Sebelum mengajarkan sesuatu, seseorang perlu mempelajari ilmu secara mendalam dan mendapat tashfiyah atau rekomendasi dari ahli ilmu, sebagaimana para sahabat mendapat tashfiah keahlian dalam bidangnya:
“Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka’ab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)
Muadz bin Jabal diutus ke Yaman karena dipercaya memiliki ilmu berbicara kepada masyarakat:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke negeri Yaman, beliau berkata, ‘Ajaklah mereka kepada syahadah (persaksian) bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah, kecuali Allah; dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka salat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah menaatinya, beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” (HR. Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19)
Hindari doa orang yang terdzolimi karena tidak ada hijab antara Allah dan doa orang yang didzalimi.
Dakwah yang tidak dilandasi tauhid akan sia-sia. Yang primer adalah tauhid. Yang diseru para Rasul adalah tauhid dan pembenahan akidah. Karena itu, seorang dai harus merujuk pada cara Rasul dalam berdakwah.
Dengan tauhid yang kuat, manusia akan takut meninggalkan ibadah dan siap mengamalkan kewajiban. Lihatlah sebuah kisah wanita yang ingin bertaubat dari zina:
Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al Hushain Al Khuza’i, ia berkata,
Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapati hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman had atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).”
Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil dan diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Setelah matinya wanita tersebut, beliau menyolatkannya. ‘Umar pun mengatakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?” (HR. Muslim no. 1696).
Zaman ini, kita temukan sangat jarang orang yang siap mengakui kesalahan karena takutnya kepada Alla.
JIKA BUKAN IMAN, TIDAK AKAN WANITA ITU MEMINTA RAJAM
Itulah pentingnya tauhid.
Jadi jangan hanya beramal tanpa tauhid sebagaimana tercantum dalam Al An’am 88:
Artinya: Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
Allah menurunkan ayat secara bertahap ada hikmahnya, sebagaimana disebutkan dalam Al Furqon 32
Artinya: Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
Anas bin Malik saat ayahnya menyajikan khamr, datanglah sahabat yang menyebutkan bahwa khamr diharamkan sebagaimana disebut dalam Al Maidah 91
Artinya: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
BAB 7: KESEMPATAN YANG DISIA-SIAKAN (HAL 178)
Banyak berkunjung itu menguatkan kasih sayang, terutama dengan saudara. Tapi jika bukan untuk menambah ilmu dan memberikan nasihat, maka harus dikurangi atau wajib meninggalkan. Coba amalkan sunnah saat berkumpul, misalnya mengucapkan doa kafarat al majelis saat pergi. Siapa tahu, kita berghibah atau melakukan dosa saat berkumpul.
Pilih teman yang selalu mengingatkan tentang Allah, tidak harus banyak tapi berkualitas. Jangan terlalu sering berkumpul.
Seandainya waktu berkumpul itu dimanfaatkan untuk membaca buku, maka akan didapatkan manfaat yang banyak
Faedah Kajian Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” Ustadz Abu Usamah 4 November 2026