentar